Actions

Work Header

Dawn without Sunrise

Summary:

Di bawah gemerlapnya Kota Seoul, terdapat area terlarang bernama Black Sun yang puluhan tahun dirahasiakan oleh pemerintah Korea Selatan. Dunia para penjahat yang terkutuk itu, terancam dibinasakan karena fakta keberadaannya dapat mencoreng harga diri negaranya. Bagaimana Suga, Jimin, Jungkook, V, Namjoon, Seokjin, dan Hoseok melawan rencana kejahatan genosida ini, sementara mereka telah terjebak dalam kisah cinta terlarang yang dikutuk negara?

Notes:

BTS © Big Hit Entertainment
"saya tidak mengambil keuntungan material apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini"
OST for this Chapter: DANGER - BTS

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Black Sun

Notes:

BTS © Big Hit Entertainment

Dawn without Sunrise

-Kim Taehyung, Jeon Jungkook, Kim Namjoon, Kim Seokjin, Park Jimin, Min Yoongi, Jung Hoseok-

OST for this Chapter: DANGER - BTS

Cerita ini hanya fiktif, seluruh kejadian yang termuat di sini adalah hasil imajinasi semata dan tidak ada hubungannya dengan para member BTS atau seluruh tokoh di cerita ini yang dipinjam namanya.

Chapter Text

Dunia berputar, tapi tidak dengan Black Sun.

Sudah puluhan tahun orang-orang di sana menjalani hidup yang tetap, hidup yang tidak punya siang dan malam.

Black Sun tidak jauh dari pusat Seodaemun-gu, terkubur di salah satu sudut Seoul yang dipagari kawat duri dan hutan buatan yang sangat rimbun.

Dalam benak penduduk, Black Sun nyaris menjadi mitos. Jarang ada yang percaya bahwa di sekitar mereka terdapat sebuah wilayah terisolir yang semua warganya adalah penjahat.

"Ada perampokan di toko sebelah. Pelakunya membawa alat setrum dan bacokan."

"Kita soraki saja, siapa yang kira-kira akan menang. Si perampok, atau penjaga toko."

"100.000 Won," gumpalan uang kumal diletakkan di atas meja, "aku pegang si perampok. Dia akan menenteng kepala si bodyguard di sepanjang jalan."

"Kau yakin pegang dia?"

"Seratus persen."

Percakapan seperti itu adalah hal biasa di sana. Black Sun adalah wilayah kebal hukum. Penduduknya, sejak dulu, memang dibentuk sebagai pembantai. Perang di masa lalu membutuhkan banyak pasukan berani mati. Dan seluruh manusia di Black Sun melakukannya.

Kini, setelah perang berakhir, naluri buas itu masih tertinggal dan terus diturunkan. Black Sun menolak kata 'tolong' dan 'terima kasih' untuk dimasukkan ke dalam kamus bahasa mereka. Wilayah para penjahat ini seperti planet lain dalam lambung ibukota—area 'hantu' yang tidak pernah tercantum dalam peta.

Lorong panjang memisahkan Black Sun dari gemerlapnya Seoul. Lorong rahasia yang gelap gulita itu berkelok-kelok, jalurnya menghunjam tanah. Pintu masuknya berada di lahan tersembunyi berpagar kawat.

Sebuah lingkaran berdiameter dua ratus senti menjadi gerbang, sangat mirip dengan mulut sumur tua yang sengaja disamarkan dengan gundukan serasah.

Namun, begitu pintu rahasia yang rata dengan tanah itu dibuka, orang akan menemukan sebuah jalur mengerikan yang luar biasa panjangnya.

Lorong menuju Black Sun berisi tangga curam. Tak ada cahaya masuk. Begitupula dengan sirkulasi udara.

Di berbagai titik tangga, seringkali ditemukan mayat orang-orang yang terjebak. Mereka tewas karena dehidrasi, kelaparan, atau kekurangan oksigen.

Jika sudah masuk, mustahil bagi orang luar untuk bisa meloloskan diri. Untuk keluar dari lorong mematikan itu, siapa pun akan membutuhkan sandi visual berupa tato biotronik yang dapat terbaca oleh monitor pengunci.

Tato biotronik adalah tanda lahir buatan yang hanya dimiliki oleh penduduk Black Sun. Tidak ada yang punya selain mereka.

"Sudah bagus, kapan-kapan aku ingin mengganti tatoku dengan gambar tengkorak disilang."

"Kau lebih cocok memakai gambar kupu-kupu."

"Anak buahku tidak akan takut kalau bosnya pakai tato seperti itu."

Pemuda yang baru keluar dari studio tato itu tampak janggal jika disandingkan dengan suasana semrawut di sekitarnya. Ia terlihat kecil dan baik-baik saja. Lupakan pistol laras ganda yang ia selipkan di balik jaket jinsnya yang kebesaran itu.

Suga—atau Min Yoongi, begitu nama samarannya pada situs jual beli di dark web—benar-benar berhasil membuat lingkungan Black Sun tampak buruk rupa saat dirinya melintas.

Ia mendapat julukan Manusia Kaca. Bagaimana tidak, saking rupawannya, semua orang akan menoleh padanya saat ia lewat, seperti sedang berkaca.

Hanya saja, Suga tak pernah memedulikan itu.

Suga menyusuri jalanan Black Sun seorang diri. Di kanan dan kirinya terdapat banyak toko; toko dengan etalase minuman keras, etalase obat-obatan terlarang, sampai etalase raksasa yang memajang para gadis dengan kalung gantungan kayu bertuliskan "PENAWARAN TERBATAS! DISKON 50% SEBELUM HARI BERGANTI".

Semua bangunan di Black Sun nyaris senada. Jika dipukul rata, Black Sun hanya terdiri dari tiga warna: hitam, putih, dan abu-abu.

Tidak pernah ada matahari di sana. Langit tinggi yang menaunginya hanyalah hamparan beton.

Di atas sana, penduduk Seoul berlarian dengan bebas tanpa tahu ada dunia lain di bawah mereka.

Tanpa sinar matahari, seluruh sudut Black Sun penuh dengan bakteri dan jamur. Udaranya sangat dingin karena angin penuh oksigen selalu disalurkan tanpa diimbangi dengan keberadaan matahari sebagai penghangat suhu.

Tidak ada musim semi atau musim gugur. Tidak ada salju atau bunga mekar. Hujan kadangkala datang, hanya saat saluran air kotor dari distrik di atas mereka terlalu penuh untuk ditampung di pembuangan.

Sejauh yang Suga tahu, hanya ada satu hal tentang Black Sun yang tidak dimiliki oleh wilayah lain—hal yang membuat penduduk di sini tidak berminat pindah keluar sekali pun harus hidup bersimbah kekejaman: Black Sun dan seluruh penduduknya tidak mempan pada jeratan hukum.

