Work Text:
Satori menghela nafas berat, duduk di atas kloset sambil menatap hasil testpack di tangannya. Ada dua garis, di hari sebelumnya garis itu masih terlalu samar dan tidak meyakinkan tapi kali ini garisnya terlihat semakin jelas.
Dia hamil.
Tidak. Satori bukannya hamil di luar nikah atau hamil dari hubungan terlarang. Dia bukan merasa kecewa dan ketakutan karena dua alasan tersebut, pernikahannya dengan atlet voli terkenal bernama Ushijima Wakatoshi justru sangat membahagiakan dan penuh cinta.
Ketukan di pintu kamar mandi terdengar pelan, "kak, gimana hasilnya?" Tanya Yamaguchi, seorang kouhai favorit sekaligus asistennya sebagai chocolatier yang sedang berada di rumahnya karena Satori terlalu ketakutan untuk menghadapi kenyataan ini sendirian.
Setelah menguatkan hati, Satori meletakkan testpack di atas wastafel lalu membuka pintu kamar mandi. Yamaguchi telah berdiri di sana, menunggu jawaban dengan wajah tak kalah cemas.
"Aku bener-bener hamil, Tadashi." Ujar Satori berat.
Yamaguchi menatapnya iba lalu merentangkan tangan untuk menawarkan pelukan erat. Satori segera menghambur ke dalam pelukan itu, dia memang membutuhkan seseorang sebagai sandaran ketika suaminya memiliki tugas dinas di luar kota.
"Tadashi, gimana ini? Aku harus bilang apa ke suamiku?"
Melihat Satori yang biasanya sering bercanda kini tampak terpuruk membuat hati kecil Yamaguchi ikut kesakitan. "Ini harusnya jadi berita yang membahagiakan, kak."
Perlahan, Satori melepaskan pelukan, wajahnya masih sangat kusut karena kurang tidur dan menangis selama beberapa hari terakhir. Rambut merahnya lepek hingga poninya menutupi sebagian wajah, Yamaguchi menyingkirkannya agar bisa melihat jelas wajah lesu Satori.
"Aku tau, tapi Ushijima selalu bilang kalau dia berencana childfree. Gimana kalau dia ninggalin aku atau minta cerai karena kebobolan? Aku- aku gak sanggup bayangin dia pergi ninggalin aku! Tapi aku juga gak bisa diam-diam nyingkirin janin ini. Gimana pun juga, dia anakku dan Ushijima." Satori memegangi perutnya, air mata telah menumpuk di pelupuk matanya.
Yamaguchi menepuk-nepuk pundak Satori sebagai penguat. "Kak, kamu tau kan kalau waktu itu Tadahiro juga di luar dari rencanaku dan Kak Tetsu?"
Satori termenung, mengingat bocah berambut hitam dan mata emas seperti ayahnya serta bintik-bintik di pipi seperti ibunya. Tadahiro Yamaguchi, bocah yang mengambil marga ibunya karena sang ayah sempat tidak hadir pada masa awal kehidupannya. Satori ingat dia hampir menjambak rambut Kuroo karena telah menghilang di masa-masa Yamaguchi hamil.
"Lihat dia sekarang, dia jadi anak kesayangan kami. Kak Tetsu bahkan selalu manjain dia dan gak pernah biarin dia lecet sedikit pun." Yamaguchi tersenyum kecil mengenang sedikit masa lalunya. "Ushijima cinta kamu, kak. Dia bakal jatuh cinta ke seluruh bagian dirimu termasuk janin itu. Kamu harus obrolin ke dia dan gak boleh nyimpulkan sendiri, jangan ngelakuin kesalahan yang pernah aku lakuin dulu." Nasehatnya bijak.
Satori ingat bahwa hubungan Kuroo dan Yamaguchi sama sekali tidak jelas statusnya ketika Tadahiro tumbuh di perut ibunya. Yamaguchi memberikan nasehat sesuai pengalamannya karena pria omega itu menyembunyikan kehamilannya dari Kuroo, membuat pria super friendly itu merasa terkhianati dan pergi menghilang setelah mengetahui bahwa Yamaguchi diam-diam hamil anaknya.
