Actions

Work Header

Sirkus

Summary:

When no one is around, my dear
You'll find me on my tallest tiptoes
Spinning in my highest heels, love
Shining just for you

Notes:

My friend told me that UmeTsuba is so Mirrorball and Guilty as Sin by Taylor Swift coded. I can't sleep before pour my sorrow into fanfiction so yes this is for you umetsuba angst enjoyer :*

Work Text:

Gemerlap lampu di jalanan kota menggantikan tugas matahari yang sudah uzur tenggelam di sisi barat cakrawala. Pendar cahaya dan kemerlip lampu sudah berteman dengan Tsubaki semenjak dirinya berada di bangku menengah atas. Iris sewarna lapis lazuli pudar yang selalu nampak berkelip seperti taburan serbuk emas di atas hidangan restoran mahal bintang lima. Helaian rambut hitam kebanggaannya melambai dibelai angin malam. Tsubaki selalu luar biasa serasi dengan segala bentuk gemerlap. Pun, bagi Sakura seniornya itu adalah contoh konkret dari sebuah konsep bernama penerimaan .

Bagaimana tidak, pundaknya cukup lebar dan kuat dalam artian mampu menanggung semua kejahatan dan ketidakadilan dunia yang dicurahkan padanya. Sakura pernah bertanya ‘Butuh berapa banyak rasa sakit kalau mau bisa selapang dada Kak Tsubaki, ya?’ Pertanyaan dari pemuda menggemaskan itu, dulu Tsubaki belum mampu berikan jawaban dengan serius. Belum, sampai saat ini.

Separuh hidup Tsubaki dihabiskan untuk mencari sebuah tempat. Dimana dan kemana dia bisa berbaur tanpa harus membohongi diri. Bisa bernapas tanpa tercekik ekspetasi dan stereotipe memuakkan yang mencekik lehernya setiap waktu. Tempat dia bisa diterima. Tempat dia diizinkan.

Lalu semesta mengirim satu ciptaan Tuhan yang katanya paling sempurna. Manusia. Seorang pemuda seperti dalam buku dongeng teman perempuan Tsubaki sewaktu sekolah dasar. Meski Tsubaki tahu betul kalau manusia itu banyak sekali noda dan ketidaksempurnaannya. Namun, Umemiya Hajime bak sebuah bentuk permintaan maaf dari Tuhan atas banyaknya hal keji di atas permukaan bumi ini. Setitik embun di lautan padang tandus yang penuh kejahatan. Seperti pangeran berkuda putih — bagi Tsubaki, Umemiya begitu suci dari segala cacat dan boroknya dunia. Begitu saja … eksistensi Umemiya sesederhana dia hanya sekedar ada, Tsubaki kemudian mampu memaafkan. Pangeran berkuda putih memang selalu digambarkan berperan pahlawan. Seolah dibebaskan dari kurungan jeruji yang selama ini mengkerdilkan Tsubaki dalam pengasingan, seketika itu juga Umemiya Hajime adalah pahlawannya. Penyelamatnya. Pangeran berkuda putihnya. Cintanya.

Umemiya menawarkan uluran tangan, sebuah pelukan, penerimaan, sesuatu yang begitu mahal … sesuatu yang Tsubaki tidak pernah berani untuk menghidupkannya meski di angan-angan. Meski tahu semua buruknya, Umemiya tidak pernah sekalipun membantah akan derita juga suka milik Tsubaki. Saat dunia penuh akan norma dan penghakiman dari setiap pasang mata yang tertuju padanya, ternyata ada satu dimana Tsubaki seakan menemukan surga. Di balik kerling lembut dari mata keabuan tapi sebiru langit dan sehangat senja milik Umemiya Hajime.

Salahkan orang tuanya atas keringnya kasih sayang sehingga Tsubaki tumbuh menjadi seseorang yang begitu haus akan afeksi. Katanya, manusia bisa lakukan apa saja demi cinta. Dan Tsubaki setengah mati berusaha mencari lagi, sesuatu yang pantas untuk ditawarkan pada Umemiya sebagai hadiah atas kebaikan hati juga keindahan jiwanya. Sukarela Tsubaki mendengarkan mimpi-mimpi juga mendukung dan menelan apapun yang terlontar keluar dari mulut Umemiya. Membersamai pangerannya hingga ke ujung benua pun akan dilakukannya. Seperti sebuah ideologi, seperti iman … karena di sini Tsubaki menghamba pada apapun yang melekat dalam diri Umemiya.

Tsubaki mencoba, selalu mencoba, dan masih mencoba. Dalam pertunjukan sirkus ini, dia mencoba menjadi bintang utama agar gemerlap keberadaannya dilirik oleh si penonton istimewa yang menduduki tahta paling istimewa di hatinya — Umemiya. Tsubaki berdansa, menari, berputar dengan balutan busana adi rupawan, berlenggak lenggok elegan di atas seutas tali bersama sepatu hak tinggi tujuh senti. Agar Umemiya betah berada dalam sirkusnya. Supaya si pangeran tetap tertawa bersamanya … tertawa karenanya. Tsubaki begitu ingin Umemiya melihatnya.