"Kau menungguku di sini? Sudah lama?"

Suga baru menghentikan langkah di belokan ketiga dari studio tato. Salah satu anak buahnya berdiri menunggu. Ia membungkuk hormat pada Suga, memiringkan tubuh untuk memberi jalan.

"Ngomong-ngomong, sekitar lima puluh meter di belakangku ada ada bayi yang dibuang oleh ibunya. Apa menurutmu aku harus memungutnya?" tanya Suga tiba-tiba.

"Lebih baik jangan," anak buahnya menjawab. "Itu sudah biasa."

"Benar juga. Sudah biasa," Suga mengangguk ragu, berjalan mendahului. "Kurasa nasib bayi itu seperti kita. Lahir langsung disuruh mencari hidup sendiri. Tidak ada yang akan melacak siapa pelaku pembuangan anak. Akhirnya Black Sun yang akan menentukan dia harus mati atau bertahan hidup."

"Tidak heran." Anak buahnya menyahut lagi, "Tidak ada pernikahan di sini, Bos. Tak ada ikatan keluarga di Black Sun. Aku saja sampai sekarang tidak tahu orang tuaku ada di mana. Tapi aku sudah tidak peduli lagi. Keluarga tidak penting. Yang penting sekarang aku sudah bekerja jadi anak buah manusia terkaya di Black Sun. Dan itu kau, Bos."

Suga menoleh dan tersenyum tipis pada sang anak buah. Sejak dulu ia sudah terbiasa menghadapi penjilat.

"Aku ingin berbelanja sebentar," ujarnya. "Kudengar musuh besarku akan dibebaskan dari penjara hari ini. Aku akan membeli peluru isi ulang. Sampai jumpa nanti malam di markas."

"Ya." Anak buahnya mengangguk, menatap punggung Suga yang mulai menjauh. "Kalau nanti Jimin mengelak tidak punya uang, biar aku yang menghabisinya di depan matamu, Bos."

Langkah kakinya terhenti. Suga menoleh sekali lagi, kali ini senyumnya memudar.

"Sudah kubilang," desisnya tajam, "jangan pernah menyebut nama orang gila itu jika kau masih mau bekerja padaku."

"M-maaf, Bos. Aku tidak bermaksud—"

"Pergi."

"Bos—"

"Kubilang pergi!"

Anak buahnya buru-buru berbalik. Pelatuk penyembur peluru itu tidak jadi ditarik.

Saat Suga telah mengeluarkan senjata api, tak ada seorang pun yang akan berani menghadapinya selain Jimin.

Ya, Jimin.

Suga sering menyebutnya 'berandalan tidak punya otak' karena hanya Jimin lah satu-satunya manusia modal nekat yang cukup berani menghadapi pewaris tahta di Black Sun.

Sebelum Jimin ditahan bersama dua rekannya, Suga sempat mengalami kerugian puluhan juta Won karena Jimin membakar markasnya.

Insiden itu—menurut pengakuan Jimin—hanya sebuah ketidaksangajaan. Pemuda berandalan itu khilaf karena terlalu emosi. Emosi gara-gara perasaannya ditolak oleh Suga secara sepihak.

Suga sendiri tidak mengerti bagaimana manusia seperti Jimin masih bisa bicara tentang perasaan. Yang Suga tahu, Jimin dan dua temannya yang keji itu sama sekali tak punya hati.

Lagipula, barangkali Jimin amnesia, tidak ada ikatan apa pun yang berlaku di Black Sun. Dunia para penjahat ini tidak mengenal istilah omong kosong yang disebut cinta.

"Sebenarnya aku berharap mereka tidak pernah dibebaskan," Suga berbisik sendirian seraya menghentikan langkah di depan toko senjata, menatap bekas luka gores di tangannya yang membentuk alur bengkok, berakhir di pangkal telunjuk kiri.

Pemuda itu menengadahkan wajah. Menatap langit Black Sun yang selalu tampak seperti malam.

"Seharusnya aku punya keberanian lebih untuk membunuh Jimin. Jika aku membiarkannya tetap hidup ... dia yang akan lebih dulu menghabisi nyawaku."


Kim Seokjin mondar-mandir di depan sel penjara nomor 19. Tangannya dinaik-naikkan ke atas, sesekali kakinya melompat kecil; sebuah gerakan wajar untuk seseorang yang sedang mencari sinyal.

Smartphone di tangannya terayun-ayun. Jin hampir berteriak frustrasi. Usahanya gagal terus.

"Jin—"

"Tolong diam," Jin tidak menoleh, masih sibuk mondar-mandir, "aku sedang berusaha menghubungi adikku. Lagipula jangan memanggilku sembarangan, kita tidak dekat, Namjoon-ssi."

Jin tidak memedulikan hela napas kesal dari lelaki yang berdiri di balik sel itu. Ia tetap sibuk dengan alat komunikasinya sendiri.

"Kalau tidak diingatkan, aku khawatir dia tidak makan malam ..."

"Seokjin—"

"Diam, napi!" Jin kali ini menoleh, matanya menyipit dan terlihat berapi-api. "Kau tahu tidak kalau aku mengepalai empat skuadron polisi lokal? Kau tahu tidak kalau di jajaran polisi aku adalah visual yang selalu berbaris paling depan setiap kali ada upacara kenegaraan? Ini malam Natal, ini malam 25 Desember! Dan gara-gara kalian aku harus dinas di malam liburan! Kau tahu tidak kalau aku punya banyak tugas penting di rumah? Sekarang malah disuruh untuk menjaga kalian sampai waktu pembebasan? Kalian tahu tidak kalau adikku sering lupa makan? Kau tahu tidak kalau aku ini Kapten Kim Seokjin yang seharusnya tidak mengurusi tahanan-tahanan menyebalkan seperti kalian!?"

Kim Namjoon yang mematung di balik jeruji penjara, demi apa pun, hanya bisa tercengang.

Park Jimin—atau hanya Jimin kalau marga palsunya dihilangkan—bersikeras menahan tawa dengan menggigit kepalan tangannya sendiri. Sejak tadi ia diam di sudut sel, menguping drama romantis antara tahanan tak tahu diri yang jatuh hati pada seorang polisi.

Jimin melahap sendirian jatah makannya, sekaligus menghabiskan jatah makan teman-temannya.

Ketua Namjoon tidak akan peduli pada urusan perut kalau di sekitar mereka sudah muncul Kim Seokjin. Sayangnya, mereka beda kasta. Yang satu aparat negara, yang satu pengganggu negara.

"Kenapa kau selalu mengabaikan aku?" Namjoon yang putus asa, akhirnya kembali bersuara. Meralat panggilan untuk si polisi yang sejak tadi sibuk sendiri, "Jin?"