Kisah cinta mereka berdua jauh lebih berlika-liku dibandingkan milik Satori dan Ushijima, tapi keduanya berhasil membesarkan Tadahiro menjadi bocah yang pintar dan berkepribadian baik hingga menjadi favorit semua orang. Bagaimana jika anaknya lahir nanti? Apakah dia akan berkepribadian tegas seperti sang ayah? Apakah dia akan setampan ayahnya? Bayangan bocah kecil dengan perpaduan sempurna antara Ushijima dan Satori membuat hatinya menghangat.
Tangan Yamaguchi meraih tangan Satori yang masih memegangi perutnya, berusaha menyalurkan keyakinan sebagai sesama omega. "Sekarang aku tanya, kamu mau ngejaga anak ini atau gak?"
"Aku mau." Jawaban Satori keluar tanpa banyak berpikir, dia bahkan terkejut pada ucapannya sendiri. Yamaguchi tersenyum kecil, menyiratkan rasa bangga pada sang atasan. "Aku harus ngomongin ini ke suamiku." Suaranya terdengar lebih bertekad.
Yamaguchi mengangguk setuju, tangannya menghapus bekas air mata di pipi Satori. "Sekarang telpon dia dan minta supaya dia bisa pulang secepatnya karena kalian perlu bahas hal penting. Kamu gak bisa terus nunggu dia dalam keadaan begini, stress gak baik buat kandungan."
"Tapi aku boleh minggat ke rumahmu seandainya Ushijima ngusir aku kan?"
"Dia gak akan ngusir kamu, kak."
"Kalau gitu aku boleh telepon kamu waktu Ushijima yang minggat dari sini?"
Yamaguchi tertawa kecil, menatap lembut pada omega yang tak berhenti overthinking tentang masa depan. "Kamu boleh telepon aku kalau ada berita baik."
.
.
.
Satori menggigiti kukunya ketika suara sambungan telepon berbunyi, kebiasaan yang pastinya akan dihentikan oleh Ushijima jika pria alpha itu ada di sini.
Telepon diangkat setelah dua nada dering, hari masih sore dan seharusnya Ushijima baru selesai bertanding. Namun, pria itu memang tidak pernah melewatkan satupun panggilan dari Satori di luar dari pertandingan karena dialah prioritas utama bagi seorang Ushijima Wakatoshi.
"Sayang, aku perlu ngomong sesuatu yang penting malam ini. Boleh aku minta kamu pulang lebih cepat dari sana?" Satori langsung bertanya tanpa basa-basi setelah mendengar sapaan lembut dari suaminya.
Telepon hening sejenak, membuat rasa gugup Satori meningkat. Apa Ushijima memiliki firasat tentang isi pembicaraan mereka?
"Boleh, sayang. Aku pulang setelah ini. Kamu butuh aku bawakan sesuatu?" Jawab Ushijima setelah beberapa detik ditelan keheningan.
Satori memegangi perutnya lagi, menggigit bibir gugup saat bicara dengan suara lirih. "Aku cuma butuh kamu, di sini."
"Aku pasti pulang malam ini. Tunggu aku."
.
.
.
Malam hari akhirnya tiba, Satori telah berusaha menghabiskan waktu dengan melakukan apapun yang dia anggap dapat mempercepat harinya menuju malam. Dia gugup setengah mati, padahal selama acara pernikahannya dengan Ushijima, dia tidak pernah gugup seperti ini.
Ushijima masih belum datang, dia melangkah mondar-mandir di ruang tamu mengelilingi sofa. Seluruh sisi rumah telah bersih dan makan malam di meja siap sedia karena Satori benar-benar sibuk seharian, tidak membiarkan kepalanya berpikir macam-macam sebelum Ushijima datang.
Yamaguchi berkata bahwa Ushijima mencintainya dan tidak akan kecewa padanya, Satori juga tau seberapa besar cinta pasangannya, tapi tidak ada jaminan bahwa Ushijima yang sangat tegas pada pilihan childfree itu mau menerima janin di rahim Satori. Jatuh cinta dan menikah dengan Ushijima adalah hal paling membahagiakan dalam hidupnya, tidak pernah terbayangkan di benak Satori bahwa Ushijima akan meninggalkannya atau meminta cerai.
Satori terlonjak panik ketika suara putaran kunci pintu depan terdengar di telinganya. Ushijima sudah sampai, mata Satori terasa panas ketika bergegas menghampiri suaminya yang baru selesai membuka pintu. "Sayangggggg! Maafff!" Teriaknya, berjongkok sambil menangis tersedu-sedu karena tidak sanggup menahan kesedihannya.
