Chapter Text
Theo terbangun pukul lima Subuh. Ia perlahan membuka matanya karena kicau alarm yang dipasangnya. Menggerutu pelan, merasa dirinya dibangunkan bukan oleh alarm, melainkan sakit badan.
Theo duduk di kasur selama beberapa menit untuk mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal dalam mimpinya. Kepalanya berputar, perlahan demi perlahan hingga berhenti.
Langit kelam menutup cakrawala, rintik hujan berbisik di telinga. Petir dan kilat menari bersama, menghembuskan dingin yang memeluk tubuh hingga menusuk tulang punggungnya. Guntur menyahut berturut-turut, mendesak Theo untuk terjaga. Hal itu membuat bulu kuduknya berdiri.
Theo menghela napas. Bukan karena cuaca buruk yang menyambutnya, namun karena teringat kalau hari ini ada jadwal photoshoot Cailyn.
Kemarin bukanlah hari yang mudah untuknya. Tempat photoshoot yang berbeda, area yang tidak familiar, mendaki tempat jauh nan tinggi yang mampu mengalahkan harga diri Theo. Theo lagi dan lagi disuruh untuk berjalan, mencari tempat yang sempurna untuk latar belakang foto tersebut.
Karena temanya adalah high visual. Model banyak mau! Theo ingin melemparkan dirinya ke dalam gunung berapi terdekat.
Sialnya, Kayl, Zeline, dan Cailyn bersekongkol menyogok keinginan Theo untuk terjun bebas dengan segelas kopi.
Udara di sana sangat—amat—dingin. Saking dinginnya, usai Theo memotret satu pose, kakinya seketika gemetaran. Saat Theo hendak berjalan satu langkah, rasanya ada mesin kopi yang menimpa kakinya. Ditambah dengan hembusan angin yang sesekali membuat Theo bersin.
Sudah digigit udara, ditimpa mesin kopi pula.
Jalan menuju lokasi curam sekali. Cailyn lagi dan lagi hampir terjatuh ke arah Theo. Sedangkan Theo? Ia berulang kali menangkap Cailyn dengan satu tangan karena tangan satunya lagi sedang memegang kamera.
“Emang se-gak rata itukah jalannya?” pikir Theo merangkul gadis di sisinya.
Theo segera menyeimbangkan Cailyn, lalu memeriksa kameranya.
Ternyata tidak terjadi apa-apa.
Theo menghembuskan napas lega.
Lalu saat pemotretan lagi .…
Cailyn duduk di kursi dan Theo tidak pernah merasa sangat iri pada benda mati. Ia harus memotret Cailyn dengan bantuan tangan Zeline di bahunya agar Theo tidak tumbang lalu terguling ke bawah.
Meski begitu, Theo membatin lebih baik terguling daripada memaksa tubuhnya untuk memotret kursi yang meledeknya.
Tapi itu adalah profesinya.
Semua itu demi sebuah foto—hanya satu.
Kehangatan Theo datang dari kopi dan godaan lembut Cailyn, meski kadang berlebihan hingga membekukannya.
Kembali ke masa sekarang—
Masih terduduk di sudut kasur, Theo mengerjap. Setelah nyawanya penuh, ia mengenakan spa slippers lalu beranjak dari duduknya untuk membuka pintu kamar.
Rumahnya gelap, hanya diterangi oleh beberapa lampu lantai yang tingkat kecerahannya minimal. Rumah yang begitu sunyi dan redup karena penduduknya hanya Theo seorang.
Dengan harapan suasana ini akan berlangsung selamanya.
Theo tidak menyukai tempat yang terlalu terang, salah satu contohnya yakni studio Kayl.
Hal yang pertama kali Theo lakukan setelah bangun ialah mengunjungi dapur untuk membuat kopi ditemani rintihan hujan.
Seperti biasa, latte.
Secangkir gelas, espresso, dan susu, Theo menjadi barista ala-ala. Dihiasi dengan bubuk coklat, Theo bersiap menyantap kopinya.
Bergerak menyalakan lampu tengah dengan latte di genggamannya, ia perlahan duduk di sofa dan meluruskan kakinya.
