Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-02-06
Completed:
2021-07-17
Words:
3,420
Chapters:
2/2
Comments:
24
Kudos:
80
Bookmarks:
4
Hits:
1,160

sang penentang semesta

Chapter 2: semesta dalam rengkuhan

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Kita adalah pencuri

Aku yang mencuri garis takdir

Sementara kamu merebut mimpi

 

Tapi, siapa yang peduli?

 

Sebab kita adalah sang penentang semesta.

 


 

 

Dokja mengerutkan dahinya kala terbangun di tempat yang sangat tidak asing, dan bukannya di kamar Yoo Jonghyuk. Kompartemen subway ini sialnya sangat Dokja kenali. Bagaimana tidak, jika lebih dari separuh hidupnya dia habiskan untuk duduk di bangku yang sama, dengan keseharian yang membuatnya ingin melompat saat itu juga. Bagaimana tidak, jika tempat ini merupakan ruang dimana dirinya bisa bernapas, sekaligus diam-diam memupuk benci kepada dirinya.

 

Bagaimana tidak, jika hanya di ruang ini saja, dia bisa merasai cintanya pada Yoo Jonghyuk.

 

Kompartemen itu sepi, hanya berisi dirinya dan sesosok bocah yang terlihat seperti berumur lima belas tahun dengan lengan yang dilapisi perban yang, juga, sangat Dokja kenali.

 

“Oldest Dream,” panggilnya, agak tidak percaya jika versi dirinya yang lebih muda sangat memprihatinkan. Pantas, Yoo Jonghyuk hobi mengomel akan berat badannya yang terkadang, Dokja anggap sebagai body shaming.Why were you here?

 

I thought you would ask me why I brought you here,” jeda sebentar, “hyung.”

 

I would've ask you to move me far away than this.” Dokja menjawab santai, “Where are we going?”

 

“I don’t know.” Oldest Dream menarik ujung bibirnya, “Perhaps, home?

 

Oh please. Being a stray cat was good enough for me.

 

Oldest Dream tertawa renyah. “And you also never called him as home, but always run into him whenever you’re tired. Without fail, you've fallen for him.”

 

I don’t remember having that kind of behaviour when I was kid.

 

You and I are one, hyung.” Oldest Dream berujar, kaki-kakinya yang mengantung di udara terayun-ayun.  “I’m the embarassed side that you never allowed people to see.”

 

Kim Dokja hanya memandangnya tanpa kata.

 

If that accident were never happened,” mulainya lagi kemudian, “if that man died by natural disaster, then mother would be the one who give us warmth.

 

We never learnt it. Neither people do care—they never blink an eye.

 

You're just scared if the warmth that you received being snatched away by, maybe, that man figure. I don’t know who is it, but the terror haunted you, making you hesitate to accept.” Dokja dapat melihat sebuah lara di ujung matanya. Lara yang sama yang kini diam-diam menelusup ke dalam dadanya. “Tell me hyung, what hasn’t he gave to you?

Pria itu mengembuskan napas pelan. Ada sesak yang menahan kata-katanya. Sebagian besar dari dirinya memang masih menyimpan seujung rasa untuk menghabisi sosok dirinya yang lain, yang merupakan tanggung jawabnya.

Tanggung jawab untuk mengakhiri semuanya, untuk menghapus eksistensi yang merupakan dosa. Tanggung jawab untuk kebahagiaan Yoo Jonghyuk.

It’s not that.” Hati-hati Dokja memilih kata-katanya, ragu sebentar sebelum melanjutkan, “I’m not worth for him, Dokja-ya. A sole reader who had nothing, couldn’t—”

 

Sebuah tawa meledak sebelum Dokja menyelesaikan kalimatnya.

 

Oh, I’m sorry. It was something that, long ago, I too, had been thinking. I wonder that was something of my memories has been lost.”

 

You seemed rather free than our last meeting.”

 

Because you are my other half. No matter how much you thought it was disgusting, I still existed. And by that, since we are one existence, I didn’t need to play innocent in front of you.

 

How bold.

 

Kekehan lagi. “Can't helped. I need to be bold to please him.

 

 “I see that from those marks on your hand.”

