Actions

Work Header

consume me, yes me

Summary:

Pukul 2:55 bukan waktu yang ideal untuk berpikir.

Atau menyesali setiap keputusan hidup yang membawamu sampai pada momen ini.

Tetapi terkadang Jihoon melakukan sesuatu yang tidak ideal lalu menyesali konsekuensinya kemudian.

Notes:

I combine all three of the song requests, fuse it into one giant theme, drink coffee, and regret my life decision.
but anyway enjoy janji di atas ingkar, lantas ikat aku di tulang belikatmu

please note ini alurnya maju mundur, for every big (?) time jump, aku kasih pemisah paragraf (.) lebih banyak

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kalau semua berjalan mengikuti kemauan Jihoon, maka paginya tidak akan diawali dengan suara mesin kopi rusak dan ocehan Mingyu.

 

"Mau berapa kali lagi ni rongsokan dibenerin? Buang aja udah, beli baru." Mingyu mengangkat kedua tangan ke udara dengan pose menyerah. Setelah kurang lebih setengah jam—setengah jam terlalu lama—menginspeksi mesin kopi Jihoon, mencoba memperbaiki sebisanya, dan gagal.

 

"Kalo murah, dah gua ganti dari kemaren."

 

Mesin kopi itu untuk kesebelas kali dalam tahun ini bermasalah. Dan ini November, yang artinya rata-rata year to date frekuensi Jihoon—Mingyu—harus memperbaiki benda itu adalah sebanyak satu kali dalam sebulan. Untungnya dari berteman dengan Kim Mingyu jika mengabaikan bunyi menyebalkan yang selalu keluar dari mulutnya adalah dia ahli dengan hal-hal seperti ini—sesuatu tentang dia sudah terbiasa menjadi man of the house atau semacamnya—dan Jihoon bisa memanfaatkan itu untuk kepentingan pribadi.

 

"Ini kayaknya bladenya aus deh," Mingyu berasumsi. Untuk kesekian kali pagi itu dia mencoba menyalakan mesin kopi Jihoon. Mesin kopi meraung nyaring, menelan semua bunyi lain dalam ruangan. Hanya lima detik, lalu Mingyu kembali menekan tombol off. Dia membuka wadah kopi, mengambil sejumput bubuk kasar yang tidak tergiling. "Makanya gradak gruduk gitu pas baru dinyalain. Liat aja ni."

 

Mingyu menunjukkan serbuk kopi tadi kepada Jihoon untuk mendukung hipotesanya. Sebagai respon, Jihoon hanya mendengus tidak puas, yang tentu saja diabaikan oleh Mingyu. Dia membuang serbuk itu ke tempat sampah.

 

Sembari menepuk-nepuk telapak tangannya untuk menyingkirkan semua sisa serbuk kopi, Mingyu bertanya. "Lo ada blade cadangan gak?"

 

Itu adalah pertanyaan konyol. Jadi Jihoon membalas hanya dengan melotot instan. Memangnya dia ini terlihat seperti apa?

 

"Mana ada."

 

"Ya beli dulu atuh."

 

"Beli blade?"

 

"Beli mesin kopi baru," jawab Mingyu santai. Mereka saling pandang beberapa detik. Pandangan Jihoon meneriakkan pembunuhan berencana. Jadi Mingyu segera meralat kalimat. "Ya beli bladenya aja boleh. Ini bisa sih kayaknya ganti blade doang."

 

"Lo bisa ganti?"

 

"Bisa aja.” Spasi sedetik. Mingyu mengerucutkan bibir dengan iris melirik ke arah atas untuk menunjukkan dia sedang mempertimbangkannya. “Kayaknya. Kalo dicoba."

 

Jihoon tidak yakin. Nada tidak percaya diri dalam kalimat itu terlalu mengkawatirkan untuk diabaikan. Tapi tetap saja Jihoon membuka aplikasi market place di ponselnya dan mengetik spesifik jenis mesin kopi yang dia punya, menambah kata kunci ‘blade’ di belakang.

 

Something something, coffee maker, serial number xxxx, blade.

 

"Kalau nggak, ya mending beli baru aja sih. Prasaan gue ngeliat ini mesin udah lebih banyak daripada liat keluarga gue saking seringnya lo minta gue ke sini benerin ni barang butut."

 

Jihoon memutar bola mata malas mendengar ocehan Mingyu. Masih terlalu pagi untuk omong kosong orang itu. Fakta bahwa dia lebih banyak melihat mesin kopi Jihoon dibanding keluarganya sangat sedikit pengaruh dari mesin kopi dan lebih ke karena Mingyu sendiri.

 

Anyway memulai pagi dengan Mingyu berceloteh di dapurnya adalah pertanda buruk dan potensi sial.

 

Tapi menjalani hari tanpa suntikan kafein dalam sistemnya terdengar jauh lebih buruk, jadi Jihoon akan menanggung sedikit penderitaan ini.

 

Setelah menggulir panjang laman market place di ponselnya, Jihoon tetap tidak menemukan benda spesifik yang dicari. Malah yang muncul adalah mesin kopi itu sendiri. Yang dia abaikan, karena untuk saat ini dia sama sekali tidak dalam kondisi finansial yang memungkinkan untuk membeli satu unit baru mesin itu sekaligus.

 

Di sisi lain, terdengar suara terkesiap dari satu-satunya manusia lain dalam ruangan.

 

Ketika Jihoon mengangkat pandangan dari layar ponsel, matanya menemukan Mingyu yang tengah menatap terkejut layar ponselnya sendiri, dengan pose yang sangat dramatis. Satu tangan menutup mulut menganga, mata membelalak tak percaya.

 

"Bang, lo gila ya?"

 

Satu alis Jihoon menukik tidak senang dengan hinaan yang datang tanpa provokasi. "Nggak? Gue ngerasa sangat waras."

 

Masih dengan dramatis, seperti istri yang baru saja menangkap basah perselingkuhan suaminya, Mingyu perlahan mengangkat wajah demi memandang ke arah Jihoon. Matanya sarat akan tuduhan tidak logis. Betul-betul persis istri yang terkhianati dalam opera sabun pukul sepuluh. "Apa lo ini diem-diem anak konglomerat?"

 

Sekali lagi Jihoon memutar bola matanya malas. "Seandainya gitu, meurut lo gue bakal di sini sekarang?"

 

Tinggal di apartemen murah dengan kontrak per tiga bulan, jauh dari akses kota, dan listrik yang kadang terputus.

 

Jihoon sedikit bisa menebak apa alasan reaksi tiba-tiba Mingyu.

 

"Trus lu ngapain anjing beli mesin kopi semahal ini."

 

Bingo.

 

"Anjing. Gue baru tau ini barang mahal. Selama ini gue kira rongsokan. Pegang-pegang pake tangan kotor gue."

 

Jihoon menghela napas seakan-akan menanggung derita Mesiah. Dramatisasi Mingyu akan segala sesuatu sama sekali bukan hal baru dan Jihoon dengan kesadaran penuh mengundangnya ke dapurnya pagi ini. Tetap saja, bukan berarti Jihoon bisa menoleransi orang ini dengan baik.

 

Dramatic ass, Jihoon berbisik di bawah nafasnya.

 

Mingyu masih saja dengan ocehan runtutnya. "Mesin kopi 22 juta, lu sinting ya?"

 

"22 juta setelah inflasi. Itu mesin dah enam tahun umurnya.”

 

“Segede-gedenya inflasi, tetep aja ini pasti puluhan juta juga enam tahun lalu.”

 

“Anggap aja kayak investasi."

 

Mingyu memandang Jihoon seolah dia punya kepala dua. "Mana ada orang investasi mesin kopi buat pemakaian pribadi. Utilisasinya aja kagak nampe 50%, yakin gue. Mending lo beli rumah."

 

"Lu kalo nemu rumah harga 22 juta, langsung kasih tau gue. Gue bayar cash." Jihoon membalas dengan melotot.

 

Temannya yang lebih muda masih memberikan pandangan tidak percaya kepada Jihoon. "Beneran, bang. Kita udah sahabatan lima tahun. Kalo lo ada duit nganggur 22 juta, plis plis plis pinjemin gue. You know i'm on tight situation."

 

Untuk menyebut mereka sebagai sahabat rasanya terlalu berlebihan, tetapi Jihoon akan mengabaikan itu untuk saat ini.

 

"Pertama," kata Jihoon seraya memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Mingyu punya cara khusus untuk membuat pagi Jihoon yang buruk mencapai level yang lebih tinggi, itu adalah bakat eksklusif yang hanya dimiliki Kim Mingyu. "Gue gapunya 22 juta nganggur." Karena itu dia tidak mampu mengganti barang yang disebut Mingyu rongsokan dan sedang duduk tidak berfungsi di atas pantry sekarang. "Kedua, kalau punya 22 juta pun, gabakal gue pinjemin ke lo. God knows what you were gonna do with it."

 

"Hei," sahut Mingyu tersinggung. "Di antara kita berdua, kayaknya udah jelas siapa yang lebih bertanggung jawab secara finansial. I'm not the one with 45mio coffee maker that breaks down once a month and is barely functioning." Dia berhenti dengan dramatis tiba-tiba. Meletakkan telapak tangan di depan mulutnya.

 

Hanya dengan melihat sekilas, Jihoon tau apapun kalimat berikutnya yang akan keluar dari mulut itu sama sekali tidak akan menyenangkan hati.

 

"Bang, lo gak jadi simpenan pejabat kan?"

 

Selalu mudah diprediksi.

 

"Lo. Lo tuh jadi simpenan aki-aki."

 

Jihoon memukul lengan dan punggung Mingyu untuk menunjukkan bahwa dia tidak senang hati. Sementara Mingyu, seolah-olah badannya tidak menjulang sepuluh sentimeter lebih tinggi dengan kekuatan lebih besar daripada Jihoon, menciutkan badan menghindari pukulan yang lebih tua, seperti seorang anak kecil yang sedang menerima hukuman.

 

Pada akhirnya Jihoon mengusir Mingyu keluar setelah memastikan bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan anak itu untuk memperbaiki mesin kopinya.

 

Sebelum diusir keluar, Mingyu mencoba meyakinkan Jihoon untuk "Buang aja itu mesin kopi atau jual deh, jual. Pasti banyak kafe yang mau beli at least setengah harga. Abis itu ganti mesin kopi drip harga sejutaan, masih cuan." Sambil memberi tautan toko online untuk mesin kopi yang dia maksud.

 

Jihoon menolak dengan keras kepala. Mingyu menyebutnya 'pretentious bastard' lalu mengoceh lebih panjang tentang bagaimana rasa kopinya akan sama saja walau dibuat dengan mesin kopi drip dengan harga 22x lebih murah dan bubuk jadi dibanding jika dia menggling biji kopi sendiri menggunakan mesinnya yang fancy—oh waw, sekarang mesin itu fancy padahal tidak lebih sepuluh menit lalu mulut yang sama menyebutnya rongsokan—tapi tidak praktikal, sekali lagi menyebut Jihoon pretentious, sebelum akhirnya Jihoon membanting pintu di wajahnya.

 

Setelah kembali mendapatkan kedamaian dalam apartemennya yang 'Mingyu noise free', Jihoon menarik nafas panjang.

 

Memulai pagi dengan suara menyebalkan Kim Mingyu adalah pertanda buruk.

 

Jihoon berjalan ke arah dapur, memandang kecewa pada mesin kopinya. Masih duduk manis setelah menjadi alasan pagi Jihoon yang buruk. Mewah, mahal, dan tidak berguna.

 

Mewah, mahal, dan tidak berguna. Jihoon mengulang dalam kepala.

 

Sepertinya pagi ini kopinya harus diaduk dengan bubuk instan. Mau bagaimana lagi.

 

Jihoon mengambil dua bungkus kopi instan sekaligus dari dalam laci. Menyeduh dengan air panas dari dispenser. Untung saja dia tidak lupa menyalakan mode air panas tadi pagi.

 

Mendengarkan Mingyu di pagi hari sebagai ganti untuk seduhan kopi yang sempurna terbukti tidak bekerja. Tapi mau bagaimana lagi.

 

Jihoon duduk merenung dengan kopi instannya di atas meja makan. Menunggu hingga kopi sedikit dingin untuk bisa dikonsumsi tanpa membakar lidah. Pada saat yang sama memandangi mesin kopinya yang rusak. Mencatat dalam kepala untuk mengunjungi situs dari brand mesin kopi itu, kalau mereka bisa membantunya mencari sparepart blade.

 

Kopi pagi Jihoon terasa terlalu manis. Dan pada akhirnya lidahnya tetap terbakar karena antara kesabarannya dan perpindahan panas dari gelas kopi dengan udara, sayangnya kesabaran Jihoon lebih dahulu mencapai titik jenuh.

 

Di atas meja, ponselnya berdenting, menunjukkan satu pesan masuk di aplikasi messenger. Jihoon hanya memandang sekilas untuk melihat pengirim pesan.

 

Kwon Soonyoung.

 

Jihoon menghela napas kesal. Tidak repot untuk segera membuka pesannya. Jihoon sedikit banyak sudah bisa menebak isi pesannya. Dan itu bisa menunggu untuk nanti.

 

Sekali lagi perhatiannya tertuju ke atas mesin kopi. Sekali lagi menghela napas. Sekali lagi mengulang dalam kepala tiga kata. Mewah, mahal, tidak berguna.

 

Kalau semua mengikuti kemauan Jihoon, maka paginya tidak akan diawali dengan suara mesin kopi rusak dan Kim Mingyu.

 

Tetapi terkadang, sering kali, hidup ini tidak mengikuti kemauannya. Jihoon mencoba kompromi dengan kenyataan itu.

.

.

.

.

.

Pada ulang tahunnya yang ke-23, Jihoon mendapat hadiah yang terlalu mewah untuk ditaruh di kamar kosnya yang sederhana dari seorang Kwon Soonyoung.

 

Sebuah mesin espresso dengan built-in grinder.

 

Ulang tahun Jihoon jatuh di minggu yang sama dengan evaluasi karyawan baru di kantor Jihoon. Karyawan baru yang salah satu di antaranya adalah Lee Jihoon sendiri.

 

Pada hari dimana hasil evaluasi keluar dan Jihoon resmi menerima perjanjian kerja waktu tidak terbatasnya, Soonyoung mengajaknya makan malam bersama sebagai perayaan.

 

Kwon Soonyoung adalah senior di departemen Jihoon. Dia memegang posisi sebagai mentor langsungnya pada masa probation.

 

Makan malam mereka terdiri dari steam kerapu dan berbagai olahan seafood. Jihoon menghabiskan sepanjang malam mengkhawatirkan bill mereka.

 

Itu bukan tempat tipikal yang akan dikunjungi Jihoon jika dia yang mengambil keputusan. Gajinya sebagai pekerja kantoran di entry level dan baru saja menyelesaikan masa probation menjadi petimbangan utama.

 

Tetapi di penghujung malam, rasa khawatir Jihoon mejadi kesia-siaan. Ketika makan malam berakhir, Soonyoung mengajaknya pulang sambil mengatakan bahwa dia sudah mengurus pembayaran. Lalu ketika Jihoon protes dan meminta setidaknya biarkan dia membayar setengah, Soonyoung hanya membalas dengan tersenyum dan memintanya untuk melakukan itu lain kali.

 

Karena tentu saja akan ada lain kali untuk mereka makan malam bersama.

