Work Text:
Cuaca semakin tidak bersahabat. Langit terus bertambah gusar seakan siap untuk meluapkan seluruh teriakan dan tangisan yang telah lama dipendam. Membanjiri bumi dengan air mata yang tak lagi mampu untuk dibendung. Tumpah ruah dan membawa serta kawan yang sama menakutkannya. Angin kencang dan juga petir yang siap menyambar.
Sebentar lagi akan ada hujan badai menerjang berdasarkan prakiraan cuaca yang dilaporkan oleh penyiar radio. Joshua mendengarkan berita tersebut dengan seksama meski sinyal yang diterima radio mobilnya sesekali menghilang membuat suara yang terdengar menjadi kurang terlalu jelas. Ia menghela napas cukup panjang. Memutar otak mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi yang sedang dihadapi.
Jalan raya yang dilalui mobil Joshua terpantau senggang. Hanya ada satu atau dua kendaraan lain yang melintas. Di antaranya sempat melaju dalam kecepatan penuh yang seketika membuat lelaki yang rambut hitamnya itu dicukur dengan gaya undercut terkejut dan hampir oleng dalam mengendalikan kemudi mobil yang ia kendarai. Kejadian tersebut terjadi sekitar satu jam yang lalu dan sekarang Joshua baik-baik saja, tetapi perasaan risaunya tidak kunjung hilang karena melihat kabut yang semakin menebal. Cahaya dari lampu jalan yang berdiri kokoh pun tetap tidak membantu menjernihkan jarak pandang yang kian menipis.
Destinasi yang ingin dikunjungi oleh Joshua membutuhkan waktu tempuh sekiranya sepuluh jam jika tidak ada kendala. Tersisa lima jam perjalanan lagi. Namun karena keadaan cuaca yang tidak mendukung, mustahil baginya untuk tetap melanjutkan berkendara. Terlebih lagi, ia bepergian hanya seorang diri. Tidak memiliki sopir cadangan yang dapat menggantikannya menyetir ketika ia merasakan kantuk ataupun penat. Semestinya ia mendengarkan saran dari ibunya yang siang hari tadi sempat melakukan panggilan video dengannya—tepat sebelum ia berangkat—untuk mengajak salah satu teman dekatnya yang tidak memiliki kegiatan agar bisa menemaninya selama perjalanan yang cukup panjang. Seharusnya juga ia memilih menggunakan kereta atau pesawat daripada merepotkan diri sendiri dengan mengendarai mobil pribadi.
Joshua tidak berhenti bergerutu menyalahkan dirinya sendiri yang tidak mengecek ramalan cuaca untuk hari ini terlebih dahulu sebelum memulai perjalanannya. Dan sekarang tiba saatnya bagi angkasa untuk menumpahkan setetes demi setetes semua kesenduan yang dirasakannya yang membuat lelaki yang lahir di penghujung tahun itu langsung mengaktifkan penyeka kaca mobil miliknya.
Jika diperhatikan lagi, dapat dihitung dengan jari jumlah bangunan yang berdiri di sepanjang jalan yang Joshua lewati. Bangunan-bangunan tersebut tidak lebih dari stasiun pengisian bahan bakar, restoran cepat saji, kedai kopi, dan bar. Semua itu tidak dibutuhkan. Untuk saat ini, yang sangat diperlukannya adalah tempat penginapan. Ia harus berada di sebuah bangunan yang dapat menjadi tempatnya berlindung setidaknya sampai cuaca membaik.
Terus mencari dan mencari.
Laju mobilnya pun diperlambat ketika kedua mata yang bentuknya menyerupai mata seekor rusa sika itu mendapati sebuah plang besar yang didominasi oleh lampu neon berwarna ungu dan merah di pinggir jalan menyala begitu terang meskipun hujan turun semakin lebat. Kedua sudut bibir Joshua merekah dan ia akhirnya bisa bernapas lega.
Tanpa berpikir panjang yang akan membuat waktu semakin banyak terbuang dan dirinya nanti bisa terjebak di tengah badai, Joshua pun langsung menepikan mobilnya ke area tempat motel dua lantai itu berada. Memarkir mobil yang dibeli dari hasil kerja kerasnya itu di lahan kosong yang jaraknya tidak jauh dari kantor resepsionis. Ia memilih koper mana saja yang akan dibawa masuk ke kamar motel nanti. Yang pasti hanya berisi barang-barang penting seperti pakaian, perlengkapan mandi, obat-obatan, dan alat makan, lalu selebihnya akan ia tinggalkan di dalam mobil.
Satu koper medium dan tas ransel kecil menjadi keputusan akhir Joshua. Ia pun keluar dari mobil yang sudah dimatikan mesinnya. Setelahnya, ia mengunci semua pintu mobil rapat-rapat. Mengeceknya sekali lagi sebelum kemudian menyimpan kunci tersebut di saku belakang sebelah kiri dari celana panjang berbahan denim yang dipakainya. Sementara itu, dompetnya ia taruh di saku sebelah kanan. Gawai pintarnya yang perlu diisi ulang dayanya diamankan bersama tumpukan pakaian yang sudah dilipat rapi di dalam koper.
Dengan tergesa-gesa, lelaki bermarga Hong itu berlari menuju kantor resepsionis. Tas ransel hitam yang ia bawa diletakkan di atas kepala untuk menutupi tubuhnya dari terpaan air hujan, sementara koper berbahan kulit miliknya tersebut dijinjing dengan tangan yang satunya. Kaca tebal yang membatasi ruangan yang digunakan untuk menerima tamu dengan dunia luar dipenuhi oleh embun sehingga sulit untuk mengetahui bagaimana keadaan di dalam ruangan tersebut.
Jaket kulit berwarna cokelat yang menyelimuti tubuhnya diketatkan sesampainya Joshua di depan pintu kantor resepsionis yang tertutup. Lonceng kuning kecil yang menggantung di pintu masuk berdenting ketika pintu terbuka dan kedua kaki jenjang pun melangkah memasuki ruangan yang tidak terlalu besar itu. Hanya ada seorang perempuan muda yang rambutnya diwarnai merah jambu dan dibiarkan tergerai berdiri di balik meja resepsionis.