Tidak digubris. "Sebenarnya apa yang salah dengan jaringan ini?" Jin mulai mengetuk-ketukkan gadget ke telapak tangan. "Belum berhasil juga ... Sinyalnya benar-benar tidak ada. Kalau aku keluar sebentar bagaimana? Aku ingin menelepon dia. Apa dia tidak menerima pesanku?"

Percobaan kedua. "Jin, apa tidak ada hal lain yang penting untukmu selain adikmu itu?"

"Tidak ada," Jin menjawab cepat, kembali membuang mata dari Namjoon. "Kenapa aku jadi takut begini ... Ya Tuhan, anak itu makan tidak, ya? Jangan-jangan sekarang dia masih keluyuran."

"Jin." Namjoon makin pesimis. "Jin!"

Karena kasihan, akhirnya Jimin memutuskan membantu ketua gengnya. Ia mengangkat suara dengan sengaja, "Oi, Hyung! Kau mau makan bola-bola babi, tidak!? Di sini ada babi!"

Mendengar kata 'babi', Jin seketika menoleh.

"Siapa yang berani memanggilku babi? Jangan sembarangan, ya. Bagaimana mungkin aku yang seperti ini dipanggil babi?"

Dan seketika juga terdiam saat Jimin menyengir tanpa dosa, memperlihatkan sendoknya yang penuh daging.

"Ini yang kumaksud babi. Bukan kau, Kapten Kim." Senyuman lebar, "Jangan salah paham."

Namjoon diam-diam mengulum senyum. Muka merah Jin sebenarnya sangat menarik untuk terus digoda. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk bercanda. Malam ini adalah momen perpisahan. Setelah tragedi masuk penjara yang mereka rekayasa sendiri—dua tahun lalu Jimin bilang penjara di Seodaemun sangat mewah, setara hotel bintang tiga di Black Sun, jadi mereka harus mencoba menginap sesekali—malam ini, mereka harus kembali ke dunia mereka sendiri.

Adalah sebuah kesalahan jika polisi memasukkan penjahat dari Black Sun ke penjara mana pun di seluruh Seoul.

Sekali lihat, wajah Jimin lembut seperti pria baik-baik, memang benar. Namun, ia punya hobi akut: judi kartu. Taruhannya hanya sebatang rokok atau beberapa lembar Won, tapi jika lawannya bermain curang, Jimin takkan segan untuk menghajar lawan mainnya.

"Jin, aku ingin bicara denganmu sebelum pergi dari sini. Dua tahun, Jin. Dua tahun! Mau sampai berapa lama lagi kau mengabaikan aku?"

Kim Namjoon masih berusaha. Ia tidak akan berhenti sampai Jin membentaknya.

Seperti halnya Jimin, Namjoon pun terlahir tanpa marga. Ia hanya sembarangan menyebutkan 'Kim' saat ditanya oleh para tahanan senior dua tahun lalu—hanya karena polisi manis yang menangkap mereka juga bermarga Kim.

Namun sayang, Jin tidak pernah menggubrisnya. Senyuman ramahnya itu benar-benar menjadi penolakan telak untuk Namjoon. Jin sangat sulit ditembus. Menatapnya selalu membuat Namjoon seolah membaca peringatan imajinatif yang ditulis besar-besar dengan spidol merah: JANGAN DEKATI AKU. AKU TERLALU BAIK UNTUKMU.

"Jin? Hei, Jin—"

"Mengabaikanmu apa, Namjoon-ssi?" Jin kembali menghadap ponselnya, mengetik pesan dengan cepat. Tak peduli sekali pun pending. "Sudah kubilang. Aku tidak mengabaikanmu. Aku cuma menolakmu. Maaf, Namjoon-ssi. Semoga kau tidak patah hati. Jangan paksa aku."

Lagipula, siapa pula orang waras yang mau berdekatan dengan gembong penjahat dari Black Sun?

Kenyataan darimana Namjoon dan dua anak buahnya berasal memang disembunyikan dari tahanan lain. Tapi bukan berarti Jin tidak tahu. Ia tahu sepak terjang Namjoon. Ia tahu Namjoon adalah pemimpin dari dua orang yang mendekam di sel yang sama dengannya.

Namjoon punya obsesi besar pada kejahatan yang merusak. Namun, di sisi lain, Namjoon sangat tenang, kepribadiannya sangat teguh. Jin pernah memaki diri karena tertipu oleh kharisma pria baik-baiknya yang ternyata palsu.

Dua tahun lalu, setelah diintrogasi puluhan jam, Jin harus menghabiskan lebih dari seratus lembar halaman buku untuk mendata track record kejahatan pria itu.

"Sudah saatnya aku membebaskan kalian." Jin memasukkan gadget-nya ke dalam saku, mulai sibuk dengan serenceng kunci di tangan. "Setelah ini, aku berjanji tidak akan menangkap siapa pun dari Black Sun. Status kebal hukum kalian sangat merepotkan. Kalau ditahan tidak kapok. Kalau dibunuh tidak mempan. Ketidakadilan hukum pidana sudah menyelamatkan kalian. Tapi setidaknya, bisakah kalian hanya melakukan kejahatan di Black Sun saja? Tidak perlu ke Seoul—dan tolonglah, Namjoon-ssi, lepaskan sebentar matamu dariku. Aku risih kau tatap begitu."

Jimin menendang piring gepengnya yang sudah licin, menyambar tas tangan hitamnya yang menggembung besar.

"Sudah tidak usah pakai drama romantis, aku jadi ingin muntah," ucapnya sambil menyeringai. "Kalau masih kangen pada Namjoon-hyung setelah pisah, silakan datang ke Black Sun, Kapten Kim. Kalau berani datang, sih. Karena aku yakin kau tidak mau mati muda."

Jin menggeleng pada Jimin, dan gelengannya semakin kencang saat Namjoon menarik lengannya.

"Lepaskan aku—kau mau hukumanmu diperpanjang, Namjoon-ssi!?" gertaknya. "Jangan kurang ajar."

"Kalau memang kau mau aku lebih lama di sini, aku akan tetap di sini sampai kau menerimaku." Namjoon bersikeras. "Biarkan aku bicara denganmu, Jin. Sebentar saja, Jin! Sebelum aku menyesal!"

Jimin memberi jalan saat Namjoon menarik Jin ke dalam sel. Ketukan kasar ketua gengnya merusak suasana senyap gedung penjara.

Namjoon menggedor-gedor pintu toilet yang masih terkunci dari dalam. Ia butuh tempat tertutup untuk menyudutkan Jin.

"Taehyung—keluar, sialan!" maki Namjoon. "Keluar, brengsek! KIM TAEHYUNG!"

