Chapter Text
Jakarta pukul sebelas malam tidak pernah benar-benar tidur, tapi bagi Ohyul, kota ini terasa seperti kuburan yang riuh. Suara klakson kendaraan dari jalan raya yang berjarak dua ratus meter dari gang kostnya masih terdengar samar, bersahutan dengan bunyi dengung kipas angin dinding merk murah di kamarnya yang berputar dengan suara berisik, seolah-olah sedang memprotes takdirnya sendiri karena dipaksa bekerja tanpa henti.
Ohyul duduk meringkuk di atas kasur busa tanpa ranjang. Kasur itu sudah menipis di bagian tengah, membuat punggungnya bisa merasakan langsung kerasnya lantai semen yang dilapisi karpet plastik bermotif kayu yang beberapa bagiannya sudah mengelupas. Kedua lututnya ditekuk erat ke dada, diselimuti oleh selembar kain jarik usang pemberian ibunya saat pertama kali dia menginjakkan kaki di stasiun tiga tahun lalu.
Di tangannya, sebuah ponsel pintar dengan layar retak di sudut kanan atas menyala, memancarkan cahaya redup yang menerangi wajah pucat pemuda berumur dua puluh tahun itu. Matanya yang bulat kini tampak redup, dikelilingi lingkaran hitam samar akibat tumpukan jam tidur yang dikorbankan demi tugas akhir semester dan giliran kerja closing di kafe.
Di layar ponsel itu, aplikasi WhatsApp terbuka. Ibu jari Ohyul melayang di atas papan ketik virtual, ragu untuk menekan tombol kirim. Di bagian atas obrolan, terpampang sebuah pesan suara berdurasi dua menit tiga puluh detik dari kontak bernama "Ibu".
Ohyul menarik napas panjang, lalu mendekatkan pelantang ponsel ke telinganya, memutar kembali rekaman suara itu untuk yang kelima kalinya malam ini.
"Ohyul, Le... maafin Ibu ya, Nak... Ibu baru pulang dari ladang sama Bapak. Bulan ini curah hujan di desa jelek banget, badai terus-terusan dateng seminggu ini. Sayur kol sama sawi yang harusnya dipanen minggu depan malah busuk semua di batang karena kerendem air. Gagal panen total, Le... Tengkulak gak ada yang mau ambil. Bapakmu tadi pusing sampai tensinya naik lagi. Ibu... Ibu bener-bener minta maaf, bulan ini Ibu belum bisa kirim uang sepeser pun buat bantu bayar kost bulananmu di kota. Kamu... kamu masih ada simpanan uang, kan, Le? Kalau laper, jangan telat makan ya, Nak..."
Suara ibunya terdengar parau, ada getaran menahan tangis yang disembunyikan di balik dialek Jawa yang kental. Ohyul bisa mendengar suara batuk bapaknya yang berat sebagai latar belakang rekaman itu.
Setiap kata dari rekaman tersebut rasanya seperti jarum yang menusuk langsung ke ulu hati Ohyul. Perutnya mendadak melilit, bukan hanya karena rasa bersalah yang teramat sangat karena belum bisa membahagiakan orang tuanya, tetapi juga karena fakta fisik yang tidak bisa dibantah: perutnya memang kosong sejak kemarin siang.
Ohyul menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokan. Dia mengusap sudut matanya yang mulai basah dengan lengan kaos oblong putihnya yang sudah longgar di bagian leher. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia mulai mengetik balasan.
"Ibu gak usah mikirin Ohyul di sini. Ohyul baik-baik saja, Bu. Uang tabungan Ohyul dari gajih kafe kemarin masih banyak, cukup banget buat bayar kost sama makan sampai dua bulan ke depan. Bapak suruh istirahat ya Bu, jangan banyak pikiran. Ohyul di sini makannya teratur kok, ini baru aja selesai makan nasi goreng hangat."
Kebohongan nomor satu.
