Actions

Work Header

one night stand

Summary:

jun si brondong yang lagi butuh uang ketemu sama kang si model papan atas yang ternyata suka dipanggil "tante" pas main.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Kipas angin gantung di langit-langit kosan Junyoung berderit kencang, tapi sama sekali nggak ngebantu mengusir hawa sumuk yang ada. Junyoung yang cuma pakai kaos melar sama celana boxer kesayangannya itu menatap layar HP nya yang retak.

Di layarnya, muncul notifikasi dari aplikasi dating khusus. Profil yang lagi dia chat sama sekali nggak pakai foto muka, cuma siluet bahu lebar berbalut kemeja satin mahal dengan inisial nama "S". Tanpa basa-basi berbelit, sosok di balik akun itu langsung mengutarakan niatnya buat cari teman one night stand malam itu juga, lengkap dengan tawaran bayaran fantastis sampai tiga kali lipat dari tarif standar. Junyoung yang kantongnya lagi kempis parah jelas nggak pakai pikir panjang buat menyanggupi.

Tiga puluh menit kemudian, Junyoung udah berdiri di depan pintu suite apartemen di kawasan mewah. Pas pintu kebuka, matanya Junyoung sempat kedip dua kali.

Di depannya berdiri Songkang. Ya, Songkang si model papan atas yang mukanya tiap hari terpampang di billboard dan majalah fashion. Wajahnya kalem, tatapannya tenang, namun ada aura lelah yang tersirat jelas.

"Masuk," suara Songkang halus. Dia berbalik, nuntun Junyoung masuk ke dalam apartemen yang beraroma kayu cendana dan lilin mahal. Junyoung, dengan sifatnya yang tengil dan frontal, langsung bersiul pelan sambil melempar jaket kulit imitasi-nya ke sofa.

"Anjir, pantesan berani bayar mahal. Ternyata model papan atas," Batin Junyoung di dalam hati. "Boleh juga hoki gua malam ini."

Songkang cuma tersenyum tipis, dia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang king size miliknya dan menuang white wine ke gelas, lalu menatap Junyoung dari atas sampai bawah dengan santai.

"Aku cuma butuh pelampiasan malam ini," ucap Songkang pelan sambil menyesap minumannya. tangannya melambai pelan, memberi isyarat agar Junyoung mendekat. "Jadi... impress me."

Junyoung menyeringai nakal. Dia melangkah mendekat, langsung menumpu kedua tangannya di sisi tubuh Songkang, mengungkung sang model dari atas. Junyoung menunduk, menatap wajah mulus Songkang dari jarak beberapa senti.

"Beres. Gua bikin lo lupa sama stres lo malam ini," bisik Junyoung, tangannya tanpa ragu merayap menyusup ke balik kemeja satin Songkang, mengelus pinggangnya yang hangat.

Songkang nggak menolak sedikit pun. Dia justru memiringkan kepalanya sedikit, menyambut sapuan bibir Junyoung di lehernya dengan helaan napas halus. Sikapnya tetap tenang, tapi jemarinya yang lentik mulai meremas bahu Junyoung, menuntun kepala pemuda itu agar makin ceruk ke lehernya.

Saat Junyoung lagi asik mendaratkan kecupan-kecupan basah di sepanjang garis rahang Songkang, tangan yang satunya lagi sengaja meraba paha tebal Songkang yang terbalut celana pendek. Tekstur paha Songkang yang mulus, empuk, tapi berotot bikin Junyoung refleks nyeletuk asal karena gemas.

"Bisa mulus banget gini kulitnya... berasa meluk tante-tante girang kaya raya gua kalau gini caranya," celetuk Junyoung asal, ketawa tengil di leher Songkang.

Mendengar celetukan itu, tubuh Songkang yang tadinya rileks mendadak tegang tipis. Matanya melebar sebentar, sebelum akhirnya hembusan napas panas yang agak berat lolos dari bibirnya.

