Work Text:
Surai berwarna langit itu menari pelan tertiup angin saat pemiliknya berlari keluar dari pintu kedatangan bandara. Till, pemuda yang selama enam tahun terakhir menghabiskan waktunya di negeri orang untuk menuntut ilmu sekaligus membangun karier, akhirnya pulang. Tanpa menahan diri, ia segera berlari menghampiri sosok yang sudah menunggunya, lalu memeluk ibunya erat seolah ingin mengganti semua waktu yang terlewat. Dengan senyum lebar yang hampir tidak bisa ia sembunyikan, ia berbisik hangat, “Ibu, aku pulang.”
Ibunya membalas dengan senyum yang tampak penuh kebanggaan. Namun entah mengapa, ada sesuatu dalam ekspresi itu yang terasa sedikit berbeda di mata Till. Senyum itu tidak sepenuhnya sama seperti yang ia ingat. Apalagi ketika ia menyadari satu hal yang sejak tadi terasa janggal.
Seharusnya ibunya tidak datang sendirian.
Tanpa menunggu lebih lama, ia menoleh ke sekeliling sebelum akhirnya bertanya ringan, “Loh… Ivan nggak ikut jemput aku?”
Ibunya sempat terdiam sejenak. Senyumnya menipis, nyaris tidak terlihat, sebelum akhirnya ia menjawab singkat, “Ia ada urusan.”
Jawaban itu sederhana, tapi tetap saja meninggalkan rasa aneh di hati Till. Ada sesuatu yang terasa tidak pada tempatnya. Meski begitu, ia memilih mengabaikannya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin ia hanya terlalu banyak berpikir.
Begitu tiba di rumah, Till bahkan tidak sempat naik ke kamarnya apalagi berganti pakaian. Langkahnya langsung mengarah ke rumah di seberang, tempat Ivan tinggal. Di benaknya, ia sudah membayangkan bagaimana pintu itu akan terbuka dan Ivan menyambutnya dengan senyum hangat, mungkin juga pelukan yang sama akrabnya seperti dulu, sebelum ia pergi ke luar negeri.
Namun kenyataan yang menyambutnya berbeda. Di depan pintu hanya berdiri Tante Lany. Wajahnya tampak jauh lebih tua daripada yang diingat Till, sorot matanya pun terlihat lelah, seolah waktu meninggalkan jejak yang tidak sempat ia sadari. Till terdiam sejenak, kebingungan. Ia tidak tahu, tetapi ada sesuatu dalam suasana rumah itu yang terasa berat. Atmosfer asing yang tidak nyaman perlahan mengusik hatinya, membuat perasaan ganjil yang sejak tadi ia abaikan kembali muncul.
Till memberi salam pelan kepada Tante Lany. Begitu sapaan itu dibalas, tanpa berputar-putar ia langsung menanyakan satu nama yang sejak tadi memenuhi pikirannya, Ivan. Tante Lany menatapnya lama. Ada kelembutan di matanya, tapi juga kesedihan yang begitu dalam hingga suaranya terdengar sendu saat akhirnya ia menjawab.
“Ivan sudah tidak ada di sini, Nak Till.” Ia berhenti sejenak, seolah menimbang kata-kata yang terlalu berat untuk diucapkan.
“Jiwanya… sudah pergi jauh, bahkan sebelum tubuhnya sempat dibawa ke rumah sakit.”
Till terpaku. Kata rumah sakit itu seperti menghantamnya begitu saja, membuat dadanya mendadak terasa kosong.
Rumah sakit?
Apa maksudnya?
Apakah Ivan sakit selama ia tidak ada di sini? Sakit apa? Kenapa selama ini Ivan tidak pernah mengatakan apapun saat mereka masih saling berkabar? Pertanyaan demi pertanyaan berdesakan di kepalanya, membuat napasnya terasa berat.
Pada akhirnya, dengan suara yang sedikit bergetar, Till memberanikan diri bertanya. “Rumah sakit? Ivan sakit, Tan? Sakit apa? Kenapa dia sama sekali tidak memberitahuku?”
Tante Lany menatapnya dengan mata yang penuh kesedihan. Tidak ada jawaban yang langsung keluar dari bibirnya. Sebagai gantinya, ia hanya mengulurkan sebuah amplop kepada Till. Sebuah surat yang Ivan tinggalkan.
