Actions

Work Header

No Candy Shit

Summary:

Cuma karena sebungkus permen buah, Futakuchi jungkir balik di atas ranjang dan orgasme tiga kali. Sinting.

Notes:

Haikyuu Belongs to Haruichi Furudate. I only own the plot, the writing, and the lewdness. They're drunk so it's dubious consent. Do not come at me.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Hari patah hati nggak ada di kalender. Futakuchi juga nggak tahu kenapa. Mentang-mentang nilai lapraknya bagus minggu ini, Futakuchi harus mengalami kesialan supaya bisa menjalani life-work-balance yang sesungguhnya. Seolah-olah jadi mahasiswa semester tengah nggak cukup memprihatinkan buatnya.

 

Kalau ditanya kenapa, Futakuchi juga malas menjawab. Jadi bahan olok-olok teman sepertongkrongannya sudah cukup membuat muak. Semua cuma karena masalah HTS sepihak. Lalu dia bangun dari duduknya, kaki dengan sengaja menendang Atsumu yang sudah teler sebelum akhirnya merebahkan diri di sofa dengan nyaman.

 

“Bajingan! Cari kamar sana. Anjing, gua mual ... mami … mami koko mual … “ rintih Daisho seperti orang sekarat. Kepalanya tenggelam dalam empuknya sofa kediaman Ushijima sebab Futakuchi menimpanya tanpa lihat-lihat. Memang bajingan kecil.

“Ngerekek gitu kayak yang gak pernah bikin anak cewek orang nangis aja kamu sho. Lebay! Lebay!” selorohnya penuh emosi. Dengan sempoyongan, dia bangun lagi dan menyusuri dinding rumah Ushijima. Teman-temannya sudah nggak bernyawa. Menggelepar seperti ikan terdampar akibat alkohol yang mereka tenggak seperti orang nggak beradab.

 

Hari ini, mereka semua nggak peduli dengan hubungan pertemanan atau apapun itu. Setelah UAS yang menyiksa, Kuroo mencetuskan kalau sebaiknya mereka bersenang-senang. Alih-alih minum-minum di rumahnya, mereka semua digusur ke rumah Ushijima. Oikawa bahkan nggak banyak protes karena dia lihat sendiri Oikawa masuk ke salah satu kamar tempat Semi Eita beristirahat. Persetan, kepalanya sudah pusing.

 

Futakuchi nggak pernah merasa dongkol setengah mati sampai dia ingin menangis. Ini semua karena patah hati pertamanya setelah sekian lama hidup sebagai beban bumi. Futakuchi menyukai Aone. Dia menghabiskan waktunya sebagai mahasiswa kebanyakan dengan Aone. Futakuchi pikir mereka nggak perlu status tertentu karena baik dia maupun Aone, keduanya nggak begitu nyaman dengan label tertentu. Tapi bangsatnya, bagi Aone, Futakuchi cuma teman yang minta dikasihani.

 

Who? Sorry I’m drunk. Mau ke toilet?” Begitu dia membuka pintu, suara yang nggak asing menyambutnya. Serak dan terdengar lesu. Matanya yang berkunang-kunang nggak bisa menangkap dengan jelas siapa sosok pria yang telentang di kasur seperti ikan asin itu. Masa bodoh, Ia mau muntah.

“Ada permen nggak, sob?” tanyanya buru-buru. Rasa mualnya mungkin bisa diredam dengan manisnya permen.

“Sebentar, muntah dulu aja.” Orang itu menjawab. Dengan terseok-seok membuka laci meja dan mencari-cari bungkusan plastik permen yang selalu dia simpan di kamar tamu. Selama mencari, yang dia dengar cuma suara muntahan dan kucuran air. Dengan sisa-sisa kesadaran yang Ia punya, diambilnya sebotol air kemasan kecil dan membuka tutupnya untuk diserahkan kepada Futakuchi yang bersandar di pintu dengan tatapan lemas.

 

“Sumpah! Aku gak mau minum itu lagi anjeeeng. Udah kumur-kumur sampai sikat gigi masih kerasa. Permen gue mana? Permen, please, aku pusing.” Dia merengek sambil menghampiri sosok yang menunggunya di atas kasur. Ia rampas botol air sambil duduk bersimpuh di bawahnya. Nggak lagi-lagi dia ikut minum racikan dari Atsumu, otaknya seperti diperas dan dijadikan air pel.

