Actions

Work Header

What If [4] Pangku Purel

Summary:

Last update💓

Notes:

Quick heads up! Ini adalah Alternate Universe (AU) tempat Ashton as a corporate employee dan Jemi as a lady companion. Not canon compliant dengan cerita utama Jemi & Ashton yang sebelumnya, ya.
Mind the tags and enjoy!

Purel; singkatan pelesetan atau penyesuaian dari kata Public Relations karena tugasnya menjalin komunikasi dan menemani tamu. Istilah bahasa jawa dalam penggunaan sehari-hari di Indonesia lebih sering merujuk pada pemandu lagu atau pemandu karaoke (LC atau lady companion) di tempat hiburan malam. 

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


Semua berawal dari selebrasi kemenangan pitching proyek bernilai miliaran. Acara resmi kantor di restoran hotel bintang lima sebenarnya sudah selesai jam sepuluh malam. Orang-orang HR dan para manajer wanita sudah pamit pulang duluan. Harusnya, Ashton juga ikut rombongan yang pulang.

Tapi dasar Pak Hando, si bos besar yang energiknya mirip trafo listrik, tangan Ashton keburu dirangkul erat. "Eh kamu, Ashton! Jangan pulang dulu, kamu kan yang bikin slide presentasinya tembus! Malam ini kita rayain yang beneran!"

Dan di sinilah Ashton berakhir.

Dingin udara AC central yang diset di angka 18 derajat terasa menusuk kulit, tapi punggung Ashton justru basah oleh keringat dingin.

Di dalam ruangan Executive Karaoke berukuran super jumbo itu, jarak antara realitas dan kegilaan seolah kabur. Ruangan itu minim cahaya, hanya disorot lampu-lampu redup dengan warna keemasan dan ungu pekat yang mewah, memberikan kesan eksklusif sekaligus intimidatif. Dentuman subwoofer yang tertanam di bawah panggung kecil menggelegar, menghantam dada Ashton sampai rusuknya ikut bergetar seirama dengan bassline lagu house yang diputar asal-asalan.

Rombongan mereka ada sekitar 12 orang laki-laki, para petinggi, senior, dan beberapa account executive. Meja marmer panjang berbintik emas di tengah ruangan sudah dipenuhi botol-botol minuman keras impor berlabel hitam dan emas dengan kadar alkohol lebih dari 45%, wadah perak berisi es batu yang sudah separuh mencair, serta pelat-pelat porselen berisi camilan mahal yang sama sekali tak tersentuh. Bau alkohol kencang beradu dengan asap rokok cerutu yang mulai mengepul tipis di bawah langit-langit.

Ashton duduk memojok di ujung sofa kulit sintetis berwarna cokelat gelap. Jarinya yang gemetar tipis terus-menerus memilin pinggiran kemeja kerja bahan cotton-blend-nya yang masih terpasang rapi bahkan pintalan dasi garis-garisnya cuma dikendorkan beberapa sentimeter dari kerah.

Dia jarang banget atau lebih tepatnya, tidak pernah ikut acara bapak-bapak kantor yang mlenceng sampai sejauh ini. Sebagai anak Gen Z, preferensi malam Ashton sangat berseberangan. Kalaupun mau merayakan sesuatu atau unwind, Ashton lebih memilih clubbing di tempat yang proper dengan tata cahaya laser yang estetik, atau sekadar minum cocktail tenang di hidden bar kecil yang private, remang, dan dipenuhi musik jazz atau indie. Bukan di dalam ruangan tertutup kedap suara beraroma maskulin dominan, tempat para senior merayakan patriarki dan kekuasaan dengan cara yang menurutnya sangat outdated dan menyesakkan.

"Santai aja, Ton! Muka kamu tegang amat kayak nungguin audit pajak!" seru Mas Danang, senior divisi marketing yang dasinya sudah diikat di dahi, sambil menepuk paha Ashton keras-keras sampai paha Ashton terasa panas.

Sebelum Ashton sempat menyusun kata-kata untuk membalas, pintu tebal berornamentasi kayu mahoni di ujung ruangan mendadak terbuka. Pak Hando berdiri di dekat pintu sambil menyeringai lebar, matanya sudah sedikit sayu dan memerah akibat pengaruh alkohol menepuk tangan dua kali dengan gaya sok misterius yang dramatis.

"Oke, boys! Hadiah atas kerja keras kalian bulan ini!" seru Pak Hando setengah berteriak menyaingi suara musik background yang memekakkan telinga.

Lalu, parade itu dimulai.

Pintu terbuka lebar-lebar dan rombongan Lady Companion (LC) masuk satu per satu secara berurutan. Satu, dua, tiga... Ashton mulai menghitung dalam hati, matanya membelalak lebar di balik kacamata. Ada sekitar 15 orang perempuan dengan gaun-gaun malam yang minim, membungkus ketat lekuk tubuh mereka. Wewangian parfum bermerek campuran manis vanilla, amber, dan aroma bunga yang tajam langsung menyengat udara, mengalahkan bau asap cerutu. Riasan wajah mereka dipulas sempurna; smokey eyes, highlight yang memantulkan lampu redup, dan gincu merah menyala yang tampak mencolok di kegelapan.

Jumlah LC-nya bahkan lebih banyak daripada jumlah rombongan laki-laki di ruangan itu.

Ruangan yang tadinya hanya diisi sorak-sorai kasar bapak-bapak mendadak makin riuh oleh gelak tawa, siulan, dan sapaan-sapaan manja. Pak Hando, dengan sisa-sisa wibawa bosnya yang kini cair oleh alkohol, langsung membagikan "pasangan" duduk dengan nada komando ala jenderal perang.

"Nah, yang ini buat anak emas kita! Ashton!" Pak Hando menunjuk lurus ke arah sudut tempat Ashton mengkeret.

Ashton makin meleset masuk ke dalam lipatan sudut sofa kulit, berusaha keras merapatkan punggungnya seolah-olah dia bisa menembus dinding dan menghilang dari sana.

Anjing, si bapak udah teler makin ngaco, maki Ashton dalam hati, rahangnya mengatup rapat. Ruang geraknya mendadak terasa makin sempit.

Dua orang bergaun elegan dan seksi langsung berjalan mendekati sudut Ashton. Yang satu mengenakan dress sutra merah tanpa lengan dengan belahan dada rendah, sementara yang satunya lagi memakai mini dress hitam bertabur glitter yang berkilau setiap kali terkena pendar lampu redup. Langkah kaki mereka dengan sepatu high heels sembilan sentimeter terasa begitu mantap, memotong jarak antara tempat Ashton bersembunyi dan ilusi pesta yang dipaksakan ini.

"Hai, Mas... Tegang banget sih duduknya?" suara manis nan serak-basah menyapa telinga kiri Ashton.

Tanpa menunggu gestur menyuruh, cewek berambut panjang bergelombang itu langsung mendaratkan tubuhnya di atas sofa empuk, tepat di sebelah kiri Ashton. Jarak mereka ter pangkas habis. Aroma wangi vanilla musk yang hangat, pekat, dan tajam langsung melingkupi indra penciumannya, memblokir bau asap cerutu di ruangan.

"Permisi ya, Mas..." belum sempat otak Ashton memproses kehadiran yang di kiri, cewek berambut sebahu di sebelah kanannya ikut menyusul. Dia merapatkan posisi tanpa jarak hingga bahan kain halus dari dress glitter-nya menempel ketat di kemeja Ashton, membuat kulit lengannya bisa merasai kehangatan tubuh cewek itu secara langsung.

Ashton membeku total. Posisinya mendadak terkunci bagaikan patung batu. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat daripada saat dia berdiri di depan jajaran direksi untuk mempresentasikan deck proyek tadi siang. Seluruh otot tubuhnya menegang kaku. Tangannya bingung harus ditaruh di mana, ditaruh di atas paha sendiri rasanya serba salah, mau melipat tangan di dada makin kelihatan aneh dan defensif, akhirnya jarinya cuma memegang pinggiran celana kainnya sampai meremasnya erat.

"Eh... i-iya, Mbak... malam," jawab Ashton patah-patah dengan artikulasi yang berantakan. Suaranya yang pelan bahkan hampir tenggelam penuh oleh lolongan Mas Danang di panggung kecil, yang kini sudah memegang mikrofon dan menyanyikan lagu rock jadul 90-an dengan nada sumbang yang menusuk telinga.

"Kenalan dulu dong, aku Bella," kata cewek di sebelah kirinya sambil tersenyum simpul, mengulurkan sebelah tangan dengan kuku-kuku jemari yang terawat rapi bersepuh warna nude.

"Aku Chika," timpal cewek di sebelah kanan dengan gerakan luwes menyambar botol minuman beralkohol tinggi. Dengan lihai, jarinya menuangkan cairan keemasan itu ke atas gelas kristal Ashton yang penuh es batu. "Masnya kok diam aja dari tadi? Enggak suka minum, ya? Mau dijus-in buah aja?"

"Eng-enggak usah, Mbak... makasih," potong Ashton cepat, reflek mengibaskan tangannya halus begitu Chika menyodorkan gelas bernuansa alkohol tinggi itu ke dekat bibirnya. Saat Bella mencoba menyodorkan tusukan buah melon segar ke mulutnya, Ashton kembali menggeleng canggung sambil sedikit memundurkan kepalanya. "Makasih, saya... saya masih kenyang."

Aura mau pulangnya benar-benar memancar kencang. Sikap menolak yang ditunjukkan Ashton bukan dibuat-buat gerak-geriknya penuh gestur ketidaknyamanan yang transparan. Setiap kali dua cewek di sisinya mencoba mengambil hati dengan mengipasi wajahnya pakai kipas lipat bulu atau mengajak obrolan ringan seputar pekerjaan, Ashton hanya membalas dengan anggukan singkat, senyum kaku, dan tatapan mata yang terus-menerus melirik ke arah jam tangan analog di pergelangan kirinya.

Tuhan... batin Ashton meratapi nasib sambil menelan ludah kasar yang terasa pahit di tenggorokan. Mending gua ngeles aja tadi jir, udah rebahan sambil scroll TikTok gua jam segini.

Di seberang ruangan, pemandangan makin liar. Pak Hando sudah tertawa terbahak-bahak dengan wajah merah padam sambil merangkul dua LC sekaligus, sementara beberapa senior lain mulai menari-nari tak beraturan mengikuti irama lagu. Di tengah chaos dan rasa terasingnya itu, perhatian Ashton mendadak teralih oleh sebuah distraksi di area depan panggung.

Salah satu LC tampak mengambil alih mikrofon kedua dan menyanyikan lagu bertempo uptempo dengan vokal yang cukup prima, sementara di sebelahnya di tengah pendar redup panggung ada seorang perempuan lain yang mulai bergerak menari.

Gerakannya tidak asal-asalan. Cewek itu menari dengan amat lihai, meliukkan tubuhnya seirama dengan dentuman bassyang menghantam lantai. Setiap gestur jemarinya, sapuan kakinya, hingga ayunan pinggulnya terasa begitu eksotis dan natural, seolah panggung karaoke suram ini berubah jadi panggung pribadinya.

Ashton tanpa sadar menyandarkan punggungnya ke sofa, matanya terpaku penuh pada sosok itu.

Walau berada di bawah siluet cahaya warna-warni yang redup dan remang, Ashton yakin seratus persen perempuan itu punya paras yang luar biasa cantik. Ada kesan galak yang sangat spesifik dari garis wajahnya, pipi yang tegas, bibir terkatup penuh percaya diri, dan mata sayu dengan pandangan yang tajam menancap. Tatapan perempuan itu memancarkan aura menggoda yang dingin, begitu kontras dengan keriuhan murahan di sekeliling mereka.

Ashton terus memperhatikan, terhipnotis oleh cara perempuan itu bergerak. Sampai di satu hitungan musik... kepala si penari mendadak berputar tipis.

Di antara temaram ruangan dan asap rokok yang mengambang, pandangan tajam si perempuan penari itu melayang tepat ke sudut remang tempat Ashton berada dan matanya mengunci pandangan Ashton secara langsung.

Tatapan mata penari yang mengunci Ashton dalam kegelapan itu tidak bertahan lama, ia memutuskan kontak mata dengan satu senyuman tipis yang terkesan nakal dan sangat mengunci perhatian. Dari atas panggung kecil, si penari mulai menurunkan tempo gerakannya, melangkah turun menyusuri lantai karpet tebal menghampiri area sofa tempat rombongan kantor Ashton melingkar.

Irama musik yang dinyanyikan oleh Rika, LC dengan vokal prima bernada tinggi yang makin menggila menjadi latar sempurna bagi aksi Jemi si penari.

Jemi berjalan meliuk di antara meja marmer. Dengan penuh percaya diri dan gestur eksotis yang mengintimidasi, ia mulai menjamah beberapa rekan kerja Ashton. Jemari lentiknya mendarat ringan di bahu Mas Rizal, memutar kepala senior itu sedikit hingga Mas Danang bersorak kegirangan. Ia berpindah melintas, menyapu dada Pak Hando dengan ujung jemarinya perlahan, membuat bos besar itu tertawa lepas sambil mengangkat gelas kencang-kencang. Setiap sentuhan genitnya terukur, tidak murahan, tapi sanggup membakar suasana ruangan.

Dan sasaran utamanya adalah sudut remang tempat si anak emas bersembunyi.

Ashton menahan napas saat Jemi mendekatinya. Dua LC di sisi Ashton, Bella dan Chika, menyisih sedikit memberi ruang. Jemmy membungkuk pelan, memperpangkas jarak hingga aroma parfum bernuansa woody-floral yang misterius menusuk hidung Ashton.

Tanpa ragu, ujung jemari lentik Jemmy menyapu garis rahang Ashton, naik perlahan mengusap pipinya halus. Ibu jari Jemmy sempat berhenti sejenak di dekat sudut bibir Ashton, sementara mata sayunya yang galak menatap lurus ke dalam iris mata Ashton yang membelalak pasrah.