 

Soonyoung mengantar Jihoon pulang. Turun persisi di depan gerbang seperti yang sering dia lakukan jika Jihoon terpaksa ikut lembur dengannya ketika ada banyak pekerjaan.

 

Kalau dipikir-pikir, pada masa ini Jihoon terkadang bertanya apakah dia terlalu familiar dengan seniornya dalam batasan yang tidak wajar. Tetapi Kwon Soonyoung selalu bersikap profesional dalam pekerjaan. Jadi mungkin ini semua hanyalah sikap ramah tamahnya yang alami.

 

Sebuah lagu oleh Ariana Grande mengalun melalui stereo. Mobil Soonyoung berhenti perlahan ketika tiba di depan kos Jihoon. Dia menarik rem tangan untuk berhenti sempurna.

 

"Yak, sampai." Kata Soonyoung dengan suara ceria.

 

Jihoon mendengar suara Ariana melengking di tembang yang berputar di latar belakang meski samar karena suara radio yang sangat pelan.

 

"Sekali lagi, selamat udah ngelewatin masa probation." Soonyoung kembali berbicara, menginterupsi Jihoon yang terima kasihnya sudah di ujung lidah. Ariana yang hampir memasuki bridge pun seketika berhenti ketika Soonyoung menekan tombol stop.

 

Sayang sekali, padahal Jihoon menyukai melodi bridge itu.

 

Menepiskan rasa kecewa kecil yang tidak relevan di sudut hatinya, Jihoon membalas dengan "Terima kasih" yang tadi sempat terjeda. Terima kasih untuk ucapan selamat yang ketiga kali hari itu, terima kasih untuk makan malamnya, dan terima kasih untuk tumpangannya. Lalu melanjutkan dengan "Hati-hati nyetir baliknya Pak, saya masuk dulu."

 

Jihoon mengumpulkan barangnya yang hanya terdiri dari tas kerja dan bersiap turun. Tetapi sebelum dia sempat meraih pintu mobil, Soonyoung terlebih dahulu mencegat.

 

"Bentar," katanya sambil menahan tangan Jihoon. "Saya ada sesuatu buat kamu."

 

Alis Jihoon menukik naik.

 

Soonyoung menyerongkan badan agar bisa meraih sesuatu di kursi penumpang di belakang. Sebuah kotak karton yang cukup besar dalam bungkusan coklat. Dengan sedikit susah payah Soonyoung memindahkan barang itu dari kursi belakang ke atas paha Jihoon.

 

Jihoon menerima, masih dengan alis menukik nyaris menyatu dengan dahinya.

 

"Ini apa Pak?"

 

"Hadiah, karena kamu udah lulus probation."

 

"Waduh, ngapain repot-repot..."

 

"Sekalian hadiah buat kamu ulang tahun."

 

Jihoon diam sejenak. Sebelum membalas. "Kok bapak tau saya ulang tahun?"

 

"Ada di CV mu loh ya."

 

Oh.

 

Meski itu adalah informasi yang dicantumkan di CV, Jihoon tetap bertanya kenapa Soonyoung mengingat hal trivial yang seperti itu. Tetapi dia memutuskan untuk tidak bertanya. Karena ini bukan hal paling tidak masuk akal yang sudah pernah dilakukan Kwon Soonyoung. Ditambah lagi Soonyoung tersenyum konyol, jelas terlihat bangga dengan dirinya sendiri karena sudah ingat.

 

"Ini isinya apa?"

 

"Nanti pas buka juga tau."

 

Jihoon memandang curiga ke arah Soonyoung. Lalu ke arah bungkusan di pangkuannya. Massa kotak itu cukup berat. Jihoon sama sekali tidak punya gambaran apa yang mungkin diberikan Soonyoung padanya.

 

"Berat banget. Ini isinya bukan batu kan?"

 

"Liat aja nanti sendiri."

 

Hingga akhir Soonyoung menolak memberi kisi-kisi apa di dalam kotak. Jihoon menyerah untuk memaksa informasi keluar dari mulut orang itu, jadi dia mengulangi ucapan terima kasih untuk kali keberapa hari itu kepada Soonyoung. Terima kasih untut bimbingannya selama ini, terima kasih telah memberikan nilai baik untuk evaluasi Jihoon, terima kasih untuk traktiran makan malammya, terima kasih untuk tumpangan pulang, dan terima kasih untuk kado yang mudah-mudahan saja bukan berisi batu.

 

Kwon Soonyoung melambaikan tangan santai, meminta Jihoon untuk tidak terlalu canggung.

 

"Kamu kan udah lulus probation, gausah terlalu kaku lagi gitu. Dibawa santai." Seolah itu cukup menjadi alasan untuk mengeliminasi rasa segan dan profesionalisme di antara mereka. Terutama dari sisi Jihoon.

 

Soonyoung menutup kaca mobilnya setelah mengucapkan selamat malam, senyum konyol masih bertahan di wajah.

 

Selama lima detik setelah Soonyoung menginjak pedal gas, Jihoon berdiri di gerbang. Mengawasi hingga mobil itu menghilang dari pandangan.

 

Setelah memastikan sedan hitam Soonyoung tertelan malam bulan November yang dingin, barulah Jihoon masuk ke dalam kos. Membawa hadiah dari si senior—sekarang rekan kerja—masuk.

 

Isi kotak itu adalah sebuah mesin kopi yang terlihat canggung diletakkan di atas lantai kamar Jihoon yang sempit.

 

Ada berbagai emosi dan pertanyaan yang timbul dari satu hadiah yang terasa terlalu berat itu—secara literal dan figuraftif . Seperti kenapa dia bahkan mendapat hadiah dari awal. Atau kenapa dia diberi mesin pembuat kopi otomatis dengan built in grinder, Jihoon tidak punya preferensi spesifik atau rewel dengan bagaimana kopinya diseduh, atau tahu menahu soal biji kopi untuk menggilingnya sendiri.

 

Kemudian satu pencarian google singkat memberinya petunjuk estimasi harga mesin kopi itu. Seketika beban dari hadiah itu berlipat hingga seratus, seribu, sepuluh ribu kali.

 

Jihoon menggosok mata tidak percaya dengan banyaknya angka 0 pada label harga merk dan tipe mesin itu secara spesifik.

 

Dengan tangan gemetar, dia mengirim pesan ke Kwon Soonyoung - X Corp di ponsel.

 

Pak, maaf ini apa ga salah?

apa ny?

 

Balasan Soonyoung datang dengan cepat. Dengan ejaan berantakan seperti isi kepala Jihoon.

 

Mesin espresso?

biar km g antri bli kopi lg

 

Satu kali, Jihoon terlambat masuk kerja karena seorang senior memintanya mampir membeli kopi di pagi hari. Itu terjadi di bulan pertama kerja Jihoon. Ketika Soonyoung bertanya alasan kenapa Jihoon terlambat, dia menjawab dengan jujur bahwa antrian untuk membeli kopi sedikit lebih panjang dari yang dia perkirakan dan dia terdistraksi waktu, tidak sadar bahwa sudah pukul sembilan. Bohong, Jihoon sengaja mengambil waktu dan terlambat masuk kantor untuk bisa mengajukan komplain ke HR bagaimana para senior suka memanfaatkan pegawai-pegawai baru untuk membelikan mereka kopi dan tidak membayarnya. Kalau dipikir, Jihoon tidak pernah memberitahu alasan itu kepada Soonyoung sampai akhir.

 

Mungkin karena itu Soonyoung berpikir bahwa jika adiksi kafein Jihoon membuatnya terlambat masuk kerja, maka sebagai rekan kerja yang baik dan mengutamakan produktivitas tim, Soonyoung akan menghadiahinya dengan mesin kopi. Dengan begitu Jihoon bisa membuat kopinya sendiri di pagi hari dan menyimpan waktu yang dia gunakan sehari-hari untuk mengantri kopi dengan datang ke kantor lebih pagi dan mulai bekerja dengan rajin.

 

Mungkin, mungkin begitu cara berpikir otak Kwon Soonyoung.

 

Walau dia masih tidak mengerti bagaimana gaji seorang pegawai kantoran biasa mampu memberikan 20 juta lebih secara percuma kepada tim membernya demi alasan produktifitas.

 

Entah diam-diam Kwon Soonyoung bergelimang harta. Atau dia hanya menghabiskan gajinya dengan sembrono.

 

Jihoon 23 tahun tidak tahu.

 

2 Pesan baru dari Kwon Soonyoung

 

smoga suka kadonya ya :o

next time kado ultahmu ga dirapel sm prayaan lain ;)

 

Jihoon tidak tahu.

.

.

.

.

.

"Bentar lagi desember." Wonwoo berkomentar sambil lalu tanpa memandang Jihoon. Matanya fokus dengan grafik di layar televisi.

 

Mereka sedang menghabiskan senin malam dengan bermain Mario Kart di apartemen Jihoon.

 

"Iya." Jihoon membalas dengan energi yang sama. "Lo balik natal?"

 

"Balik kemana?"

 

"Rumah."

 

Wonwoo mendengus, mobilnya sedikit menggesek bahu jalan sebelum berjalan di sirkuit dengan benar kembali.

 

"Rumah gue di atas."

 

Jihoon memutar bola mata malas. "Lo tau maksud gue."

 

Diam Wonwoo setelah itu adalah konfirmasi non verbal bahwa ya, dia tahu apa yang Jihoon maksud tetapi tidak ingin mengeksplor lebih lanjut topik itu. Jadi Jihoon pun menghormati pilihan teman mainnya untuk malam ini dan menutup mulut demi konsentrasi pada Mario Kart.

 

Permainan berlanjut dalam diam, hanya bunyi musik latar belakang Mario Kart mengisi ruang tengah Jihoon.

 

Mengejutkannya, setelah satu round selesai dan game mereka sedang cool down untuk memasuki ronde selanjutnya, Wonwoo sambil minum satu kaleng cola dalam sekali teguk, kembali membuka mulut.

 

"Menurut lo gimana?"

 

"Apanya?"

 

"Apa gue pulang aja?"

 

Jihoon melayangkan pandangan bertanya kepada Wonwoo. Menunggu jika ada lanjutan setelah kalimat itu.

 

"And ruin everyone's christmas." adalah lanjutan dari kalimatnya. Diucapkan dengan wajah tersenyum tetapi nada datar tanpa ketulusan.

 

Hubungan Wonwoo dengan keluarganya sedikit... rumit. Kalau itu adah kata yang cocok untuk digunakan. Sudah tiga atau mungkin empat tahun atau lebih lama lagi—jujur Jihoon tidak menghitung dengan akurat—sejak pemuda itu terakhir 'berbicara' dengan orang tuanya.

 

"Mak lu kemarin nelpon."

 

"Nelpon elu?"

 

"Iya."

 

"Ngomong apa?"

 

"Lo disuruh balik pas natal."

 

Sekali lagi mobil Wonwoo bergerak meliuk di sirkuit.

 

"Bisa aja, kalo mereka pengen liat meja makan dibalik pas lagi makan malam."

 

"Gapernah ngebayangin lo tipe yang kalo lagi marah, ngebalikim meja."

 

"Oh, bukan gue."

 

"Trus?"

 

"Bokap."

 

Jihoon sedikit banyak familiar dengan temperamen ayah Wonwoo. Sudah menyaksikan secara langsung pada satu poin dalam pertemanan mereka. Jadi dia tahu betul bahwa tidak ada gunanya membujuk Wonwoo untuk kompromi. Lagipula dia tidak sepeduli itu jika Wonwoo pulang ke rumah atau tidak. Dia hanya kurir pos dan pesan sudah berhasil disampaikan.

 

“Jadi lo natal ga kemana-mana?”

 

“Sejauh ini sih belum ada rencana. Paling di sini-sini aja.”

 

“Mingyu?”

 

Jihoon bisa merasakan bahu Wonwoo menegang selama sepersekian detik ketika Jihoon menyebut nama teman satu apartemennya. Hanya sepersekian detik, mobilnya oleng sedikit, lalu dia segera kembali menguasai diri.

 

Wonwoo menjawab santai. “Gak pulang juga.” Dia melewatkan satu buff di sirkuit dan membawa mobilnya melaju dengan buru-buru. Kemudian dia menambahkan dengan ragu, “Mungkin.”

 

“Kalo dia, kenapa alasannya?”

 

“Entah,” kata Wonwoo. Ekspresinya datar, pandangan kosong ke arah TV.

 

Masalahnya dengan Wonwoo dan Jihoon adalah, mereka berteman sangat lama. Terlalu lama sehingga Jihoon mengenal karakter Wonwoo lebih baik dari yang dia sendiri mau. Mereka sudah ada di hidup satu sama lain sejak kelas tujuh. Sekarang memasuki kepala tiga. Dua dekade bukan waktu yang singkat untuk mengenal seseorang. Dan Jihoon secara tidak suka rela, mau tidak mau, bisa mengerti isi kepala Wonwoo dan proses berpikir orang itu.

 

Jihoon bisa melihat Wonwoo melewati ekspresi stoic dan kebohongannya.

 

Wonwoo punya ekspresi poker face yang natural. Tetapi setiap kali dia berbohong atau sedang menyembunyikan sesuatu, dia selalu melakukannya secara berlebihan. Seperti saat ini.

 

“Dia ga kangen keluarganya apa?”

 

Wonwoo hanya membalas dengan mengedikkan bahu. Emosi masih nihil ditemukan pada permukaan kulitnya. Jadi Jihoon memutuskan untuk tidak mendorong topik itu lebih jauh. Dan lanjut bermain Mario Kart dalam diam.

 

 

 

Menjelang tengah malam, Jihoon dan Wonwoo berbaring di atas sofa dengan kontroller game dibuang acak di atas meja dan lantai. Mario Kart sudah tidak menarik setelah sepuluh round dengan mayoritas kekalahan Jihoon, jadi mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Jihoon menyekroll laman sosial media di ponsel pintar sementara Wonwoo lanjut bermain game dengan Nintendo.

 

Wonwoo berbicara lagi tanpa memindahkan mata dari layar Nintendonya. “Mantan bos lu itu, siapa namanya?”

 

“Soonyoung?”

 

“He eh, dia. Dah lama ga mampir.”

 

Tiga atau empat kesempatan ketika Soonyoung berkunjung ke apartemen Jihoon, Wonwoo berpapasan dengan orang itu entah di lorong atau lift apartemen. Satu kali Wonwoo mengetuk kamar Jihoon untuk menumpang karena terkunci dari apartemennya sendiri, sementara Mingyu sedang jaga malam di rumah sakit dan tidak akan pulang sampai pagi. Soonyoung membuka pintu untuknya, mengenakan kaos oblong band yang Wonwoo tahu adalah favorit sahabatnya—dia punya kaos yang persis, mereka membelinya bersama semester lima kuliah ketika menghadiri konser band itu—dan juga celana boxer Jihoon yang terlalu ketat di pahanya.

 

Kalau Wonwoo menyadari rambut berantakan Soonyoung dan ruam merah pada kulit Jihoon, dia tidak berkomentar apa-apa.

 

Hanya “Gue numpang tidur di sofa sampe pagi Ji. Lupa bawa kunci.”

 

Jihoon mempersilahkannya. Mengatakan bahwa teman kantornya juga menginap malam ini karena… ya hanya karena mau menginap, tidak ada alasan khusus, memangnya harus ada alasan untuk menginap di rumah rekan kerjamu di akhir pekan? Mereka sesama pria, tidak ada yang aneh dengan acara menginap di akhir pecan. Hanya makan pizza, minum bir dan bermain game like normal bros haha.

