Actions

Work Header

dua liter sehari

Summary:

Anaxa seringkali lupa minum air putih. Sebagai kekasih yang perhatian, Phainon tidak bisa membiarkannya! Misi supaya Anaxa selalu terhidrasi: dimulai.

Atau;

Anaxa pipis (literal) lalu dibuat pipis lagi (kiasan) dan dijadikan tempat pipis (kiasan dan literal).

Notes:

bukan bokep kampung tapi ditulis dengan satu tangan

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Anaxa, sesuai dengan reputasinya sebagai sosok yang terpelajar, mengingat banyak hal; sejarah tentang peradaban lampau, rumus-rumus stoikiometri yang buat kepala muridnya kacau, atau rentetan ide gila lainnya yang sulit nalar jangkau. Namun, seringkali ia abai dan lupa akan hal-hal kecil tapi penting. Minum air putih, salah satunya.

 

Sebagai kekasih yang perhatian, Phainon tidak bisa membiarkannya! Lantas ia mulai misi tersendiri supaya kekasihnya selalu terhidrasi. Langkah utama yang Phainon lakukan ialah, tentunya, membeli botol minum ukuran dua liter. Pun Anaxa sempat mendelik akibat pilihan warnanya, bukankah yang terpenting itu fungsinya? (Phainon mengelak dengan alibi hanya tersisa warna ungu-kuning).

 

“Sayang… Minum, ya?” pinta Phainon sembari menunjukkan raut paling memelas—senjata yang biasanya super ampuh untuk buat Anaxa luluh. Tetapi…

 

“Nanti. Aku belum haus.”

 

“Sedikit aja, Anaxa. Ingat, dua liter sehari!” Phainon menempelkan botol minum pada pipi kekasihnya.

 

“Nggak mau, Phainon. Aku udah kembung.” tolak Anaxa sekali lagi.

 

Mustahil bila Phainon menyerah. Biarpun Anaxa nantinya merajuk, Phainon akan tetap gigih membujuk. Ia terdiam sesaat sambil menyusun siasat, sekiranya lintas ide brilian yang dapat membungkam penolakan kekasihnya.

 

Membungkam, ya?

 

Phainon melirik botol minum dalam genggaman lalu beralih pada bibir Anaxa yang sedikit maju sebab konsentrasi mendalam. Ia mengangguk pelan, tidak terlihat oleh Anaxa yang terpaku dengan bacaan. Senyuman terukir tipis pada parasnya yang tampan.

 

Patut dicoba, batin Phainon.

 

“Anaxa, sayang,” panggilnya. “Naxy.”

 

“Apa—” Phainon dan kegemarannya dalam memotong ucapan Anaxa. Mulutnya itu memang pandai ia gunakan; baik untuk menanggapi segala tuturan maupun meluncurkan cumbuan.

 

Anaxa tersirap akibat ulah mendadak—dan nakal—Phainon. Buku di genggamannya terselip ke lantai. Mau tidak mau, katup bibirnya terbelangah hingga memberi celah yang sedianya Phainon tunggu-tunggu.

 

Lantas Phainon memindahkan seteguk air putih yang telah diam-diam ia simpan di dalam mulut. Sedikit demi sedikit aliran itu melewati celah yang menyatukan bibirnya dengan milik kekasihnya. Tetesan yang tidak tertampung merayap turun lalu singgah di ujung dagu sebelum akhirnya jatuh membasahi kerah baju. Phainon enggan berhenti sebelum Anaxa menenggak habis minumannya.

 

Wajah Anaxa bersemu merah seusai pagutan mereka dilepas. Ia mendongak, menampilkan sorot jengkel sekaligus malu yang, sayangnya, hanya menambah tingkat gemas. (Tentunya dipandang melalui kacamata nuansa merah muda milik Phainon).

 

Segera Anaxa meraih botol minum untuk meneguk sisa air sambil melirik Phainon lewat ekor mata, memastikan bahwa tatapan kekasihnya tak lepas darinya.

 

“Puas?” Anaxa menyeka setitik air yang tertinggal di sudut bibir kala menunjukkan botol yang sudah kosong.

 

Misi Phainon dapat dibilang sukses; ia berhasil membuat Anaxa minum dua liter air putih pada hari ini. Alih-alih memusatkan fokus pada pencapaian kekasihnya, manik Phainon tidak dapat beralih dari tumpahan air yang berderai, melintasi perbatasan antara leher dan dada sang kekasih, kemudian tiba untuk kian membasahi kemeja putih. Kulit polos mengintip melalui kain yang tak lagi sepenuhnya putih—setengah transparan.

 

Phainon meneguk saliva.

 

Apa pentingnya sebuah botol kosong ketika ia dihadapi pemandangan seperti ini? Bahkan walau Anaxa bergeming tanpa reaksi, kekasihnya itu tetap yang paling seksi. Memang tidak seharusnya Phainon menilai dirinya terlalu tinggi. Terlebih, mengenai kontrol diri.

 

“Hm,” Phainon bergumam jahil sembari menarik batang tubuh sang kekasih supaya mendekat. Tanpa rasa malu ia menekan gundukan tengah celananya pada paha Anaxa hingga rona di pipi kekasihnya semakin pekat. “Belum puas.”