 

That isn’t the problem. The problem here is you, hyung.” Oldest Dream berdeham sejenak, meredakan sisa tawanya. “Since when can those fuckers label you, when they are never even bat an eye when we were tattered,  covering in mud or even worse, they are the one who abused us?”

 

Kim Dokja bisa merasakan suara Oldest Dream yang tidak bergetar sekalipun.

 

“You existed for him, and he found you as his world.”

 

Kata-kata itu memaku Kim Dokja. Brengsek.

 

Dia benar juga.


 

Tuhan punya segalanya untuk mengatur hidup.

Aku hanya punya kamu dalam semestaku.

 

[][][]

 

Harusnya—seharusnya—Yoo Jonghyuk sudah terbiasa dengan temperatur dingin di sebelahnya, dan ketiadaan Dokja seperti yang sudah-sudah. Namun, setelah apa yang terjadi tadi malam, Dokja biasanya akan tinggal sejenak. Lelaki itu akan memeluknya, menggarisi setiap luka lama yang sudah pudar di sekujur tubuh, hingga lantas ketika tiba di punggungnya, Dokja akan berhenti. Wajahnya akan memerah, sadar bahwa luka yang masih baru tersebut disebabkan oleh dirinya sendiri, dan membiarkan Jonghyuk merebah di perpotongan lehernya.

 

Lantas bagaimana Jonghyuk mengatasi kehampaan atas resi khas lembar-lembar buku tua serta dedaunan gugur milik Dokja? Mudah saja. Dia bangkit dari tempat tidur, mandi, dan menyiapkan sarapan—omurice ngomong-ngomong, hasil rikues Jihye selepas menonton anime tempo hari yang lalu— sebelum anggota yang lain merangsek masuk ke apartemennya.

 

Kewarasannya masih utuh. Atau itu yang ingin dia yakini, sebab, Yoo Sangah datang menegurnya yang sedang mengiris bawang putih, menyadarkannya bahwa jarinya hampir saja ikut terpotong.

 

Dalam delapan jam penantiannya, anggota yang lain selebihnya tidak peduli. Kim Dokja akan kembali dalam kurun tiga atau dua hari lagi. Sepertinya. Karena jika lebih dari waktu yang disebutkan, Yoo Jonghyuk yakin mereka akan dengan senang hati membuang kewarasan mereka di perempatan jalan, dan bermain lompat tali dengannya.

 

Yoo Jonghyuk bersumpah dia akan menaruh logikanya sejenak jika dalam satu jam berikut Kim Dokja tidak kembali. Namun, sebelum itu terjadi, kenop apartemen lebih dulu terayun. Daun pintu itu setengah terbuka, menampilkan seseorang dengan trench coat putih, serta rambut kecoklatan yang disisiri rapi. Mendung dalam matanya masih ada, masih mencari segenap keberanian yang terburai di lantai.

 

Yoo Jonghyuk terpekur. Ada sebuah kekosongan dalam diri Yoo Jonghyuk saat dia memandang separuh figur Kim Dokja di ambang pintu. Lalu, seluruh tubuhnya mendesak kuat, meneriakkan sesuatu yang kurang lebih sama saja.

 

Dominasi.

Dominasi.

Hegemoni.

Kuasai, kurung, dekap dia.

Dia milikmu.

 

Dia milikku.

 

Sepersekon kemudian, Yoo Jonghyuk berdiri dari tempatnya, menutup paksa pintu yang masih separuh terbuka dengan sebuah debam. Kim Dokja berjengit, napasnya tertahan begitu aroma mentol Jonghyuk mencemari paru-parunya.

“Hey, Yoo Jonghyuk.” Kim Dokja merasakan tubuhnya digerayangi tangan lelaki itu. “Don’t—hngh.”

 

Even if you tell me to stop,” Yoo Jonghyuk menghidu aroma samar plum di perpotongan leher Dokja, “even if you begging for your life,” dia menyentuh menyentuh menyentuh hingga Kim Dokja tak berdaya, hingga remasan pada kaos hitamnya melemah tanda menyerah, “I won’t hear you.