It’s the third candy … kamu bisa buka atau nggak sebenernya?” ucap orang di atasnya yang terdengar frustrasi. Saking pusingnya, Futakuchi bahkan nggak bisa membuka bungkusan permen dengan benar dan berakhir dengan terjatuhnya permen-permen malang itu. Kepalang sebal, sosok itu merampas sebungkus permen dari Futakuchi dan membuka satu kemasan, memakannya dengan cepat dan mencengkeram dagu Futakuchi.

 

Permen itu tersalurkan dengan baik melalui lidah yang saling memagut. Dari kecapan-kecapan basah. Sensasi manis buah dan lengket liur berwarna menyapu habis rongga mulut Futakuchi. Mungkin atmosfer yang mencekik itu membuat keduanya kehabisan oksigen dan harus bertahan dengan saling bertukar ciuman, mungkin manis permen membuat sosok di atas Futakuchi betah memagut bibirnya. Atau mungkin keduanya terlalu mabuk untuk menyadari perbuatan yang mereka lakukan. Nggak berhenti di sana, orang di atasnya mengisap bibir bawah Futakuchi sembari meremas lehernya lamat-lamat. Mata saling memejam sembari lidah menyapu satu sama lain. Permen itu digilir seperti piala, terombang-ambing dan berpindah tempat seperti di atas perahu.

 

Hahhah … makasih?” kata Futakuchi saat ciuman mereka terlepas. Napasnya memburu dan matanya kehilangan fokus, dengan samar mencoba mengenali orang di atasnya. Nggak mungkin Ushijima Wakatoshi, kan? Orang mabuk memang kekurangan akal.

 

Sayangnya, orang di atasnya sungguhan Ushijima Wakatoshi dari Manajemen Bisnis. Sibuk terengah-engah dengan pandangan kabur. Di kepalanya, mungkin Futakuchi adalah Oikawa Tooru dan di mata Futakuchi pun, Ushijima adalah Aone yang ingin dia tendang dan jungkirbalikkan. Lama mereka saling menatap karena pusing dan mencoba mencari tahu wajah satu sama lain, Ushijima nggak bisa lagi menahan gairah pria mudanya begitu disuguhi dengan bibir bengkak dan mengkilap milik Futakuchi. Ibu jarinya menyusup masuk usai mengusap-usap bibir bawahnya, menekan-nekan lidahnya seolah itu adalah bantalan yang empuk. Lalu, jari telunjuknya ikut masuk, menjepit lidah Futakuchi yang mulai kelu. Lelehan air liur mulai mengumpul di ujung lidah dan keluar melalui sela-sela mulut yang terbuka. Ushijima terkesima. Makin jauh Ia masukkan jarinya, makin menggelitik sensasinya. Ushijima seperti menemukan mainan baru, Ia obrak-abrik dalam mulut Futakuchi seperti sedang melakukan inspeksi sampai pada akhirnya jari itu masuk ke dalam tenggorokan Futakuchi yang reflek mengatup.

 

Sssh, relax. Open your mouth nice and wide, and breathe. Yeah, good boy,” bisiknya menenangkan. Bahu yang tadinya tegang kini lebih rileks. Futakuchi lalu memegang kedua tangan Ushijima yang bertanggar di kedua rahangnya. Seperti kucing yang menggosokkan badannya dengan nyaman.

I’m just making sure you ate the candy. Yeah, sweetheart? No leftovers.” Futakuchi menyipitkan matanya lalu menggigit jari Ushijima. Menantang. “Ouch. A wild kitty, I see,” respon Ushijima.

Dia nggak menarik jarinya keluar seolah menikmati kejutan rasa sakit yang menggelitik. Nggak menunggu lama, Futakuchi menarik masuk lebih dalam jemari Ushijima dengan lidahnya, membelitnya dengan sensual sebelum mengisap jari-jari itu seperti permen. Seperti Futakuchi tengah berciuman dengan jari Ushijima, seperti sedang bercinta.

