Chapter Text
"Oke, kemana tujuan kita selanjutnya?"
Kim Seokjin menghela napas.
"Black Sun. Aku sudah merekam bukti terbesarnya." Ponsel dikeluarkan, "Rekaman ini akan mengakhiri semuanya."
"Mengakhiri semuanya...," Namjoon menggumam, ia mengikuti Seokjin memasuki mobil dan tubuhnya terasa menggigil. "Aku tidak suka dengan akhir, tapi untuk kali ini, sepertinya aku akan menerima kenyataan."
"Kau tidak sedang membicarakan Song Mino," Seokjin menghidupkan mesin dan berkata kaku. "Kau sedang membicarakan kita."
"Aku tidak membicarakan kita." Namjoon mengusap wajah, "Dibicarakan atau tidak, hubungan kita tetap tak punya masa depan."
Keduanya mulai hening. Ketika mobil yang dikemudikan Seokjin melesat membelah jalanan Incheon, pikiran Namjoon makin kalut.
Setiap akhir selalu memancing ingatan untuk memutar balik kejadian demi kejadian.
Dari mulai mereka yang tak sengaja menemukan Jungkook di tangga.
V yang menjual Jungkook pada Yugyeom. Jimin yang menyeretkan diri ke dalam konflik Suga hanya karena jatuh cinta.
Kejahatan genosida yang menewaskan ratusan penduduk Black Sun.
Hingga ia dan Seokjin menjadi mata rantai untuk menentukan bagaimana titik akhirnya.
Namjoon menekan dada. Bahkan ia dan Seokjin tak tahu apakah mereka berdua masih akan hidup esok hari.
"Hei, Namjoon..."
"Ya?"
"Sebentar lagi Jungkook lulus. Kurasa dia sudah cukup dewasa untuk kutinggal sendirian. Aku ingin kuliah S2 di luar negeri. Mungkin aku baru akan pulang ke Korea setelah bertahun-tahun."
Baiklah. Kabar buruk lagi.
Namjoon belum pernah mendengar ini—dan ia terkejut, tentu saja—tapi lelaki itu tetap menyahut, "Ke mana rencananya? Berarti aku tidak akan melihatmu kembali lagi di Black Sun?" Senyum pahitnya tersungging.
"Amerika," jawab Seokjin. "Aku tidak bisa janji kalau soal 'kembali ke Black Sun'."
"Oh. Oke."
"Dan bagaimana denganmu?" Seokjin balas bertanya. "Apa kau punya keinginan yang belum tercapai?"
"Entahlah," bahu Namjoon terangkat. "Tapi kalau hari ini kita berhasil lolos dan hidup... aku ingin pergi ke suatu tempat yang hangat, yang di sana aku bisa melihat matahari bersinar setiap hari."
"Hm... Apakah itu sebuah tempat yang jauh?"
"Iya, sangat jauh." Namjoon tersenyum memaksa. "Sangat jauh sampai kau tak akan bisa lagi menemukan aku."
Mereka tak berbicara lagi setelah itu. Namjoon tenggelam dalam pikirannya sendiri, sementara Seokjin yang menyetir beberapa kali melirik padanya.
Ada perasaan tak rela (atau bagi Seokjin: perasaan sedih), dan mereka belum tahu cara menyeberangi dinding imajinatif yang terbangun tiba-tiba.
Kepala Seokjin perlahan berdenyut sakit. Hatinya selalu memberi pesan buram tentang Namjoon.
Seokjin akan marah pada keadaan kalau mereka dipisahkan oleh huru-hara Black Sun, tapi di sisi lain dia ingin meyakini jika Namjoon bukanlah tujuan akhir dari perjalanan hidupnya.
"Jin...," Namjoon tiba-tiba memanggil. "Kalau malam ini aku bernasib buruk, aku ingin kau jadi orang terakhir yang kulihat sebelum mati."
"Apa? Itu tidak mungkin," Seokjin tersenyum, "paling-paling aku yang mati. Kau lebih jago bertarung."
"Kalau aku mati, kau akan tetap hidup... tapi kalau kau yang mati, aku akan ikut denganmu."
"Kau gila," Seokjin membuang muka, pura-pura fokus menatap jalanan lagi. "Kau gila seperti Jimin."
"Apa aku boleh menciummu?" bisik Namjoon kemudian, "Sekali saja sebelum kita sampai di Black Sun..."
Hening lagi.
"Jin?"
"Tentu saja. Dasar cowok bajingan."
Mendadak, Seokjin membanting mobilnya ke tepi jalan.
Ia berjanji ini takkan lebih dari dua menit—dan pada akhirnya, justru Seokjin yang mencium bibir Namjoon, bukan sebaliknya.
V menyelinap di sepanjang jalanan sepi yang penuh mayat dan reruntuhan.
Song Mino berlari ke arah Ruang Pantulan—tempat terkutuk di mana V pernah dihajar Namjoon gara-gara menjual diri untuk menebus Jungkook.
Pemuda Black Sun itu masih cukup normal untuk sekilas merasakan trauma.
Namun, berhasil membunuh Song Mino adalah hal terpenting saat ini.
Tugas V adalah memburu iblis gila itu, menyeretnya jasadnya ke depan Jimin, dan semua dendam mereka terselesaikan.
V menarik napas dalam. Langkah kakinya kian mantap. Jungkook kini memenuhi pikirannya.
Apapun jatidiri si pemuda Seoul, jika V berhasil mengenyahkan Song Mino, secara langsung ia berarti menyelamatkan Jungkook.
Itu harga mati yang harus ia pegang.
"Song Mino! Keluar kau!"
V mendobrak pintu Ruang Pantulan.
Tempat itu masih sama. Indah, sekaligus mengerikan.
Kejujuran siapa pun bisa ditelanjangi di sini, tak peduli sehebat apa manusia itu dalam berbohong.
V mengendap pelan. Waspada penuh. Song Mino bisa saja tiba-tiba muncul dari belakang dan melubangi kepalanya dengan peluru timah.
"Keluar kau, pecundang!" Pistol di tangan V tak berhenti teracung. "Ayo kita berduel kalau kau memang jantan!"
Di detik yang sama saat ia menantang, Song Mino muncul dari ujung ruangan yang tersiram kegelapan.
V tahu orang itu membawa pistol. Namun Mino tak mengacungkannya.
Ia sepertinya cukup tenang menghadapi ajakan berduel dari salah satu berandal paling tersohor di kota tanpa cahaya.
"Oh. Ada calon adik ipar." Mino menyeringai, matanya menatap penuh tantangan pada V yang lebih dari sekadar siap untuk membunuh.
"Jujur, minatku untuk membunuhmu tak sebesar keinginanku untuk membunuh Jimin. Jungkook mencintaimu seperti orang gila. Aku masih berpikir, kasihan juga jika adikku jadi penghuni rumah sakit jiwa seperti ibuku jika kupisahkan darimu."
Sebuah omongan yang sama sekali tidak penting.
Mino sangat pandai mengibasi hati lawan agar menyerah pada amarah.
"Terima kasih perhatiannya. Tapi kurasa Jungkook tidak membutuhkan belas kasihan dari setan keparat sepertimu." V tidak mundur meskipun ekspresi Mino tampak lebih mencekam dari apapun. "Kujamin Jungkook juga tidak sudi jadi adikmu."
"Dan kau pikir dia sudi jadi istrimu?" balas Mino seraya tertawa. "Kau itu cuma penjahat. Orang miskin. Tidak punya rumah. Tidak punya adab. Tidak punya kewarganegaraan. Apalagi yang bisa kau tawarkan padanya selain cintamu yang murahan itu? Kau sama sekali tidak masuk ke dalam kriterianya."
"Setidaknya aku masih punya hati yang tidak busuk seperti hatimu."
"Hahaha. Jujur saja, V, aku jadi berpikir kalau inses dengan Jungkook tidak buruk."
"Dasar monster terkutuk!"
"Hei, kenapa memangnya? Lagipula siapa yang tahu kami sedarah?" Mino tertawa. "Ayahku sudah meninggal dan ibuku sakit ingatan. Siapa yang akan marah?"
"Siapa yang akan marah? Aku yang akan marah! Aku tidak akan membiarkan Jungkook jatuh ke tanganmu untuk alasan apapun!" V berteriak. "Dengar, manusia hina. Kalaupun dia tidak berjodoh denganku, aku akan merelakannya dengan orang lain yang jauh, jauh, jauh lebih baik darimu. Camkan kata-kataku!"
Satu tembakan terlontar tanpa sengaja karena V terlalu emosional.
Sekilas, ia menatap dinding beku di belakang mereka.