Seakan sudah menanti kedatangan Joshua, perempuan muda berperawakan cukup tinggi yang memakai seragam khusus pegawai berwarna ungu tersebut langsung menyapa, “Selamat datang di Purple Rose Motel! Kami menyediakan rumah bagi para penjelajah bersinggah. Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
Joshua tersenyum simpul atas keramahan dari pegawai motel yang dari tanda pengenalnya tertulis sepenggal nama yang tercetak dalam huruf tebal, miring, dan serba kapital.
LISA
Joshua mengangguk. “Saya ingin memesan kamar untuk satu orang,” balasnya tak kalah ramah.
“Boleh sekali, Tuan.” Lisa membuka sebuah buku besar yang sepertinya berisi data-data dari para tamu yang menginap di motel. “Masih tersedia tiga kamar kosong yang siap ditempati dan semuanya ada di lantai atas. Jika Tuan berminat, dimohon untuk mengisi data diri terlebih dahulu di buku ini.” Buku tamu tersebut disodorkan ke arah Joshua beserta sebuah pena bertinta hitam.
Joshua meletakkan koper dan tas yang dibawanya di meja kayu bundar yang terletak di dekat pintu masuk sebelum menerima buku dan pena yang diberikan Lisa kepadanya. Membaca dengan teliti apa saja yang tertera di buku yang cukup tebal yang terbuka di atas meja resepsionis di hadapannya sebelum menuliskan semua informasi yang diminta. Dipilih olehnya kamar yang berada di paling ujung pada kolom yang menanyakan perihal kamar yang diinginkan.
Hanya butuh beberapa menit untuk Joshua menyelesaikan pengisian data pribadi di buku tamu. Sepanjang itu pula Lisa menjelaskan kepadanya berkaitan dengan fasilitas yang terdapat di motel yang namanya terinspirasi dari bunga mawar ungu. Perempuan berambut seperti permen kapas yang energik meskipun di luar mendung itu juga menjelaskan mengenai peraturan yang harus ditaati oleh tamu selama menginap. Semuanya tidak jauh berbeda dari motel-motel yang pernah disinggahi olehnya sebelumnya.
Pembayaran untuk penginapan selama semalam langsung Joshua lakukan saat itu juga sembari berharap hujan badai akan berlalu sesegera mungkin. Jika cuaca justru kian memburuk, ia tentunya akan menambah waktu menginap dan membayar biaya tambahan ketika melakukan check-out nanti.
“Terima kasih banyak!” Lisa memberikan kunci kamar kepada Joshua dengan sebuah senyuman yang menampilkan deretan giginya yang rapi dan bersih. “Semoga Tuan nyaman menginap di motel kami. Selamat beristirahat!” ujarnya dengan ceria seraya membungkukkan badannya sedikit.
Kunci kamar motel pun akhirnya berpindah tangan. “Terima kasih kembali!” balas Joshua.
Tidak lupa untuk mengambil kembali koper dan tas yang ia tinggalkan di atas meja, Joshua lalu berlanjut melangkahkan sepasang kakinya yang terlindungi oleh sepatu bot Doc Martens tersebut meninggalkan kantor resepsionis.
Ditempuh jarak yang cukup singkat menuju lantai dua dari bangunan sederhana yang mengusung tema retro sembari ditemani guntur yang saling bersahutan tanpa henti. Beberapa kali kaki Joshua menapak pada genangan kecil yang dihasilkan oleh air yang berjatuhan dari atap. Semerbak petrikor menusuk ke dalam indra penciumannya. Aroma khas yang mampu melahirkan kedamaian andai saja bukan badai yang hadir menghantam bumi.
Joshua mengamati sekeliling sebelum menaiki tangga yang akan mengantarnya ke lantai atas. Meski penglihatannya terganggu oleh kabut, kedua matanya masih dapat menangkap cahaya berwarna putih yang datangnya dari sebuah minimarket di seberang tempat parkir. Muncul rasa ingin mengunjungi toko yang sepertinya juga buka 24 jam itu untuk sekadar membeli beberapa penganan dan minuman berenergi. Mungkin sehabis mandi. Untungnya, tersedia koridor penghubung antar bangunan motel dengan minimarket sehingga ia tidak perlu menerobos hujan yang bisa membuat tubuhnya yang sudah bersih nanti akan kebasahan.
Satu per satu anak tangga yang basah dan licin itu diinjak oleh kaki Joshua. Harus ekstra hati-hati dalam melangkah, karena jika tidak, lelaki yang beberapa bagian pada pakaiannya lembap akibat terkena guyuran hujan tersebut sudah dipastikan akan tergelincir lalu terjatuh. Ia melirik sekilas benda yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebuah arloji antik bertali perak peninggalan mendiang sang ayah yang masih berfungsi sempurna. Kedua jarum jam bergerak perlahan. Jarum yang pendek pun berhenti tepat di angka tujuh sementara yang lebih panjang berada di angka dua belas. Dari petang hari hingga malam seperti sekarang ini tiada bedanya berkat gumpalan awan hitam yang belum berniat meninggalkan langit yang sedang lara.
Yang menyambut Joshua sesampainya ia di lantai dua tak lain hanyalah kamar-kamar motel yang semua pintunya tertutup rapat. Tanpa menunggu lama, dengan tas ransel di pundak dan koper kulit di tangan, ia pun langsung beranjak menghampiri kamar pesanannya yang berada di paling ujung.