 

We can’t keep fucking and sucking fingers now can we, Kitty? Naik?” Futakuchi mengerutkan dahi, seolah nggak setuju untuk melepaskan jari-jari Ushijima di mulutnya. Lantas, pinggang ramping itu direngkuh dan Ia sepenuhnya ada di pangkuan Ushijima. Ada tangan hangat dan besar yang diam-diam merayap masuk ke dalam bajunya, mengusap perut dan menyeret panas sampai ke dadanya. Kaus kebesarannya tersingkap dan dingin langsung menusuk kulitnya seperti jarum. 

Ngh!” lirihnya, nggak sengaja menggigit jari Ushijima lagi.

It’s my hand. Kamu bisa makan jari saya sesuka kamu, they’re all yours to make you feel secure. Just be good, yeah, Kitty?” katanya dengan suara pelan. Futakuchi melenguh lagi, panas suhu tubuh Ushijima seperti membakar tubuhnya dengan sentuhan yang memabukkan.

Putingnya terasa ngilu sewaktu kuku Ushijima menggeseknya, meninggalkan sensasi perih yang menyenangkan. Seolah-olah nggak memberinya ampun, kepala Ushijima ikut menyusup ke dalam bajunya, Ia merasa sesak. Kemudian, Ia tersentak dan menggigit jari Ushijima lagi. Si kutu buku dari Manajemen Bisnis sepertinya nggak terlalu cupu. Lidahnya pintar membolak-balikkan kewarasan Futakuchi. Basah dan panas, puting Futakuchi dimainkan di dalam mulut itu dengan intens. Sesekali menggigit, sesekali mencium. Futakuchi rasanya mau keluar detik itu juga kalau saja rasa pusing nggak tiba-tiba menyerangnya, membuatnya terjatuh lemas dan memangku dagu di atas bahu Ushijima.

 

Akhirnya jari-jari itu bebas dari mulutnya, kini beranjak menuju penisnya yang masih setengah lemas. Futakuchi nggak mau peduli lagi, dia memeluk Ushijima dengan erat dan menikmati sensasi memabukkan di putingnya yang seperti sedang dihajar habis-habisan. Badannya yang lemas sesekali menggelinjang sebagai respon dari sentuhan Ushijima yang benar-benar sinting. Rasanya nggak ada seinci pun dari tubuh Futakuchi yang nggak disentuh dan dimanja. Pinggangnya diremas seolah takut Futakuchi akan terjatuh dan meninggalkannya, lalu Ia mengusap-usap kulitnya dengan sayang sebelum kembali menghajar puting kirinya yang belum disentuh. Futakuchi mabuk kepayang, Ushijima Wakatoshi memang luar biasa liar.

 

You whine a lot. Enak, ya?” tanya Ushijima sembari menahan tangan Futakuchi agar nggak menggeliat terlalu banyak dan menjauh darinya. Ia menarik kepalanya dari baju Futakuchi dan menatap matanya dengan mata penuh nafsu, bibir terbuka dan penuh liur. Wajah Ushijima benar-benar berantakan.

 

“Jangan tanya-tanya, aku pusing … “ jawabnya, melenguh dan memeluk leher Ushijima sekali lagi. Yang diprotes terkekeh geli lalu menghirup dalam-dalam aroma Futakuchi dari lehernya yang bercampur dengan parfum dan alkohol yang memabukkan.

Wild kitty. Nggak bisa diem ya, kamu?”

 

Tertangkap basah sedang menggesek-gesekkan penisnya di pangkuan Ushijima sampai Ia rasakan gundukan keras menekannya hingga sesak, Futakuchi menggelengkan kepalanya dalam denial. Badannya seolah bergerak sendiri mengejar kenikmatan dengan memberi stimulasi pada penisnya yang merengek minta ejakulasi. Sumpah. Kalau nggak mabuk, Futakuchi bersumpah dia lebih memilih bercinta dengan dildo di analnya sampai pagi. Aone bangsat.

 

“Enak sendiri gitu? Use me more, Kitty, sway your hip, grind on me. Yeah, kayak gitu. Pinter.” Dengan arahan yang mendayu-dayu dan pegangan lembut di pinggangnya, Futakuchi mengejar ejakulasinya yang tertunda. Pinggangnya bergerak maju dan mundur dengan cepat, begitu menekan dan panas sebab Ushijima menahannya dan membatasi geraknya di pangkuannya.

