Work Text:
Hari ini hari Minggu, pria bersurai merah itu hanya bergoler di kasur sambil bermain ponsel. Kaki jenjangnya terekspos karena ia hanya mengenakan kemeja kebesaran milik suaminya, Harris bergelung di balik selimut sambil bergumam bosan. Ia merindukan Arion, suaminya. Karena ini hari liburnya, suaminya tak mengizinkan dia melakukan pekerjaan apapun, mengetahui kebiasaan buruk Harris yang tidak suka beristirahat maka ia sembunyikan ponsel kerjanya beserta laptop yang berisi file-file pekerjaan.
Pagi-pagi sekali, tadi Harris bangun dan mendapati Arion sudah mengenakan kaus hitam press-body yang menunjukkan lekuk berotot suaminya. Arion sempat mengajaknya jogging, sih, tapi Harris tidak mau ah, dia ingin pilates saja pagi ini.
“Ayis, sayang, aku nanti sore izin main boleh nggak? Kayaknya nggak sampe malem juga, besok aku ada meeting pagi,” ucap Arion sembari mengisi air minum. Harris yang tengah menaiki anak tangga untuk bersiap ganti baju sontak menoleh, ia mengerutkan alisnya heran,
“Tumben? Biasanya Minggu malem gini maunya sama aku di rumah. Kemana nanti?” balas Harris sembari berkacak pinggang,
“Sebentar aja kok, sayaaang. Ke tempat Sadewa, mau ngomongin bisnis, nanti ada Gin sama Arjuna juga. Boleh ya?” Arion berucap sambil berjalan ke arah Harris, kemudian ia tarik pinggang ramping suaminya itu, sebelah tangannya meraih wajah Harris, ia beri kecupan-kecupan kecil di ujung bibir dan kening suaminya. Tangan Harris mengalung pada pundaknya, sedikit berjinjit dan balas menciumi bibir Arion dengan kecupan-kecupan basah, Arion terkikik geli, lalu ia tangkup dan bawa bibir lelakinya dalam lumatan lembut.
“Iyaa boleh kalau gitu, tapi inget! Nggak boleh mabok dan pulang terlalu malem. Aku nggak mau bukain pintu kalau kamu pulang kemaleman,” tukas Harris setelah ciumannya terlepas.
Arion tersenyum senang, ia curi kecupan kecil di pipi gembil suaminya,
“Thank you so much, cantik. Aku berangkat dulu ya sayang!”
Maka disinilah ia sekarang, setelah kembali dari pilates, Harris sarapan dan menonton film. Ia juga bermain gim di komputer miliknya hingga jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Ia tak perlu membereskan rumah lagi, karena sebelum ia pulang, Arion sudah lebih dulu kembali dan membersihkan rumah mereka, keduanya memiliki pembantu rumah tangga, namun khusus pada hari Minggu, mereka sepakat untuk membersihkan sendiri.
Harris sudah hampir mati kebosanan. Siang tadi, ia sempat menelepon Ruby— sahabat dekatnya, untuk keluar bersama hari ini namun ternyata sahabatnya itu lebih memilih pergi kencan.
Tak lama setelah Harris menghubungi Arion melalui pesan, ia mendengar derap kaki mendekat, ternyata Arion sudah datang. Harris beranjak dari kasur dan berlari keluar kamar, terpampang wujud sang suami yang hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan terlipat tanpa dasi dan celana kain, Harris berlari dan ia melompat ke arah gendongan Arion,
“Heup! Jago gini bos nangkepnya, kuat kali aku, kangen ya ini aku tinggal seharian? Gila banget siapa sih suaminya, masa secantik ini ditinggalin sendirian?” ucap Arion sembari membawa Harris di gendongannya yang menempel seperti Koala, Harris memukul pipinya pelan,
“Tau, tuh. Suaminya nicsap kali?”
“Sembarangan, suami aku ini,” balas Arion disertai kekehan dan membawa Harris menuju kamar mereka.
