Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-03
Words:
4,040
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
67

DILARANG PATAH HATI

Summary:

Passwordnya apa kk? Apapun dikerjain kecuali skripsi

Notes:

req by: @jeonseol11

Work Text:

Surabaya pukul enam pagi masih menyisakan sedikit sisa dingin dari embun semalam, sebelum nantinya dibakar oleh terik matahari siang yang gersang. Di dalam kamar utama rumah mereka di Gubeng, gorden abu-abu muda bergeser beberapa senti, membiarkan seberkas cahaya keemasan jatuh tepat di atas kelopak mata Jeon Wonwoo yang masih terpejam erat. Wonwoo menggeliat kecil, berniat membalikkan tubuh demi menghindari silau fajar, namun usahanya langsung terhenti oleh lengan kokoh Kim Mingyu yang melingkar posesif di atas pinggangnya. Pria bertubuh besar itu menarik raga ramping Wonwoo tanpa celah, mengunci sang suami agar tetap menempel pada dada bidangnya yang hangat.

 

Mingyu sama sekali belum rela melepaskan dekapannya meski jam beker sudah berdering pelan sejak beberapa menit lalu. Wajah tampannya tenggelam di ceruk leher Wonwoo, menghirup dalam-dalam aroma sabun mandi rasa susu yang selalu menjadi candu paginya. Rambut belakang Mingyu yang agak gondrong dan berantakan menusuk-nusuk leher Wonwoo, memicu tawa kecil tanpa suara dari sang suami yang kegelian namun enggan menjauh. Dalam remang kamar yang tenang, Wonwoo perlahan membalikkan posisi tidurnya hingga mereka saling berhadapan, membiarkan jemari lentiknya bergerak merapikan poni helai demi helai yang menutupi dahi tirus Mingyu.

 

Tanpa kacamata yang biasa bertengger di hidungnya, pandangan Wonwoo sedikit buram, namun dia bisa merasakan dengan jelas bagaimana bibir Mingyu melengkung membentuk senyuman lebar. Detik berikutnya, kecupan-kecupan kecil yang konstan mendarat di kening, ujung hidung, hingga berakhir pada lumatan lembut di bibir Wonwoo. Tidak ada gairah yang menggebu-gebu, hanya sebuah ritual pagi penuh kasih sayang yang selalu berhasil membuat debaran di dada Wonwoo terasa sama indahnya seperti dua tahun lalu, saat mereka pertama kali mengikat janji suci di Surabaya.

 

Mingyu akhirnya bangkit dari ranjang, meregangkan otot-otot tubuhnya sejenak sebelum tangannya kembali terulur untuk mengacak gemas rambut Wonwoo yang masih setengah mengantuk. Sambil melangkah ringan menuju dapur untuk menyeduh kopi hitam tanpa gula dan menyiapkan tumis ayam kesukaan suaminya, Mingyu sempat berbalik hanya untuk memastikan Wonwoo berjalan aman menuju kamar mandi. Kehidupan domestik mereka berjalan begitu rapi, hangat, dan dipenuhi perhatian-perhatian kecil yang tulus. Mereka adalah sepasang rumah yang utuh, tanpa pernah menyadari bahwa kedamaian di sudut Gubeng itu sedang menghitung hari sebelum sebuah kegilaan besar datang mengetuk pintu depan mereka.

 


 

Memasuki awal bulan Juni, Surabaya selalu punya cara untuk menyiksa siapa saja yang terpaksa berdiri di bawah langit siangnya. Udara lengket, aspal yang seolah meleleh di sepanjang Jalan Dinoyo, dan deru mesin kendaraan yang beradu dengan klakson panas menciptakan simfoni yang bising. Namun, di dalam studio lukis lantai tiga Universitas, atmosfernya justru terasa sedingin es. Bukan karena pendingin ruangan yang berputar maksimal, melainkan karena keheningan yang membentang di antara dua orang di dalamnya. Hao menatap ujung sepatunya yang ternoda cipratan cat akrilik putih. Tangannya mengepal di sisi celana jinjingnya, meremas kain denim itu hingga buku buku jarinya memutih. Di depannya, berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku. Kim Mingyu. Dosen pembimbing tugas akhir Hao, sekaligus satu-satunya pria yang berhasil mengacak-acak seluruh waras di kepala Hao selama dua tahun terakhir.