 

Jihoon memperkenalkan dua orang itu secara canggung. Menghindari menatap wajah temannya dan mencoba berbasa basi tentang musim hujan yang mengakibatkan infestasi nyamuk di apartemen mereka. Hit elektrik tidak efektif membasmi semua serangga itu.

 

Wonwoo tidak banyak berkomentar.

 

Mereka bermain game MOBA di ponsel untuk menghabiskan waku canggung bertiga. Lalu tiba-tiba setelah win streak kelima, Wonwoo mengumumkan bahwa dia akan kembali ke apartemennya sendiri. Mingyu izin satu jam dari tempat kerjanya untuk mengantar kunci Wonwoo.

 

Jihoon tidak mencecar Wonwoo untuk mendapat jawaban apakah dia memaksa Mingyu kembali ke apartemen dan kenapa dia harus melakukan hal itu kalau Jihoon tidak keberatan dia menginap. Karena Wonwoo tidak semurah hati Jihoon dalam berpura-pura tidak menyadari gajah di tengah ruangan. Dia akan mengkonfrontasi Jihoon dengan omong kosongnya kalau Jihoon memancing. Jadi selagi Wonwoo bermurah hati menyingkir tanpa kata, Jihoon membiarkannya pergi.

 

Mereka tidak membahasnya di kesempatan selanjutnya. Hanya dalam satu dua pembicaraan sambil lalu nama Kwon Soonyoung disebut. Wonwoo mengenalnya sebagai atasan Jihoon di kantor. Tidak lebih. Dan bahkan jika dia punya anggapan lain pun, Wonwoo tidak membawanya ke dalam permukaan. Sebagaimana Jihoon pun tidak melakukan demikian tentang Mingyu.

 

Tapi Jihoon tahu bahwa Wonwoo tahu bahwa Jihoon tahu.

 

Mereka berdua menari dalam lingkaran pengetahuan absktrak tentang satu sama lain tanpa pernah saling mengonfirmasi. Inilah indah sekaligus mengerikannya memiliki sahabat yang sudah bertahan selama dua dekade. Mereka saling mengerti dan tahu terlalu banyak tentang satu sama lain.

 

“Tadi pagi Mingyu datang,” kata Wonwoo lagi, meneruskan dialog dimana dia sempat terhenti. “Bangunin gue pagi-pagi. Heboh banget, ngomongin mesin kopi lo.”

 

Tentu saja.

 

“Iya. Gue mintol dia benerin mesin kopi gue tadi pagi. Rusak lagi.”

 

“Buang aja kalo dah gabisa dibenerin.”

 

“Kata Mingyu masih bisa. Kayaknya. Ganti blade doang.”

 

“Bulan lalu ganti relay, sebelumnya isu motor. Sebulan sekali rusak. Dah paling bener diganti.”

 

Wonwoo berbicara sama persis seperti teman satu kamarnya. Seolah Jihoon punya semua sumber daya di dunia untuk mengganti mesin kopi baru sekarang.

 

“Ini dia masalahnya generasi ini,” kata Jihoon meniru kalimat yang sering dia dengar dari rekan kerja boomer dulu di kantor. “Dikit-dikit ganti baru. Gaada yang mau memperbaiki barang yang rusak dulu sebelum diganti. Langsung main buang kalau ada cacat dikit.”

 

Wonwoo memutar matanya malas. “Mau benerin berapa kali lagi itu mesin? Barang butut, dibenerin seratus seribu kali, kalau biaya maintenance lebih gede daripada beli baru, economically, udah ga worth it cuy.”

 

Sebesar Jihoon menyayangi Wonwoo, Jihoon terkadang benci dengan sahabatnya sampai ke tulang. Hal yang lumrah terjadi ketika kau sudah mengenal seseorang selama hampir dua puluh tahun. Terkadang Wonwoo bernafas dengan cara yang salah ketika mengatakan sesuatu yang benar dan itu membuat Jihoon jengkel.

 

“Kita tidak bisa ganti mesin kopi baru. Karna apa? Karna kita tidak punya uang.” Jihoon membalas dengan meniru kalimat politisi boomer lain yang dia lihat di internet. Dia tahu itu mengesalkan Wonwoo. Dengan begitu mereka impas.

 

Wonwoo mengalihkan fokus hanya sekilas dari Nintendonya. Memutar mata malas lagi lalu berkata. “Kata Mingyu mesin kopi lo harganya 22 juta.”

 

“Apa sih yang ga diaduin Mingyu ke lo di dunia ini?”

 

Kalau Wonwoo tersinggung atas nama Mingyu, dia mencoba mengabaikannya. Dia bilang, “Buat ganti baru, lo ga harus beli barang yang persis sama btw. In case you’re on a budget.”

 

“Like I haven’t thought about that before.”

 

“Tapi?”

 

“Ya belum mau ganti baru aja. Selama masih bisa diperbaiki.”

 

“Dan waste time benerin rongsokan lo yang gatau kapan bakal breakdown lagi?”

 

“Yap.”

 

“Why? Jihoon yang gue kenal bukan orang yang sesentimental ini. Owh shit.” Wonwoo menjeda kalimatnya dengan sumpah serapah selama beberapa detik, tiba-tiba meluruskan duduk sambil berjuang dengan sesuatu pada konsol Nintendonya. Tidak lama dia menyingkirkan konsol itu dari depan wajah dan membiarkannya tergeletak di atas pahanya yang sekarang dilipat. Jihoon menebak itu sudah game over. Jadi dia memberi fokus penuh untuk mengganggu Jihoon. “Lo inget Nayeon pas SMA?”

 

Nayeon adalah pacar pertama Jihoon ketika dia berada di puncak masa remaja. Dia satu angkatan di atas mereka dan adalah cewek paling cantik dengan standar Jihoon. Jihoon tidak tahu kenapa namanya disebut sekarang dalam percakapan mengenai mesin kopi. “Kenapa sama Nayeon?”

 

“Pas dia digosipin deket sama cowok lain di kelasnya, lo tanpa babibu langsung mutusin dia.”

 

Itu tidak benar. Jihoon sudah menyimpan curiga selama beberapa minggu menjelang kejadian itu. Nayeon selalu bau parfum berbeda dan dia sibuk dnegan ponsel sepanjang waktu jika mereka bertemu tetapi ketika tidak bersama, gadis itu hampir tidak pernah membalas pesan Jihoon. Jadi begitu kabar tidak sedap itu sampai di telinga Jihoon, dia hanya menerimanya sebagai konfirmasi resmi. Dia tidak suka membuang waktu untuk menahan tambang yang ditarik dari sisi lain dengan kekuatan penuh. Hanya akan membakar telapak tangannya. Dan lagi, itu hanya cinta monyet anak remaja. Mereka akan tetap bisa melanjutkan hidup dengan baik.

 

Tapi Jihoon tidak punya energi untuk menjelaskan ini. “Ya kalo dah naksir yang lain buat apa?”

 

“Mijeong pas kelas tiga?”

 

“Katanya mau fokus ujian akhir sama masuk kuliah.”

 

“Trus gimana sama Yuna? Lu pacaran lumayan lama.”

 

Dengan Yuna, well. Hubungan mereka cukup lama. Dimulai sejak awal inagurasi mahasiswa baru sewaktu kuliah. Sampai mendekati tahun terakhir kuliah mereka. Total tujuh semester. Wonwoo adalah alasan hubungan mereka berakhir. Secara teknis. Satu kali Wonwoo mengatakan sesuatu yang membuat Jihoon sadar bahwa mungkin dia dan Yuna sudah tidak saling sayang secara romantis. Dia bahkan sudah tidak ingat apa persisnya kata-kata Wonwoo saat itu. Dan kalau diminta, Wonwoo tidak bisa memfarafrasekan kalimat itu sekarang. Yang jelas Jihoon menyadari bahwa itu sudah berakhir. Jadi dia mengakhirinya. Semudah itu.

 

“It just didn’t work out,” Jihoon beralasan.

 

“Oke kalau gitu gimana sama Hyuna?”

 

“Hyuna siapa?”

 

“Semester 8? Pendamping wisuda lo.”

 

Oh.

 

“Man, itu cuman hts. Gue kenal pun dari Tinder. Lagian ini tadi bahas mesin kopi, ngapa malah jadi ngelist mantan gue?”

 

“Poin gue adalah,” kata Wonwoo dengan raut meyakinkan. “You’re an asshole.”

 

“Bitch?”

 

“Kinda.” Wonwoo cepat-cepat menambahkan. “Lo ga pernah pikir panjang kalau mau cut off hubungan atau ngebuang barang kalau udah ga guna.”

 

“If they no longer serve purpose, why not?”

 

“Makanya…”

 

“Tapi mesin kopi gue masih guna.” Jihoon mengedik.

 

Wonwoo memandang ke arahnya aneh. Untuk sesaat Jihoon berpikir dia akan mengutarakan argumen lain dengan mulut pintarnya. Tapi pada akhirnya Wonwoo menghela napas. Menyimpan enrgi dan kata-katanya untuk lain kali. Karena yah, memang begitulah Wonwoo dan Jihoon.

 

“Oke,” kata Wonwoo. “If you insist so.”

 

“Yep.”

 

“Mesin kopi lo,” kata Wonwoo lagi setelah menjeda percakapan mereka sejenak. Jari-jarinya bermain di atas tombol Nintendo tanpa benar-benar mengoperasikan benda itu. “Udah berapa lama?”

 

“Lima,” jawab Jihoon, menghitung-hitung dalam kepalanya berapa lama waktu berlalu sejak dia menerima mesin kopi itu sebagai hadiah. “Enam. Lima setengah tahun kali.”

 

“Waktu lo masih kerja di X Corp?”

 

“Iya, selesai probation.”

 

Wonwoo menghela napas. “As long as, lo tau dan ngerti…”

 

“Aman Won. I got it under control.”

 

“Okay Ji.”

 

“Okay Won.”

.

Jihoon, in fact, did not get it under control.

 

Dini hari, keheningan di apartemennya terasa sangat nyaring dan merampas tidur Jihoon.

 

Dia terjaga dan gelisah. Berputar dari satu sisi ke sisi lain tempat tidur, menginspeksi setiap gurat pada cat dinding kamarnya, menghitung domba imajinatif di langit-langit, mencoba teknik pernapasan sesuai saran di forum online untuk seorang stranger dengan masalah yang sama 2010 lalu. Kantuk tak kunjung datang.

 

Jadi Jihoon membuka ponsel pintar yang dia tinggal untuk mengisi daya tadi. Menggulir lini masa pada setiap sosial media yang dia punya. Tidak banyak hal menarik yang cukup membuatnya berhenti menggulir laman lebih dari satu detik. Lini masanya lebih banyak dipenuhi dengan public figure, beberapa unggahan teman SMA, kuliah, mantan teman kerja. Tidak ada yang spesial. Seseorang dari kuliah sedang kuliah di John Hopkins dengan beasiswa penuh, seorang yang lain baru kembali dari liburan di Eropa, Nayeon sudah menikah dengan anak satu, artis yang dia ikuti menunggah lovestagram dengan artis lainnya, seorang mantan teman kerja baru pulang lembur jam 12 malam, Kwon Sooyoung mengunggah foto langit dengan background musik penyanyi indie dan caption yang mungkin ditujukan hanya untuk satu orang pengikutnya.

 

Jihoon menekan jempol lama pada unggahan story orang itu, mencegahnya untuk berganti otomatis ke post berikutnya.

 

The world is ending while i’m hestitating

 

Jihoon membaca kalimat itu, membolak-balik dalam kepalanya berulang-ulang. Berharap bahwa dia tidak pernah belajar membaca.

 

Pukul 2:55 bukan waktu yang ideal untuk berpikir.

 

Atau menyesali setiap keputusan hidup yang membawamu sampai pada momen ini.

 

Tetapi terkadang dia melakukan sesuatu yang tidak ideal lalu menyesali konsekuensinya kemudian.

 

Jihoon meletakkan tangan di depan dada. Sepuluh senti meter di atas diafragma, sedikit ke kiri, tepat di mana jantungnya seharusnya berada. Rasa sakit tidak bernama terasa menusuk dari dalam.

.

.

.

.

.

“Hati-hati sama senior-senior kantor ini.”

 

Yoon Jeonghan satu kali berkata di tengah coffee break usai makan siang. Jihoon sedang menghabiskan waktu istirahat dengan lima orang lain karyawan baru yang masuk di angkatan yang sama dengannya ketika Jeonghan datang menyeduh kopi siang.

 

Jeonghan sendiri masuk dalam kategori senior-senior kantor yang baru saja dia sebut.

 

“Kalian rata-rata fresh grad, masih muda dan belum experienced. Sebagai senior yang baik, sekaligus sebagai HR, cuman mau ngasih sedikit wejangan aja. Dunia kerja gak kayak kuliah. Temen kalian di sini,” Jeonghan membentuk tanda kutip di udara lagi menekankan kata teman. “Gak semuanya seumuran. Ada orang tua, ada senior 20 tahun, ada senior cuman setahun tapi belagu. Hubungan kerja, relasi kuasa, sama macem-macem. Kalian bakal ngerasain satu-satu kalau udah waktunya. Aku di sini sekitar lima tahun dan udah banyak nerima keluh kesah orang-orang. Dari yang masuk akal sampe yang di luar nalar. Jadi, yah, aku mau kalian inget itu aja. Hati-hati sama senior. Terutama buat yang cewek-cewek. Gak semua senior di sini bener-bener punya niat baik. Jadi pinter-pinter jaga diri."

 

Yoon Jeonghan membunuh waktu di antara seruputan kopi panas dengan berbagi tips kepada mereka para pegawai baru. Itu adalah caranya memperhatikan karyawan muda. Tetapi Jihoon terlalu sibuk dengan ponselnya untuk peduli. Merasa itu tidak ada hubungannya dengannya.

 

Jeonghan menyesap kopinya santai siang itu ketika berkata, "Ada banyak jenis predator di sini. Kalian gak bakal sadar sampe udah persis naro leher dalam mulut mereka. Jadi jangan terlena, jangan terbuai. Selalu waspada."

 

Jihoon menyelesaikan empat level Candy Crush ketika Jeonghan menutup sesi wejangan siang.

.

.

Kwon Soonyoung mulai bekerja di X Corp empat tahun senior Jihoon.

 

Ketika Jihoon ditempatkan di departemen research and development, Kwon Soonyoung adalah asisten manajer di departemen itu. Demikian Jihoon dan orang itu menjadi pegawai intern dan supervisor, mentor dan mentee selama satu tahun.

 

Secara usia mereka tidak terpaut terlalu jauh. Soonyoung hanya lima tahun lebih tua dari Jihoon. Meski dia akan selalu terlihat jauh lebih dewasa disbanding Jihoon.

 

Lima tahun bukan perbedaan usia yang terlalu jauh, kata Soonyoung.

 

"Stop manggil aku bapak."

 

"Lah kalau gak manggil bapak apa dong?"

 

Soonyoung memberengut di tempat duduknya. Wajah menekuk tidak suka. "Kamu ga perlu terlalu formal lagi. Aku kan udah bukan mentormu."