Theo menyalakan ponselnya.
Theo bukanlah orang yang memedulikan seperti apa kehidupan orang lain, terutama orang asing.
“Untuk apa memikirkan orang lain jika kau belum memedulikan dirimu?”
Seperti itulah yang Theo pikirkan sembari menutup matanya.
Dengan perlahan Theo mengarahkan kopinya ke mulut.
Lalu diteguk.
Slurp!
Theo membuka matanya.
Apakah ini rasa cinta? Tapi bisa diminum? Ini seperti ajakan nikah.
Aku ikhlas jika maharnya dirimu.
JGEER!
Suara petir menyambar kedamaian jiwa Theo seperti menghalau niat menikah dengan kopinya.
Ditambah dengan Theo tersedak.
“Kenapa semesta menolak cintaku, sih ….”
Setelah menyelesaikan kopinya—walaupun dengan terbatuk diganggu petir—Theo segera mandi untuk menyegarkan dirinya.
Mungkin tidak ada yang tahu kalau Theo suka bernyanyi. Tapi di kamar mandi, ia pikir ada ilmu gaib yang membuat suaranya seperti penyanyi profesional.
Ketika Theo melangkahkan kaki keluar, cahaya mentari yang cerah menyambutnya hangat.
Lebih cerah daripada masa depannya.
Theo segera ke kamarnya untuk bersiap.
Dimulai dengan mengeluarkan dalaman half break berwarna hitam, kemeja putih, dasi abu-abu, dan harness dari wardrobe-nya.
Oh ya, tak lupa Theo menyimpan jas di atas kasur.
Setelah memakai pakaian, Theo kembali lagi ke dapur untuk membuat sarapan.
Cukup roti panggang dengan isian keju, daging, dan sayuran.
Sarapan yang sederhana, bukan?
Setelah Theo menyelesaikan sarapannya, ia melihat jam yang menunjukkan pukul 06.50 AM.
Masih ada sepuluh menit untuk bersantai, tapi Theo lebih memilih untuk segera berangkat ke studio.
Theo menyiapkan kamera beserta lensanya, lalu dimasukkan ke dalam tas.
Dengan kehati-hatian dan kelembutan karena Theo tidak ingin merusak kameranya.
Jujur? Theo lebih mementingkan kamera dan lensanya dari pada dirinya sendiri.
Yasudahlah.
Theo mengenakan jasnya, lalu membawa dua tas. Satu berisi kamera, lensa, dan kain microfiber. Satunya lagi kopi, ponsel, dompet, cemilan.
Theo mengambil helm.
Mengunci pintu utama.
Kemudian membuka garasi.
Di dalamnya terdapat tiga motor sport: Kawasaki Ninja ZX-25R hijau, R6 putih dihiasi dengan carbon fiber dan motor favoritnya, BMW S1000RR dengan warna khasnya.
Studio Kayl tidak begitu jauh dari rumahnya, jadi Theo menggunakan motor Kawasakinya.
Dimulai dengan memanaskan mesin, Theo menatap motor itu dengan perasaan gembira lalu menaikinya.
Suara mesin yang menggelegar memecah keheningan pagi, menandai awal perjalanan yang telah lama dinanti. Getaran lembut terasa di telapak tangannya saat memegang stang, seperti motor itu menyambutnya lagi setelah sekian lama.
Perjalanannya menuju studio begitu santai, jalanan terlihat sepi.
Permukaan aspal lembab, aroma petrikor memenuhi udara.
Tanpa Theo sadari, studionya Kayl sudah berada tepat di depan matanya.
“Lah kapan sampai-nya?”
Theo mematikan mesin motor, mengambil kuncinya.
Tidak lupa untuk menyimpan helm tepat setelah ia menginjakkan kaki ke dalam studio di tempat yang telah disediakan.
Sepertinya Theo datang terlalu pagi karena hanya helmnya seorang yang menghuni tempat itu.
Theo menghela napas.
Namun tiba-tiba—
“THEEEOOOOOOO!!”
BRUK!