 

"Kamu ganti konsepnya lagi?" Suara Mingyu terdengar berat, menggema di antara kanvas-kanvas kosong yang bersandar di dinding studio. Ada nada lelah yang tidak berusaha dia sembunyikan. "Kita udah sepakat bulan lalu. Tema tugas akhirmu adalah realisme sosial masyarakat pesisir Kenjeran. Kenapa sekarang berubah jadi ekspresionisme abstrak begini?” Mingyu menunjuk sebuah kanvas besar berukuran dua meter yang berdiri di tengah ruangan. Kanvas itu dipenuhi oleh sapuan warna merah marun yang pekat, nyaris hitam di beberapa sudut, dengan guratan-guratan kasar yang membentuk siluet sepasang tangan yang mencengkeram sesuatu yang tak kasat mata. Itu bukan sekadar lukisan abstrak. Ada aura pekat, gelap, dan mengintimidasi yang memancar dari sana. Siapapun yang melihatnya akan merasa sesak, seolah ada sepasang mata yang ikut menatap dari balik lapisan cat minyak yang masih basah.

 

"Ini perasaan saya, Pak," jawab Hao, suaranya pelan namun terdengar teramat tajam di dalam keheningan studio. Dia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Mingyu. Sepasang mata Hao yang biasanya jernih kini tampak sayu, dikelilingi lingkaran hitam karena kurang tidur, namun ada binar obsesif yang menyala di sana. "Ini tentang cinta yang menuntut untuk dibalas. Tentang sesuatu yang mengikat saya sampai saya gak bisa nafas kalau gak liat Pak Mingyu." 

 

Mingyu menghela nafas panjang. Dia memijat pangkal hidungnya yang mancung, melangkah mundur satu langkah untuk memberi jarak di antara mereka. Jarak profesional yang selalu coba dia pertahankan, namun selalu coba dikikis oleh Hao. "Hao, saya sudah pernah bilang. Tolong batasi diri," kata Mingyu, suaranya mendingin, tegas tanpa kompromi. "Saya di sini sebagai dosen pembimbing kamu. Tidak lebih. Kalau kamu terus membawa perasaan pribadi seperti ini ke dalam bimbingan, saya akan meminta kaprodi untuk memindahkan kamu ke dosen lain. Saya serius."

 

"KENAPA?!" Suara Hao tiba-tiba meninggi, memecah kesunyian siang itu. Dia melangkah maju, mengabaikan jarak yang baru saja dibuat Mingyu. Aroma tubuh Hao perpaduan antara minyak tiner yang tajam dan wangi melati yang entah sejak kapan melekat padanya menyengat indra penciuman Mingyu. "Kenapa selalu Kak Wonwoo? Kenapa harus dia? Dia bahkan gak ngerti seni kayak saya! Dia cuma laki-laki kantoran yang duduk dibalik kubikel, sementara saya— saya tahu setiap detail lekuk tangan Pak Mingyu saat megang kuas! Saya yang tau gimana pikiran Pak Mingyu bekerja!"

 

Mendengar nama suaminya disebut, rahang Mingyu langsung mengeras. Sorot matanya yang tadi lelah berubah menjadi dingin dan menusuk. "Jangan pernah sebut nama Wonwoo dari mulutmu, Xu Minghao," desis Mingyu. Nada suaranya merendah, namun sarat akan ancaman. "Wonwoo adalah suami saya. Pernikahan kami sudah berjalan lama, baik-baik saja, dan akan selalu begitu. Hidup saya hanya untuk dia. Apa yang saya miliki dengan Wonwoo bukan urusanmu, dan tidak akan pernah ada ruang untuk kamu di sana. Sekarang, rapihkan barang-barang kamu disini. Tidak ada bimbingan sampai kamu bisa berpikir rasional." Mingyu berbalik, menyambar tas kulitnya di atas meja, dan melangkah lebar-lebar meninggalkan studio tanpa menoleh lagi. Pintu kayu studio tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Hao sendirian di tengah ruangan yang remang.

 

Hao tidak menangis.

 

Dia justru tertawa kecil. Tangannya bergerak menyentuh permukaan lukisan merah marun yang masih basah, membiarkan cat pekat itu mengotori jemarinya. Di dalam kepalanya, seolah ada bisikan-bisikan halus yang menertawakannya, suara-suara tanpa wujud yang berbisik dari sudut-sudut gelap studio, matanya melebar dengan senyuman namun mengerikan. 