 

Ada beberapa perubahan setelah Jihoon menerima kontrak barunya. Selain perubahan pada gaji, cara orang di kantor memperlakukannya pun berubah, semua memperlakukan dia dan teman lain yang lulus bersama dengan lebih baik. Itu adalah jenis perubahan yang menyenangkan. Jihoon bisa membiasakan diri dengan kondisi baru ini dengan cepat.

 

Kecuali ketika berhubungan dengan Kwon Soonyoung.

 

"Ya dibilang gausah formal juga, bapak sebenernya kan masih atasan saya."

 

"Gamau dipanggil Bapak. Emang aku nikah sama ibumu?"

 

Jihoon bisa mendengar cemberut di nada Soonyoung. Itu sangat berbeda dengan bagaimana dia selalu terlihat siap memcabik siapapun yang menghalangi jalannya di kantor.

 

"Jadi saya harus manggil gimana dong?"

 

"Manggil nama aja. Biar akrab."

 

"Mana enak saya, Pak.”

 

"Pak Pek Pak. Udah dibilang jangan bapak."

 

Soonyoung melempar tubuhnya ke belakang di tengah rasa frustasi. "Beda umur kita gak sejauh itu."

 

"Jadi maunya dipanggil apa dong?"

 

"Apa ya. Mas?"

 

Mata menghakimi Jihoon cukup untuk membuat Soonyoung langsung menarik ide absurdnya. Dia mengganti. "Panggil nama aja."

 

"Gak ah Pak. Mana sopan."

 

Jihoon tidak tahu kenapa mereka membahas ini larut malam di dalam mobil Soonyoung setelah mengantar Jihoon pulang ke kos sehabis lembur. Seperti biasa, Jihoon bilang bahwa dia akan baik-baik saja naik bus tapi Soonyoung bersikeras mengantar sampai ke depan kosnya. Sekarang Jihoon hanya ingin istirahat, tetapi Soonyoung tidak akan membiarkannya pergi sebelum mendapat yang dia mau.

 

"Kan udah bukan mentor. Gak usah sopan-sopan amat."

 

"Tetep aja Pak."

 

"Kak."

 

"Gimana?"

 

"Panggil kak aja mau?"

 

"Kak Soonyoung?"

 

"Iya Jihoon?" Senyum lebar merekah di wajah Soonyoung ketika menjawab.

 

Soonyoung punya cara yang unik untuk mengusik seseorang. Jihoon tahu itu setelah satu tahun secara praktis menghabiskan sepertiga hari selalu bersama orang ini.

 

Terkadang dia berbicara dengan cara yang aneh, terkadang dia memandang Jihoon dengan cara yang aneh ketika Jihoon fokus menjelaskan sesuatu, terkadang dia menginterupsi di tengah diskusi dengan meletakkan tangan di atas kulit Jihoon bagian mana saja yang kebetulan terjangkau.

 

Jihoon meyakinkan dirinya bahwa ini adalah salah satu cara Soonyoung untuk mengusik Jihoon. Karena rasa tidak nyaman menjalar hebat di bawah kulit yang lebih muda. Dan Soonyoung tersenyum dengan cara dia selalu tersenyum ketika berhasil mendapat reaksi tertentu dari Jihoon.

.

Jihoon sama sekali tidak melihat tandanya.

 

Atau kalau dia menyadari setiap gelagat aneh kecil dari Kwon Soonyoung, dia menolak segala ide lucu tentang makna dari semua itu.

 

Satu kali Soonyoung meminta mereka menghilangkan formalitas. Lain kali dia mengirim pesan selamat malam dengan religius tanpa melewatkan satu malam pun. Makan malam berdua sepulang kerja menjadi kebiasaan dan tanpa Jihoon sadari dia berhenti mengisi ulang kartu transportasi umum karena perjalanan pulang pergi kantor selalu bersama Soonyoung.

 

Jihoon tidak memberi makna apa-apa dari semua kebaikan Soonyoung.

 

‘Oh, dia memang perhatian begitu.’

 

Cibiran sinis dari Minghao dan iktirad Junhui tentang Soonyoung tidak melakukan itu untuk semua orang di departemen mereka yang hanya terdiri dari 5 orang total, ditepis Jihoon dengan keras kepala.

 

"I don't give daily ride for someone unless i wanna fuck them."

 

Jihoon memandang jijik ke arah Jun untuk informasi berlebihan yang tidak diminta. "Lo nebengin dia tiap hari." sambil menunjuk Minghao.

 

Jun tanpa rasa bersalah membalas. "I obviously wannna fuck him."

 

"Jun, go fuck yourself." Minghao melempar sticky note melewati pembatas meja mereka sebagai balasan.

 

Jihoon menganggap itu sebagai lelucon yang buruk. Dia menyuguhkan jari tengah ke arah Jun.

 

Selama kurang lebih lima belas tahun semenjak Jihoon akil balik dan mulai sensitif perihal seksual, dia tidak pernah melabeli diri sebagai sesuatu selain heterosexual.

 

Jihoon tidak punya prasangka jelek perihal homoseksualitas. Hanya tidak merasa bahwa dia adalah bagian dari itu semua.

 

Semua mantan pacarnya berjenis kelamin wanita. Jadi pikiran bahwa Soonyoung—bisa jadi ya bisa juga tidak—tertarik kepadanya dengan cara seperti itu sama sekali tidak pernah terpintas di kepala Jihoon.

 

Oleh sebab itu ketika tiba saatnya Soonyoung menyatakan bahwa dia—indeed—menyukai Jihoon secara romantis, Jihoon tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

 

Masalahnya, Jihoon mencelupkan kaki ke dalam air sendiri dengan kesadaran penuh. Jadi dia tidak punya siapapun untuk disalahkan.

 

Itu terjadi pada sabtu malam. Lima bulan setelah kontrak baru Jihoon.

 

Pada poin ini, semua formalitas sudah berhasil dielemininasi dalam hubungan mereka. Soonyoung memaksa.

 

Pada akhirnya Jihoon terbiasa dengan sentuhan tiba-tiba Soonyoung di lututnya sementara orang itu menyetir membelah kemacetan kota. Mulai mengerti setiap teka-teki dalam cara berbicaranya. Makan malam berdua sepulang kerja menjadi keharusan. Percakapan di ruang obrolan ponsel bukan lagi hanya terisi pekerjaan tetapi bermacam rekomendasi tempat untuk dikunjungi bersama.

 

Itu adalah pertemanan normal dua pria dewasa.

 

Jadi Jihoon memandang Soonyoung bingung. Kalut. Dan segala macam emosi tidak bernama. Katanya, "Kak, becandanya gak lucu."

 

Soonyoung tersenyum seperti khas Kwon Soonyoung yang biasa. Mata menghilang dalam pipi. Dan Jihoon tidak mengerti kenapa ritme jantungnya berantakan.

 

Soonyoung bilang, "Tapi aku gak becanda." sambil mengelus kepala Jihoon lembut.

 

"Serius. Gak lucu."

 

"Ya serius. Aku sayang kamu."

 

"Tapi aku cowo."

 

"Ya terus?"

 

"Aku bukan gay."

 

"He em, tau."

 

"Terus?"

 

"Aku cuman ngasih tau perasaanku. Gak harus langsung kamu balas sekarang. Yang penting kamu cukup tau dulu."

 

Di belakang kepala Jihoon terdengar suara Wen Junhui dengan nada angkuh. "Kan, apa gue bilang."

 

Jihoon menggigit bibirnya. Mencegah bunyi apapun keluar dari sana.

 

Dia tidak mengerti Kwon Soonyoung.

.

.

.

Jihoon menyadari bahwa sahabatnya kemungkinan tidak suka perempuan sedikit mendekati akhir kuliah.

 

Wonwoo tidak pernah pacaran sejak Jihoon mengenalnya, meski punya wajah setampan itu.

 

Di SMA Jihoon memaklumi dalihnya tentang tidak mengerti dengan asmara dan hanya ingin fokus sekolah. Wonwoo bukan satu-satunya anak sekolah yang Jihoon kenal dengan prinsip seperti. Dan jelas dia tidak akan menjadi yang terakhir pula. Jadi Jihoon mengedikkan bahu acuh dan tidak pernah menberi makna lebih dalam. Meski terkadang terasa mengganggu ketika menyaksikan mata penuh harapan anak perempuan yang duduk di sebelah Wonwoo sepanjang kelas tiga sementara Wonwoo tidak pernah mengangkat kepala atau menoleh sekilas ke arah sana.

 

Mereka kuliah di universitas yang sama. Kos di tempat yang sama atas nama familiaritas.

 

Di semester empat Wonwoo punya seorang teman akrab yang berkunjung sepanjang waktu. Wonwoo selalu membersihkan kamar ekstra rapi kalau ada orang itu dan dia wangi parfum yang sangat menyengat, Jihoon akan mengerutkan hidung setiap bertemu dengannya.

 

Jihoon melihat orang itu secara religius selama lima bulan. Sebelum kunjungannya berhenti secara tiba-tiba.

 

Ketika Jihoon bertanya kenapa dia sudah tidak melihat Joshua lagi di kamar Wonwoo beberapa minggu terakhir, bahu Wonwoo menegang sebelum dia berkata, "Dia sekarang sibuk pelayanan gereja."

 

Jihoon tidak bertanya lebih jauh.

 

Chwe Vernon dua tahun lebih muda dari mereka. Dia terlihat kaku dan tidak pada tempatnya ketika Jihoon menangkap dia di depan pintu Wonwoo satu kali di hari jumat. Jihoon tidak mengerti bagaimana proses pertemanan Wonwoo dengan anak ini bisa terjadi. Mereka seperti dua kutub berlawanan. Tetapi Jihoon melihat Vernon lebih sering dibanding teman kelompoknya di kelas statistik II. Yang artinya hampir setiap hari dalam satu minggu. Dan lagi kutub berlawanan selalu saling menarik. Jadi mungkin saja mereka click dengan cara aneh yang hanya mereka berdua bias pahami.

 

Vernon, sama seperti Joshua, berhenti muncul dengan sangat tiba-tiba dalam tiga bulan berselang.

 

"Dia sekarang punya pacar," kata Wonwoo ketika Jihoon bertanya sambil lalu.

 

"Walah." adalah respon setengah hati Jihoon. Kalau dia menyadari genggaman tangan Wonwoo yang semakin kencang pada kontroller gamenya dan brutalisme yang tiba-tiba dilakukan karakter Wonwoo dalam permainan, Jihoon sekali lagi tidak memaknainya lebih dalam.

 

Sebut Jihoon lambat, dia baru sadar bahwa teman-teman sementara Wonwoo yang menempel seperti perangko satu hari dan menghilang seperti aktivis kemudian mungkin bukan sekedar 'teman' setelah orang kelima dan mereka semester akhir.

 

Choi Seungcheol selalu berdiri angkuh dengan badan atletis aura pria alpa. Dia berbicara kepada Wonwoo dengan nada otoriter dan tersenyum arogan setiap Wonwoo melakukan perintahnya dengan submisif. Ada sesuatu yang aneh dari cara Wonwoo tersipu setiap kali jari Seungcheol mengenai kulitnya. Gelagatnya tidak serta merta terlihat jelas di mata telanjang. Tetapi binar mata Wonwoo ketika menyebut nama Choi Seungcheol satu kali ketika Wonwoo menemani Jihoon begadang mengerjakan esai mengingatkan Jihoon pada Choi Mina di kelas dua belas. Penuh afeksi dan harapan.

 

Lalu sesuatu tiba-tiba menjadi masuk akal di bawah periferalnya.

 

Jihoon punya Montgomerry untuk direview. Hipotesa nol mengenai seksualitas sahabatnya dikesampingkan Jihoon ke belakang kepala.

 

Tetapi dia mencatat apa yang sudah dia pelajari di dalam hati, dekat dengan jantung. Karena Wonwoo adalah seseorang yang berharga dalam hidupnya.

 

Choi Seungcheol, sama seperti yang lain, berhenti muncul pada bulan ketiga belas. Mereka hampir lulus kuliah pada masa ini. Jeon Wonwoo terlihat kacau pada minggu-minggu yang mengikut. Jihoon menemaninya minum bir dan meracau sampai suara menjadi serak. Wonwoo tidak menangis atau semacamnya. Tetapi Jihoon tidak melewatkan keputusasaan yang menyedihkan dari cara nama Choi Seungcheol berputar dari lidahnya.

 

Jihoon tidak pernah mengonfirmasi secara gamblang. Wonwoo sendiri enggan membuka fakta ini terang-terangan ke arah Jihoon.

 

Tidak pada kali pertama dengan Joshua, juga tidak pada yang terakhir dengan Seungcheol. Atau bahkan ketika dia satu kali bertengkar hebat dengan orang tuanya, adu teriakan Wonwoo dan ayahnya menembus dinding kamar kos yang tipis. Wonwoo tetap tidak mengatakan satu patah kata ke arah Jihoon. Pipinya bengkak bekas tamparan berkali-kali, ujung mulutnya berdarah, mungkin dia juga dihadiahi tinju.

 

Wonwoo tidak mengatakan sesuatu yang lebih dari, "Keknya gue sekarang yatim piatu."

 

Jihoon menariknya ke dalam pelukan. Gue bakal jadi keluarga lo mulai sekarang.

 

Sebelum mereka tidur malam itu—berdesakan di atas Kasur single milik Jihoon—Jihoon berkata pada Wonwoo. "Biar gimanapun, lo tetep anak mereka. Apapun masalahnya, coba jelasin baik-baik. They'll come around."

 

They didn’t.

 

Wonwoo tidak berbicara dengan orang tuanya sejak saat itu. Ketika wisuda, hanya ada Jihoon menempati kursi yang disediakan untuk keluarga.

 

Wonwoo tidak menjelaskan kesalahan sefatal apa yang bisa memutus hubungan seorang anak dengan orang tua. Jihoon tidak menuntut untuk mendapat jawaban.

 

Ketika kemudian Mingyu muncul di sekitar Wonwoo, bertahan untuk waktu yang lama, pindah ke apartemen yang sama dengan sahabatnya, Jihoon dan Wonwoo sudah berdansa di ambang pengetahuan dan pengertian bahwa Wonwoo sedikit berbeda dari apa yang dianggap normal dalam masyarakat.

.

.

.

"Kalau besok kiamat, asalkan hari ini aku habisin sama kamu, kayaknya aku gapapa."

 

"Kak, ini masih hari senin."

 

Jihoon bersyukur setidaknya hanya ada dia dalam ruangan untuk mendengar okong kosong Soonyoung. Jun dan Minghao tidak akan segan menahan suara muntah kalau ada di sini bersama mereka.

 

"Kenapa sama hari senin?"

 

"Kita lembur sampe jam segini terus kakak ngomong ngelantur. Aku gapunya energi nanggepin."

 

Soonyoung memberengut. Wibawa mentor yang dia dulu punya sekarang hilang tidak terdeteksi. "Padahal serius."

 

"Seriusnya tolong dikasih buat nyelesaiin kerja."

 

"Aku udah gapunya energi buat kerja, maunya ngeliatin kamu."

 

"Kak, pleaseeee. Ayo fokus. Biar cepet balik. Udah setengah sembilan."

 

"Tapi aku gamau cepet-cepet balik. Aku seneng ngabisin waktu sama kamu berdua gini."

Jihoon menegang dalam posisinya selepas kalimat Soonyoung. Alarm waspada berbunyi kencang, topik percakapan hendak memasuki teritori berbahaya.

 

"Have you thought about it?" kata Kwon Soonyoung.