Wajah Ushijima jelas terkejut, ia berdiri mematung di pintu dengan koper dan paper bag di tangan. "Sayang, kenapa?" Suaranya terdengar lembut ketika sadar dari keterkejutan dan ikut berjongkok di hadapan Satori, tangannya mengusap air mata yang mengalir di pipi Satori.
"Aku gak mau kamu pergi! Aku takut kamu gak sayang aku lagi! Plisss, jangan tinggalin aku!" Mohon Satori di tengah isak tangis, memegangi lengan Ushijima erat-erat seakan takut pria itu benar-benar pergi jika dia melepaskannya.
"Sayang, aku gak akan ngerti kalau kamu gak jelasin alasan kamu takut aku pergi." Ushijima mengarahkah wajah Satori yang menunduk agar bertatapan dengannya. "Jelasin pelan-pelan kenapa kamu tiba-tiba kepikiran aku gak sayang kamu lagi. Aku dengarin."
Satori berusaha sedikit menenangkan diri agar bisa berbicara, dadanya masih naik turun tak beraturan karena nafasnya tersengal saat menangis. Ushijima menunggu dengan sabar, menciumi pipi basah omeganya untuk menyalurkan ketenangan.
Setelah beberapa tarikan nafas panjang, Satori akhirnya bicara dengan suara gemetar. "Aku hamil."
Waktu seolah berhenti di antara satu detik dan detik berikutnya, kata-kata Satori seakan menggantung di udara dalam keheningan panjang.
Tak ada suara, bahkan nafas pun terasa tertahan. Satori semakin merasa cemas, Ushijima memang pendiam tapi dia tidak pernah se-diam ini, dia menunduk karena tak berani menatap suaminya saat berkata ingin Satori melakukan aborsi atau ingin bercerai dengan Satori.
Sebelum Satori kembali membuka suara untuk meminta jawaban, Ushijima malah memeluknya erat-erat. Satori balas memeluk, khawatir ini akan menjadi pelukan terakhir mereka sebagai pasangan.
"Maafin aku udah bikin kamu hamil, sayang. Kamu boleh gugurin bayinya kalau kamu mau, aku bakal dukung apapun keputusanmu." Bisik Ushijima di telinganya.
Alis Satori mengernyit kebingungan, sama sekali tidak mengerti maksud Ushijima. Bukankah dia yang tidak mau memiliki anak selama ini???
Satori mendorong dada Ushijima hingga pelukan mereka terlepas, menatap kekasihnya heran. "Aku sebenarnya mau punya anak, bukannya kamu yang gak mau? Aku nangis ketakutan karena kamu yang minta buat childfree, tapi kenapa kamu malah minta maaf sudah hamilin aku?" Tanya Satori, jelas kebingungan karena bukan ini output yang dia bayangkan selama ini.
Ushijima menarik nafas berat, membalas tatapan suaminya yang masih bingung. "Aku jelasin pelan-pelan alasan aku mau childfree, tapi kita bisa obrolin sambil duduk nyaman, oke? Aku juga udah bawain kamu oleh-oleh." Dia menunjuk ke arah paperbag yang tadi dia jatuhkan.
Satori menoleh ke arah paperbag, menatap benda itu seolah meminta penjelasan tentang respon suaminya yang sama sekali tidak sesuai ekspektasi.
Sebenarnya ada apa sih?
.
.
.
Keduanya telah duduk dengan nyaman di sofa ruang tengah, Ushijima bahkan sempat menyeduh teh hangat di dapur sementara Satori duduk melamun saat menunggunya selesai.
Ushijima duduk bersandar pada sofa sementara Satori berada dalam rangkulannya, omega itu menyandarkan kepala di dada Ushijima untuk mendengarkan detak jantung teratur yang selalu membuatnya nyaman dan terlindungi.
"Sebenarnya alasan kenapa aku minta childfree, bukan karena aku gak mau punya anak sama kamu. Aku cuma... takut kamu bakal kesakitan." Jelasnya perlahan, tangannya menggenggam tangan Satori di pangkuannya.
"Aku kesakitan?"
"Ya." Wajah Ushijima sedikit memerah, ia memalingkan pandangan dari Satori. "Aku luar biasa cinta kamu, Satori. Aku gak bisa ngebayangin kamu kesakitan waktu hamil atau lahiran, aku takut karena ada banyak kasus orang yang gak selamat selama proses kelahiran."