"Halo mas ganteng..." bisik Jemmy pelan, hampir tak terdengar di balik musik, sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali sambil mengedipkan satu matanya.

"WAAAAH! SI ASHTON KENA JUGA!"

"ANJIR, ANAK BARU DICOBAIN JEMI!"

“KATA GUE BUNGKUUUSS TON!”

Sorak-sorai dan tawa pekat dari rekan-rekan kerja Ashton langsung meledak memecah ruangan. Mas Danang sampai memukul-mukul meja, sementara Pak Hando bersiul nyaring. Ashton merasakan sensasi panas membakar dari leher hingga ke telinganya. Sentuhan singkat itu meninggalkan bekas yang anehnya... membuat jantung Ashton berdegup bukan lagi karena canggung, melainkan rasa tertarik yang mendadak muncul. Perempuan bernama Jemi itu benar-benar punya pesona yang berbahaya.

Lagu bernada beat cepat itu akhirnya mencapai puncaknya. Rika menutup penampilannya dengan satu nada tinggi yang mulus, disusul lekukan tubuh terakhir dari Jemi di tengah ruangan sebelum keduanya menunduk hormat dengan gaya menggoda.

WUUUUU!

Ruangan langsung penuh dengan riuh tepuk tangan, siulan bersautan, dan teriakan kepuasan dari bapak-bapak kantor yang sudah kepalang teler. Rika menaruh mikrofon di meja, sementara Jemi berdiri santai sambil membenarkan gaunnya yang sedikit tersingkap.

Tanpa jeda, suasana profesionalitas tipis yang tadi sempat ada langsung menguap total. Beberapa senior yang sudah tidak sabar dan pengaruh alkoholnya sudah di puncak, mulai bertindak frontal.

"Rika! Sini kamu, suara kamu mantap banget!" teriak salah satu manajer senior sambil menarik lembut lengan Rika untuk duduk di pangkuannya. Rika tidak menolak; ia malah tertawa manja, melingkarkan tangannya di leher sang manajer dan mulai melayani dengan gaya blak-blakan, menyuapkan buah langsung dari mulutnya, membiarkan jemari pria itu bergerilya di pinggangnya tanpa sungkan.

Rekan-rekan kerja yang lain pun tak kalah makin liar. Pelukan, rabaan halus, hingga ciuman singkat di pipi dan leher mulai terjadi secara terbuka di berbagai sudut sofa. Tidak ada lagi rasa malu. Pelayanan para LC malam itu benar-benar all-out, mesum, dan sangat frontal untuk memenuhi ego dan kehausan para pria bermodal tebal di ruangan itu.

Di tengah situasi chaos bernuansa dewasa yang makin tak terkontrol di ruangan itu dengan aroma alkohol yang memikat dan kepulan asap cerutu yang kian tebal mata Ashton secara refleks kembali mencari-cari sosok Jemi. Ada daya tarik aneh yang bikin matanya tidak berpaling dari figur yang baru saja membelai pipinya tadi.

Namun, alih-alih melangkah mulus ke sudut tempat Ashton bersembunyi, langkah Jemi mendadak terhenti di tengah jalan.

Pak Tio salah satu atasan senior yang wajahnya sudah merah padam bagai udang rebus dan matanya sayu akibat pengaruh alkohol tiba-tiba berdiri dari sofanya dengan sempoyongan. Pria bertubuh gempal itu menghadang jalan Jemi, tersenyum lebar dengan kerlingan mata yang kelewat vulgar. Jarinya yang gemetar mencoba meraih ujung gaun Jemi.

"Duh, yang nari tadi... sini dulu dong, Cantik," igau Pak Tio, suaranya parau dan berat. Tanpa tedeng aling-aling, melecehkan Jemi secara terang-terangan di depan semua orang. "Tarif berapa adek manis? Saya keluar dalem boleh?"

Pertanyaan sembarangan dan kelewat batas itu lolos begitu saja dari mulut Pak Tio tanpa disaring.

Ashton yang mendengar ucapan itu otomatis menahan napas, dadanya berdegup kencang karena kaget. Rasanya cringe dan sangat tidak sopan. Tapi anehnya, Jemi sama sekali tidak menunjukkan raut wajah terkejut, marah, atau risih. Wajah cantiknya yang galak itu justru mengembang menjadi sebuah senyuman manis nan menawan, seakan-akan kalimat pelecehan semacam itu sudah jadi makanan sehari-hari yang sangat membosankan baginya.

Jemi memiringkan kepalanya sedikit, merapikan helai rambutnya ke belakang telinga, lalu melangkah satu titik lebih dekat ke arah Pak Tio.

"Om..." panggil Jemi.

Namun, kali ini yang keluar dari bibir bergincu merah itu bukan lagi nada tinggi yang genit dan centil—seperti vokal halus yang tadi sempat berbisik pelan saat jemarinya membelai rahang Ashton.

"...Saya lanang, lho."

(saya laki-laki, loh.)

Suara bass yang dalam, berat, dan murni milik seorang laki-laki dewasa mendadak menggelegar keluar dari kerongkongan Jemi, walaupun terkesan dibuat-buat tapi cukup bergema memotong dentuman subwoofer karaoke.

DUAR.

Rahang Ashton jatuh seketika. Matanya membelalak selebar-lebarnya di balik kacamata. Otaknya mendadak freeze, mencoba mencerna kombinasi antara paras luar biasa cantik, gaun seksi meliuk-liuk, gerakan tari yang sangat eksotis... dan suara bariton cowok yang baru saja terlepas dari mulut sosok di depannya.

"WAAAAAHAAHAHAHA! ANJIRRRR!"

"MAMPUS KAU, TIO! DIKIRA CEWEK BENERAN!"

"ANAK ORANG DIEMBAT JUGA KAN TELERNYA!"

Seluruh penghuni ruangan, mulai dari Pak Hando, Mas Danang, para senior lain, sampai rombongan LC perempuan di sana meledak dalam tawa terbahak-bahak. Ruangan executive itu seketika diwarnai huru-hara komedi liar. Pak Tio yang mendadak disadarkan oleh realitas pahit hanya bisa melotot, mukanya yang tadi merah karena mabuk kini berubah makin merah padam karena malu setengah mati. Tapi karena kepalanya sudah teler berat, Pak Tio cuma bisa menyeringai kaku sambil terbahak sendiri, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur di lantai karaoke.

Di tengah kehebohan dan tawa membahana yang memenuhi ruangan, Jemi hanya terkekeh pelan masih dengan suara bass-nya yang santai dan renyah. Tanpa sedikit pun memedulikan Pak Tio yang makin salah tingkah dan digarok ejekan dari kawan-kawannya, Jemi mengibaskan bagian bawah gaunnya dengan elegan, lalu melangkah santai melintasi ruangan. Tujuannya sangat jelas: berjalan lurus menuju sudut remang tempat Ashton duduk kaku bagai patung.

Kedatangan Jemi seakan membawa sinyal yang dipahami secara otomatis. Bella dan Chika yang sedari tadi menemani Ashton langsung menyingkir tanpa banyak bicara. Mereka memilih bergeser menghampiri meja Pak Hando, yang saat itu sudah memegang seikat tebal lembaran uang merah bernilai paling tinggi dan mulai membagikannya dengan riang bagai membagi hadiah pesta.

Jemi mengambil alih tempat di sebelah Ashton. Saat mendaratkan tubuhnya di sofa empuk itu, Jemi menyilangkan kakinya yang jenjang, membuat belahan gaun malamnya tersingkap drastis hingga jauh ke atas paha, memamerkan kulit mulusnya yang berpendar di bawah cahaya remang keemasan.

Aroma parfum woody-floral yang tajam dan misterius langsung menusuk hidung Ashton. Tanpa ragu, jemari lentik Jemi mulai bergerak perlahan. Ujung jarinya menempel, meraba lembut kain serat kemeja kerja Ashton yang lengannya sudah terlipat sembarangan namun tetap terlihat rapi, merambat pelan dari pergelangan hingga membelai ketegangan di lengan atasnya.

Dengan senyum tipis yang penuh pesona menggoda kali ini kembali memperlihatkan senyuman misterius khasnya Jemi mengedipkan sebelah matanya ke arah Ashton.

"Kenapa, Mas? Kaget, ya?" bisik Jemi pelan. Suaranya kembali berganti menggunakan nada halus nan genit yang terdengar begitu merdu sekaligus bikin tengkuk merinding.

Ashton tak langsung bersuara. Dengan sisa-sisa rasa syok yang masih bersarang di kepala dan tenggorokan yang mendadak terasa amat kering, Ashton hanya mengangguk pelan sebuah pengakuan jujur dan polos yang sangat pasrah.

Bukannya makin menjauh seperti sebelumnya, tangan Ashton justru terulur ke meja marmer di depannya. Jarinya menyambar gelas kristal berisi vodka dingin bermuatan es batu yang tadi sempat dituangkan oleh Bella. Ashton membawa rim gelas itu ke bibirnya, menyesap cairan keras yang membakar tenggorokannya itu sedikit demi sedikit untuk menetralisir rasa gugup.

Ashton membiarkan gelas itu tertahan di genggamannya, sementara di sisinya, ia pasrah membiarkan telapak tangan Jemi yang hangat terus mengusap dan meraba lengan kemejanya secara intuitif sebuah kepasrahan yang diam-diam mulai mengubah rasa canggungnya menjadi ketertarikan yang tak terelakkan.

Di dalam ruangan Executive Karaoke itu, situasi sudah benar-benar melompati batas kendali. Alkohol dengan kadar tinggi sukses melumpuhkan kesadaran hampir seluruh orang. Pak Tio sudah terkapar di sofa dengan kemeja terbuka separuh, Mas Danang makin liar meliuk-liuk di depan layar monitor sambil merancau lagu rock, sementara beberapa senior lain makin frontal bercumbu dengan para LC tanpa memedulikan tempat. Semuanya tenggelam dalam dunia masing-masing, tersedot oleh euforia malam yang makin pekat.

Di tengah kegilaan itu, sudut sofa tempat Ashton dan Jemi berada mendadak terasa bagai sebuah pulau terisolasi.

"Gak apa-apa kan, Mas, kalau saya yang temenin minum? Atau... Mas-nya jadi risih gara-gara tahu saya cowok?" tanya Jemi pelan.

Ada kerlingan nakal dan nada genit yang tersirat di tiap nada suaranya. Tapi sungguh, di mata Ashton yang kepalanya mulai agak berat akibat sips vodka, fakta bahwa sosok di sampingnya ini seorang laki-laki mendadak mengabur. Jemi benar-benar cantik. Di bawah temaram pendar lampu emas dan ungu, pahatan wajah Jemi terlihat seperti punya garis blasteran—campuran tegas dan lembut yang rasanya tidak nyata. Mirip bidadari, batin Ashton polos.

"Oh... gak apa-apa Mbak... eh, Mas... eh, Kak..." jawab Ashton gagap, salah tingkah sendiri. Lidahnya kelu, terlebih lagi matanya refleks melirik berturut-turut ke arah paha mulus Jemi yang tersingkap bebas dari belahan gaunnya.

Jemi terkekeh renyah melihat tingkah polos itu. "Panggil Jemi aja, Mas Ganteng." Ia memiringkan kepalanya, menatap Ashton penuh minat. "Saya gak pernah liat Mas Ganteng di sini. Beneran anak baru, ya?"

"I-iya Kak... eh, iya, Jemi," sahut Ashton patah-patah. Untuk menutupi canggung yang membakar sampai ke telinganya, Ashton kembali meneguk vodka dingin di gelasnya, membiarkan sensasi terbakar menelusuri kerongkongan.

Tiba-tiba, dari sebelah kiri Jemi, situasi makin riuh. Dua orang senior yang sudah mabuk berat mendesak maju, berniat mengambil botol minuman baru di meja. Dorongan fisik yang tak terkontrol itu membuat posisi duduk Jemi semakin terdesak ke kanan. Jemi terhimpit kencang ke arah Ashton, membuat gaunnya bergesekan kasar dengan celana kain Ashton.

"Aduh..." keluh Jemi pelan, posisi tubuhnya mendadak jadi sangat tidak nyaman dan serba sempit karena himpitan dari samping.

Ashton yang panik melihat Jemi kepentok sudut sofa refleks memegang pinggang Jemi untuk menahannya. "Eh, sori—kena himpit ya?"

Jemi menoleh, tatapan matanya yang sayu namun tajam mengunci mata Ashton dari jarak yang sangat dekat hanya berselisih beberapa sentimeter. Bukannya bergeser menjauh atau merapikan duduknya, senyum tipis yang penuh pesona menggoda kembali terukir di bibir Jemi.

"Daripada sempit-sempitan gini..." bisik Jemi dengan suara bariton pelannya yang hangat, terasa berhembus tepat di celak leher Ashton.

Tanpa ragu, Jemi mengangkat kakinya yang jenjang, menggeser tumpuan tubuhnya, dan dengan gerakan yang teramat halus nan gemulai, ia memutar posisi memanjat naik dan mendaratkan tubuhnya tepat di atas pangkuan Ashton.

Paha mulus Jemi yang hangat kini menempel penuh di atas paha Ashton. Gaunnya terangkat makin tinggi, sementara kedua lengan lentik Jemi melingkar santai di sekeliling leher kemeja Ashton. Wewangian woody-floral manis kini mengepung seluruh indra penciuman Ashton tanpa tersisa.

Ashton membeku total. Tangannya yang memegang gelas vodka hampir saja goyah, sementara tangan satunya lagi secara refleks tertahan di pinggang ramping Jemi, menahan bobot tubuh penari itu agar tidak jatuh.

"Nah... gini kan jauh lebih enak, Mas Ganteng," bisik Jemi manja. Kepala cewek atau lebih tepatnya laki-laki di pangkuannya itu menunduk sedikit, menyisakan jarak selapis udara di antara wajah mereka. Iris matanya yang berhias eyeliner tegas menatap lurus ke arah Ashton, menikmati bagaimana napas anak muda itu mendadak memburu dan patah-patah di bawah pangkuannya.

