Chapter Text
Keonho nggak bilang apa-apa dari tadi—dan justru itu yang bikin suasana jadi berat. Sejak pulang, Ahn Keonho cuma ngikutin Eom Seonghyeon kayak bayangan. Diem mulu nggak ada ngomong tapi selalu nempelin Seonghyeon, mana duduknya mepet. Terus jalannya selalu dia pelanin di belakang. Tatapannya juga… beda.
Semua gara-gara hal kecil yang sebenarnya nggak kecil buat dia. Jaket itu.
Jaket Seonghyeon, yang tadi dipakaikan ke cewek itu—temennya—yang katanya lagi sakit. Itupun kalau bukan karna Seonghyeon yang jaga UKS, nggak mungkin dipinjemin.
“Aku cuma minjemin,” kata Seonghyeon waktu itu dengan nada yang santai. Jujur aja Seonghyeon udah sering ngehadapin kelakuan Keonho kalau gini.
Tapi buat Keonho, itu keputer terus di kepala. And it will never erased from his mind, unless… Pelukan bisa kali, ya?
Sekarang, di kamar, Keonho akhirnya nyusul ke kasur duluan, jatuh setengah rebah dengan muka ngadep bantal. Tapi begitu Seonghyeon duduk di sampingnya, dia langsung geser—ndusel lagi.
Buat Keonho, Seonghyeon tuh wangi banget sebadan-badan, bahkan dia suka gigitin lehernya Seonghyeon yang abis keringetan. Walau asin tapi setiap dia ngehirup dibagian manapun, pasti wangi.
Tangannya melingkar ke pinggang Seonghyeon tanpa izin.
“Kenapa?” tanya Seonghyeon, nadanya lembut, tapi jelas Seonghyeon sadar ada yang beda.
Keonho nggak jawab. Dia cuma makin deket, pipinya ditekan ke bahu Seonghyeon, hidungnya nyentuh lehernya pelan. Napasnya hangat, agak berat.
“… dingin,” gumamnya, alasan yang jelas-jelas ngasal.
Seonghyeon mendengus kecil. “Dingin apaan, AC aja nggak nyala.”
Tapi tangannya tetap naik, otomatis meluk Keonho balik. Dan itu kayak pemicu. Keonho langsung makin nempel, hampir nyatu. Kakinya nyangkut di kaki Seonghyeon, tangannya makin erat, jari-jarinya ngegenggam kain baju di punggung Seonghyeon.
“Jaket kamu kemana?” tanya Keonho tiba-tiba, padahal mah udah tau.
Seonghyeon diem doang.
“… dipake orang,” jawabnya akhirnya, pelan,
Seonghyeon ngelirik. “Dia lagi sakit, Keon—”
“Tau.”
Hadeh.
Keonho ngangkat wajahnya, matanya ketemu sama Seonghyeon. Ada sesuatu di situ—bukan marah gede, tapi lebih ke… nggak suka. Cemburu yang masih ditahan.
“Harus banget?” gumamnya. Alis tebal itu merengut, mukanya udah masam. Seonghyeon ngeliatnya malahan kaya kucing.
Seonghyeon terdiam sebentar. Lalu, tanpa banyak kata, dia nyenggol dagu Keonho pelan.
“Sini, sayang.”
Keonho nggak nolak. Justru langsung deket.
Ciuman pertama itu pelan kayak biasa. Bibir ketemu sebentar, lembut. Mereka ngerasain bibir mereka satu sama lain sambil ngeredain suasana panas di hati Keonho.
Keonho langsung bales, tapi ada dorongan yang beda. Tangannya naik ke leher Seonghyeon, narik sedikit lebih dekat.
Yang kedua lebih dalam. Lebih lama. Keonho yang biasanya nurut, sekarang malah agak nekan, seolah nyalurin semua rasa yang dia tahan dari tadi.
“Keon—”
Seonghyeon belum selesai ngomong, bahkan masih narik setengah oksigen buat bernafas, dia udah dicium lagi.
Ciuman kali ini nggak kasar, tapi lebih kuat. Ada emosi yang kebawa. Keonho nyenggol bibir Seonghyeon dengan sedikit desakan, napas mereka campur, ritmenya nggak setenang tadi.