 

"Kak, grafik yang ini gimana cara nunjukin differencenya?" Jihoon menunjuk ke layar komputer, mencoba mengalihkan topik.

 

Tetapi Soonyoung berdiri teguh pada posisinya, menolak upaya pengalihan isu Jihoon. Setelah dengan sabar memberi ruang dan waktu kepada yang lebih muda selama tiga minggu. Jihoon memperlakukan pernyataan cintanya seperti sebuah lelucon yang buruk lalu lanjut berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi. Dan Kwon Soonyoung membiarkannya seperti itu. Sampai bisa menyudutkan Jihoon lagi dengan waktu berdua.

 

"Grafik udah oke. Langsung kirim aja ke emailku. Besok aku cek. Jadi gimana? Jawaban kamu?"

 

"Ini belum selesai semua kak, masih ada..."

 

"Gak masalah." Soonyoung tidak membiarkan Jihoon selesai berbicara. "Nanti aku yang selesaiin sendiri sisanya. Jawaban kamu?"

 

"Tapi..."

 

"Kamu gamau nyoba pacaran?"

 

Jihoon menarik napas panjang. Dia tidak bisa mengulur lebih lama. Ini adalah batas kesabaran Soonyoung.

 

"Kak, becandanya udah keterlaluan ga sih?"

 

Giliran Soonyoung menghela napas kecewa. "Berapa kali lagi harus ngulangin kalau aku gak becanda."

 

"Ya terus apa dong? Masa kakak beneran sa.. beneran... beneran su..." Bahkan mengeluarkan kata itu terasa sulit.

 

"Ya beneran dong." Soonyoung membantunya, karena Jihoon terlihat kesulitan. Selayaknya seorang mentor yang baik. "Aku sayang kamu."

 

"Tapi aku cowok." Jihoon merasa geli dengan kata-katanya sendiri. Some people are homosexual, Lee Jihoon. Dia menghardik diri sendiri dalam kepala.

 

"Terus?"

 

"Kak Soonyoung... gay?"

 

Soonyoung mengedik. "Gay, homo, atau terserah kamu nyebut apa. Aku ga peduli begituan. Aku sayang kamu, Jihoon. Sayang dalam konteks sekarang aku pengen banget meluk cium kamu."

 

Tatapan matanya menyiratkan bahwa dia ingin melakukan lebih dari sekedar dua kata kerja yang dia gunakan barusan. Tapi Soonyoung masih menahan diri untuk tidak terlalu grafis dengan penjelasannya tentang apa yang ingin dia lakukan pada Jihoon di sini, saat ini.

 

"Aku... ngga...."

 

Kecewa tergambar jelas pada raut wajah Soonyoung ketika mendengar jawaban itu. Tetapi dia dengan sabar berkata, "Jangan langsung tolak aku. Seenggaknya, seenggaknya kasih aku kesempatan."

 

Jihoon berhenti membolak balik sarafnya untuk merangkai kalimat penolakan.

 

Soonyoung mengambil diam Jihoon sebagai kesempatan. "At least biarin aku berusaha menangin hati kamu. Kalau... kalau setelah usahaku kamu masih gak suka, aku bakal mundur."

 

Kwon Soonyoung selalu punya cara sendiri untuk membawa orang ke dalam arusnya. Jihoon adalah batang kayu yang selalu terseret tanpa perlawanan.

 

Jadi kesempatan, Jihoon berikan. At last.

 

.

 

"Let me hold you."

 

"Gak ah."

 

"Please please pretty please."

 

"Kak, ini tempat umum. Gamau. Gimana kalau ada yang liat?"

 

"Jadi kalau di tempat sepi, cuman ada kita berdua, aku boleh pegang tangan kamu?"

 

"That's not what I said."

 

"That's exactly what you said."

 

Jihoon memutar bola mata. Berjalan mendahuluin Soonyoung sambil berkata, "Terserah."

 

.

 

"Waw, kamu gapernah bilang kalau kamu bisa main drum."

 

"Kakak gapernah nanya."

 

"Kamu gapernah nunjukin."

 

"Kecuali di kantor ada drum dan kita boleh bikin keributan segede itu pas jam kerja," Jihoon mengangkat bahu. "Aku gatau dimana aku bisa nunjukin kalo aku bisa main drum."

 

"Iya juga." Soonyoung tersenyum lebar.

 

Jihoon mengembalikan stick drum kepada pegawai toko lalu bangkit berdiri.

 

Dia ke sini untuk membeli senar gitar baru Wonwoo. Tetapi terdistraksi sesaat ketika melihat set drum baru yang dipajang di toko itu.

 

Setelah menyelesaikan transasksi, Jihoon mengajak Soonyoung keluar untuk lanjut ke kafe di ujung ruko, tujuan awal mereka.

 

Soonyoung tidak berhenti memandanginya seolah tahi lalat di bawah mata Jihoon berubah menjadi konstelasi.

 

"Mukaku ada sesuatu?" Jihoon bertanya, meletakkan gelas espresso kembali di atas tatakan. Ada rasa metalik tertinggal setelah menyeruput kopinya. Mungkin mereka tidak membersihkan mesin kopi mereka dengan benar. Jihoon berpikir dia bias membuat yang lebih baik di rumah dengan mesinnya sendiri.

 

"Ngga kok," kata Soonyoung. Masih tersenyum seperti orang bodoh.

 

"O...kay."

 

Ekspresi bodoh—for the lack of better word—di muka Soonyoung bukan sesuatu yang baru lagi pada poin ini. Tetapi terkadang Jihoon masih sulit mengadaptasi kebiasaan. Jadi, dengan rasa mawas diri yang berlebihan, dia mengangkat kembali gelas espressonya dan menyeruput kopi rasa logam.

 

"Kayaknya aku jatuh lebih dalam."

 

Jihoon tersedak oleh ludah bercampur setetes espresso. Sembari menepuk dada dia melotot ke arah Soonyoung, lalu melihat berkeliling ke sekitar. Tidak banyak orang di sana selain mereka. Thank God.

 

"Jatuh kemana?" Pertanyaan retoris.

 

"Ya ke kamu. Aku baru aja jatuh cinta lagi sama kamu. Tapi ini lebih dalem lagi jatuhnya."

 

"Sshhh...." Jihoon mengambil tisu, melap jejak kopi imajiner di atas meja, satu kali, dua, tiga. Hanya untuk mendistraksi otak sendiri. "Jangan ngomong keras-keras gitu. Gimana kalo orang dengar."

 

Soonyoung mengedik acuh. Seolah dia tidak peduli apa yang didengar orang atau siapa.

 

"Falling in love is not a crime," katanya santai. Dia mengambil cup ice latte miliknya, meneguk hingga setengah isinya lalu menempatkan kembali di atas meja. Soonyoung tidak peduli jejak es melingkar di sisi mejanya, tidak peduli mengambil tisu untuk menyingkirkan bagian tidak nyaman itu. Alih-alih dia meletakkan siku di atasnya, meletakkan dagu di telapak tangan dan memandang Jihoon masih dengan cara yang sama. Seolah tata surya berputar mengelilingi bola mata pemuda itu. "Especially when you made it too easy to fall for you."

 

Kalau Soonyoung menyadari berkas merah di pipi Jihoon, dia sama sekali tidak menunjuknya. Demi kenyamanan yang lebih muda dalam kubang penyangkalan.

 

.

 

"Gibson? Really?" Jihoon tertegun memandang kotak yang baru dia buka.

 

Soonyoung tersenyum di atas kasur Jihoon. Terlihat tidak pada tempatnya.

 

Sekarang ada tiga hal yang terlihat tidak pada tempatnya di kamar kos Jihoon yang sempit.

 

Mesin espresso, Kwon Soonyoung, dan Gibson Les Paul J-45.

 

"Kak, ngapain beliin aku gitar semahal ini?"

 

"Kamu bilang suka main gitar juga waktu kapan hari aku tanya."

 

"And you decided to freakin buy a nearly 50 million guitar?"

 

???

 

Kalau '???' harus bisa divisualisasikan, maka eskspresi Jihoon sekarang adalah perwujudan sempurnanya.

 

"What? It's a good investment?"

 

"Investasi kamu atau aku?"

 

Soonyoung membalas dengan senyum curang. "Tergantung."

 

"Apanya?"

 

"Apa hadiah mahal gini cukul buat ngebeli hati Lee Jihoon?"

 

Tentu saja stabilitas finansial membuat Jihoon sedikit jatuh cinta. Siapa yang tidak? Tetapi dia tidak mengucapkan ini dengan kencang.

 

"Nggak." Jihoon berusaha menyembunyikan intonasi gembira dalam jawabannya.

 

"Does your heart skip a bit?"

 

"Nope."

 

"It doesn't work then," kata Soonyoung. Dia tersenyum seolah Jihoon tidak baru saja mematahkan harapannya untuk kesekian kali. "Kalau gitu bukan investasi buat aku. Aku cuman pengen lihat wajah excited kamu. Kayak kemarin pas kamu main drum. Kayaknya kamu suka banget sama musik. Mudah-mudahan suatu hari nanti aku bisa disayangi Jihoon sesayang dia sama musik."

 

Jihoon's heart, does skip two and three beats.

 

.

 

"Aku boleh pegang tangan kamu?"

 

"Tanganku keringetan."

 

"Gak masalah."

 

"Terserah."

 

Soonyoung melepas tangan kiri dari setir kemudi. Mencari telapak tangan Jihoon yang diletakkan di atas paha di kursi penumpang.

 

Ketika Soonyoung berhasil menautkan tangan mereka, Jihoon tidak bisa berhenti berpikir bahwa semua ini terasa sangat benar, jemari Soonyoung di antara jarinya seperti kepingan puzzle yang tepat. Rasanya seolah mereka diciptakan hanya untuk melengkapi celah di jari-jari satu sama lain.

 

.

 

"Kapan aku lulus dari cinta bertepuk sebelah tangan?"

 

"Sabar."

 

Mata Soonyoung bergelimang gembira dengan jawaban Jihoon.

 

Biasanya yang lebih muda selalu menepis dengan "Aku kan udah bilang gabisa" atau "Kak, udah. Suka sama yang lain aja."

 

Satu kata sabar seperti oasis di tengah padang gurun.

 

Jadi Jihoon melihat Soonyoung memperpanjang kesabaran, meski dia sudah melakukan tepatnya hal itu untuk waktu yang lama.

 

.

 

"Gue mau pindah," kata Wonwoo satu kali.

 

Dia berbaring malas di atas kasur Jihoon sambil bermain game di ponsel.

 

Jihoon sibuk dengan mainan barunya di sisi lain kasur. "Pindah kemana?"

 

"Mau nyari apartemen keknya. Gue gatahan lagi di kamar kos sempit gini."

 

"Duit cukup?"

 

"Cukuplah. Udah kerja juga."

 

Kalau dipikir, mereka tinggal di kos yang sama bertahun-tahun. Sejak masih menjadi mahasiswa miskin sampai sekarang sudah punya cukup penghasilan untuk keluar dari kamar kos satu petak.

 

"Lo gimana? Ini kamar kos gue liat-liat juga udah penuh banget. Tiba-tiba ada gitar Gibson baru pula. Orang kaya lu?"

 

"Gue dapat kado."

 

"Asik juga orang kantor lu, patungan beli Gibson."

 

Jihoon mengesampingkan rasa bersalah ketika hanya membalas "yoi" singkat. Dia memutuskan bahwa Wonwoo tidak perlu tahu secara spesifik asal muasal gitar barunya. "Lu udah nemu apartemennya?"

 

"Masih mau nyari-nyari sih. Ikut?"

 

"Boleh sih."

 

"Yaudah, sabtu ya."

 

"Oke."

 

Mereka kembali dengan aktivitas awal masing-masing. Wonwoo dengan game moba dan Jihoon dengan gitar barunya.

 

Lalu Wonwoo kembali berbicara. "Tapi nanti sama temen gue juga gapapa?"

 

"Siapa?"

 

"Mingyu."

 

Jihoon berasumsi laki-laki tinggi ceroboh dan suka berbicara dengan bahasa yang aneh adalah Mingyu. Wonwoo tidak pernah mengenalkan mereka langsung. Tetapi Jihoon cukup sering melihat orang itu mampir atau hanya mengantar Wonwoo pulang untuk menebak bahwa ini adalah partner baru Wonwoo.

 

"Gak masalah."

 

"Oke."

 

"Lu mau pindah bareng ya?"

 

"Huh?"

 

"Sama Mingyu."

 

"Oh, he eh. Iya. Kayaknya gue mau share apartemen sama dia. Biar sewanya murah."

 

"Gas."

 

.

 

"I wanna kiss you so bad."

 

"Kerja yang bener ga?"

 

Soonyoung memberengut. Tetapi dia dengan patuh mengalihkan mata ke komputer. "Baru ini atasan dimarahin sama bawahan, disuruh kerja yang bener."

 

"Udah hampir jam sepuluuuuh, mau pulang aku. Cepetan kak ngecek draftnya. Biar dikirim."

 

"Cium dulu?"

 

"Cepet woi."

 

"Please please please pretty please."

 

Soonyoung terkadang bias menjadi kekanak-kanakan seperti ini.

 

Jihoon menghela napas panjang.

 

"Kalau," Jihoon berbicara lambat sambil memandang ke segala arah yang bukan wajah Soonyoung. "Kalau laporannya selesai sebelum jam 10, boleh."

 

Soonyoung yang biasanya selalu banyak bicara kehilangan suaranya selama beberapa detik. Tertegun memandang yang lebih muda sebelum mendapat kembali kendali diri. "Boleh, boleh cium?"

 

Jihoon mengafirmasi tanpa memandang Soonyoung.

 

"Di bibir?"

 

"He eh."

 

"Serius?"

 

"Iya bawel. Makanya cepetan."

 

"Siap sayang. Selesai ni sepuluh detik."

 

"Ck, laporannya tetep dicek yang bener dong."

 

"Siaaaap."

 

Rasanya sangat absurd. Jihoon tidak percaya dia baru saja mengiming-imingi hadiah ciuman agar bosnya bekerja dengan benar. Ada sangat banyak hal yang salah di sini. Tapi kalau bicara tentang Kwon Soonyoung, ini semua hanya hal standar yang selalu terjadi.

 

Terkadang rasanya menakutkan bagaimana Jihoon terbuai dalam alunan ritme orang itu.

 

Mereka menutup lembur malam itu pukul 22.17. Soonyoung, meski mengeklaim dia bisa melakukannya dalam sepuluh detik, baru selesai mengecek laporannya sekitar pukul sepuluh lewat sepuluh menit.

 

Ini adalah sesuatu yang disukai Jihoon darinya. Meski memiliki misi tersendiri, dia tidak membiarkan hal seperti itu menjadi distraksi untuk melakukan pekerjaan yang baik. Soonyoung orang yang berdedikasi, dalam pekerjaan dan dalam menaklukkan hati Jihoon. Jihoon mengagumi dia yang seperti itu.

 

Sebab itu, meski Soonyoung tidak berhasil memenuhi tenggat waktu yang diberi Jihoon, yang lebih muda tetap menghadiahinya ciuman di pipi sebelum turun dari mobil Soonyoung. Dia kabur ke dalam kos sebelum Kwon Soonyoung sempat bereaksi.

 

Ponsel Jihoon berbunyi hanya tiga detik setelah dia mengunci pintu.

 

Kwon Soonyoung

that's so cute

next time aku harus bisa sun bibir kamu

 

.