"Gak apa-apa, kan?"

Ashton hanya bergeming. Lidahnya benar-benar kelu, seperti kehilangan fungsi dasar untuk mengartikulasikan kata. Telapak tangannya yang bertengger kaku di pinggang Jemi bisa merasakan betapa rampingnya lekuk tubuh itu sangat ramping, ringkih, sekaligus padat di saat yang bersamaan. Kalau bukan karena bisikan ber-nada bariton yang sempat meluncur dari kerongkongan sosok ini beberapa saat lalu, Ashton dijamin bakal keras kepala mendebat siapa pun yang berani bilang kalau Jemi adalah seorang laki-laki. Parasnya terlalu jelita, garis rahangnya terlalu halus, dan sapuan makeup-nya terlalu sempurna.

Ditambah lagi dengan bongkahan kenyal yang kini mendarat pas di atas pahanya empuk, berisi, dan menyalurkan kehangatan tubuh yang langsung menembus celana kain bahan kemeja kerja milik Ashton. Sentuhan itu menyetrum sarafnya, memicu desakan adrenalin yang belum pernah Ashton rasakan sebelumnya di bar-bar private biasa.

"Mas Ganteng?" panggil Jemi sekali lagi. Suaranya kembali mengayun lembut, serak-serak basah yang menggoda.

Melihat Ashton yang masih terpesona bagai dihipnotis, jemari lentik Jemi terulur meraih gelas kristal yang dipegang kaku oleh Ashton. Jemi mengambil alih gelas itu, memiringkan rimnya perlahan, lalu menyuapkannya tepat ke bibir Ashton.

Ashton yang perlahan kehilangan kewarasannya hanya menurut. Ia membuka bibirnya pasrah, membiarkan cairan vodka dingin bernuansa pekat itu mengalir membasahi tenggorokan. Rasa terbakar yang menyengat langsung menjalar ke dada, menyebarkan rasa hangat yang membuat pandangannya sedikit bergoyang. Ashton mulai mabuk. Efek alkohol kadar 45 persen itu akhirnya sukses menumbangkan benteng pertahanannya, tapi anehnya, kesadarannya yang tersisa justru makin memfokuskan seluruh perhatian pada sosok indah di atas pangkuannya. Ketertarikan itu berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih intens dan liar.

"Khusus buat Mas Ganteng aja deh..." bisik Jemi lagi, menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan. Dengan luwes, ia menarik dua tangan Ashton yang tadinya ragu-ragu di pinggangnya. "Boleh kok tangannya dipake buat peluk-peluk saya."

Jemi tak berhenti menggoda. Saat mengucapkan kalimat itu, ia dengan sengaja menggeser tumpuan posisinya, meliukkan pinggul dan menggesekkan bokongnya yang padat di atas pangkuan Ashton—mencari posisi paling nyaman sekaligus mengunci Ashton agar tak bisa kabur. Gerakan itu sukses membuat Ashton menarik napas tajam.

"Lu gak takut gua macem-macemin?" tanya Ashton, suaranya kini berubah memberat. Ada nada rendah yang serak akibat pengaruh vodka dan dorongan gairah yang mulai menguasai kepalanya.

Jemi menaikkan sebelah alisnya, mata sayunya memancarkan binar menantang yang begitu pekat. "Emang Mas Ganteng mau macem-macemin cowok kayak saya?"

"Nantangin?" Ashton mengeratkan cengkeramannya di pinggang ramping Jemi.

"Bisa aja, Mas Ganteng," kekeh Jemi renyah, mendekatkan bibirnya ke telinga Ashton hingga embusan napas hangatnya menyapu kulit leher anak muda itu. "Saya malah penasaran... mau dimacem-macemin kayak gimana..."

Tantangan terselubung itu menjadi pemicu terakhir yang meruntuhkan sisa-sisa rasa canggung Ashton. Dengan satu gerakan mantap, Ashton melingkarkan kedua lengannya secara utuh, memeluk erat pinggang ramping Jemi dan menarik tubuh indah itu semakin menempel ke dadanya.

Dari posisi belakang dan samping, Ashton mulai menyusupkan wajahnya ke perpotongan leher Jemi. Ia mendaratkan kecupan-kecupan basah dan hangat di sana—menghirup dalam-dalam kombinasi aroma parfum woody-floral dan kehangatan kulit Jemi. Bibirnya merambat naik, menciumi cuping telinga yang sensitif, menyusuri garis rahang yang tegas, hingga mendaratkan lip-lock lembut di pipi mulus si penari.

"Ohh... macem-maceminnya cuma gini ya, Mas Ganteng?" bisik Jemi, kepalanya terkulai sedikit ke belakang, menyandarkan bobotnya di bahu Ashton sambil menikmati setiap selusur bibir anak muda itu. "Mau deh... Saya suka kalau dicium-cium gini. Apalagi gratisan dari Mas Ganteng."

Ashton menghentikan ciumannya sejenak, menatap mata Jemi dari jarak amat dekat dengan pandangan yang sudah sayu dipengaruhi alkohol dan gairah. "Kalau gini... masih boleh gak gua macem-macemin?"

Tanpa menunggu jawaban lisan, tangan besar Ashton yang semula mendekap pinggang mulai bergerak liar. Tangannya merembet turun menuju paha mulus Jemi—paha jenjang yang sejak awal memasuki ruangan sudah sukses membuat Ashton salfok dan menelan ludah.

Dengan dominasi yang mendadak muncul, jemari Ashton meremas paha yang padat dan kenyal itu cukup kencang. Ia mengusap area kulit bagian dalam paha Jemi dengan tekanan yang pasti, menelusuri kehangatan di sana hingga membuat Jemi refleks menguraikan tumpuan kakinya agak mengangkang di atas pangkuan Ashton untuk memberi akses lebih. Ashton makin hilang kendali; jemarinya kembali meremas kencang paha mulus itu, menyingkap bahan dress malam Jemi hingga terangkat tinggi ke atas, mendekati panggulnya.

Sadar akan posisi Jemi yang kini sangat terbuka dan berpotensi jadi tontonan liarnya para senior di ruangan karaoke yang makin tak beraturan itu, Ashton bertindak cepat.

Dengan tangan satunya yang bebas, Ashton menyambar jas kerjanya yang tadi sempat dilepas dan disampirkan di sandaran sofa. Tanpa melepas cengkeraman tangannya di paha dalam Jemi, Ashton membentangkan jas hitamnya itu, melingkarkannya di atas pangkuan untuk menutupi bagian bawah tubuh Jemi yang sudah mengangkang pasrah di atasnya. Di balik perlindungan kain jas kantor tersebut, jemari Ashton justru makin bebas meraba, meremas, dan menjelajahi paha mulus Jemi yang berada dalam kuasanya.

“Nghh… m-mas ganteng…”

Desahan halus itu lolos begitu saja dari sela bibir bergincu merah Jemi. Napasnya mulai pendek-pendek, menghembuskan udara panas yang menyapu ceruk leher Ashton. Tubuhnya yang semula menyandar santai kini gemetar tipis setiap kali jemari besar Ashton memberikan tekanan ekstra pada permukaan kulit pahanya.

“Tapi nanti saya sange…” bisik Jemi lagi, suaranya melemah, penuh gairah yang tertahan.

“Boleh kan gua macem-macemin gini?” balas Ashton serak.

Sensasi panas vodka dan dominasi yang mendadak meledak di dadanya membuat Ashton makin berani. Di balik tutupan jas kantor hitamnya yang membentang rapi di atas pangkuan, jemari Ashton bergerak kian berani, menyusup makin jauh ke area paling private di antara belahan paha mulus yang sudah terkuak lebar itu.

Namun, di tengah aksinya, gerakan tangan Ashton mendadak terhenti seketika.

Ashton merenung sejenak, matanya yang sedikit sayu mendadak melebar tipis. Lagi-lagi, ia harus dipaksa terkejut oleh sosok di pangkuannya ini. Telapak tangan besar Ashton yang semula berekspektasi meraba gundukan tebal khas anatomy pria seperti yang ia miliki sendiri di balik celana kainnya justru mendapati tekstur yang sama sekali berbeda.

Di balik kain tipis celana dalam milik Jemi, ada kehangatan yang merebak basah. Bukan hanya sekadar lembap, kain itu terasa becek, menyerap cairan licin yang terus merembes keluar dari balik lipatannya. Teksturnya kenyal, lembut, dan merekah.

Masih dengan posisi tangan yang terus meraba dan meremas pelan celana dalam basah itu, Ashton menunduk, bertanya dengan suara rendah yang meluncur polos tanpa jeda berpikir.

“Jemi… lu punya memek?”

Tidak ada kehati-hatian sama sekali dalam pertanyaan tersebut. Astaga, efek alkohol benar-benar membantai habis filter kesopanan seorang Ashton yang biasanya sopan dan teratur di kubikel kantor.

Jemi yang terus-terusan menahan desahan hanya mengangguk pasrah. Kepalanya terkulai ke belakang, pasrah menerima usapan jari-jari Ashton yang tak berhenti bermain di sana. Cairan yang merembes keluar dari balik kain dalam itu makin melimpah, terasa kian licin menyelimuti kulit jemari Ashton.

Di tengah dentuman musik dari TV karaoke yang semakin keras menggelegar menutupi suara-suara liar di dalam ruangan Jemi menengok sedikit ke belakang. Bibir basahnya mendekat hingga hampir menempel di daun telinga Ashton.

“Iya, Mashh… Ganteng…” ungkap Jemi jujur, nada suaranya patah-patah terbata. “Saya punya… tapi masih perawan. Jadi memeknya gampang becek…”

Mungkin ini adalah balasan tak terduga atas keputusan Ashton yang tidak pulang cepat malam ini. Realitas absurd yang jauh lebih panas dari bayangan clubbing atau sekadar minum santai di bar langganannya.

“Pantes… basah kuyub ini celana lu, Jemi,” gumam Ashton sambil menelan ludah. Rasa penasaran dan gairahnya kini sudah membumbung sampai ke ubun-ubun.

“Gua bantu lepasin, ya?”

Ashton main mengambil keputusan sendiri tanpa menunggu persetujuan lisan. Dengan gerakan terampil yang diburu gairah, jemarinya menyelip ke balik karet celana dalam Jemi, menarik kain basah itu meluncur turun melintasi paha mulusnya sampai terlepas sepenuhnya, membiarkan area paling sensitif itu terekspos tanpa sehelai benang pun di balik lindungan jas kantornya.

Sentuhan kulit ke kulit yang langsung membuat Ashton menahan napas.

“Licin banget, Jemi… Memek lu tembem gini, masa ngga ada yang ngiler pengen nyobain?” cetus Ashton takjub. Jemari tangannya kini menyentuh langsung lipatan kenyal yang sudah terlapisi lendir melimpah itu.

Jemi mendesis manis, meremas bahu kemeja Ashton kencang. “Mas Ganteng mau nyobain, emang?”

“Ngga usah lu tawarin, elah,” potong Ashton cepat.

Ashton makin bikin Jemi kelimpungan setengah mati. Ia benar-benar tidak menyangka kalau laki-laki berparas jelita di pangkuannya ini menyimpan gundukan tembam yang begitu hangat, berlendir melimpah, dan sangat responsif terhadap sentuhannya.

Lima jari tangan kanan Ashton sibuk bergerilya di dalam selangkangan Jemi. Ia meraba memek basah itu, mengusapnya sembarangan dari atas ke bawah, memoleskan cairan licinnya ke seluruh permukaan gundukan tembam itu. Perlakuan sedikit kasar dan impulsif dari Ashton justru membuat Jemi mendongak pasrah. Kepala Jemi bersandar sepenuhnya di ceruk leher Ashton, menghembuskan napas-napas panas beraroma manis yang makin membakar gairah sang anak baru.

Sementara itu, tangan kiri Ashton yang bebas tidak tinggal diam. Tangan besarnya mencekeram erat bagian luar paha kanan Jemi, menahannya dengan kuat agar paha mulus itu tidak menutupi akses. Jemi sudah mulai cukup aktif bergerak dan menggeliut akibat rasa geli serta kenikmatan sengatan gairah yang tidak tertahankan.

Di bawah tutupan jas kerja yang menjadi rahasia mereka, di tengah riuh kegilaan para senior kantor yang mabuk berat, Ashton terus mengeksplorasi kehangatan becek di pangkuannya tanpa ampun.

“Ahhnghh… m-masshh… pelan, M-Mas Ganteng…”

Desahan Jemi pecah begitu jemari Ashton yang belepotan cairan licin mulai menekan titik kecil sensitif di tengah gundukan tembamnya. Suara nyaring yang biasanya terngiang halus kini berubah jadi rengekan pasrah bernada bariton tipis yang tertahan di tenggorokan, beradu kencang dengan dentuman musik karaoke yang membanting dinding ruangan. Seluruh tubuh Jemi berguncang tipis di atas pangkuan Ashton, kedua kakinya gemetar hebat berusaha menahan benturan sensasi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Nghhh... M-mas Ganteng... a-aku... ahhn!" Kepalanya menggeleng-geleng pelan di ceruk leher Ashton, Jemi mendongak semakin dalam, meremas leher kemeja kerja Ashton sampai kain tebal itu kusut tak berbentuk. Punggungnya melengkung pasrah, membiarkan punggungnya menempel kencang ke dada Ashton. "J-jangan mainin kenceng-kenceng gitu... nghh!"

Di balik tutupan jas hitam yang membentang di pangkuan, pusaran jari-jari Ashton makin frontal memoles cairan licin yang makin membanjiri gundukan tembam itu.

Ashton yang kepalanya sudah dikuasai penuh oleh alkohol dan gairah justru makin menjadi-jadi. Gerakan jemarinya yang mengusap dan mengocok area becek itu terasa kian ritmis dan padat, menyapu cairan melimpah yang makin membanjiri sela-sela jarinya. Sensasi hangat, kenyal, dan licin itu benar-benar memabukkan. Gesekan kulit yang kelewat basah menimbulkan bunyi kecipak tipis yang untungnya tersamarkan oleh dentuman lagu dari layar karaoke.