Seonghyeon sempat kaget sebenernya pas tau si Keonho tiba-tiba rough gini. Alhasil jalan terakhir dia bales aja.
Tangannya naik ke belakang kepala Keonho, nahan di situ, memperdalam ciuman itu. Ada tarikan kecil, ada tekanan yang bikin napas jadi berat. Dan di sela-sela itu, keluar desahan kecil dari Seonghyeon—hampir nggak sengaja.
“Mmph–“
Walaupun kecil tapi sanggup buat bikin Keonho berhenti sepersekian detik. Gemes banget anjing. Keonho juga hampir kelepasan disitu.
Mata Seonghyeon kebuka sedikit, napasnya udah tergesa-gesa dan kasar banget. Bibirnya udah basah dan pas abis narik bibir dari Keonho–entah air liur siapa yang nempel. Seonghyeon cuma senyum tipis, napasnya masih dekat banget.
“Masih cemburu?” bisiknya.
Keonho nggak jawab. Dia malah nyelip lagi ke leher Seonghyeon, ndusel, kali ini lebih pelan. Bibirnya nyentuh kulit leher itu, cium-cium lagi. Keonho nggak bakal pernah bosen sumpah. Dia bisa seharian ciumin Seonghyeon.
Seonghyeon akhirnya nyerah, tangannya melingkar penuh, narik Keonho ke pelukannya.
Cup!
Seonghyeon nyium pipi kanannya Keonho sambil senyum, “Dasar manja,” gumamnya lagi, tapi kali ini nadanya lebih lembut.
Si Keonho nggak bisa ketahan kalau semisal dia salah tingkah gara-gara dicium, mukanya makin disembunyiin di leher Seonghyeon sambil ngehirup wangi Vanilla dari sana.
“Emang.”
Keonho tahu dia lagi kebawa suasana—dan itu bahaya. Di kasur yang sama, jarak mereka udah nggak ada lagi. Ahn Keonho duduk setengah bersandar, sementara Eom Seonghyeon ada di depannya.
Sisa cemburu tadi belum sepenuhnya hilang—malah berubah jadi sesuatu yang lebih panas, lebih susah untuk kekontrol. Akhirnya Seonghyeon buka suara sambil hela nafas, karena Keonho kalau udah ngambek itu selalu nggak pernah mau ngomong tapi ada aja kelakuannya.
Kadang Keonho tiba-tiba meluk, cium leher, cium bibir Seonghyeon pas dia lagi tidur, intinya gajelas dan selalu ngebuat Seonghyeon kewalahan.
“Masih kepikiran?” tanya Seonghyeon pelan.
Keonho nggak jawab. Tangannya udah di pinggang Seonghyeon lagi, narik dia lebih dekat sampai lutut mereka saling nyangkut. Tuhkan! Selalu nggak jawab. Ngeselin, dalam hati Seonghyeon.
Bibir Keonho nyapa Seonghyeon duluan. Kali ini nggak pelan kayak tadi—langsung dalam, seolah Keonho nggak mau kasih jeda buat mikir. Ada dorongan yang lebih tegas, nafas yang mulai nggak beraturan.
Seonghyeon sempat kaget, tapi tetap bales. Tangannya naik ke bahu Keonho, awalnya cuma nahan… sampai dia ngerasa arah ini mulai beda.
Keonho makin berani.
Tangannya yang tadinya di pinggang perlahan geser—nggak jauh, tapi cukup buat bikin Seonghyeon sadar.
“Hei—”
Seonghyeon langsung nangkep pergelangan tangan Keonho, nahan sebelum dia kebawa lebih jauh. Pegangannya nggak kasar, cuma mau ngewarning.
Tapi percuma, tetap aja si Keonho makin ngelesakin lidahnya ke dalam mulut Seonghyeon. Seonghyeon kehabisan nafas. Akhirnya Seonghyeon mukulin bahu Keonho dengan tempo kecil buat ngeberhentiin.
Si Keonho pas habis ciuman cuma bisa senyum sambil natap Seonghyeon dari mata—bibir—ke mata lagi.