Gagang pintu ditarik dengan sangat kasar. Tiga kali percobaan, benda besi kuat itu akhirnya patah. Namjoon benar-benar perusak. Pintu toilet penjara hampir rubuh. Jimin menengok sesekali ke koridor panjang, mulai salah tingkah karena tahanan lain mulai tertarik pada keributan itu.

Jin yang lengannya dicengkeram sadar bahwa dirinya tidak boleh meronta—ia seorang polisi, sangat memalukan kalau ia ketahuan berteriak histeris gara-gara 'disandera' oleh tahanan psikopat macam Namjoon.

Sendu, Jin hanya menatap Jimin, meminta pemuda itu menarik Namjoon menjauh darinya.

Namun, Jimin hanya mengedikkan bahu. Tidak mau tahu.

"Kita bisa bicarakan ini baik-baik, Namjoon-ssi," Jin masih berusaha bersabar, "tolong lepaskan aku. Tanganku sakit—"

"HOI! KIM TAEHYUNG! BUKA PINTUNYA!"

Brak!

Seorang pemuda lain muncul, rambutnya acak-acakan. Matanya menatap malas, ia menggenggam cutter yang bilahnya telah patah separuh.

"Apa?" ucapnya tanpa rasa berdosa. "Berisik."

Melihat wajah malas V, Namjoon segera membentak, "Hentikan kebiasaanmu main sabun di toilet! Kau benar-benar merepotkan! Kau menggunakan kamar mandi sepuluh kali sehari hanya untuk berdelusi seperti kurang kerjaan!"

"Aku tidak main sabun. Sabunku tiga botol sudah dihabiskan Jimin sejak kemarin." Cutter langsung teracung di depan muka Namjoon. "Dan hentikan juga kebiasaanmu memanggilku dengan nama palsu sialan itu, Namjoon-hyung. Namaku V, bukan Kim Taehyung. Apa aku harus pakai kata 'tolong' untuk membuatmu paham?"

"Jangan kurang ajar pada pimpinanmu. Apa kau yang kau lakukan di dalam begitu lama, anak setan. Sana pergi"—Namjoon mendorong V, ganti menarik Jin ke dalam toilet.

"Egois."

V berbalik, membereskan barang-barangnya sendiri. Mengabaikan suara-suara sumbang dari dalam 'tempat basah' di belakang tubuhnya. V ingin sekali menulikan telinga saat mendengar kata-kata aneh semacam, "Jangan, Namjoon-ssi, aku bisa memenjarakanmu seumur hidup," atau, "Namjoon-ssi, hentikan! Kalau mau bicara, bicara saja sekarang! Tidak usah pakai buka baju!"

Di puncak kekesalannya, V membanting pintu toilet laknat itu dari luar, mendekati Jimin yang sedang menunggu sambil bersidekap bosan.

"Kau yakin Namjoon-hyung tidak akan minta balik ke sini lagi?" nada Jimin dicemari keluhan. "Polisi itu sudah membuatnya gila. Kuakui dia manis. Pantas Namjoon-hyung seperti kena mantra."

"Kurasa Hyung tidak bertepuk sebelah tangan, Kapten Seokjin itu hanya pura-pura punya selera tinggi. Kau tidak tahu kalau pria berandalan selalu punya daya tarik sendiri untuk dikencani?"

V menjatuhkan tas ranselnya di lantai. Saat ritselting benda itu dibuka, Jimin berdecak.

Seperti biasa, tas V selalu penuh kabel dan tang.

"Apa lagi yang akan kau kacaukan sekarang? Belum puas merusak sistem pengamanan penjara sampai tiga tahanan kabur sia-sia tempo hari? Dua tahun lalu kau membajak sistem penerangan seluruh Seoul sampai seluruh penjuru kota gelap gulita. Sekarang kau mau mengacaukan apalagi?"

V tidak menoleh untuk menatap Jimin. "Aku akan mengacaukan hidup anak orang," ucapnya.

"Anak orang?" Jimin menaikkan alis. "Luar biasa, ternyata penjara sudah membuatmu tumbuh jadi lelaki dewasa. Aku bangga padamu, dongsaeng."

V ingin sekali menendang betis manusia itu. "Jangan sok. Kita hanya beda bulan, Park Jimin."

"Hyung," Jimin mengoreksi.

"Hyung brengsek." V menekan suara, menyandang tasnya sendiri dan berjalan pergi. Jimin menoleh sekali lagi—belum ada tanda-tanda pertarungan sengit di dalam toilet akan berakhir.

Jimin tidak ingin mencari tahu. Ia berjalan mengikuti V. Biarkan hidup mati Kim Seokjin ada di tangan Kim Namjoon. Jimin malas ikut campur urusan orang lain.

"Kenapa kau tadi lama di toilet? Diare?" pemuda yang lebih tua membuka pembicaraan, berusaha menyejajari V. Mereka berjalan menyusuri koridor cokelat yang berkelok-kelok. Sol sepatu yang keras membentur lantai, suaranya menggema keras di langit-langit rendah yang terlihat mirip perangkap.

Tahanan yang berjubel di dalam sel yang berjajar memandang mereka dengan benci. Malam pembebasan Namjoon, Jimin dan V sudah ditunggu-tunggu. Penjara ini akan jauh lebih aman dan tenang tanpa mereka.

"Kemarin aku mengotak-atik circuit breaker di ruang instalasi listrik saat jam makan siang," jawab V. "Jadi sekarang, kalau ada korsleting di gedung penjara ini, arus listrik tidak akan putus."

"Apa niatmu?" Jimin menggeleng tak habis pikir. "Kau ingin membuat gedung ini terbakar?"

"Ya," V mengangguk. "Tapi kutunggu sejak kemarin tidak ada masalah korsleting atau apa. Aku mengharapkan ada yang berteriak-teriak kebingungan karena ada percikan api."

Jimin berdecak, "Kau positif gila, V."

"Apa kau yang menusuk tangan orang tempo hari dengan ujung sikat gigi yang diruncingkan, tidak sama gilanya?" V balas bertanya.

"Baiklah. Jadi kita sama-sama gila." Jimin mengajaknya berjabatan, tertawa lebar. "Dan jangan bilang kalau kau tadi lama di toilet untuk menguliti kabel listrik yang menjulur di langit-langit. Jangan bilang kau mengelupas selongsong pembungkusnya dan menjatuhkannya ke bawah agar terkena air, lalu kau menaburkan garam—"

V menarik sedikit ujung bibirnya, "Tidak sepenuhnya tepat. Tapi juga tidak sepenuhnya meleset. Ngomong-ngomong, aku sudah kangen dengan lorong gelap Black Sun."

"Benarkah? Kalau aku kangen pada Suga."

Mereka berdua menyeringai dan melanjutkan langkah. Jimin dan V hampir mencapai bagian depan gedung saat mendengar derap kaki orang berlari kesetanan.