“Nghh... M-Mas… beneran j-jangan di situ… ahh!” Jemi mendongak tajam, tubuhnya melonjak kecil di atas paha Ashton saat ibu jari Ashton menekan kencang bahkan menarik daging kecil yang menjadi pusat sensitif di balik lipatan daging yang becek itu.

Sentuhan impulsif dari Ashton benar-benar merusak pertahanan Jemi. Tubuhnya gemetar hebat, otot paha dalam yang ditahan tangan kiri Ashton melilit kaku.

"Kenapa? Lu gak tahan, Jemi?" bulir keringat dingin menetes dari dahi Ashton, jatuh tepat di atas dada Jemi yang terekspos. Suara Ashton makin berat, terdengar begitu dominan saat tangannya mencekeram paha dalam Jemi makin mengangkang lebar.

"B-bukan gitu... ahh! Mashh... d-dengerin dulu..." Jemi mencengkeram lengan besar Ashton yang tertutup jas kantor, matanya berkaca-kaca dipenuhi kabut gairah. Bibir bergincu merahnya bergoyang gemetar tepat di celak leher Ashton, membisikkan pengakuan polos yang makin bikin gila. "A-aku tuh... memeknya gampang ngompol... hnggh! ahnn!" bisik Jemi terengah-engah, matanya yang sayu kini berkaca-kaca menatap Ashton dari dekat. Sensasi geli yang meluap-luap bercampur cairan nikmat yang terus melimpah membuat kewarasannya ikut terkikis habis. “K-K-kalau diusap-usap terus kayak gitu... nanti aku bisa ngompolin celana Mas Ganteng... ahhnnngh!”

Ashton terkekeh rendah, suara terbahak seraknya menyapu pipi Jemi yang makin panas kemerahan. Mendengar kata ngompol yang keluar dari bibir sosok berwajah bidadari di pangkuannya ini justru menjadi bensin yang membakar gairahnya makin membumbung tinggi.

"Ngompol?" gumam Ashton sambil memajukan wajahnya, mengecup kasar rahang dan leher Jemi.

“Ngompol aja, Jemi,” bisik Ashton gelap tepat di daun telinga si penari, sembari makin menekankan dua jarinya menelusuri kehangatan berlendir yang merekah pasrah di dalam genggamannya. “Banjirin jas gua sekalian.”

“Nghaaah! M-mash Ganteng... j-jangan ditahan gitu! Aahh! D-deket banget... aku mau... m-mau keluar..."

Jemi makin kelimpungan setengah mati. Dua tangannya kini melingkar erat di leher Ashton, menyembunyikan wajahnya yang memerah padam di sana. Gesekan jemari Ashton yang makin liar dan tanpa ampun sukses mengocok cairan di luar gundukan tembam itu hingga terdengar suara becek yang teramat nyaring di bawah tutupan jas kantor hitam milik Ashton.

Paha mulus Jemi menegang kaku, mengapit telapak tangan Ashton secara tidak sadar, sementara desahan-desahan pasrah terus lolos dari mulutnya tanpa bisa dihentikan lagi.

Suara kecipak basah di bawah kain jas itu mendadak terhenti.

Tepat saat tubuh Jemi makin menegang hebat dan pinggulnya mulai terangkat menuntut puncak, Ashton mendadak menarik tangannya keluar. Sensasi cairan hangat yang bukan lagi sekadar merembes, melainkan mengalir cukup deras membasahi telapak tangan hingga pergelangan kemejanya, membuat kesadaran spontan Ashton terpicu.

Cairan itu melimpah ruah, hangat dan luar biasa licin.

"A-ahhh! Ngggh... Mas Ganteng! Kok udah?!"

Jemi mendengus keras, merengek melengking karena stimulasi sengatan intens yang tinggal selangkah lagi menuju puncak squirt-nya mendadak putus begitu saja. Kecewa dan frustrasi yang membuncah membuat Jemi refleks menghentakkan pinggulnya di atas pangkuan Ashton, melupakan sejenak di mana mereka berada. Suara rengekan manja nan basah itu menggema cukup nyaring di udara, menembus sela-sela dentuman musik karaoke.

Di sudut ruangan yang tak jauh dari mereka, salah seorang senior yang matanya sudah merah akibat mabuk berat mendadak menoleh. Dahinya berkerut ragu, berusaha memfokuskan pandangan ke arah sudut sofa Ashton dan Jemi yang tertutup bayang-bayang.

Ashton sigap. Dengan cepat ia makin mempererat dekapannya, merengkuh kepala Jemi agar terbenam rapat di lehernya sambil mengusap pinggang ramping itu kasar menenangkan sekaligus menyembunyikan wajah Jemi yang sudah berantakan oleh gairah. Tangan kanan Ashton yang masih basah kuyub oleh cairan Jemi tersembunyi rapi di dalam lipatan jas kantor yang masih menutupi selangkangan mereka.

Setelah senior tadi kembali berpaling dan teler menggelengkan kepala mengikuti lagu, Ashton menundukkan kepala. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Jemi, menyapukan embusan napasnya yang memburu dan sarat akan dominasi gila akibat alkohol.

"Ada kamar gak di sini?" bisik Ashton serak, napasnya memburu kencang tepat di samping telinga Jemi.

Suara Ashton tidak lagi menyisakan rasa canggung. Tatapan matanya yang kini benar-benar menggelap menatap Jemi, menuntut jawaban cepat sebelum ia benar-benar kehilangan sisa akal sehatnya di atas sofa karaoke tersebut.

Jemi menggeleng pelan dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya yang cemberut masih menyisakan sisa desahan yang tertahan, tampak begitu merekah dan basah akibat rasa frustrasi yang membuncah.

"Gak ada, Mas Ganteng... Kalau mau kamar... harus keluar dari tempat karaoke ini..." bisiknya lemas. Napasnya masih terengah-engah memburu, merapatkan punggungnya yang menempel kencang di kemeja Ashton akibat kenikmatan sengatan yang terputus mendadak di ambang puncak.

Ashton menggeram rendah, sebuah artikulasi sarat dominasi yang bergetar di dalam dadanya. Keluar dari gedung saat ini dengan kondisi tubuh Jemi yang sudah basah kuyub oleh cairannya sendiri, tanpa celana dalam, dan paha yang terekspos jelas, sama sekali bukan pilihan bijak. Alkohol yang menguasai aliran darahnya membuat pikiran Ashton bekerja dengan cara yang sangat cepat, impulsif, namun penuh kendali.

Tanpa membuang waktu, Ashton meraih tombol interkom di dinding dekat sudut sofa menggunakan tangan kirinya. Sementara itu, tangan kanannya menekan pinggang Jemi makin rapat ke tubuhnya, memastikan jas kantornya membungkus sempurna panggul dan selangkangan si penari agar tak ada seluas milimeter pun kulit yang mengintip.

Tak sampai dua menit, seorang staf waiter karaoke melangkah masuk. Staf itu berjalan dengan gesture canggung, berusaha keras mengalihkan pandangannya dari kegilaan para senior Ashton yang sudah teler dan terkapar tak beraturan di tengah ruangan.

Ashton memberi kode dengan ketukan jari, memanggilnya mendekat. Dengan gerakan tenang namun memancarkan aura ketegasan yang tak bisa dibantah, Ashton menarik dompetnya, mencabut beberapa lembar uang kertas pecahan bernominal besad, lalu menyelipkannya langsung ke genggaman tangan staf tersebut.

"Saya mau ruangan VIP lain. Yang paling kecil aja, buat berdua. Sekarang," bisik Ashton tegas. Suaranya rendah, dingin, dan mengintimidasi.

Staf itu sempat membelalak tipis, matanya refleks melirik sejenak ke arah Jemi yang bersembunyi sepenuhnya di dalam dekapan dada Ashton di balik tutupan jas hitam. Mengerti kilat situasi khusus yang teramat intuitif tersebut, si waiter menelan ludah dan mengangguk cepat.

"Bisa, Kak. Di lantai dua ada ruang Small VIP yang kosong dan ready. Mari saya antarkan lewat lorong samping biar gak terganggu," tuturnya setengah berbisik.

"Bagus," sahut Ashton singkat.

Begitu staf itu berbalik memandu jalan ke arah pintu keluar samping, Ashton menunduk. Iris matanya yang digelapkan oleh gairah menatap langsung pada wajah Jemi yang masih kelimpungan di pangkuannya. Ashton menyempatkan diri merapikan kembali letak jas kantornya, menyelimuti area selangkangan Jemi yang sudah polos tanpa sehelai benang pun dan masih membasahi telapak tangannya sendiri.

"Bisa berdiri? Atau mau gua papah?" tanya Ashton serak. Matanya menatap tajam bibir Jemi yang sedikit terbuka dan memerah.

Jemi tidak menjawab dengan kata-kata menyerah. Sebaliknya, ia menyunggingkan senyum tipis yang penuh godaan meski matanya masih amat sayu terkulai. Dengan gerakan bermanja yang dibuat-buat, Jemi melingkarkan kedua tangan lentiknya makin erat di tengkuk Ashton, menyejajarkan wajah mereka hingga embusan napas hangatnya yang beraroma manis menyapu bibir Ashton.

"Mau digandeng Mas Ganteng..." bisik Jemi dengan nada meliuk yang amat manja. Panggulnya digesekkan tipis sekali lagi di atas pangkuan Ashton, membuat anak muda itu menahan napas. "...kaki aku lemesss, abis kamu colmekin tadi."

Ashton merangkul tubuh Jemi yang terasa begitu pas di dekapan tangannya. Di bawah tutupan jas kantor hitam yang melingkari pinggul Jemi, cairan hangat yang tadi sempat merembes kini meninggalkan jejak licin yang melekat di jari-jemari Ashton. Dengan langkah mantap yang sedikit limbung akibat sisa pengaruh vodka, Ashton mengekor di belakang staf waiter menelusuri lorong samping yang remang dan jauh dari hiruk-pikuk ruangan utama.


Pintu tebal berperedam suara itu akhirnya terbuka. Ruangan Small VIP di lantai dua ini memang jauh lebih privat. Skalanya memungut nuansa yang hampir mirip sofa kulit tebal melingkar, pendar lampu neon berwarna amber dan biru keunguan yang hangat, serta meja kaca kecil di tengah namun dimensinya jauh lebih intim. Hanya ada mereka berdua. Tanpa sorak-sorai senior yang mabuk berat, tanpa dentuman musik rock yang memekakkan telinga.

Begitu pintu terkunci rapat dari dalam, Ashton langsung mendudukkan dirinya di sofa kulit yang empuk. Rasa pening yang merayap di pelipisnya makin terasa seiring efek alkohol yang kian mendominasi darah.

Dengan napas yang sedikit berat, Ashton melepas cengkeraman pada dasinya, menarik simpul kain itu hingga terlepas kasar dan melemparnya sembarangan ke ujung sofa. Tak berhenti di situ, jemari besarnya yang tak sabaran menyambar kancing kemeja kerja putihnya membuka tiga hingga empat kancing teratas sekaligus hingga memperlihatkan bidang dada serta perpotongan lehernya yang berkeringat tipis. Ashton menyandarkan punggungnya santai, menyelonjorkan kakinya dan membuka lebar kedua pahanya, menciptakan ruang yang begitu terbuka di tengah selangkangannya.

Sementara itu, Jemi yang gaun malamnya masih sedikit terangkat tampak melangkah gemulai menuju monitor layar sentuh. Gaunnya melambai pelan, memperlihatkan paha mulusnya yang kini benar-benar polos tanpa luaran celana dalam. Tanpa sedikit pun canggung, Jemi mengapit jas hitam milik Ashton di lengan cantiknya sambil menekan-nekan layar monitor untuk menyetel lagu berirama low-tempo yang lambat dan sensual.

"Mas Ganteng... dari tadi aku panggil gitu, sebenarnya nama aslinya siapa, sih?" tanya Jemi santai sambil berbasa-basi. Matanya yang dihiasi eyeliner tajam menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipis yang amat menggoda dari kejauhan.

Ashton yang kepalanya makin berat menyandarkan kepala ke sandaran sofa, menatap sosok jelita itu dengan pandangan sayu nan sarat gairah.

"Ashton," jawabnya singkat, suaranya memberat dan serak.

Lagu bersuara berat nan merdu mulai mengalun lembut membasahi ruangan privat itu. Selesai menyetel musik, Jemi memutar tubuhnya perlahan. Ashton mendudukkan posisinya sedikit lebih tegak, bersiap jika Jemi akan kembali memanjat naik ke atas pangkuannya seperti di ruangan tadi.

Namun, perkiraan Ashton meleset.

Jemi tidak naik ke atas sofa. Dengan gerakan yang teramat halus, lambat, dan penuh estetika yang menawan, sosok berparas cantik itu melangkah mendekat tepat ke hadapan selangkangan Ashton yang terbuka lebar. Tanpa ragu, Jemi menjatuhkan kedua lututnya, berlutut pasrah di atas karpet empuk tepat di antara kedua belah paha Ashton.

Dari posisi bawah, Jemi mendongakkan kepalanya. Mata berbinar itu menatap lurus ke arah iris mata Ashton, memamerkan senyum tipis yang nakal sambil menumpukan kedua lengan lentiknya di atas paha kemeja Ashton.

Lagu low-tempo yang mengalun dari pengeras suara ruangan VIP itu terasa kian lambat, membungkus atmosfer yang makin pekat oleh gairah dan pengaruh alkohol. Dari posisinya yang berlutut tepat di antara kedua paha Ashton yang terbuka lebar, Jemi perlahan menyusupkan kedua jemari lentiknya ke atas paha dalam Ashton, mengusapnya perlahan naik menuju pangkal celana kain anak muda itu.

Ia mendongak, menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter dari selangkangan Ashton. Senyum tipis yang amat nakal terukir indah di bibir bergincu merahnya, sementara matanya yang sayu menatap lurus ke arah iris mata Ashton yang kian menggelap.