Sebelum Theo sempat menoleh, ia dihantam dari belakang dan menyambut lantai dengan ciuman hangat.
“Weh siapa ini?!” Theo berusaha mengangkat kepalanya, mengabaikan rasa sakit yang diakibatkan pelaku.
“Siapa lagi?” ucap seorang gadis yang masih menempel di punggung Theo.
“Kenapa gwa nanya pertanyaan itu ya ….”
Cailyn adalah pelaku yang membuat Theo mencium lantai di pagi hari.
Dan entah mengapa.
Cailyn dengan santai duduk di punggung Theo.
“Woi, berat! Turun gih!” Theo merintih kesakitan karena tulang punggungnya tidak dibuat khusus untuk menjadi tempat sandaran manusia.
Terutama oleh Cailyn.
Ini bukanlah kejadian pertama Cailyn duduk di punggung Theo.
Theo teringat masa lalunya dimana Kat melempar gulungan kertas ke atas lemari karena ia tidak sengaja menjatuhkan matcha-nya.
Zeline yang menyaksikan kelakuan Kat bertanya, “Kamu ngelempar kertas apaan, Kat? Bukan jadwal foto yang barusan gwa kasih, kan?”
Kat yang masih merasa kesal, terdiam beberapa saat untuk menenangkan dirinya.
“Oh, itumah ada di atas meja. Liat aja—” Kat memotong ucapannya setelah melihat meja miliknya.
Zeline yang bingung mengapa Kat berhenti tengah kalimat memiringkan kepalanya.
“Kamu kenapa?”
Kat mengangkat kedua tangannya. Zeline dapat melihat Kat gemetaran.
Zeline langsung tersadar.
“Kat, kertas yang tadi lu lempar bukan kertas yang gwa bicarakan … kan?”
Hening ….
“Maaf Zeline!” Kat langsung meminta maaf kepada Zeline. Ditambah dengan pandangan ke lantai dan kedua tangan di atas kepalanya agar menjadi lebih dramatis.
Melihat apa yang Kat lakukan, Zeline langsung mengelus dada.
“Tolong diambil ya, Kat.”
Kat tidak perlu mengangkat kepalanya untuk menyaksikan amarah di raut wajah Zeline.
“Siapapun bawain tangga!” perintah Kat.
Theo yang sedang bersantai di ruangan sebelah sembari mengusap lensanya menghela napas, melaksanakan titah Kat, kembali membawa tangga.
Cailyn yang melihat Theo sedang membawa tangga penasaran.
“Nih Kat, taro di mana?”
“Makasih banyak. Di depan lemari itu,” Kat menunjuk pada lemari yang ia maksud.
Setelah Theo selesai meletakkan tangga, Cailyn yang masih penasaran bertanya kepada Zeline.
“Itu buat apa?”
Zeline menatap jengkel model tersebut selama lima detik tepat, lalu memutuskan untuk membuka mulut.
“Buat ngambil kertas. Tolong gak usah ditanya kertas apa. Otakmu gak konslet, kan?”
Cailyn hanya menganggukkan kepalanya.
Kemudian ia memiliki ide brilian.
Saking briliannya, ini menjadi kenangan paling memalukan baginya.
Cailyn menawarkan diri mengambil kertas dengan Kat menyetujui. Cailyn menaiki tangga, meraba debu hingga mendapatkan kertas tersebut.
Theo memutuskan melangkah menuju mejanya yang berada di dekat lemari, hanya beberapa meter jaraknya.
Bersamaan dengan Cailyn kehilangan keseimbangan—lalu terjatuh bahagia memegang kertasnya.
Tepat ketika Theo sedang berjalan.
Cailyn terkejut.
Theo?
BRUKK!
Saat Cailyn membuka matanya, ia disambut dengan wajah Theo.
Sedangkan Theo pingsan karena tertimpa gravitasi, beban tangga, dan makhluk menyebalkan bernama Cailyn.
Cailyn diam.
Lebih tepatnya terdiam.
“Kenapa kalau dilihat dari dekat dia sangat menawan?”
Cailyn lupa ruangan itu hening karena ulahnya.