"Bos datang. Percepat jalanmu, Jimin. Kurasa kita benar-benar harus segera pulang ke Black Sun," tawa V benar-benar meledak sekarang, "ada monster mengamuk karena gagal pacaran."

Jimin ikut terbahak, "Setuju."

Derap langkah itu makin menggila. Semakin keras benturan kaki itu dengan lantai, semakin keras pula V dan Jimin tertawa.

"Brengsek! Kim Taehyung sialan! Kebakaran macam apa yang sengaja kau sulut di dalam bilik toilet!" Itu suara Namjoon yang murka. "Anak buah tidak tahu diri! Brengsek! KEMARI KAU, KIM TAEHYUNG!!!"

V tertawa, ia mengabaikan polisi yang berjaga di depan dan berlari ke jalanan. Jimin menyusul kabur sambil terkikik. Mereka mengabaikan Namjoon yang marah luar biasa karena adegan panas yang selalu ia usahakan setengah mati bersama Kim Seokjin, terpaksa gagal total gara-gara korsleting listrik.


Jeon Jungkook membersihkan salju dari rambutnya. Ia meletakkan kaus kaki merah yang telah diisi dengan segumpal uang. Hela napasnya berkali-kali terdengar. Hela napas yang sangat letih.

Ini malam Natal ketiga yang kurayakan sendirian.

Jalanan Seodaemun-gu memang jarang sekali sepi. Terlebih, malam Natal telah menyedot semua orang untuk keluar rumah. Mungkin tidak hanya di sini, di seluruh penjuru Seoul pun pasti sama. Pohon Natal menjulang di mana-mana seperti kumpulan jari yang menunjuk langit. Parade kostum meramaikan tempat perbelanjaan.

Salju turun seperti gerimis tipis. Memutihkan sisi-sisi trotoar.

Jungkook sempat berbalik dan melihat seorang anak kecil menemukan kaus kaki seinterklasnya yang digantung di salah satu dahan. Bocah itu berteriak saat menemukan gumpalan uang—sebuah teriakan kecewa. Mungkin tadinya ia berharap akan menemukan permen atau roti jahe.

Jungkook berjalan sambil melamun.

"Oi, nak. Perhatikan jalanmu."

"Maaf."

Jungkook berlalu begitu saja, tidak menoleh lagi pada lelaki yang ditabraknya sekalipun orang itu memaki-maki. Otaknya sudah cukup kalut untuk menampung kekalutan yang lain.

Arloji dilirik sedetik. Pukul sembilan lebih sedikit. Tanggal 25 Desember masih tiga jam lagi.

Jungkook menyesal. Seharusnya ia mengulur waktu lebih banyak di gedung kesenian dan tidak buru-buru keluar kampus. Klub mahasiswa mengadakan persiapan operet Christmas Carol. Ketua klub pasti akan memintanya bergabung untuk menyanyi.

Setidaknya ia akan punya kegiatan untuk menyandarkan kekesalan, setelah tadi siang kakak sepupunya yang terlalu baik itu meninggalkan pesan mengecewakan di bawah mangkuk bibimbap: MALAM INI AKU HARUS DINAS. AKU AKAN PULANG SEBELUM KAU BANGUN BESOK PAGI. SELAMAT NATAL, JUNGKOOK. AKU TAHU KAU JENGKEL PADAKU, TAPI JANGAN SAMPAI LUPA MAKAN. TOLONG TUNDA NGAMBEKMU SAMPAI AKU PULANG DAN JANGAN BANTING GELAS SUPER MARIO BARUKU. AKU MENDAPATKANNYA DENGAN SUSAH PAYAH DI ONLINE SHOP. (JIN).

Oke, ini sempurna, pikir Jungkook kesal. Satu-satunya keluarga yang kupunya sudah sibuk dengan urusannya sendiri.

Jungkook memutuskan tidak akan pulang sampai fajar. Anggap saja hari ini adalah momen pembebasan. Sejak pertengahan tahun ia sudah dipenjara oleh buku teks dan tugas kampus. Gedung Fakultas Hukum di Universitas Yonsei seperti planet lain. Semua orang terlihat hebat—dan semua hebat itu orang membicarakan tentang hak kemanusiaan. Namun, atmosfer belajarnya yang ketat malah terasa kurang manusiawi untuk Jungkook.

Kalau tidak dikompori oleh Jin, Jungkook bersumpah takkan sudi kuliah.

Gadget tipisnya yang dilesakkan ke saku jaket, bergetar. Dari getarannya yang sangat lama, Jungkook sudah bisa menebak panggilan itu dari siapa.

"Ya, Hyung? Kenapa napasmu ngos-ngosan? Apa ada sesuatu yang baru terjadi?"

Kening Jungkook berkerut dalam saat mendengar jawaban Jin yang terbata.

"Jangan bohong. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku, Hyung. Hah? Apa? Tidak, aku belum pulang. Aku di Hyeonjeo-dong, sedang mencari kedai untuk minum soju"—Jungkook menggigit bibirnya, sedikit tersinggung—"tolonglah, sampai kapan Jin-hyung akan melarangku mabuk? Aku sudah dewasa. Aku bukan anak SMA lagi, Hyung. Aku sudah bisa jaga diri."

Namun, Kim Seokjin, entah di mana dirinya sekarang, terus mengatakan alasan-alasan murahan untuk memaksa Jungkook pulang.

"Hyung, tidak mungkin aku akan diculik," Jungkook bersikeras. "Aku tidak mungkin dilecehkan, atau malah diper ... astaga, Hyung. Aku bukan perempuan. Aku akan baik-baik saja!"

Namun, di ujung kalimatnya, Jungkook merasa ada sesuatu yang salah. Bukan. Sesuatu itu bukan dari Jin dan kalimat-kalimatnya yang menyebalkan.

Perlahan Jungkook menoleh ke belakang, mendadak merasa sedang dikuntit. Apakah Jin-hyung yang overprotektif itu telah mengirim pesuruh untuk menjaganya? Kalau benar, ini sudah keterlaluan.

"Hyung, tolong tarik pulang orangmu." Jungkook tahu, darahnya mulai mendidih. Gadget yang tergenggam kencang di tangannya, mulai basah oleh keringat. "Dia sedang menatapku dari balik kaca kotak telepon. Aku sudah tahu."

Jungkook ingin melempar batu atau apa pun. Seorang penguntit, sekalipun dibayar, tetaplah seorang penjahat.

"Suruh dia pulang atau aku akan memukul kepalanya," geram Jungkook, "apa? Astaga. Jangan bohong, Hyung! Dia ada di sini dan benar-benar sedang mengawasiku!"

Suara Jin yang meninggi membuat Jungkook tersentak. Sambungan telepon mereka terputus. Jungkook menelan ludah, baru sadar bahwa dirinya diintai bukan hanya oleh satu orang.