Jika kiamat tiba saat ini juga mungkin Tsubaki akan dijatuhi hukuman karena melakukan satu dari tujuh dosa besar. Rakus. Sudah diberi hati minta jantung, kata mereka. Tsubaki fakir akan sayang selama hidupnya tapi untuk Umemiya, dia mau jatuh bangun di atas darahnya sendiri agar bisa menebarkan kehangatan bagi banyak manusia lainnya. Namun, kejam sekali apabila tawaran cinta — satu-satunya sisa dari apa yang direnggut dunia dari Tsubaki— pada Umemiya disandingkan dengan penghakiman sekeji dosa. Padahal untuk mengharap sebuah kesempatan bersama Umemiya yang belum tentu akan berhasil mewujudkan angannya saja, Tsubaki merasa kecil dan tidak pantas. Lalu, bagaimana bisa Tsubaki seakan divonis pengadilan neraka kalau sejengkal saja … Tsubaki tidak pernah menyentuh Umemiya sebagai bentuk pembenaran rasa cintanya. Bagaimana bisa dia akan diadili kalau memiliki Umemiya Hajime itu hanya sebatas konsep abstrak yang tertulis di atas pasir pantai dan bisa dihapus oleh ganasnya ombak kapan saja tanpa sepengetahuannya? Daripada berandai dan menumbuhkan harap akan cintanya diterima apalagi dibalas oleh Umemiya, Tsubaki lebih memilih mati dalam keadaan terbakar api asmaranya sendiri hingga nyeri menggerogoti tulang belulangnya sampai jadi abu. Cukup diperbolehkan untuk mencintai seorang Umemiya Hajime tanpa dibunuh saja, Tsubaki masih mampu melanjutkan hidup. Bermodalkan cinta untuk Umemiya dalam hatinya yang penuh guratan luka, Tsubaki sudah lebih dari sekedar cukup berharga hingga bisa membagi indah dan gemerlapnya pada semesta.

Tsubaki perlu terbiasa. Menghabiskan malam-malam sendiri dengan sesak di dada yang seperti menggerus ulu hati dan mempersempit jalur napasnya. Tsubaki paling memahami dari siapapun, Umemiya tidak akan menghakimi atas cintanya. Diizinkan jatuh cinta oleh Umemiya Hajime, hal apalagi yang mau Tsubaki minta? Maka penerimaan itu hadir sebagai ganjaran dari beban penderitaan yang Tsubaki tanggung. Mungkin Tuhan berbaik hati memberi banyak ruang di hatinya untuk rela. Sepenuhnya. Sebaik-baiknya.

 


 

Gemerlap lampu di jalanan kota menggantikan tugas matahari yang sudah uzur tenggelam di sisi barat cakrawala.

Tsubaki mengeratkan genggaman pada sekuntum bebungaan putih yang begitu wangi menyapa ujung hidungnya. Menusuk sensor dalam otaknya agar bisa mengenali harum bunga itu dan menyimpannya dalam ingatan. Tradisi lempar melempar bunga saat pesta pernikahan itu memang bajingan. Mungkin kenangan akan harum bunga ini akan menikam jantungnya hingga mati terkapar di atas kuburannya sendiri. Siapa tahu.

Umemiya Hajime menikah.

Bukan dengan dirinya, tentu … itu hanya mimpi orang sakit jiwa di siang bolong. Meski Sakura kagum seakan ruang maaf dan ikhlas milik Tsubaki seluas samudra tetapi kenyataannya hanya seukuran gelas anggur yang diapit di antara jemarinya saat ini. Nanti, nanti dia berjanji akan kembali mengarungi samudra maafnya. Maaf untuk apa dan siapa dia tidak tahu pasti. Namun, Tsubaki ingin egois sekali saja sebagai penutup dalam babak mencintai Umemiya Hajime di halaman terakhir dari buku takdir yang berisi kisah cintanya. Tsubaki meneguk anggur dalam gelas hingga lidahnya bisa mengecap rasa manis, sedikit pahit, getir, panas, tercekat, dan asin … karena perih dalam relung dadanya membuncah drastis. Bersamaan dengan Umemiya yang mengecup mesra pengantinnya di pelaminan sana, Tsubaki mengecup bibir gelas yang telah bercampur oleh lelehan air matanya sendiri. Angin malam membelai mesra rambut hitam arang milik Tsubaki dengan panjang yang bahkan hampir tidak menyentuh pundaknya.

“Sakura, aku diizinkan buat menangis ‘kan sekarang?”

Lalu soal menyoal pertanyaan Sakura, ‘Butuh berapa banyak rasa sakit kalau mau bisa selapang dada Kak Tsubaki, ya?’ Tanpa perlu Tsubaki beri penjelasan secara lisan, Sakura seharusnya sudah tahu jawabannya.