Till hanya bisa berdiri diam, menatap surat itu seolah benda tipis di tangannya menyimpan jawaban atas semuanya. Kepalanya dipenuhi pertanyaan yang berputar tanpa henti.
Di titik mana semua ini mulai terasa salah?
Apakah saat aku naik pesawat enam tahun lalu?
Atau… jauh sebelum itu?
Apa saja yang sebenarnya terjadi ketika aku pergi?
Tante Lany melihat keterkejutan di wajahnya. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun kata-kata itu seolah tertahan di tenggorokannya. Ia tidak sanggup menjelaskan lebih jauh, selain tentang tempat di mana Ivan dirawat.
Namun bagi Till, keheningan itu justru sudah cukup menjadi jawaban. Tanpa menunggu lebih lama, ia bergegas keluar rumah dan mencari taksi. Ia harus menemui Ivan, apa pun yang sedang terjadi.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit jiwa itu, Till menggenggam surat dari Ivan di tangannya. Ujung jarinya sesekali meraba amplop itu, seakan mencoba memastikan bahwa semua ini nyata. Dan tanpa ia sadari, pikirannya perlahan terseret kembali ke masa lalu, ke hari pertama mereka bertemu, ke awal mula persahabatan mereka dimulai.
Tujuh belas tahun yang lalu, ada sebuah rumah yang tidak pernah benar-benar mengenal kata tenang. Teriakan demi teriakan saling bersahutan di dalamnya, sementara suara benda pecah menjadi semacam melodi yang terlalu sering terdengar, terlalu akrab untuk disebut mengejutkan.
Di tengah semua itu, seorang anak laki-laki hanya bisa diam. Ia sudah terlalu lelah untuk bereaksi, terlalu muak untuk peduli.
Anak itu adalah Ivan. Ia tumbuh di tengah badai emosi yang riuh, amarah yang tidak akan pernah reda, juga kesedihan yang seolah terus diciptakan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi tempatnya pulang. Bagi Ivan kecil, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang biasa. Ia terasa seperti kemewahan yang hampir tidak pernah bisa ia miliki, sesuatu yang selalu tampak jauh dari kehidupannya saat itu.
Keinginan terbesar Ivan saat itu bukanlah mainan baru seperti yang biasanya diimpikan anak-anak seusianya. Bukan juga uang jajan lebih banyak atau hal-hal kecil yang sering membuat anak lain merasa senang. Yang ia inginkan hanya satu, yaitu ketenangan. Ia hanya berharap semua pertengkaran itu berhenti. Bahwa suatu hari rumahnya tidak lagi dipenuhi suara bentakan dan pecahan barang.
Dan entah bagaimana, seolah Tuhan benar-benar mendengar harapannya. Tidak lama setelah itu, kabar tentang perceraian kedua orang tuanya sampai ke telinganya.
Setelah perceraian kedua orang tuanya, Ivan memutuskan untuk tinggal bersama tantenya, Lany.
Pada suatu sore, tidak lama setelah ia pindah ke rumah itu, Ivan duduk sendirian di halaman taman. Angin berhembus pelan, tetapi ia hampir tidak menyadarinya. Mata hitamnya hanya terpaku lurus pada sebuah boneka kecil yang ia genggam di tangannya, boneka yang dulu milik adik perempuannya.
Tatapan itu kosong. Tidak ada emosi yang benar-benar terbaca di sana, seolah semua perasaan telah lama terkuras habis. Adik perempuannya telah meninggal saat Ivan masih berusia enam tahun. Sejak bayi, gadis kecil itu memang terus berjuang melawan penyakit yang tidak pernah benar-benar memberinya kesempatan untuk hidup lama.
Seolah penderitaan dalam hidupnya tidak pernah benar-benar berakhir. Luka kehilangan itu bahkan belum sempat sembuh dan mungkin, tidak akan pernah sepenuhnya sembuh. Orang-orang sering berkata, the pain of grieving doesn’t go away, we just learn to make room for it. Rasa duka tidak pernah benar-benar hilang, kita hanya belajar memberi ruang agar ia bisa hidup berdampingan dengan kita.
