Chapter Text
Cahaya yang menerangi kamar Theo membuat kepalanya pusing. Sebuah meja berdiri tegak di samping tempat tidur dengan sebuah kamera bersemayam di atasnya.
Berapa lama lagi ini akan berlangsung?
Rumah yang selalu sepi, pandangan dikaburkan air mata saat ia terburu-buru melemparkan barang-barang dari kasur ke lantai, mencoba menghapus masa lalunya.
Pikiran-pikiran itu melintas cepat di benaknya bak peluru, membuat Theo mual dengan kesadarannya sendiri.
Theo beranjak dari kasur dengan napas terengah-engah, menatap refleksi wajah yang tak dikenalinya. Matanya merah bekas ia tersedu tadi malam.
Cukup dengan kehampaan ini! benak Theo membentak. Ia menggelengkan kepala, tangan kanan perlahan memijat dahi. Sudah berapa lama Theo dibangunkan kejadian prihatin ini?
Theo melangkah ke dapur untuk meneguk segelas air dan segera bersiap untuk jalan-jalan keluar.
~~~~~
Pria itu berdiri di bawah cahaya pagi, rambut coklat karamelnya menangkap sinar matahari, setiap helai tampak halus dan teratur seolah menyerap hangat fajar lalu memantulkan kilau tipis menenangkan. Kacamata di wajahnya tak luput memperhatikan detail.
Jas yang ia kenakan berbicara lebih keras. Bahunya tegas, kerahnya bersih, sudah jelas orang penting di ranahnya.
Terdapat sebuah kamera bergantung pada lehernya—Canon EOS 6D Mark II. Tas di bahunya berbobot lensa-lensa dan potensi momen sejenak yang pas untuk ditangkap.
Hmm, kalau gak salah seharusnya ada sebuah studio baru sih di daerah sini, pikir Theo sembari berjalan santai melewati berbagai bangunan. Ada kafe baru juga di dekat belokan.
Kota yang begitu bebas, kendaraan berbaris rapi melewati gedung. Terdapat dua jalur yang dibatasi oleh tanaman di tengah. Beberapa beristirahat di trotoar. Pohon-pohon melambaikan tangan.
Theo berjalan sembari bersiul santai, pandangan lurus ke depan hingga ia melewati sebuah studio tiga lantai, mungkin yang tadi ia maksud atau beda.
Banyak orang menunggu di depan double door kaca, sekilas terlihat seperti kaca satu sisi.
Keramaian memenuhi area depan pintu studio. Anak-anak sekolah saling berbincang dan tertawa ringan, keluarga kecil berdiri tak jauh dari mereka—seorang anak menunjuk kendaraan yang melintas, sementara yang lebih tinggi hanya memperhatikan, mungkin sang kakak, menurut Theo. Di sisi lain, sekelompok tim agensi periklanan tampak berdiskusi serius. Seorang pria yang diduga hendak mengikuti wawancara terus-menerus merapikan dasinya, meski tidak ada yang berubah dari kerapian semula.
Theo menggaruk kepalanya, ia heran mengapa sebuah studio foto ini digemari banyak orang ya?
Kalau tampak luar ramai, apalagi di dalam .…
Theo menggelengkan kepala, mungkin bekerja sebagai fotografer tidak akan cocok dengan dirinya. Ia tidak baik bekerja dengan orang lain maupun berkelompok.
Pemuda itu meraih kameranya dan mencoba memotret nama studio itu, sekadar untuk mendokumentasikan tempat yang mungkin akan ia kunjungi lain hari.
Theo mendengar suara langkah kaki cepat, saat ia menoleh ada seorang laki-laki berlari keluar dari studio itu sekencang mungkin melalui pintu darurat, tidak jauh dari pintu utama. Muka tersenyum bahagia menatap Theo.
Pandangan Theo teralihkan oleh pemilik rambut blonde pendek. Ia mengenakan jaket trucker maroon, celana kargo hitam, kacamata di kening, papan dada beserta kertas di tangannya.
Tunggu, kok dia lari ke sini!? Ekspresi wajah Theo didominasi kepanikan. Ia segera melindungi kamera dan tas yang berisi lensa itu.
Semua terlihat mengejutkan, orang asing lari ke arahmu secara tiba-tiba hingga orang itu tersandung angin …
BRUKK!!