 


 

Rumah bergaya minimalis di kawasan Gubeng itu selalu menjadi tempat bersandar paling nyaman bagi Mingyu setelah seharian menghadapi pelik dunia akademis. Begitu langkah kakinya melewati pintu depan, aroma masakan rumahan langsung menyambutnya. Wangi sop ayam dan tumis bawang putih yang akrab, seolah menghapus seluruh sisa ketegangan dari studionya tadi. Di dapur, seorang pria berkacamata dengan kaus rumahan longgar sedang sibuk menata mangkuk di atas meja makan.

 

Jeon Wonwoo.

 

Suami yang dinikahinya dua tahun lalu dalam sebuah perayaan kecil yang hangat di Surabaya. Wonwoo menoleh saat mendengar suara pintu ditutup, dan senyuman tipis namun tulus langsung terukir di wajahnya yang manis.

 

"Sayang, udah pulang?" Wonwoo melangkah mendekat, menyambut Mingyu dengan mengulurkan tangan untuk mengambil alih tas kerja suaminya. Namun, Mingyu tidak langsung menyerahkan tasnya. Pria bertubuh besar itu justru langsung melingkarkan lengannya di pinggang Wonwoo, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher suaminya, menghirup dalam-dalam aroma sabun bayi dan minyak telon yang selalu menjadi candunya.

 

"Hei, kenapa? Capek banget ya hari ini?" Wonwoo terkekeh pelan, tangannya bergerak mengusap rambut belakang Mingyu yang agak gondrong dan berantakan. Dia bisa merasakan tubuh suaminya yang tegang perlahan mulai rileks dalam dekapannya.

 

"Ekspektasi mahasiswa tingkat akhir selalu bikin aku pusing babee" gumam Mingyu sedikit merengek pada suami tercintanya, sengaja menyembunyikan detail tentang obsesi mahasiswa bimbingannya. Dia tidak ingin Wonwoo ikut memikirkan hal-hal yang tidak penting.

 

Cukup dia yang menghadapi mahasiswa rewel itu.

 

"Ya sudah, mandi dulu sana. Aku sudah masakin sop ayam kesukaan kamu. Tadi beli bahannya di pasar deket kampus kamu sebelum aku pulang kerja," kata Wonwoo sambil menepuk lembut bahu kokoh Mingyu.

 

Mingyu melepaskan pelukannya, menatap wajah Wonwoo yang tampak tenang. Tujuh tahun membina rumah tangga dengan Wonwoo adalah hal terbaik dalam hidup Mingyu. Wonwoo memang bukan orang seni; dia bekerja sebagai analis data di sebuah perusahaan swasta di daerah Margorejo. Wonwoo tidak tahu perbedaan antara cat akrilik dan cat minyak, dia juga tidak paham estetika gotik atau renaisans. Tapi Wonwoo adalah rumah. Wonwoo tahu kapan Mingyu butuh kopi hitam tanpa gula, dan Wonwoo tahu bagaimana cara menenangkan badai di kepala Mingyu hanya dengan sebuah genggaman tangan.

 

"Babe," panggil Mingyu tiba-tiba saat mereka sudah duduk di meja makan.

 

"Ya?" Wonwoo menyendokkan nasi ke piring Mingyu.

 

"Kalau hm.........kalau ada orang lain yang sikapnya aneh atau ganggu kamu, langsung bilang aku, ya?"

 

Wonwoo menghentikan gerakannya sejenak, menatap Mingyu dari balik bingkai kacamatanya dengan dahi berkerut. "Ganggu gimana? Di kantor aman-aman aja kok. Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"

 

Mingyu memaksakan sebuah senyuman, lalu menggeleng pelan. "Gak apa-apa babe. Cuma akhir-akhir ini kan banyak berita aneh di Surabaya. Aku pengen mastiin aja kalau suami tercintaku ini aman."

 

Wonwoo tersenyum, mengacak rambut Mingyu dengan gemas. "Aku bukan anak kecil tauuu. Udah, cepet makan. Keburu dingin."