 

Selanjutnya adalah bagian dari episode keegoisan Yoo Jonghyuk, upayanya untuk menjaga keping-keping semestanya dalam dekap. Dia mereguk segala napas, mencuri kecupan-kecupan, dan mendentangkan degup jantung. Segala kehati-hatiannya membuat Dokja makin bergerak, menghindari sebisa mungkin. Namun kemana? Karena seumur hidupnya dia terus berlari, karena denting nadi masih mengalir tak seberapapun Dokja memotongnya, karena Yoo Jonghyuk di sisinya, karena karena karena dan karena, semuanya membuat Kim Dokja lelah.

 

Biarlah dia rebah sejenak. Dalam dekap Tuhan, atau bahkan dasar neraka sekalipun, dia tidak keberatan. Pada peluk hangat Yoo Jonghyuk juga tidak apa, luruh di dalamnya pun dia sanggup. Hanya saja, begitu takdir bergerak menentukan di mana dia bisa pulang, biarlah tempat itu menjadi akhir dari pelariannya.

 

Trench-coatnya sudah jatuh, diikuti dengan keberaniannya. Kemeja hitamnya koyak serupa dengan harga dirinya. Kim Dokja mendesah-desah, menyebut nama Yoo Jonghyuk layaknya pelacur. Lelaki itu memekik kala tangan Jonghyuk meremas dadanya, mengusap sebentar sebelum turun mengelus perutnya. Dia membiarkan Jonghyuk menanggalkan bawahan mereka, dan dari bagaimana pria itu melakukannya, tampak sekali Jonghyuk punya tangan yang terlatih.

 

Darah mendesir ke wajah Kim Dokja. Ah, suka sekali dia ketika Yoo Jonghyuk menyentuhnya. Membuatnya mengeluarkan suara-suara aneh, semacam doa, semacam dosa, yang mana keduanya sudah tidak bisa Kim Dokja bedakan lagi. Sebab, rasanya surga begitu dekat. Sebab, Kim Dokja merasa Yoo Jonghyuk membawakan surga untuknya.

 

Tanpa aba-aba, dua jari Yoo Jonghyuk masuk. Tanpa persiapan, dengan amarah yang menggebu-gebu menjadi faktor utama Kim Dokja menggores kukunya di lengan Yoo Jonghyuk. Pelan, dia bergumam untuk melakukannya di tempat tidur. Sudah cukup dia menanggung perih di bagian bawah tubuhnya, tidak perlu ditambah malu karena teriakan-teriakan tidak tahu tempatnya di dengar tetangga apartemen.

 

Permintaannya tampak didengar oleh Jonghyuk. Dia menarik jarinya, ganti memandangi Dokja yang baru disentuh sedikit, sudah sebegini berantakannya. Pada gerak naik turun dadanya, pada jejak-jejak saliva di sudut bibir, juga pada bukit pipinya yang disepuh merah.

 

Kemudian, seperti ada yang putus di dalam diri Yoo Jonghyuk. Mungkin akal sehatnya, atau kesabarannya. Atau mungkin juga keduanya. Pria itu menggendong Dokja, mendengar pintanya yang kali ini tidak terlalu sulit untuk dikabulkan. Dia mengaitkan kembali cumbuannya, enggan memutus jarak. Kali ini lebih obsesif, lebih menuntut untuk dituruti, sementara Dokja pasrah dalam belenggunya.

 

Sepertinya, Kim Dokja memang tidak punya pilihan.

 

Begitu punggungnya menyentuh lembut seprai, Yoo Jonghyuk membukakan kakinya lebar-lebar. Dia kembali mengentak, kali ini dengan segala amarahnya. Tergopoh Kim Dokja berpegangan, mencari-cari sesuatu agar kewarasannya terjaga, sebagai pengingat sakit yang dirasa.

 

Oh, betapa Dokja menantikan hal ini. Biar saja dunianya diisi oleh Yoo Jonghyuk, Yoo Jonghyuk, dan Yoo Jonghyuk seorang. Jika takdir mengusirnya, maka dia akan mengisinya lagi dengan orang yang sama. Sebab, Kim Dokja diciptakan untuk memenuhi Yoo Jonghyuk, dan Jonghyuk menemukan Dokja sebagai semestanya.