"Suara aku ngga begitu bagus, Mas..." bisik Jemi dengan suara bariton rendah yang sengaja dihaluskan, menghembuskan udara panas persis di atas kain celana Ashton.

Jemi menguraikan jemarinya, dengan sangat luwes memegang dan menelusuri tonjolan keras yang makin menegang kaku di balik celana kain kemeja kerja Ashton. Sentuhan halus namun presisi itu sukses membuat Ashton menahan napas tajam, punggungnya makin menegang kaku di sandaran sofa.

Jemi mendongak makin tinggi, menyipitkan matanya penuh godaan yang tak tertahankan.

"...gimana kalau Mas Ashton nyanyi pake mic..." sambung Jemi lambat-lambat.

Jemari lentiknya bergerak gesit membuka kepala gesper sabuk Ashton dengan satu ketukan berbunyi klak, menyisipkan jemarinya ke dalam untuk menurunkan zipper celana kain itu. "...aku nemenin juga, sambil mainin mic-nya Mas."

Begitu zipper celana Ashton terbuka sempurna, Jemi menarik perlahan kain celana dalam Ashton, membiarkan kontol Ashton yang sudah tegang keras dan memerah menyembul bebas di udara dingin ruangan tersebut.

Jemi mendekatkan wajahnya yang berhias makeup halus itu makin rapat ke arah selangkangan Ashton. Embusan napas panasnya yang beraroma manis menyapu kulit sensitif yang kini menegang kaku di hadapannya. Jemi menelan ludah pelan, menatap lurus ke arah kemaluan anak muda di depannya dengan binar mata yang amat lapar. Tanpa menunggu persetujuan lisan, bibir bergincu merah itu perlahan terbuka lebar, mendekatkan wajahnya untuk memberi ciuman hangat pertama tepat di bagian kepala mic Ashton yang berada dalam kuasanya.

"Nghh..." Ashton mendesis keras, matanya terpejam erat saat kehangatan dinding mulut Jemi memeluk batang kemaluannya untuk pertama kali.

Jemi membuktikan keahliannya. Meski ukuran Ashton cukup besar dan tebal—membuat rahang cantiknya harus meregang maksimal, Jemi bergerak dengan sangat lihai. Bibirnya melengkung penuh melingkupi giginya, memastikan tidak ada gesekan tajam sekecil apa pun yang bisa merusak kenikmatan Ashton. Lidah cantiknya yang hangat dan licin mulai aktif bergerilya, mengusap bagian bawah kepala kontol Ashton dengan ritme memutar yang presisi sebelum akhirnya ia mulai menarik dan mendorong kepalanya perlahan.

Suara basah yang teramat nyaring dan indecent bergema di ruangan Small VIP yang senyap, bertabrakan dengan alunan lagu lambat dari monitor karaoke.

Jemi menelan batang tebal itu makin dalam ke dalam kerongkongannya. Matanya yang berkaca-kaca dipenuhi air mata refleks menatap ke atas, mengunci pandangan Ashton yang kini tengah menunduk menatapnya dengan napas berburu kencang. Leher jenjang Jemi terlihat naik-turun menampung tiap sentimeter panjang Ashton, sementara jemari lentiknya sibuk memijat lembut dua kantung buah Ashton yang tergantung tegang di bawah.

"Ahhh... kecil mulutnya... enak banget, bangsat..." umpat Ashton kasar, kepalanya tertengadah ke belakang menabrak sandaran sofa.

Pengaruh vodka yang membakar darah bercampur dengan hisapan menjepit dari mulut berlidah hangat di bawah sana membuat kewarasan Ashton benar-benar leleh. Tangannya yang besar refleks merayap ke kepala Jemi, menyusupkan jemarinya ke sela-sela rambut halus si penari bukan untuk mendorong kasar, melainkan mencengkeramnya erat, memandu ritme hisapan yang kian cepat dan liar.

Jemi makin memacu gerakannya. Ia membiarkan ludahnya sendiri mengalir melimpah membasahi pangkal batang Ashton agar gesekannya semakin licin tanpa hambatan. Tiap kali kepalanya turun sampai ke pangkal, hidungnya menempel di bulu-bulu halus panggul Ashton, diiringi suara dentuman hisapan yang makin intens dan nikmat.

"Hnggh-mffh... hmph...!"

Desahan tertahan Jemi yang teredam akibat mulutnya yang penuh terus meluncur pasrah.

Tubuhnya yang berlutut di atas karpet tipis ruangan karaoke itu gemetar hebat. Lututnya sampai terasa lemas menahan bobot tubuhnya sendiri, namun gairah yang membakar justru membuatnya makin betah bertahan di sana. Jemi menikmati setiap detiknya, menikmati bagaimana pemuda yang tadinya begitu pemalu, canggung, dan salah tingkah saat menatap pahanya, kini bertransformasi total menjadi sosok yang impulsif. Cengkeraman jemari besar Ashton di sela-sela rambut halusnya terasa begitu berkuasa, mengunci kepalanya untuk terus bergerak maju-mundur tanpa memberi ampun.

Di atas sofa, kepala Ashton benar-benar dibikin melayang. Efek vodka kadar tinggi yang membakar darahnya membuat pandangannya makin berat dan pening, tapi gairahnya justru meledak ke tingkat paling liar. Ia mabuk berat, namun kesadarannya yang tersisa mampu merasakan tiap detail kenikmatan yang gila ini.

Di depan matanya, seorang laki-laki berparas jelita seperti bidadari, yang kini berlutut pasrah di antara kedua pahanya sedang melayaninya dengan cara paling erotis. Mulut Jemi luar biasa nikmat. Dinding dalam mulutnya terasa hangat, empuk, dan menjepit rapat, sementara lidah lentiknya yang licin tak berhenti menari-nari. Lidah itu lihai sekali mengusap bagian bawah kepala batang Ashton, berputar-putar di area paling sensitif, lalu menyapu cairan pra-ejakulasi yang keluar sebelum menyedotnya kembali kencang-kencang.

Suara basah yang teramat jorok menggema nyaring di dalam ruangan VIP yang minim cahaya tersebut. Jemi membiarkan air liurnya sendiri melimpah ruah, membasahi seluruh batang tebal Ashton agar tiap kali kepalanya turun, gesekannya terasa sehalus sutra.

Tak hanya mengandalkan mulutnya yang lihai, tangan kanan Jemi yang lentik melingkari pangkal batang Ashton yang tak muat masuk seluruhnya ke dalam kerongkongan. Jemarinya mengocok ritmis area pangkal itu, menyesuaikan tempo naik-turun kepalanya dengan ketukan yang presisi. Kombinasi hisapan hangat di ujung dan kocokan licin di pangkal benar-benar membuat Ashton membusungkan dada, melenguh pasrah menatap langit-langit.

Tiba-tiba, Jemi melepaskan hisapannya sejenak dengan suara basah yang keras. Cairan saliva dan pre-cumbening merekat mengalir melintasi dagunya yang mulus.

Dengan mata berair yang sangat sayu dan bibir bergincu merah yang merekah basah, Jemi mendongak menatap Ashton yang napasnya sudah memburu kasar. Tangan lentiknya yang belepotan cairan licin terus mengocok batang Ashton tanpa henti, sementara tangan satunya lagi menyusup ke balik gaunnya sendiri—meraba gundukan tembamnya yang berada dalam kondisi polos tanpa celana dalam.

"M-mas Ashton..."

Bisikan serak itu meluncur dari belahan bibir bergincu merah Jemi yang kini tampak merekah, sedikit bengkak, dan membasah oleh kilapan saliva. Napasnya terengah-engah patah-patah, menghembuskan hawa panas beraroma alkohol manis yang langsung menyapu area selangkangan Ashton.

Jemi tidak menghentikan tempo. Jemari lentiknya yang mungil tetap melingkar erat di pangkal batang tebal Ashton, mengocoknya naik-turun dengan gerakan gesit nan ritmis. Setiap kali tangannya meluncur naik, bagian kepala kontol Ashton yang memerah keunguan dan tegang sempurna itu menyembul dari sela-sela jarinya, memantulkan pendar remang lampu ruangan.

Sambil terus mempertahankan irama kocokannya di depan wajahnya sendiri, Jemi memperlebar tumpuan kedua lututnya di atas karpet empuk. Gaunnya terasing semakin tinggi hingga ke pangkal pinggul, menyingkap paha mulusnya yang jenjang sepenuhnya. Tanpa sehelai benang pun yang menghalangi, Jemi menyusupkan tangan kirinya ke bawah, menggesek dua jarinya tepat ke sela-sela gundukan tembamnya yang sudah terbuka pasrah.

Suara becek yang teramat nyaring dan basah mendadak beradu kencang dengan musik low-tempo yang mengalun dari monitor karaoke. Jemi memainkannya sendiri di sana, menggosok, menekan, dan memutar dua jarinya di dalam lipatan sensitifnya yang kini terus merembeskan cairan kehangatan tanpa henti hingga menetes melintasi paha dalam dan membasahi serat karpet di bawahnya.

"M-memek aku becek banget lagi, Mas..." rintih Jemi manja, suaranya meliuk pasrah dengan nada desahan melengking tipis di akhir kalimat.

Wajah cantiknya mendongak makin tinggi, menyisakan jarak yang sangat tipis dari mata Ashton. Iris mata Jemi berkaca-kaca, dipenuhi kabut gairah yang begitu pekat dan liar. Pupil matanya melebar, memancarkan permohonan yang teramat intim sekaligus lapar, menatap lurus ke arah iris mata Ashton yang kini sudah menggelap total, terbius gabungan sengatan alkohol dan dominasi gila.

"Denger kan, Mas Ganteng? Becek banget... ngiler deh..." bisik Jemi lagi, mengencangkan kocokan tangannya di batang Ashton seraya memajukan bibirnya untuk mengecup lembut bagian bawah kepala kontol yang amat tegang itu.

"Memek aku ngeces pengen kontolnya mas."

Mendengar bisikan cabul dari mulut cantik di bawahnya, Ashton menggeram rendah. Cengkeramannya di rambut Jemi makin mengetat, mendorong kembali ranum indah itu untuk melahap habis miliknya tanpa memberi jeda sedikit pun.

"Mass–mphhh!"

Lenguhan Jemi terputus kasar begitu tangan besar Ashton cengkeram rapat di belakang kepalanya. Tanpa sedikit pun rasa belas kasihan, Ashton yang dipacu emosi gila dan pengaruh alkohol kuat mendorong kepala cantik itu turun secara brutal, memaksa seluruh batang tebalnya meluncur masuk menembus kerongkongan Jemi.

Dinding dalam tenggorokan Jemi meregang maksimal. Suara cegukan teredam bergema saat kepala kontol Ashton menghantam telak bagian terdalam lehernya. Wajah jelita Jemi seketika memerah padam. Kelopak matanya bergetar hebat, dan air mata refleks menetes deras membasahi pipinya yang berhias blush on, kehabisan napas karena jalurnya tersumbat sepenuhnya oleh daging keras milik Ashton.

Namun Ashton tak membiarkannya lepas. Dengan napas berburu kencang dan rahang yang mengeras, pemuda itu mempertahankan posisi tersebut selama beberapa detik sebelum menariknya keluar sedikit, lalu menghentakkannya kembali sampai ke pangkal.

SLURPP... UGHH... MHFFF!

"Ah-hnggh! Mffhh... uhuk! Mmphh!" desah Jemi kelakian namun terdengar begitu merdu dan pasrah di sela-sela siksaan nikmat itu. Suara-suara basah berkumandang makin liar. Pre-cum bening milik Ashton yang melimpah bercampur penuh dengan ludah hangat Jemi yang membanjiri mulutnya. Saban kali Ashton menyentak kepalanya, cairan bercampur itu meluap keluar dari sudut bibir bergincu merah Jemi, menetes berantakan melintasi dagu mulusnya, mengalir membajaki leher jenjang hingga membasahi dada gaunnya.

SHHLUCK... PLOP... PLOP...

"Anjing... cantik banget lu, Jemi..." umpat Ashton berat, suaranya serak dan dalam, sarat akan gairah liar yang tak tertahankan. Matanya yang merah menatap lekat-lekat bagaimana paras indah di bawahnya terkulai pasrah melayaninya. "Lu cowok... tapi mukanya cantik banget, bangsat. Mulut lu... mulut lu bikin gue gila, Jemi."

"Mffhh... hnggh! S-slurpp... ahh!" Jemi memberi respons lewat desahan basah yang kian menjerit di dalam mulutnya sendiri. Walau matanya berair dan napasnya kian tersengal-sengal akibat perlakuan kasar itu, Jemi justru sengaja meliukkan badannya. Lidahnya yang super lihai terus memainkan perannya, melilit dan menyapu bagian bawah kepala batang Ashton saban kali Ashton memberinya celah untuk bernapas.

"Besarh... mhnggh! Penuh... hmhh..." rintih Jemi kepayahan di antara jeda hisapannya, bibirnya yang bengkak merekah lebar memamerkan lelehan cairan bening yang merekat dari mulutnya ke kepala pusaka Ashton.

Ashton tak membuang waktu. Mendengar pujaan penuh gairah itu, ia kembali mencengkeram rambut Jemi kencang-kencang, membenamkan kembali wajah cantik itu ke dalam selangkangannya tanpa ampun.

Efek alkohol yang membakar dadanya berpadu dengan pemandangan erotis di bawah sana membuat kesabaran Ashton runtuh sepenuhnya. Tanpa peringatan, ia menarik rambut Jemi ke atas hingga hisapan basah itu terlepas dengan suara POP yang keras.

"M-mas Ashton... ahh!" Jemi terengah-engah, dadanya naik-turun memburu dengan lelehan saliva dan pre-cum yang masih mengalir di sepanjang dagunya.

Sebelum Jemi sempat memulihkan napas, Ashton sudah memegang kedua bahu mulusnya, membalikkan tubuh ramping itu dengan kasar. Ia mendorong panggul Jemi ke depan, memaksa si sosok cantik berlutut menungging di atas karpet empuk, dengan tubuh bagian atasnya tertelungkup pasrah bersandar pada meja kaca besar tempat botol-botol minuman berserakan.