Cahaya biru terlontar tanpa henti—nyaris tak ada cahaya merah. Ruang Pantulan membaca kejujuran mereka dengan sangat jelas.
Song Mino tak main-main soal 'inses dengan Jungkook'.
V juga tak main-main tentang 'merelakan Jungkook untuk orang lain asal dia baik'.
Pembicaraan mereka memang penuh ketegangan, tapi V sama sekali tak menemukan celah jika Song Mino sempat mengatakan sebuah kebohongan.
"Kenapa kau memporandakan Black Sun?" V merasa ini saat yang tepat untuk berbicara—setidaknya sebelum mereka lupa diri dan saling melenyapkan dengan senjata di tangan masing-masing. "Aku tahu kau mencari adikmu tapi kurasa dendammu pada Black Sun bukan cuma soal itu."
"Hm. Kalau aku bercerita padamu... apakah kau akan memaafkan aku? Tidak, kan?" Mino menatapnya. "Ah, tapi baiklah kalau kau memang mau tahu.
"Begini... coba kau bayangkan dulu. Bagaimana perasaanmu jika suatu hari, Jungkook... tanpa kau tahu bagaimana sebabnya, menjadi bulan-bulanan seantero kota hanya karena dia jatuh cinta padamu—pada warga Dunia Atas yang dianggap musuh untuk semua orang karena menerima kesejahteraan dari pemerintah Korea Selatan?
"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika tiba-tiba Jungkook harus mendonorkan jantung pada adiknya yang sekarat dan kau tak diberitahu dia mati sampai berhari-hari kemudian?
"Kemudian ketika suatu hari kau datang ke Black Sun untuk mencarinya, mayat kekasihmu itu tergeletak begitu saja karena adiknya masih terlalu muda untuk merebut jasad kakaknya dari para pembenci yang lebih tua dan brutal..."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu. Jangan membuat pengandaian!" potong V.
"Aku berbicara tentang mantan kekasih yang kucintai. Hei, pemuda Black Sun, kau pikir sifat keras Suga itu datang begitu saja? Tidak, V. Sifatnya dibentuk oleh jalan hidup dan keadaan. Sama seperti aku. Dia juga sangat menyayangi Seungyoon."
"Kalau kalian sama-sama menyayangi Seungyoon, kenapa kau membenci Suga?" V masih tak terima.
"Karena setiap kali melihat Suga, aku melihat Black Sun," jawab Mino. "Dia selalu berbaik hati pada kalian. Pada anak-anak. Pada warga Black Sun yang kelaparan. Di mataku, kebaikannya berarti kejahatan. Kebencianku pada Suga adalah sesuatu yang kutumbuhkan, bukan datang begitu saja...
"Aku menyukainya, aku pernah mengajaknya menikah, menjadi pengganti kekasihku yang mati. Suga sangat baik—mungkin jauh lebih baik dari Jinwoo yang berkorban nyawa untukku.
"Namun sayang, kebaikannya yang berlebihan itu membuatnya lupa jika warga Black Sun pernah menghinakan kakaknya. Itu yang membuatku membenci Suga... di samping kenyataan jika di Black Sun juga lah adikku menghilang."
"Tapi tetap saja bagiku kebencianmu itu tidak adil." V menyahut benci, dan semakin benci karena selama Mino berbicara, sama sekali tak ada sinar merah yang memancar di sekeliling mereka.
"Hanya demi satu orang—yang bahkan sudah bertahun-tahun mati—kau korbankan nyawa ratusan orang."
"Pernahkah kau bertemu seseorang yang di matamu lebih berharga dari ratusan orang, bahkan lebih berharga dari nyawamu sendiri? Kalau belum, kuharap suatu saat kau bertemu dengan orang itu."
"Aku sudah bertemu dengan orang itu," jawab V, "tapi bukan berarti untuk mencintai Jungkook aku harus jadi keparat."
"Benarkah? Oh. Jadi orang itu Jungkook?" Kali ini Mino mengacungkan pistol. "Kalau benar, berarti aku harus melenyapkanmu agar kau tak jadi sainganku."
DOR!
"BANGSAT!"
V menekan lengannya yang tergores peluru.
Darah merah terjun, menetesi lantai pucat.
"Tenang. Tenang. Itu cuma percobaan," ujar Mino santai. "Sudah kubilang aku masih sedikit kasihan—"
"Aku tak sudi kau kasihani!" V memberondong tembakan. Mino cukup gesit dan V tak melihat kelemahan dari lelaki itu untuk menghindari bahaya.
Sepertinya dia cukup mumpuni untuk pertarungan jarak jauh.
V harus mencari cara agar ia bisa menyerang jarak dekat dan membuat Song Mino tewas di tempat.
"Kalau begini caranya, kaulah yang akan lebih dulu terbunuh," Mino tidak sedang memperingatkan. Ia hanya bermaksud melecehkan. "Akurasimu dalam menembak tidak sebaik aku."
Ya. V tahu dengan pasti—"Karena itu aku akan melumpuhkanmu tanpa senjata, bajingan!"
Nekat. Ia menendang ulu hati Mino hingga pistolnya terjatuh.
V memiting tangan Mino di punggung, sementara tangannya yang lain memaksa Mino mendongak ke belakang, mengerahkan tenaga penuh untuk membuat kepala lelaki itu putus dari leher.
Namun, Mino tak selemah itu untuk tetap diam. Bahkan dengan posisi tubuh yang terkunci, ia masih bisa berontak dan sedetik saja V lengah, kaki pemuda Black Sun ditendang hingga tersungkur.
Mino membalik tubuh V dan menghajar wajah musuhnya berkali-kali.
Darah merah memenuhi lantai, mata V buram karena pukulan bertubi-tubi tapi ia berusaha bangkit.
Sekuat tenaga, V menendang sisi kepala Mino dan berusaha mencekik.
Tak bisa dikatakan siapa yang 'lebih menang' sekarang.
V meninju bertubi-tubi dan Song Mino membalasnya. Keduanya sama-sama memar, babak belur, dan berlumuran darah.
V yakin pelipisnya bocor tapi robekan di wajah Mino tak kalah banyak.
Genangan darah dan keringat bercampur, menggenangi Ruang Pantulan yang indah sekaligus mengerikan.
Namun, malang untuk V.
Pada detik ketika Mino berhasil menindihnya hingga terkapar di lantai, kenangan buruk bahwa Namjoon pernah menghajarnya di sini kembali melintas.
Saat itu V sangat ketakutan.
Bahkan Namjoon yang marah terlihat lebih mengerikan dari kematian itu sendiri.
Sebenarnya tidak lama V tenggelam dalam trauma. Mungkin hanya dua detik.
Namun, tetap saja dua detik lengah bisa menjadi celah untuk membunuhnya.
"Mati kau, manusia Black Sun!!!"
Song Mino menghantamkan kepala V ke lantai sekeras-kerasnya hingga pemuda itu meraung kesakitan.
"Itu ganjaran karena kau berani menantangku berduel, makhluk hina!"
Lantai pucat makin memerah oleh genangan darah.
Pada detik selanjutnya, mata V pelan-pelan menutup.
"Perdarahan pasien berhasil dihentikan, tapi aku tidak yakin jantungnya akan kembali normal."
"Maksud Dokter apa?" Jungkook yang sejak tadi menunggu di depan berlari mendekat, "Apa Suga—"
"SUDAH KUBILANG, DOKTER GADUNGAN INI TIDAK BECUS MENGURUS PACARKU!!!"
"Hentikan, Jimin!" Jungkook menahan Jimin yang kembali bergerak untuk menggorok leher si dokter. "Kalau dia tidak ada, Suga bisa saja sudah mati. Kau seharusnya bersyukur!" bentak Jungkook.
"Lalu apa yang bisa kita lakukan, Dok?" tanya Jungkook kemudian. "Maksudku... aku tahu mungkin jantungnya atau pembuluh darah jantungnya atau apapun itu terkoyak gara-gara tembakan. Tapi dia masih bisa bertahan hidup, kan? Kalau perdarahannya sudah berhenti, berarti Suga sudah melewati masa kritisnya, kan?"
"Tentu saja belum," jawab si dokter. "Sudah kubilang alat-alatku di sini tidak banyak. Mungkin saja aku cuma bisa membuatnya bertahan hidup sampai beberapa jam. Maksimal satu hari—"
"APA KAU BILANG!!? MAKSIMAL!?"
"KUMOHON TENANGLAH, JIMIN!" Jungkook menampar Jimin dan mendorong lelaki itu keluar dari ruang tindakan.
Pemuda Seoul mengunci pintu dan kembali menghampiri dokter yang ketakutan.