Ivan sering menghabiskan waktunya dengan cara yang sama, duduk diam di taman dan menatap boneka kecil itu tanpa banyak bergerak.
Namun tanpa ia sadari, kebiasaannya itu justru menarik perhatian seseorang. Seorang anak laki-laki dengan surai seindah langit di siang hari, yang sejak beberapa waktu lalu diam-diam memperhatikannya… dan mulai merasa ingin menjadi temannya.
Anak dengan surai biru itu akhirnya memberanikan diri mendekat. Ia berdiri tepat di depan Ivan, senyum cerah terukir di wajahnya seolah tidak ada keraguan sedikit pun.
“Halo… kamu Ivan, ya?” katanya ramah. “Ibuku bilang kamu baru pindah ke sini. Aku Till. Salam kenal.”
Mendengar suaranya, Ivan perlahan mengangkat pandangan. Netra hitamnya menatap sosok yang berdiri di hadapannya, anak dengan rambut seindah langit itu. Ia tampak sedikit kikuk, seolah tidak terbiasa diajak berbicara lebih dulu. Namun setelah beberapa detik, Ivan tetap menjawab dengan suara pelan,
“Iya… aku Ivan.”
Till kemudian duduk di sampingnya, tanpa banyak bicara. Matanya sempat tertuju pada boneka yang Ivan genggam erat di tangannya. Ia sebenarnya sudah mengetahui sedikit tentang kehidupan Ivan sebelumnya. Ibunya pernah menceritakan semuanya, dan dengan lembut berpesan agar Till mencoba menjadi temannya.
Namun setelah melihat Ivan secara langsung yang duduk diam dengan tatapan kosong seperti itu, Till akhirnya mengerti mengapa ibunya mengatakan hal tersebut. Ia menghela napas pelan, lalu ikut menatap lurus ke udara di depannya. Sama seperti yang dilakukan Ivan.
“Ivan,” ujar Till pelan, memecah keheningan di antara mereka. “Semua yang hidup di dunia ini suatu saat pasti akan menghadapi kematian. Entah itu aku… atau kamu.”
Ia tidak menoleh, tetap memandang lurus ke depan seperti sebelumnya. Suaranya tenang, namun penuh kesungguhan. “Merasa berduka karena ditinggalkan itu wajar. Bersedih juga bukan sesuatu yang salah. Aku tahu sekarang mungkin rasanya seperti dunia berhenti buatmu… dan itu pasti berat sekali.”
Till berhenti sejenak, memberi ruang pada kata-katanya sendiri sebelum melanjutkan. “Kalau kamu merasa hancur… itu juga tidak apa-apa.”
Till menarik napas pendek sebelum kembali berbicara.
“Sekarang mungkin semuanya terasa gelap, tapi jangan biarkan satu bab yang buruk membuatmu menutup seluruh buku hidupmu. Masih ada banyak halaman di depan yang belum kamu tulis. Siapa tahu di sana ada kebahagiaan yang bahkan belum kamu bayangkan.”
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan lebih lembut.
“Lagipula, kalau adikmu bisa melihatmu sekarang, menurutmu dia akan tenang melihatmu menyerah seperti ini?”
Till menggeleng pelan. “Tidak. Kehilangan ini memang seperti lubang besar dalam hidupmu. Tapi coba lihat sekelilingmu. Masih ada orang-orang yang membutuhkanmu, yang peduli padamu… yang akan hancur kalau kamu juga pergi. Kamu tidak sendirian di tengah badai ini, Ivan. Menyakiti dirimu sendiri tidak akan membuatnya kembali. Aku tahu ini menyakitkan, tapi kamu harus mulai merawat dirimu lagi. Bukan karena dunia memintanya, tapi karena kamu berhak hidup dengan layak, bahkan setelah kehilangan.”
Akhirnya Till menoleh ke arahnya, matanya lembut. “Aku di sini. Aku akan jadi temanmu.”
Seolah baru saja tersentuh oleh cahaya yang teramat terang, netra hitam milik Ivan perlahan terangkat menatap Till. Tatapannya dipenuhi rasa tidak percaya, seakan kata-kata yang baru saja ia dengar terasa asing sekaligus menenangkan.