Saking kencangnya sosok pengguna jaket terjatuh tepat di depan Theo saat ingin berhenti. Meski tumbang, papan dada yang ia genggam tidak lepas dari pegangan. Kacamata terlempar ke depan, sepertinya tidak rusak kalau Theo lihat.
Mengedipkan mata, Theo berpikir, “Lah, dia kenapa?” mau tidak mau ia mengambil langkah mundur dengan berbagai pertanyaan dalam benak, waspada apabila orang ini ingin berbuat buruk.
Theo masih menyelam di pikirannya hingga figur bertubuh tinggi di hadapan Theo bangkit dari kecelakaan. Ia berdiri tegak kemudian menepuk-nepuk debu yang menempel pada dirinya.
Orang ini kenapa? Theo menatap gerak geriknya.
Laki-laki itu mengambil kacamatanya, terdapat kesunyian selama lima detik sebelum ia bergerak memutari badan Theo dengan tangan kanan di dagunya.
Theo dibuat bungkam oleh tingkah laku manusia ini ini. Setelah beberapa saat Ia mengangguk kepalanya.
“Hmm, menarik,” ucapnya sembari menatap Theo dari rambut sampai sepatu tepat di depannya. “Kamu punya potensi yang bagus buat studioku, cara biar aku bisa angkat dia jadi karyawanku gimana ya…” Pria itu berbisik pelan.
Theo memasang ekspresi kesal, masa penampilannya dianalisis secara diam-diam? Mana dia ada rencana buat ngerekrut?
Kemudian—
Theo ditarik hingga masuk lewat pintu darurat, awal mula kemunculan makhluk ini.
Hanya karena Theo sedang memegang kamera berkualitas?
Mungkin. Rasanya isi kepala Theo juga ikut diseret.
“Ke mana—”
“Kamu ikut dulu aja, nanti aku bayar,” ucap pria itu, perkataan Theo dipotong tajam.
Apa yang harus Theo pikirkan di saat seperti ini?
Theo dibawa ke ruangan khusus untuk area pemotretan. Ia melihat banyak sekali orang di dalamnya. Beberapa orang tampak berlari kecil sambil membawa clipboard. Berbagai tripod, kamera, berbagai jenis lampu.
Semua staf memiliki aktivitasnya masing-masing sehingga tidak ada yang melirik ke arah mereka.
Meskipun Theo dapat melihat banyak sekali orang terkenal yang mempesona sepanjang mata memandang—sesekali lewat pada ponselnya—Theo tidak menyangka ia dapat melihat mereka secara berhadapan.
“Aku ingin pulang ....” keluh Theo pelan menatap langit-langit.
Saat mengguna celana kargo tersebut selesai menyeret Theo ke dalam ruang foto, ia menyerahkan Theo kepada seorang wanita berambut hitam yang sedang membawa beberapa lembar kertas di tangannya.
Tidak hanya Theo diseret oleh orang asing, tetapi juga ia diserahkan kepada orang asing.
Wanita itu mengangkat alisnya dan menatap lelaki yang menyeret Theo ke dalam sini. “Kamu ngapain bawa orang random kesini?” tanyanya.
Si wanita menunjuk Theo. “Fotografer baru kita-”
“ORANG ASING?” pemilik rambut hitam itu menyela perkataannya dengan nada menggema, mampu menebus ruangan soundproof. Cukup untuk membuat kendang telinga Theo sakit.
“Aku tau dia punya potensial! Kamu percaya sama pilihan aku, kan?” gumamnya, masih berusaha untuk membela diri.
“Tapi kamu udah minta izin buat persetujuannya, kan?” tanya pemilik rambut hitam itu, ia memiringkan kepalanya juga menyilangkan tangan.
“Euh .… Belum sih—”
“Kamu nemu dia di mana emang?”
Sekali lagi Theo dibuat jengkel, memangnya ia ditemukan seperti kucing liar?
“Ada di depan studio, orangnya lagi bengong, kebetulan yang sempurna bukan? Megang kamera seperti profesional.”
Kan. Emang gara-gara kamera si blonde ini ngelirik ke arahku.
“Aku lagi nyender di pintu darurat kan, nah dia ini punya mata yang tajam, postur tubuh yang bagus,” Theo tersedak. “Juga kalau ku amati, isi tasnya pasti berbagai lensa,” lanjut si blonde. Semakin banyak alasan yang akan ia berikan kalau topik ini terus berlanjut.