"Apa dia harus kubawa ke Dunia Atas?" tanyanya. "Mungkin Suga bisa selamat kalau diobati di sana."
"Masalahnya aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Aku bisa saja memperbaiki aortanya yang bocor, tapi apakah setelah itu jantungnya bisa berfungsi dengan normal, aku tidak bisa menjamin. Jujur, ini sangat aneh tapi klep jantungnya pun terkoyak.
"Bisa kukatakan beberapa bagian di dadanya juga penuh luka. Bukan hanya karena tembakan tapi juga karena hajaran benda tumpul. Dia manusia yang sangat kuat... mungkin kalau orang biasa yang dihajar separah itu, dia sudah mati bahkan sebelum jantungnya tertembak."
"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" Jungkook bertanya lagi, wajahnya sudah pucat. "Apa ada kemungkinan Suga akan mengalami gagal jantung... atau apapun itu yang bisa membuatnya mati?"
"Bisa saja, tapi aku tak bisa menjamin. Kondisi pasien terlalu mengenaskan. Dia bisa bertahan hidup 24 jam lagi saja sudah bagus. Dengan menyesal kukatakan kalau kita hanya menunggu keajaiban."
"Keajaiban...?"
Jungkook tak tahu apakah dokter di depannya ini kompeten atau tidak, tapi jujur saja sekarang ia tak punya pilihan lain selain memercayainya.
"Dokter, kalau misalnya jantungnya benar-benar rusak atau ada tanda-tanda akan berhenti bekerja... apa sekiranya yang bisa kita lakukan?"
"Aku tidak tahu apa ini legal di Seoul. Tapi di Black Sun, dulu aku pernah mengganti jantung seseorang dengan jantung kakaknya yang masih hidup. Waktu itu, dia setuju kubunuh di meja operasi."
Jungkook tidak bisa membayangkan semua itu terjadi pada Suga.
"Setuju untuk dibunuh... Ah! Apa kita tidak bisa mengambil jantung mayat dari luar sana?" Jungkook sudah terlalu kalut hingga asal bicara. "Banyak mayat tergolek di Black Sun. Kita bisa seret salah satu kemari, kan?"
"Tidak bisa," jawab si dokter. "Jantung yang diambil harus jantung yang masih sehat dan segar... biasanya dari mayat yang belum lama meninggal."
"Jantung siapa yang bisa menggantikan jantungnya? Tidak adakah jalan lain?"
"Tidak ada. Di Black Sun semua orang berpikiran dangkal. Dunia medis di sini hanya bergantung pada dua hal: trial and error, serta menunggu keajaiban."
Jungkook terdiam.
Ia tak punya kekuatan untuk bertanya lebih jauh, bahkan untuk menghampiri Suga yang masih tergolek tanpa tanda-tanda kehidupan.
"Selama ini aku selalu berharap keajaiban di Black Sun, tapi keajaiban itu tidak pernah kutemukan," gumam Jungkook sambil memandang Suga yang belum juga bangun.
"Suga," panggilnya dari jauh, "kenapa kau membiarkan Song Mino menang?"
Jungkook memang tak sanggup mendekat. Karena tidak ingin menangis, ia memutuskan untuk membuka pintu dan Jimin langsung menghampirinya.
"Si bodoh itu bilang apa?" tanya Jimin. "Dokter itu bilang apa?"
"Dia bilang Suga..," Jungkook tak fokus saat menjawab pertanyaan Jimin. Matanya berlarian ke mana-mana. "Suga baik-baik saja. Jantungnya... jantungnya baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Dia... akan sembuh."
"Jungkook?" Tapi Jimin bukan orang bodoh. "Kau kenapa?"
"Aku baik-baik saja. Aku akan mencari V." Jungkook menghempaskan tangan Jimin yang mencengkeram lengannya. "Sampai ketemu nanti."
Jimin heran memandangi Jungkook yang pergi begitu saja. Pemuda Seoul itu menghilang dengan cepat, tapi jujur saja Jimin bisa melihat langkah Jungkook sedikit limbung.
Dari sikap Jungkook yang begitu dingin dan kacau, Jimin langsung bisa membaca apa yang terjadi.
Mungkin keadaan Suga memang telah segawat itu sampai Jungkook pun tak tega untuk berkata jujur padanya.
"Aku tidak menyangka bisa membunuh orang sebanyak ini."
Minjae berlari menghampiri Hoseok dengan napas tersengal.
Kekacauan di sekitar mereka tak tertolong lagi. Anak buah Song Mino terlalu sedikit untuk menahan gelombang serangan dari warga Black Sun.
Kim Mingyu gila itu ternyata juga membawa sekantung ranjau dari Dunia Atas.
Ia memasang banyak jebakan yang bisa mencabik-cabik siapa pun yang menginjaknya—beserta puluhan orang yang ada di sekeliling si korban. Mereka bertarung tanpa lelah meskipun Song Mino menghilang dan tak bertarung bersama mereka.
"Kurasa kita akan menang," Hoseok tersenyum samar, "pasukan mereka kalah banyak."
"Selain itu anak buahmu jauh lebih brutal dibanding warga Black Sun sendiri," puji Minjae, "kurasa aku ingin belajar bertarung dengan para polisi Seoul agar bisa melindungi kakakku."
"Aku bisa mengajarimu," sahut Hoseok. "Setelah semua ini selesai, aku akan mengajarimu."
"Kau serius?" Minjae memandangnya. "Tapi Dunia Atas dan Dunia Bawah adalah musuh."
"Ya tapi kita tidak." Hoseok meraih tangan Minjae. "Percayalah semua permusuhan ini akan berakhir. Black Sun akan semakin dihargai dan suatu hari akan ada cahaya terang yang bisa membuat kalian semakin bebas untuk menginjak Dunia Atas."
"Semoga saja cahaya itu dari kau." Minjae menggumam, "kau seperti harapan untuk semua orang, Jung Hoseok."
"Dan seperti harapan untukmu juga, kan?" Hoseok tersenyum lagi.
Ia menyerahkan pistolnya yang penuh berisi peluru untuk menggantikan senjata payah di tangan Minjae.
Saat mereka berlari untuk menyelesaikan seluruh huru-hara itu, dari arah terowongan mendadak muncul cahaya terang yang menyilaukan mata.
Semua orang berhenti menyerang.
Hoseok menatap Minjae dengan pandangan mengatakan, 'Apa kubilang.'
"Mereka datang dari Seoul...," Jeon Wonwoo mendekati Mingyu dan berkata dengan nada tak percaya. "Para pasukan berseragam itu datang dari Seoul, berarti Ketua Jung berhasil menggerakkan mereka untuk membela Black Sun."
"Kau benar, Wonwoo." Mingyu ikut takjub, "Kurasa kita benar-benar akan menang sekarang."
"Jadi cuma sampai di sini kemampuanmu?"
Mino menggunakan jari kakinya untuk mengecek apakah V benar-benar berhasil ia lumpuhkan.
"Jadi kau mati begitu cepat karena terlalu takut padaku, pemuda Black Sun?"
Mino menyapu tetesan darah yang belum berhenti turun dari bibirnya.
V cukup hebat sebagai petarung, tapi Mino jauh lebih hebat dalam hal apapun.
"Akhirnya aku hilang saingan... Percayakan saja Jungkook padaku. Dia akan hidup bahagia dengan uangku, dengan kekuasaanku, dengan cintaku."
Selesai berkata begitu, Mino dikejutkan oleh teriakan lantang dari arah belakang.
"Jangan bermimpi, Tuan Song, Jeon Jungkook tidak akan pernah jadi milikmu!"
Mino menoleh.
Kim Seokjin datang bersama Namjoon—membawa bukti kunci yang mungkin akan membuat takdir mereka berubah selamanya.
"Oh, kapten polisi dan pacar busuknya yang kukira lari dari pertempuran," Mino tersenyum. "Kalian darimana saja? Kenapa kalian keluyuran sampai begitu lama? Ketahuilah jika Jimin telah kukalahkan. Suga juga sudah kutembak jantungnya. Banyak hal seru yang sudah kalian lewatkan—"
"Termasuk kenyataan bahwa kau menghajar adikku sampai pingsan seperti itu?" Namjoon siap memecahkan kepala Mino sekarang. Tangannya mengepal dan wajahnya memerah karena emosi.
"Iya, tapi dia bukan pingsan," Mino tertawa. "Coba lihat lebih dekat. Dia mati. Adikmu sudah mati."
"KEPARAT!!!"
"Namjoon! Jangan! Kalau kau mendekatinya kau bisa ikut dibunuh! Kau lihat matanya? Matanya seperti iblis!" Seokjin mencegah.