Mata yang sebelumnya redup dan hampir kehilangan seluruh cahayanya, kini perlahan mulai hidup kembali, seperti saat pertama kali ia mengenal dunia ini. Namun Ivan tetap diam. Ia tidak mengatakan apapun, tidak juga bergerak. Ia hanya menatap Till, masih berusaha memahami kehangatan yang tiba-tiba hadir di hadapannya.
“Iya, kamu benar,” akhirnya Ivan bersuara pelan. Suaranya terdengar rapuh. “Tapi… adikku adalah satu-satunya alasan aku bertahan selama ini.”
Till bisa memahami perasaan itu. Ia tahu kehilangan seseorang yang menjadi alasan untuk terus hidup bukanlah hal yang mudah. Namun ia juga tahu, jika Ivan terus terjebak di sana, luka itu hanya akan menelannya semakin dalam.
Perlahan, Till menoleh menatapnya. “Ivan… aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu,” ucapnya lembut. “Tapi hidup tetap berjalan. Kalau bukan untuk dirimu sendiri… setidaknya cobalah memikirkan Tante Lany. Dia selalu mengkhawatirkanmu.”
Setelah mendengar kata-kata itu, sesuatu dalam diri Ivan akhirnya benar-benar tersentuh. Ia seperti tersadar dari kabut panjang yang selama ini menyelimutinya. Bagaimanapun, hidup tetap berjalan. Kini Ivan menatap Till dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sekadar seorang teman yang baru dikenalnya, tetapi seseorang yang terasa seperti penyelamatnya.
Dan mungkin sejak saat itu, tanpa ia sadari, Ivan mulai mengikat seluruh jiwanya, bahkan kewarasannya pada sosok yang berdiri di hadapannya.
Till became his oxygen, sementara Ivan hanyalah seseorang yang sedang tenggelam, berusaha bertahan dengan satu-satunya udara yang bisa ia raih. Slowly, Till’s existence became Ivan's sole reason for living.
Setelah percakapan panjang sore itu, hubungan mereka perlahan tumbuh semakin erat. Hari-hari yang mereka lalui bersama membuat ikatan pertemanan itu menguat tanpa mereka sadari. Tahun demi tahun berlalu begitu cepat, seolah waktu mengalami distorsi yang membuat semuanya terasa singkat. Perlahan, duka yang dulu terasa begitu dalam mulai tersimpan rapi di suatu sudut hati, bukan benar-benar hilang, tetapi tidak lagi mendominasi. Tempatnya sedikit demi sedikit digantikan oleh kenangan-kenangan baru yang mereka ciptakan bersama.
Bagi Ivan, setiap waktu yang ia habiskan bersama Till adalah harta paling berharga dalam hidupnya. Till adalah orang yang menariknya keluar dari jurang tanpa dasar tempat ia hampir tenggelam selamanya. Dalam hatinya, Ivan bahkan bersumpah bahwa seluruh hidupnya akan ia dedikasikan hanya untuk tetap berada di sisi Till. Till adalah cahaya di ujung terowongan yang gelap itu. Dan Ivan tidak akan membiarkan siapapun memadamkan cahaya itu, bahkan jika orang itu adalah Till sendiri.
Sementara bagi Till, waktu memiliki makna yang berbeda. Selama ini ia memandangnya sebagai guru paling berharga. Ia tidak pernah menyia-nyiakan satu pun kesempatan untuk belajar, bukan hanya dari buku, tetapi juga dari kehidupan itu sendiri.
Till memiliki mimpi yang tinggi. Ia ingin merasakan menjadi mahasiswa di universitas luar negeri, membangun kariernya di sana, melihat dunia yang lebih luas dari tempat ia berasal. Namun ada satu hal yang tidak pernah Ivan sadari. Waktu yang Till maksud yang terus berjalan itu bukan sekadar perjalanan menuju masa depan, melainkan juga hitungan mundur menuju kiamat kecil dalam hidup Ivan sendiri.
Lambat laun, Ivan mulai mengetahui dengan jelas apa yang menjadi cita-cita Till. Setiap kali Till berbicara tentang masa depan dengan mata yang berbinar tentang kampus di luar negeri, tentang dunia yang ingin ia jelajahi, Ivan hanya duduk mendengarkan.
