Actions

Work Header

Menjadi Perempuan

Summary:

Saat terbangun di pagi hari, Shinyu merasakan hal aneh di bagian bawahnya. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa penisnya menghilang, tergantikan dengan sebuah vagina yang lembab dan merah mengkilat.

Notes:

Enjooyy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Shinyu tersentak bangun dengan napas tersengal. Tangannya refleks meraba selangkangan, namun jemarinya hanya menyentuh permukaan kulit yang rata. Ia melompat ke kamar mandi, menyibak pakaian dalamnya. Begitu melihat bagian bawahnya, ia mematung. Penisnya lenyap, digantikan oleh belahan merah muda yang lembap dan asing.

"Apa-apaan ini? Kenapa bisa begini?" teriaknya tertahan.

Ia terduduk lemas di kasur, memegangi kepalanya yang pening. Tiba-tiba, gorden tempat tidur di sebelahnya tersingkap. Youngjae muncul dengan mata mengantuk yang perlahan berubah menjadi tajam. Ia merangkak maju dan menindih tubuh Shinyu, mengunci pergerakan yang lebih tua.

"Kenapa berisik banget pagi-pagi, Kak?"

Paha Youngjae menggesek selangkangan Shinyu. Ia mengernyit, merasakan sesuatu yang janggal. Tangan pria itu mulai meraba paha Shinyu, naik perlahan ke arah pusat sensitif itu.

"Jangan, Youngjae! Jauh-jauh!"

"Tunggu. Mana penis kamu? Kenapa rata?" Youngjae meremas area itu dari luar celana. Ia merasakan lipatan daging yang lembut. "Ada apa, Kak? Jawab aku!"

"Aku nggak tahu! Tiba-tiba ... aku punya vagina!"

Youngjae terdiam, matanya berkilat. "Sini aku lihat dulu."

Shinyu mendorong tubuh Youngjae dengan panik, "Nggak mau! Jangan harap!"

"Ayolah, Kak. Aku cuma mau mastiin kamu nggak sakit. Aku bisa bantu cari solusinya nanti. Kamu nggak percaya sama aku? Padahal selama ini aku selalu jagain kamu," Youngjae berusaha meyakinkan Shinyu dengan suara lembutnya.

Shinyu terdiam, ia merasa mungkin perkataan Youngjae benar, namun ia tetap tidak memberi izin. "Jangan Youngjae! Aku nggak mau."

Youngjae tidak peduli, ia menarik celana dan pakaian dalam Shinyu hingga terlepas. Paha Shinyu dipaksa terbuka lebar. Youngjae menatap vagina yang putih, bersih, dan merah merona di hadapannya dengan lapar.

"Cantik sekali," gumam Youngjae.

"Berhenti, Youngjae! Aku bilang jangan!"

Youngjae mengabaikannya. Ia mengulurkan tangan, jemarinya menekan klitoris di sana dan menggesek pintu masuk lubang itu. Ia mendekatkan wajah dan menjulurkan lidah, menjilati pintu masuk lubang yang basah, lalu menusuk-nusukkan ujung lidahnya ke dalam.

"Ahhh!" Shinyu membekap mulutnya sendiri, menggigit bibir kuat-kuat agar desahannya tidak terdengar member lain di luar kamar.

"Manis," bisik Youngjae. "Aku jadi penasaran. Gimana rasanya kalau punyaku masuk ke sana?"

"Jangan berani-berani! Aku harus pergi!" Shinyu mencoba kabur, namun Youngjae menarik kakinya dengan kasar kembali ke kasur. Youngjae mengeluarkan penisnya yang besar dan tegang. Ia memposisikan ujung kepalanya tepat di depan lubang merah yang menganga.

"Berhenti! Youngjae, jangan! Please!"

Youngjae mengabaikan rintihan itu dan mendorong penisnya masuk dengan satu sentakan kuat.

"Aaakh!" Shinyu membekap mulutnya dengan telapak tangan. Rasa sakit yang luar biasa menghantam, seolah tubuhnya terbelah dua. Darah segar merembes, mengalir di antara pertemuan kulit mereka. Perawan Shinyu direnggut paksa.

Youngjae mendesis, merasakan jepitan erat yang luar biasa. Ia mulai menggerakkan pinggulnya. "Sial, sempit banget, Kak ... " Youngjae mendesah halus merasakan pijatan dinding vagina di sekitar miliknya.

Shinyu tak mampu lagi menahan desahan yang lolos dari sela jarinya. "Ahh ... ngggh ... stop ..."

Tubuhnya bergetar hebat saat penis Youngjae menyundul titik terdalamnya berkali-kali. Mereka terus beradu hingga Youngjae mengerang keras dan menyemprotkan sperma panas dalam jumlah banyak ke dalam rahim Shinyu.