Ia buru-buru menyalakan rekaman yang ia bawa dari rumah sakit jiwa dan berkata, "Biar kejujuran ini saja yang membunuh manusia biadab itu. Biar dia tahu sendiri siapa sebenarnya adiknya!"
Sejak tadi, Ruang Pantulan memang tak pernah berhenti melontarkan sinar biru.
Namun suara sumbang yang menakutkan dari rekaman itu seketika memenuhi udara pengap.
Mino dipaksa mendengarkan kejujuran yang selama ini sengaja ia hindari karena pasti takkan sanggup ia sangkal.
"Kalau kau mau tahu siapa adikmu, sebaiknya kau cari tahu dari ibumu sendiri," ucap Seokjin. Nyonya Song memang telah berkata jujur padanya dan Namjoon. Nyonya Song membuka jatidiri anak kedua suaminya yang selama ini tak henti Mino cari hingga nekat memporandakan Black Sun.
Rekaman diputar.
Saat itu, otak Mino masih menyangkal.
"Aku tidak pernah memberitahu Mino-ku soal anak haram itu! Aku yakin ayahnya yang memberitahunya! Youngbae berani bicara macam-macam pada anakku! Aku tidak terima! Aku tidak terima Mino-ku disakiti oleh mereka semua!"
Mino ingin sekali tuli. Tidak, suara dalam rekaman itu bukan suara asli ibunya.
"... selama ini aku diam karena aku tak mau putraku hancur! Perempuan Black Sun itu merebut suamiku! Dia melahirkan anak haram dan mengobrak-abrik keluargaku! Aku mengutuk bayi yang dia lahirkan!"
Kali ini Mino tak setuju.
Seharam apapun—seterlarang apapun hubungan ayahnya dengan perempuan Black Sun itu—anak itu tetaplah adik separuh darahnya.
"Aku tidak mau Mino-ku bertemu dengan bayi hina seperti Yoongi! Aku membencinya!"
Rekaman tiba-tiba dimatikan.
Seokjin menatap Mino penuh kemenangan.
"Sekarang kau dengar? Tadi kau bilang kau menembak jantung Suga... ITU BERARTI KAU MENEMBAK ADIKMU SENDIRI, BAJINGAN!!!"
"TIDAK! KALIAN BOHONG!" Mino berteriak. "SUARA ITU BUKAN SUARA IBUKU!"
"Itu suara ibumu!" balas Namjoon murka, "Kami menyusulnya ke rumah sakit jiwa di Incheon! Adikmu bukan Jeon Jungkook! Kalau kau tetap menganggap kami bohong, lihat saja di sekelilingmu! Ruangan terkutuk ini sengaja dibangun untuk menelanjangi isi hati manusia! Kau boleh tak percaya pada kami, tapi kau pastinya tidak bisa menyangkal kejujuran yang dibaca sinar biru itu!"
Tubuh Mino kini terasa kaku. Ia ingin buta saja sekarang. Setiap kali Seokjin mengatakan "Suga adalah adikmu", sinar biru yang begitu banyak justru menyambar tanpa ampun di pelupuk matanya.
"Seokjin-hyung! Namjoon!!!"
Di tengah suasana panas itu, Jeon Jungkook tiba-tiba muncul di ambang pintu Ruang Pantulan.
"Song Mino! Kau—" kata-kata Jungkook terputus saat melihat V tergolek di dekat kaki Mino. "Ya Tuhan...! V! Apa yang kau lakukan padanya, bangsat!?"
"Jungkook! Jangan mendekat!" Seokjin menghalangi, "Mino bisa membunuhmu!"
"Peduli setan! Aku tidak takut padanya!" Jungkook mendorong kakaknya hingga tersungkur untuk menghampiri V yang tak jelas hidup atau mati.
Jeon Jungkook bergegas meraih salah satu pistol yang tergeletak di lantai dan mengacungkannya ke arah semua orang.
"Jangan ada yang berani menyentuh V." Jungkook memeluk kekasihnya dengan sebelah lengan, sementara tangannya yang satu mengancam akan menembak siapa pun yang mendekat. "Dia milikku. Dia tidak boleh disentuh oleh siapa pun..."
"Jungkook...," Seokjin memanggil pilu. "Dia sudah tidak bergerak..."
"Dia akan bangun!" teriak Jungkook. "V adalah milikku. Dia akan hidup selamanya denganku. V akan bangun untuk melihatku. V tidak akan mati karena dia telah berjanji padaku!"
Seokjin diam-diam menangis melihat adiknya mendekap tubuh pemuda Black Sun yang kondisinya sudah sangat mengenaskan.
Tak ada yang tahu V masih hidup ataukah sudah mati—tapi jika saja Jungkook masih waras untuk berpikir, sangat kecil kemungkinan V akan selamat.
Pemuda itu telah kehilangan banyak darah. Bahkan Namjoon pun tahu dirinya tak bisa melakukan apapun jika memang hidup V harus berakhir hari ini.
Hanya Jungkook saja yang masih berharap.
Sangat-sangat berharap.
Sejak dulu Jungkook yakin Tuhan itu ada. Jika saja V memang harus berpisah darinya, tidak mungkin mereka dipisahkan dalam keadaan sehina ini.
Di tengah pertempuran yang seharusnya mereka menangkan, V justru meninggalkannya tanpa pamit.
"Apa aku juga bisa menukar umurku pada restoran kanibal untuk menebus nyawamu?"
Jungkook mencium bibir kekasihnya yang telah memucat.
Menggenggam tangannya yang penuh memar ungu.
"Katakan berapa uang yang harus kubayar untuk membuatmu selamat. Kumohon, bangunlah sekarang. Kau benar-benar membuatku gila!"
Jungkook mulai meracau.
Seokjin mengusap air mata yang menderas di pipinya.
Ia ingin menghampiri Jungkook tapi adiknya sangat protektif pada tubuh V yang sudah tak bergerak.
"...kubilang jangan ada yang mendekat." Jungkook keras kepala memperingatkan. "Dia ini milikku! Tidak ada yang boleh menyakitinya lagi! Tidak ada yang boleh menyentuhnya kecuali aku!"
Jungkook bahkan melontarkan peluru sembarangan karena otaknya sedang tak bisa berpikir waras.
Song Mino ingin menghajarnya agar diam tapi Jungkook seolah menjelma menjadi orang lain karena terlalu murka.
Si malaikat Seoul seakan bertransformasi jadi mesin pembunuh. Tinggal menunggu waktu saja hingga Jungkook meledak dan mengosongkan Ruang Pantulan dari denyut jantung manusia.
"V, tenang, sayang. Kau aman denganku. Kau aman bersamaku...," Jungkook berbisik berulang-ulang bagai mantra. "Aku akan menjagamu dari mereka semua. Jangan takut, tidak ada yang bisa menyakitimu..."
"Jungkook, hentikan... Dia sudah..."
"Belum, Hyung!" teriak Jungkook. "Kalau kau tak tahu apa-apa, jangan banyak bicara!!!"
Seokjin ingin mengingatkan adiknya sekali lagi, tapi matanya segera menangkap pergerakan Song Mino yang sejak tadi sama hancurnya dengan Jungkook.
"Namjoon, tangkap dia!" seru Seokjin. "Jangan sampai dia kabur dan memburu Suga!"
"Suga. Suga. Suga. Suga. Suga."
Jimin memanggil, tangannya mengelus kening Suga dan menyentuh pelupuk matanya yang terpejam.
"Park Yoongi-ku... Rasanya pasti seperti mimpi ya kalau suatu hari aku bisa memanggilmu dengan nama seperti itu."
Jimin mengeluarkan selingkar cincin dari sakunya. Benda murahan itu bukan terbuat dari berlian atau platina.
Jimin iseng membelinya di pasar pada hari yang sama ketika ia diberitahu di mana rumah Suga.
Begitu tinggi mimpi yang ia sematkan ke langit tentang si Manusia Kaca.
Padahal saat itu belum jelas apakah Suga sudi untuk membalas cintanya.
"Jadi bagaimana, chagi? Apakah kau setuju untuk menyiksaku seumur hidupmu?" Jimin mengusap tangan Suga yang tak ditancapi jarum infus. "Kenapa kau jadi pendiam? Biasanya kau langsung memakiku atau mendampratku. Ayo teriakkan isi pikiranmu. Apakah aku membuatmu kesal?"
Suga tidak menjawab. Tentu saja ia tak menjawab.
Mata Suga masih terpejam rapat, seperti saat ia baru saja tertembak oleh Song Mino.
Belum ada tanda-tanda Suga akan terbangun.
Alat perekam detak jantung pun kadang seperti berfungsi, kadang juga tidak.