Namun alih-alih benar-benar menyimak kata-katanya, Ivan lebih sering sibuk mengukir wajah Till di dalam ingatannya. Setiap senyum, setiap ekspresi, setiap kilatan semangat di matanya. Ia takut suatu hari nanti dunia benar-benar merenggut cahaya itu darinya.
Dan tanpa ia sadari, perasaannya perlahan berubah.
Apa yang ia rasakan bukan lagi sekadar ikatan seorang sahabat. Itu adalah sesuatu yang lebih dalam, lebih rumit. Cinta yang bersifat romantis. Kesadaran itu justru membuat Ivan merasa bersalah. Bersalah… sekaligus semakin takut kehilangan Till.
Ia mulai menyadari bahwa cara ia mencintai mungkin tidak benar. Cintanya terasa seperti seseorang yang sedang tenggelam lalu memeluk batu pemberat, mengetahui bahwa hal itu hanya akan menyeretnya semakin dalam, tetapi tetap tidak sanggup melepaskan satu-satunya hal yang masih bisa ia genggam. Di dalam dirinya, Ivan perlahan hancur.
Namun di hadapan Till, ia tetap tersenyum seperti biasa. Ia tidak ingin menjadi penghalang, tidak ingin menjadi “beban” bagi impian satu-satunya orang yang ia cintai.
Akhirnya hari itu tiba, hari ketika Till harus berangkat ke luar negeri, meninggalkan tempat yang selama ini mereka bagi bersama dan tentu saja, meninggalkan Ivan. Ivan mengingat hari itu dengan sangat jelas, seolah setiap detiknya terukir permanen di ingatannya. Yang paling ia ingat adalah senyuman Till. Senyuman yang begitu cerah, penuh kegembiraan, dan dipenuhi semangat akan masa depan yang menantinya di depan sana.
Ivan mengingat momen itu dengan sangat jelas. Ia juga tersenyum saat itu, begitulah yang terlihat dari luar. Namun di balik senyum itu, matanya kosong, seolah tidak benar-benar berada di sana.
Till tidak pernah menyadari bahwa pada saat yang sama, Ivan sedang mengalami kiamat kecilnya sendiri. Orang tuanya mulai kembali muncul dalam hidupnya, membawa kembali kekacauan yang dulu sempat ia tinggalkan. Tetapi sejak awal, Ivan memilih menelan semuanya sendirian. Ia tidak ingin kebahagiaan Till hari itu ternoda oleh masalahnya. Jadi ia tetap berdiri di sana, tersenyum, seolah semuanya baik-baik saja, meskipun di dalam dirinya, sesuatu perlahan runtuh.
Perpisahan mereka hari itu berlangsung sederhana. Tidak ada kata-kata dramatis, tidak juga adegan yang berlebihan, hanya sebuah pelukan hangat dan beberapa pesan singkat yang diucapkan dengan tulus. Namun justru karena kesederhanaan itulah momen itu terasa begitu berharga.
Bagi Till, mungkin itu hanyalah perpisahan sementara sebelum memulai perjalanan baru. Tapi bagi Ivan… rasanya berbeda. Ia merasa seolah sebagian dari dirinya ikut pergi bersama langkah Till yang semakin menjauh. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat dirinya runtuh bukan sekadar retak, bukan sekadar terluka, tetapi hancur sepenuhnya.
Kembali ke masa kini, saat Till akhirnya tiba di rumah sakit jiwa tempat Ivan dirawat. Ia melangkah masuk dengan perasaan yang sulit dijelaskan, lalu berhenti di meja resepsionis untuk menanyakan satu nama yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
“Ivan… pasien bernama Ivan, ia ada di mana?”
Suasana di tempat itu terasa sangat kontras dibandingkan dengan kenangan-kenangan hangat yang beberapa saat lalu memenuhi pikirannya. Segalanya tampak terlalu putih, terlalu steril, terlalu dingin. Lorong-lorongnya sunyi, seolah emosi apa pun yang masuk ke sana akan ikut dibungkam oleh dinding-dindingnya.
Resepsionis itu memeriksa sebentar sebelum akhirnya menjawab dengan tenang, “Ia sedang di taman.”