Oh!
Ia sedang berada di atas Theo.
Seketika muka Cailyn panas.
Hingga menjadi merah dan mengeluarkan asap.
Cailyn segera berdiri.
Lalu berlari keluar ruangan.
Meninggalkan semua orang dengan wajah terkejut.
Theo? Masih pingsan.
Ya … begitulah cerita singkatnya.
Theo yang memiliki niat berdiri sekecil harga diri Kayl—jika sudah ribut dengan Zeline—membiarkan Cailyn duduk di punggungnya.
Eh, tunggu.
Rasanya kok ada yang salah?
Terdapat gambar samar dalam pikiran Theo.
Meskipun blur, terlihat sesuatu berharga dan mahal.
Theo dengan muka masih mencium lantai, teringat.
“Tas gwa!” Theo langsung berdiri, mengabaikan Cailyn yang sedang duduk di punggungnya.
“Eh?”
“Eh?“
Keduanya mengatakan hal yang serupa di waktu yang sama.
Waktu seolah terhenti.
Theo lupa akan keberadaan Cailyn yang sedang berada di punggungnya.
GEDEBUK!
Cailyn terhempas karena tidak menyangka Theo akan bangun secepat kilat.
Di saat Cailyn sudah menerima nasibnya untuk terjatuh, Theo dengan sigap menahan punggung Cailyn.
Mereka berdua saling menatap.
Jantung berdegup kencang.
Tas Theo terlupakan.
Berapa lama mereka seperti itu?
Mereka tidak tahu.
Theo lah yang pertama kali menyadari tindakannya.
“Eh, maaf—”
Muka Sang Fotografer itu perlahan menggambarkan panci presto di atas kompor—panas dan beruap.
Entah karena kedekatan fisik yang mendadak atau karena sistem pendingin tubuhnya sedang rusak.
Sepertinya Theo harus memasukkan kepalanya ke kulkas.
Atau ke dalam gunung berapi agar seluruh tubuhnya hilang.
Harga diri lelaki itu bagaikan balok es di bawah terik matahari—tinggal menunggu waktu saja sebelum meleleh dan hilang tanpa jejak.
Theo sudah melewati kejadian yang seharusnya lebih buruk daripada ini.
Banyak pesanan, waktu padat, dapur terbakar karena seseorang lupa untuk mematikan kompor, fotoshoot di gunung.
Tapi setidaknya Theo sudah menyiapkan mental.
Semua hal penting yang ia butuhkan ada, tapi tidak dengan harga diri.
Tentu saja.
Setelah Theo menyeimbangkan Cailyn, ia langsung berlari meninggalkan Cailyn dengan perasaan malu.
Ia pun sampai di ruangan untuk photoshoot hari ini.
Begitu Theo masuk—
BRAKK!
Theo membanting pintu sepenuh tenaga.
Jantung Theo? Tidak aman.
Tasnya? Masih dalam genggaman.
Pintunya? Hanya bisa didoakan.
“Gila. Tadi aku ngapain?”
Theo tidak ingat berapa lama ia mengunci dirinya di dalam ruangan itu.
~~~~~
Akhirnya Kat dan Zeline tiba juga.
Zeline dengan santai menyapa Cailyn lalu memberinya agenda kegiatan hari ini.
Kemudian Kat membawa Cailyn ke ruang ganti.
Berusaha melupakan kejadian tadi pagi, Theo mengusap lensa kameranya dengan kain microfiber yang ia bawa.
Setelah Theo selesai, benaknya memutuskan untuk membuat segelas kopi.
Menit setelah menit berlalu.
Theo menunggu kehadiran Cailyn dengan kopi panas.
Dan ketika Cailyn keluar dari ruang ganti.
Sang Fotografer tersedak kopinya.
Gaun yang dipilih oleh Kat adalah pilihan yang sempurna.
Tipe gaun sutra berwarna abu dengan lengan panjang, satu belahan tinggi di bagian kiri, dan juga tidak menutupi punggung.
Hairstyle yang digunakan oleh Cailyn adalah Half Up Twist Braid Knot yang elegan.