 

Malam itu berjalan seperti malam-malam biasanya. Mereka makan bersama, menonton televisi sebentar, lalu tidur saling mendekap di bawah selimut yang hangat. Namun, di tengah malam yang senyap, sekitar pukul dua pagi, angin malam Surabaya mendadak berhembus sangat kencang, membuat jendela kamar mereka berderit keras. Mingyu terbangun karena rasa dingin yang tidak biasa. Dia menoleh ke samping, memastikan Wonwoo masih tertidur lelap di pelukannya. Namun, saat mata Mingyu beralih ke arah jendela kamar yang tertutup gorden tipis, jantungnya terasa berhenti berdetak. Di balik gorden yang diterpa cahaya lampu jalan, ada sebuah siluet hitam yang berdiri diam di luar sana. Siluet tubuh yang kurus, jangkung, dengan kepala yang miring ke satu sisi secara tidak alami. Dan dari balik keheningan malam, Mingyu seperti mendengar suara ketukan halus di kaca jendela bersamaan dengan aroma melati yang menusuk hidung, menggantikan wangi sup ayam yang tadi sore memenuhi rumah mereka. Mingyu segera bangkit, menyibak gorden dengan cepat. Tapi, tidak ada siapa-siapa di balik jendela. Hanya ada halaman rumah yang sepi dan lambaian daun pohon mangga yang ditiup angin. Mingyu merinding. Dia menatap telapak tangannya sendiri yang mendadak terasa dingin. 

 

“Itu cuma mimpi,”

 

batinnya mencoba menenangkan diri. Dia tidak tahu, bahwa di waktu yang sama, di sebuah kamar kos sempit di daerah Siwalankerto, Hao sedang duduk bersila di lantai tanpa lampu, menatap sebuah foto pernikahan Mingyu dan Wonwoo yang sudah dicoret-coret dengan darah dari jarinya sendiri.

 


 

Hari Minggu bagi Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo adalah tentang melambatkan waktu. Di saat Surabaya sedang membara oleh terik siang yang menyentuh angka tiga puluh enam derajat celcius, ruang tengah rumah mereka di Gubeng justru menjelma menjadi tempat persembunyian paling nyaman. Pendingin ruangan dinyalakan maksimal, gorden ruang tamu ditutup rapat untuk menghalau silau, dan lantai pualam terasa begitu dingin di bawah telapak kaki.

Wonwoo menghabiskan separuh siang itu dengan tenggelam di atas sofa beludru berwarna biru. Kepalanya berbantalkan paha kokoh Mingyu yang hanya mengenakan celana pendek. Suaminya itu memang sudah hafal sekali tabiat Mingyu ketika di rumah yang jarang memakai atasan. Sementara sepasang matanya fokus menatap layar tablet yang menampilkan barisan grafik data pekerjaan yang belum sempat dia selesaikan di kantor Margorejo. Kacamata berbingkai hitamnya sesekali melorot ke ujung hidung, membuat jemari lentiknya harus berulang kali membenarkan posisinya. Di atasnya, Mingyu duduk bersandar pada lengan sofa dengan sebuah buku sketsa tebal di pangkuannya. Alih-alih menggambar objek seni untuk keperluan kampusnya, jemari besar Mingyu yang memegang pensil grafit 4B justru sibuk mengabadikan sosok suaminya sendiri. Goresan-goresan tipis di atas kertas itu perlahan membentuk siluet wajah Wonwoo dari samping, mulai dari garis rahangnya yang tegas namun halus, sapuan bulu matanya, hingga kerutan kecil di dahi Wonwoo setiap kali pria itu sedang berpikir keras.

 

Keheningan di antara mereka sama sekali tidak terasa canggung. Hanya ada suara gesekan ujung pensil Mingyu pada kertas, ketukan pelan jemari Wonwoo di layar gawai, dan dengung halus pendingin ruangan.

 

Tangan kiri Mingyu yang bebas tidak tinggal diam. Jemari besarnya merayap turun ke kepala Wonwoo, menyusup di antara helaian rambut hitam suaminya yang halus, memijat kulit kepalanya dengan tekanan yang pas. Sentuhan spontan itu seketika membuat Wonwoo menghela napas panjang, merilekskan bahunya yang semula tegang karena beban pekerjaan. Tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya, Wonwoo menggeser posisinya sedikit, membiarkan kepalanya semakin bersandar nyaman di paha Mingyu. Tahu suaminya mulai menikmati pijatannya, Mingyu terkekeh tanpa suara. Dia meletakkan pensil dan buku sketsanya di meja kopi, lalu membungkuk sedikit untuk meraih cangkir keramik berisi es kopi susu madu buatannya sendiri. Tanpa aba-aba, Mingyu menempelkan dinding cangkir yang dingin itu ke pipi Wonwoo, membuat pria berkacamata itu tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan tabletnya.