Posisi itu menyingkapkan pemandangan yang teramat eksotis dari belakang. Tanpa membuang waktu, tangan besar Ashton meraih bagian bawah dress Jemi dan menyibakkannya ke atas hingga menggulung ketat di sekeliling pinggangnya.

Di bawah pendar remang lampu amber, tampaklah bokong Jemi yang begitu empuk, montok, dan mulus tanpa sehelai benang pun. Bawahannya polos tak berbusana, memamerkan lekukan pinggul yang begitu ranum dan menggiurkan.

PLAK!

Tanpa ampun, telapak tangan Ashton mendarat keras di atas pipi bokong kanan Jemi. Suara tamparan itu bergema nyaring, membakar kulit mulus itu hingga seketika merona merah.

"Ahnngghh! Mas... shhh, sakit tapi... ahh, enak, Mas!" rintih Jemi melengking manis, wajahnya makin terbenam ke atas lengan yang terlipat di meja, pinggulnya refleks meliuk makin menungging penuh pancingan.

Dengan tangan kirinya, Ashton meraih satu kaleng bir dingin yang masih tersegel di atas meja, menyentak bukanya hingga suara PSSSH terdengar menyegarkan. Sambil menenggak cairan dingin bertriket alkohol itu kencang-kencang, tangan kanannya bekerja liar, meremas pantat empuk Jemi dengan cengkeraman kuat hingga daging kenyal itu meluap di antara jemarinya.

PLAK! PLAK!

Dua tamparan balasan kembali menghantam bokong montok itu secara bergantian, membuat tubuh Jemi gemetar hebat. Ashton membungkuk, menempelkan dada bidangnya ke punggung mulus Jemi. Masih dengan kaleng bir di tangannya, Ashton membenamkan wajahnya ke lipatan bokong kenyal itu, menyergap daging empuk tersebut dan menggigitnya gemas.

"Aaghh! Mhhss! Mas Ashton... digigit... ahh!" desah Jemi makin liar, tangannya mengepal erat menahan kenikmatan dari remasan, gigitan, dan lelehan bir dingin yang sengaja ditumpahkan Ashton sedikit demi sedikit membasahi celah bokongnya yang memerah.

Ashton menaruh kaleng bir yang sudah setengah kosong itu ke atas meja kaca dengan benturan pelan. Matanya yang agak buram oleh alkohol menunduk makin dalam, menatap lurus ke arah celah di antara kedua paha Jemi yang terpampang pasrah dalam posisi menungging sempurna.

Sensasi dingin dari sisa cairan bir yang menetes di kulit hangat Jemi bertabrakan dengan hawa panas tubuh mereka yang kian memuncak. Tangan besar Ashton bergerak menyusup ke bawah, melingkari paha dalam Jemi yang bergetar.

Dengan kedua tangan besarnya, Ashton merenggangkan pipi bokong empuk itu ke samping. Pemandangan di balik lipatan kenyal itu terbuka lebar. Tampaklah gundukan tembam Jemi yang merona merah muda, merekah lebar dan benar-benar basah sumringah. Cairan kehangatan yang begitu pekat dan bening merembes tanpa henti, membasahi lipatan sensitif itu hingga berkilau tertimpa remang lampu amber.

Setiap kali napas Ashton berhembus menampar kulit sensitif itu, gundukan becek tersebut tampak berkedut-kedut halus, sebuah gerakan refleks yang seirama dengan denyutan keras dari batang tebal Ashton yang makin menegang kaku di antara paha mereka.

"Memek perawan bisa kedutan begini?" geram Ashton serak, napas panasnya berhembus langsung menabrak selangkangan Jemi.

Jemari besar Ashton mulai meraba lagi. Ibu jarinya mengusap lembut bagian pucuk yang mengeras, sementara jarinya yang lain menyusup turun, menekan dan menggosok bibir-bibir tembam yang sudah terendam pelumas alami itu.

"Aahhnnnggg! Mas Ashton... shhh! M-mas... g-geli banget, ahh!"

Jemi seketika menjerit melengking, tubuh rampingnya gemetar hebat di atas karpet. Paha mulusnya bergoyang-goyang tak terkontrol, benar-benar kewalahan menahan rangsangan elektrik yang menjalar dari sentuhan jemari Ashton di selangkangannya yang teramat sensitif.

Suara becek yang begitu teramat nyaring saat jemari Ashton mulai meremas dan mengusap bagian sensitif itu. Sentuhan mendadak yang presisi itu membuat seluruh tubuh Jemi seketika gemetar hebat.

Jemi makin menenggelamkan wajahnya di atas meja kaca, meliukkan pinggulnya ke belakang agar jemari Ashton bisa merangsek makin dalam. Ia sudah tak peduli lagi pada rasa malu; rasa gatal dan dahaga liar di bawah sana benar-benar membakar kewarasannya.

"Mauu M-mas... shhh..Mas Ashton... ahh Geliih... mhhss!" rintih Jemi melengking tinggi, suaranya bergetar hebat bercampur desahan pasrah yang amat manja.

Jemi memalingkan wajah cantiknya ke belakang, menatap Ashton dengan iris mata yang sayu berair dan bibir merekah basah. Pinggulnya yang montok sengaja didorong semakin ke belakang, menekan jemari Ashton agar terbenam lebih dalam ke dalam lipatan tembamnya yang makin becek.

"M-mas... colmekin lagi, Mas... please..." rintih Jemi memohon tanpa malu-malu lagi. "K-kobokin memek aku pake jari-jarinya Mash..”

Tanpa ragu, Ashton memuluskan satu jari tengahnya yang panjang meluncur melintasi jeratan hangat dan rapat di dalam sana. Karena cairan pelumas alami Jemi sudah melimpah ruah, jari pertama Ashton terserap begitu gampang langsung disambut oleh jepitan dinding dalam yang hangat memeluk dan basah kuyup. Ashton memutar jarinya perlahan, mengaduk dan memetakan setiap lipatan sensitif di dalam sana.

Namun, begitu Ashton menambahkan jari telunjuknya untuk menembus bersamaan, resistensi nyata mulai terasa.

"Nghh-aahh! M-mas... sempit... shhh!" rintih Jemi melengking manis, panggulnya mendadak menegang kaku.

Dua jari besar ukuran tangan laki-laki dewasa seperti Ashton mulai terasa agak susah untuk masuk lebih dalam. Liang intim Jemi yang terbiasa mungil dan amat jarang tersentuh itu mendadak merasa penuh sesak. Dinding-dinding daging di dalam sana yang belum terbiasa menerima ukuran sebesar itu langsung menjepit erat, seolah menolak sekaligus meratapi kenikmatan gila yang memadati celahnya.

"Tahan, Jemi... baru dua jari ini," bisik Ashton serak, napas panasnya yang beraroma vodka menembustengkuk Jemi.

Bukannya memelan, Ashton justru sengaja memanfaatkan kelicinan cairan Jemi yang membanjir. Ia melesakkan kedua jarinya makin melesat ke dalam hingga membentur bagian terdalam yang teramat pekat. Begitu dua jarinya tertancap sempurna, Ashton mulai menggerakkannya, mengocok, menusuk, dan memutar telapak tangannya secara agresif.

Suara adukan dan kocokan basah yang teramat indecent menggema nyaring, bertabrakan dengan helaan napas mereka yang makin memburu. Ashton menekuk kedua jarinya ke atas, sengaja memijat dan menggaruk titik paling sensitif di dinding atas dalam liang Jemi.

"A-AANNGGHH! MAS ASHTON! AHH-HNGGH!"

Jemi seketika kelonjotan hebat. Tubuhnya melengkung ekstrim, kedua kakinya gemetar melintasi karpet empuk seolah tersengat aliran listrik ribuan volt. Wajah cantiknya makin terbenam pasrah di atas meja kaca, sementara tangannya mencengkeram tepi meja begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Sensasi dua jari besar Ashton yang terus mengobok-obok celah sempitnya membuat gundukan tembam itu berkedut-kedut liar tak terkontrol. Dinding dalam Jemi terus meremas dan memijat jari Ashton secara refleks, mengeluarkan lelehan cairan hangat yang makin membasahi seluruh punggung tangan Ashton.

"M-mas... d-di situ, Mas! Aahh! udahh mhh lagii.. berhenti... kobokin terus, Mas ganteenghh!" rintih Jemi terbata-bata dengan nada melengking tinggi, kepalanya menggeleng-geleng pasrah saat Ashton makin memacu tempo tusukan jarinya tanpa ampun, membuat pinggul montok Jemi terus terhenyak dan bergoyang kelonjotan menahan kenikmatan yang membakar kewarasannya.

Dua jari besar Ashton yang terus memburu dan mengobok-obok bagian terdalam liang intim Jemi benar-benar membuat pemuda feminin itu berada di ambang batas kewarasannya. Kedutan di dalam selangkangannya makin menjadi-jadi, menyemburkan gumpalan kenikmatan yang teramat intens hingga menjalar ke seluruh saraf tubuhnya.

"A-aahh! Mas... Mas Ashton, s-stop sebentar, Mas... nghhh!" rintih Jemi melengking manis, suaranya gemetar hebat dengan kelopak mata yang terpejam erat.

Kedua tangannya yang mencengkeram tepi meja kaca makin mengetat. Panggulnya bergoyang liar, berusaha mendorong tangan Ashton namun di saat yang sama justru makin melesakkan jemari besar itu lebih dalam.

"K-keenakan, Mas... a-aku takut... takut ngompol, ahh-hnggh! Mau keluar semua, Mas... j-jangan begitu terus... nghh!" jerit Jemi kepayahan. Sensasi penuh dan rangsangan bertubi-tubi di dinding dalam liangnya menciptakan dorongan kuat yang menyerupai sensasi ingin buang air kecil, membuat paha mulusnya bergetar hebat tak terkendali.

Namun Ashton yang sudah gelap mata akibat pengaruh alkohol dan dominasi gila sama sekali tak mendengarkan keluhan pasrah itu.

Tangan kirinya yang bebas tetap bekerja aktif di atas bokong montok Jemi. Jemari kasarnya meremas, menepuk, dan mencengkeram daging kenyal yang merona merah itu dengan bertenaga, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang kian membakar gairah. Tidak berhenti sampai di sana, jemari Ashton merayap naik ke lipatan paha dalam Jemi yang sensitif, lalu dengan sengaja menjepit dan memilin pucuk kecil yang tersembunyi di pangkal selangkangan Jemi.

"Ahnngghh! M-mas... j-jangan dikucek pucuknya... ahh! Geli banget, Mas Ashton!" rintih Jemi menjerit kecil, pahanya makin gemetar rapat menepit tangan Ashton.

Seolah belum puas menyiksa Jemi dengan kenikmatan bertumpuk, jempol tangan kanan Ashton yang sedang mengocok di dalam liang intim bergerak naik. Dengan tekanan yang pas dan usapan melingkar yang agresif, ibu jari Ashton mulai mengucek dan menggosok klitoris, tonjolan kecil yang amat sensitif di puncak gundukan tembam Jemi yang kini sudah membesar dan memerah sempurna.

Kombinasi siksaan erotis itu benar-benar mematikan; dua jari memutar kasar di dalam liang yang sempit, remasan kuat di bokong montok, pilinan di pucuk kecil, serta kucekan mantap pada klitoris yang basah kuyup.

"A-AANNGGHH! MAS ASHTON! AHH-HNGGH!"

Jemi kelonjotan parah. Tubuhnya melengkung ekstrim, kedua paha mulusnya bergetar hebat tak terkontrol di atas karpet empuk. Puncak kenikmatan dahsyat yang menghantamnya membuat seluruh dinding dalam liangnya memompa dan meremas jemari Ashton secara brutal. Kedutan di selangkangannya makin kencang, memicu sensasi pekat di dasar panggulnya yang siap meledak.

Ashton mendesis kasar. Alih-alih menarik keluar jarinya dan membiarkan Jemi menikmati puncaknya sendirian, pemuda yang dipacu dominasi gila dan alkohol itu justru merapatkan empat jarinya sekaligus di mulut selangkangan Jemi.

Tidak memberi jeda, empat jemari besar Ashton justru makin menggosok, menekan, dan mengucek klitoris serta gundukan tembam yang basah kuyup itu dengan gerakan memutar yang luar biasa cepat dan kencang.

"M-MAS ASHTON! AHH-HNGGH! K-KELUAR, MAS... MUNCRAAT! AAHHH!" jerit Jemi melengking tinggi, suaranya pecah dipenuhi sensasi kewalahan yang tak tertahankan.

Semburan cairan squirt yang jernih dan hangat mendadak membuncah deras dari celah intim Jemi. Cairan bening itu menyembur kuat bagai pancuran, membasahi seluruh jemari dan lengan bawah Ashton, memercik liar mengenai pergelangan tangannya, bahkan hingga membasahi celana kain kerja Ashton yang berantakan di bawah.

Ashton tak membiarkan ritme itu kendur sedikit pun. Di tengah semburan cairan yang membuncah hebat, empat jarinya terus memadatkan tekanan, menggosok dan memijat area puncak sensitif Jemi tanpa ampun. Setiap kali gesekan bertenaga itu menghantam klitoris yang merona merah, semburan cairan Jemi makin membuncah hebat.

"A-AANNGGHH! AMPUN, MAS! AHH... BASAH SEMUA... AAHH!" rintih Jemi kepayahan, dadanya naik-turun memburu hebat dengan napas yang tersengal-sengal parah.

Karpet empuk di bawah selangkangan Jemi kini benar-benar basah kuyup, memikul genangan cairan kehangatan yang melimpah ruah. Tubuh ramping si sosok jelita itu akhirnya terkulai lemas di atas meja kaca, paha mulusnya terkulai pasrah dan gemetar hebat, sementara celah intimnya masih terus berkedut pelan, meneteskan sisa-sisa kenikmatan gila yang baru saja diluapkan tanpa sisa.