Hal ini memperlihatkan—menunjukkan kulitnya yang mulus, tulang belakangnya yang halus, lekukan leher yang menakjubkan.
Bagaikan mahakarya yang dipahat tangan Michelangelo sendiri.
Setiap langkahnya memperlihatkan paha yang panjang.
"Mengapa ada orang yang memiliki sifat yang menjengkelkan namun sempurna? Itu tidak adil. Ini seharusnya ilegal. Untuk diriku” Pikir Theo sembari memegang gelas yang hampir terjatuh.
Theo berusaha melihat ke mana pun kecuali Cailyn.
Cailyn yang melihat ekspresi Theo tersenyum.
Ia mencoba melambaikan tangannya untuk mendapat perhatian Theo.
Dan itu berhasil.
Theo terhasut lambaian tangannya, kemudian tatapan Theo beralih ke mukanya.
Theo tidak pernah merasa semalu ini.
Napas Theo? Menguap.
Pikirannya? Berasap.
Harga dirinya? Lenyap.
Theo langsung membalikkan badannya untuk menyiapkan kamera dan lensa yang ia butuhkan.
Sebenarnya itu hanya alasan agar Theo tidak melihat ke arah Cailyn.
“Kayanya kalau ada orang yang nanya tipeku gimana pasti orang itu langsung datang”
Seharusnya Theo membenci Cailyn karena terlalu sering menggodanya.
Tapi Theo tidak bisa.
Dan ia memilih untuk tidak melakukannya.
Bukan karena dirinya tidak sanggup, tapi karena Cailyn adalah orang yang terus menerus menemui Theo. Bagaikan anak ayam yang terus mengikuti ibunya.
Tapi ini versi manusianya.
Entah itu saat Theo sedang istirahat, maupun bekerja.
Cailyn akan tetap menggodanya seperti cara ia bernapas.
“Ugh, aku ingin menyelesaikan sesi ini secepat mungkin” Theo sudah berada di depan tempat shoot.
Tema untuk foto hari ini adalah Ethereal Glamour.
Terdapat sofa berwarna ungu muda di temani beberapa bantal dengan hiasan meja dan berbagai jenis bunga. Di tambah 2 ringlight dan 2 studio light.
Cailyn akan memegang setangkai bunga mawar. Merah.
Pose pertama.
Badan tegak, kaki disilang, kedua tangan menggenggam tangkai bunga tepat di depan hidung seperti sedang mencium aromanya.
Tangan kanan di atas dan kiri dibawah.
Kepalanya di miringkan sedikit agar lekukan lehernya terlihat.
Cailyn menutup matanya. Ia membayangkan kalau dirinya sedang berada di sebuah taman yang jauh dari kota.
Ditemani dengan rumput, berbagai jenis bunga, kupu-kupu, dan hembusan angin. Cailyn bersandar ke pohon.
Theo selesai memposisikan dirinya.
Saat Theo ingin menekan tombol kameranya, mata Cailyn terbuka.
Tatapan yang penuh dengan rasa lapar, menatap mangsa dari dekat dan siap menerkam makanannya.
Ditambah dengan senyuman mematikannya, Theo—sekali lagi—hampir menjatuhkan kameranya.
Theo mengedipkan matanya sekali.
Lalu dua kali.
Kemudian lupa untuk bernapas.
Klik
1 foto selesai.
~~~~~
Sesi foto pertama akhirnya selesai.
“Seharusnya besok lebih baik kan?”
BAM
Cailyn telah membunuh Theo.
Secara mental.
Theo duduk di kursi dengan ekpresi yang tenang di luar, tapi batinnya berteriak “Senyum dikit, tapi jangan kayak butuh pertolongan”.
Ia mencengkeram kameranya.
Karena dipegang begitu erat, bahkan kursinya sampai tegang.
Kehadiran Kayl mengambarkan bahwa dirinya tidak datang untuk menyelamatkan hari—tapi bikin semuanya lebih dramatis.