Till berhenti di tepi taman kecil di dalam rumah sakit itu. Di sana, di atas sebuah bangku kayu panjang, duduk seorang pria. Dari kejauhan saja, Till sudah tahu siapa dia. Itu Ivan, tidak mungkin salah.
Namun… itu bukan Ivan yang ia kenal. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus, bahunya sedikit membungkuk. Kulitnya pucat, seolah sudah lama tidak benar-benar merasakan hangatnya matahari. Tapi yang paling menyakitkan bagi Till adalah matanya.
Mata yang dulu pernah ia lihat perlahan kembali bercahaya, sekarang kembali kosong.
Ivan tidak melakukan apa-apa. Ia tidak memegang ponsel, tidak membaca buku, bahkan tidak menoleh saat seekor burung kecil melintas di dekatnya. Ia hanya duduk di sana, menatap lurus ke depan dengan pandangan hampa, seakan dunia di sekelilingnya sudah tidak lagi berarti apa-apa.
Tidak ada yang bisa Till lakukan selain berjalan mendekat dan duduk di bangku yang sama dengan Ivan. Jarak di antara mereka hanya beberapa inci, namun rasanya seperti terbentang jurang yang sangat jauh. Keheningan di antara mereka terasa menekan. Terlalu sunyi, terlalu menyakitkan.
Akhirnya, Till teringat sesuatu. Ia mengeluarkan amplop yang sebelumnya diberikan oleh Tante Lany. Dengan gerakan hati-hati, ia membuka surat itu.
Di dalamnya ada dua lembar kertas yang dipenuhi tulisan tangan. Till langsung mengenali goresan itu. Tulisan Ivan, ia tidak mungkin salah. Pada bagian awal, huruf-huruf itu tertulis rapi seperti biasanya, teratur dan bersih, persis seperti karakter Ivan yang selalu teliti. Namun semakin ke bawah, semakin mendekati bagian akhir surat, tulisan itu mulai berubah. Garis-garisnya menjadi tidak stabil, beberapa huruf terlihat terburu-buru, bahkan nyaris berantakan.
Pemandangan itu membuat napas Till seketika tercekat. Sejenak ia hanya menatap kertas di tangannya, mencoba menenangkan diri. Ia menarik napas panjang, menguatkan dirinya. Apa pun yang tertulis di sana, ia harus membacanya sampai selesai. Perlahan, dengan tangan yang sedikit gemetar, Till mulai membaca surat yang ditinggalkan Ivan untuknya.
Isi surat ivan yang ia berikan pada Till:
“To my dearest Till, the only person who makes this life worth living.
Apa kabar? How’s life? Aku yakin kamu sudah berhasil, kan? Kalau kamu membaca surat ini, berarti kamu sudah pulang ke rumah. Kalau kamu ingin tahu kabarku… aku baik-baik saja, selama kamu juga baik-baik saja. Sungguh. Aku benar-benar bahagia mendengar tentang keberhasilanmu.
Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak lagi mengenali pantulan wajahku sendiri di cermin, apalagi wajahmu. Maafkan aku. Mungkin juga, saat kata-kata ini sampai padamu, kamu akan sangat marah padaku. Dan itu tidak apa-apa. Kamu punya hak untuk marah.
Kamu mungkin akan bertanya-tanya kenapa aku menghilang selama setahun terakhir. Kenapa pesan-pesanku tiba-tiba berhenti. Kenapa aku memilih memendam semua ini sendirian, menyembunyikan neraka yang perlahan menelanku.
Sebelum aku menjelaskan semuanya… maafkan aku, Till. Aku tidak ingin langitmu yang sedang cerah di sana tercemar oleh badai gelap yang sedang terjadi di sini.
Tidak lama setelah kamu pergi, orang tuaku kembali muncul. Lucu, bukan? Mereka sudah bercerai bertahun-tahun yang lalu dan membuangku begitu saja seperti sesuatu yang tidak berarti. Mereka bahkan membiarkan adikku meninggal sendirian tanpa pernah benar-benar peduli. Namun tiba-tiba mereka datang lagi. Menarikku ke sana ke mari, saling memperebutkan hak asuhku seolah-olah aku adalah sesuatu yang berharga yang tertinggal.