Ohyul menekan tombol kirim. Begitu tanda centang dua berubah menjadi abu-abu, dia segera keluar dari ruang obrolan ibunya, seolah-olah ingin melarikan diri dari rasa berdosa karena telah berbohong. Dia kemudian beralih ke aplikasi perbankan digital di ponselnya. Setelah melewati proses loading yang terasa lambat karena sinyal di pojok kamar kost lantai dua ini sangat buruk, angka saldo utamanya muncul.
Rp 2.450,-
Dua ribu empat ratus lima puluh rupiah. Bahkan tidak cukup untuk membeli satu bungkus mi instan di warung kelontong depan gang.
Ohyul tertawa miris, sebuah tawa hambar yang terdengar menyedihkan di keheningan kamar berukuran 3 x 3 meter itu. Dia meletakkan ponselnya di atas lantai dengan kasar, lalu menyandarkan kepalanya ke dinding tembok yang terasa dingin. Pikirannya melayang kembali ke kejadian enam jam yang lalu di tempat kerjanya.
Sebuah coffee shop franchise yang cukup ramai di kawasan Jakarta Selatan. Ohyul sudah bekerja di sana selama hampir satu tahun sebagai barista part-time. Dia menyukai pekerjaannya, meskipun upahnya tidak seberapa dan tenaganya sering dikuras habis. Setidaknya, dari uang itulah dia bisa membayar sewa kamar kost ini sebesar delapan ratus ribu per bulan dan membeli nasi rames sekali sehari.
Namun, sore tadi, setelah shift-nya berakhir, sang manajer memanggilnya ke ruang belakang.
"Ohyul, kamu tahu kan kalau kondisi ekonomi global lagi gak stabil, dan penjualan kita sebulan ini agak turun?" Manajer bertubuh tambun itu memulai percakapan sambil menghisap rokok elektriknya, tidak berani menatap mata Ohyul langsung. "Manajemen pusat minta ada efisiensi anggaran. Mulai bulan depan, posisi part-time mahasiswa terpaksa kita pangkas dulu. Kita mau fokus pakai karyawan full-time yang jam kerjanya bisa lebih fleksibel. Jadi... mulai besok, kamu gak usah masuk lagi, ya. Ini gajih terakhir kamu bulan ini, sudah dipotong denda keterlambatan kamu minggu lalu."
Amplop cokelat yang diterimanya sore tadi hanya berisi uang lima ratus ribu rupiah. Sisa uang yang seharusnya dia terima hangus karena alasan-alasan administratif yang dicari-cari. Dan uang lima ratus ribu itu? Sudah habis sore itu juga untuk membayar utang sisa semesteran di kampus yang sudah menunggak tiga minggu. Jika dia tidak membayar uang kuliah itu hari ini, dia tidak akan diperbolehkan mengikuti ujian akhir semester depan.
Jadi di sinilah Ohyul sekarang. Seorang mahasiswa rantau semester empat, tanpa pekerjaan, tanpa uang sepeser pun di dompet, tanpa pasokan makanan, dan... memiliki tagihan kost yang akan jatuh tempo tepat besok pagi.
Ting.
Ponsel di lantai kembali bergetar. Sebuah pesan baru masuk. Ohyul meliriknya dengan malas, namun begitu melihat nama pengirimnya, jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh.
Pak Ryul (Bapak Kost)
Selama satu tahun tinggal di sini, Ohyul belum pernah bertemu langsung dengan pemilik kostnya. Kost-kostan berlantai dua dengan dua puluh kamar ini awalnya dikelola oleh seorang bapak-bapak tua bernama Pak Surya. Namun, enam bulan lalu, Pak Surya mengabarkan lewat grup WhatsApp kost bahwa kepengurusan gedung ini sudah dialihkan sepenuhnya kepada anak laki-lakinya yang bernama Ryul.
Setiap awal bulan, Ohyul hanya perlu mentransfer uang sewa ke rekening atas nama Ryul, mengirimkan bukti resi lewat WhatsApp, dan urusan selesai. Kontak bernama "Pak Ryul" di ponsel Ohyul tidak memiliki foto profil, hanya sebuah huruf 'R' dengan latar belakang abu-abu. Di pikiran Ohyul, Ryul pasti adalah sosok pria paruh baya berusia akhir empat puluhan yang kaku, galak, dan disiplin mengenai uang, tipikal pemilik properti di ibu kota yang tidak mau tahu urusan pribadi penyewanya.