Songkang menangkup rahang Junyoung, menarik wajah pemuda itu buat natap dia secara langsung. Bukannya marah, tatapan mata Songkang yang biasanya lembut justru berubah jadi lebih pekat, berbinar nakal dengan pipi yang sedikit memerah halus.

"Kamu... bilang apa tadi?" bisik Songkang dengan suara yang mendadak jauh lebih rendah dan agak serak.

Junyoung yang posisi mukanya masih tertangkup tangan Songkang jadi agak cengoh. "Hah? Gua bilang kulit lo mulus... kayak tante-tante?"

Songkang menyunggingkan senyum tipisnya yang amat sangat menghanyutkan. Jemarinya yang halus mengusap bibir bawah Junyoung, lalu dia sengaja menyadarkan punggungnya ke sandaran ranjang, mendongak menatap Junyoung dari bawah dengan tatapan seductive.

"Panggil aku kaya gitu lagi," gumam Songkang halus, jarinya perlahan menarik kerah kaos Junyoung agar mendekat. "Coba panggil sekali lagi..."

Junyoung menelan ludah kasar. Otaknya yang tadinya cuma mikirin cara tuntas one night stand malam ini langsung nge-lag.
Tapi mendengar desahan halus dan ngeliat perubahan ekspresi Songkang yang mendadak jadi nakal di bawah kungkungannya, gairah Junyoung justru makin tersulut hebat. Seringai tengil Junyoung balik lagi, kali ini jauh lebih nakal.

"Oalah... ternyata model ganteng kayak gini fetishnya dipanggil Tante?" goda Junyoung, tangannya makin kencang meremas paha tebal Songkang, sengaja menekan tubuhnya makin rapat ke atas Songkang. "Oke Tante... nurut ya malam ini sama gua?"

Songkang cuma mendesah pelan, memejamkan mata sambil menyunggingkan senyum puas saat jemari Junyoung mulai meloloskan kancing kemejanya satu per satu.

Junyoung nggak mau membuang waktu lagi. Seringai tengilnya makin melebar begitu melihat reaksi Songkang yang ternyata menikmati kink yang nggak sengaja dia ketahui itu.

Junyoung menarik kemeja satin mahal Songkang hingga terlepas sepenuhnya, memperlihatkan dada bidang sang model yang mulus dan terekspos sempurna di bawah temaram lampu kamar.

"Kulitnya bening banget begini... fix sih ini perawatannya mahal," gumam Junyoung setengah menggoda, lalu menunduk membungkam bibir Songkang dalam ciuman yang dalam dan agresif. Kaki cantiknya melingkar santai di pinggang Junyoung, sementara tangannya mengelus tengkuk pemuda itu dengan ritme yang halus namun menuntut.

"Emmph..." desah Songkang pelan begitu ciuman mereka terlepas, muncul bentangan benang air liur tipis di antara bibir mereka. Matanya kini terlihat sayu dan agak basah. "Mulut kamu manis juga ya."

"Kalau buat Tante mah ga boleh setengah-setengah," sahut Junyoung sambil menyeringai. Tangannya merayap turun ke celana pendek Songkang, meloloskannya dengan terampil hingga memperlihatkan paha mulusnya yang mulus dan tebal.

Junyoung sengaja meremas paha dalam Songkang rada kencang, membuat model papan atas itu sedikit tersentak dan membusungkan dadanya.

"Ngh... Jun..." desah Songkang halus, jarinya meremas seprei sutra di bawahnya.

"Lanjutin... jangan bikin nunggu" bisik Songkang tepat di depan bibir Junyoung, memberikan tatapan pasrah yang luar biasa menggoda.

Junyoung langsung menundukkan kepala, mendaratkan ciuman-ciuman panas dan gigitan kecil di sepanjang paha bagian dalam Songkang. Jemarinya yang cekatan mulai bermain di area lubang sang model, memancing desahan-desahan halus yang makin memburu dari mulut Songkang.

"Ngh... ah, Junyoung... fuck ahh," Songkang mendongak pasrah, menutupi mulutnya sendiri dengan punggung tangan agar desahannya tidak terlalu keras, meski matanya menatap Junyoung dengan gairah yang makin meluap.