Sejujurnya, saat itu aku ingin sekali berteriak pada mereka.
Kenapa baru sekarang?
Kenapa tidak ketika adikku masih bernapas?
Kenapa baru datang ketika aku sudah kehilangan segalanya?
Tapi kamu tahu aku, Till. Aku tidak pernah pandai melawan siapa pun. Yang bisa kulakukan hanya diam, memendam semuanya di dalam dada sampai rasanya sesak, sampai seolah-olah sesuatu di dalamku akan meledak. Aku membenci mereka. Sangat membenci mereka. Tapi anehnya, kebencian itu tidak benar-benar menyakiti mereka… justru memakan diriku sendiri sedikit demi sedikit.
Perlahan, aku mulai kehilangan kemampuan untuk merasakan sesuatu. Aku tidak bisa benar-benar marah. Aku juga tidak bisa benar-benar bersedih. Yang tersisa hanya satu hal, kosong.
Aku mencoba berbagai cara untuk bertahan. Aku mencoba menghapus ingatan tentang teriakan mereka, mencoba menghapus bayangan wajah mereka, mencoba menyingkirkan semua rasa sakit itu dari kepalaku.
Aku benar-benar mencoba menghapus semua memori kelam itu, Till. Sungguh.
Tapi aku salah. Otakku justru mengkhianatiku. Kenangan buruk itu seperti akar yang sudah menancap terlalu dalam tidak peduli seberapa keras aku mencoba mencabutnya, ia tetap bertahan di sana. Aku mencoba menyingkirkan duri-durinya… tapi justru kelopak mawarnya yang gugur lebih dulu. Aku berusaha menghapus rasa sakit yang ditinggalkan orang tuaku.
Namun yang perlahan memudar justru hal-hal yang paling ingin aku pertahankan, kenangan tentang tawamu, aroma bajumu yang kadang masih tertinggal di ingatanku, dan cara kamu memanggil namaku. Satu per satu… semuanya mulai menghilang lebih dulu.
Saat aku menulis surat ini, kepalaku terasa seperti sebuah rumah yang sedang terbakar. Aku berusaha menyelamatkan kenangan tentang kita dari dalamnya, tetapi asap dari trauma ini terlalu tebal. Aku tidak bisa melihat dengan jelas lagi. Dan aku mulai menyadari sesuatu yang menakutkan. Satu demi satu pintu di dalam ingatanku mulai tertutup… dan beberapa di antaranya terkunci untuk selamanya.
Namamu. Tawamu. Bahkan kenangan tentang kita saat sekolah dulu, semuanya perlahan memudar, berubah menjadi ruang kosong berwarna putih. Sekarang, yang tersisa di kepalaku hanya penderitaan yang sudah menemaniku sepanjang hidup. Kenangan buruk itu tetap tinggal seperti parasit yang menolak pergi. Sementara kenangan bahagia tentangmu… perlahan menguap.
Setiap kali aku mencoba memaksa diriku mengingat wajahmu, kepalaku terasa seperti akan pecah. Sakit kepala yang hebat datang tanpa ampun. Ada dengungan keras di telingaku, dan kecemasan ini mencekikku sampai aku bahkan lupa bagaimana cara bernapas.
Selama setahun terakhir aku tidak bisa dihubungi karena perlahan aku mulai lupa siapa kamu sebenarnya. Aku masih tahu namamu, Till. Tapi rasa tentang kita… sudah tidak bisa kurasakan lagi.
Dan itu membuatku takut. Sangat takut.
Aku merasa sebentar lagi aku benar-benar akan kehilangan diriku sendiri. Till, aku menulis surat ini lalu menitipkannya pada Tante Lany karena ini mungkin adalah sisa-sisa kewarasanku yang terakhir. Aku sudah tidak punya harapan lagi untuk bisa mengingat masa lalu kita seperti dulu.
Jadi aku ingin memohon sesuatu padamu… Tolong ingat semuanya untukku.
Aku tahu, mencintaimu adalah sesuatu yang terlarang di dunia tempat kita berpijak. Tapi bagiku, mencintaimu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa menjadi manusia. Bukan sekadar sesuatu yang dibuang dan dipindahkan ke sana ke mari oleh orang tuaku.