“Demi apa? Kamu ga nyeret orang ini tanpa izin dia, kan?”
Sepertinya ia sudah mulai kesal, Theo melihat sekilas wajah wanita itu.
Pria itu menelan ludah, memangnya salah ya menyeret orang secara tiba-tiba?
“Telat ngomongnya…” pemilik rambut blonde itu melihat ke lantai. Suara nyaris tidak terdengar.
Seketika papan dada yang sedang dipegang oleh laki-laki itu diambil. Tangannya menggantung sesaat di udara, mempertanyakan apa yang telah terjadi, ia mengangkat kepalanya.
Sosok yang berada di depan Sang Wanita menyadari dua hal secara bersamaan: ia kini tidak memegang apa pun dan seseorang jelas berniat memukulnya. Muka pria itu sudah pasrah kalau di liat-liat.
Theo menatap mereka dengan mulut terbuka.
Kemudian-
BRAKK!!
Pria itu dihantam dengan papan dada yang tadinya ia pegang.
Sekarang ia berada di lantai, tidak sadarkan diri.
Suasana di ruangan itu sekarang sunyi, diam.
“Bisa gitu ya?” Theo mengedipkan mata, badan sedikit tegang.
“Minimal minta izin,” perempuan itu menggelengkan kepalanya, mulai membuka mulut setelah memukulnya.
Ia menatap Theo, sedikit merinding, mata fokus melihat badan tak sadarkan diri, tergeletak di lantai.
Bukan karena perempuan itu memukul kepala orang yang menyeretnya.
Namun karena ada orang pingsan. Di dalam studio.
“Maafkan perbuatan beliau,” ia mengambil napas. “Perkenalkan namaku Zeline, dan orang yang telah menyeretmu kesini adalah Kayl,” Zeline tersenyum lemah, mungkin karena malu atas perbuatan Kayl atau ia memang ingin melakukannya.
Zeline menawarkan tangan kanannya untuk berjabat dengan Theo.
Apa yang akan Theo lakukan?
Tangan bekas memukul orang hingga pingsan, apakah Theo mau?
Ya, tentu saja.
Ia menerima tawaran Zeline untuk berjabat tangan.
“Aku adalah direktur di studio ini. Jika kau heran kenapa kau diseret kesini… Itu karena fotografer kita sedang ada acara dadakan. Dia tidak memberi tahu kami kenapa, pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas. Jadi tolong kerja samanya ya..” Zeline tersenyum kecil.
“Akan aku jelaskan lebih lanjut nanti, tapi sekarang tolong kami!” Zeline memohon kepada Theo.
Menatap Zeline memohon, Theo memijat pelipisnya. Merasa masuk ke masalah orang lain dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Ia menatap Zeline lalu ke Kayl, Zeline lagi lalu Kayl.
Kejadiannya terlalu cepat untuk Theo proses.
“Serahlah …” Theo menghela napas. Entah mengapa Theo mengeluarkan satu kata sebelum ia bisa menahannya. Betapa cepat mulutnya bertindak sebelum dipikirkan.
“Mantap!” Zeline menarik lengan Theo. “Sekarang tolong foto model yang sedang berada disitu,” tunjuknya.
Lah gitu doang??
Theo dengan ragu berjalan menuju lokasi, namun alisnya terangkat ketika ia berpapasan dengan wanita berambut blonde panjang kemudian berhenti tepat di depan Zeline.
Penasaran, Theo pun membalikkan badan, kamera terayun.
Mata mereka bertemu sebentar, “Oh? Siapa ini?” ia bertanya kepada Zeline, sebuah MacBook ditangannya.
Entah mengapa Theo merasa bahwa wanita ini memiliki ekor khayalan yang berkibas dengan semangat. Ia berdiri tidak jauh dari wanita itu.
“Gak tau, Kayl yang bawa,” jawab Zeline dengan nada menyerah. Bisa-bisanya orang itu bawa orang asing ke ruang pemotretan.
“Oh fotografer baru, dia udah perkenalan kah?” Zeline terdiam. “Lah? Kamu ga nanya namanya?”
Ya, mereka memang kurang simpati buat orang merana sepertiku. Theo menghela napas.
Mulut Zeline terbuka, namun kata-katanya tersumbat di tenggorokan sehingga ia hanya bisa berkata, “Lah iya,” Zeline menatap langit-langit, mulut menganga karena semenjak Theo masuk rasanya ada yang mengganjal. Bisa-bisanya ia melupakan hal paling umum dalam perkenalan: menanyakan nama lawan bicara.