Sensasi getaran halus masih merayapi seluruh tubuh Jemi yang terkulai lemas di atas meja kaca. Cairan squirt yang menyembur hebat tadi membuat pertahanannya runtuh total, menumpahkan seluruh tenaga dan kewarasannya di atas karpet basah ruangan VIP tersebut.

Ashton menarik perlahan tubuh ramping itu ke dalam pelukannya. Tangan besarnya merangkul pinggang Jemi yang masih bernapas memburu, menopang bobot tubuh si penari karoke yang lemas tak berdaya.

"Pegel?" tanyakan Ashton singkat, suaranya berat dan dalam, mengalun lembut di dekat telinga Jemi.

Jemi hanya mengangguk pelan. Wajah cantiknya bersandar lelah di dada bidang Ashton, menyisakan jejak jejak peluh dan lelehan air mata kenikmatan di kulit anak muda itu.

"Maaf, Mas... aku baru pertama kali begini," cicit Jemi pelan. Suaranya serak dan patah-patah, sarat akan kelelahan namun bertabur raut sedih dan rasa bersalah yang amat jelas di paras jelitanya. "Sama yang lain aja ya, Mas? Kayaknya aku udah nggak kuat nungging lagi..."

Mendengar bisikan penuh penyesalan itu, mata Ashton yang masih dipengaruhi kabut vodka menatap lurus ke dalam iris mata Jemi yang berkaca-kaca. Tanpa ragu, Ashton menggeleng tegas.

"Gua pangku. Gua maunya lu."

Ashton memutar posisi duduknya di atas sofa empuk, lalu mengangkat tubuh Jemi dengan mudah untuk dipangku di atas paha lebarnya. Kali ini, mereka duduk saling berhadapan. Kedua paha mulus Jemi terbuka lebar mengapit pinggang Ashton, sementara tangan besar Ashton memeluk pinggang ramping itu sedikit erat, khawatir tubuh Jemi yang masih lemas dan gemetar akan terjatuh.

Tanpa memberi jeda untuk berpikir, Ashton menarik tengkuk Jemi dan melahap bibirnya kembali.

Ciuman itu begitu menuntut dan mendominasi. Ashton menelan habis belahan bibir bergincu merah yang bengkak itu, melesakkan lidah hangatnya untuk melilit, menguasai, dan menyedot habis rongga mulut Jemi tanpa sisa. Jemi hanya bisa melenguh pasrah di dalam ciuman yang memabukkan tersebut, jemari lentiknya mencengkeram bahu Ashton agar tidak lemas terkulai.

Sambil terus menguasai ciuman panas itu, tangan kanan Ashton merayap ke punggung Jemi. Dengan satu gerakan gesit, jemarinya menarik zipper dress itu ke bawah, melucuti kain mahal tersebut hingga merosot pasrah menumpuk di batas perut Jemi.

Kini, bagian atas tubuh Jemi terekspos sepenuhnya di bawah temaram lampu amber. Untuk ukuran seorang laki-laki, bentuk dada Jemi terbilang cukup berisi dan montok. Namun, rona merah canggung seketika menyapu pipi cantiknya saat ia sadar rahasianya terbongkar—sebuah push-up bra renda berwarna hitam masih melekat erat, menyangga dadanya agar tampak lebih bervolume saat mengenakan dress.

Pautan bibir mereka perlahan terlepas dengan suara basah yang menyisakan guratan saliva bening. Jemi menunduk malu, menutup matanya tak berani menatap reaksi Ashton.

"Maaf, Mas... susu aku tepos... AKhhh!"

Ashton sama sekali tidak peduli. Bukannya merasa ilfiel, pandangannya justru makin liar dan lapar saat menatap gundukan dada berdaging empuk yang terangkat oleh bra renda tersebut. Tanpa mengacuhkan racauan bersalah dari mulut cantik Jemi, Ashton langsung menundukkan kepalanya dan melahap dada kenyal itu dengan rakus.

"Mhhff... Mas Ashton! Ahh-hnggh!"

Mulut Ashton menyergap salah satu puncak dada Jemi yang terbalut kain tipis bra, menggigit kecil lalu menyesapnya kencang-kencang lewat kain tersebut. Tangan besarnya bergerak menyusup ke balik bra renda, menyapu dan meremas daging empuk di sana dengan cengkeraman mantap yang membuat panggul Jemi refleks melonjak ke atas paha tebal Ashton.

Posisi duduk saling berhadapan di atas pangkuan membuat area intim mereka yang sama-sama polos tanpa sekat saling menempel kaku. Setiap kali Ashton menyesuaikan posisi duduknya, kemaluan mereka saling tergesek basah menciptakan sensasi gesekan hangat nan pekat yang langsung menyengat saraf terbawah panggul mereka.

Tanpa membuang waktu, Ashton dengan cekatan melepas cepat bra milik Jemi hingga pakaian dalam berbahan renda itu terlempar sembarangan ke atas sofa. Dua gundukan dada Jemi yang mulus kini sepenuhnya terekspos bebas tanpa pelindung.

Ashton langsung melahap rakus dua puting kecoklayan milik Jemi. Mulutnya bekerja ekstra keras dan liar; ia mengulum pucuk kanan dengan sensasi hisapan yang teramat dalam, lalu berpindah ke pucuk kiri untuk menggigit kecil dan memilinnya menggunakan benturan giginya. Tidak hanya bibir dan lidahnya yang sibuk menelan dan menyesap kulit halus di area dada itu, tangan besar Ashton juga ikut bergerak aktif, meremas, mencengkeram, dan menarik gundukan empuk tersebut secara bergantian hingga cetakan jemarinya meninggalkan rona merah kontras di kulit terang Jemi.

"AANNGGHH! M-MAS ASHTON! AHH-HNGGH!"

Di saat mulut Ashton bekerja begitu keras mengeksplorasi dan menyiksa dadanya, mulut Jemi justru tidak berhenti mengerang keras. Suara desahan melengkingnya menggema hebat di dalam ruang VIP yang tertutup rapat.

Tubuh ramping Jemi melengkung tinggi di atas pangkuan, kepalanya mendongak pasrah dengan leher jenjang yang mengejang kaku. Setiap kali Ashton menggigit atau menghisap pucuk dadanya kencang-kencang, panggul Jemi secara refleks tersentak maju, membuat kemaluan mereka makin tergesek kasar dan menyemburkan riak kenikmatan baru yang membakar seluruh tubuhnya.

Ashton tidak ingin menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Gairah yang membakar akibat alkohol dan tubuh panas di pangkuannya telah mencapai titik puncak. Tangan besarnya kembali turun meraba celah intim Jemi dan benar saja, area feminin yang masih amat perawan dan rapat itu dengan cepat kembali basah kuyup, amat lengket oleh cairan kenikmatan yang melimpah ruah.

Hanya dengan mengangkat sedikit tubuh ramping Jemi menggunakan kekuatan lengannya, Ashton mengarahkan ujung kontolnya yang benar-benar mengeras kaku tepat di bibir celah yang merekah. Ia sempat menggesekkan kepalanya yang membesar di sepanjang celah basah itu selama beberapa detik, melumuri seluruh batang kerasnya dengan pelumas alami milik Jemi.

Dalam satu hentakan kuat tak terduga, Ashton melepaskan bobot tubuh Jemi ke bawah untuk langsung merangsek masuk sedalam mungkin. Bersamaan dengan itu, mulut Ashton menempel erat lalu menghisap keras puting dada Jemi untuk meredam sekaligus melipatgandakan sensasi sengatan di tubuh pemuda itu.

"A--AAGGGHHH--!"

Jemi berteriak begitu histeris hingga suaranya seketika tercekat dan hilang di tenggorokan. Matanya mendelik lebar, dadanya melengkung tinggi menempel rapat pada dada bidang Ashton saat panggul mereka bertabrakan tanpa jeda.

Sungguh amat sempit. Liang intim Jemi yang terbiasa mungil dan rapat itu dipaksa meregang hebat, namun bersamaan merespons dengan menelan pintar seluruh batang besar milik Ashton. Dinding-dinding dalam yang hangat dan basah kuyup itu mencengkeram erat, seolah-olah membungkus presisi dan menghangatkan kontol Ashton yang merangsek masuk.

Begitu dalam. Dalam posisi saling berhadapan di atas pangkuan seperti ini, sudut penembusan Ashton menjadi amat menukik dan sempurna. Seluruh panjang kontol Ashton tertelan habis dengan mudah hingga pangkalnya membentur rapat selangkangan Jemi, mengunci tubuh mereka berdua dalam kehangatan pekat yang tak terpatahkan.

"Mashh... penuh... kebesaran, Mas... aduhh, mhh... ini bisa gerak ngga ya..." ringis Jemi terbata-bata di atas pangkuan Ashton.

Paras cantiknya memerah padam dengan napas yang memburu pendek-pendek. Sensasi tertancap penuh oleh batang tebal Ashton di dalam liang intimnya terasa begitu asing dan padat. Namun, alih-alih menolak, liang intim Jemi yang sempit itu justru makin berkedut-kedut liar, secara refleks meremas dan memeluk kejantanan Ashton dengan jepitan hangat yang teramat erat.

Ashton menggegapkan posisinya. Tangan besarnya menyusup meremas bawah ketiak Jemi untuk menahan bobot tubuhnya, sementara dua ibu jarinya yang bebas dengan santai asyik mengucek dan memilin dua pucuk dada Jemi yang makin mengeras sensitif.

"Ssst... katanya lu capek," bisik Ashton serak tepat di depan bibir Jemi. "Diem, desah aja. Suara lu enak."

Jemi yang mendengar itu merengut manja, matanya yang berkaca-kaca menatap Ashton dari jarak dekat. "Masss..." balas Jemi dengan nada menggebu halus, "Jadinya aku diem apa desahin kamu...?"

Ashton terkekeh rendah, suara beratnya terdengar begitu puas saat merasakan jepitan tak terputus di selangkangannya. Ia meremas pinggul Jemi lebih erat, menekan panggul mereka agar makin menempel tanpa celah.

"Terserah. Memek lu enak, enak banget, Jemi," umpat Ashton pelan di depan leher Jemi sebelum kembali mendaratkan kecupan-kecupan basah di sana. "Lu paling enak."

Sambil terus memacu genjotannya dari bawah, mulut Ashton yang basah dan beraroma alkohol kembali menyergap leher mulus serta dada Jemi tanpa sekat. Ia memagut kasar kulit halus itu, menyesapnya kuat-kuat hingga meninggalkan bekas hickey kemerahan yang pekat, lalu berpindah menggigit gemas pucuk dadanya yang membengkak sensitif. Setiap hisapan dan gigitan kecil di atas dada disambung dengan tumbukan panggul yang kian brutal dari bawah, membuat seluruh tubuh Jemi tersentak-sentak hebat di atas pangkuannya.

Ashton mendengus berat, napas panasnya berhembus kasar tepat di ceruk leher Jemi saat pinggulnya bergerak makin agresif menumbuk ke atas tanpa henti. Ia benar-benar memanjakan diri dalam kehangatan dan jepitan gila dari selangkangan Jemi yang seolah diciptakan khusus untuk menampung seluruh ukuran kejantanannya.

"Anjing... enak banget, Jemi..." bisik Ashton serak, suaranya sarat akan dominasi gila saat mulutnya berbisik kotor tepat di telinga Jemi. "Enak banget merawanin memek lu... pinter banget liang lu nelen kontol gua sampe dalem gini."

"Nghhh! M-Mas Ashton... ahh-hnggh! Pelan, Mas... mentok hngg dalem bangAAH!" rintih Jemi histeris, kepalanya mendongak pasrah dengan mata berkaca-kaca, jemari lentiknya mencengkeram erat bahu kokoh Ashton.

Ashton justru makin terkekeh rendah, mempercepat tempo dorongannya hingga pangkal panggul mereka bertabrakan tanpa jeda.

"Pelan? Memek lu aja Becek banget begini, doyan kontol kan lu sebenernya?" cerceh Ashton makin berani dan kotor, menggerakkan jarinya untuk menepuk pipi empuk bokong Jemi yang kenyal. "Udah cantik, memeknya enak banget lagi... Gua bikin hamil sekalian ya lu di sini?"

"A-AAGHHH! M-mas... j-jangan, Mas! Ahh-nggh! B-bukan cewe... ngga bisa hamil, Mas Ashton enakkk!" jerit Jemi pasrah, wajahnya memerah padam menahan guncangan kenikmatan dan malu yang membakar seluruh tubuhnya.

Suara ketukan panggul yang tebal bertabrakan nyaring dengan adukan cairan pelumas yang melimpah ruah di sela-sela selangkangan mereka. Tempo permainan mereka kian liar, makin cepat, dan bertempo amat tinggi. Setiap kali Ashton menumbuk dari bawah, kejantanan tebalnya menyapu titik-titik paling sensitif di dalam sana, memaksa dinding intim Jemi memeluk dan merekat semakin erat.

Jemi sepenuhnya pasrah, melayang tinggi dalam puncak kelelahannya yang bercampur kenikmatan gila. Pria feminin itu pasrah pasrah pasrah mengayunkan panggulnya pasrah mengikuti irama genjotan Ashton yang makin bernafsu, sementara ruang VIP yang remang dan temaram itu menjadi saksi bisu penyatuan mereka yang kian panas, basah, dan tak terkendali.

Rangsangan bertubi-tubi yang menghantam tubuhnya membuat akal sehat Jemi runtuh sepenuhnya. Suara desahannya yang semula berdesik manis kini bertransformasi menjadi kerangan kotor dan liar, bergema keras memenuhi sudut ruang VIP yang temaram.

"AHH! M-MAS ASHTON... ENAK BANGEEET! AHH-HNGGH! KONTOL MAS GANTENG ENAK BANGET, MAS... NGHHH!"

Jemi kelonjotan parah di atas pangkuan Ashton. Seluruh otot pahanya bergetar hebat, sementara panggulnya bergoyang pasrah berusaha mengimbangi tumbukan kasar dari bawah.