"Tahan, ini baru pemanasan..." goda Junyoung sambil terus menaikkan intensitas sentuhannya, menikmati betul betapa dominannya dia malam ini atas seorang model terkenal yang pasrah di bawah kungkungannya.
Songkang terkekeh pelan, desahan halusnya terdengar pasrah saat jari-jari Junyoung makin mahir mengacak-acak lubangnya. "Iya, iya... terserah kamu deh..."

"Nah gitu dong, Tan," goda Junyoung sambil menyeringai tengil.

Junyoung makin menaikkan intensitas permainannya. Tangan kirinya mengunci kedua pergelangan tangan Songkang di atas kepala sang model, sementara tangan kanannya bekerja makin aktif dan terampil di area sensitif Songkang. Ibu jari Junyoung sengaja mengusap area paling peka dengan ritme memutar yang bikin tubuh tegap Songkang langsung bergetar hebat.

"Ngh... ah! Jun... faster..." bisik Songkang terengah-engah. Suara elegannya mulai pecah, dadanya kembang-kempis menahan kenikmatan yang menumpuk makin cepat. Paha tebalnya refleks merapat, berusaha menjepit tangan Junyoung yang berada di antaranya.

"Eits, jangan dijepit dong, Tante. Katanya mau dipuasin?" celoteh Junyoung frontal tanpa rasa canggung sedikit pun. Dia sengaja ngedesak pahanya sendiri di antara kedua paha Songkang, ngebuka lebar aksesnya biar makin leluasa. "Lihat nih, muka Tante udah merah banget. Segini doang udah mau nyerah?"

Songkang mendongak, matanya yang basah dan sayu menatap Junyoung penuh gairah yang membakar. Bukannya marah digodain habis-habisan, dia justru makin tertantang. Songkang menarik satu tangannya yang terbebas, menyulingkan jemarinya ke rambut Junyoung lalu menarik pemuda itu turun untuk menciumnya kasar.

"Ngh... banyak bacot kamu," bisik Songkang di sela lumatannya yang basah dan menuntut. "Langsung aja... bikin aku ga bisa mikir lagi."

"Siap, Cantik. Nurut aja ya, gua yang pegang kendali," balas Junyoung setengah berbisik di depan bibir bengkak Songkang, sebelum akhirnya melepas celananya sendiri dan bersiap melangkah ke tahap selanjutnya.
Junyoung nggak membuang waktu lagi. Seringai tengilnya makin melebar saat melihat Songkang yang sudah benar-benar pasrah di bawah kungkungannya.

Dengan posisi yang dominan, Junyoung memandu tubuhnya mendekat, memastikan Songkang merasa sepenuhnya terkuasai. Tangan Junyoung menekan pinggul tebal Songkang dengan tegas, menahan posisi sang model agar tak bergerak ke mana-mana.

"Tahan ya, Tan... jangan sampai teriak keras-keras, nanti ketahuan" goda Junyoung, suaranya terdengar kekeh dan nakal tepat di depan telinga Songkang.

"Ngh... cerewet banget..." desah Songkang pasrah. Suaranya kini sepenuhnya serak, jemarinya meremas seprei sutra kencang-kencang saat Junyoung mulai mendorong masuk secara perlahan namun pasti.

Sensasi rapat dan hangat langsung menyelimuti Junyoung. Pemuda itu memejamkan mata sejenak sambil mendesah berat, menikmati betapa nikmatnya jepitan dari tubuh sang model papan atas.

"Shit... sempit banget, Tan. Belum pernah dimasukin ya?" bisik Junyoung makin berani, mulai menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang teratur dari bawah.

"Ahh ngh! Ah... Jun..." Songkang mendongak pasrah, matanya terpejam rapat dengan napas yang memburu parah. Setiap dorongan presisi dari Junyoung benar-benar menghantam titik sensitifnya, membuat pertahanan nya runtuh seketika.

Junyoung menaikkan tempo gerakannya, menikmati bagaimana reaksi Songkang yang terus mendesah halus tiap kali ia menekan lebih dalam.