Sesampainya di kamar, Arion meletakkan suaminya perlahan dan mengukung Harris di bawahnya, dia pandangi wajah cantik yang terlihat sayu, matanya bergerilya ke bawah, ia tersenyum tipis kala menyadari Harris tengah mengenakan kemeja miliknya yang belum tercuci. Ia memandang gemas, Arion menyingkap surai merah ke belakang telinga sang empunya,
“Kenapa pake baju aku yang belum dicuci ini, mm? Are you needy?” Harris sedikit memerah mendengarnya, yang membuatnya semakin cantik dan memancing gairah pria bersurai ungu itu.
“Look at you Harris, how can you be this small wearing my shirt? Your size aren't even that small but now you look pretty tiny. Look so goddamn gorgeous, my pretty wife. You look like a rose in bloom,”
Harris yang mendengar pujian tak berhenti itu merasa ingin, ia ingin disentuh lebih oleh Arion, ia ingin dipuja dan dilecehkan seluruh tubuhnya.
“Mmh–ah, papi.. i want your hands wrapped round my neck, fill me up. Penuhin aku sampe hamil, biar nanti—nanti.. aku dipanggil mami,”
Lenguhan isyarat haus cinta keluar sempurna dari bibir kecil milik Harris, kalimat tak senonoh yang buat nafsu Arion hilang diambang batas terbawa angin. Kepalanya sudah tak bisa diajak kompromi menangkan waras, isi pikirannya hanya bagaimana ia mengabulkan permintaan lelakinya untuk hamil, membawa anak mereka dalam perutnya. Senyum terpaut bak iblis, tangan Arion bergerak melucuti satu-satunya kain yang menempel pada tubuh Harris, ia sematkan ciuman dan gigitan kecil pada leher putih bak porselen itu, meninggalkan jejak cinta yang ia rapalkan lewat mulutnya.
“Kamu dari tadi liatin aku kayak nggak pernah aku pake, kenapa sih nggak sabar? Murahan banget”
“Aku mau dipake sama kamu, mnghh, mau dipenuhin, dipake sampe tolol, sampe ingetnya cuma kontol kamu. Ayo.. ayo Arion, hamilin aku. Aku mau jadi mami!” Arion yang mendengar kalimat kotor yang keluar dari mulut suaminya beranjak turun, jemarinya bergerak menjelajahi bulatan sekal dibawah, kepalanya turun, ia buka belahan pantat Harris dan melihat kerutan tersebut sudah dibanjiri cairan.
“Belum diapa-apain udah banjir, lubangnya sering dipake ya begini ini,” Arion berucap sambil memasukkan satu jari kedalam lubang senggama suaminya—hangat dan sempit. Ia maju mundurkan telunjuk yang masuk, sedang yang dikerjai bergerak gelinjangan dengan desahan yang terus keluar. Arion menambahan dua jari ke dalam lubang Harris, bergerak pelan maju dan mundur membuat sang empunya menggoyangkan pantatnya sendiri guna mencari kenikmatan.
Tangannya terus bergerak dengan gerakan menggunting, Harris mendesah hebat, tangannya mencengkram bahu kekar suaminya,
“Lagi lagi aahhn! Lebih dalem, Arion,”
Kepala Arion bergerak turun seraya mengeluarkan tangannya dari lubang Harris setelah menggodanya habis-habisan, si cantik bersurai merah mendesah kecewa merasakan kekosongan dalam lubang senggamanya, ia menginginkan penis Arion. Harris mau dipakai sampai lupa cara berjalan.
Kepala Arion bergerak turun, ia menjilati kerutan melingkar yang sudah basah total setelah ia kerjai, lidahnya menerobos masuk meraba jalan kenikmatan suaminya membuat kedua paha Harris menutup dan mengapit kepala suaminya karena keenakan,
“AAHH— Arion! Papi, ngh, ah.. enak, lubang aku enak.. ahh”
Pria bersurai ungu itu melepas jilatannya pada anal Harris, “Ini bukan lubang, aku udah ajarin berkali-kali kan sama kamu? Punya Ayis namanya apa? Katanya mau dipanggil mami, berarti kalo mau hamil harus punya apa?”