Jungkook mulai mempercepat langkah. Ada deru keras dalam dadanya. Giginya saling menekan kuat. Ia mulai takut. Benar-benar takut.

Tadinya ia tidak pernah mempercayai cerita Jin; mendiang orang tuanya punya banyak musuh. Bisnis properti mereka terlalu menggurita. Warisan yang dipegang Jungkook adalah santapan lezat untuk para penjahat ...

Berbagai kemungkinan buruk melintas. Otaknya dikotori oleh lusinan gambaran mengerikan. Ada getaran keras lagi dari dalam saku—panggilan berulang dari Jin yang pasti sedang kelabakan di sana. Namun, Jungkook terlalu takut untuk mengangkat.

Orang-orang berjaket hitam itu muncul dari empat penjuru.

Arah langkahnya yang gugup, diimitasi.

Jungkook menerka; ada total enam kalau ditambah satu orang yang tadi berdiri di dalam kotak telepon.

Pemuda yang ketakutan berbelok ke ruas jalan yang lain. Berharap menemukan keramaian untuk menyelinap. Namun, Hyeonjeo-dong sepertinya sedang tidak bersahabat dengannya malam ini. Entah apa yang terjadi, setapak yang dipijaknya seakan telah disapu bersih oleh kesunyian. Lampu-lampu mati. Pohon Natal raksasa di ujung jalan, rontok. Gerai makanan seakan janjian untuk tutup.

Frustrasi. Jungkook menjambak rambutnya. Berharap bisa kembali ke tempat parade kostum, atau menemukan tempat mana pun yang sekiranya aman.

Kalau mereka sudah mengepungku, akan semakin sulit.

"Kau Jeon Jungkook?"

Jungkook memucat.

"Jawab. Kau kan yang bernama Jeon Jungkook?"

Ia membeku. Jungkook tidak tahu lagi seberapa takut dirinya sekarang. Disaat seperti ini ia baru menyesal karena tak mendengarkan Jin. Jungkook menatap lelaki tinggi besar yang menghadangnya. Wajahnya tidak familier. Penuh bekas luka dan keropeng. Rambut cokelatnya menggunduk jelek seperti gumpalan tanah. Ada tato naga panjang di sisi lehernya yang penuh dengan urat kebiruan. Mata hitam pekat itu adalah mata seorang pembunuh.

Jungkook berusaha mengingat siapa orang itu.

Dan gagal.

"Apa maumu?" Ia memberanikan diri bicara, "Kalian bukan teman dari Kim Seokjin, kan?"

Kalian. Memang tepat kalau Jungkook menggunakan kata itu. Komplotan orang asing mendekat serentak, mengelilingnya seperti api unggun. Jungkook mengawasi mereka. Mata-mata dingin itu bersorot dengan kesan yang berbeda.

Beberapa menatap Jungkook seperti hidangan pecuci mulut; antusiasme yang dibalut kejahatan. Pemimpinnya yang tadi menghadang, menarik kerah jaketnya. Berbicara sangat dekat. Jungkook hampir muntah lantaran harus menghirup napas busuknya yang dicemari bau tembakau.

"Kau tahu ini apa?" ujung benda dingin menari di pelipisnya, turun hingga leher. "Jawab aku."

Jungkook berkali-kali menelan ludah. "Pi ... sau."

"Betul, anak pintar." Lelaki itu tertawa, "Tenang saja, kami tidak dibayar untuk membunuhmu. Kau terlalu muda dan terlalu tak berguna. Kami hanya datang untuk meminta tanda tanganmu, Jeon Jungkook."

Tanda tangan?

"Untuk apa?" Jungkook berusaha menatap lelaki itu dengan lebih berani. Ini pasti ada hubungannya dengan harta. "Kalau ini soal aset perusahaan, kontrak proyek, warisan, atau apa pun ... kujelaskan bahwa sekarang waliku yang sah adalah Kim Seokjin. Aku tidak akan mengambil keputusan apa pun tanpa pertimbangannya. Lagipula, kalian ini siapa? Kalian pasti orang suruhan dari pesaing bisnis orang tuaku. Kuulangi sekali lagi"—kedua tangan Jungkook mengepal keras—"KALIAN INI SIAPA!?"

Belum sempat mendapat jawaban, sebuah bogem mentah sudah mendarat di wajahnya. Jungkook tersungkur di permukaan aspal. Dari ujung bibirnya, ada darah yang meleleh. Cairan merah menetesi salju. Kepala Jungkook berdenyut nyeri. Sangat nyeri.

"Kalian ...," suaranya kini serak seperti orang sakit, "kalian keterlaluan."

Seorang lelaki yang lain bicara, "Sebelum bos kami menyuruhku untuk merobek wajahmu dengan pisau, lebih baik turuti saja permintaannya. Atau jangan-jangan kau ingin kami memotong tanganmu saja agar kami bisa mengambil cap jarimu? Kalau memang iya, tidak masalah. Kami bisa berkompromi—"

"Kalian gila!" Jungkook berdiri, berusaha kabur sekuat tenaga. Beberapa dari mereka bermaksud melempar pisau. Namun, si bos memberikan instruksi agar tak menyerang buruan mereka dari jauh. Salah-salah, Jungkook tertusuk dan mati. Cap jari tidak akan diterima oleh orang yang membayar mereka. Si tua bejat itu hanya mau tanda tangan Jeon Jungkook.

Tanda tangan asli yang tidak dipalsu satu goresan pun.

"Ada belokan—"

Drap! Drap! Drap!

Jungkook terus berlari. Peluhnya mengucur deras. Langkahnya mulai kacau karena kelelahan. Mungkin ia sudah keluar dari Hyeonjeo-dong. Semoga ia akan segera menemukan sudut lain Seodaemun-gu yang penuh dengan manusia.

"Hyung," Jungkook mengerjap, air matanya mulai menggenang di pelupuk. Bayangan pilu Jin melintas kabur di benaknya. "Tolong aku ..."

Baru saja dirinya akan berhenti untuk menelepon Jin, para penjahat itu sudah muncul lagi. Jungkook tidak punya pilihan selain memasuki satu belokan lagi. Namun—Jeon Jungkook mengerang benci—gang kecil itu buntu.

Ia harus memanjat untuk melompatinya.

Jungkook tidak sempat mengatur napas. Kakinya yang jenjang ditapakkan ke dinding. Jungkook berharap ia masih bisa selamat. Kemampuan hebatnya di bidang olahraga seharusnya membantu. Tubuhnya cepat, lincah, dan—

"Sial, sakit." Jungkook meringis. Nyeri itu menjalar seperti aliran listrik ke otak. Semoga saja lututnya tidak patah. Dinding terkutuk itu ternyata tinggi juga.