 

“Jadi kamu udah naksir aku belum?”

 

“Entah.”

 

Soonyoung menghela napas kecewa.

 

“Ji, gimana kalau besok kiamat tapi kamu masih belum bisa ngasih aku kepastian?”

 

“Kalau kakak mau kepastian buru-buru, kan aku udah bilang buat suka sama orang lain aja.”

 

“Tapi aku maunya kamu.”

 

“Aku…” Jihoon menggigit bibir bawahnya. Tidak yakin dengan perasaan sendiri. Dia bukannya tidak merasakan apa-apa sama sekali kepada yang lebih tua. Jihoon akan menjadi manusia paling dingin di muka bumi jika setelah semua ini, hatinya masih tidak tergerak sedikitpun. Hanya saja semua ini masih terasa menakutkan.

 

Dia terbayang ekspresi murung Wonwoo dalam persembunyian.

 

Ini semua menakutkan.

 

“Kalau besok kiamat, aku pengen seenggaknya udah dengar kamu bilang sayang sama aku.”

 

“Untungnya besok dunia belum kiamat kak.”

 

“Emangnya kiamat ada pengumumannya? Gimana kalau dunia kiamat pas kamu masih ragu-ragu gini?”

 

Jihoon membiarkan hening menjadi jawaban.

 

.

 

Jihoon pindah ke apartemen yang sama satu bulan menyusul Wonwoo.

 

Pakaian dan buku-buku kuliah disumbangkan atau dijual. Dia hanya membawa sedikit dari harta bendanya dari kos lama—bukannya dia punya banyak barang juga di sana. Barang-barang esensial seperti kemeja kerja, peralatan elektronik, mesin kopi, dan gitar barunya.

 

Soonyoung membantu Jihoon melangsir semua barang untuk pindahan. Menyetir bolak balik dari kos ke apartemen baru.

 

"Gapapa, biar kamu gausah nyewa jasa pindahan."

 

Wonwoo sedang di luar kota dan tidak bisa membantu. Jadi hanya ada Jihoon dan Soonyoung hari itu, menata tempat tinggal baru Jihoon agar terasa seperti rumah.

 

Apartemennya hanya terdiri dari satu kamar dan ruang tengah kecil dengan pantri di sudut ruangan. Tidak terlalu luas, tetapi setidaknya Jihoon tidak perlu tersandung barang yang ditempatkan serampangan karena minim ruang gerak.

 

Mereka selesai menaruh semua barang di titik yang Jihoon mau sehabis maghrib.

 

Jihoon berdiri di di tengah ruangan memandang rumah barunya. Sofa yang dia pesan lebih besar dari yang dibayangkan. Di depannya TV 43 inci yang dibeli Soonyoung hanya karena dia bisa.

 

Dengan satu atau cara lainnya, hidupnya terasa surealis.

 

Siapa kira dia akan menjadi 24 tahun, dua tahun bekerja dan punya tempat sendiri yang menjadi rumah.

 

Ketika Soonyoung mengundangnya untuk duduk dan mencoba sofa barunya, Jihoon menurut dengan baik.

 

Dia menempati spasi di sebelah Soonyoung. Duduk sangat dekat tanpa peduli batas personal. Tanpa terlalu memikirkan secara berlebihan, Jihoon meletakkan kepala bersandar di bahu Soonyoung. Dia dapat merasakan syaraf Soonyoung menegang di bawah kaosnya. Tetapi Jihoon memilih mematikan otaknya untuk saat ini saja.

 

Ini adalah perasaan nyaman yang mahal, Jihoon pikir. Selagi mereka bekerja menata barang, Jihoon tidak bisa berhenti memandangi mesin kopi, gitar Gibson, dan TV barunya. Lalu dia memandang Kwon Soonyoung yang bekerja dengan rajin memalu dinding dan merapikan kabel-kabel.

 

Semua terasa pada tempatnya.

 

Jihoon merasa puas.

 

"Thanks," kata Jihoon.

 

Video musik Ariana Grande dimainkan di TV pintarnya yang baru.

 

"Sama-sama."

 

Jihoon sadar ketika Soonyoung menggerakkan tangannya perlahan, meletakkannya melingkar lewat pundak Jihoon dengan hati-hati. Jihoon tidak mengeluarkan protes khas setiap Soonyoung bernafas terlalu dekat untuk selera Jihoon. Kali ini dia membiarkan orang itu.

 

Mereka duduk dalam diam yang canggung menonton televisi. Membiarkan hanya Ariana yang mengisi keheningan apartemen baru itu.

 

Jihoon tidak tahu siapa yang bergerak lebih awal. Suara Ariana Grande melengking di latar belakang. Tetapi perhatian dua manusia dalam ruangan sudah tidak lagi kepadanya. Ketika Jihoon mengangkat wajah untuk memandang Soonyoung, Soonyoung sudah lebih dulu melihat ke arahnya. Dan jantung Jihoon melompati satu ketuk irama. Ini adalah jawaban dari pertanyaan Soonyoung.

 

Jihoon tidak menghindar ketika Soknyoung menurunkan wajah perlahan. Nyatanya, Jihoon menahan napas dalam antisipasi. Hanya setelah Soonyoung menautkan bibir mereka, barulah Jihoon bisa bernapas lega. Seolah Soonyounglah yang membawa oksigen yang dia butuhkan untuk bernapas.

 

Ciuman pertama mereka lambat dan sangat kaku.

 

Jihoon merasa tubuhnya sedikit gemetar, entah karena rasa gugup atau sesuatu yang lebih. Jika memberi ruang untuk rasa khawatir mengontaminasi kebahagiaan, ada banyak konsekuensi yang belum tentu siap dia hadapi di masa depan.

 

Tapi seumur hidup, Jihoon belum pernah merasa seberani ini. Jadi dia mematikan otaknya demi mencicip rasa ludah Kwon Soonyoung.

.

"Something changed," kata Jun.

 

"Apa?"

 

"Tell me about it."

 

Jihoon mengerutkan kening dengan satu alis naik. "Apa sih Jun?"

 

"Abaikan dia." Minghao menimpali dari sisi lain kubikel. "Dia udah berapa hari obsessed sama Soonyoung because he looks weirdly happy these days."

 

Oh.

 

"I'm telling you guys. He looks too cheerful. It's creepy."

 

"Abaikan dia," kata Minghao lagi.

 

"Emang kenapa bang kalo Pak Soonyoung happy?" Dino mengundang diri sendiri masuk dalam percakapan sambil meletakkan tumpukan kertas yang baru selesai dia fotocopy di atas meja Jun.

 

"Lu masih terlalu kecil buat ngerti pembicaraan orang dewasa. Lubangin kertas-kertas ini dong Din."

 

"Yailah bang. Gue udah 20 tahun." Dino protes sambil mengambil kembali kertas-kertas tadi dengan patuh. Lalu mulai bekerja melubangi setiap kertas sesuai intruksi Jun.

 

"Tapi bukannya bagus ya kalau bos kita keliatan happy gitu. Kalau bos happy, good mood, kerjaan kita juga jadi enak. Ya gak?" Dino mengutarakan pendapat lagi, mencoba untuk terlibat sebisa mungkin dalam topik pembicaraan orang dewasa yang sesungguhnya. Sesuatu tentang ingin dianggap serius meski dia hanya intern atau semacamnya.

 

"Lu kagak tau Soonyoung sih. Makanya ngomong gitu."

 

"Emang Pak Soonyoung kenapa?"

 

"Kalo dia keliatan se-happy itu, big chance, something illegal is happening there. Inside his head."

 

"Ha?"

 

"Dahla. Lu gabakal ngerti. Poinnya adalah, Soonyoung look suspiciously too happy. It creeps me the fuck out."

 

"Ssh." Minghao berdesis menyuruh Jun menutup mulut. Jadi orang itu menutup mulutnya. Karena jika ada seseorang yang dia dengarkan di sini, maka orang itu adalah Xu Minghao.

 

Jihoon tidak menaruh terlalu banyak perhatian pada kata-kata Jun.

 

Mereka melanjutkan pekerjaan.

 

Soonyoung mengirim pesan di aplikasi messenger bertanya jika Jihoon sudah makan siang dan mengatakan dia sangat merindukannya.

 

Jihoon membalas dengan memberitahu dia akan makan siang dnegan Jun dan Minghao jam istirahat nanti dan bahwa dia juga merindukan Soonyoung.

 

Seperti kata Jun, something is definitely changing here.

 

.

 

Jatuh cinta kepada Soonyoung terbukti sangat mudah dan natural begitu Jihoon membuka pintu untuk orang itu masuk.

 

Mereka tidak memberi label baru pada hubungan itu.

 

Yang pasti, peran Soonyoung dalam hidupnya naik tingkat dari sekedar atasan yang selalu mejaganya menjadi seseorang yang selalu menjaganya. Atasan dan seseorang. Di situ perbedaannya.

 

Bagian sulitnya adalah mencoba menerima kenyataan baru mengenai dirinya sendiri.

 

Jihoon belajar istilah biseksualitas dari internet. Mencoba mengasosiasikan diri dengan frasa baru itu.

 

Rasanya aneh. Dan menakutkan. Dan Jihoon dipenuhi rasa paranoid yang buruk tentang bagaimana jika orang-orang tahu.

 

Tapi Soonyoung mengecup pucuk kepalanya dengan menenangkan. Meyakinkan bahwa tidak ada yang perlu Jihoon khawatirkan di atas bumi ini selama dia punya Soonyoung.

 

Dan Jihoon punya Soonyoung.

 

.

 

"Mingyu tu aslinya orang sini ya?" Jihoon bertanya pada Wonwoo satu malam.

 

Mingyu bekerja dengan jadwal shift di rumah sakit. Terkadang Jihoon mampir atau sebaliknya kalau sedang tidak ada Mingyu di sana.

 

Mereka berdua sedang makan mi instan dengan nasi di pantri Wonwoo. Dengan acar dan dendeng sapi sebagai side dish—semua punya Mingyu.

 

Wonwoo mengambil sepotong daging dari toples. "Kenapa penasaran?"

 

"Nggak, dia keknya sering banget nyetok makanan gini. Pasti bawa dari rumah kan? Gue gapernah liat dia masak-masak gede."

 

"Iya juga sih."

 

"Rumahnya di mana?"

 

Wonwoo menyebut daerah yang Jihoon tidak terlalu familiar. Tetapi sesuai dugaannya, tidak terlalu jauh dari sini.

 

"Kenapa dia ga tinggal sama ortunya aja? Mayan, ngirit kontrakan." Jihoon tahu alasannya, sedikit banyak. Tetap saja dia bertanya.

 

"Entah," kata Wonwoo. Wajahnya berubah datar nihil emosi. Jihoon hapal wajah itu. Dia sedang membangun tembok tinggi untuk menyembunyikan sesuatu. Jihoon kenal Wonwoo semudah membalik telapak tangan.

 

"Tapi kalian sharing sih, jadi gak semahal itu juga."

 

"Iya. Lagian berangkat kerja lebih deket dari sini."

 

"Ortunya ga masalah dia pindah?"

 

"Nggak sih. Kayaknya. Setahu gue. Nggak." Wonwoo tergagap dengan kata-katanya.

 

"Tapi lo pernah ketemu? Ortu Mingyu."

 

"Sekali. Waktu jemput Mingyu pindahan."

 

"Oooh. Mereka tau."

 

"Iya. Katanya yang penting tau roommate Mingyu. Biar kalo ada kenapa-kenapa gampang hubunginnya."

 

"Jadi udah pernah dihubungin belom lo?"

 

"Gak juga sih. Mingyu nyuruh mereka ga usah ganggu gue kalo ga perlu. Surprisingly they’re understanding."

 

Wajah wonwoo sendu ketika menyebut bagian akhir. Tetapi pada saat yang sama Jihoon tidak akan melewatkan rasa khawatir dalam nada berbicaranya.

 

Lalu Wonwoo tiba-tiba menambahkan, "Gue harap, itu ga bakal pernah hilang dari dia."

 

"Apa?"

 

"Keluarganya."

 

Jadi kalian gak akan pernah ngasih tau kebenarannya?

 

Jihoon menahan lidah untuk tidak bertanya.

 

Alih-alih dia mengambil lebih banyak acar lobak dan dendeng Mingyu.

 

Jihoon harap, dia tidak akan kehilangan itu juga.

 

.

 

"Jihoon." Jeonghan memanggil namanya dengan suara halus. Dia selalu terlihat elegan dan lemah lembut. Bahkan ketika hanya satu detik sebelum dia memyampaikan kabar tidak menyenangkan seperti pemutusan kontrak.

 

“Ya Pak? Ada yang bisa saya bantu?”

 

“Nyapa aja hehe."

 

Okay.

 

Jihoon tidak suka bertukar terlalu banyak kata dengan Jeonghan. Selain karena aura seram yang melayang di atas kepalanya, Jihoon tidak suka dengan HRD secara general.

 

"Gimana? Kamu oke sama kerjaan di sini?”

 

Hal yang aneh untuk ditanya pada karyawan yang sudah bekerja dua tahun.

 

“O...ke aja Pak?” Jihoon menjawab ragu. Kepala menebak liar arah pembicaraan mereka, rasa cemas menjalar dingin di tulang punggung.

 

“Syukurlah. Cuman mau mastiin kamu oke dan nyaman di departemen penempatanmu. So far gaada kendala ya?”

 

“Nggak ada sih Pak. Semua orang di departemen saya baik. Tim saya oke, semua orang kompak." Dia membayangkan Minghao yang tadi pagi menusuk pensil di tangan Jun karena dia terganggu dengan orang itu yang meminjam staples tanpa izin dan tidak pernah mengembalikan ke meja Minghao sebelum diminta. Minus insiden minor yang terjadi hamper setiap hari, Jihoon tidak akan meminta tim lain selain ini.

 

"Bagus, bagus." kata Jeonghan.

 

Mereka berdiri canggung di sisi satu sama lain setelah itu. Well, canggung untuk Jihoon. Karena Jeonghan terliaht menikmati waktunya di sini.

 

"Oh iya,” Jeonghan berbicara lagi dengan ceria. Terlalu ceria, itu mengerikan. “Hati-hati Jihoon."

 

"Iya Pak?"

 

“Hati-hati.”

 

“Hati-hati kenapa Pak?”

 

"Avanza putih yang sering parkir seberangan sama Civic hitam di parkiran basement itu punya saya."

 

Jihoon menelengkan kepala, gagal memahami arti informasi yang baru dia dapat.

 

Menyadari Jihoon yang tidak bisa mengikuti arah pembicaraan, sesuai dengan julukannya sebagai malaikat di kantor, Jeonghan bermurah hati mengelaborasi kalimatnya untuk membantu Jihoon paham lebih mudah.

 

"Kaca mobil civic hitamnya itu bukan tinted glasses, fyi."

 

Dan akhirnya warna meninggalkan wajah Jihoon ketika Jeonghan selesai berbicara.

 

Jihoon mematung pada posisinya ketika satu demi satu kata acak yang tidak berarti apa mulai membentuk makna. Seketika rasa cemas menjalar di sekujur punggung.

 

"It’s okay. Namanya juga anak muda." Jeonghan menepuk punggung dingin Jihoon santai.

 

Jihoon tidak bergeming. Kilas balik seluruh hidupnya menyala persis di depan mata Jihoon.

 

"It was late at night on you guys defense. Tapi Jihoon kalo boleh kasih saran..."

