Work Text:
"Kapan pertama kali kau merasakan debar yang tak terkira di dalam dada?"
Entahlah.
Mungkin itu, kala aku menangkap senyumannya yang mengembang dari parasnya.
-
Tuk!
"Sial!" Korban sasaran penghapus papan tulis yang melayang itu mengusap kepalanya, kantuknya mendadak hilang digantikan oleh adrenalinnya yang berdesir kencang. Kepalanya yang semula terbenam di atas lipatan tangannya sontak terangkat, menatap si iblis—guru matematika—yang sudah menatapnya tajam.
"Tuan Song, pukul berapa ini?" suara si iblis mendayu pelan, namun Mingi dapat merasakan tusukan tusukan halus pada tubuhnya seiring suaranya itu mengalun. "Pukul.. pukul.." mata Mingi menyecar seluruh ruangan, bahkan jam dinding yang isinya hanya garis itu tidak berhasil ia baca.
"Sebelas." Sebuah suara di belakangnya berbisik, "Sebelas!" Mingi mengulanginya dengan suara yang dikeraskan, kemudian terdengar kekehan dari seseorang di belakangnya. "Kalau ingin tidur, di rumah saja. Perhatikan papan tulis! Kalau saya mendapati kamu tertidur lagi, siap-siap ke ruangan saya setelah pelajaran." Si iblis kembali memunggunginya, menuliskan angka abstrak yang sama sekali tidak Mingi mengerti.
Mingi kembali menegakkan duduknya, punggungnya yang terasa pegal akibat membungkuk sedikit berbunyi, membuatnya mengeluarkan desahan pelan. "Terima kasih, Yunho," bisiknya dan menoleh ke belakang, mendapati si pelaku yang sudah membantunya itu tersenyum lebar menatapnya. Wajahnya bersinar begitu terang, bagaikan efek di komik yang biasa Mingi baca. Kau tahu, pancaran sinar dengan kerlap kerlip itu. Di wajah Yunho nampak kilauan itu hingga Mingi tidak bisa bergeming.
Apakah Yunho selalu bersinar seperti ini?
Jeong Yunho, siapa yang tidak mengenalnya? Si populer yang diidamkan semua orang. Ah, sekolah ini sekolah khusus pria namun daya tarik Jeong Yunho itu tidak ada yang bisa menolaknya. Semua orang ingin mendekatinya—kebanyakan agar kecipratan ketenarannya, namun entah bagaimana Yunho selalu menghampiri Mingi dan mengajak si kikuk itu mengobrol, hingga mereka kian dekat dam tidak terpisahkan.
Mingi tidak dapat mengerti daya tarik Yunho, sebelum saat ini tiba. Ia mendapati dadanya berdebar kencang, agak tidak nyaman dirasanya. Rasanya senyuman Yunho tidak hilang. Wajahnya memerah, Mingi langsung memalingkan wajahnya dan menggeleng keras. Apa-apaan ini? Mingi meremas bajunya, tepat dimana dadanya berada dan menggigit bibir bawahnya.
Ada yang aneh dari dirinya.
Bahkan ketika pulang pun—
"Mingi!" Yunho memanggil dari kejauhan tepat saat Mingi hendak melangkah keluar dari gerbang sekolah. Yunho dengan telinga anjing imajinernya itu berlari menghampiri Mingi dan merangkul pundaknya, senyuman sialan itu masih mengembang di paras tampannya namun tak Mingi hiraukan, namun ia tidak bisa menampik betapa kencang jantungnya berpacu saat ini.
"Kau langsung memalingkan wajah tadi, itu agak menyedihkan, kau tahu!" Yunho memalsukan sebuah rengutan, Mingi yang mendapati bibir Yunho yang mengerucut itu menelan ludahnya paksa. Sejak kapan Yunho memiliki bibir yang merona merah layaknya menggoda untuk dicium itu?
Yunho selalu melontarkan candaan-candaan seperti ini saat bersamanya. Tapi kenapa kali ini rasanya berbeda? Mingi ingin mendekat, mempertemukan bibir mereka dan melumatnya pelan seperti di film romansa yang ia tonton—
Tunggu.
Romansa?
Mingi teringat saat ia dan Yunho menonton film romansa di rumahnya, ibunya mengoleksi banyak kaset film dan Mingi tidak ingin menontonnya sendiri sehingga ia mengajak pria jangkung itu untuk singgah di rumahnya sebentar untuk menonton barang satu atau dua film. Ketika kedua pemeran utama saling bertatapan, nampak kemesraan di sorot mata mereka sebelum bibir mereka menyatu.