 

Lantas, Kim Dokja akan mengamini perkataan Oldest Dream. Meski benci sekalipun, dia tidak dapat selamanya menyangkal. Karena jika begitu, maka dia akan terus berlari, sementara dirinya lelah. Sementara tempat yang dia inginkan untuk pulang ada dalam lekap Yoo Jonghyuk.

 

Pria itu menumbuknya, tepat dimana napas Dokja terenggut sempurna dan dunianya memutih. Kim Dokja ingin meminta pengampunan. Dirinya rusak rusak rusak, berantakan, dan cerai-berai. Patah napasnya memanggil Yoo Jonghyuk, lemah dia mencoba mencekik lelakinya, yang justru malah semakin memicu cepat gerakannya dan balik meraih leher Dokja, menjepitnya di antara jemari.

 

You liked it when I’m being rough, don’t you?” Berat napas Jonghyuk di telinganya, seakan tak acuh pada sesak dada Kim Dokja. Masa bodoh, dia sedang marah saat ini. “Don’t hold your voice.

 

Dalam hati Kim Dokja memaki, namun tubuhnya dengan senang hati menerima setiap perbuatan perusak moral Yoo Jonghyuk. Punggungnya melengkung, lagi-lagi dia menjeritkan nama Jonghyuk dalam pelepasan. Menyicip nama itu dengan mulutnya, menelisik rindu.

 

Namun, meski Yoo Jonghyuk sempat berhenti sebentar, dia kembali bergerak. Kim Dokja hanya bisa mengalungkan lengannya, kuku-kukunya kembali menggores luka di punggung Yoo Jonghyuk yang bahkan belum kering dari malam sebelumnya. Peluh berkejaran turun dari pelipisnya, sementara bibirnya mengeluarkan desah-desah pendek seiring gerak kejantanan Yoo Jonghyuk hilang-timbul di antara pahanya.

 

“Jonghyuk-ah-haa hngh—” Kim Dokja tiada mengenali lagi racauannya, atau siapa yang akan lebih dulu hancur; moralnya atau takdirnya. Tapi tidak apa, sebab saat dia mengizinkan Yoo Jonghyuk mengotori lembar-lembar kosong dalam ceritanya, Kim Dokja lebih dari rela untuk meleburkan batas norma yang mengekangnya.

 

Atau, mungkin, norma itu sejujurnya sudah tidak ada dari awal.

 

Yoo Jonghyuk menggeram rendah. Dia merasa panas pada perut bawahnya, panas yang mendesaknya untuk mencapai puncak, yang membuatnya tergesa menumbuk prostat pria di bawahnya berulang kali.  Tapi belum, belum hingga Kim Dokja dungu akan desahannya sendiri. Tidak sebelum dia memenuhi dunia Dokja seorang diri. Hanya Yoo Jonghyuk dan Yoo Jonghyuk seorang.

 

Pria itu ikut kembali mereguk napas Dokja, mengecupi puncak dadanya bersamaan dengan irama yang rusak. Memendam dirinya ke titik terdalam, lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi hingga napasnya menyentak suatu waktu dan bintang di dalam kepalanya luruh. Yoo Jonghyuk menghidu di perpotongan leher Dokja, merasa-rasai wangi plum yang samar membawanya untuk mengecupi garis rahang lelakinya.

 

I’m not begging for my life,” ujar Dokja disela-sela kegiatan Jonghyuk mengusap pahanya. “I’m begging for ours.

 

Yoo Jonghyuk mendengkus, tidak suka. “Those words again.”

 

Deru napas Dokja masih berkejaran dengan geletar kenikmatan yang ditawarkan Jonghyuk. Dadanya yang naik turun tidak luput dari hitam mata Sang Protagonis. “You ... are the story that I yearn for. That’s why—”

 

Enough.” Lengan Yoo Jonghyuk meraih Dokja ke dalam rengkuhan, membawa aroma plum dan khas lembar-lembar buku tua itu lagi ke penciumannya, yang lagi-lagi membuat Kim Dokja terkejut.