Langkah kaki Joshua terhenti seketika di depan kamar yang berada tepat di sebelah kamar yang akan dihuni olehnya untuk semalam. Jika bisa, Joshua ingin menarik kembali kata-kata yang telah dimuntahkannya barusan tentang semua kamar yang pintunya tertutup dengan rapat sebab satu kamar yang ada di hadapannya saat ini sama sekali tidak dikunci. Pintunya terbuka sedikit dan tertampil dari celah ialah dua orang lelaki sedang bergumul di atas ranjang yang tidak terlalu besar. Mereka berdua bertelanjang bulat. Tanpa sehelai kain menutupi tubuh yang bermandikan peluh. Wajah dari keduanya tidak tampak di mata Joshua. Lelaki yang bertubuh lebih ramping yang berbaring di ranjang itu menghadapkan kepalanya ke samping ke arah tembok, sementara lelaki berbadan kekar yang mengungkung pasangannya itu membelakangi Joshua. Yang terpampang hanya sebuah tato di punggung bagian atas yang Joshua tidak yakin berbentuk macam apa. Seperti rupa sebuah pohon yang entah apa jenisnya dan ada beberapa baris kalimat terukir di sebelahnya.
Joshua sungguh paham tidak sepatutnya ia melihat aktivitas yang sedang dilakukan oleh pasangan yang menempati kamar di sebelah miliknya. Ia telah melewati batasan; menyerang privasi orang lain yang bahkan tidak ia kenal. Akan tetapi, seakan ada lem yang merekat di tapak kedua sepatunya, Joshua tidak mampu untuk pergi meninggalkan tempatnya berdiri. Ia tertegun memperhatikan betapa mahirnya lelaki bertato itu menggerakkan pinggulnya maju dan mundur dalam tempo yang terlampau pelan, tetapi dapat dengan mudah membuat lelaki di bawahnya—yang Joshua baru sadari berambut cukup panjang—meracaukan berbagai macam ungkapan kotor. Erangan dan rengekan cukup keras terdengar di setiap penjuru ruang kamar yang lampunya dibiarkan menyala.
Sekujur tubuh Joshua yang seharusnya dingin mendadak panas dan ia juga merasakan sesak di daerah selangkangannya. Beberapa kali pula Joshua bersusah payah menelan air liurnya yang serasa tersangkut di kerongkongan. Kedua manik legam miliknya masih saja terfokus ke pemandangan di dalam kamar yang kini tengah menampilkan lelaki dengan punggung bertato dan berambut pirang itu mulai menciumi sambil menyesapi tiap-tiap puting yang mencuat milik lelaki yang begitu cantik meski hanya tampak sisi samping wajahnya. Joshua tidak berpaling sedikit pun. Ia terus mengamati, bahkan justru mengagumi bagaimana lidah lelaki yang berada di atas itu menjilati bulatan-bulatan kecil yang menghiasi dada milik lelaki yang merebah di bawahnya.
Seperti sedang mengobservasi pertumbuhan kecambah, mata Joshua terus mengikuti ke mana bibir milik lelaki bertato itu bergerak. Setelah puas bermain dengan bulatan kembar yang membuat dada mulus dari lelaki berambut gondrong membusung, kini giliran leher jenjang yang sudah terdapat beberapa markah merah menjadi sasaran. Dikecupi setiap inci dari kulit yang dihiasi banyak bercak yang akan berubah warna di keesokkan harinya. Joshua menyaksikan itu semua.
“Sial!”
Joshua memaki kepada dirinya sendiri di saat pegangan koper yang ia bawa terlepas begitu saja dari genggamannya. Nada bicara yang ia pakai tidak lebih keras dari sebuah bisikan, namun suara benda tumpul membentur lantai itulah yang menarik atensi dari kedua lelaki yang sedang menikmati waktu bermesraan mereka. Pasangan tersebut sontak menoleh ke sumber suara secara bersamaan yang membuat lelaki yang berdiri tak jauh dari ambang pintu seketika berubah wujud menjadi seekor tikus yang tertangkap basah tengah mencuri sepotong keju. Wajah tirus milik Joshua memerah. Ia gelagapan. Kalang kabut dibuat oleh kecerobohan yang ia ciptakan sendiri.
Kegiatan yang dilakukan oleh lelaki yang rambutnya diwarnai serupa warna gading gajah dengan lelaki rupawan yang ternyata rambut panjangnya itu menyentuh bahu lekas terhenti. Joshua ingin sekali beranjak dari tempatnya berdiri bagaikan sebuah patung hias, tetapi sayangnya nasi sudah berubah menjadi bubur, ia hanya bisa pasrah sambil tanpa berhenti mengutarakan beribu kata maaf tatkala salah satu dari kedua lelaki tersebut menghampirinya.
Tidak menghiraukan tubuhnya yang masih bugil, lelaki yang jika dilihat secara lebih dekat ternyata memiliki lesung pipit di kedua pipinya itu mendekati Joshua. “Apakah ada masalah? Kamu butuh sesuatu?” tanyanya sekaligus dengan suara berat yang agak parau.
Berusaha sekeras mungkin untuk tidak melirik ke arah Selatan, Joshua justru memperhatikan lukisan yang tergantung di dinding kamar. Menghindari kontak mata. “Maafkan saya karena sudah lancang,” sesalnya. Ia yakin benda panjang dan cukup tebal di bawah sana masih mengacung.
Dari dalam kamar, di atas ranjang yang sangat berantakan, suara nyaring terdengar seperti sedang mengomel. “Jangan kamu takuti dia, Seungcheol!”
Kini Joshua tahu siapa nama lelaki berambut terang yang mempunyai tato di punggung.
“Aku sungguh tidak menakutinya, sayang,” bantah Seungcheol membela diri. Satu tangan memegang tepian pintu selagi ia menolehkan kepalanya ke belakang. “Hanya bertanya saja.” Suaranya berubah melembut.
“Di luar hujan deras,” papar lelaki yang sekarang sedang duduk bersila, sementara punggungnya disandarkan pada kepala ranjang, “suruh dia masuk,” tambahnya yang membuat kedua mata Joshua membelalak.
Joshua mendapati Seungcheol menaikkan satu alis tebalnya. “Jeonghan? Kamu serius?”
Sebelum lelaki berambut panjang nan berkilau yang diketahui bernama Jeonghan itu sempat merespon, Joshua dengan cepat menyela obrolan keduanya. “Tidak, tidak! Kamar saya ada di sebelah kamar kalian. Yang saya lakukan memang salah. Saya benar-benar minta maaf karena telah mengganggu privasi kalian berdua,” ungkap lelaki bermata Bambi dalam satu tarikan napas.