"Mingi, kau pernah berciuman sebelumnya?" Mingi mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Yunho. Mereka masih kelas dua SMA, ditambah mereka bersekolah di sekolah khusus pria. Siapa yang akan ia cium? Tembok?
"Tidak. Kau?" Mingi melemparkan berondong jagung ke mulutnya. Yunho nampak mengulum bibir bawahnya sebelum menggeleng pelan. "Tidak pernah. Tapi bukankah rasanya akan menyenangkan saat kau mencium orang yang kau cintai?" Yunho kini menatap Mingi yang masih memperhatikan bagaimana kedua pemeran utama itu saling bercumbu mesra.
Mingi tidak mengerti perkataan Yunho.
"Kurasa begitu. Tapi aku belum pernah jatuh cinta, jadi aku tidak tahu rasanya." Pundaknya mengangkat tanda tidak terlalu peduli, dan Yunho hanya melontarkan tawanya dan mencuri segenggam berondong jagung dari mangkok yang Mingi peluk.
"Ya, mungkin kau akan tahu ketika saatnya tiba."
Mingi di saat itu langsung membelalakkan matanya, Yunho yang tadinya memalsukan rengutannya langsung mengernyit heran menatap Mingi. "Kau ini kenapa?" tanyanya.
Oh, tidak. Apa ini tandanya Mingi—
"Yunho, aku akan pulang sendiri hari ini. Kita bertemu besok!" Mingi langsung berlari meninggalkan Yunho dengan jantungnya yang terus berpacu cepat, sebagian karena berlari dan sebagian karena kehadiran Yunho. Yunho yang ditinggalkan hanya menggaruk pipinya heran melihat tingkah temannya itu.
Tidak.
Tidak mungkin!
Mingi berhenti di gang dekat rumahnya, nafasnya sudah tak beraturan dengan keringat mengucur deras. Kembali kemejanya diremas demi menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Tidak pernah ia seperti ini, bahkan pada wanita manapun.
Mingi sudah gila.
Ya, ia sudah tidak waras.
Kini ia berjalan menyusuri gang dengan pikiran berkecamuk. Kenapa ia baru menyadari kalau senyum Yunho akan seindah itu di matanya? Kenapa pula pikirannya akan menuju kesana saat ia melihat bibir Yunho yang mengerucut? Kenapa dadanya berdegup kencang? Kenapa Yunho?
Ah, mungkin hanya sehari saja. Besok semuanya akan kembali seperti semula. Mingi hanya sedikit tidak waras akibat terantuk penghapus papan tulis tadi.
Semua akan kembali normal.
Mingi berusaha untuk menepis kemungkinan-kemungkinan di dalam otaknya sepanjang ia menyusuri jalan ke rumahnya. Ia melewati taman yang memisahkan gang rumahnya dan rumah Yunho. Taman itu selalu sepi, karena tidak banyak anak kecil di daerah ini. Kebanyakan sudah remaja, seumuran Yunho dan Mingi. Justru mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu disana.
Yunho akan menyuapinya mie instan yang bagi Mingi terlalu pedas dan tertawa saat melihat bibir Mingi yang membengkak akibat kepedasan, dan Mingi akan mengejar Yunho yang dengan tawa menyebalkannya itu berlari menghindari Mingi yang merengek kesal sembari liurnya menetes akibat bubuk cabai.
Senyumannya sedikit mengembang disana, namun begitu realita menyapanya, Mingi langsung menampar pipinya dan menggeleng cepat. Ada yang aneh dengan kepala Mingi sepertinya.
Apakah efek terantuk penghapus papan tulis akan separah itu?
Mingi masih berusaha berpikir jernih dan menghabiskan waktunya di rumah seperti biasanya. Bermain permainan yang ia unduh di komputer, menonton televisi yang membosankan bersama kakaknya yang kerap kali menyandarkan kaki baunya itu di atas paha Mingi, sebelum mengerjakan tugas rumahnya yang menggunung hingga kepala Mingi pening.
Lihat, ia baik-baik saja tanpa Yunho. Semua ini akan berlalu besok.
Hingga keesokan hari tiba, dan Mingi masuk ke dalam kelas dengan keadaan rambut yang belum tertata rapih. Alarm sialannya itu lagi-lagi gagal membangunkannya hingga sang ibu harus mengguyur wajahnya dengan segelas air hingga Mingi berlari ke kamar mandi seperti orang kesetanan.