Seperti orang tolol, Futakuchi cuma mampu mendesah sambil menjatuhkan kepalanya di bahu Ushijima dengan lemas. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Sensasi nikmat ini nggak tertahankan lagi, rasanya seperti jiwa Futakuchi ditarik keluar dari penisnya bak sperma yang muncrat dan membasahi celananya dan juga milik Ushijima. Matanya begitu kabur dan kehilangan fokus, terlalu nikmat untuk sekedar berkedip dan membawa kembali kesadarannya ke sini. Futakuchi sungguhan seperti orang tolol yang gila seks.

 

You’re drolling, kitty,” tegur Ushijima begitu merasakan basah dan hangat di bahunya. Butuh beberapa menit untuk Futakuchi kembali pada kesadarannya dan berhenti terengah-engah. Badan yang tadinya gemetaran kini mulai stabil. Tapi Ushijima nggak sebaik itu, dia dengan cepat membalikkan posisi dan kini Futakuchi sudah jatuh menelungkup di atas kasur.

 

“Anjing! Sakit … pusing, ngh.” Ia melenguh, dunia rasanya berputar waktu Ushijima melemparnya ke atas kasur.

My apologize, baby, I am in rush.” Nggak peduli dengan rengekan Futakuchi, Ushijima lantas menarik pinggang dan paha Futakuchi sampai terangkat dan berada tepat di depan wajahnya. Ia menjilat bibirnya lapar, merasa luar biasa terangsang dengan pemandangan di depan matanya. Pantat yang mulus dan sintal, setengah badan itu terangkat dengan mudah seolah Futakuchi lebih kecil dan ringan dari boneka manapun. Tanpa menunggu lama, Ia turunkan seluruh celana Futakuchi dan melemparnya dengan jauh.

 

Futakuchi menjerit. Kepalanya dengan cepat menengok dengan tatapan horor begitu Ia rasakan sensasi aneh di analnya. Si Bangsat Ushijima menjilat analnya seperti lolipop dan Futakuchi mau mati di tempat.

 

“Bangsat, brensek, kamu ngapain, anghmmn, jangan. Anjing, lepas gaaaakhng!” Ia merengek sembari menggeliat mencoba melepaskan diri dari pelukan Ushijima di pinggang dan pahanya. Namun nihil, tenaga Ushijima jauh lebih besar dan Futakuchi cuma bisa mendesah dengan kacau sambil menyembunyikan kepalanya di tumpukan dua lengannya. Besok dia akan mati dan nggak seorang pun boleh tahu di mana dia bunuh diri.

 

Ushijima nggak peduli. Dia menikmati apa yang dia lakukan. Lidahnya menyelundup ke dalam anal Futakuchi dan membasahi dalamnya dengan sungguh-sungguh. Seolah sudah paham betul, Ia dengan mudah menggerus dinding rektum Futakuchi dengan ludahnya. Pun tangannya nggak tinggal diam. Penis malang yang baru ejakulasi itu harus tegang kembali karena adrenalin dan stimulasi berlebih dari tangan Ushijima. Dia kocok dengan cepat, dia urut naik dan turun sembari beberapa kali meremas testisnya. Semua dia lakukan sambil bercinta dengan cincin anal Futakuchi yang merah dan berkedut.

 

Please, nng, udah, please, aku nggak kuat, aah,” rengek Futakuchi lagi. Tangan mencoba meraih wajah Ushijima.

Yeah? Just cum, Kitty Cat.” Memang dasar badan murahan, rutuk Futakuchi dalam hati. Cuma dengan satu kalimat, badannya kembali menggelinjang hebat, perutnya begitu tegang merasakan sapuan lidah panas Ushijima di dalam analnya dan kocokan nggak manusiawi di penisnya. Futakuchi muncrat untuk yang kedua kalinya. Bangsat.

 

“Udah, uh, mmn, ah … “

God, you’re divine.”

 

Futakuchi ambruk di atas kasur dengan kepala yang luar biasa pusing. Matanya memejam dengan air mata yang turun membasahi pipinya. Pahanya masih gemetar di atas sprei kasur Ushijima yang berantakan nggak terkira. Ada genangan kecil dari sperma Futakuchi di sana, bercampur dengan keringat dan aroma alkohol yang makin kuat.

