Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-10-01
Words:
1,038
Chapters:
1/1
Hits:
1

dalam perjalanan

Summary:

Dan di sinilah Tezuka sekarang. Menjadi passenger princess yang mengantuk hebat bercampur jet lag.

Work Text:

"Kunimitsu, tidur saja."

Tezuka menggeleng.

Keras kepala seperti biasa. Lewat lirikan, Atobe bisa melihat kepala Tezuka yang meleng ke kanan dan kiri berulang-ulang dalam usahanya menjaga kesadaran. Wajah Tezuka terlihat lelah dengan kacamata yang berkali-kali melorot turun ―dan berkali-kali pula dibetulkan posisinya dengan tambahan menyeka air yang menitik di sudut mata.

Atobe paham Tezuka sangat lelah. Pesawat yang ditumpanginya dari Jerman mendarat di bandara Haneda sekitar lima jam yang lalu. Atobe sendiri yang menjemput Tezuka lalu mengantarnya singgah ke kediaman keluarga Atobe. Tezuka hanya sempat menaruh koper lalu makan malam bersama orang tua Atobe sekalian diskusi soal pertunangan mereka nanti, sebelum akhirnya ia dan Atobe berpamitan karena akan lanjut perjalanan untuk liburan berdua ke onsen. Punggungnya tak sempat merasakan rebahan setelah 13 jam duduk di kursi pesawat kelas ekonomi.

Atobe tak mau berkomentar soal seharusnya Tezuka berangkat besok saja, jadi masih kebagian tiket first class sehingga badannya tak akan terlalu capek. Toh onsen yang mereka tuju memang private onsen milik teman ibunya Atobe, bisa dikunjungi kapan saja mereka mau. Namun Atobe paham Tezuka ngotot untuk tiba hari ini karena ingin segera bertemu.

Belakangan jadwal mereka sangat sulit dipadukan. Sekadar saling telepon pun tak sempat. Selama hampir tiga bulan, mereka hanya saling berbalas pesan singkat dan berkirim foto dengan masing-masing membalas setelah berselang sekian jam. Tidak sempat menggoda-goda lucu, tidak ada ucapan good night-good morning atau miss u. Hingga akhirnya Tezuka bilang punya dua minggu day off sejak 30 September dan (untungnya) Atobe juga punya hari bebas terhitung mulai tanggal 1 hingga 8 Oktober. Tezuka langsung memesan tiket keberangkatan terdekat.

Dan di sinilah Tezuka sekarang. Menjadi passenger princess yang mengantuk hebat bercampur jet lag. Dalam hati, Atobe menyesal kenapa ia mengiyakan jet pribadinya disewa menjelang hari ulang tahun mereka.

Perjalanan mereka masih lama. Masih dua setengah jam lagi. Tezuka bilang, pokoknya ia mau pergi berdua saja dengan Atobe, tanpa supir. Ia mau waktu mereka seminggu ini lebih intim. Bukan permintaan yang sulit. Toh Atobe sendiri pada dasarnya senang menyetir sendiri.

Sebelum naik pesawat, Tezuka juga bilang ia rindu sekali mengobrol dengan Atobe ketika jalan-jalan berdua naik mobil seperti yang biasa dilakukan saat Atobe berkunjung ke Jerman. Atobe yakin itulah yang membuat Tezuka bersikeras tak mau istirahat dulu. Meski sesi obrolan yang sudah ditunggu-tunggu itu pun tak berjalan lancar karena konsentrasi Tezuka kerap buyar akibat kelewat letih.

Atobe kembali melirik cemas. Tezuka kembali menutupi mulutnya dengan tangan. Bukan untuk menahan kuap, tapi menahan mual.

That's it. Sudah, Atobe sudah tidak sanggup melihat Tezuka seperti ini.

Melihat tak berapa jauh di depan ada plang dengan neon warna-warni bertuliskan penginapan, Atobe langsung melambatkan mobil.

Tezuka yang sepersekian detik sempat terlelap langsung bangun saat sadar mobil mereka tak lagi melaju.

"Eh? Memangnya kita sudah sampai?" tanya Tezuka sambil menatap Atobe bingung. Kesadarannya belum sepenuhnya utuh.

Atobe hanya tersenyum. "Turun, yuk."

Tezuka menurut. Dahinya berkerut saat melihat mereka ada di depan gedung bertingkat yang tak terlalu besar tetapi penuh lampu-lampu dan hiasan warna-warni. Love hotel.

"Kok kita ke sini?"

"Istirahat sebentar."