Ah, bukan awalan yang baik untuk memulai hari.
Ia mendapati Yunho di bangkunya, kedua tangannya terlipat dengan kepalanya bersandar di atasnya, wajahnya menghadap ke arah pintu hingga Mingi bisa melihatnya dengan jelas. Mingi menghampiri tempat duduknya, tanpa ragu mendaratkan bokongnya di bangkunya sembari perlahan ia menghadap Yunho yang tengah tertidur.
Paras itu ia perhatikan dengan seksama.
Mata yang terpejam, menyembunyikan kerlipan yang menyilaukan mata Mingi kala ia melihatnya. Mingi bahkan bisa menghitung bulu mata Yunho dari sini.
Satu, dua, tiga, mata Mingi turun ke hidung Yunho. Yunho selalu menggerutu karena bentuk hidungnya yang menurutnua mengganggu, tapi ketika Mingi lihat lagi, Yunho nampak menggemaskan dengan hidung seperti itu. Sorot matanya semakin turun, mendarat ke bibir Yunho yang sedikit maju. Semakin lama menatap wajah Yunho, dada Mingi semakin menghangat, darahnya makin berdesir hingga pompa jantungnya kian cepat. Wajah Mingi terasa memanas.
Tidak!
Mingi langsung memalingkan tubuhnya menghadap depan, namun gerakannya itu justru membangunkan Yunho yang tadinya tertidur pulas. "Mingi, kau sudah datang rupanya." Ia menguap lebar sebelum mengusap matanya yang masih terasa berat.
"I- Iya, aku baru datang," jawab Mingi seadanya dan merapikan bukunya dengan asal. "Mingi, pelajaran pertama kan olahraga?" Yunho yang melihat Mingi gelagapan mengernyit heran.
Matilah Song Mingi!
Mingi menoleh ke arah Yunho dan memasang cengiran lebarnya, "Aku hanya menyiapkan untuk nanti," jawabnya dan menggaruk pipinya kikuk. "Kau ini terlihat aneh dari kemarin," ujar Yunho dan membawa kepalanya mendekat ke arah Mingi.
Mata Mingi otomatis ke bibir Yunho, ia langsung memejamkan matanya dan menarik kepalanya menjauh, menghindari Yunho yang memiringkan kepalanya sedikit melihat gelagat aneh temannya itu.
Mingi ini kenapa sebenarnya?
Begitu menjalani hari ini, Mingi semakin sadar bahwa yang terjadi pada dirinya ini begitu aneh. Saat ia dan Yunho mengganti baju olahraga di ruang ganti, ia mendapati dirinya menatap tubuh Yunho dari atas sampai bawah. Mingi baru menyadari bahwa lekuk tubuh Yunho terpahat begitu sempurna di balik tubuh jangkungnya itu, Mingi membayangkan tangannya merengkuh pinggang itu dan—
Mingi bahkan tidak mau melanjutkan isi pikirannya itu!
Kini ia memakan makan siangnya jauh dari tempat ia biasa makan dengan Yunho, pikiran Mingi kian liar setiap ia melihat Yunho hingga rasanya ia tidak mau melihat Yunho lagi demi akal sehatnya. Ia mendapati Yunho masuk ke kantin dan terlihat kebingungan, sedangkan Mingi membalikkan tubuhnya menghindari sorot mata Yunho.
Ia harus mencari tahu perasaan aneh apa ini.
Begitu sesampainya di rumah, Mingi langsung menyalakan komputernya dan kursor layarnya mengarah pada laman pencarian di internet.
Mengapa dadamu berdebar kencang saat melihat senyuman seseorang dan kenapa kamu membayangkan berciuman dengannya saat melihat bibirnya?
Mingi menggigit bibir bawahnya dan menatap layar komputer dengan seksama. Semua jawaban di internet mengarah pada satu jawaban:
Mingi jatuh cinta pada Yunho.
Mingi kembali mengisi laman kosong di kotak pencarian,
Apakah pria bisa menyukai sesama pria?
Kebanyakan dari jawaban di internet mengacu pada satu jawaban:
Tidak.
Dada Mingi serasa mencelos, tubuhnya lemas dan kepalanya terasa sedikit pening. Punggungnya ia sandarkan sepenuhnya pada bangku roda seiring ia berputar sembari menatap langit-langit kamar.
Jadi, perasaannya pada Yunho ini tidak seharusnya ia rasakan?