Jungkook buru-buru berdiri. Orang-orang itu masih mengejar. Mereka melompati pagar seperti sekumpulan bajing.

Jungkook terus berlari. Entah ia harus bersyukur atau malah memaki, tidak ada gang lagi di sini. Hanya ada pagar kawat duri yang melingkari sebuah kebun rimbun—atau mungkin hutan lindung gelap gulita yang tumbuh di tengah distrik dengan anehnya.

Jungkook tak pernah tahu ada tempat seperti ini. Ia seperti sedang memasuki dunia lain.

"P-ponsel ...," gugup tangannya meraba saku jaket. "Ponselku!"

Harapannya untuk menghubungi Jin musnah. Ponselnya hilang.

Jangan-jangan jatuh saat ia melompat tadi.

"Itu dia! Itu Jeon Jungkook!"

Jungkook tersentak. Orang-orang itu sudah mulai main kasar. Sekarang ada satu pisau terlempar. Diarahkan ke kakinya—tapi Jungkook masih cukup beruntung untuk menghindar. Tidak cukup itu. Kini ia juga mendengar suara tembakan.

Jungkook mencoba mencari jalan lain. Tapi percuma. Ia tidak punya pilihan selain memanjat pagar duri itu dan menyembunyikan diri di antara pepohonan—sebelum dirinya harus mati dicabik peluru.

Jungkook mengerang kesakitan saat tangannya mencengkeram duri-duri tajam itu. Ia tidak tahu lagi sekejam apa Tuhan padanya. Ini benar-benar menyiksa. Tangan Jungkook mulai bersimbah darah.

Namun, pemuda itu memaksakan diri untuk terus memanjat.

Kalau aku mati malam ini, semoga Jin-hyung memaafkan aku.

"Jangan melompat ke sana! Kuperingatkan kau, Jeon Jungkook!"

Jungkook terkesiap. Wajahnya pucat pasi. Suara tembakan membahana. Luncuran peluru terbang lurus menuju langit. Detik itu, tidak ada hal apa pun yang melintas di pikiran Jungkook kecuali bayangan tentang kematiannya sendiri. Tidak ada jalan lain. Jungkook mempercepat pijakannya.

Namun, baru memijak selangkah, tembakan itu menderu lagi.

"Hentikan langkahmu, Jeon Jungkook! Kalau tidak, kami akan menembakmu!!!"

Jungkook berhasil melompat setelah meninggalkan banyak jejak darah di pagar duri. Ia melindungi diri di balik jajaran pohon. Sesekali dirinya harus mengusapkan tangannya yang penuh luka di batang dingin, berusaha mengurangi rasa sakit.

Mungkin aku akan aman jika diam di sini.

Ia meringkuk di tengah akar besar yang menggunduk di tanah becek. Jungkook sadar jaketnya penuh robekan di sana-sini. Tidak hanya pagar pelindungnya yang berduri, hutan kecil yang misterius ini juga penuh duri.

Jungkook menjambak daun tanaman rumput-rumputan untuk membebat lukanya yang terus mengucurkan darah. Saking tegangnya, ia sudah tidak ingat lagi untuk menangis.

Drap!

Drap! Drap!

Namun, usahanya bersembunyi takkan bertahan lama. Tentu saja ia dapat ditemukan dengan mudahnya. Orang-orang itu mulai melompati pagar, satu persatu. Suara benturan kaki dengan tanah susul-menyusul. Jungkook berdiri gusar, berusaha menemukan jalan keluar. Jika memang masih ada.

"Aku harus ke mana ... Jin-hyung, tolong aku—"

Terdengar suara tembakan lagi. Para penjahat itu mulai mendekat.

Jungkook berlari, degup jantungnya kian menggila. Saat itulah kakinya tersandung sebongkah batu. Ia terjerembab. Mata besar Jungkook melebar saat menemukan lingkaran besi kusam di atas tanah. Seperti sebuah sumur.

Tanpa banyak berpikir, Jungkook mengusap cepat serasah dedaunan yang berserakan di sana. Ada gagang besi melengkung untuk membuka. Jungkook menariknya dan terkejut karena menemukan lorong.

Lorong yang memiliki tangga.

"Dia di sana! Tembak!"

Jungkook melompat ke dalam lorong tanpa berpikir lagi. Pintu lingkaran besi ditarik rapat dari dalam. Jungkook berlari cepat menuruni tangga—dan anehnya orang-orang jahat itu sama sekali tidak berusaha mengejarnya.

"Apa aku ... selamat?"

Ia baru menghentikan langkah setelah kelelahan. Jungkook menoleh ke belakang. Kembali menapak naik, dan entah kenapa dugaannya benar. Pintu besi itu tidak bisa didorong untuk membuka dari dalam.

Kini Jungkook terperangkap dalam lorong panjang yang menukik curam, berkelok-kelok seperti ular.

Ia menyudutkan dirinya ke dinding dinding. Menatap sekelilingnya dengan tatapan penuh teror. Kini, di sekitarnya hanya ada tangga, dinding abu-abu pengap, dan kegelapan. Ia sendirian. Jungkook tahu kini dirinya aman—

Sekaligus tidak aman.

Jeon Jungkook memberanikan diri turun. Mungkin lorong ini menembus ke suatu tempat. Mungkin ke distrik lain ... mungkin ke pusat kota. Namun harapannya jauh dari kenyataan. Jungkook berteriak ngeri saat kakinya tanpa sengaja menendang sebuah tubuh yang terkapar. Jungkook mematikan lampu arlojinya, menyadari bahwa apa yang tergolek di depannya adalah sesosok mayat yang separuh tubuhnya sudah membusuk.

Ia buru-buru berlari naik. Kemudian merosot dengan badan gemetar, duduk memeluk lututnya, mulai menangis memanggil Jin. "Hyung, tolong aku ... Aku terperangkap ..."

Jungkook tidak tahu harus turun atau kembali naik. Jika turun, ia tak bisa menduga apa yang akan ditemukannya lagi. Apa serpihan tengkorak? Atau malah ada binatang melata pemakan daging?

Jungkook memukul dinding sempit itu dengan benci. Tidak ada—dan tidak akan mungkin ada—manusia yang akan lewat. Ia tidak punya alat komunikasi. Berlari lagi ke atas dan menggedor pintu gerbang untuk minta tolong dibukakan juga percuma. Ia tidak mau ditangkap dan ditembak.

Jungkook kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding. Barangkali hidupnya memang sudah harus berakhir sampai di sini. Ia tinggal menunggu maut dengan tenang, entah dengan cara kelaparan atau dehidrasi.

Mata besar Jungkook yang basah perlahan-lahan meredup. Tubuhnya yang kelelahan tak bisa lagi memberi toleransi padanya untuk tetap terjaga. Jungkook tertidur dengan kepala menumpu pada gigir anak tangga.