Entah mesin itu yang salah atau jantung Suga lah yang terlalu bermasalah.
Jimin tidak tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Namun, apa pun yang terjadi pada Suga sekarang, cincin itu tetap harus dipakaikan pada orang yang berhak memilikinya.
"Aku tidak tahu bagaimana kata-kata untuk melamar seseorang...," Jimin menyematkan benda mengkilat itu ke jari manis Suga. "Tapi entah kau akan menerima atau justru membuangnya saat kau bangun... kuharap benda ini bisa mewakili keinginanku yang ingin menjadi pelindungmu."
Kening Suga dikecup pelan.
Jimin tidak mengusap air mata yang menetes di pipinya.
"Chagi," bisiknya di telinga Suga, "Kalau kau diam saja, berarti kau menerima lamaranku."
Jujur, kalau boleh memilih, kali ini Jimin lebih ingin Suga terbangun, berteriak, dan menampar wajahnya.
Melihat Suga terbujur kaku—mungkin sedang terombang-ambing di antara hidup dan mati—sama sekali bukan hal yang pernah ia bayangkan.
Black Sun sangat lekat dengan kekerasan, tapi Manusia Kaca-nya yang berharga sama sekali tak layak diperlakukan serendah ini.
Bagi Jimin, Suga adalah segalanya. Melihat kekasihnya sekarat membuat Jimin mulai mempertanyakan apa gunanya ia selamat.
"Aku akan menunggu sampai kau bangun..," Jimin menyunggingkan senyuman pedih. "Nanti siapa lagi yang mengataiku bangsat atau bodoh kalau kau tidak mau bangun?"
Jimin berharap permohonannya akan dijawab dengan pergerakan tangan—kalau memang Suga masih enggan membuka mata dan balas menatapnya.
Jimin beberapa kali mengusap tangis yang tak disuarakan dan mencoba mengatakan segala macam hal baik yang terlintas dalam pikiran.
Beberapa kali ia mencoba mengingatkan Suga tentang kenekatannya yang sejak dulu tak menyerah mengejar si Manusia Kaca.
Beberapa kali ia juga mencoba menceritakan tentang Seoul yang sangat cerah saat ditimpa sinar matahari musim panas.
"Yah meskipun aku diterima di Seoul sekadar jadi tahanan... tapi setidaknya aku punya kenangan sebagai 'warga Dunia Atas' meski cuma sementara." Jimin mengusap pipi Suga yang seputih salju.
"Kurasa aku akan suka jadi warga Seoul... tapi kalau kau keberatan dan ingin aku tetap berada di Black Sun untuk mendampingimu, aku tidak akan berpikir dua kali. Aku akan memilihmu, menempatkan kepentingamu dalam posisi tertinggi dalam hidupku tanpa ada tawar-menawar. Karena itu bangunlah... Bangun dan peluk aku, Suga."
Di ujung kalimatnya, Jimin tak tahan lagi untuk membuncahkan tangis.
Kepalanya menelungkup di lengan Suga yang tak bergerak.
Berharap lelehan air matanya yang hangat bisa membuat Suga risih dan bersedia membuka mata.
"Aku harus menunggu sampai berapa lama? Kalau pingsanmu kubatasi satu jam dari sekarang, apa kau akan sadar saat waktu yang kuberikan habis?"
Jimin ingin mengajak bercanda tapi matanya menatap pilu. Ia tak siap jika tiba-tiba harus menemukan Suga dalam keadaan kaku tanpa napas.
Seharusnya, seburuk-buruknya takdir yang terjadi, dialah yang lebih layak untuk meninggalkan Suga lebih dulu. Bukan sebaliknya.
"Kenapa kau tidak mau bangun juga?" Jimin mengeluh, "Ayo bangun. Besok kuajak jalan-jalan ke Seoul..."
Jimin masih menunggu. Tatapan matanya berubah dari pilu menjadi tak berdaya. Suga sama sekali tak merespon.
Mungkin permintaan Jimin sama sekali tak bisa membuatnya terpanggil.
Tangan Jimin yang tadinya mengelus lembut, kini menggenggam jemari Suga dengan gemetar.
Ketakutan mulai menjalari dirinya. Mungkin Suga terluka terlalu parah sampai hilang kepercayaan untuk kembali membuka mata—mungkin juga ia takut jika disakiti lagi untuk yang kedua kalinya.
Jimin mulai berpikir apakah merelakan Suga untuk pergi adalah yang terbaik jika itu bisa menghindarkan kekasihnya dari bahaya.
"Ya. Mungkin memang harus begitu...," Jimin berbisik pedih, "tapi tetap saja, tidak bisakah kau berpamitan dulu padaku?"
Jimin lelah menunggu Suga menyahut.
Alat perekam detak jantung masih saja berfungsi setengah hati dan berkali-kali gambaran garis lurus yang bertahan beberapa detik membuat Jimin semakin tertekan.
Ia berdiri dan berjalan limbung menuju tumpukan laci tua yang menghampar di salah satu sudut ruangan.
Jimin tidak tahu obat-obatan, tapi ia tahu jika memakai obat bius dosis tinggi secara sembarangan bisa berakibat fatal.
Itu akan menjadi pilihannya yang terakhir.
"Aku akan tidur di sini sampai kau bangun, Suga."
Ranjang itu mendapat satu penghuni baru. Jimin tidur miring dengan Suga berada dalam pelukannya.
"Kalau kau tak bangun, aku juga tidak mau bangun."
Jimin memejamkan mata tapi otaknya terus bekerja, mengulang-ulang kenangan tentang Suga.
Kekasihnya itu adalah orang paling keras kepala, paling berani, dan paling sulit didapatkan.
Namun, semua kenangan itu seharusnya berakhir manis karena Suga sekarang telah rela menjadi miliknya.
Bibir Jimin sekilas menyunggingkan senyum, sebelum ia terlelap, menyusul Suga ke alam mimpi.
"Chim..."
"Chim..."
"Jimin!"
Namun itu tidak lama.
Tak sampai sepuluh menit kemudian, Jimin terlonjak karena mendengar suara kakaknya.
"Namjoon-hyung!"
Bersamaan dengan kedatangan Namjoon, mereka mendengar suara seperti tercekik, datang dari arah Suga yang masih belum membuka mata.
Masih ada gelombang tak rata di alat perekam detak jantung, tapi Suga tiba-tiba bernapas dengan terputus-putus.
Tubuhnya mengejang, seolah ingin melepaskan diri dari jeratan.
Jimin panik dan memanggil dokter—seperti biasa, dia mengancam keras jika Suga gagal diselamatkan.
"Kondisi jantungnya sudah parah." Itu hal buruk lain yang harus Jimin dengar. "Sebentar lagi dia akan—"
"DIA HARUS SELAMAT!" Jimin memaksa dokter agar segera bertindak. "AMBIL JANTUNGKU KALAU DIA PERLU JANTUNG PENGGANTI!!!"
"Tuan—"
"Akan kuberikan apapun padanya, apapun yang dia butuhkan! Kalau perlu, ambil semua organ yang dia perlukan dari dalam tubuhku!"
"Chim, tenanglah... Biar dokter berusaha dulu. Kita harus keluar."
Namjoon menahan Jimin yang kehilangan akal sehat.
Ia memaksa Jimin keluar dari ruangan dan menutup pintu. "Chim, kau jangan gegabah..."
"Ambil jantungku kalau memang dia membutuhkannya, Hyung...," Jimin menangis dalam pelukan kakaknya. "Aku tidak becus menjaganya. Kalau Suga mati, itu semua gara-gara aku. Aku tidak bisa dimaafkan..."
"Tenanglah, Chim. Dia pasti selamat. Suga pasti selamat..."
Pelukan mereka dilonggarkan. Jimin mengusap wajahnya beberapa kali sebelum menemukan pemandangan janggal beberapa meter dari tempat mereka duduk.
Namjoon memborgol satu tangan Mino dengan salah satu tiang besi yang berada di sana.
Jimin seperti melihat mayat hidup, mata Mino kosong dan wajahnya pucat pasi.
"Chim, aku yang membawanya kemari. Mino ingin bertemu Suga."
"Namjoon-hyung?" Jimin sontak berdiri, tak percaya pada pendengarannya sendiri.
"Kau ingin Suga ditembak dua kali oleh si bedebah itu, Hyung? Apa kau dicuci otak oleh bajingan ini sampai kewarasanmu hilang?"
"Chim, hentikan. Ini rumah sakit." Namjoon mengingatkan. "Song Mino adalah kakak Suga. Kukira Suga tidak koma—maksudku kukira mereka bisa bicara sebelum Mino kubunuh. Bagaimana pun mereka adalah saudara."