Satu per satu tangannya mempreteli kancing kemejanya, menampilkan kaos dalamannya yang sudah lepek oleh keringat. Dahinya ia pijat, sebelum sebuah notifikasi muncul di layar komputernya.
From: [email protected]
Song Mingi, kau meninggalkanku tadi ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ sakit rasanya, kau tahu! Kalau gitu, bagaimana kalau kita makan ramyeon di taman dekat rumah kita?
Mingi hanya melihat sekelibat sebelum melepaskan kemejanya seluruhnya, begitupun dengan kaos dalamannya sebelum melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan wajah membenam ke kasur.
Ia tidak bisa terus-terusan seperti ini. Mingi harus melupakan Yunho. Mingi harus menghapus perasaan ini.
Akhirnya, pesan dari Yunho itu ia biarkan semalaman tanpa ia balas.
-
"Adakah yang kau sesali pada masa mudamu?"
Aku menyesalinya saat aku membiarkannya pergi begitu saja.
"Siapa?"
Cinta pertamaku.
-
Mingi menghindari Yunho semenjak hari itu, debar di dadanya berubah menjadi rasa sakit yang membuat Mingi sesak. Ia bahkan meminta pada wali kelas mereka untuk pindah tempat duduk ke bagian depan. Ketika ditanya alasannya apa, Mingi hanya menjawab bahwa ia ingin lebih fokus untuk mengejar nilainya yang rendahnya minta ampun itu.
Sejujurnya, persetan dengan nilai.
Mingi ingin menghindari Yunho. Oleh karena itu ia lebih memilih untuk duduk di bangku yang paling ia hindari, makan siang di tempat yang terpencil, hingga pulang diam-diam tanpa sepengetahuan Yunho.
Semua ini akan berjalan baik, Mingi bisa menghapus perasaan ini dengan cepat. Tidak ada masalah.
Hari berganti minggu, dan Mingi mendapati berpuluh-puluh pesan surel masuk ke komputernya tanpa ia buka. Semua dari pesan itu dari Yunho, namun Mingi enggan membukanya. Dadanya terasa berat saat ia memutuskan untuk mengabaikan pesan Yunho. Ia menghela nafasnya frustasi saat ia menatap langit-langit kamar.
Apakah melupakan seseorang akan terasa sesakit ini?
Mingi ini dasarnya pelupa, namun kali ini ia tidak bisa melupakan bayang-bayang Yunho di otaknya. Yunho yang terus menyunggingkan senyuman bodohnya di hadapan Mingi, Yunho yang selalu melontarkan candaan garing untuk membuatnya tertawa, hingga ekspresi keheranan Yunho saat mendapati Mingi menghindarinya.
Benar juga, Yunho pasti bertanya-tanya akan situasinya saat ini. Namun semua ini akan berakhir saat ia bisa melupakan perasaan bodoh ini dan menghadap Yunho seperti sedia kala.
Itu yang Mingi kira, sebelum hari itu tiba. Saat bel pulang berbunyi, Mingi seperti biasa langsung menyelinap keluar begitu Yunho tidak melihat. Langkahnya terlihat santai sebelum tubuhnya menegang begitu mendapati sosok pria duduk di atas ayunan, tatapannya kosong sebelum mata mereka bertemu.
Itu Yunho.
Mingi hendak menghindarinya, namun Yunho berlari begitu cepat dan menahan tangannya agar Mingi tidak kemana-mana.
Sial! Mingi terjebak!
Jantungnya kembali berpacu cepat, ia menatap Yunho yang wajahnya kini datar. Tidak ada pancaran bak efek komik disana. Apa akhirnya perasaan ini hilang? Namun, rasanya itu terjadi karena Yunho nampak murung kali ini.
"Mingi, jangan pergi. Kumohon."
Akhirnya Mingi berhenti, keduanya kini berhadapan dengan Yunho yang menatap Mingi lamat, "Kenapa kau menghindariku?" suaranya terdengar parau, membuat Mingi mengernyit heran.
"Aku tidak—"
"Kau menghindariku, Mingi. Kau mengabaikan email-ku." Yunho menghela nafas, tangannya masih menggenggam tangan Mingi, tanpa sadar tautan mereka enggan lepas di bawah sana.
"Yunho, aku.."
"Kalau kau tidak mau berteman lagi denganku, maka kau harusnya senang. Karena mulai besok aku tidak akan tinggal disini lagi."
Jantung Mingi serasa merosot ke kaki, tatapannya membelalak ke arah Yunho. Sakit. Sesak. Nafas Mingi perlahan memberat seiring dengan atmosfer yang kian menebal.