 

Jihoon tidak berani memandang Jeonghan ketika berbicara.

 

"Hati-hati. Jaman sekarang, di kantor ini banyak macem-macem predator Ada singa, buaya, kuda nil, sama binatang-binatang lainnya. Kayaknya saya udah pernah bilang sama batch kamu dulu."

 

Jihoon ingat samar Jeonghan berbagi wejangan di tengah coffee break setahun lalu. Meski tidak mengerti kenapa itu relevan dalam percakapan mereka sekarang.

 

Sebelum Jihoon sempat bertanya, Jeonghan menepuk punggungnya pelan dan berlalu.

 

.

 

"Kamu suka ga sih kerja kantoran gini?"

 

Jari-jari Soonyoung menari di atas kulit Jihoon membentuk pola melingkar. Satu lengannya menjadi bantal di bawah kepala Jihoon. Punggung yang lebih muda menempel di dadanya, kulit bertemu kulit.

 

Jihoon merasa aman dalam pelukan Soonyoung.

 

Tapi sesuatu mengganggu pikirannya. Jihoon tidak bisa memberi nama.

 

"Suka aja."

 

"Lebih suka mana sama main musik?"

 

Jihoon tertawa dengan konyolnya pertanyaan kekasihnya. "Beda dong. Yang satu hobi, yang satu buat nyari duit."

 

Soonyoung menarik Jihoon lebih dekat dalam dekapan. Menempelkan bibirnya di kepala Jihoon, mengecup rambut yang lebih muda. "Kalau kamu bisa fokus main musik tanpa harus pusing mikirin duit? Gimana?"

 

"Gimana tuh caranya kak?" Jihoon tertawa lagi. Menyandarkan punggung lebih rileks di dada Soonyoung. "Nafas aja sekarang ngabisin duit."

 

Soonyoung menarik Jihoon untuk berbalik menghadap arahnya. Mata coklat saling bertemu, Soonyoung menyingkirkan rambut yang mengganggu di dahi Jihoon. Pandangannya penuh afeksi. Sama seperti saat pertama dia mengungkapkan perasaan.

 

"I'll take care of you."

 

"How?"

 

"My promotion is coming. Ini promosi gede. Kalau aku promosi, I can take can take care of you."

 

Satu kecupan di kening Jihoon.

 

"I will take care of you."

 

Soonyoung meletakkan telapak tangan di pipi Jihoon, menyentuhnya seperti sebuah barang yang rapuh. Satu kecupan di pipi Jihoon.

 

"I want to take care of you."

 

Lalu dia menenggelamkan diri ke dalam wajah Jihoon. Melebur menjadi satu melalui ciuman lembut penuh hasrat.

 

Dia terdengar begitu meyakinkan. Ciumannya, sentuhannya, kata-kata manis dalam bisikan lembutnya.

 

Jadi bagaimana bisa Jihoon menghentikan diri untuk terjerumus lebih dalam?

 

Ketika Soonyoung melepas pertautan bibir mereka dan mengganti dengan mempertemukan kening mereka, pengabdian yang dalam memancar dalam cahaya, Jihoon untuk pertama kalinya memberanikan diri untuk berkata, “Aku sayang banget sama kamu kak.”

 

Soonyoung mendekapnya erat dalam pelukan. “Aku juga, Jihoon. Aku juga. I love you so much, it hurts.”

.

.

.

.

.

“Gue beli blade baru.”

 

Mingyu meletakkan bungkusan hitam di atas meja. Plastik berisi blade baru untuk mesin espressonya, seperti klaim Mingyu.

 

“You’re welcome,” kata Mingyu sambal berkacak pinggang.

 

“Thanks. Kok malah lu yang tiba-tiba udah beli blade?”

 

Jihoon sama sekali tidak terpikir dengan benda itu selama satu minggu terakhir, sejak dia dan Mingyu sampai pada kesimpulan bahwa mesin espressonya membutuhkan blade baru untuk bisa bekerja lagi.

 

“Gue udah ga tahan,” jawab Mingyu singkat. “Wonwoo ga berhenti ngeganggu gue urusan mesin kopi ini. Lo juga gak mesen-mesen blade nya. Jadi gue beliin. Mana, sini gue ganti di mesinnya.”

 

“Lo yakin beneran bisa Ming?”

 

“Gue begadang semalaman nonton youtube buat belajar ngeganti blade lo. It’s not that hard. I’ll do it.”

 

Sesuai perkataannya, Mingyu tidak kesulitan melakukan pekerjaan itu. Lagi-lagi, sesuatu tentang sudah biasa menjadi man of the house atau semacamnya. Tidak perlu setengah jam membongkar pasang mesin espressonya. Mengganti blade yang sudah aus dengan barang baru yang dibeli Mingyu online.

 

Lalu mesin kopi Jihoon sudah menyala dengan baik, suara raungan menghilang diganti bunyi mesin yang halus.

 

“There you have it,” kata Mingyu. “Sekarang, seduh kopi lo dan stop berkeliaran pake muka masam sama kantung mata lo yang ga banget itu.’

 

Jihoon mengernyit. Bertanya-tanya jika wajah terlhat seburuk itu. Dan lagi, “Bukannya kalo minum kopi malah makin begadang, therefore, kantong mata gue makin serem ya?”

 

Ekspresi bangga di wajah Mingyu seketika berubah ketika dia menyadari sesuatu. Dia cepat-cepat berbicara, “Wait, gue berubah pikiran. Nggak, jangan minum kopi. Tidur gak sekarang.”

 

Memutar bola matanya jengah, Jihoon mendorong Mingyu keluar dari apartemennya. Terima kasih sudah memperbaiki mesin kopi Jihoon, tapi Mingyu tidak diterima di sini lebih dari satu jam.

 

Mingyu melalui pintu celah pintu yang masih terbuka berteriak menyuruh Jihoon untuk meninggalkan mesin kopinya sendiri dan cepat istirahat saja.

 

Memulai pagi dengan celotehan Mingyu, tidak pernah menjadi ide baik.

.

.

.

.

.

“Lo udah dengar belom?” Jun berbicara dengan suara berbisik pada bulan November terakhir Jihoon di X-corp.

 

Jihoon baru saja meletak tas di atas meja. Bahkan belum sempat menaruh pantat di atas kursinya. Jihoon berangkat sedikit terlambat pagi itu. Karena bus yang seharusnya dia tumpangi terlalu ramai dan Jihoon selalu gagal masuk melewati gelombang manusia yang naik dan turun di haltenya.

 

Dia tidak punya masalah ini ketika Soonyoung dengan rajin memberi tumpangan pergi dan pulang kerja dulu. Tetapi sudah lama sejak mereka terakhir melakukan itu. Karena Jihoon takut seseorang akan memperhatikan dan curiga tentang kebersamaan mereka yang tidak wajar.

 

Soonyoung menghadiahinya mobil pada ulang tahun Jihoon yang ke-25. Oke, secara teknis dia tidak diberi mobil secara cuma-cuma. Soonyoung mengurus down payment nya, Jihoon melanjutkan setengah dari sisa cicilannya. Sebagai pembelaan Jihoon, itu juga bukan mobil yang mahal. Setidaknya bisa dia selesaikan dengan gaji korporatnya.

 

Hari itu mobil Jihoon sedang di bengkel sehingga dia terpaksa naik bus.

 

“Denger apa?”

 

“Ada gosip hangat.”

 

“Gosip apa?”

 

“Pagi.” Dari belakang mereka Minghao yang baru saja sampai—ternyata ada yang lebih lama dari Jihoon—menyapa dengan wajah kusut.

 

Dibanding Jihoon, dia terlihat lebih kacau.

 

“Gue ketiduran di bus. Padahal gue udah berangkat pagi. Lo percaya ga?” kata Minghao seraya menguap. Kemejanya kusut dan dasinya miring. Sepertinya dia sama sekali tidak pulang hari sebelumnya. “Terus pas gue nyampe di lobi tadi, gue ketemu sama Mak Lampir. Lo percaya ga?”

 

“Hao, lo mending cuci muka terus bikin kopi dulu deh.” Jun beralih ke arah Minghao. Memandang kepada orang itu dengan eskpresi jijik. “You look terrible.”

 

“Gee, thanks.” Minghao memaki di bawah nafasnya ketika melewati Jun, tetapi dia berjalan ke arah toilet, mungkin untuk membasuh wajah. Sesuai instruksi Jun.

 

“Gue sampai mana tadi?”

 

Jihoon sekarang sudah duduk manis di atas kursinya. Dia kira Jun sudah melupakannya. Tapi tidak ada yang bisa lolos dari Wen Junhui pagi ini nampaknya.

 

“Oh, lo dah tau belom gossip hangat?”

 

“Belom, soalnya gue punya hidup lain di luar kantor ini.”

 

“Ouch. Lo ngatain gue nolep ya?”

 

“Kagak.” Jihoon membersihkan keyboardnya dengan brush lalu menyalakan CPU nya. “Jadi ada gossip hangat apa?”

 

“Bos kita kan mau promosi.”

 

“Siapa?”

 

“Ya bos kita siapa lagi?”

 

“Bos yang mana dulu? Bos dept, bos divisi, bos business unit, bos grup, atasnya lagi, atasnya. Yang mana? Be more specific dude.”

 

“I don’t care about bos-bos yang lo sebutin. Ga kenal juga. I’m talking about our boss. Bos dept. Soonyoung.”

 

Jihoon sudah tahu ini sejak setahun sebelumnya. Akhirnya. Promosi besar yang dikatakan Soonyoung.

 

Faktanya, ini adalah sesuatu yang bukan hanya Jihoon yang tahu. Tetapi sudah menjadi rahasia umum satu perusahaan.

 

“Itu mah kita kan udah tau lama Jun. Basi.”

 

“Ya bukan itu gosipnya. Kan masih intro.”

 

Dari ujung matanya, Jihoon menangkap siluet Minghao berjalan dari toilet menuju dapur. Mungkin hendak menyeduh kopi. Sesuai instruksi Jun,

 

“Jadi apa gosipnya? Cepetan. Keburu orangnya dateng ni.”

 

“Tenang aja, ga bakal masuk dia hari ini.”

 

Jihoon mengernyitkan kening. Dia sama sekali tidak tahu itu. Nyatanya dia tidak mendapat balasan pesan dari Soonyoung sejak kemarin. Itu adalah alasan utama kenapa dia hampir terlambat pagi ini. Jihoon pikir kalau dia sudah mengabari Soonyoung di malam hari mengenai kondisi mobilnya dan minta orang itu menjemputnya di pagi hari, maka Soonyoung pasti akan berangkat lebih pagi setelah membaca pesannya dan menjemput Jihoon di apartemen. Tetapi pesan terakhir yang dia kirim bahkan belum dibaca sampai detik ini.

 

Sekarang Jun bilang kalau Soonyoung tidak akan masuk.

 

Sejak kapan Jun jadi lebih hapal jadwal Kwon Soonyoung dibanding Jihoon?

 

“Kemana dia?”

 

“Nah ini dia gosipnya,” kata Jun semangat.

 

Minghao kembali dari dapur dengan segelas tinggi kopi yang dengan melihatnya saja membuat perut Jihoon mulas.

 

“Ngomongin apa kalian?”

 

“Nggak, ini lagi gossip. Udah seger belum”

 

“Tipis-tipis. Gosip apa?”

 

“Soonyoung.”

 

Minghao bergidik mendengar nama atasan mereka. “Oh iya. Ke HQ dong pagi ini?”

 

Sekarang, itu menarik perhatian Jihoon. Karena dua orang ini tahu sesuatu tentang Soonyoung yang Jihoon—orang yang sering berbagi Kasur dengannya—tidak tahu. Itu aneh.

 

“Kalian kok tau dia ke HQ? Dia ngapain ke HQ?”

 

“Oh, itu gue ngasih tau dia kemarin di chat,” jawab Jun santai. “Soal ngapainnya sih gatau ya. Yang pasti sih dimarahin.”

 

“Tu orang kagak ada tobatnya emang.”

 

“Dia udah kalem banget dua tahun ini, dan udah gaada juga yang ngomongin soal kemarin. Malah mulai lagi.”

 

Semakin banyak mereka berbicara, semakin berputar dunia di sekitar Jihoon.

 

“Kalem?” sela Jihoon. Serentak menarik perhatian dua orang lain dalam ruangan. “Tobat? Apa? Kenapa?”

 

“Oh, itu waktu Jihoon belum masuk ya.” Minghao meletakkan kedua telapak tangan mengapit ujung hidung. Lalu dia menghadap ke arah Jun. “Lo ceritainlah, Ko.”

 

“Apa?” kali ini Jihoon tidak bisa menyembunyikan ketidaksabaran dalam suaranya.

 

Jadi Jun memulai. “Lo dah tau kan Soonyoung tu punya backing masuk sini?”

 

Jihoon sama sekali tidak tahu. “Ha?”

 

“Lah, itu juga ga tau?”

 

Jihoon menggeleng lemah. Tetapi seketika beberapa hal menjadi masuk akal dalam kepalanya. Jihoon selalu penasaran dengan paycheck Soonyoung. Merasa sebesar-besarnya gaji dalam posisinya, Soonyoung terlalu sembrono dengan keuangannya.

 

“Lo tau gak sih dia itu keponakan Chairman?”

 

Jihoon tidak tahu.

 

“Gosh, you’re more clueless than I expected. Menurut lo kok bisa semuda itu udah jadi Dept Head sini?”

 

Jihoon tidak pernah merasa itu aneh. Soonyoung luar biasa dalam pekerjannya. Jadi Jihoon pikir…

 

“Dia tu keponakan Chairman, Lee Jihoon.” Jun kembali mengulangi untuk memperjelas. “Tapi ya emang bukan yang super openly disclosed to public gitu sih ceritanya. Cuman yah, kalau di sini sebenernya udah jadi rahasia umum. Semua orang udah tau. Mungkin pegawai baru-baru ada yang gatau kali ya. Tapi kalo suka ngumpul-ngumpul, punya sirkel gossip sendiri, niscaya dapat sih, info satu ini.”

 

Masalahnya, sepanjang ingatan Jihoon, semenjak dia masuk ke dalam perusahaan, dia sudah selalu berada di bawah ketiak Soonyoung. Jadi kalau Soonyoung dengan sengaja ingin menyembunyikan informasi seperti itu darinya, sama sekali bukan tugas yang sulit. Jika tidak bersama orang itu, di bulan-bulan awal dia hanya hang out dengan teman-teman satu batch nya. Dan mereka sama cluelessnya dengan Jihoon.

 

“Oke,” kata Jihoon. Masih berusaha mencerna informasi baru itu. “Terus maksudnya tobat? Kalem?”

 

“Oh, ini bagian serunya. Dia tu kan udah punya tunangan.”

 

Ha?

 

“Tunangan dari SMP atau SMA, pokoknya udah lamalah. Biasa, dunia old money. Kita gak paham. Pokoknya itu dia tunangan udah lama. Sebelum lo masuk sini, si Soonyoung itu,” Jun melihat berkeliling sebelum mendekat ke arah Jihoon dan berbicara dengan suara rendah, hanya untuk didengar Jihoon.