“Aman Theo? Mukamu kaya orang yang lagi tenggelam—tapi di padang pasir” Kayl menjahili Theo dengan 100% percaya diri kalau itu tidak akan membantunya keluar dari mimpi buruknya.
“Apakah muka gwa terlihat seperti gwa baik-baik saja?”
“Matamu cuman di gunakan untuk melihat, bukan memahami. Coba pake otakmu juga, bonusnya dapat empati” Theo menggerang.
Dari jauh, Kat yang menatap Theo bertanya pada Zeline.
“Mau ngasih bantuan apa ke Theo? Dia bentar lagi kena mental breakdown deluxe edition—di tambah air mata dan musik sedih di background”
“Yah, semesta menolak kehidupan sempurna untuknya” Zeline menghembuskan napas pelan.
“Makan bareng diluar aja gimana? Ajak Aveline juga” Kat memberi idenya sembari tersenyum. Ia membayangkan kalau ekor gaibnya sedang mengibas riang.
Zeline dalam hati berpikir mungkin ini adalah ide yang buruk. Theo dan Cailyn di meja yang sama? Ini bukan pertemuan, ini percobaan sosial.
Kalau meja bisa ngomong, mungkin dia udah minta cuti darurat.
Tapi Zeline—dengan perasaan yang tenggelam—ingin melihat interaksi mereka berdua. Ia pun bilang ke Kat untuk menginformasikan acara makan malam di grup.
Tentu saja Kayl yang bayar.
~~~~~
Photoshoot akhirnya selesai juga.
Theo yang sudah lelah ingin melompat ke kasur seperti itu adalah satu-satunya tempat untuk mengisi daya emosinya.
Kamera dan lensa sudah beristirahat di dalam tasnya. Dibiarkan begitu saja karena mereka sudah berjuang dengan keras.
Bukan karena dipakai, tapi karena cengkraman Theo.
Saat Theo membuka ponselnya, ia melihat beberapa pesan dari grup.
Professional Chaos
Yapper handal, Ailurophile, Direktur lagi stres, Ovaltine, dan sunshine sedang online.
Ailurophile:
Hari ini ada makan bareng yakk, biaya di tanggung Kayl.
Yapper handal:
Kok gwa?! Kalian ga izin apa-apa lho.
Gwa bukan ATM berjalan privat kalian.
Direktur lagi stres:
Telat, udah reservasi gwa.
Kayanya gausah izin juga boleh sih, gwa tau password ATM-nya.
Yapper handal:
Gwa ga bilang iya!
Eh tunggu.
Lu tau password ATM gwa dari mana…
Direktur lagi stres:
Ada, gausah kepo.
Yapper handal:
Sialan, privasi gwa itu!
Ailurophile:
@Ovaltine kamu juga ikut yak.
Ovaltine:
Owh ok.
Nanti send aja lokasinya.
Sunshine:
Ehh, hari ini?
Ailurophile:
Yoi, wajib dateng yak.
Theo melongo.
“Cobaan apa lagi ini”
Kayl—yang ternyata masih di dalam ruangan yang sama dengan Theo—menatapnya dengan gelengan kepala.
Theo menghembuskan napas. Lalu memikirkan tujuan hidupnya seperti GPS tanpa sinyal.
“Ikut ga? Zeline, Kat, sama Cailyn udah nunggu diluar” Kayl berjalan mendekati Theo berserta senyuman yang terlihat manis, tapi isinya rencana jahil terorganisir dengan baik.
“Iya nanti gwa nyusul” Theo membalas Kayl dengan nada yang cukup kasar. Ibaratkan kalau setiap kata yang keluar dari mulut Theo adalah silet, Kayl pasti sudah tercincang.
“Ow, yaudah. Jangan lama-lama yak. Ada yang nugguin” Kayl melambaikan tangannya sembari keluar ruangan.
“Hah? Maksud?”
Theo berada di ruangan itu sendirian.
Lagi.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan.
Dengan 2 tas dan mental yang tersisa, Theo mengunci ruangan itu lalu berjalan keluar studio.
Seperti yang Kayl katakan, Zeline, Kat, dan Cailyn sudah menunggu kehadiran Theo.