"Kau, apa?"
"Aku akan pindah dari sini, Mingi. Aku akan pindah ke luar kota. Kita tidak perlu bertemu lagi setelah ini. Aku menunggumu disini untuk mengucapkan selamat tinggal. Jaga dirimu, ya." Tidak hanya Mingi, nafas Yunho juga terasa memberat. Namun Yunho tersenyum disana. Senyum yang terasa dipaksakan.
Tanpa sadar, mata Mingi kian panas hingga air matanya menetes dari pelupuk matanya.
"Maaf, aku— aku harus pergi." Tautan tangan mereka terlepas dengan Mingi yang berlari pergi meninggalkan Yunho yang mematung di tempat. Dengan kaki yang berlari cepat, air mata Mingi juga semakin deras turun dan terbawa angin.
Mingi bodoh! Harusnya kau disana memeluknya! Ucapkan selamat tinggal, bukannya malah pergi!
Semua itu tersimpan di dalam hatinya, sedangkan otak Mingi memerintahkannya untuk pergi agar Yunho tidak melihat Mingi yang serapuh ini, serentan ini, yang kini terkulai lemas di lantai kamarnya dan meraung keras sembari meremas kemejanya.
Dadanya berdegup kencang, namun kali ini ditambah dengan beribu jarum yang menghujamnya hingga berdarah-darah.
Yunho akan meninggalkannya.
Mingi akan kehilangan Yunho.
Mingi bahkan tidak kuat untuk berangkat ke sekolah keesokan harinya, matanya sudah membengkak akibat semalaman menangis. Kini ia mencuri sepeda milik kakaknya untuk menyusuri jalanan sekitar untuk menjernihkan kepalanya, ia bahkan melewati taman yang biasa ia dan Yunho singgahi.
Taman yang menjadi saksi perpisahan mereka.
Perpisahan…
Mingi belum berpisahan dengan Yunho.
Pedal sepeda ia kayuh crpat menyusuri jalanan yang kosong, hanya Yunho di pikirannya. Yunho dengan tingkahnya bak anak anjing besar itu, Yunho dengan segala kejahilannya itu, Yunho yang selalu menemaninya, Yunhonya, Jeong Yunhonya.
Ia harus bertemu dengan Yunho. Ia harus mengatakan seluruh isi hatinya sebelum terlambat. Keringatnya mengucur deras sebelum ia mendapati sebuah truk besar di hadapan rumah Yunho dengan sang empu rimah memanjat naik ke dalam truk. Mingi belum terlambat.
"Yunho!" Ia berteriak, bersamaan dengan deru mesin truk yang menandakan truk akan berjalan meninggalkan rumah.
Tidak. Tidak.
Mingi kembali mengayuh sepedanya mengejar truk. Pikirannya berkecamuk bersamaan dengan truk yang kian cepat membawa Yunho pergi. Truk itu kini masuk ke jalan raya, dengan makin banyak kendaraan menghalangi Mingi untuk mengejar Yunhonya.
"YUNHO!" Mingi terus berteriak sembari mengayuh sepedanya, segala perandaian muncul di otaknya. Bagaimana jika Yunho mendapat kekasih di sekolah barunya? Bagaimana jika ia melupakan Mingi? Bagaimana jika mereka tidak bertemu lagi?
"JEONG YUNHO!" Dada Mingi kian sesak, pasokan oksigennya menipis seiring dengan rasa cintanya pada Yunho yang semakin membuncah. Seluruh kenangannya dengan Yunho berputar bak kaset kusut di dalam kepala.
Aku mencintaimu, Jeong Yunho!
Itu yang mau Mingi teriakkan ke seantero dunia hingga Yunho mendengarnya. Yunhonya, temannya, sahabatnya, cinta pertamanya.
Lampu lalu lintas menyala merah, akhirnya truk itu berhenti begitu pula dengan sepeda Mingi. Ia meraup nafas sebanyak-banyaknya sebelum kepala Yunho menyembul keluar dari jendela truk yang terbuka, ia menatap Mingi dan melambaikan tangannya dengan air mata yang terlihat membasahi pipinya, namun Mingi menyadari—bahwa Yunho tersenyum ke arahnya, di balik air matanya yang berderai itu.
Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu.
Mingi melambaikan tangannya dan membalas senyuman Yunho dengan senyuman lebar nan bodohnya itu.
Dengan begitu, cinta pertama Mingi berakhir seiring dengan musim yang berganti.