Tanpa banyak kata, dia geser posisi—narik Seonghyeon duduk di pangkuannya. Gerakannya lebih hati-hati sekarang, tapi tetap dekat, dan butuh. Seonghyeon sempat protes kecil, tapi akhirnya nurut.
Keonho langsung nyelipin wajahnya di pundak Seonghyeon, napasnya hangat di lehernya. Tangannya melingkar, kali ini lebih stabil—nggak terburu-buru. Dan pelan, dia mulai lagi.
Ciuman di leher—ringan, satu-satu, hampir kayak minta maaf tanpa kata. Bibirnya nyentuh kulit itu dengan ritme yang tenang, kadang berhenti buat sekadar nempel.
Seonghyeon refleks narik napas kecil.
“Keon…”
Nggak ada protes di situ. Cuma peringatan halus yang malah terdengar… lemah. Keonho nggak jawab. Dia cuma makin dekat, dahinya bersandar di pundak Seonghyeon, lalu lanjut—lebih pelan, lebih hangat, seolah sekarang dia ngerti batasnya tapi tetap nggak mau menjauh.
Tangannya di punggung Seonghyeon sesekali ngelus, bukan lagi menggenggam kuat.
Dan akhirnya, mereka berhenti di situ. Cuma Keonho masih mangku, wajahnya setengah tersembunyi di pundak Seonghyeon, sesekali ninggalin ciuman kecil di leher—lebih ke butuh dekat daripada yang lain.
Seonghyeon juga diam aja supaya pacarnya—si ganteng, nggak ngambek lagi. Karena kalau setiap hari ngambek yang ada bibir dia udah hancur kali di hisap sama Keonho terus.
Besok paginya, semuanya langsung keliatan jelas. Seonghyeon berdiri di depan cermin kamar mandi cukup lama karena netranya tertuju ke lehernya sendiri,
“… gila.”
Bibirnya beneran bengkak. Nggak parah, tapi cukup keliatan beda, bahkan ada bekas gigitan Keonho yang sekalian ada darah kering disitu.
Dan lehernya—dia tarik kerah kaosnya sedikit. Keonho anjing emang. Bisa-bisanya Seonghyeon ikutan kelepasan juga. Seonghyeon nggak bakal nyangka kalau bakal—
Se merah ini. Bukan satu, bukan dua. Jejak hickey yang jelas banget kalau dilihat dari dekat—dan sayangnya, itu bukan tipe yang gampang disamarkan.
Seonghyeon langsung nyari tasnya sampe ngeluarin isi dari tas. Intinya Seonghyeon bongkar.
“Mana sih…”
Concealer. Nggak ada.
Dia berhenti sebentar, lalu ngelirik lagi ke cermin. Nyoba nutup pakai tangan. Nyoba narik kerah lebih tinggi.
Ya pasti nggak ngefek.
“Anjir…” gumamnya pelan, setengah frustasi sambil ngeberantakin rambutnya yang masih setengah kering.
Di luar, Keonho udah santai banget, duduk sambil main HP, seolah nggak ada dosa sama sekali. Si Keonho nunggu Seonghyeon aja. Dia udah mandi, udah sarapan, intinya udah semua.
Begitu Seonghyeon keluar, Keonho cuma ngelirik sekilas terus senyum tipis. “Apasih?” tanya Seonghyeon curiga.
Keonho ngangkat bahu. “Nggak.”
Padahal jelas banget dia nahan ketawa. Seonghyeon langsung narik kerahnya lagi, berusaha nutupin, tapi makin dia gerak, makin keliatan. Keonho akhirnya nggak tahan, ketawa kecil.
“Sayang, itu—”
“Diem,” potong Seonghyeon cepat, mukanya udah mulai panas. Asli dia nggak bisa kesel juga, karena dia juga ada ngeliat hickey di leher Keonho, tapi beneran samar banget. Bahkan nggak kelihatan dari jauh, kalau diliat dari deket juga hampir nggak kelihatan. Beda banget sama bekas di leher Seonghyeon.
Dan tentu aja, yang lebih parah itu pas di sekolah. Baru beberapa menit duduk, satu temen langsung nyenggol.