 

Wonwoo mendongak, menatap Mingyu dari bawah dengan tatapan protes yang setengah mengantuk. Namun, bukannya merasa bersalah, Mingyu justru membalasnya dengan senyuman lebar hingga gigi taringnya menyembul jenaka. Pria bertubuh besar itu menyodorkan sedotan kopi ke depan bibir Wonwoo, memanjakan suaminya yang langsung menerima suapan minuman dingin itu dengan patuh. Sambil memperhatikan jakun Wonwoo yang bergerak naik turun saat meneguk kopi, tangan Mingyu beralih mengusap sudut bibir Wonwoo yang sedikit basah menggunakan ibu jarinya. Setelah cangkir itu kembali diletakkan, Mingyu tidak membiarkan Wonwoo kembali pada pekerjaannya. Dia menyusupkan kedua tangannya di bawah ketiak Wonwoo, mengangkat tubuh ramping suaminya dengan mudah hingga Wonwoo kini terduduk tegak di dalam dekapannya. Mingyu melingkarkan lengan besarnya dari belakang, menumpukan dagunya di bahu Wonwoo sembari ikut memperhatikan angka-angka rumit di layar tablet.

 

Dihujani perhatian yang bertubi-tubi, Wonwoo akhirnya menyerah. Dia mematikan layar gawainya, meletakkannya sembarang di samping sofa, lalu menyandarkan seluruh bobot tubuhnya pada dada bidang Mingyu yang kokoh. Tangan Wonwoo bergerak menggenggam jemari besar Mingyu yang bertengger di perutnya, mengusap ibu jari suaminya yang terasa hangat dan kasar karena sering bersentuhan dengan tiner dan kuas. Dalam pelukan erat di tengah siang yang terik itu, Mingyu mengecup pelipis Wonwoo dengan lama, menyalurkan seluruh rasa sayang yang tidak pernah berkurang barang satu persen pun sejak dua tahun lalu. Bagi mereka, Surabaya di luar sana boleh saja bising dan membakar, namun di dalam batas dinding rumah ini, mereka adalah dunia yang paling tenang dan utuh bagi satu sama lain.

.

.

.

Tepat satu bulan sejak kejadian aneh di ruang dosen siang itu, selasar lantai tiga fakultas seni rupa terasa seperti lorong yang panjang. Berhari-hari setelahnya, Hao benar-benar lenyap. Satu bulan tanpa lembar revisi, satu bulan tanpa pesan teks, dan nama Xu Minghao bersih dari daftar presensi bimbingan.

 

Di dalam ruang kerjanya yang sepi, Mingyu berkali-kali menatap layar ponselnya yang kosong. Ada rasa bersalah yang perlahan tumbuh dan memakan kewarasannya sendiri. 

 

 

“Apa kata-kata saya waktu itu terlalu berlebihan?” 

“Apa bentakan saya buat mentalnya hancur?” 

batin Mingyu berkecamuk. 

 

Bagaimanapun Hao adalah mahasiswanya juga seorang anak manusia yang butuh bimbingan, bukan untuk dihancurkan mentalnya karena perasaan sepihak. Mingyu mengutuk dirinya sendiri yang sempat berpikir bahwa semua ini hanyalah drama teatrikal seorang pemuda obsesif. 

 

Disisi lain Mingyu sampai saat ini tidak tahu bahwa di rumah mereka di Gubeng, Wonwoo menyimpan rahasia besar. Wonwoo sengaja menutup rapat mulutnya, memilih menyimpan sendiri teror bunga melati busuk dan suara tangisan misterius yang sempat menggedor pintu kamar mandi rumah mereka tempo hari. Wonwoo tidak mau membebani Mingyu yang sudah stres memikirkan mahasiswanya. Jadi, di mata Mingyu saat ini, ketidakhadiran Hao murni karena bentakan kasarnya sebulan lalu. 