“Perkenalkan namaku Kat!” ucap Kat bersemangat. ”Aku juga direktur disini, sama seperti Zeline namun beda divisi.” Kat dengan ramah menyambut kedatangan Theo.
Baru ditanya sekarang, keren.
“Aku… Theo,” balas Theo dengan semangat yang tersisa. Sudah paginya buruk, sekarang ditambah penculikan dengan niat untuk mempekerjakannya.
“Salam kenal!” Kat tersenyum lebar.
Gila ini orang semangat banget, silau, pikir Theo kemudian menutup wajah dengan kedua tangannya. Sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan orang se-ceria ini?
Kat melirik ke arah lantai, terdapat seseorang berbaring tentram, wajah tak berdosa terpasang pada mukanya.
“Nah ini Kayl, dia abis ngapain lagi?” tanya Kat kepada Zeline, ia berjongkok lalu menusuk-nusuk pipinya menggunakan jari.
Zeline ikut melirik ke arah lantai. “Oh ini, tadi dia nyeret Theo ke dalam studio. Gak ada angin atau hujan Theo dikasih kerjaan,” jawab Zeline, dilanjut menghela napas. “Bayangin kamu lagi santai tiba-tiba diculik seseorang,” lanjut Zeline.
“Oke aku gak mau ngebayangin hal itu, jadi ini ulahmu ya Zel?” Kat tertawa kecil. Kalau ada Kayl tak sadarkan diri, antara ia sedang tidur atau Zeline yang membuatnya tidur.
Melihat interaksi mereka bertiga, Theo membuka mulutnya, “Kalian memang sudah dekat ya?” Kapan terakhir kali ia bertemu dengan pertemanan se-solid ini?
Zeline menutup matanya, “Bisa dibilang begitu, beberapa tahun lewat semenjak kita bersama.”
Theo mengangguk setelah mendengar penjelasan Zeline.
“Gak ada yang berani hantam orang sampai pingsan, kecuali Zeline sih,” ujar Kat sembari menggelengkan kepala, berbincang seolah hal ini sudah wajar. Karena Kat terlihat tidak terkejut mendapati teman dekatnya dibuat pingsan.
“Zel!” teriak seorang staf sembari melambaikan tangan. Pandangan mereka bergerak ke sumber suara.
“Kembali ke inti,” Zeline berdeham. “Mohon kerja samanya ya!”
~~~~~
Matahari sudah terbenam ketika Theo membanting tubuhnya ke sofa, tas berisi lensa itu berada di pangkuannya. Suasana studio itu tampak sepi saat petang, ia menatap keluar bangunan, warna jingga memenuhi horizon.
Suara langkah kaki perlahan mendekati Theo. “Kerja bagus untuk hari ini Tuan Fotografer.”
Ah nada ini lagi.. Theo menutup kedua matanya.
“Apa Kayl?” tanya Theo, masih menutup mata. Ia mengulang kembali momen ketika Kayl menyeret tubuhnya secara paksa.
Theo kira Kayl akan memberikan ocehan, namun yang ia dengar berkata lain.
“Terima kasih buat hari ini, aku sangat mengapresiasinya,” Kayl menundukkan kepalanya sedikit.
Zeline dan Kat menyusul dari belakang, mereka berdua duduk berhadapan dengan Theo.
Jujur saja, hal apa yang telah Theo perbuat hingga ia bisa berada di posisi ini?
Kayl duduk di samping Theo, kaki dan tangan disilang.
Theo menatap Kayl sinis, mengapa ia memilih untuk duduk di sebelahnya??
“Aku udah lihat beberapa hasil fotomu Theo,” Kayl menarik napas panjang. “Kamu memang punya potensi istimewa dalam bidang fotografi.”
“Makasih..?” ucap Theo, baru pertama kali fotonya dipuji oleh seseorang.
“Jadi aku mutusin buat ngejadiin kamu karyawan di sini!”
Seharusnya Theo sudah berekspetasi kalau Kayl akan berkata seperti ini semenjak tadi pagi, sialnya ia masih terkejut.
Theo mengedipkan mata, kepala masih memproses ucapan Kayl ini. Ia menengok ke arah Zeline dan Kat.