Atobe tidak menurunkan koper mereka, hanya membawa satu tas jinjing ukuran sedang. Tezuka diam mengekori Atobe yang masuk duluan dan langsung menuju meja resepsionis.

Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya petugas menyerahkan kartu akses dan mengantar mereka ke lantai dua, menuju kamar mereka.

Kantuk yang menggelayut berat di mata Tezuka perlahan pudar. Atmosfer asing dari tempat itu membuatnya sedikit tak nyaman dan juga membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Petugas yang mengantarkan mereka menempelkan kartu master ke pintu hingga terdengar suara kling pelan, mempersilakan Atobe dan Tezuka masuk, kemudian pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Atobe meletakkan kartu kamarnya ke tempat yang tersedia dan ruangan langsung terang, terlalu terang bahkan, dan pendingin ruangan juga turut aktif dengan desau yang sedikit berisik.

"Tempatnya jelek."

Komentar pendek dari Atobe membuat Tezuka memindai seluruh ruangan. Kasurnya besar dengan seprei pink menyala. Ada wewangian manis yang menguar entah dari mana. Ada nakas bening di samping tempat tidur berisi benda-benda yang membuat pipi Tezuka bersemu. Lalu ada banyak cermin yang tersebar di mana-mana.

"Ke-Keigo... aku capek...."

"Aku juga capek. Makanya kita istirahat dulu di sini."

"... ke onsennya?"

"Kita lanjut besok tidak apa-apa, kan? Yang penting kita masih berdua saja."

Tezuka tetap berdiri mematung. Sementara Atobe meletakkan tasnya dengan asal di atas meja yang sempat membuat Tezuka overthinking kemudian naik ke tempat tidur. Atobe menepuk pelan tempat di sebelahnya, mengisyaratkan Tezuka juga ikut naik.

Lelah yang tadi sempat hilang akibat tegang kembali dengan cepat menyusupi setiap sendi yang ada di tubuh Tezuka. Tezuka merasa badannya seperti akan rontok. Dengan langkah setengah terseret, Tezuka melangkah menuju kasur. Tak terasa ia jatuh begitu saja ke kasur dengan Atobe yang menangkap tubuhnya setengah tertawa.

Atobe mengusap kepala Tezuka serta mencium keningnya beberapa kali. Tezuka sudah nyaris terlelap.

"Aku cuci muka dulu," bisik Atobe.

"Heummm...." Tezuka menyahut dengan gumaman.

Waktu kembali, Tezuka sudah benar-benar tertidur dengan posisi miring dan setengah meringkuk. Tarikan napasnya terdengar begitu halus dan rileks. Atobe memposisikan diri di sebelahnya dan menatap lekat-lekat wajah dari orang yang paling dicintainya sejagat raya itu. Wajah yang tidak disentuhnya selama beberapa bulan terakhir.

Tangan Atobe mengusap pelan pipi Tezuka. Terasa kenyal. Sama seperti terakhir kali dari yang Atobe bisa ingat.

"Setidaknya kau makan dengan benar saat aku tidak bersamamu."

Atobe paling tidak suka kalau tiba-tiba Tezuka menjadi lagi-lagi terlalu kurus ketika stres melanda. Tezuka bisa mengatur emosinya dengan sangat baik, tetapi tubuhnya tidak bisa bohong sama sekali. Atobe bisa langsung tahu ada yang tidak beres dengan Tezuka hanya dengan melihat penampakan fisiknya.

Setelah puas memandangi Tezuka, Atobe mengeluarkan pouch dari dalam tas. Ia mengambil sepotong kapas dan sebotol kecil micellar water. Atobe mengubah posisi kepala Tezuka agar wajahnya tak lagi menempel di kasur dan dengan telaten mengusapkan kapas yang sudah basah ke seluruh wajah serta leher.

Tezuka tidak bangun atau membuat gerakan protes sama sekali.

"Mimpi indah, Kunimitsu."

Dilemparnya kapas yang kotor ke belakang. Jatuh ke lantai. Sementara itu, botol micellar water sempat teronggok di dekat betis Atobe sebelum akhirnya ditendang ke bawah.

Atobe menarik tubuh Tezuka untuk menempel padanya, dengan posisi kepala berbantalkan lengan kiri Atobe.

Selimut terbentang hingga menutup dada keduanya. Atobe mendaratkan kecupan kecil di bibir Tezuka beberapa kali sebelum mematikan lampu-lampu utama dengan remot yang ada.

Lalu satu ciuman panjang terakhir di kening Tezuka sebelum Atobe turut bergabung ke alam mimpi.