Tidak tahu apakah ia akan dimaafkan atau tidak, Joshua hanya berharap Seungcheol dan Jeonghan melupakan kejadian yang baru saja terjadi seperti mereka yang tidak memedulikan fakta bahwa Joshua merupakan orang asing di kehidupan mereka. Selain itu, kedua insan tersebut sepatutnya tidak membiarkan tubuh mereka terekspos begitu saja di hadapan orang lain. Joshua juga sejujurnya mengutuk dirinya sendiri karena merasa terangsang dengan segala pemandangan yang disuguhkan oleh sepasang kekasih yang tidak ia ketahui seluk-beluknya.
Jeonghan mengangguk sambil mengedipkan sebelah matanya. “Aku serius,” jawabnya bersungguh-sungguh yang mengarah kepada Seungcheol. Sebuah senyum simpul terpatri di wajahnya. “Lagi pula, bukan sepenuhnya salahmu. Kami yang memang lupa mengunci pintu kamar kami,” lanjutnya yang kini tertuju kepada Joshua.
Seungcheol terdiam dan membiarkan Jeonghan yang melanjutkan pembicaraan.
“Ayo cepat masuk! Kami tidak ingin kamu tersiksa karena harus bermain seorang diri di bawah pancuran air yang bisa membuat tubuhmu membeku.” Joshua menangkap mata Jeonghan terpusat pada bagian depan celananya yang terdapat sebuah gundukan yang tercetak jelas. “Aku yakin betul pihak resepsionis sama sekali tidak memberitahumu soal water heater mereka yang sedang rusak.”
“Tapi—”
“Tidak apa.” Jeonghan menampilkan sebuah gestur seperti menyuruh Joshua untuk mendekatinya. “Biarkan kami membantumu. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena telah menodai kedua matamu itu dengan apa yang telah kami perbuat tadi.”
Pintu pun semakin dibuka lebar oleh Seungcheol seakan menyambut Joshua untuk segera melangkahkan kakinya memasuki kamar yang bukan merupakan kamar seperti yang ia tandai di buku tamu. “Kamu dengar apa katanya,” tutur Seungcheol kepada Joshua yang masih tampak ragu.
Entah apa yang tengah merasukinya, Joshua menuruti ajakan dari pasangan eksentrik yang ia jumpai secara tidak sengaja dan dalam situasi yang tidak biasa pula. Tak pernah terbesit di otaknya bahwa ia akan berada di posisi seperti ini. Setengah jam yang lalu itu ia hanyalah seorang lelaki yang mengemudi tak tentu arah yang berharap menemukan tempat berteduh untuk sementara waktu di saat badai melanda, dan kini keadaan telah sepenuhnya berganti.
Joshua memang sudah terbuka perkara orientasi seksualnya sedari lama dan sebelumnya ia juga beberapa kali pernah menjalin hubungan yang cukup serius dengan sesama jenisnya, meskipun semuanya harus kandas tanpa kejelasan. Namun, apa yang akan terjadi di kamar ini merupakan kali pertama baginya. Entah mengapa ia memiliki imajinasi yang cukup tidak senonoh tentang apa yang sebentar lagi mereka bertiga lakukan yang mana seharusnya ia merasa takut karena Seungcheol dan Jeonghan tidak lebih dari dua orang asing yang belum diketahui secara jelas motif di balik mereka yang meminta dirinya untuk masuk ke dalam kamar yang beraroma khas orang sehabis bercinta. Jikalau dilihat dari perspektif yang negatif, bisa saja kedua lelaki tersebut sebenarnya sedang menyusun rencana pembunuhan atau penculikan berhubung target yang mereka incar adalah seorang pelancong yang tidak memiliki teman perjalanan.
Akan tetapi, seolah sudah dibutakan oleh libido yang memuncak, Joshua tidak memikirkan hal lain selain pemikiran bahwa mereka bertiga memang akan bersenang-senang. Hitung-hitung sebagai cara melepaskan keletihan yang dirasakan selama berkendara berjam-jam.
Joshua mendengar Seungcheol benar-benar mengunci pintu kamar mereka untuk kali ini dan menekan sakelar yang membuat lampu utama yang terpasang di langit-langit kamar mati. Ia juga melihat Jeonghan menyalakan dua lampu tidur yang terletak di atas nakas di masing-masing sisi ranjang yang sepertinya tidak mungkin mampu menampung tiga orang dewasa sekaligus. Perlu diingat, kedua lelaki yang besar tubuhnya sangat kontras itu sama sekali tidak berpakaian dan mereka berdua sungguh tidak mempermasalahkan hal tersebut. Seakan lumrah bagi mereka bertelanjang di depan orang yang belum lama dikenal.
“Siapa namamu?” tanya Jeonghan.
Joshua tidak melarang di saat koper beserta tas ranselnya diambil alih oleh Seungcheol dari tangannya untuk disimpan di bawah meja televisi. Sembari berterima kasih, ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Jeonghan kepadanya, “Saya Joshua.”
Kekehan kecil keluar dari bilah bibir semerah delima itu. “Tidak perlu terlalu formal ketika bersama kami. Pakai aku-kamu juga tidak masalah.”
“Baiklah.”
“Namaku Jeonghan, omong-omong.” Lelaki berambut panjang itu menunjuk ke orang yang berdiri di samping Joshua. “Dan dia suamiku, Seungcheol.” Ia lalu bangkit dan berjalan perlahan mendekati Joshua yang berada tidak jauh dari sofa mini yang ada di dekat jendela.
Sudah menikah, tapi masih menerima kehadiran orang lain di dalam hubungan mereka. Sungguh menarik, batin Joshua.