“Euhm, kan gwa bawa motor-” Theo berhenti sejenak. “Maksudnya kalian kenapa ga duluan?”
Zeline yang sudah bersabar akhirnya meluapkan emosinya.
~~~~~
Akhirnya mereka sampai.
Disusul dengan Aveline yang menggunakan jumpsuit abu yang di dampingi dengan crop top sweater berwarna krem.
Tidak lupa dengan topi dan kacamatanya.
Mereka pun duduk di kursi yang telah Zeline reservasi tanpa perizinan Kayl.
Terdapat 2 sofa panjang coklat dan sebuah meja.
Seperti biasa, tempat favorit Theo adalah dekat jendela dan bersebelahan dengan Zeline.
Kat dengan sigap mengambil tempat di samping Zeline.
Di sebrang, Cailyn duduk menghadap Theo. Di temani oleh Kayl dan Aveline.
Makanan dipesan tanpa banyak bicara, menu utamanya akan dimulai setelah itu.
Kat—dengan bakat terpendamnya—menyambar tas Theo yang berisi kamera.
Gerakannya begitu mulus, seolah-olah tas itu memang ditakdirkan untuk berpindah tangan.
Zeline hanya bisa menatap tangan Kat yang melintas di dekat pahanya—bukan terganggu—menatap Kat dengan pikiran “cepat, aneh, dan nggak sopan".
Kameranya mendarat di paha Zeline bagai singgasana.
Tanpa rasa bersalah, Kat menyalakan kamera dan langsung merekam.
“Kalian tadi liat muka Theo ga? Abis sesi foto pertama?” Kat adalah orang yang memecahkan keheningan.
“Muka orang yang baru sadar kalau kamera bukan hanya menangkap wajah, tapi juga luka batin.” Kat melanjutkan.
Sialnya hal itu benar dan Theo tidak dapat membantahnya.
“Karena gwa kah? Kayanya kameranya juga ikut tersipu. Soalnya tadi Theo—katanya ga sengaja—tiba-tiba ngefoto gwa” Cailyn tersenyum.
“Mau sampai kapan lu ngegoda Theo?” Aveline yang sedang melihat ponselnya, bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.
“Hmm, sampai dia mau ngaku perasaannya terhadap gwa”
“Gwa ga ada perasaan!” Theo tersedak angin setelah mencoba untuk memprotes—sebuah fakta.
“Yang berarti seumur hidup. Anjay” Kayl yang sedang duduk sila sembari menggoyangkan badannya ke kanan dan kiri, membuat siapa pun ingin menampar atau melemparnya.
Terutama Zeline.
Dari muka Kayl mereka semua bisa melihat ekspresi “Gwa duduk dengan seni. Jangan diganggu”
“Sebenarnya ada kan? Tapi gamau ngaku” Ucap Cailyn.
Singkat, padat, membuat Theo bungkam.
Yang lain? Menikmati drama ini.
“Gwa benci lu”
“Kamu nggak”
“Gwa seharusnya”
“Tapi kamu memilih tidak”
“Karena gwa ga bisa!” Dengan cepat, Theo berdiri. Tangan mencengkram meja seperti itu adalah pegangan terakhir sebelum tenggelam dalam lautan keputusan buruk.
Terlambat.
“Eh kamu ngaku”
“Gwa ga ngaku”
“Barusan kamu ngomong”
“Itu ga sengaja!” Theo terdiam sejenak. “Eh”
“Waw, 2 kali berturut turut” Kayl bersiul kecil untuk memanaskan topik hari ini. Nada siulan itu seperti menikmati kekacauan yang sedang terjadi.
Seperti biasa, Kayl tidak datang membawa kedamaian. Ia datang membawa bensin... dan korek api.
“Lu menyebalkan”
“Dan kamu menyukainya”
“Hal itu ngebuat gwa susah ngebenci lu”
“Karena aku tidak ingin kamu membenci diriku”
“Hah?”
Makan malam mereka di tambah dengan rasa tawa dan keributan.
Juga sedikit bumbu romantis untuk Theo dan Cailyn.