 

Kim Dokja mengenal Yoo Jonghyuk. Dia paham betul setiap tarik napasnya yang terselip sendu, dicicipi amarah, maupun senada dengan bahagia. Namun kali ini—kali ini, Yoo Jonghyuk terdengar seperti dirinya yang ingin menyerah, seperti hari-hari dimana Kim Dokja bertahan dengan garis batas terakhirnya. Suaranya seolah seperti segenggam pasir yang perlahan menghilang, seperti jika ia melepas Kim Dokja, maka dunia akan runtuh seketika.

 

Kim Dokja mengambil napas sebentar sebelum mengucap, “Yoo Jonghyuk.” Dia mengusap lengan Yoo Jonghyuk, kemudian menuntunnya untuk menyentuh wajahnya. Saat Yoo Jonghyuk mengangkat wajahnya dari perpotongan leher Kim Dokja, ketika sepasang iris serupa malam itu balik menatapnya, Dokja merasa keraguannya runtuh.

 

Bagaimana tidak, jika secarik langit malam yang bersih tanpa cahaya itu menginginkan dirinya sebagai satu-satunya bintang yang bersinar? Bagaimana Kim Dokja sanggup membawa pergi satu-satunya lentera dalam kegelepan itu?

 

Ah, persetan dengan cerita. Persetan dengan batas-batas yang tidak bisa dilaluinya. Sudah kepalang suka, maka sekalian saja basah. Jika dia mati, maka matilah. Jika kepingannya hilang, maka tiada mengapa.

 

Sebab Kim Dokja ingin mengakui, bahwa dirinya jatuh cinta.

 

Lelaki itu bisa merasakan deru napas Yoo Jonghyuk yang begitu dekat. Lantas sebuah kecupan dicuri, berikut kecupan-kecupan lain. Kim Dokja perlahan bangkit, tangannya masih menyentuhi wajah Yoo Jonghyuk. Meraba ke segala tempat yang bisa dirasai kulitnya, membuat Yoo Jonghyuk menggeram rendah, memberi peringatan terakhir sebelum dia menarik pinggang Dokja untuk mendekat.

 

Slow—haa, down.” Napas Kim Dokja berkejaran, susah payah dia meraih udara sebanyak mungkin. Pria itu bisa merasakan tangan Yoo Jonghyuk yang kasar mengelus punggung telanjangnya, dan kemudian gigitan-gigitan kecil di bahunya. Dia ingin menghentikan Yoo Jonghyuk untuk memberikan tanda di sekujur tubuhnya, namun dia tampak menikmati hal ini. Pun Kim Dokja tiada punya kuasa.

 

Dalam ciuman selanjutnya, Kim Dokja membisik, hampir tanpa suara, “You have me.” Pelan, dia mengusap pipi Yoo Jonghyuk, menatap sepasang mata dengan malam yang diperangkapnya.

 

Until every last star in the galaxy dies, you have me, Jonghyuk-ah.

 

[][][]

 

Bogor, 18 Juli 2021

05.54 p.m

Notes:

saya mau cuap cuap dikit gapapa ya?

ada banyak hal yang terjadi ketika saya mencoba menyelesaikan fanfiksi ini. thankfully I managed to finish this. entah laptopnya kereset, keyboard rusak dan segala macem ujian yang harus saya lakukan to pass this semester. what a ride /lap namida/ sebenarnya inti dari cerita ini cuma kekhawatiran kdj aja, tapi karena saya mau nyoba sesuatu yang baru, jadi yaudah deh hasilnya rating e wkwkwk

jadi yaudah, pokoknya gitu.

terima kasih sudah membaca fanfiksi ini. rencananya ada satu chapter lagi, lebih ke kayak ... afterwards mereka gimana. and since my english isn't that good, please kindly tell me if there is an error.

oke. segitu aja.

regards,
sirupmerah.

Notes:

yah. begitulah. seharusnya ini saya jadikan satu bagian saja tapi karena gatel mau up, jadi up yang sudah ditulis dulu hehe sisanya ga tau kapan. sudah ada niat, tapi tidak tahu deh ya.

dinikmati saja dulu. terima kasih.

regards,
sirupmerah.