Joshua pernah mendengar tentang hubungan yang melibatkan beberapa orang pada waktu bersamaan. Bisa tiga, empat, atau lebih dari itu. Ia juga pernah bertemu dengan teman yang termasuk ke dalam hubungan seperti ini sewaktu berkuliah dulu. Akan tetapi, ia juga tahu bahwa yang akan mereka lakukan hanya sebuah hubungan yang berlangsung semalam saja. Mereka tentu tidak akan bertemu lagi setelah ini. Ia rasanya ingin tertawa memikirkannya. Betapa mudahnya ia termakan oleh rayuan dari orang yang tidak dikenal. Sangat lucu.
“Senang berkenalan dengan kalian berdua,” timpal Joshua pada akhirnya. Sebenarnya masih ada perasaan canggung yang terselubung di dalam dirinya.
“Kami juga.”
Jeonghan kini tepat berada di depan Joshua, sementara Seungcheol berdiri di belakangnya.
“Pernah melakukan ini sebelumnya?”
Joshua menggeleng.
Entah mengapa ekspresi wajah terkejut yang ditampilkan Jeonghan terlihat menggemaskan di mata Joshua. “Tidak apa-apa. Kami akan mengajarimu,” kata lelaki itu.
Bak melakukan percakapan melalui kekuatan telepati, Seungcheol langsung paham dengan apa yang dimaksud Jeonghan ketika lelaki tersebut untuk sekali lagi mengedipkan sebelah matanya. Jaket kulit yang dipakai Joshua pun dilepaskan.
“Just relax and don't be so tense. You're in good hands. We both are gonna take care of you.”
Yang selanjutnya terjadi terasa seperti mimpi.
Seluruh pakaian Joshua dilucuti oleh Seungcheol bersamaan dengan Jeonghan yang sangat rakus menyerang bibirnya. Dicium dan dilumat. Disesapi lalu dijilati. Joshua hampir kewalahan mencoba mengimbangi alur yang ditetapkan oleh lelaki yang sudah bersuami itu. Ia melenguh pelan ketika Jeonghan memaksakan lidahnya yang hangat masuk ke dalam mulutnya. Mengajak miliknya sendiri untuk bertarung; saling melilit satu sama lain. Sementara itu, Seungcheol yang berada di belakangnya memulai aksinya dengan memberi banyak kecupan basah di sepanjang leher dan bahu Joshua. Sesekali menggigit kecil kulit yang terbuka tersebut yang membuat Joshua meremang.
“What’s your preference? To be on top or—” tanya Jeonghan berbisik kepada Joshua di tengah percumbuan mereka.
“—I go both ways,” jawab Joshua dengan jujur; memotong perkataan Jeonghan yang belum usai.
Seungcheol yang Joshua sadari sangat sedikit berbicara itu tiba-tiba mengejutkannya dengan jari-jemarinya—yang entah sudah sejak kapan basah—menyentuh kerutan yang berada di antara bongkahan kembarnya yang sintal. Sudah cukup lama Joshua tidak disentuh di sana semenjak putus dari pacarnya yang terakhir kali. Terasa sedikit nyeri saat dua jemari tersebut dengan perlahan memasuki liang hangat miliknya. Lubang itu pun dimanja. Tubuh Joshua yang menempel dengan tubuh Jeonghan tersebut juga menjadi penyebab batang tegang mereka berdua bergesekan. Dan secara sengaja, Jeonghan menggerakkan pinggulnya mencoba mencari kenikmatannya sendiri.
Semua masih terus berlanjut ketika mereka bertiga berpindah ke ranjang yang seharusnya hanya diisi oleh dua orang saja. Joshua menjadi satu-satunya yang berbaring. Di antara kaki jenjangnya yang menekuk dan juga terbuka lebar, ada Seungcheol yang belum selesai memainkan jari-jemarinya pada lubang yang terus-menerus berkedut. Ia juga menggunakan mulut beserta lidahnya yang lihai untuk memakan Joshua di daerah sensitifnya itu. Sementara Jeonghan, ia berlutut di atas kepala Joshua. Mengarahkan langsung kejantanannya yang cukup panjang namun tidak setebal seperti milik Seungcheol ke mulut Joshua yang tidak terkatup. Paham dengan apa yang harus dilakukan, Joshua segera mengulum seluruh milik Jeonghan tersebut hingga ia sendiri hampir tersedak.
“Ngh.” Joshua sulit menahan untuk tidak kembali melenguh ketika sensasi dingin terasa di sekitar bokongnya yang dilanjutkan dengan suara becek dari Seungcheol yang sibuk mencoba mengendurkan lubang ketatnya itu menggunakan tiga jari sekaligus. Pelumas membantu melicinkan pergerakan jari-jemari Seungcheol di dalam dinding analnya yang terus menjepit.
“Pintar sekali kamu.”
Pujian demi pujian manis terus dilontarkan oleh Jeonghan dan juga Seungcheol. Rasanya sangat menggelitik di perut seperti ada ratusan ribu kupu-kupu yang beterbangan di dalam sana. Joshua betul-betul merasa sangat diistimewakan dengan segala bentuk perlakuan yang diberikan baik dari Jeonghan maupun Seungcheol. Kedua lelaki itu sungguh mengetahui bagaimana cara memuaskan setiap inci dari dirinya. Menyentuh titik-titik tertentu yang kadang kala membuatnya ingin menjerit.
Sementara itu, hujan masih turun deras sekali.
Gorden yang menutup sempurna mengadang Joshua untuk mengetahui bagaimana keadaan dunia di luar hangatnya kamar motel. Biarpun begitu, langit yang meluruhkan kesedihannya itu masih dapat didengar oleh Joshua meskipun bercampur dengan deru napas yang memburu serta suara-suara nista lain yang tidak berhenti lolos dari mulutnya sendiri ataupun kedua lelaki yang masih sibuk memberi tubuhnya yang tidak berdaya banyak perhatian.