Mata Satori berkaca-kaca saat menatap wajah sang kekasih, tidak menyangka bahwa alasan Ushijima memutuskan untuk childfree bukan karena dia tidak suka anak-anak atau tidak ingin memiliki anak dengannya, melainkan karena Ushijima amat sangat mencintainya hingga tak sanggup melihatnya sakit. "Sayanggg, manis banget... Kamu serius?"
"Serius." Tegas Ushijima dengan anggukan mantab. "Selain itu aku juga takut banyak hal. Aku takut hubungan kita bakal berubah kalau aku gak bisa jadi ayah yang baik buat anak kita. Aku takut ngebiarin kamu capek sendiri ngurus anak kita karena jadwal tandingku terlalu sibuk. Aku takut suatu hari nanti kamu berhenti jadi prioritas utamaku dan bikin kamu muak karena aku gak bisa ngebagi kasih sayang." Ia mencium lembut tangan Satori yang masih dia genggam.
Air mata Satori menumpuk di pelupuk mata, terharu pada besarnya cinta sang kekasih padanya. "Itu artinya kamu sebenarnya mau punya anak, tapi kamu punya banyak rasa takut?"
"Iya, sayang. Aku nyaman sama hidup kita sekarang, cuma ada aku dan kamu buat satu sama lain. Tapi aku juga sering berandai-andai gimana kalau kita punya anak, gimana keadaan rumah kita yang biasanya sepi kalau ada anggota keluarga baru. Gimana kalau kita pergi liburan buat nurutin permintaan si kecil, gendong dia yang ketawa bahagia karena punya orang tua yang hebat kayak kita." Ada jeda kecil, cukup untuk membuat semua percakapan terasa nyata. "Di balik semua rasa takutku, aku mau punya keluarga kecil sama kamu. Bahkan akhir-akhir ini aku sering mimpi tentang anak kecil, mungkin janin itu berusaha ngasih aku clue kalau omegaku hamil."
Satori menatap suaminya sejenak, Dadanya menghangat mendengar pengakuan itu. "Aku juga mau bangun keluarga kecil bareng kamu. Walau aku setuju tentang kemauanmu buat childfree, sebenarnya dalam hati, aku bener-bener mau ngeliat kita jadi orang tua. Aku percaya kamu bisa jadi ayah yang hebat, jadi jangan takut lagi ya? Little Ushi bahkan udah nemuin papanya duluan di mimpi." Ujar Satori seraya menangkup rahang Ushijima untuk diciumi bertubi-tubi.
Tangan Ushijima kini bertengger di pinggang Satori dan meremasnya lembut di setiap kecupan.
"Kita bisa coba buat ngelawan ketakutanmu. Kamu percaya aku kan, sayang?" Bujuk Satori meyakinkan suaminya.
Sudut bibir Ushijima terangkat pelan, matanya sedikit melembut ketika menatap cinta dalam hidupnya dengan penuh kasih sayang. "Sekarang aku yakin kita bisa, selama itu dilalui bareng kamu. Aku gak akan pernah biarin kamu nanggung semuanya sendirian, aku janji bakal selalu ada."
Satori tertawa kecil, lebih karena hatinya terlalu penuh oleh kebahagiaan. "Little Ushi pasti bangga sama papanya." Ujarnya seraya menarik tangan Ushijima ke atas perutnya.
Ushijima menatapnya sejenak, terlalu terharu untuk langsung bicara pada janin yang mulai tumbuh di perut omeganya. "Halo, Little Ushi," ia memulai ragu-ragu, "tolong jangan bikin mama sakit selama di sana ya? Sakitnya transfer ke papa aja, bebas biaya admin."
Candaan garing itu mendapat pukulan pelan dari Satori yang tertawa terbahak-bahak. Ushijima memperhatikan omeganya dengan penuh cinta sebelum menarik rahang Satori mendekat dan menekan bibirnya ke bibir Satori untuk menciumnya dengan putus asa dan berantakan, seolah-olah dia sedang tenggelam dan Satori adalah oksigennya.
Satori membalas ciuman itu, mencengkeram bahu dan lengan Ushijima, memasukkan lidahnya ke dalam mulut kekasihnya dan mengerang keras ketika Ushijima menghisapnya. Kedua pria itu menggerakkan bibir mereka dengan lembut, menikmati setiap detik ciuman itu.