Ayolah kenapa kalian menatap langit-langit seperti aku tak terlihat!? umpat Theo. Rasanya ia ingin memukul seseorang.
“Jadi? Gimana pendapatmu?” tanya Kayl dengan papan dada, lengkap dengan pulpen di tangannya, sudah siap untuk menyambut karyawan baru. Entah dari mana kedua benda itu muncul.
Lagi, kedua wanita itu acuh tak acuh dengan tatapan Theo. Pandangan Theo kembali ke arah Kayl.
“Nggak wajib kan?” Theo menolak untuk memberikan jawaban dalam satu percakapan.
“Seharusnya nggak, tapi aku akan terus mendorongmu sampai kau setuju,” balas Kayl dengan senyum terindahnya.
Itu sama aja seperti pemaksaan! Hati Theo ingin meluapkan seluruh keluhannya hari ini.
Tapi bagaimana lagi?
Sepertinya Theo tidak memiliki pilihan selain menerima tawaran Kayl. Memangnya ia bisa memenuhi harapannya dalam sehari? Pikiran Theo kembali di mana ia melihat orang yang siap untuk melakukan interview.
Menghela napas, Theo menatap papan dada yang Kayl pegang.
“Apa syarat dan ketentuannya?” tanya Theo.
Mata Kayl berbinar setelah Theo bertanya, jarang ada orang menanyakan hal ini ketika mereka di tawarkan sebuah pekerjaan, itulah yang dipikirkan oleh Kayl.
“Aku senang kau bertanya,” Kayl mengambil sepucuk kertas dari papan dada. “Hanya selembar kok, baca saja,” ia memberikan kertas tersebut.
Theo membaca seluruh kata yang tertera pada lembaran kertas itu, mata mulai menganalisis.
“Hanya ini? Kamu yakin aku gak akan berbuat ulah di sini?” Theo menatap Kayl. “Apalagi aku orang asing,” lanjutnya.
Kayl tersenyum, “Percayalah, kita akan menjadi dekat setelah kamu masuk ke dalam studio ini,” ia terlihat percaya diri. Kalau ada tantangan, pasti Kayl akan menantang balik.
Theo kagum atas kepercayaan diri yang ia miliki. Tidak ada kata-kata manis keluar dari mulutnya, padahal tampang seperti playboy itu dapat melakukannya secara mudah. Akhirnya Theo menyerah, senyum tampak di mukanya.
“Baiklah, aku menyetujui kerjaan sebagai fotografer di sini,” Theo melepas kacamatanya. Ia mengambil pulpen untuk memberikan tanda tangan tepat dibagian kanan bawah.
“Senang bekerja denganmu Theo,” Kayl menawarkan untuk berjabat tangan.
Tunggu, bukankah Theo sudah melakukan ini tadi..?
Tanpa pikir panjang Theo menerima tawaran Kayl.
Dalam sehari, studio populer itu mendapati seorang anggota baru.
~~~~~
Theo menyimpan tasnya perlahan di sofa sebelum pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi.
Anehnya, rumah Theo tidak sehampa tadi pagi, sekarang terasa … lebih hangat.
Setelah Theo selesai menuangkan kopi ke dalam cangkir, ia duduk dengan segelas kopi di tangan kanannya.
Theo menatap langit-langit, rasa dingin kembali menyelimutinya. Ia berpikir apakah ini keputusan yang benar? Memilih untuk membuka diri dan bersandar pada orang lain?
Apakah ia akan dipandang rendah oleh masyarakat?
Apakah akan ada yang menusuknya dari belakang?
Berbagai pertanyaan menyapu kebahagiaan Theo, ia menggertakkan gigi hingga gusinya terasa ngilu.
Theo tidak yakin dalam sehari mereka dapat mengenalnya secara luas.
Tidak yakin kalau mereka dapat menemukan jasad yang sudah lama tenggelam di dasar lautan.
Tidak yakin kalau mereka dapat menemukan kunci di antara padang pasir untuk membebaskannya.
Tidak yakin apakah mereka adalah sumber cahaya yang dibutuhkannya.
Theo meneguk kopinya.
Besok, Theo tersenyum tipis.
Besok adalah saat di mana Theo akan memulai karirnya.
Saat di mana semuanya akan terungkap.
Theo segera menghabiskan kopinya, kemudian ia beranjak untuk mencuci cangkir tersebut sebelum beristirahat.