"Pinter banget Tante satu ini... nurut terus bikin gua makin semangat," celoteh Junyoung sambil menyeringai puas, memicu tempo permainannya jadi makin panas di atas ranjang king size itu.
Gema suara napas yang bersahutan makin memenuhi kamar yang remang itu. Tempo gerakan Junyoung makin cepat dan konstan, bener-bener gak ngasih jeda sedikit pun buat Songkang menarik napas panjang.

"Ngh... a-ahh Jun... pelan..., terlalu dalam..." desah Songkang terengah-engah, suaranya yang halus kini benar-benar pecah dan serak. Kedua tangannya merayap naik, mencengkeram bahu tegap Junyoung kencang-kencang demi menahan sensasi mendalam yang terus menghantam titik sensitifnya.

Junyoung makin menyeringai tengil melihat ekspresi Songkang yang bener-bener hancur di bawah kinerjanya. Dia menunduk, mendaratkan ciuman-ciuman basah di sepanjang garis rahang dan leher Songkang yang penuh keringat.

"Pelan gimana, Tan? Bukannya Tante sendiri yang tadi minta cepet?" bisik Junyoung, nada bicaranya nakal banget tepat di depan telinga Songkang. "Lihat nih, jepitan Tante aja makin erat banget dari tadi. Katanya model ganteng, tapi diajak main brondong gini pasrah banget."

"Ngh... b-bacot kamu..." Songkang mendesah pasrah, kepalanya makin menengadah ke atas saat Junyoung menaikkan ritme hentakannya makin presisi dan bertenaga.

Songkang ga bisa lagi menahan gengsinya. Jemari lentiknya menyusup ke rambut Junyoung, menarik kepala pemuda itu turun untuk membalas ciumannya dengan gairah yang makin meluap, pasrah sepenuhnya menyerahkan kendali permainan malam ini pada sang brondong.
Ritme hentakan Junyoung makin konstan dan dalam, buat tubuh Songkang bergetar hebat di atas sprei sutra. Junyoung sengaja menumpu satu tangannya di samping kepala Songkang, sementara tangan satunya lagi merayap naik ke dada tegap sang model yang kembang-kempis menahan napas.

Ibu jari dan jari telunjuk Junyoung tanpa ragu mencubit halus salah satu bagian sensitif di dada Songkang, lalu memutarnya pelan dengan pilinan yang sedikit menekan.

"Aah! Jun, fuck—" Songkang langsung tersentak kaget, matanya mendelik pasrah saat sensasi tersetrum mendadak menyengat dari dadanya langsung menuju ke tubuh bagian bawahnya.

"Sensitif banget ya dada Tante?" celoteh Junyoung frontal sambil menyeringai tengil. Dia makin gencar memilin dan menarik pelan area itu, dipadu sama sentakan pinggulnya dari bawah yang makin presisi menghantam titik paling peka Songkang. "Udah mau keluar, hm?"

"Ngh... a-aah! Iya... Jun, jangan dipilin gitu..." Songkang mendongak pasrah, bibirnya yang bengkak terbuka lebar mengeluarkan desahan-desahan halus yang makin berantakan. Jemari tangannya yang lentik meremas kencang lengan tegap Junyoung, benar-benar kehilangan seluruh pertahanan elegannya akibat stimulasi ganda itu.

Junyoung makin gemes ngeliat ekspresi model di bawahnya yang udah pasrah total. Dia makin mempercepat gerakan tangannya di dada Songkang berbarengan sama dorongan pinggulnya yang makin agresif, ngejar puncak gairah mereka berdua yang tinggal sedikit lagi.

Tempo gerakan Junyoung makin menggila, dorongan pinggulnya rapat dan tanpa ampun, menghantam titik paling sensitif Songkang secara beruntun. Pilinan jemarinya di dada Songkang juga makin kencang, membuat sang model papan atas bener-bener kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

"Ngh... aah! Jun... mau... Tante mau keluar, fuck!" desah Songkang terengah-engah. Suaranya serak parah, dadanya naik turun cepat banget dengan mata yang merem-melek menahan puncaknya yang tinggal hitungan detik.