 

Siang itu, langkah kaki Mingyu menuntunnya kembali ke studio lukis di ujung lorong gedung. Pintu kayu yang biasanya tertutup rapat kini sedikit renggang, menyisakan celah kecil yang menghembuskan aroma tajam tiner, minyak rami, dan bau anyir yang samar. Mingyu mendorong pintu itu pelan. Sentakan engselnya tidak menimbulkan suara, namun pemandangan di dalam ruangan langsung mengunci pergerakan kakinya di ambang pintu. Di tengah ruangan yang remang karena gorden sengaja ditutup rapat, Hao ada di sana. Duduk di atas bangku kayu tinggi menghadap sebuah kanvas raksasa. Penampilan pemuda di depan Mingyu benar-benar mengerikan, tipikal seseorang yang jiwanya telah direnggut paksa dari raganya. Tubuh Hao yang semula memang kurus, kini tampak ringkih seolah hanya tersisa tulang yang dibungkus kulit pucat keabu-abuan. Kemeja putih longgar yang dikenakannya tampak kotor, dipenuhi noda cat dan bercak kecoklatan kering yang mencurigakan. Rambutnya mencuat berantakan, lepek oleh keringat dingin, dan sebagian menempel di pelipisnya yang tirus. 

 

Namun yang paling menyedihkan adalah wajahnya. Pipinya cekung parah, bibirnya pecah-pecah hingga terkelupas, dan sepasang mata dengan tatapannya kosong melongpong. Tidak ada binar kehidupan, tidak ada emosi marah atau sedih, hanya sepasang manik mata yang melebar, menatap lurus ke arah kanvas tanpa sekalipun berkedip. Dia tampak seperti raga mati yang kehilangan arah dan kesadaran, hilang total dari realita dunia nyata. Anehnya, jemari lentiknya yang gemetar dengan sangat ritmis tetap memegang kuas cokelat kesayangannya. Kuas bulu musang yang selalu dia banggakan itu bergerak menyapu kanvas dengan keahlian yang melampaui batas normal manusia. Mingyu mendekat dengan langkah sangat pelan, matanya beralih ke arah kanvas yang sedang dilukis Hao. Seketika itu juga, bulu kuduk Mingyu berdiri. Rasa dingin menjalar dari tulang belakangnya hingga ke ujung jari.

 

 

Lukisan itu adalah sebuah mahakarya kegilaan.

 

 

Di atas kanvas berukuran dua meter, Hao menggambar sesosok makhluk raksasa berkulit hitam legam tanpa wajah yang sedang merangkak keluar dari sebuah lubang menyerupai kuburan, membuat siapapun melihat lukisan tersebut akan merinding, makhluk itu digambarkan sedang memeluk tubuh seorang pria dari belakang dan pria itu adalah Kim Mingyu. Wajah Mingyu di dalam lukisan itu dibuat sangat detail, namun matanya dilukis bolong, mengalirkan air mata berupa darah kental. Di sudut bawah lukisan, ada gambaran figur lain yang tampak hancur; sesosok pria berkacamata yang menyerupai Wonwoo, digambarkan sedang ditenggelamkan ke dalam kolam yang dipenuhi potongan tangan-tangan manusia yang mencengkram lehernya. Seluruh perpaduan warna dalam kanvas itu didominasi oleh merah marun, hitam arang, dan semburat kuning nanah yang memberikan kesan busuk. Sapuan kuas Hao begitu liar namun presisi, menciptakan distorsi visual yang mengerikan.

 

"Xu Minghao." suara Mingyu, memecah kesunyian studio yang pengap.

 

Jemari lentik Hao tidak berhenti. Kuas cokelatnya terus menari di atas kanvas, menorehkan garis-garis tipis pada figur Wonwoo yang sedang tenggelam.

 

Mingyu melangkah lebih dekat, kini berdiri tepat di samping bangku Hao. Aroma melati busuk yang entah dari mana asalnya kembali menyengat indra penciuman. "Hao, dengar saya. Kamu ke mana saja satu bulan ini? Kenapa gak ada kabar untuk bimbingan? Tugas akhirmu bisa dibatalkan kalau kamu menghilang seperti ini."

 

 

Tidak ada gubrisan. 

 

 

Hao sama sekali tidak merespons kehadiran dosennya. Dia bahkan tidak menoleh satu senti pun, terus melukis dengan tatapan kosong seolah-olah dia hanyalah robot yang diprogram untuk menyelesaikan lukisan terkutuk itu. Di dalam dunianya sendiri, Hao seperti orang sakit jiwa yang tersesat di dalam labirin pikirannya yang telah rusak. Mulut Hao yang kering tiba-tiba terbuka sedikit, mengeluarkan suara gumaman pelan yang nyaris tak terdengar. Bukan sebuah kalimat, melainkan senandung lirih sebuah lagu pengantar tidur tradisional yang nadanya terputus-putus. Air liurnya yang mengering di sudut bibir tampak memutih.