Semesta mungkin sedang mempermainkannya. Joshua dibawa terbang tinggi sekali. Ia seperti melayang. Semua yang ada di dalam pikirannya terlupakan sudah, tergantikan oleh hasrat untuk mencapai puncak. Ia tidak lagi memikirkan tentang badai dahsyat yang seperti diberitakan oleh penyiar radio atau tujuannya berkelana. Ia juga tahu bahwasanya dirinya itu akan terjatuh nantinya. Sepasang sayap putih yang tumbuh di punggungnya lamban laun akan rusak dan sirna dengan sendirinya seperti kisah cinta sesaat yang mereka bertiga sedang lakukan. Namun, bukan itu yang Joshua ingin pikirkan sekarang. Tidak ada ruang dan waktu yang tersedia untuk menjadi orang yang sentimental di saat ada mulut, lidah, dan juga tangan yang pandai yang terus-menerus memberinya stimulasi yang tidak terhingga.
Perutnya seketika bergejolak tatkala jari-jemari Seungcheol menyentuh titik manisnya. Joshua mendesah di antara kuluman dan isapan yang ia berikan pada batang yang kian mengeras dan terus berkedut di dalam mulutnya. Perasaan itu menghilang begitu saja di waktu Seungcheol menyudahi semua kegiatan yang ia lakukan pada bagian bawah tubuh Joshua. Di saat itu pula, Jeonghan ikut berhenti menghentakkan pinggulnya di mulut yang sudah dibanjiri oleh liur yang menyatu dengan cairan pra-ejakulasi.
Joshua yang sempat bingung karena keduanya berhenti di waktu yang bersamaan itu langsung terpesona dengan apa yang tertampil di depan matanya. Tak ada lagi intip-mengintip karena ia sekarang dapat menyaksikan secara langsung Seungcheol yang mencium bibir Jeonghan yang sudah membengkak itu dengan brutal. Sungguh panas, tetapi juga terjadi begitu singkat. Mereka berdua tidak ingin mengabaikan Joshua terlalu lama, maka dari itu seraya mengulurkan satu tangannya, Jeonghan mengajak lelaki berambut hitam dan pendek tersebut untuk bergabung.
Jeonghan dan Seungcheol secara bergantian menautkan bibir ranum mereka dengan milik Joshua.
Joshua dapat merasakan dirinya sendiri ketika bibirnya dicumbu perlahan oleh Seungcheol. Unik. Itulah satu kata yang muncul di benaknya yang dapat mendeskripsikan bagaimana dirinya terasa ketika bibir mereka menyatu. Seungcheol menjulurkan lidahnya sebagai invitasi yang saat itu juga langsung diterima oleh Joshua. Lidah mereka saling terjalin dan Jeonghan yang berada di antara kedua lelaki tersebut meludahkan liurnya yang langsung terjatuh tepat di atas daging tidak bertulang yang tengah bergelut. Untaian bening tercipta dari saliva Jeonghan.
Mereka terus melakukannya sampai sekiranya ketiganya merasa puas.
Ketika Seungcheol bertanya kepada Jeonghan, “Kamu mau aku dan Joshua bagaimana, sayang?”
Yang langsung dijawab dengan gelengan kepala cepat oleh suaminya itu. Jeonghan menjelaskan sembari bertanya, “Bukan aku yang seharusnya memutuskan. I’ll let Joshua decide since it's his night. So, is there any position you'd like to try with us, gorgeous?”
Jeonghan dan Seungcheol serempak menoleh ke arah Joshua.
“Seperti yang dikatakan oleh Jeonghan, kami akan mengikuti semua keputusanmu. Apa pun itu. Kamu hanya perlu mengatakan kepada kami apa yang kamu inginkan. It's your call, Joshua. Let us know your wildest dream,” ucap Seungcheol pada akhirnya menambahkan.
Joshua sungguh tidak menduga akan ada diskusi seperti ini di sela-sela sesi ciuman mereka. Ia menggigit bibir bawahnya. Mencoba untuk berpikir. Keringat terus menetes dari helaian rambutnya yang hampir dibabat habis.
Sebenarnya, ada satu ide yang muncul di dalam kepalanya. Sedikit ragu dan merasa malu untuk mengucapkannya secara lantang. Dua pasang mata masih menatap dengan dipenuhi kabut nafsu yang sama besarnya. Setelah sepersekian detik berlalu, Joshua akhirnya memantapkan diri; dan mengusir semua kebimbangan yang menetap. Dijelaskan semua fantasi gila yang hinggap di otaknya yang kotor tersebut secara menyeluruh kepada Jeonghan dan Seungcheol yang cukup mengejutkan langsung menyetujui.
Sehabis memberi kecupan kilas kepada satu sama lain, Joshua kembali berbaring di ranjang.
Menaruh seluruh perhatiannya kepada kedua lelaki yang sama-sama berparas menawan yang akan menghabiskan malam bersamanya, Joshua tidak bisa menghentikan satu tangannya yang berusaha mencoba untuk meraih kelaminnya yang juga sudah sangat menegang sedari tadi. Ia mulai mengurut miliknya sendiri. Desahan lolos dari bilah bibirnya. Di sisi sebelah kirinya, ada Seungcheol yang juga sedang disibukkan dengan kegiatan mempersiapkan kejantanannya itu. Mengocok sambil melumuri batang panjang nan tebal itu dengan lebih banyak pelumas. Dan di sisi sebelah kanan, ada Jeonghan yang tengah membuka kedua kakinya lebar-lebar. Dua buah jemari ia basahi dengan ludahnya sendiri yang selanjutnya dimasukkan ke dalam lubang yang sudah cukup basah. Digerakkan kedua jari itu seperti gerakan sedang menggunting. Semua mereka lakukan secara bersama-sama sebelum memulai mewujudkan apa yang diimpikan oleh Joshua.
Sayap-sayap berbulu bak susu yang melekat di punggungnya mengepak-ngepak dan Joshua pun terbang menuju langit ketujuh. Bermain bersama sekumpulan awan kumulus yang empuk. Ia sungguh merasa tinggi. Benar-benar sedang bermimpi. Tidak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya bahwa dirinya akan berada di keadaan seperti sekarang ini. Jeonghan dan Seungcheol sudah menempati posisi mereka masing-masing setelah selesai mempersiapkan diri mereka.