Tangan Ushijima tidak diam saja selama ciuman berlangsung, menyusup masuk ke dalam pakaian Satori untuk mengusap dan menyentuh kulit perutnya secara langsung. Bayangan Satori dengan perut yang buncit karena mengandung anak mereka cukup membuat Ushijima semakin bersemangat dalam ciuman mereka, memancing rintihan lembut Satori.
Ciuman semakin terasa intens karena sensasi gigi yang bergesekan, lidah yang saling beradu, dan bibir yang saling menempel erat diantara keduanya. Ushijima membalas ciuman Satori dengan penuh gairah, menekan tubuhnya ke Satori dan menciumnya dengan liar.
Ushijima dengan senang hati menelan rintihan panas yang dikeluarkan Satori saat dia melahap bibir dan lidah yang manis itu, ibu jarinya mengusap pipi Satori dengan lembut, sesekali menangkap sedikit air liur yang keluar dari ciuman mereka.
Pergeseran berat badan Ushijima di sofa sedikit terjadi ketika ia memilih untuk merebahkan diri ke sandaran tangan, menyebabkan tubuh Satori lebih membungkuk ke depan dada Satori sehingga hampir berbaring di atas sana. Baju Ushijima kusut karena cengkraman erat Satori di tengah ciuman mereka, tangan kuatnya masih berada di pinggul Satori, mencengkeramnya dengan lembut, menahannya di tempat agar tidak terguling ke bawah sofa. Setelah ciuman terlepas, mata Ushijima tak lepas dari Satori yang benar-benar terlihat sangat seksi ketika terengah-engah di atas dadanya dengan bibir merah dan bengkak.
"Aku cinta kamu!" Satori berseru penuh semangat, merebahkan kepala di atas dada bidang suaminya lagi.
"Aku juga cinta kamu." Balas Ushijima, keduanya memejamkan mata sejenak untuk menikmati keheningan yang membahagiakan atas berita baik ini.
Sebentar lagi mereka akan memiliki keluarga kecil, belajar menjadi orang tua untuk yang pertama kalinya. Meski sulit dan harus melewati berbagai macam ketakutan, mereka memiliki satu sama lain untuk menghadapinya berdua. Pasangan itu memilih untuk melangkah bersama menuju masa depan bersama si kecil yang diam-diam telah dinantikan keberadaannya.
"Oh iya, kenapa sebutannya Little Ushi? Kenapa gak Little Satori?" Ushijima bertanya heran setelah sekian lama hening.
"Aku ngerasa dia bakal 90% mirip kamu deh." Satori terkikik membayangkan suaminya dan kloningan versi kecil dari suaminya bersama, tentu saja dengan wajah datar mereka yang sama persis. "Lucu banget ada dua Ushi di rumah."
Yah, benar, lebih baik begitu. Dua Satori pasti akan meluluhlantakkan seisi rumah setiap hari.
.
.
.
(5 jam sebelumnya)
Ushijima menatap telepon yang sambungannya telah terputus, duduk diam di bangku panjang ruang ganti setelah menjawab telepon Satori. Dia jelas kebingungan karena selama menikah dengan Satori, tidak ada pembicaraan penting yang membuatnya harus buru-buru pulang meski sedang bertanding di luar kota. Dia bisa mendengar bahwa suara Satori bergetar meski melalui telepon.
Pembicaraan ini pasti luar biasa penting.
"Ngapain natap telepon segitunya?" Kuroo yang kebetulan merupakan manager timnya bertanya santai pada Ushijima, berdiri di ambang pintu ruang ganti sambil melipat tangan di depan dada.
"Satori minta aku pulang malam ini."
"Bagus. Kita bisa pulang lebih cepat karena aku juga kangen istri dan anakku di rumah," ujar Kuroo yang kini ikut duduk di sisi lain bangku panjang, memakai setelan jas kebanggaannya.
Ushijima menghela nafas pasrah, "kenapa kamu juga pulang? Aku yang punya urusan sama Satori, lagipula masih ada after party buat perayaan kemenangan nanti malam."