“Memek, Harris punya memek. Memek Harris enak, mau disumpel kontol Papi. Mau dipenuhin pake peju, mau dikencingin.. huhu.. Ayis mau hamil, Ayis mau dipanggil mamii!”
Arion tersenyum senang mendengar jawaban Harris, kemudian tangannya bergerak melepas celana dan seluruh pakaian miliknya, kejantanannya yang telah mengeras itu berdiri menanti untuk di puaskan. Arion menarik laci sebelah kasur yang terdapat lube, ia tuangkan dan mengoleskan melumuri penisnya. Tangannya mengocok pelan dan memasukkan sedikit demi sedikit kedalam lubang senggama Harris. Ketika penisnya masuk sempurna, Arion tak langsung bergerak, ia biarkan Harris menyesuaikan diri, tangan kanannya bergerak meraih penis Harris yang tak tersentuh sama sekali sebelumnya, tangan kirinya mengelus abdomen bawah pria bermanik kuning di bawahnya, ini dia—
Tonjolan penisnya yang menggembung di perut Harris. “Gerak pleas—shh, hah, wreck me and do me whatever you want,”
“As you wish, princess,”
Arion menggerakkan pinggangnya, hentakan demi hentakan ia lakukan dengan ritme yang tak begitu cepat, tangan kanannya ia gerakkan terus mengocok penis Harris dan tangan kirinya beranjak memainkan tonjolan bengkak di dada suami cantiknya. Jarinya menjepit puting coklat kemerahan itu, ia gesek dan memutari areola hingga buat sang empunya melengkungkan punggung.
Sodokannya dibawah masih tetap cepat. Harris yang menerima godaan dari segala arah– penisnya, putingnya dan lubang cintanya, ia kewalahan, desahnya bercampur tangis frustrasi dan kenikmatan, merapalkan nama Arion seolah jika ia berhenti kenikmatan yang ia rasa akan menghilang.
Tangan berpindah melepas permainannya pada puting Harris, kepalanya turun merain bibir yang kini merah bak permen, ciumannya merogoh separuh kewarasan Harris. Ia melumat bibir bawah Harris dan menginvasi mulutnya, lidah mereka saling membelit satu sama lain, Arion menjulurkan lidah yang kemudian disesap oleh Harris. Lumatan keduanya menjadi lebih intens dengan gerakan pinggul Arion yang tak memelan sama sekali di bawah sana.
Tangannya yang masih terus mengocok penis milik Harris ia percepat tempo gerakannya, kemudian saat ia merasakan penis di genggamannya membesar ia usap lubang kencing Harris menggunakan kukunya. Ciuman mereka yang masih berlanjut terlepas kala Harris melenguh dan menangis sembari menepuk dada Arion, kakinya yang menggantung di udara kini merangkul pinggang Arion seolah menyuruh suaminya memasukkan penisnya lebih dalam lagi dan tak mengizinkannya keluar.
“Too much aahh hah, ngghhh! Arioonhh, lebih dalem lagi, hik-eungh, fuck i'm close,”
Arion yang melihat Harris menangis dibawahnya terlihat sangat cantik, lantas ia percepat kocokannya pada penis Harris, hingga pada lima kocokan terakhir semburan mani keluar membasahi perut Harris dan dada Arion. Punggung Harris melengkung dan perutnya bergetar, namun Arion tidak memberinya waktu menikmati orgasme,
“Sekarang giliranku, Ayis. Aku pejuin kamu sampe penuh, biar hamil anak aku. Mau, ya? Jadi mami?”
Harris bergerak tak beraturan, badannya berusaha bergerak mundur membebaskan diri dari sodokan pada analnya yang tak berhenti, “AAHHH too much! aku mnhh masih sensitif Arion! Oh no,”
“Kalo ditanyain itu dijawab Ayis. Did i ever taught you to be naughty like this?”