Seonghyeon ditegur temennya, “Eh, Seonghyeon—”
Dia nengok, berusaha santai. “Apa?”
Temennya nyengir. “Leher lu kenapa?” Seonghyeon langsung hening satu detik.
Seonghyeon refleks nutup pakai tangan. “Nggak kenapa-kenapa.”
“Bohong banget,” yang lain ikut nimbrung, makin deket.
“Itu merah gitu—eh, anjir, banyak lagi.”
“WOI—” Seonghyeon langsung mundur dikit, makin panik. Satu kelas mulai notice.
“Abis diapain lu?”
“Hyeon, serius itu digigit nyamuk? HAHAHA“
“Parah banget sih itu—”
Suara mereka campur, penuh ketawa. Seonghyeon cuma bisa nutup lehernya setengah mati, tapi percuma—nggak ketutup semua.
“… intinya bukan urusan lu,” gumamnya, jelas malu. Dari belakang, Keonho yang dari tadi diem akhirnya angkat suara.
“Abis dimakan maung itu.”
Jelas si Keonho tai ini mancing rasa malu ke Seonghyeon lebih banyak. Bahkan dia nggak sama sekali malu. Dalem hati dia sih, itu udah jadi mahakarya.
Satu detik sunyi lalu langsung pecah ketawa.
“MAUNG??”
“Apaan anjir—”
“Ini mah bukan maung, ini mah Keonho—”
Seonghyeon langsung nengok ke belakang, matanya melotot.
“LO DIEM BISA NGGAK SIH?”
Keonho cuma senyum, santai banget, nyender di kursinya.
“Kan bener.”
Seonghyeon makin panik, tangannya masih nutup leher yang jelas-jelas nggak bisa diselametin.
“Gila… ini merah banget lagi,” salah satu temen komentar, masih ngakak. “Lo nggak nutupin pake apa gitu?”
Seonghyeon makin kecil suaranya. “… habis.”
“Habis??”
“Concealer gue habis.”
Dan itu malah bikin mereka makin heboh.
“YAELAH—”
“Pantesan keliatan semua!”
“Parah sih, Keonho—”
Keonho cuma ngangkat alis, nggak merasa bersalah sama sekali. Sementara Seonghyeon, dia akhirnya nyerah.
Tangannya turun pelan, tapi mukanya masih merah, antara kesel dan malu.
“… nyebelin,” gumamnya, nggak jelas ke siapa.
Dari belakang, Keonho pindah ke samping Seonghyeon yang udah nggak ada siapa-siapa. Keonho cuma nunduk dikit, sambil ngerangkul Seonghyeon. Suaranya pelan tapi cukup buat dia denger.
“Semalem juga nggak nolak.” Seonghyeon langsung diam. Dia nggak jawab.
Cuma… makin nggak berani nengok ke samping.
Setelah pulang sekolah pun Seonghyeon masih kesel setengah mati. Bukan cuma karena temen-temennya ribut, tapi juga karena Keonho santai banget seolah itu semua bukan salah dia.
Belum sempat Seonghyeon kabur jauh, tangan Keonho udah narik pergelangannya pelan.
“Ke mana sih?” tanya Eom Seonghyeon, nada suaranya masih defensif.
“Ayo.”
“Ngapain—”
Belum selesai ngomong, Keonho udah jalan duluan, maksa dia ikut. Pergelangan tangannya juga di tarik paksa ngebuat Seonghyeon ngeringis dikit karna tangannya ngerasa sakit.
Seonghyeon belum sempat banyak ngomong.
Begitu pintu mobil ketutup, Keonho langsung narik dia lebih dekat—buru-buru, kayak udah tau Seonghyeon nurut.
“Udah puas?” tanya Eom Seonghyeon, masih berusaha nyindir, walau suaranya nggak sekuat tadi di kelas.
Keonho nggak jawab. Dia cuma ngeliat mata sama bibir Seonghyeon, dan itu lama.
Tatapan yang bikin Seonghyeon refleks diem sendiri.
“Belum.” akhirnya Keonho ngeluarin suara.