Namun, Youngjae belum puas. Ia membalik tubuh Shinyu, menyetubuhinya dengan berbagai posisi hingga tenaga Shinyu terkuras habis. Shinyu terbaring hancur, vaginanya merah merekah, berdenyut nyeri, dan terus mengeluarkan cairan putih kental yang bercampur darah.

Shinyu tetap terbaring di sana, menatap langit-langit kamar yang terasa seperti penjara. Napasnya masih tersengal, pendek-pendek dan berat. Di bawah sana, rasa panas yang membakar perlahan berubah menjadi denyutan tumpul yang menyiksa. Setiap kali jantungnya berdetak, ia bisa merasakan aliran cairan kental milik Youngjae yang masih tertinggal di dalam dirinya, merembes keluar bersama sisa-sisa darah yang mengotori seprai.

Youngjae tidak segera menjauh, ia merebahkan tubuhnya di samping Shinyu, melingkarkan lengannya di pinggang lelaki itu. Ia mengecup bahu Shinyu dengan lembut, sebuah kontras yang mengerikan dibandingkan kekasaran yang baru saja ia lakukan.

"Kak Shinyu ... kamu enak banget," bisik Youngjae. Suaranya kini kembali menjadi suara adik yang manis, lembut, dan penuh kasih sayang. "Aku nggak nyangka kamu rasanya seindah ini."

Shinyu tidak menjawab. Ia hanya bisa terisak pelan, isakannya tertahan di tenggorokan. Air matanya mengalir masuk ke telinganya, membasahi bantal.

"Kenapa nangis?" Youngjae mengangkat kepalanya, menatap Shinyu dengan ekspresi khawatir yang dibuat-buat. "Aku lakuin ini karena aku suka sama kamu. Lagipula, siapa lagi yang bisa kamu percaya dalam kondisi kaya gini? Kalau member lain tahu, atau malah manager yang tahu ... kamu pikir apa yang akan terjadi? Kamu pasti dikeluarin dari grup, Kak. Karirmu hancur. Kamu bakal jadi eksperimen medis di laboratorium."

Shinyu tersentak. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras. Ia menoleh perlahan, menatap Youngjae dengan mata yang sembab.

"Apa ... apa maksud kamu?"

"Pikirin baik-baik, Kak," Youngjae tersenyum tipis, jemarinya mulai bermain-main lagi di area paha Shinyu yang masih gemetar. "Laki-laki yang tiba-tiba punya vagina? Itu nggak normal. Satu-satunya orang yang tahu rahasiamu sekarang cuma aku. Jadi, kamu harus bergantung sama aku, kan?"

Deg.

Jantung Shinyu berdegup kencang. Ia merasa tercekik.

"Tolong ... bantu aku balik kayak semula," rintih Shinyu. "Aku mau penisku balik lagi, Youngjae. Aku nggak mau kayak gini."

Youngjae tertawa kecil. Ia bangkit dan duduk, menatap vagina Shinyu yang masih merah merekah dan terbuka sedikit, mengeluarkan cairan putih bercampur darah. Dengan tanpa rasa malu, Youngjae menyentuh klitoris Shinyu yang membengkak, menekannya pelan.

"Aaah!" Shinyu memekik, tubuhnya melengkung. "Sakit! Jangan!"

"Sshhh ... diam, Kak. Kita harus bersihin ini sebelum member lain bangun," ucap Youngjae. Ia berdiri, mengambil handuk basah, lalu kembali berlutut di antara kaki Shinyu.

Dengan gerakan yang tampak perhatian dan posesif, Youngjae mulai mengelap sisa-sisa sperma dan darah dari lipatan vagina Shinyu. Namun, ia tidak melakukannya dengan cepat. Ia sengaja memperlambat gerakannya, membiarkan jari-jarinya menyentuh bagian-bagian paling sensitif, membuat Shinyu merasa telanjang dan tidak berdaya.

"Lihat, ini merah banget, Kak. Kamu punyaku sekarang," gumam Youngjae.

Shinyu hanya bisa memejamkan mata, menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri, namun ada bagian dari dirinya yang merasa lumpuh oleh ketakutan.

Tiba-tiba, terdengar suara pintu kamar lain yang terbuka di luar, diikuti oleh suara langkah kaki dan obrolan ringan member lain.

"Kak Shinyu! Kak Youngjae! Ayo bangun! Kita ada latihan koreografi jam 9!" teriak Jihoon dari luar.

Shinyu tersentak hebat. Panik menyelimuti dirinya. Ia mencoba bangkit, namun rasa nyeri yang menusuk di bagian bawah tubuhnya membuatnya mengerang.

"Jangan berisik," bisik Youngjae cepat. Ia dengan sigap membantu Shinyu memakai pakaian dalamnya, meski pakaian dalam itu membuat Shinyu menekan area vaginanya. Lelaki itu meringis kesakitan.

Saat Shinyu mengenakan celana panjangnya, ia merasakan gesekan kain yang kasar pada vaginanya yang sensitif dan membengkak. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti ada pisau yang mengiris bagian bawahnya. Ia berjalan dengan kaku, mencoba menyembunyikan rasa sakitnya.