"Kita berangkat sama-sama berarti harus pulang sama-sama, itu bukan party yang wajib dihadirin. Tapi tunggu dulu! Aku belum beli oleh-oleh buat istri dan anakku kalau pulang malam ini juga!" Kuroo berucap panik, bangkit dari bangku panjang sambil menjambak rambutnya sendiri secara dramatis.
"Tadahiro sudah besar ya. Dia makin tampan." Ujarnya ketika teringat anak Kuroo yang sering menempelinya setiap kali bertemu.
Kuroo tersenyum bangga, menunjukkan wallpaper handphone yang berisi fotonya bersama Tadahiro dan Tadashi di taman bermain. "Oh jelas! Bibitku dan Tadashi memang bibit unggul!"
Ushijima menatap wallpaper handphone-nya yang hanya menampilkan fotonya berdua dengan Satori. Terkadang ada rasa iri yang hinggap di hatinya setiap kali Kuroo bicara tentang anak kebanggaannya yang kini berusia empat tahun.
"Kalau iri, buat anak juga lah. Siapa tau anak kita cocok dan bisa besanan, age gap empat tahun gak terlalu besar lah ya buat mereka berdua. Aku dan Tadashi beda dua tahun." Kuroo berceloteh setelah membaca pikiran Ushijima dengan ajaib.
"Aku mau punya anak, tapi aku gak bisa bayangin Satori ngerasa kesusahan selama hamil dan melahirkan."
"Kamu cuma perlu ada di sampingnya! Rasa sakitnya gak akan kerasa kalau selalu didampingi suami!" Potong Kuroo penuh keyakinan.
"Aku gak butuh nasehat dari orang yang ngebiarin istrinya hamil dan lahiran sendirian."
Kuroo menggaruk kepala, jelas tersindir pada ucapan tajam Ushijima. "For your information, dia belum jadi istriku waktu itu, tapi aku gak bisa ngelak kalau itu bener-bener dosaku yang paling gak bisa dihapus ataupun ditebus selama hidup." Ia mengaku kalah. "Lagipula istrimu itu omega tangguh, ketakutanmu gak akan berguna buat khawatirin dia."
"Satori memang tangguh, tapi aku masih takut. Proses lahiran omega laki-laki lebih berisiko dan memakan banyak korban meninggal, aku gak bisa bayangin hal itu terjadi ke Satori." Ushijima mematikan layar handphone-nya, menatap wajah sang kekasih ketika berada dalam pembicaraan berat akan membuatnya semakin emosional.
"Ah tapi ah tapi, bagaimana mau sakses kalau kebanyakan ah tapi?" Sahut Kuroo yang telah berdiri di hadapan Ushijima. "Sekarang kutanya, kamu harus jawab dari lubuk hati terdalam. Kamu mau punya anak?"
"Aku mau." Jawaban refleks yang Ushijima pikir tidak akan berani dia ucapkan secara gamblang. "Aku mau punya anak bareng Satori. Bahkan akhir-akhir ini aku sering mimpi tentang anak kecil yang manggil aku ayah."
Tentu saja Kuroo tau seberapa besar keinginan Ushijima untuk memiliki anak. Meski terlihat sangat tegas dan teguh pendirian tentang childfree, cara Ushijima menggendong dan mengasuh Tadahiro telah menunjukkan bahwa dia sangat siap menjadi seorang ayah. Kuroo yakin temannya ini akan menjadi ayah yang hebat jika memiliki anak.
Notif handphone Kuroo berbunyi nyaring, "oh chat dari istriku!" Pria itu tersenyum lebar ketika melihat nama kontak Tadashi di layar dan mulai membuka chat. Ushijima memerhatikan ekspresi kaget Kuroo sedikit muncul sebelum pria itu berdehem singkat dan kembali berpura-pura tenang.
Ushijima mengerutkan kening heran. "Ada berita buruk?"
"Berita baik!" Kuroo mengangguk yakin, berjalan keluar ruang ganti untuk menjauhi Ushijima. "Kamu harus pulang dan nemuin Satori malam ini! Habis itu kita obrolin lagi tentang gagasanku tadi!"
Kuroo pasti sedang menelepon Yamaguchi atas berita yang dibawakannya. Ushijima menduga ada kaitannya dengan Satori, yang artinya maksud pembicaraan penting mereka bukanlah berita buruk.
Lamunan Ushijima berhenti saat mengingat ucapan Kuroo sebelum pergi. "Ngobrolin gagasan tentang apa???"