Ohyul membuka pesan itu dengan tangan dingin yang berkeringat.
"Ohyul, besok sudah tanggal 1. Tolong uang sewa kamar nomor 4 ditransfer seperti biasa ya. Jangan lewat dari jam 12 siang karena saya harus rekap pembukuan bulanan. Terima kasih."
Kalimatnya singkat, padat, formal, dan terasa sangat menuntut di mata Ohyul yang sedang sekarat.
Pemuda itu menatap pesan tersebut selama beberapa menit. Kepalanya mulai berdenyut pusing, efek samping dari rasa lapar yang berpadu dengan stres tingkat tinggi. Dia tahu dia tidak bisa mengabaikan pesan ini. Kabur bukan pilihan, karena semua dokumen administrasinya, termasuk salinan KTP-nya, ada di tangan pemilik kost. Lagipula, dia tidak punya tempat lain untuk pergi.
Dengan sisa-sisa harga diri yang dia miliki, Ohyul mulai mengetik balasan dengan kalimat yang disusun se-sopan mungkin, mengemis pengertian dari sosok yang dia bayangkan sebagai bapak-bapak tua pemarah di seberang sana.
"Selamat malam, Pak Ryul. Mohon maaf sebelumnya jika saya mengganggu waktu istirahat Bapak. Saya Ohyul dari kamar nomor 4. Saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya, karena untuk bulan ini, saya mengalami kendala tidak terduga. Tempat kerja saya baru saja melakukan pengurangan karyawan sore tadi, dan saya termasuk yang diberhentikan. Saya berjanji akan mencari pekerjaan baru secepatnya. Jika diperbolehkan, apakah saya bisa meminta kelonggaran waktu seminggu untuk melunasi uang kost bulan ini? Saya berjanji tidak akan kabur, Pak. Mohon kebijaksanaannya."
Ohyul membaca ulang ketikannya tiga kali. Setiap kata terasa seperti tamparan bagi dirinya sendiri. Dia terdengar sangat menyedihkan. Namun, dia tidak punya pilihan lain. Dia menekan tombol kirim.
Satu menit. Dua menit. Status di bawah nama "Pak Ryul" berubah menjadi Online. Dua centang abu-abu berubah menjadi biru.
Ohyul menahan napasnya, menunggu balasan yang bisa saja berupa makian atau perintah untuk mengosongkan kamar besok pagi. Jantungnya berdebar kencang, memukul dinding dadanya dengan kasar di tengah keheningan malam yang mencekam.
Beberapa detik kemudian, balasan itu masuk.
"Oke. Seminggu dari sekarang. Tanggal 8 siang saya tunggu."
Ohyul langsung mengembuskan napasnya yang tertahan. Bahunya yang tegang perlahan merosot. Dia merasa seolah-olah baru saja diberikan tabung oksigen setelah hampir tenggelam. Meskipun hanya seminggu, setidaknya dia punya waktu untuk bernapas. Dia tidak akan diusir besok pagi.
"Seminggu..." bisik Ohyul pada diri sendiri, menatap layar ponselnya yang kembali meredup. "Gimana caranya gua dapet delapan ratus ribu dalam seminggu di kota ini?"
Dia mematikan ponselnya, membaringkan tubuh kurusnya di atas kasur tanpa bantal, lalu menarik kain jarik usangnya hingga menutupi dada. Perutnya kembali berbunyi, menyuarakan rasa lapar yang perih. Ohyul memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba memaksakan otaknya untuk tidur, berharap bahwa dalam mimpinya, dia tidak perlu memikirkan tentang uang, tentang ladang sayur yang busuk, atau tentang bagaimana cara bertahan hidup esok hari.
Namun, Ohyul tidak pernah tahu, bahwa seminggu yang dia minta adalah awal dari runtuhnya seluruh kendali atas hidup yang selama ini dia pertahankan dengan susah payah. Dan sosok "Pak Ryul" yang ada di bayangannya, sama sekali bukan pria tua yang akan memaki-makinya di depan pintu.