"Saudara?" ulang Jimin. "Kakak mana yang tega menembak adiknya sendiri sampai sekarat, Hyung?"
"Aku datang bukan untuk mencari masalah," dari kejauhan, Mino berkata dengan suara bergetar. "Aku hanya ingin bertemu Yoongi. Aku ingin minta maaf."
"MINTA MAAF?"
Jimin sangat ingin membenturkan kepala si bajingan itu ke dinding sampai pecah. "Kau pikir semua warga Black Sun yang terbunuh gara-gara sikap bodohmu bisa dihidupkan lagi dengan kata maaf?"
"Jimin," Namjoon mengingatkan lagi, "aku akan membunuhnya tapi jangan berisik. Kekasihmu sedang kritis."
"Hyung!" Mata Jimin berkilat penuh amarah. "Kalau kau tidak melakukannya segera, maka aku akan—"
"Apa yang terjadi pada Yoongi?"
Mino bertanya tapi ia tak mendekati Suga.
Jimin bisa melubangi kepalanya jika ia nekat melangkah untuk menghampiri bangsawan Black Sun yang terbaring itu. "Apa tembakanku—"
"Iya, bangsat! Tembakanmu mengoyak jantung Suga! Dia terluka parah, pembuluh darah besarnya robek! Klep jantungnya bocor! Dia bisa hidup sehari lagi saja sudah bagus! Apa kau puas sekarang!?"
"Jimin, sudah cukup!"
"Kalau Suga mati, aku bersumpah akan menggantungmu di tengah alun-alun Black Sun!"
Namjoon tak bisa lagi menahan Jimin.
Di tangan adiknya tergenggam pistol dengan peluru yang bisa kapan saja ditembakkan dengan brutal.
Kalau saja pintu ruangan tidak terbuka tiba-tiba dan dokter muncul dengan kabar buruk, Jimin barangkali sudah mencabik-cabik tubuh Song MIno.
"Bagaimana jantungnya?" Perhatian Jimin dengan mudah teralih. "Kapan kalian mau mengambil jantungku untuk dipasang pada tubuhnya?"
"Cukup, Chim, biar aku saja yang bicara dengan Dokter."
Namjoon menarik sang dokter menjauh dari Jimin yang tak berhenti emosi. "Mari ikut aku, Dok."
Namjoon berjalan menjauh, sementara Jimin mendekati Mino, berpikir keras lelaki ini pantasnya disiksa sampai separah apa untuk membayar semua perbuatannya.
"Aku sudah berbicara pada teman pasien yang membawanya ke sini, Tuan"—yang diceritakan dokter pada Namjoon adalah Jungkook—"ancaman terbesar adalah gagal jantung. Kerusakan organ vital pasien cukup parah karena luka yang bertubi-tubi."
"Apa jantungnya bisa diganti untuk memberinya harapan hidup?" tanya Namjoon cemas.
Air mukanya kalut, tapi Namjoon pun tak mengerti kenapa ia bisa sampai hati untuk mengatakan ini, "Dokter, adikku yang bungsu baru saja mati karena dihajar seseorang... Ini sangat berat untukku tapi kurasa jantungnya masih cukup segar dan sehat untuk menggantikan—kau tahu apa maksudku."
"Bisa saja kalau kita mau nekat. Tidak ada peraturan medis yang mengikat di Black Sun. Kita hanya berpegang pada keajaiban demi keajaiban," dokter menyahut, "jasadnya ada di mana, Tuan?"
"Di Ruang Pantulan, tapi kurasa aku bisa membantu—"
DOR!!!
Suara tembakan meledak tiba-tiba.
Namjoon dan dokter sama-sama terkejut.
Seketika, otak Namjoon mengarah pada adiknya.
"Astaga! Jangan-jangan Mino menembak Jimin!"
Wajar saja Namjoon khawatir karena ia ingat, dirinya hanya memborgol satu tangan Mino.
Namjoon berlari ke lorong rumah sakit dan menemukan Jimin berdiri tercengang dengan tatapan mata tak percaya.
Kondisinya sekarang, Song Mino telah merosot dalam posisi separuh menelungkup.
Pelipis lelaki Seoul itu bocor dan napasnya putus.
Sebutir peluru telah menembus kepalanya.
"Jimin! Kau menembaknya!!?" hardik Namjoon.
"Bukan aku, Hyung! Sungguh! Bukan aku!" Jimin berseru dan menggeleng berulang-ulang.
"Song Mino sendiri yang merebut pistol di tanganku... Katanya kematiannya akan jadi jalan untuk menyelamatkan nyawa Suga. Katanya kalau dia bunuh diri, dia bisa menunda kematian Suga."
Mencengangkan...
Semua hal terjadi di luar dugaan.
"Apa Mino sengaja berkorban untuk Suga, Namjoon-hyung!?"
Mendengar pertanyaan Jimin yang dipenuhi kebingungan, Namjoon hanya bisa terdiam.
Dawn without Sunrise
Final Chapter: Gleams of Sunshine
MinYoon | TaeKook | NamJin
2 Tahun Kemudian...
Seoul
Topi wisuda ditebar ke langit musim panas.
Halaman Universitas Yonsei dipenuhi wisudawan dan keluarga mereka yang datang menghadiri perayaan.
Jeon Jungkook tersenyum saat dosennya, Jung Hoseok, menjabat tangannya dengan bangga.
Jungkook baru saja memberikan pidato sebagai lulusan terbaik—sesuatu yang mungkin tak akan terjadi jika ia tidak pernah mengalami bentrokan langsung di Dunia Bawah.
Sesuatu yang tak bisa Jungkook hapus dari ingatannya sampai sekarang. Sesuatu yang tanpa rencana justru ia tulis dengan begitu mendalam untuk tugas akhirnya yang diganjar dengan nilai sempurna.
"Aku sangat bangga padamu, Jungkook," Hoseok berkata dengan mata berbinar, "kupikir tadinya kau adalah calon mahasiswa yang akan kena drop out."
"Iya. Terima kasih," Jungkook berkata pelan, "kudengar Profesor Hoseok sering datang ke Black Sun sekarang. Sejak hari itu, aku sudah tidak pernah lagi menginjak area terlarang itu."
"Oh! Aku dan Minjae telah berbagi banyak hal," ujar Hoseok bangga, "lagipula sebentar lagi Black Sun bukan lagi area terlarang. Tim kepolisian yang terlibat dalam pertempuran di Dunia Bawah sedang berjuang keras untuk menyetarakan status mereka. Doakan saja, akhir tahun perjuangan kami membuahkan hasil. Kementerian sedang meninjau kelayakan dokumen. Aku berharap ada kabar baik."
"Amin," Jungkook mengangguk, "semoga saja. Black Sun layak menerimanya."
"Kau benar," Hoseok tersenyum lagi, "jadi mana keluargamu? Kakakmu yang berisik itu tidak datang ke wisudamu? Kenapa dia jahat sekali?"
Jungkook menghela napas berat. "Yah, beginilah nasibku. Aku tidak punya siapa-siapa sekarang. Satu tahun lalu, kakakku memutuskan kuliah S2 di Arizona. Katanya dia ingin bertemu matahari yang paling panas di Amerika. Mungkin dia trauma dengan kegelapan di Black Sun."
"Oh, begitu?" Hoseok menyeringai. "Kenapa dia tidak sekalian pindah ke gurun Sahara saja?"
"Aku akan menyampaikan usulmu padanya." Jungkook tertawa, Hoseok menjabat tangannya sekali lagi sebelum berbalik pergi.
Jungkook mengambil tempat duduk yang kosong di bawah pohon rindang.
Tidak ada yang bisa diajaknya merayakan hari kelulusan.
Tidak mungkin dia wisuda ditemani pembantu.
Kakaknya yang sekarang telah terpisah benua pun, tadi pagi berjanji akan video call tapi belum ada tanda-tanda akan menghubunginya.
Jungkook menatap lencana lulusan terbaik dan meletakkan buket bunga matahari yang tadi diberikan panitia padanya.
"Selamat ya, Jeon Jungkook," bisiknya pada dirinya sendiri. "Selamat karena kau tidak kena drop out."
Jungkook bersandar lesu, entah mengapa hari bahagia ini terasa melelahkan.
Ia memejamkan mata sejenak—ketiduran di hari wisuda di mana semua orang bersukacita bersama keluarga mereka tidaklah buruk. Mungkin saja orang tuanya juga akan bangga kalau mereka masih ada.
"Ah... menyedihkan sekali. Di hari spesialku, aku tidak punya siapa-siapa lagi."