Dan satu hal lagi, jangan pernah merasa bersalah karena kamu memilih pergi. Sekali lagi, tugasku adalah mencintaimu. Dan tugasmu adalah menjadi bahagia.
Namun karena sekarang rasanya aku perlahan kehilangan diriku sendiri, aku ingin menitipkan seluruh hidupku padamu.
Jika suatu hari aku benar-benar tidak lagi mengingat siapa aku, atau siapa kamu, tolong ingatlah aku sebagai seseorang yang paling memuja setiap jengkal keberadaanmu.
Tolong ingat bagaimana dulu aku tertawa.
Tolong ingat warna mataku saat aku menatapmu.
Tolong ingat bahwa aku yang pernah mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri.
Tolong ingat semua kenangan bahagia yang dulu kita miliki, kenangan yang sekarang sudah tidak sanggup lagi kutampung di dalam kepalaku.
Dan jika suatu hari kamu datang, lalu melihatku hanya duduk diam tanpa mengenalimu… tolong jangan pergi. Cukup ingat aku untukku.
Selama kamu tidak melupakanku, maka sebagian dari diriku akan tetap hidup di suatu tempat di dalam ingatanmu. Aku akan tetap berada di sisimu, selamanya, melalui setiap memori yang kamu simpan dengan baik.
Maafkan aku karena menjadi selemah ini.
Aku mencintaimu, Till.
Dulu, sekarang, dan bahkan dalam keheningan yang akan datang.
- From Ivan, the one whose world revolves around you.”
Setelah membaca surat itu hingga baris terakhir, Till perlahan melipat kembali kertas yang kini telah basah oleh air matanya. Ia lalu menoleh ke samping. Ivan masih duduk di sana, di bangku yang sama, dengan posisi yang sama. Tatapannya lurus ke arah jendela taman, namun jelas tidak benar-benar melihat apa pun.
Seolah dunia di hadapannya hanyalah ruang kosong tanpa makna.
Till berdiri perlahan, lalu melangkah mendekat. Ia berlutut di depan kursi tempat Ivan duduk, menempatkan dirinya tepat di hadapan pria itu. Dengan hati-hati, Till meraih tangan Ivan. Tangan yang dulu selalu hangat itu kini terasa dingin dan rapuh, hampir seperti porselen.
Ivan tidak menarik tangannya. Namun juga tidak menggenggam balik. Ia hanya diam, membiarkan Till memegangnya, seolah tubuh itu bukan lagi sepenuhnya miliknya.
“Ivan…” bisik Till, suaranya pecah oleh emosi yang tidak lagi bisa ia tahan.
“Aku pulang.”
Ivan tidak menoleh. Bibirnya yang pucat tetap terkatup rapat, tanpa satu kata pun keluar darinya. Di dalam kepalanya, mungkin yang tersisa hanyalah potongan-potongan memori yang kelam, teriakan orang tuanya yang bersahutan, atau udara dingin di hari pemakaman adiknya.
Sosok Till yang dulu begitu ceria, yang pernah menjadi malaikat yang menariknya keluar dari kegelapan, kini telah sepenuhnya tersapu oleh badai trauma yang datang tanpa arah.
Perlahan, Till menunduk. Ia menyandarkan dahinya di atas lutut Ivan. Bahunya berguncang hebat, tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah dalam diam.
Seandainya saja Till tahu, bahwa setiap langkah yang dulu membawanya semakin jauh dari Ivan, adalah satu demi satu pintu yang tertutup di dalam kepala Ivan.
Till perlahan mengangkat wajahnya. Matanya masih basah saat ia menatap Ivan yang tetap duduk diam, tanpa perubahan sedikit pun. Untuk sesaat, Till hanya memandangnya. Lalu sebuah senyum tipis muncul di wajahnya, sangat samar dan hampir tidak terlihat.
Dengan suara yang pelan, hampir seperti bisikan yang rapuh, ia berkata, "Kamu bilang… selama aku masih mengingatmu, kamu akan tetap hidup."
Ia berhenti sejenak, menatap mata Ivan yang kosong.
“Tapi… bagaimana aku bisa tetap hidup kalau setiap kali aku menatap matamu, yang kutemukan hanyalah orang asing?”