Melihat Harris yang berusaha kabur dari sentuhannya, tangannya meraih pinggang Harris dan bergerak dengan tempo yang sama. Harris menangis. Tangan kanan Arion melepas pegangannya pada pinggang Harris kemudian meraih leher Harris, ia menekannya yang mengundang dua tangan Harris memegangi lengan Arion yang mencengkram lehernya
”huhu.. hah, eeunghh, iya mau. Mau hamil anak kamu, shh hah ah– aku mau jadi mami buat anak-anak, Arion please please, mnghh,”
“Pinter, mulutnya dipake. Nggak kayak perek. Nih, berasa nggak kontol aku di perut kamu? Nonjol begini nyundul rahim kamu nggak, ya? I'll fill you up and piss inside you,”
Arion merasa orgasmenya sudah dekat, ia mempercepat gerakan pinggulnya yang menimbulkan bunyi tak senonoh yang ditimbulkan oleh pahanya dan pantat Harris yang bertabrakan. Ia menggoyang pinggangnya, lalu pada sodokan terakhir, ia tarik hingga tersisa kepala penisnya yang berada di dalam lubang Harris, kemudian ia hentakkan kencang pelepasannya di dalam perut Harris. Di saat yang sama, penis Harris mengeluarkan cairan bening dan muncrat membasahi keduanya, pahanya bergetar hebat karena overstimulasi.
Nafas keduanya bersahutan. Berat nafas keduanya saling menjawab, Arion melepas penisnya dari anal Harris yang kemudian disusul lelehan putih kekuar membasahi sprei. Arion beranjak menempatkan dirinya disamping suami kecilnya, wajahnya menghadap perut Harris dan menyelipkan sebelah tangannya pada pinggang Harris untuk memeluknya. Ia menggesek-gesekkan wajahnya pada perut Harris,
“sayang, sayangku hamil ya. Terima kasih sudah menjadi suami aku, you'll be a good mami one day, i love you so much” tangannya bergerak mengusap-usap perut Harris. Yang dipuja memerah, tangannya terulur mengelus kepala Arion. Harris tersenyum,
“hehehe, aduh.. geli Arioonn. Kamu belum cukuran, ya?” sahut Harris sambil kepala Arion tetap ia usap,
“Mm, belum. Jawab duluu, mau yaa, Ayis.. Ayisku. Hamil anak aku, ya?” Yang dilontari pertanyaan tertawa geli. Ia menggelengkan kepala pelan, yang awalnya ingin dipanggil mami siapa, tapi lihat sekarang, siapa yang terus merayunya untuk hamil?
“Iyaa mau sayaaaang,” Arion menciumi perut di dekapannya yang ia elus penuh sayang, kemudian bangun dan mengangkat Harris menggendongnya seperti pengantin baru,
“Hehe. Yuk mandi? Cukurin aku, nanti aku cukurin kamu juga. Sayang mau treatment nggak besok? Aku temenin ya? Ya ya ya?
Harris yang mendengar sontak tertawa gemas, ia mengalungkan tangan kanannya. Suaminya ini hanya besar badannya saja, tingkahnya tetap menggemaskan seperti awal ia mengenal Arion pada bangku SMP.
“Alasan aja kamu mau bolos kantor. Mandiin aku cepet. Nanti boleh temenin aku”
“YES! Hehe aku temenin suamiku hari ini!”
Arion menciumi pipi dan leher Harris yang berada di gendongannya. Keduanya tertawa. Malam ini bahagia sekali. Pad pernikahan mereka yang menginginjak tahun keempat, api cinta mereka tidak pernah mati atau meredup. Harris seperti memenangkan lotre terbesar dan keberuntungannya sekali seumur hidup dengan memutuskan untuk menikah dengan sahabatnya. Mereka bahagia. Dan semoga Tuhan beri keduanya umur panjang untuk terus mengabdikan cinta keduanya di tempat yang mereka tempati.
Selesai.