Bohong kalau pikiran Jungkook tidak mengarah pada seseorang yang lama tak ditemuinya.
"Apa kau juga bangga padaku, Kim Taehyung...?"
Jungkook sudah siap jika tak ada yang menjawab.
Namun...
"Tentu saja aku bangga padamu, Love."
Mata Jungkook seketika membuka. V—atau Kim Taehyung—telah duduk di sampingnya.
"Kim Taehyung! Sejak kapan kau datang?"
Jungkook memukulkan buket bunganya ke pundak Taehyung sekeras mungkin.
"Hei, hei, Kookie. Kau ini bagaimana, sih? Pacar datang bukannya disambut malah dipukul!"
"Persetan denganmu!" Jungkook menyusut air yang membersit di sudut matanya.
"Belakangan kau selalu bilang sedang ada banyak pekerjaan di departemen kejahatan siber. Sepertinya kementerian membayarmu dengan sangat layak sampai kau bisa semudah itu melupakan aku gara-gara larut dalam pekerjaan, ya. Dasar menyebalkan! Kau ini jelek, bau, kejam... untung aku sayang."
"Hahaha, jangan begitu, love. Aku butuh banyak uang untuk membahagiakan salah satu pemuda terkaya di Korea Selatan," Taehyung tertawa ringan.
"V adalah orang miskin, tapi Kim Taehyung tidak. Black Cyber Poison telah memberiku banyak hal, termasuk memberiku jalan untuk bisa membahagiakan malaikatku yang bernama Jeon Jungkook. Aku sedang memperjuangkan masa depan kita. Kau harus mendukungku."
Jungkook mengangguk senang. Ia menggenggam tangan Taehyung dan menatap pacarnya lekat, "Hei, tapi serius, kupikir kau benar-benar tidak akan datang. Apa kau sengaja memberiku kejutan?"
"Melewatkan hari wisuda kekasihku yang bahkan dulu rela menungguiku koma selama tiga bulan?" Taehyung mengerutkan kening. "Kau pikir aku sakit jiwa seperti Jimin?"
"Haha, jangan mengingatkan aku soal itu. Tiga bulan menunggumu bangun seperti hidup dalam neraka, Taehyung. Aku kena insomnia dan depresi berkepanjangan selama kau belum membuka mata. Bahkan aku hampir bunuh diri karena putus asa."
Jungkook menyandarkan kepala di pundak Taehyung.
"Semua orang menganggapmu mati karena luka di kepalamu sangat parah. Hanya aku yang percaya kau pasti bangun lagi. Aku berdoa tanpa henti pada Tuhan. Aku percaya kau tak akan berkhianat dengan meninggalkanku pergi."
"Dan sekarang aku di sini, menggenggam kartu identitas warga negara dan mendapatkan pekerjaan keren di Seoul," Taehyung meraih dagu Jungkook dan mengecup lembut bibirnya. "Menikahlah denganku, Jeon Jungkook. Akan kutebus semua kesabaranmu di masa lalu dengan membahagiakanmu sampai aku mati..."
Jungkook mengangguk bahagia. Ia kembali mendaratkan ciuman di bibir Taehyung, sebelum ponselnya berdering dan membuyarkan segalanya.
"Ah. Panggilan video call dari Seokjin-hyung," Jungkook mengerutkan kening. "Masih ingat juga dia padaku. Kupikir dia sudah lupa kalau punya adik!"
Arizona
"Halo, Jungkook-ieee!!! Selamat wisudaaa!!! Selamat memasuki kejamnya dunia kerjaaa!"
"Hyung, jangan sok peduli padaku. Kau pengkhianat."
"Ya ampun maaf aku baru meneleponmu, sayang. Aku dan Namjoon ketiduran gara-gara kemarin sibuk dengan urusan gereja."
"Gereja?" Jungkook di layar tampak heran. "Sejak kapan kau ingat Tuhan? Apa meteor baru saja menghantam bumi sampai kau mengubah arah hidupmu?"
"Well, sejujurnya kami baru saja melakukan pemberkatan pernikahan." Seokjin menunjukkan selingkar cincin di jari manisnya. "Kupikir sudah cukup lama aku dan Namjoon tinggal berdua. Rasanya kalau tidak menikah, aku kurang bebas untuk menyiksanya."
"Wow! Selamat!" Jungkook berseru. "Lalu di mana suamimu sekarang?"
"Dia bekerja keras dan buku pertamanya akan terbit akhir bulan ini," jawab Seokjin. "Namjoon menulis banyak gugatan tentang Black Sun—tapi namanya disamarkan karena aku tidak mau dia diteror oleh pembaca yang siapa tahu ada simpatisan mendiang Song Mino. Hahaha!"
"Baguslah kalau kau bahagia," Jungkook tersenyum lebar. "Kata Profesor Hoseok, kenapa kau tidak pindah ke gurun Sahara saja kalau hanya kalau hanya ingin membakar diri di bawah sinar matahari?"
"Oh, sialan sekali juniorku itu." Seokjin menghela napas kesal. "Jadi gini, ya. Aku pindah ke Arizona juga bukan tanpa alasan juga! Salahkan saja kakak iparmu yang katanya mau melihat matahari membara setiap hari gara-gara bosan dengan Black Sun. Akhirnya aku terpaksa mencari kampus di Phoenix, tempat terpanas di Benua Amerika. Aku tidak tahu kenapa bisa melakukan ini demi si bodoh Namjoon."
"Karena kau bucin," Jungkook tertawa renyah. "Kau bahkan meninggalkan aku untuknya. Aku adikmu, Hyung! Adikmu! Tapi bisa-bisanya kau meninggalkan aku untuk hidup bersama Namjoon!"
"Hei, manis, jangan bicara seperti itu. Aku mengambil kakakmu, dan kau mengambil adikku. Impas, kan?"
Seokjin berteriak saat ponselnya direbut.
Namjoon muncul dan melepas kacamata anti-radiasi yang sepanjang hari nyaris selalu dipakainya saat menulis.
Jarang sekali ia tertarik dengan percakapan yang dilakukan Seokjin dengan orang lain, tapi kali ini Namjoon yakin Taehyung ada di sebelah Jungkook.
"Jungkook, aku menyarankan pada Seokjin untuk mengadopsi anak. Apa kau bisa bujuk kakakmu untuk menurut?" tanya Namjoon sambil melirik istrinya yang mendengkus malu.
"Boleh, aku mau punya keponakan, asal jangan berandalan seperti kalian." Jungkook mengiyakan, "Eh, Namjoon-hyung mau bicara dengan Taehyung?"
"Ya. Boleh. Mana orangnya?"
Layar berpindah dari Jungkook ke muka adiknya yang tersenyum tak kalah lebar.
"Hai, Hyung. Gimana Amerika? Untung sejak dulu kau jago Bahasa Inggris."
"Amerika oke. Tidak segelap Black Sun karena Phoenix adalah tempat paling panas di benua Amerika," jawab Namjoon. "Hei, bagaimana kabar kakak tengahmu? Apa Jimin masih betah tinggal di kota tanpa cahaya?"
"Ya. Dia masih di sana," jawab Jungkook. "Beberapa hari yang lalu aku mengirimkan dokumen ke Black Sun."
"Dokumen apa?" Taehyung yang bertanya. "Kenapa kau tidak memberitahu aku, Love? Bukan undangan pernikahanmu dengan lelaki lain kan?"
"Ah! Nanti juga kau akan tahu," jawab Jungkook jahil, "kalau sekarang, masih rahasia...."
Black Sun
"Anak-anak! Kemari! Ini makan siang kalian!"
Jimin membawa puluhan keranjang makanan dengan mobil jeep yang dikemudikannya sendirian.
Sekarang tak pernah lagi ada bahan makanan busuk yang dikirimkan ke Black Sun.
Keadaan sudah membaik—mungkin yang terbaik dalam sejarah kehidupan Dunia Bawah.
"Ambil susu ini. Kalian juga harus minum madu."
Jimin membagikan makanan dengan telaten. Anak-anak terlantar itu memang biasa menunggunya saat tengah hari.
Tugas lama Suga memang telah berpindah padanya.
Jimin melakukannya dengan senang hati; hingga kadang membayangkan jika salah satu dari anak-anak itu adalah darah dagingnya sendiri.
"Jimin, hari ini kau akan pergi ke Seoul lagi?"
Salah seorang warga Black Sun melintas dengan motor. Sekarang, siapa pun tahu. Jimin adalah puncak piramida dalam hierarki kekuasaan Black Sun.
Pertarungannya dengan Mino di masa lalu; semua kesalahan, kegagalan, keberanian, dan pengorbanannya membuat banyak orang salut pada Jimin—bahkan dia bisa dengan bebas mengenakan nama marga yang dipilihnya.