Suasana practice room menjadi siksaan tersendiri bagi Shinyu. Musik berdentum keras, mereka harus melakukan gerakan-gerakan tajam dan energik. Setiap kali harus melompat atau melakukan koreografi berlebihan, ia bisa merasakan cairan di dalam dirinya berguncang. Rasa perih yang luar biasa menjalar ke seluruh pinggulnya.

Ia berkali-kali kehilangan tempo. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.

"Kak Shinyu, kamu kenapa? Gerakanmu kacau banget hari ini," tegur Jihoon dengan kening berkerut.

"A-aku ... aku cuma kurang tidur," jawab Shinyu terbata-bata, wajahnya pucat pasi.

Youngjae memperhatikannya dengan tatapan lapar dari belakang. Ia bisa melihat Shinyu yang mencoba menahan nyeri, pinggulnya bergerak sedikit aneh karena rasa tidak nyaman di antara pahanya. Youngjae tersenyum puas. Ia menyukai melihat Shinyu menderita, menyukai fakta bahwa dialah yang tahu alasan di balik penderitaan itu.

Saat istirahat, Shinyu bergegas menuju toilet, ingin membersihkan diri dan memastikan tidak ada darah yang merembes ke celananya. Namun, baru saja ia masuk ke dalam bilik toilet dan mengunci pintunya, seseorang masuk dan menguncinya dari dalam juga.

Shinyu terlonjak. Ia menoleh dan menemukan Youngjae berdiri di sana, menatapnya dengan senyum miring.

"A-apa yang kamu lakuin di sini?!" bisik Shinyu panik.

"Aku cuma meriksa 'punyaku'," jawab Youngjae. Tanpa peringatan, ia mendorong Shinyu ke dinding toilet.

"Youngjae, jangan di sini! Ada orang di luar!"

"Terus kenapa? Justru itu yang bikin menarik, kan?" Youngjae menyeringai. Ia dengan cepat menurunkan celana Shinyu.

Udara dingin toilet menyentuh vagina Shinyu yang masih berdenyut. Youngjae tidak membuang waktu, ia memasukkan dua jarinya sekaligus ke dalam lubang yang masih basah itu.

"Nngghhh!" Shinyu membekap mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak.

Youngjae menggerakkan jarinya dengan kasar, mengaduk-aduk bagian dalam yang sensitif. "Masih sempit banget. Kau kangen aku, ya?"

"Stop ... please ... ahh ..."

"Bilang kamu punyaku, Kak. Bilang," tuntut Youngjae, jarinya menekan titik yang membuat kaki Shinyu lemas.

"Aku ... aku punya kamu ... ngggh ... tolong stop ..."

Youngjae menarik jarinya keluar dengan suara yang basah. Ia mengelap jarinya yang berlumuran cairan bening ke paha Shinyu.

"Anak pintar. Sekarang, pakai lagi celana kmu. Kita harus latihan lagi. Inget, jangan coba-coba kasih tau siapa pun, atau semua orang tahu kalau kamu itu 'perempuan' di grup ini."

Youngjae keluar dari bilik toilet dengan santai, meninggalkan Shinyu yang merosot jatuh ke lantai toilet, terisak dalam diam.

Malam harinya Shinyu mencoba mencari jawaban di internet. Ia mencari tentang perubahan gender mendadak, kondisi medis langka, atau bahkan hal-hal mistis. Namun tidak ada satu pun yang menjelaskan alasan seorang laki-laki tulen bisa tiba-tiba memiliki vagina dalam satu malam.

Saat ia sedang melamun, Youngjae masuk ke kamar dan menutup gorden tempat tidur mereka. Ia membawa sebuah botol pelumas dan tatapan yang tidak bisa dibantah.

"Waktunya 'terapi' malam ini, Kak Shinyu."

Shinyu memejamkan mata. Ia tahu bahwa mulai malam ini ia tidak akan pernah bisa melarikan diri. Ia terjebak dalam permainan Youngjae, terikat oleh rahasia yang mengerikan. Ia terperangkap dalam tubuh yang tidak ia kenali.

Youngjae menarik Shinyu ke dalam pelukannya, namun kali ini tidak ada kelembutan. Ia membalikkan tubuh Shinyu, memaksa pria itu berlutut.

"Jangan nangis, kakak cantik. Kamu tahu aku paling suka kalau kamu mohon-mohon," bisik Youngjae tepat di telinganya sebelum kembali menghujamkan miliknya ke dalam lubang vagina Shinyu.

Suara pertemuan antarkulit kembali bergema, mengisi kesunyian malam di dorm. Setiap desahan yang keluar dari mulut Shinyu bukan lagi karena kenikmatan, melainkan sebuah jeritan minta tolong yang tidak akan pernah didengar oleh siapa pun.

Notes:

Maaf kalau ketikanku agak nyimeng