 

"Xu Minghao!" Mingyu menaikkan sedikit nada suaranya, mencoba meraih pundak ringkih itu untuk menyadarkannya. Namun, tepat sebelum tangan Mingyu menyentuh kulit dingin Hao, gerakan kuas coklat itu berhenti mendadak.

 

Hao perlahan-lahan memutar kepalanya ke arah Mingyu. Gerakan lehernya terasa kaku, terdengar bunyi kretek halus yang tidak wajar. Saat wajah itu sepenuhnya menghadap Mingyu.

 

 

Mingyu tersentak mundur satu langkah.

 

 

Mata Hao yang kosong itu mendadak digenangi oleh air mata yang keluar begitu saja tanpa ekspresi menangis. Fokus matanya tidak tertuju pada wajah Mingyu, melainkan menembus ke arah belakang tubuh Mingyu, seolah dia sedang melihat sesuatu yang berdiri tepat di balik punggung dosennya tersebut. Dengan bibir yang gemetar hebat dan suara yang parau seperti orang yang kehabisan sisa napas, Hao akhirnya bersuara, 

 

"Dia—dia.bilang.sebentar.lagi.Kak.Wonwoo.Suamikamu.bakal.selesai.berenang,Pak.Terus—gilirankita….." Setelah mengucapkan kalimat itu dengan nada yang terdengar aneh Hao kembali memalingkan wajahnya ke kanvas, melanjutkan guratan kuas cokelatnya seolah-olah Kim Mingyu tidak pernah ada di sana, meninggalkan sang dosen dalam cekaman rasa bersalah dan ketakutan yang bercampur aduk menjadi satu.

.

.

.

​(⚠️Warning: The next part might be disturbing for some readers due to explicit horror/gore.⚠️)

.

.

.

.

.

.

Malam itu, langit Surabaya seperti ditumpumpahkan jelaga. Hitam, pekat, tanpa ada satu pun bintang yang berani menampakkan diri. Tepat tujuh hari sejak pertemuan mengerikan di studio lukis kampus, jam dinding di ruang tengah rumah Gubeng merayap pasrah menuju pukul setengah enam sore. Wonwoo duduk di sofa dengan tubuh gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi. Akhirnya, di bawah tekanan rasa takut yang tidak lagi bisa dia bendung sendiri, Wonwoo menceritakan semuanya pada Mingyu. Tentang teror satu bulan terakhir yang sengaja dia sembunyikan; tentang kelopak melati busuk yang selalu muncul di keset kamar mandi, tentang suara garukan kuku di balik dinding kamar mereka setiap tengah malam, dan tentang bau bangkai yang mendadak menguar setiap kali Mingyu pulang bimbingan. Mingyu mendekap suaminya erat-erat, matanya memerah menahan amarah sekaligus ketakutan yang luar biasa. Dia baru tersadar, semua kegilaan ini saling bertautan.

 

 

Braakk!

 

 

Pintu depan rumah mereka hantam keras hingga engselnya hampir lepas. Angin malam yang sedingin es langsung menyeruak masuk, membawa aroma bunga kenanga dan anyir darah yang luar biasa menyengat.

 

 

Di ambang pintu, berdiri Xu Minghao.

 

 

Penampilannya sudah bukan lagi seperti manusia hidup. Kulitnya membiru pucat, urat-urat hitam menjalar jelas dari leher hingga ke pelipisnya. Kedua matanya melotot lebar, namun seluruh bagian putih matanya telah berubah menjadi hitam legam, menyisakan manik merah menyala di tengahnya. Di tangan kanannya, dia menggenggam sebuah jimat kuno berupa buntalan kain kafan hitam yang terus meneteskan cairan kental berbau busuk. 