Cerita tentang kenekatan dan kisah cintanya yang rumit juga jadi bahan obrolan yang diburu, sekalipun Jimin kini lebih sibuk memikirkan urusan perut anak-anak daripada memikirkan cerita lama yang sudah lewat masa berlakunya.
"Aku tidak pergi ke Seoul, kok. Mungkin besok," Jimin tersenyum pada pria itu. "Hey, kudengar anakmu juga diterima sekolah di Dunia Atas? Wah. Selamat, ya. Akhirnya Black Sun akan punya golongan terpelajar."
"Iya, luar biasa kan? Pelan-pelan pemerintah mulai menyetarakan status kita. Aku sangat berterima kasih pada Jung Hoseok dan orang-orangnya."
"Baguslah kalau begitu." Jimin mengangguk.
Lelaki tua itu melambai dan pergi dengan raungan motornya yang menderu.
"Kakak! Kakak!" Seorang anak kecil kurus menarik ujung baju putih Jimin. "Suga... Suga..."
"Suga sudah tidak ada, sayang." Jimin mengusap kepala bocah itu, "Kan sekarang ada aku..."
"Maunya cuma Suga." Bocah kecil itu berkaca-kaca. "Suga yang cantik. Nu... na."
"Dia bukan nuna." Jimin tertawa. "Kalau aku bagaimana?"
"Kakak Jimin jelek!"
Bocah kecil nakal berlari karena kecewa.
Jimin menggelengkan kepala dan membereskan keranjangnya yang telah kosong.
Kembali menyetir, Jimin melajukan jeep tanpa mengebut.
Ia akan mampir untuk membeli bunga. Di pasar, banyak bunga warna-warni yang dijual.
Black Sun sungguh tak semuram waktu itu lagi.
"Mau beli bunga, ya? Untuk orang kesayangan atau untuk ditaruh di atas pusara?"
Jimin tersenyum dan tak menjawab. Ia mengambil sepuluh tangkai bunga matahari segar untuk diikat.
Jimin tak menuliskan apapun, hanya meminta bunga itu dijalin dengan pita berwarna merah.
Dalam diam ia kembali melaju. Saat jeep-nya tiba di gerbang rumah, Jimin tersenyum melihat seseorang menunggunya dengan senyuman manis.
"Hai, chagi. Aku pulang."
Tapi orang itu bukan Suga.
"Sini peluk aku."
"Malas, ah! Dasar Park Jimin tolol."
Bibir pemuda yang merajuk dikecup dalam. Jimin memeluknya lekat seolah mereka baru bertemu selama bertahun-tahun.
"Kau kangen aku? Aku baru saja mengantar makanan untuk anak-anak."
Si Manusia Kaca mengangguk senang.
"Besok apa kau mau ikut menengok mereka.. Park Yoongi?"
Park Yoongi.
Itu namanya kini.
Suga, bangsawan yang penuh problematika itu, sudah tak ada lagi. Suga mati bersama konflik besar Black Sun yang telah diakhiri.
Saat ini yang tersisa hanya Yoongi dan Park Jimin—satu-satunya pemuda di antara tiga bersaudara yang memilih untuk tetap tinggal di Black Sun, meskipun kakak dan adiknya memutuskan untuk membangun kehidupan di tempat lain.
Bagi Jimin, dimana pun Yoongi berada, di sanalah langkahnya berakhir.
"Omong-omong, kapan kau akan check-up jantung lagi?" tanya Jimin.
"Lusa," jawab Yoongi. "Antar aku ke Seoul, ya."
"Ke ujung dunia pun kutemani," Jimin menyentuh dada kiri Yoongi. "Katakan... Apa dia berdetak dengan baik untukmu? Kalau tidak, kutawarkan jantung ini untuk diganti dengan jantungku."
"Jangan, kalau kau mati nanti siapa yang kusiksa?" tolak Yoongi. "Oh iya, Jungkook mengirimiku surat dan sebuah artikel."
Yoongi bercerita saat Jimin merangkulnya masuk ke dalam, "Aku juga belum baca, tapi kurasa dia menulis tentang Black Sun dalam tugas akhirnya."
"Jungkook sangat cerdas, dia sama seperti Taehyung. Mereka memang berjodoh," sahut Jimin, "tapi sekarang kurasa bukan waktu yang tepat untuk membaca kiriman Jungkook."
Kening Yoongi berkerut.
"Lalu ini waktu yang tepat untuk apa, Chim?"
Jimin menatapnya sambil menyeringai.
Yoongi menahan tawa saat lelaki itu mendorongnya ke ranjang dan mengunci pintu kamar mereka.
::Extra::
Black Sun: Antara Mitos dan Fakta yang Disembunyikan
-Ditulis oleh Jeon Jungkook-
Narasi ini dibuat sebagai ralat untuk makalah berjudul "Mitos Black Sun: Penipuan Yuridis Tingkat Tinggi yang Diwariskan untuk Membodohi Generasi"
Setelah puluhan tahun, matahari itu akhirnya bersinar di Black Sun.
Dunia Bawah yang tadinya dikunyah oleh propaganda kaum mayoritas.
Dunia yang tadinya dikesampingkan karena dianggap tidak bisa membawa apapun, selain kehancuran.
Banyak hal yang terjadi di bawah tanah Seodaemun-gu, lebih banyak dari lalu lalang manusia yang selama ini ditutup matanya dari kejujuran yang ada.
Saya pernah menjadi bagian dari manusia yang tertutup matanya itu, yang mengira jika Black Sun adalah salah satu mitos terbesar dalam sejarah Hukum Korea Selatan.
Black Sun adalah daerah anomi. Daerah kacau balau tanpa norma dan peraturan yang mengikat pada warganya.
Hukum adalah mitos untuk Black Sun, sebagaimana keberadaan mereka yang selama puluhan tahun menjadi pertanyaan pelik untuk para ahli hukum dan sejarawan.
Saya menulis ini bukan untuk meyakinkan pembaca berdasarkan studi literatur atau wawancara.
Entah beruntung atau tidak, saya menjadi bagian dalam revolusi Black Sun, sebuah pergerakan kaum Dunia Bawah untuk merebut keadilan hidup mereka.
Banyak hal yang saya renungi selama terjebak dan menjadi bagian dari mereka.
Pertama, hidup dengan kebebasan yang sebebas-bebasnya berarti tanpa sadar harus menjalani kehidupan yang paling terbatas, paling terkekang, paling terkurung.
Di sisimu kau merasa bebas, tapi dalam skala yang lebih luas, kebebasanmu adalah jeruji atau pagar duri untuk orang lain.
Satu kali kau dibebaskan, bisa jadi pada hari yang lain kau akan jadi yang paling tersudutkan.
Kedua, hak asasi sejatinya adalah milik semua orang, bukan hanya satu atau sekelompok manusia.
Nilai kehidupan adalah esensi yang disepakati, tidak tajam ke satu arah dan lunak ke arah yang lain. Arti revolusi lebih luas dari kemerdekaan.
Dalam kemerdekaan kita mencari kendali penuh, dalam revolusi, kita memperjuangkan pembaharuan.
Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang memenangkan pertarungan. Black Sun, yang tadinya hanya berisi kumpulan orang-orang yang kalah, kini telah menemukan sinar mataharinya sendiri.
Saya berharap matahari itu tidak akan padam, sebagaimana pancaran cahaya dari dalam diri mereka yang tetap membara meskipun puluhan tahun tak dianggap sebagai bagian dari negaranya.
Di Black Sun, saya belajar tentang pengorbanan, perjuangan yang tulus, dan mencari mutiara di atas gundukan sampah atau kotoran yang tak pernah dinilai berharga oleh orang lain.
Black Sun yang kebal dari hukum itu, mengajarkan saya cara menahan diri untuk menghakimi dan menuntut kesempurnaan dari segala hal.
Setelah melewati perjalanan berdarah dengan orang-orang yang kuhormati, saya akan terus berbicara tentang sebuah dunia yang selama ini dipandang sebelah mata.
Black Sun tumbuh tanpa pengakuan hak asasi, tapi di sana pula kebebasan dari rasa takut berkembang sepesat angin. Bebas dari kecemasan untuk diakui, bebas dari kecemasan karena ingin dibahagiakan.
Dari sebuah dunia yang 'sangat hitam' ini, Black Sun, saya belajar menghargai setitik cahaya putih, belajar tentang ketulusan tanpa pamrih dari mereka yang pernah disepelekan....
"Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah."
-Soe Hok Gie dalam sajak Mandalawangi-Pangrango (1966)-
Dawn without Sunrise
-END-