Melihat reaksi liar itu, Ashton makin gelap mata. Sambil terus memacu genjotan panggulnya yang cepat dan bertenaga, ibu jari tangan kayunya menyusup ke selangkangan Jemi yang membasah. Dengan usapan melingkar yang menekan kuat, Ashton mulai mengucek dan memainkan klitoris Jemi yang membengkak sensitif dan basah kuyup.

"AANNGGHH! MAS! J-JANGAN DIKUCEK DI SITU... AHH-HNGGH! SANGE BANGEET, MAS ASHTON!" jerit Jemi histeris, kepalanya mendongak ekstrim dengan bibir ternganga menahan arus kenikmatan gila.

Sentuhan kasar pada klitorisnya yang dikombinasikan dengan genjotan tebal di dalam liangnya bertindak bagai pemicu ledakan. Rangsangan ganda itu membuat gairah Jemi meroket tak terendapkan; cairan pelumas alaminya meletup makin melimpah, mengalir deras membasahi seluruh pangkal paha dan punggung tangan Ashton. Liang intimnya yang merona makin becek, licin, dan memanas.

Makin keras Ashton mengucek klitorisnya, makin hilang kewarasan Jemi. Kesadarannya meleleh total ditelan gairah. Tanpa peduli lagi pada logika bahwa dirinya adalah seorang pria, ucapan kotor Ashton sebelumnya justru terngiang-ngiang dan meracuni pikirannya yang sedang mabuk kenikmatan.

"A-AAGHH! M-Mau, Mas... Jemi mau dihamilin Mas Ashton! Hamilin Jemi aja gapapa, Mas... ahh-hnggh!" racau Jemi tanpa sadar, matanya memerah berkaca-kaca menatap pasrah pada wajah tampan Ashton. "Enak banget, Mas ganteng... p-penuhin memek Jemi... hamilin Jemi sekarang, Mas... AHH!"

"Anjing... lu beneran udah gila, Jemi," desis Ashton serak, terkekeh puas mendengar racauan pasrah dari mangsanya.

Bukannya memelan, Ashton justru makin mengganas. Ibu jarinya menekan dan mengucek klitoris Jemi tanpa ampun, sementara panggulnya menumbuk ke atas dengan tempo yang makin cepat dan dalam.

Siksaan nikmat itu membuat liang intim Jemi merespons secara ekstrim. Bukannya merenggang, dinding-dinding dalam selangkangannya justru menjepit dan menyempit amat ketat meremas keras batang kokoh Ashton seolah ingin menyerap habis kontol itu ke dalam dirinya. Kedutan konvulsif di dasar panggulnya menandakan pertahanannya kembali runtuh untuk kesekian kalinya.

"M-MAU MUNCRAAT! MAS ASHTON! AHH-HNGGH! KELUAR LAGI... MAU SQUIRT LAGI, MAS! AAHHH-EUNGGH!"

Tubuh ramping Jemi kejang hebat di atas pangkuan Ashton. Paha mulusnya merapat kaku menepit pinggul Ashton, sementara sensasi dorongan kuat di selangkangannya kembali memuncak, siap menyemburkan gelombang squirt kedua yang jauh lebih dahsyat dan membasahi mereka berdua.

Semburan squirt kedua meluncur deras dari selangkangan Jemi yang meregang maksimal. Semburan cairan hangat nan jernih itu memancar kencang, membasahi perut kencang Ashton, membanjiri paha mereka berdua, hingga menetes deras melintasi permukaan sofa kulit.

"A-AANNGGHHH! MAS ASHTON! AHHH... MUNCRAAT!"

Jemi histeris, tubuh rampingnya melengkung tinggi bagai busur panah di atas pangkuan Ashton. Paha mulusnya merapat kaku menjepit pinggul kokoh pria itu, sementara seluruh saraf di dalam liang intimnya kejang hebat. Dinding-dinding dalam yang sempit itu berkedut liar tanpa kontrol, meremas, memijat, dan mencengkeram batang tebal Ashton dengan jepitan hangat yang teramat ketat.

Ashton menggeram rendah, napasnya memburu berat di ceruk leher Jemi. Jepitan gila dan semburan hangat dari selangkangan Jemi yang tak berhenti membasahi kejantungannya benar-benar mendorong Ashton ke batas pertahanannya sendiri.

"Anjing... rapet bener memek lu, Jemi... gua keluar sekarang, bangsat," desis Ashton serak dengan suara yang makin dalam dan berat.

Bukannya memberi jeda saat Jemi masih lemas dan kelonjotan usai memuncratkan cairannya, Ashton justru makin gila. Dengan mencengkeram erat bokong montok Jemi yang basah kuyup, Ashton kembali mengayunkan panggulnya dari bawah—menumbukkan kontolnya berturut-turut menghantam dasar terpekat di dalam sana.

"Ahnnggh! M-mas... pelan... masih geli banget, Mas Ashton... ahh-hnggh!" rintih Jemi kepayahan. Suaranya serak melengking, kepalanya terkulai pasrah di bahu Ashton dengan lelehan air mata kenikmatan yang membasahi kulit pria itu.

Sentuhan pada klitorisnya yang masih diucek tipis oleh jempol Ashton, ditambah tumbukan kasar yang menghantam titik paling sensitif di dalam selangkangannya, membuat Jemi tak berkutik. Setiap hentakan panggul Ashton membawa gelombang kenikmatan baru yang membakar habis sisa-sisa tenaga dan kewarasannya.

"Tahan, Jemi... bentar lagi gua pejuin lu," bisik Ashton kotor tepat di depan bibir Jemi yang ternganga.

Ashton mempercepat irama genjotannya hingga ke tingkat brutal. Bunyi benturan panggul mereka yang basah bertabrakan nyaring di dalam ruangan VIP yang temaram, mengalahkan lagu yang tersetel, membaur dengan desahan berat Ashton dan jeritan pasrah Jemi yang makin tak berdaya menanti puncak pelepasan terakhir dari pria di bawahnya.

"B-Banjirin, Mas... ahh-hnggh! Pejuin di dalem memek Jemi... b-bikin hamil..." racau Jemi terengah-engah, matanya juling menatap langit-langit ruang VIP saat sensasi terbakar yang nikmat merayapi seluruh selangkangannya.

Permintaan kotor itu menjadi pemicu terakhir bagi Ashton. Suara geraman berat menyerupai binatang buas lolos dari tenggorokan Ashton. Cengkeramannya pada bokong Jemi kian memutih, meremas daging empuk itu hingga memerah, lalu menghentakkan panggulnya ke atas dengan satu tumbukan amat kuat dan menancap dalam—menghantam dasar terdalam liang intim Jemi tanpa menyisa jarak sedikit pun.

JLEEEBBB!

"AAGHHH! MAS ASHTON!"

Tubuh Jemi kejang seketika. Pada detik yang sama, kontol Ashton yang membengkak maksimal di dalam sana mulai menyemburkan lava hangatnya. Gelombang cumshot yang pekat dan melimpah ruah meletup kencang, membanjiri dinding-dinding dalam selangkangan Jemi yang merona merah.

CROTT!! CROTTT!!

"Nghhh... anjing... penuh banget, Jemi..." desis Ashton serak. Otot-otot punggung dan lengannya mengerasi kaku saat ia menikmati tiap hentakan puncaknya, terus menahan posisi tertancap dalamnya agar seluruh peju panasnya terpancar sempurna mengisi rahim semu pria di pangkuannya.

Setiap semburan hangat yang menghantam bagian dalamnya membuat Jemi tersentak-sentak kecil. Mulutnya ternganga tanpa suara, dadanya naik turun memburu. Liang intimnya yang merapat ketat terus berdenyut-denyut kejang, meremas dan memelintir batang Ashton, mencoba menelan habis seluruh lelehan cairan yang terus dipompakan ke dalam dirinya.

Suara desah napas mereka yang berat dan berantakan saling bersahutan, hanya lagu yang menemani mereka satu samaain.

Setelah semburan terakhirnya tuntas, Ashton tak langsung menarik kejantungannya keluar. Ia tetap membiarkan milik tebalnya menyumbat rapat liang intim Jemi yang basah kuyup, menahan agar lautan pejunya tak langsung meluncur keluar. Ashton menyandarkan dahinya di bahu licin Jemi yang bersimbah keringat, menghembuskan napas panasnya yang perlahan teratur.

Jemi terkulai lemas tanpa tenaga, benar-benar hancur dan pasrah di atas dada bidang Ashton. Seluruh tubuhnya bergetar halus, merasakan kepenuhan yang amat sangat di selangkangannya—sebuah kekalahan total yang menyisakan kepuasan gila di benaknya.

Meski lautan cairan hangatnya sudah purna membanjiri bagian dalam Jemi, kejantanan Ashton di dalam sana tak lantas melunak sepenuhnya. Batang tebal itu masih bertengger kokoh, menyumbat liang intim Jemi yang terus berdenyut-denyut pelan. Ashton menggerakkan pinggulnya sedikit—sesepele gesekan tipis—namun cukup untuk membuat Jemi yang terkulai lemas di dadanya tersentak kaget.

"A-ahhh... M-mas, udahhh... j-jangan digerakin lagi, ngga kuat..." bisik Jemi serak, matanya yang terpejam sayu memohon pasrah. Tubuhnya benar-benar terasa lemas seperti lolos dari tulang, matang oleh guncangan nikmat bertubi-tubi.

Ashton terkekeh rendah, merasakan getaran halus tubuh Jemi di atas pangkuannya. Tangan kekarnya yang meremas lembut pinggang ramping Jemi perlahan mengusap keringat di punggung mulus itu.

"Lu ada bos? Atau perorangan? Sorry, gua gak terlalu ngerti," tanya Ashton santai, suaranya terdengar lebih berat dan dalam usai pelepasan brutal tadi.

Jemi menyandarkan dagunya di dada bidang Ashton, menatap pria di bawahnya dengan tatapan polos bercampur lelah.

"Hmm... aku sendiri, Mas ganteng..." gumam Jemi pelan, jarinya memainkan kancing kemeja Ashton yang sudah berantakan. Ia menghela napas tipis sebelum melanjutkan, "Sebenernya aku ngga jual diri..."

Ashton menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut. "Lah..."

"Soalnya aku cowo, jadi ngga ada yang mau," bisik Jemi polos, menyunggingkan senyum tipis yang tampak begitu lugu—kontras dengan posisi mereka yang masih menyatu basah di bawah sana.

Ashton terkekeh tipis, tatapannya menajam penuh ketertarikan saat menatap bibir bengkak Jemi. "Gua mau..."

Pipi Jemi makin memerah dipuji seperti itu. Ia menyenggol pelan dada Ashton dengan dahi licinnya. "Mas ganteng bisa aja..."

Jemi meringis kecil saat merasakan kejantanan Ashton di dalam sana mendadak sedikit menegak merespons usahanya bergerak. Pria feminin itu buru-buru menahan dada Ashton.

"Aku capek... udah ya, Mas... nanti aku sange lagi," rengek Jemi memohon, benar-benar tak sanggup membayangkan harus melewati ronde kegilaan lainnya malam ini.

Melihat raut wajah pasrah dan lelah Jemi, Ashton akhirnya mengalah. Dengan perlahan dan hati-hati, ia menarik panggulnya mundur.

Suara lecehan pelumas dan lelehan peju yang pekat menyertai terlepasnya penyatuan mereka. Jemi mendesah pelan, merasakan sensasi kosong sekaligus lelehan hangat yang mulai mengalir melintasi paha bagian dalamnya. Ashton menarik tubuh Jemi ke sisinya, merengkuh pinggang ramping itu agar bersandar nyaman di samping tubuhnya.

Sambil merapikan helai rambut Jemi yang lepek oleh keringat, Ashton menatap pria cantik di sampingnya itu dengan tatapan intens yang sulit diartikan.

"Ikut gua pulang yuk," tawar Ashton santai namun bernada tegas, tak memberi banyak ruang untuk penolakan. "Lu tidur di tempat gua malam ini."

Jemi tersentak pelan mendengar tawaran santai pria di sampingnya. Ia mendongak, menatap lekat garis rahang Ashton yang tegas dan wajah tampannya yang masih diterpa remang cahaya lampu. Ada sedikit keraguan di matanya, namun kehangatan dari dekapan Ashton dan sisa-sisa rasa nikmat di selangkangannya membuat penolakan terasa mustahil.

"P-pulang ke tempat Mas Ashton?" cicit Jemi pelan, suaranya masih serak. "Tapi... baju aku berantakan banget, Mas. Kamu ngga puas ya?"

Ashton melirik ke arah pakaian Jemi yang berantakan di atas lantai, lalu kembali menatap Jemi dengan kekehan kecil. Ia mengusap lembut pipi mulus Jemi yang masih merona.

"Pake kemeja gua," jawab Ashton santai. "Gua juga berantakan gini. Mobil gua di basement, nyampe juga masuk basement lagi langsung naik ke kamar gua. Ga akan ada yang lihat."

Pernyataan itu membuat Jemi makin tak berkutik. Perlakuan Ashton meski tadi begitu agresif dan dominan saat bercinta kini terasa begitu protektif. Jemi akhirnya mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Ashton sambil tersenyum tipis.

"Yaudah... aku ikut Mas ganteng," bisik Jemi pasrah. "Tapi jangan disiksa lagi ya nanti di rumah? Aku beneran udah lemes banget..."

Ashton tertawa rendah, suara beratnya bergetar di dadanya. Ia mengecup singkat puncak kepala Jemi, menghirup aroma tubuh pria manis itu yang kini bercampur dengan aroma tubuhnya sendiri.

"Liat ntar," bisik Ashton jahat di telinganya, membuat Jemi merinding seketika.


 

Notes:

This is my last post. I want to apologize and thank you all so much. I hope I’ll be able to write again and that you’ll come across my writing again in a new story. I LOVE YOU ALL SOOOOO MUCH💓

Jangan bawa tulisan ini ke X yaa cayang cayangku🫶