"Kalian benar-benar sialan. Terutama kau, Taehyung!"

V melempar pandangan kesal pada bosnya. "Namaku V, HyungCuma V. Lupakan nama narapidana bodoh itu. Kuperingatkan lagi terhitung tanggal 25 Desember pukul nol, Kim Taehyung sudah mati."

"Mau V, atau X, atau Y, atau Z, apa peduliku hah? Aku hampir mendapatkan Jin dan kau menggagalkan usaha dua tahunku mendekatinya!"

"Sejujurnya aku setuju dengan V," Jimin yang memanggul tas tangan besar, berjalan lebih cepat dan lebih bersemangat. "Kalau kau punya pacar sebelum kami berdua punya, itu sebuah penghinaan kelas berat, Hyung. Aku sih tidak yakin selamanya ada yang mau dengan alien aneh seperti V, tapi setidaknya, kau baru boleh mendekati Jin setelah aku sukses menundukkan Suga."

"Suga?" Namjoon mengulangi nama itu. Kadang-kadang menanggapi setiap ocehan Jimin terasa sangat mengesalkan. "Masih beranikah kau berharap mendapatkan Suga? Astaga, Jimin, jangan pura-pura lupa. Belakangan aku memikirkan dengan apa kita harus melunasi hutangmu pada Suga. Kau masih ingat perkara kau, yang katamu tanpa sengaja, membakar markasnya, sekaligus menghanguskan belasan perangkat komputernya tiga tahun lalu, kan? Jangan pura-pura amnesia," Namjoon berdecak kesal.

"Aku tidak amnesia," Jimin mengangkat bahu. "Memangnya kenapa kalau aku hampir membuat Suga bangkrut? Uang juga uangnya. Kenapa Hyung yang pusing?"

Namjoon menjitak kepala anak buahnya itu. "Suga adalah orang yang berpengaruh di Black Sun. Aku tahu kita bertiga pandai bertarung. Tapi Suga adalah bandar racun biokimia di dark web. Dia tidak akan segan-segan membuatmu sekarat dengan ramuan bisa laba-laba black widow. Berhentilah berpikir untuk memilikinya. Kau seharusnya tahu diri."

"Ugh, lebih tidak tahu diri mana? Aku yang tertarik pada bangsawan Black Sun, atau kau yang tergila-gila pada polisi Seoul? Namjoon-hyung, Dulu aku melakukan itu hanya untuk ... Ah, kau tahu sendiri, kan. Suga tidak pernah peka. Aku hanya berharap diberi sedikit perhatian!"

"Tapi tidak harus dengan menghanguskan isi markasnya seperti itu, makhluk idiot! Kau mau dihadang oleh puluhan anak buah Suga di ujung tangga lorong? Dia bangsawan di tempat asal kita. Dia punya kekuasaan. Dia punya uang. Kalau bukan gara-gara kemampuan negosiasiku, kau pasti sudah mati dua tahun lalu, Jimin. Pakai otakmu."

"Ya, ya, ya ... Aku tahu Namjoon-hyung memang pandai bernegosiasi. Mantan pemalsu uang memang beda. Bagaimana kalau kita cek simpanan bitcoin-mu, Hyung? Siapa tahu masih bisa ditukarkan dengan uang cash. Lumayan bisa kupakai untuk membayar hutang pada Suga. Kau kan sudah pernah membuat perekonomian negara ini hampir kena inflasi—"

"Park Jimin!"

"Hentikan, Hyung. Itu bukan namaku." Tangan Jimin terangkat di depan wajah Namjoon. "Aku tidak punya nama belakang. Itu hanya marga palsu untuk mengelabui para polisi dunia luar. Kita sudah sepakat, kan? Semua bayi yang lahir di Black Sun adalah anak haram. Kita semua lahir di tempat sampah, dan yatim piatu di hari pertama kita hidup. Kurasa kau juga tidak seharusnya masih menggunakan marga Kim. Itu tipuan, Hyung. Silakan dicoret."

Namjoon berdecak, ingin sekali meninju Jimin dan kesoktahuannya yang menggebu-gebu. "Dasar, lama-lama otakmu sama rusaknya dengan V ..."

"Jangan samakan aku dengan alien idiot itu, Hyung!"

"Oi, kenapa namaku dibawa-bawa?" V baru saja akan memukul Jimin sebelum matanya menangkap sesuatu. "Hei, ada beberapa orang yang keluar dari pagar duri—lihat mereka."

Namjoon dan Jimin ikut melambatkan langkah.

"Apa yang mereka lakukan?" tanya si pemimpin. "Berani-beraninya menjamah gerbang depan Black Sun."

"Kurasa mereka sengaja menjebak seseorang agar jatuh ke dalam lorong." Jimin berpendapat cepat. "Kita tunggu sampai mereka pergi?"

"Ya," Namjoon mengangguk. "Jangan sampai ada orang Seoul yang tahu bagaimana kita membuka gerbang itu. Tato biotronik adalah harga diri Black Sun yang harus selalu dirahasiakan."

Namun, tidak seperti Namjoon dan Jimin yang menunggu kondisi sepi, V justru bergegas mendekati pagar. Tato biotronik bergambar sepasang sayap iblis di lehernya didekatkan dengan sensor rahasia yang tersebar di seluruh permukaan pagar duri.

Alat penghalang besar itu berderak, bergemuruh sebelum retak di beberapa titik dan bergerak turun, memberikan jalan selebar satu tubuh orang dewasa.

V mendahului sebelum Namjoon dan Jimin menyusul masuk.

"Kenapa buru-buru?" Namjoon memanggil, mereka mulai memasuki jajaran pohon rimbun. "Hei, V."

"Kita harus bergegas," jawab V. "Sebelum orang yang dijebak di dalam lorong itu mati."

"Sejak kapan kau peduli pada hidup orang lain, V?" Jimin menyambar, heran. "Biasanya juga kau menendang korban-korban terjebak yang sekarat di dalam lorong."

"Dasar bodoh. Katamu kau butuh uang untuk melunasi hutang pada Suga?" V yang sudah berjongkok di depan pintu lorong menoleh, menatap Jimin dengan pandangan meremehkan. "Dengar, Jimin. Kalau kita beruntung, kita akan untung besar. Jika dia masih muda, tampan atau cantik, bandar penjualan manusia di dark web bisa memberi kita ratusan juta. Jangan menyiakan peluang, Hyung brengsek."

Jimin dan Namjoon saling berpandangan.

V sudah mulai menarik gagang besi, kedua tangannya mencengkeram dengan semangat.

"Ayo masuk," pria yang paling muda itu berkata penuh ambisi. "Aku yakin, kita sedang ditunggu oleh seorang calon barang dagangan."

To be Continued