 

Jimat kain kafan hitam yang digenggam erat oleh Hao bukan lagi sekadar benda mati, melainkan sebuah inang yang berdenyut layaknya jantung hidup. Kain pembungkus jenazah yang didapatkan dari ritual terlarang itu tampak membusuk, mengeluarkan cairan kental kehitaman yang berbau seperti perpaduan antara minyak anyir dan daging manusia yang dibiarkan membusuk berminggu-minggu di tempat lembab. Setiap kali cairan itu menetes dan menyentuh lantai, terdengar suara desis halus seolah zat kimia beracun sedang mengikis pualam, meninggalkan noda hangus yang langsung dikerumuni belatung-belatung kecil yang mendadak muncul dari udara kosong. Lebih mengerikan lagi, jika diperhatikan dari dekat di bawah remang lampu jalan, permukaan jimat itu terus bergerak-gerak secara tidak alami. Lapisan kain kafannya berkerut dan meregang, menonjolkan bentuk-bentuk mini menyerupai wajah-wajah manusia yang sedang menjerit kesakitan dari dalam kekangan benang gaibnya. Dari sela-sela serat kain yang koyak, sesekali menyembul beberapa helai rambut wanita yang panjang dan kaku, memanjang melingkari pergelangan tangan Hao seolah benda terkutuk itu sedang mengikat dan mengunci urat nadi sang pemuda agar jiwanya tidak bisa melarikan diri lagi. 

 

"Pak Mingyu. Kak Wonwoo sudah selesai berenangnya." Hao berbisik. Suaranya bukan lagi suara pemuda biasa, melainkan lengkingan ganda yang saling bersahutan dengan geraman pelan makhluk buas. "Ayo kita pulang ke tempat kita."

 

Mingyu menggeleng hebat, masih memproses kejadian yang luar biasa aneh. Tubuh tegapnya menyembunyikan sang suami tercinta di balik punggung besarnya.

 

Hao tertawa.

 

Suara tawa itu melengking tinggi, memecah keheningan malam. Dia melangkah maju dengan gerakan patah-patah. Namun, begitu kakinya melewati batas pintu rumah, jimat kain kafan di tangannya mendadak terbakar dengan api berwarna biru pekat. 

 

 

Seketika itu juga, Hao menjerit histeris. Tubuhnya terjatuh ke lantai, kejang-kejang dengan hebat.

 

 

Entitas hitam yang selama ini mendiami jimat tersebut ternyata telah selesai menggerogoti seluruh sisa jiwa murni Hao. Ritual pengasihan yang dilakukan Hao di Gunung Kawi telah gagal total karena batinnya terlalu rapuh oleh obsesi dan penolakan Mingyu. 

 

Makhluk hitam itu tidak pernah berniat membuat Mingyu jatuh cinta; dia hanya haus akan darah dan raga baru. Dan malam ini, di hari ketujuh, tepat saat bulan purnama, kontrak gaib itu jatuh tempo.

 

"Panas! PAAANAAAS!!" Suara Hao melengking, kedua tangannya yang kurus bergerak mencengkram lehernya sendiri. 

 

Bukan Mingyu atau Wonwoo yang dia serang, melainkan dirinya sendiri. Di bawah kendali penuh entitas haus darah itu, jemari lentik Hao berubah menjadi seperti cakar. Dia merobek kulit leher dan dadanya sendiri dengan brutal. Darah segar berwarna merah kehitaman menyembur, mengotori lantai pualam putih rumah Mingyu.

 

 

 

Baik Mingyu atau Wonwoo tidak ada yang mampu menghentikannya.

 

 

 

Namun, kekuatan makhluk di dalam tubuh Hao terlalu besar. 

 

 

Dengan satu gerakan sentakan yang sangat kuat dan tidak alami, entitas hitam di dalam tubuh Hao memaksa kedua tangan pemuda itu untuk memutar kepalanya sendiri ke belakang hingga terdengar bunyi patahan tulang leher yang mengerikan. Tubuh kurus itu langsung ambruk, bersandar kaku di daun pintu dengan posisi kepala yang menghadap ke arah berlawanan. Nafasnya berhenti seketika. Sepasang mata yang kini kembali memutih itu menatap kosong ke langit-langit, menyisakan sisa senyuman janggal yang membeku di bibirnya yang bersimbah darah.

 

 

Ia telah mati, hancur berantakan oleh kegelapan yang dia undang sendiri demi sebuah cinta yang tidak pernah bisa dia miliki.

 

 

Lenyap total. 

 

 

Tidak ada jasad yang tertinggal di sana, tidak ada tulang yang tersisa. Di atas lantai pualam depan pintu rumah Mingyu, hanya ada tumpukan abu hitam kelabu yang dingin dan sehelai kuas coklat kesayangannya yang tergelosor pasrah di tengah abu tersebut. 

 

 

 

Pemuda itu telah menguap bersama kegelapan, meninggalkan keheningan malam yang teramat mencekam.