"Keluarin aja, Tan..." seru Junyoung. Seringai tengilnya berganti jadi tatapan tajam. Tangannya pindah mencengkeram pinggul tebal Songkang, ngunci posisi itu lalu memberi beberapa dorongan paling dalam dan cepat.

"Aahh... JUN—!"

Songkang mendongak pasrah dengan jeritan halus yang tertahan di tenggorokan. Tubuh tegapnya bergetar hebat, kakinya melilit kencang di pinggang Junyoung pas puncaknya meledak hebat. Pelepasan yang hangat dan deras menyembur tuntas membasahi perut dan tangannya sendiri.

Junyoung yang ngerasain jepitan tubuh Songkang mendadak makin rapat dan pekat langsung memejamkan mata rapat-rapat. Dengusan napas berat lolos dari hidungnya.

"Ngentot... Tante nikmat banget, anjing..." geram Junyoung serak.

Dengan beberapa hentakan kuat terakhir, Junyoung menyusul melepaskan seluruh gairahnya di dalam. Pemuda itu menggeram rendah, membiarkan seluruh ketegangan di tubuhnya meleleh dan menyatu di dalam kungkungan hangat milik Songkang.

Suara keheningan kamar perlahan kembali mendominasi, cuma diisi sama deru napas mereka berdua yang bersahutan parah. Junyoung ambruk, menyandarkan kepalanya yang basah oleh keringat di ceruk leher Songkang, sementara sang model memeluk bahu tegap itu dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

Deru napas mereka yang tadi memburu perlahan-lahan mulai stabil. Keduanya masih terbaring telentang di atas sprei sutra yang kusut berantakan, menikmati rasa lelah yang nyaman setelah gairah hebat tadi mereda.

Songkang memiringkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Junyoung yang kembang-kempis. Jemari lentiknya tanpa sadar mengusap pelan kulit dada pemuda itu, menelusuri garis ototnya yang masih terasa hangat.

Junyoung sendiri merangkul bahu Songkang secara alami, membiarkan rambut halus sang model mengusap dagunya. Ia beri usapan-usapan santai di punggung Songkang.

"You really impressed me with your game" bisik Songkang pelan, suaranya serak tapi terdengar sangat halus di keheningan kamar. Ada sunggingan senyum tipis yang tulus di bibirnya yang masih sedikit bengkak.

Junyoung terkekeh rendah, dadanya bergetar pas di bawah kepala Songkang. "Gua kan profesional, Tan."

"Jangan panggil Tante kalau lagi nggak main," gumam Songkang santai, tapi tangannya malah makin erat melingkari pinggang Junyoung. Diam-diam, hatinya yang biasanya dingin dan lelah gara-gara tekanan pekerjaan mendadak ngerasa hangat. Ada rasa tertarik yang asing tapi manis yang mendadak menyelinap di dada Songkang.

"Bagus deh kalau puas," sahut Junyoung santai sambil menatap langit-langit apartemen yang mewah. Tangannya masih terus mengusap bahu Songkang pelan. "Besok-besok kalau stres lagi, kontak gua aja."

Songkang tertawa halus. Dia mendongak sedikit, menatap garis rahang Junyoung dari bawah dengan tatapan hangat yang menghanyutkan.

"Okay i will," bisik Songkang lembut, menyadarkan kepalanya lagi di dada Junyoung sambil memejamkan mata. Junyoung yang mendengar ucapan itu cuma bisa tersenyum tipis, membiarkan usapan tangannya berpindah mengusap lembut rambut Songkang yang terasa halus di jarinya.

"Sekarang merem aja dulu, istirahat." Songkang cuma mengangguk pelan dalam dekapan itu, menyunggingkan senyum tipis yang hangat sebelum akhirnya memejamkan mata rapat-rapat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama bergelut dengan tekanan pekerjaan, malam ini Songkang bisa tidur dengan perasaan tenang dan benar-benar nyenyak di dalam pelukan.

Notes:

find me on twt @madiemoisele for more <3