Dan ciumannya datang—bukan meledak kayak sebelumnya, tapi dalam. Berat. Sengaja diperkasar. Seonghyeon sempat narik napas kaget, tangannya nyentuh dada Keonho—
“Jangan kabur,” bisik Keonho di sela jarak tipis itu.
Tangannya udah di pinggang Seonghyeon, nahan di tempat. Keras, dan cukup buat bikin Seonghyeon sadar. Kalau Seonghyeon nggak dikasih ruang buat menjauh.
Keonho cium bibir Seonghyeon lagi.
Lebih kasar, bahkan ngebuat bibir Seonghyeon berdarah lagi, Seonghyeon bisa ngerasain rasa besi dari darah ngalir diantara lidah mereka yang ngelumat satu sama lain.
Keonho yang ngatur ritmenya—kapan berhenti, kapan lanjut, kapan nahan lebih lama dari yang seharusnya. Dan setiap kali Seonghyeon nyoba narik napas, Keonho balik lagi, nggak ngasih waktu buat benar-benar lepas.
“Keon— Ah!”
“P–Pelan!” potongnya, tapi ironisnya justru Keonho bikin ciumannya makin dalam.
Tangannya naik ke rahang Seonghyeon, nahan wajahnya di situ, maksa dia tetap hadap ke dia. Buru-buru nya beneran kerasa banget di setiap sudut mobil yang dirasain sama Seonghyeon bahkan tekanannya yang konsisten, yang bikin Seonghyeon pelan-pelan kebawa.
Dan dia memang kebawa, tapi nggak gini. Seonghyeon bener-bener kewalahan banget sekarang. Dia butuh pasokan oksigen. Keonho kasar banget sampe Seonghyeon ngedorong badan Keonho buat ngejauh aja nggak bisa.
Keonho geser sedikit dari bibir yang ngebuat Seonghyeon narik nafas sebanyak-banyaknya, tapi ciumannya turun ke leher—tempat yang jelas masih sensitif.
“Itu udah keliatan—“ Sambung Seonghyeon,
“Tau,” jawab Keonho nggak peduli.
Dan dia tetap lanjut.
Intinya Keonho ngasal dan nggak ada kata pelan, dia sengaja. Seolah dia tau persis reaksi apa yang bakal dia dapet. Bibirnya nempel lebih lama di satu titik, lalu pindah, ninggalin jejak yang bikin bahu Seonghyeon refleks tegang.
“Keonho… udah…”
Seonghyeon udah di fase angkat tangan–dia udah nyerah. Nikmat yang diterima nya sudah bertubi-tubi.
Keonho senyum tipis, masih di lehernya.
“Kamu yang diem aja dari tadi.”
Kalimatnya tengil, tapi cara dia ngucapinnya rendah—dekat banget, hampir nyatu sama kulit.
Tangan kiri di pinggang Seonghyeon makin mantap, narik dia sedikit lebih dekat lagi ke arahnya. Setiap gerakan kecil jadi kerasa jelas di ruang sempit itu.
Seonghyeon akhirnya beneran berhenti ngelawan.
Tangannya jatuh, kepalanya sedikit miring, ngasih ruang tanpa sadar—persis kayak semalam.
Ciumannya balik lagi, naik dari leher ke rahang, lalu ke bibir—lebih kasar, jauh lebih dalam.
Napas mereka berantakan. Tapi kali ini, Keonho yang nentuin kapan mereka berhenti.
Dan dia nggak berhenti.
Bisa kali dihitung lima menitan mereka ciuman yang ngebuat Seonghyeon susah nafas. Pas akhirnya dia mundur sedikit, jarak mereka masih tipis banget.
Matanya turun ke bibir Seonghyeon yang udah jelas makin merah.
“… pantes diliatin orang,” gumamnya pelan.
Seonghyeon cuma bisa napas berat, tangannya narik baju di bahu Keonho.
“Anjing… lu bener-bener—”
“Apa? Bener-bener brengsek? Kan emang.” Keonho nyambung santai.
Nggak nunggu jawaban, dia condong lagi—lebih dekat, suaranya rendah.
“Tapi kamu juga mau, kan?”
Seonghyeon nggak jawab. Dan itu, buat Keonho udah ngeheal dia dari api cemburu.