Kedua kaki jenjang Joshua yang agak menekuk terbuka cukup lebar dan Seungcheol berada di antaranya. Lelaki itu mengarahkan miliknya ke lubang Joshua; dan perlahan mulai memasuki liang hangat tersebut. Sementara itu, Jeonghan agak menindih tubuh Joshua. Ia memosisikan bokongnya tepat di batang yang berdiri tegak milik lelaki yang berzodiak Capricorn tersebut. Menanamkan dirinya di sana. Joshua sungguh lupa siapa dan dimana ia berada detik ini. Dua rangsangan sekaligus. Di waktu bersamaan pula.
“Ah, fuck!”
Joshua dibuat menggila. Ia merasa sangat penuh di setiap bagian tubuhnya. Depan dan belakang. Berbagai sisi dihantam habis-habisan. Seungcheol yang menghentakkan pinggulnya seperti seseorang yang kerasukan dan Jeonghan yang memompa dirinya naik lalu turun dengan tempo yang jauh lebih lambat dari Seungcheol sungguh membuat Joshua ingin mengeluarkan lolongan kencang.
Kedua mata Joshua tidak berhenti mengamati Jeonghan dan Seungcheol yang menyempatkan untuk berbagi ciuman sementara tubuh bagian bawah mereka terus bekerja. Satu tangan Seungcheol memegang sebelah pipi Jeonghan dan tangan yang satu lagi meremat paha Joshua. Sedangkan Jeonghan, satu tangannya memilin puting Joshua dan yang lainnya memainkan miliknya sendiri.
Pergerakan tubuh ketiganya semakin tidak karuan dan Joshua mulai merasakan putihnya sebentar lagi akan memancar, apalagi dengan Jeonghan yang tidak henti-hentinya menjepit batangnya itu. Ia juga dapat merasakan milik Seungcheol yang berkedut-kedut.
Ketika Jeonghan agak sedikit menundukkan badannya, Joshua langsung menautkan bibirnya dengan milik lelaki berambut panjang yang terurai itu. Keduanya juga bercumbu dengan mengikutsertakan lidah mereka. Tidak ingin tangannya diam saja, Joshua memainkan kejantanan Jeonghan yang menempel dan bergesekan dengan perut berototnya.
Joshua mengira apa yang menjadi fantasinya itu tidak akan bisa terlaksana sebab ia sendiri merasa yang diinginkannya tidaklah masuk di logika. Akan tetapi, karena sudah jauh lebih berpengalaman daripada dirinya, Jeonghan dan Seungcheol berhasil membantu Joshua dalam mencapai segala yang ia dambakan. Rasanya seperti ingin berterima kasih kepada semesta yang telah begitu baik hati mempertemukannya dengan pasangan yang saat ini sedang sibuk memorak-porandakan raga beserta jiwanya.
Berbagai macam suara sensual bersatu padu memenuhi seisi ruang kamar yang terasa kian memanas. Semuanya bahkan tidak berhenti ketika ketiganya mencapai puncak mereka di waktu yang hampir bersamaan. Suara-suara nista itu justru bertambah keras.
“Kalian benar-benar gila!”
Joshua tertawa tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi ketika mereka bertiga harus berbaring berdempetan di ranjang yang cukup sempit. Masing-masing lengannya merengkuh tubuh Jeonghan dan Seungcheol yang merebah di sebelah kanan dan kirinya.
“Memang,” timpal Jeonghan yang membuat Joshua semakin terbahak-bahak.
Masih sangat terasa sisa-sisa dari cairan yang dikeluarkan oleh Seungcheol beserta pelumas di dalam lubangnya. Joshua juga meninggalkan bekas dirinya di dalam tubuh Jeonghan. Mereka bertiga sungguh benar-benar melupakan untuk memakai pengaman dalam persetubuhan hebat yang beberapa menit yang lalu baru selesai mereka lakukan. Seharusnya ada rasa khawatir muncul di benak Joshua, tetapi akibat dibutakan oleh gairah yang berkobar layaknya api yang membakar tumpukan kayu bakar, ia sama sekali tidak memedulikan apa pun selain memenuhi kepuasannya sendiri dan dua orang lelaki yang berbaring di tiap-tiap sisi tubuhnya.
Tidak juga terlintas di pikiran Joshua akan bagaimana nasib dirinya setelah ini.
Mungkinkah ia akan dibunuh oleh pasangan yang baru dikenalnya itu?
Ataukah ia akan dibiarkan untuk tetap hidup?
Joshua sama sekali tidak memikirkan segala macam pertanyaan nyeleneh yang mulai memenuhi isi kepalanya.
Lelaki yang di telinganya terdapat banyak tindikan itu sungguh terhanyut oleh suasana pasca-orgasme yang begitu membahagiakan. Ini menjadi malam yang tidak akan pernah ia hapuskan dari dalam buku kumpulan kenangan yang disimpannya di lorong khusus memori mengesankan di suatu tempat di dalam otaknya. Ia berjanji akan hal itu.
Suara detak jarum jam dari jam analog yang terpasang di dinding mendampingi suara napas berat yang konstan yang berembus keluar dari ketiga hidung bangir milik para lelaki yang semua parasnya tampak indah untuk dipandang oleh mata. Keheningan yang tidak menganggu menyelimuti ruang kamar tidak terlalu besar itu. Di luar, badai masih mengamuk dan entah kapan akan mereda.
Tubuh Joshua sedikit terperanjat ketika suara berat yang sama seperti suara yang menyapanya sewaktu ia ketahuan mengintip sesuatu yang tak sepantasnya untuk dilihat memasuki gendang telinganya. Menarik Joshua keluar dari dalam ruang lamun. “Ke mana kamu akan pergi setelah badai berhenti?” Seungcheol berbisik tepat di telinganya.
“Iya, aku juga ingin tahu,” sahut Jeonghan yang kepalanya kini direbahkan di atas dada bidang Joshua yang tidak terbalut apa pun.
Joshua terdiam. Ia tidak yakin apakah harus dirinya memberi tahu kepada kedua pasangan yang sudah menuruti segala permintaannya itu.
Gemuruh menggelegar mengisi keabsenan jawaban yang tidak kunjung keluar dari mulut Joshua.