 

Katanya Kwon Soonyoung memiliki affair dengan seseorang di HRD sebelum Jihoon masuk ke sini. Seorang gadis muda dengan ambisi tinggi. Semua orang menyukai sifat periangnya. Dia punya kulit putih dan rambut hitam yang sangat lurus, tubuhnya kecil kurus dan terlihat sangat rapuh. Hubungannya dengan Soonyoung sangat rahasia, tidak ada yang pernah menduga atau menaruh curiga sampai tunangan Soonyoung datang ke kantor dan melabrak gadis itu secara personal. Dengan metode orang kaya berduit berhadapan dengan gadis pekerja biasa yang hanya cantik sedikit—kata-kata tunangan Soonyoung.

 

Gadis itu mengundurkan diri pada akhirnya. Tidak ada yang pernah dengar tentangnya lagi setelah meninggalkan X-corp.

 

Soonyoung bertahan di X-corp, tanpa konsekuensi. Pertunangannya tetap berlanjut dan dia masih memegang posisi yang sama. Cerita infidelity yang dia lakukan di sini, diselipkan di bawah karpet. Tidak pernah dan tidak boleh disinggung.

 

Terkubur dalam.

 

Sangat dalam sehingga Jihoon dalam tiga setengah tahun tidak sekalipun mendapat berita itu sampai di telinganya.

 

“Sekarang, katanya Soonyoung ketauan lagi. Tapi mereka belum dapat orangnya. Cewek-cewek di Finance sama HR tu sekarang jadi bulan-bulanan. Tapi sejauh ini sih masih pada aman semua.”

 

Pada poin ini, suara Jun hanya menjadi suara samar di latar belakang.

 

.

 

“You have a fucking fiancée all this time?”

 

Berikutnya Jihoon bertemu Soonyoung adalah satu bulan kemudian. Dia muncul di depan apartemennya dengan topi, masker, dan hoodie.”

 

Setelah satu bulan tanpa kontak dan hanya Jihoon yang tinggal sendiri dengan pikiran kalut, Soonyoung tanpa rasa malu mengetuk pintu apartemennya dan memaksa masuk sebelum Jihoon punya kesempatan membanting pintu di wajahnya.

 

Jihoon menghabiskan waktu satu bulan itu mengasihani diri sendiri. Lalu marah kepada pembohong nomor satu di hadapannya sekarang. Lalu jijik dengan dirinya sendiri. Lalu kembali mengasihani diri sendiri. Lalu murka. Lalu menangis. Lalu, lalu, lalu.

 

“I love you. Maafin aku. I love you. I love you. I love you.”

 

Soonyoung memeluknya dengan putus asa. Jihoon bisa merasakan air matanya membasahi kain baju Jihoon. Merembes melewati benang-benang itu, mengenai tulang belikatnya.

 

Jihoon menolak membalas pelukan orang itu. Tetapi pada saat yang sama tidak mendorongnya menjauh. Jihoon hanya berdiri di sana. Di tengah apartemennya. Setiap sudut penuh dengan jejak Kwon Soonyoung. Dan kekasihnya berpegang teguh padanya seolah seluruh hidupnya bergantung pada Jihoon.

 

Jihoon menyadari bahwa dia sendiri sudah kacau dan tidak bisa diselamatkan ketika rasa marah dan terkhianati kalah dengan cinta kepada bajingan pengkhianat di depannya.

 

Karena Jihoon, sebesar rasa marahnya, ingin memaafkan Soonyoung begitu dia muncul di depan pintu dengan tampilan menyedihkan.

 

“We never loved each other,” kata Soonyoung setelah selesai dengan air matanya. Mereka duduk di sofa Jihoon menghadap TV yang dibeli Soonyoung. Tidak ada bunyi lain untuk mengisi keheningan antara jeda setiap kalimat Soonyoung. “Aku engga… aku ga pernah sayang dia. Ini semua cuma soal bisnis keluarga. Dia juga ga saying aku. For her, it’s all a matter of control.”

 

Sepanjang penjelasan Soonyoung, Jihoon sama sekali tidak memberi tanggapan apa-apa. Dia mendorong Soonyoung untuk menjelaskan apapun yang bisa dia jelaskan. “Aku udah pastiin dia, mereka, sama sekali ga dapat info apa-apa soal kamu. They never thought that my… my lover now is a man. Semua interaksi kita selama ini keliatan kayak atasan sama bawahan yang akrab. Dan aku gaakan pernah biarin mereka nyentuh kamu seujung rambut. Aku sumpah. Jadi Jihoon, please please please. Maafin aku.”

 

Betapa tidak tahu malu dia merangkak ke sini memohon maaf. Setelah semua yang dia lakukan.

 

Dan betapa menyedihkan bagaimana Jihoon bahkan tidak punya kekuatan untuk menyangkalnya dari maaf itu.

 

“Aku bisa batalin pertunangan kami Ji. Aku siap. Gapeduli namaku dihapus dari keluarga. Aku… aku bisa, aku siap kehilangan semua kecuali kamu. Kamu satu-satunya yang aku sayang. Aku bakal give up semua ini buat kamu.”

 

“Terus apa?” suara Jihoon bergetar ketika dia untuk pertama kali membuka mulut setelah racauan panjang Soonyoung. “After you give up everything, terus apa kak? Ngasih tau ke semua orang kalau aku orangnya? Yang jadi selingkuhan kamu tiga tahun ini? Apa aku tetap bisa kerja habis itu? Atau kalau aku gak kerja, kamu putus hubungan sama keluargamu, apa kamu bisa provide buat aku? Buat  kehidupan… ini?” Jihoon menunjuk ke arah keliling apartemennya. Tidak mewah, tidak banyak, tetapi rumah.

 

Dengan suara serak dan putus asa, mendekati bisikan, Jihoon berkata, “Then, will you be able to take care of me?”

 

Soonyoung terdiam.

 

Untuk pertama kali tidak punya jawaban pintar untuk Jihoon.

 

“Aku bahkan belum come out sama sahabatku sendiri yang gay. Apalagi sama keluargaku. Dan kamu dengan gampangnya ngomong kayak gitu. Not understanding just how scary these all are.”

 

“I’m scared too,” Soonyoung menjawab.

 

“Ngga setakut aku, mungkin. This is not even your first offense.”

 

“Jadi aku harus apa Ji? Kasih tau aku harus gimana. Aku gak bisa kehilangan kamu. Kehilangan ini semua sama kamu.”

 

“Go home for now, Kak.”

 

“Jihoon.”

 

“Aku gak bisa lihat kamu sekarang.”

 

“Ji."

 

“Go home.” Jihoon mengeraskan rahang dan pertahanan dirinya. Dengan suara berbisik dia memohon, “Please.”

 

.

 

“Ji, inget gue pernah bilang Soonyoung selalu nebengin because he wants to fuck you?” Jun berbisik melewati pembatas kubikel mereka.

 

Jihoon tidak menjawab, fokus pada tabel-tabel perhitungan yang sama sekali dia tidak pedulikan.

 

“Well, waktu itu gue becanda.”

 

“I know.”

 

“Gue gamau lo kena masalah gara-gara asbun gue.”

 

“I know.”

 

.

 

“Kamu harus tetep lanjutin tunanganmu.”

 

“Jihoon…”

 

Akhir-akhir ini kosa kata Kwon Soonyoung terdiri dari mostly dua kata. Jihoon dan maaf.

 

“It’s for the best kak.”

 

“Terus kita gimana?”

 

Jihoon mengedikkan bahu lalu menggeleng.

 

Dia tidak bisa. Dia tidak siap.

 

Melepaskan Soonyoung.

 

Menerima Soonyoung seperti cara Wonwoo dan Mingyu. Karena ini semua tidak semudah itu. Semua orang akan tahu. Jihoon tidak mau orang tahu.

 

Jihoon tidak bisa.

 

.

 

“Jun, gue mau resign. Just giving you heads up.”

 

“Kok tiba-tiba? Dapat kerja baru dimana?”

 

“I’m pursuing my passion.”

 

“Apa?”

 

Jihoon memasang senyum terbaik yang dia punya. Ingin menunjukkan kepada orang di sebelahnya bahwa dia bahagia dengan pilihannya. “Music.”

 

“Oh? Gue gatau lo main musik. Do you play any instrument?”

 

“Yap. Ntar gue ajak lo ke studio a.k.a rumah gue kapan-kapan.”

 

“Oh, okay. I’ll look forward to it.”

 

“Yoi, tunggu aja undangan gue.”

 

“Sip.” Jun tersenyum tulus. Dia adalah orang baik, Jihoon mencatat dalam hati.

 

“Good luck then.”

 

“Good luck.”

.

“Jihoon, aku harap kamu bakal lebih hati-hati sama binatang-binatang lain di luar sana.”

 

Yoon Jeonghan menatap simpatik ke arah Jihoon ketika menerima surat pengunduran dirinya.

 

Jihoon memasang senyum kedua terbaik untuk dipamerkan kepada staff personalia itu. Tidak bisa berhenti berpikir, ‘dia tahu’.

 

“Siap Pak.”

 

Dia tahu tapi tidak melaporkannya.

.

.

.

.

.

Lalu hidup terus berjalan.

 

Membayangi Jihoon dengan konsekuensi sebuah pilihan.

 

Karir musiknya bukan yang terbaik, tetapi dia tidak buruk juga. Jihoon menjalaninya dengan perasaan kosong.

 

Wonwoo dan Mingyu masihlah Wonwoo dan Mingyu. Jihoon mulai menghabiskan waktu tidak hanya dengan Wonwoo tetapi dengan Mingyu juga sebagai satu paket, dan terkadang dia tetap berkunjung ke apartemen kedua pemuda itu ketika hanya ada Mingyu di rumah. Jihoon suka memanfaatkannya untuk mendapat makan siang gratis.

 

Kwon Soonyoung menikah pertengahan November sebelum ulang tahun ke-28 Jihoon.

 

Pada satu masa dalam hidupnya, Soonyoung mengatakan bahwa dunia berakhir tanpa pengumuman. Betapa dia salah, pikir Jihoon ketika membuka undangan pernikahannya yang mewah.

 

Sangat khas Kwon Soonyoung. Menghabiskan uang untuk sesuatu yang mewah, mahal, dan tidak berguna. Karena setelah semua itu, pada akhirnya dia tetap menghabiskan malam pengangtinnya di dalam kamar hotel bersama Jihoon, bukan pemilik nama lain di kertas fancy itu.

 

Jihoon mematikan otaknya setiap kali bibir Soonyoung berkelana di atas kulitnya.

 

Ini tidak apa-apa.

 

Ini tidak apa-apa.

 

Setidaknya jika besok dunia berakhir, maka Lee Jihoon dan Kwon Soonyoung masih dalam pelukan satu sama lain.

 

Ini tidak apa-apa.

 

Jihoon terus berbohong kepada diri sendiri.

 

 

The world doesn’t end literally.

Only the world that they know of.

 

 

.

.

.

.

 

 

Epilogue

 

Jihoon memasukkan biji kopi terakhir ke dalam grinder.

 

Mingyu di sebelahnya sibuk mondar-mandir mengambil mangkuk dan wadah-wadah dari lemari Jihoon.

 

Wonwoo duduk di meja makan, nyawa belum terkumpul sepenuhnya.

 

“Kopinya cuman cukup dua shot.”

 

“Buat lu sama Wonu aja bang. Gue gausah.” Mingyu menjawab dari sebelahnya. Dia menyendok bubur dari dalam penanak dan memasukkan ke dalam tiga bowl yang sudah dia susun di atas counter. Memasukkan suwiran ayam, kacang goreng, potongan cakue, ikan teri goreng ke masing-masing bowl.

 

Pagi hari natal di usia 30 tahun, Jihoon menghabiskan bersama Mingyu dan Wonwoo karena dua orang itu memutuskan untuk tidak pulang ke rumah (lagi).

 

“Rumah gue di sini.”

 

“Gue mah gampang, bisa pulang kapan aja.”

 

Alasan Wonwoo dan Mingyu, dengan urutan itu.

 

Mingyu memasak bubur dengan rice cooker serba guna Jihoon. Sementara untuk toppingnya dibawa—dicuri—anak itu dari rumah orang tuanya ketika dia mampir kemarin.

 

Jihoon berniat membuat kopi untuk mereka bertiga dengan bij kopi terakhir yang dia punya.

 

“Lo lupa beli biji kopinya ya bang?”

 

Jihoon tersenyum tipis. “Ga juga sih.”

 

“Loh?”

 

“Gue mau cut caffeine intake.”

 

Mingyu terkesiap dramatis. Meletakkan kedua tangan di depan mulut. Satu tangannya masih memegang sendok bubur tadi dan tidak sengaja mencipratkan bubur ke wajah Jihoon.

 

Clumsy bastard.

 

“Ew, Mingyu. Bisa gak, jangan.” Jihoon berteriak protes.

 

Yang dibalas Mingyu hanya dengan tawa puas dan dia mengambil tisu untuk melap wajah Jihoon yang terkena serangan bubur.

 

“Mana panas lagi, anjing.”

 

“Sori, sori bang. Peace. Jangan marah-marah. It’s the most beautiful time of the year.”

 

“Diem lu.” Jihoon melotot kesal.

 

“Tapi ini dalam rangka apa tiba-tiba mau cut kefein? Belum ada satu bulan ngerengek-rengek minta mesin kopinya dibenerin.”

 

“Gapapa. Gue cuman mulai mikirin kesehatan aja.”

 

“Waw,” Wonwoo tiba-tiba ikut menanggapi dari tempat duduknya. Dia menguap lebar sambal menggaruk kepala, lalu dada, lalu menggosok hidung/ Betul-betul belum mengumpulkan nyawa sepenuhnya. “Jihoon mulai mikirin kesehatan?”

 

“Ya emang kenapa sih gaboleh?”

 

Pada saat ini, mesin kopinya sudah selesai menuang kopi ke gelas Jihoon. Dia menhyerahkan kepada Mingyu untuk dibuat coffee latte. Sementara dia sendiri mengambil alih tugas Mingyu yang sebenarnya sudah selesai juga. Jadi selanjutnya Jihoon hanya perlu menyajikan tiga mangkuk bubur di atas meja.

 

Sementara Mingyu menyiapkan kopi mereka, Jihoon bergabung di meja makan bersama Wonwoo. Keduanya sibuk menjadikan sisa topping bubur di wadah sebagai kudapan.

 

“Kalo udah ga ngopi, jual aja itu mesin kopi,” kata Wonwoo malas, mash sambal mengunyah kudapan curiannya.

 

Sangat tidak disangka, Jihoon membalas. “Boleh. Minta tolong cowok lu aja nanti buat set up di market place.”

 

“Gampang. Begituan Mingyu ahlinya.”

 

Suara steam wand berhenti tiba-tiba dari arah mesin espressonya, Jihoon memandang punggung Mingyu menegang dan karena dia Mingyu, tentu saja dia menumpahkan sebagian susu yang sedang dia steam.

 

Wonwoo menyadari terlalu terlambat perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya. Dalam sekejap kantuk berlari meninggalkan wajahnya. Lalu ekspresi batu tanpa emosi itu kembali menghiasi wajah Wonwoo.

 

Seketika Jihoon merasa ini semua lucu.

 

“Rileks, ges. Gue udah tau dari lama,” kata Jihoon menjaga sikap senormal mungkin. Dia sama sekali tidak berniat mencecar mereka sepagi ini di hari natal. “It doesn’t change anything.”

 

“Ji, gue…”

 

“Gue tau, Won,” Jihoon tersenyum lembut kepada sahabatnya. “Gue tau.”

 

 

Notes:

maaf kalau masih ada typo ya :( i haven't slept for days