 

Now, do me a favor, would you, Kitty? Rapetin lagi pahanya, yeah. Steady,” kata Ushijima. Sungguhan nggak peduli dengan kondisi Futakuchi. Cowok malang dari Farmasi itu sudah teler. Otaknya disfungsional dan napasnya tersengal-sengal. Dia bahkan nggak sadar kalau badannya sudah ditarik Ushijima lagi sampai pantatnya menabrak penis dan perut Ushijima. Ia membelalakkan mata sebelum memekik lagi.

“Jangan, please. Capek, aku udah keluar dua kali, please, capek nnn.” Ia merengek. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang merah dan berantakan. Tapi Ushijima memang lelaki brengsek. Dia malah tertawa dan mengelus pinggang Futakuchi dengan sayang seolah menenangkan.

 

Sumpah, Futakuchi nggak tahan lagi. Perutnya masih terasa geli dengan sensasi ejakulasi dan malu yang menggerogoti pikirannya. Bisa-bisanya ada pria yang menjilati analnya dan kini mau memasukkan penisnya ke dalam tubuhnya? Bangsat, enggak. Semua ini salah Aone. mau senikmat apapun rasanya, Futakuchi tetap nggak terima jadi pihak bawah yang nggak berdaya.

 

Lama terlarut dalam fantasi dan pikirannya sendiri, Ia sampai nggak sadar kalau kepala penis Ushijima sudah ada di mulut analnya. Seperti curi-curi kesempatan, kepala penis yang tebal dan panas itu menyusup masuk sedikit demi sedikit dan diam di dinding luar—nggak benar-benar masuk, nggak benar keluar.

 

Fuck, it feels amazing. Kitty, it’s hot. Rasanya kayak kamu mau saya diem di sini yang lama, huh? Aduh, anjing.”

 

Nggak ada respon berarti dari Futakuchi yang sepenuhnya sudah hilang di antara kenikmatan. Kepalanya terjatuh dan tenggelam dalam kasur empuk dan lipatan lengan. Badannya dipaksa melengkung seperti kucing dan bergerak maju mundur sebab Ushijima masih bermain-main di mulut analnya. Nggak peduli seberantakan apa Futakuchi dan sederas apa air matanya, Ushijima pikir ini waktunya untuk mengejar pelepasan.

 

Safety first, baby. No concom, no sex,” bisiknya di telinga Futakuchi. “Rapetin lagi, yeah, kayak gitu, mmhn, good, so good for me. My delicate kitty, my sweet and dainty doll,” lanjutnya. Ia meletakkan penisnya di antara dua paha Futakuchi yang dirapatkan, memperlakukannya seolah itu anal yang siap dibuahi. Rasanya panas dan lengket sebab cairan precum milik Ushijima dan sperma Futakuchi sudah membasahi pahanya. Ia mendorong penis itu masuk sampai menabrak dan menggesek penis milik Futakuchi dan membuat sang empunya memekik nikmat. Terlalu senstif. Futakuchi sudah keluar dua kali dan seluruh badannya terasa seperti reseptor rasa sakit. Begitu ngilu dan membuatnya jatuh dalam kenikmatan yang menyakitkan.

 

“Pelan .. nggh, pelan … please.”

Yeah? Do it oncr more for me, mm?”

 

Ushijima menarik penisnya, lalu mendorongnya lagi. Keluar masuk dalam himpitan paha seolah tengah bercinta dengan khidmat. Saking nikmatnya, Ia sampai mendongakkan kepala sebelum pada akhirnya menggigit bahu Futakuchi yang terekspos. Badan keduanya terantuk-antuk dan saling menampar menciptakan suara yang begitu kotor. Seperti tengah syuting film porno saja. Lalu, pada hentakan yang terakhir, Ushijima berhasil ejakulasi dan memuntahkan lelehan sperma kental ke perut dan spreinya yang sudah basah kuyup. Ranjang seketika berhenti berderit tapi Futakuchi nggak berhenti merintih dan meracau dengan badan yang gemetar nyaris ambruk kalau saja Ushijima nggak memeluknya dengan erat.

 

“Mau permen lagi, nggak?” Sinting. Futakuchi mau muntah. 


















Notes:

Find me on X @Ideationsm. Have a cigarette, X.