“We are still strangers after all despite the sex we just did. Tapi, tidak apa. Kami mengerti kecemasanmu.”
Perkataan Seungcheol terkait kebungkaman yang dilakukan Joshua itu berhasil membuat Joshua sendiri merasa bersalah sekaligus lega karena apa yang sedang menjadi ketakutannya tersebut divalidasi dan ia juga tidak diharuskan untuk menceritakan lebih banyak tentangnya ataupun kehidupannya. Bagaimanapun, insting bertahan hidup yang ia punya masih mencoba untuk terus bekerja menjaga dirinya agar tetap berada di situasi yang aman serta nyaman.
Waktu berselang dan Joshua tidak mengingat dirinya terbawa arus menuju bunga tidur yang sudah setia menunggu. Ia juga sempat mendengar adanya suara yang kelewat rendah saling berbisik. Tidak tahu apa yang sedang dibicarakan karena ia yang begitu lelap dalam tidurnya. Terbangun beberapa jam kemudian ketika seseorang menggoyangkan dengan sangat pelan tubuhnya yang terbungkus di dalam selimut hangat. Bukan sekali, tetapi berlangsung beberapa kali.
Joshua menyadari hari telah berganti. Mentari mulai menampakkan diri yang diketahui dari cahaya yang berhasil masuk melalui celah yang terdapat di ventilasi udara. Hujan badai juga telah berhenti. Suatu keberuntungan yang patut untuk dirayakan karena setelah ini Joshua dapat melanjutkan perjalanannya yang tertunda.
“Maaf karena kami harus membangunkanmu,” ucap suara lembut yang datangnya dari orang yang barusan mengguncang tubuh milik Joshua yang tertidur pulas sekali. Itu suara Jeonghan. Joshua mengetahuinya setelah kedua matanya itu terbuka sepenuhnya.
Jeonghan dan Seungcheol keduanya sudah berpakaian, tidak seperti malam sebelumnya yang sepolos bayi baru lahir. Koper milik mereka berdua juga telah disiapkan di dekat pintu.
“Kami harus check-out sekarang. Cuaca juga lebih baik dari kemarin,” jelas Seungcheol menjawab pertanyaan yang mengambang di dalam kepala Joshua.
“Oh, baiklah,” balas Joshua, “tidak masalah. Aku akan pergi ke kamarku. Belum sempat kutiduri semalam.” Kekehan kecil mengakhiri ucapannya. Tepat berada di sebelah kakinya, semua pakaian miliknya yang kemarin ia pakai sudah dilipat dengan rapi. Ia juga melihat koper beserta tas ranselnya bersandar di bawah tepian ranjang.
Bergegas Joshua memakai seluruh pakaiannya kembali. Setelah semuanya siap, ia beranjak menyambangi pintu kamar yang terbuka lebar. Ketika kakinya yang lagi-lagi terlindungi oleh sepasang sepatu bot hendak melewati ambang pintu, Jeonghan dan Seungcheol bersama-sama meraih pundaknya yang membuat langkahnya seketika terhenti.
Joshua membalikkan tubuhnya. “Ada apa?”
Kecupan yang disertai lumatan cukup singkat mendarat secara bergantian di bibir Joshua yang sedikit terbuka.
“Terima kasih untuk semalam. Kami berdua sangat menikmatinya,” ungkap Jeonghan dan Seungcheol berbarengan setelah pagutan bibir mereka dengan Joshua terlepas.
Semburat merah muncul di kedua pipi Joshua. Potongan-potongan ingatan tentang kejadian semalam terputar kembali di dalam kepalanya. “Aku juga sangat berterima kasih kepada kalian karena telah memberikan pengalaman pertama yang begitu membekas.” Ia tersenyum tersipu.
Setelahnya, mereka bertiga saling bertukar ucapan selamat tinggal.
Joshua akhirnya menghuni kamar yang ia pesan dan sudah dibayar. Kamar yang seharusnya sejak tadi malam sudah ditiduri olehnya. Sehabis menyiapkan pakaian ganti dan mengisi daya ponselnya, ia pun segera membersihkan diri sembari mengabaikan rasa dingin yang membuat sekujur tubuhnya hampir berubah menjadi batu es. Perkataan Jeonghan terbukti soal water heater yang rusak.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Joshua berada di bawah pancuran air yang menyebabkan dirinya menggigil itu. Secepat kilat juga ia kembali melapis seluruh tubuhnya dengan pakaian yang jauh lebih tebal, yaitu sweter rajut dan celana panjang jin yang kali ini berwarna biru dongker. Ia berencana menetap untuk beberapa saat, mungkin hingga daya gawainya kembali terisi penuh. Cacing di perutnya juga terus berteriak berdemo meminta untuk diberi makan.
Teringat minimarket yang ia jumpai sebelum menaiki lantai atas semalam. Mungkin ada makanan yang bisa dijadikan sebagai sarapan di sana. Ia juga butuh asupan kopi hitam untuk menemani perjalanannya nanti. Kembali menyendiri seperti semula.
Mengambil dompet beserta kunci mobil yang sempat dikeluarkannya dari saku celana yang ia pakai kemarin di atas nakas di samping ranjang, Joshua bersiap untuk mengunjungi minimarket di lantai dasar.
“Bodoh sekali kamu, Joshua Hong!”
Joshua menertawakan dirinya sendiri ketika ia membuka dompetnya itu.
“Tentu saja mereka tidak akan melakukannya cuma-cuma.”
Hanya disisakan satu lembar uang tunai yang sebelumnya terdapat sebanyak dua puluh lima lembar dengan pecahan yang bervariasi. Untung saja, kartu ATM dan kartu kredit yang juga disimpan di dompet tidak ikut raib.
Joshua menggelengkan kepalanya. Ini salahnya sendiri karena mudah terlena.
Ia tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi di motel pada malam itu. Di tengah badai besar bersama pasangan yang benar punya maksud terselubung yang bahkan ia terlalu naif untuk memahami.
At least, the sex was fantastic.