 

Anaxa mendengus, “Wah, benar-benar cabul.” Pun lengannya sudah melingkari leher Phainon. Kilatan hasrat di maniknya nyaris tidak terlihat kalau saja terdapat ruang berlebih di antara mereka.

 

Ada kalanya Phainon bertingkah seolah memasuki musim kawin. Gelagat remeh kekasihnya bisa saja terlihat sensual kalau selangkangannya berkata lain. Anaxa juga jauh dari kata suci—ia pun menikmati setiap momen dirinya dan Phainon saling terjalin. Kehadiran Phainon membuat Anaxa teringat oleh efek ketika ia pertama kali menyeruput kafein; jantung yang berdebar-debar, kaki yang lemas bukan main. Saat berada dalam dekapannya, Anaxa hanya ingin menyerahkan diri dan meleleh di bawah sentuhan Phainon layaknya sepotong margarin. Dengan kata lain; Phainon membuat celana dalamnya lembab nan licin.

 

Phainon menghembuskan gelak tawa, sama sekali tidak terganggu oleh cibiran yang dilontarkan Anaxa. Toh, tidak ada yang salah dengan perkataannya.

 

“Cabul karena kamu.” candanya sebelum mengikis lebih banyak jarak, bibirnya bergesekan dengan milik Anaxa.

 

“Ucapanmu kayak jamet.” Anaxa kembali mendengus geli. Menanggapi pergerakan sang kekasih, ia memagut bibir Phainon. Tidak ada seteguk air untuk dibagi, digantikan oleh tarian lidah dan benturan gigi.

 

Lagi-lagi Phainon tidak memusingkan ejekan kekasihnya. Bukan karena ia betulan memandang dirinya sebagai jamet, melainkan permainan mulut Anaxa teramat memabukkan sampai-sampai benaknya tidak mampu merangkai balasan.

 

Jantung Phainon bersemarak saat Anaxa mempersilakan dirinya mengambil kendali. Jari-jemari lentik itu menahan tengkuk Phainon supaya sedikit merunduk, menyerahkan sisa nafasnya selagi belum habis—mendambakan cumbuan yang lebih intim. Didorong oleh nafsu yang terus melonjak, Phainon mengindahkan permintaan Anaxa. Ia menjerat belah bibir sang kekasih di antara giginya, menggigit-gigit pelan sebelum disesap—lembut, awalnya, lalu beralih rakus. Padahal yang sering lupa minum ialah Anaxa, tetapi malah Phainon yang haus.

 

Tangan Phainon yang tidak kenal diam kian menjelajah, menyusuri lekuk tubuh kekasihnya yang indah. Ia meraba Anaxa seakan mengingatkan letak-letak yang pernah ia jamah; bahu sempitnya, pinggang rampingnya, lalu bongkahan kenyalnya (Phainon tidak bisa menahan diri untuk tidak meremasnya).

 

Saat Anaxa terengah, barulah cumbuan mereka terpecah. Phainon memandangi wajah manis kekasihnya—untuk yang kesekian kali hatinya bagaikan tertusuk panah. Tatapan hangat Phainon membuat Anaxa lengah, terbuai oleh afeksi yang berlimpah. Ia telat menyadari pergerakan Phainon; jemarinya satu per satu memapas kancing kemeja Anaxa hingga kain itu meluruh ke bawah.

 

“Naxy…” bisik Phainon sembari memaparkan ciuman-ciuman ringan pada ceruk leher Anaxa.

 

“Tunggu, Phainon,” Anaxa seketika menjauh, telapak tangannya menahan wajah Phainon supaya menghentikan kegiatannya. Phainon nyaris berasumsi buruk andai saja Anaxa tidak segera melanjutkan. “Kayaknya aku harus ke kamar mandi.”

 

“Udah telat kalau mau kabur, sayang.” Phainon terkekeh menanggapi ucapan Anaxa. Tanpa mengindahkan pembelaan dari kekasihnya, ia menyelipkan kedua tangannya di bawah bokong Anaxa lalu menempatkan tubuh ringkih itu di atas meja. Sisa pakaian yang masih melekati tubuh Anaxa dengan tangkas Phainon singkirkan.

 

“Phainon!” pekik Anaxa, tidak sempat menutupi area intimnya lantaran Phainon lebih dulu memposisikan diri di antara kedua kakinya. Phainon melangsungkan aksinya; menangkap tungkai Anaxa lalu menjalari jenjangnya dengan kecupan. Mulut pandainya kian menjamah demi memulas kembali jejak-jejak kepemilikan yang mulai pudar.

 

Anaxa tidak berdaya di bawah kendali mutlak kekasihnya. Sentuhan mahir Phainon membuat sekujur tubuhnya terasa geli hingga perutnya semakin menegang tak nyaman. “Phainon…” rengeknya, “Aku serius—aku … ingin pipis…”

 

Bagi Phainon (yang kini telah memasuki mode raja porno), peringatan Anaxa lebih terdengar seperti godaan untuk melonjakkan hasratnya layaknya tuts paling kanan piano; sangat tinggi—bahkan tak tertandingi oleh rentang nada seorang soprano. Selangkangan Phainon semakin terasa sesak akibat nafsunya yang membara lebih panas dari inferno.

 

“Mhm, aku memang berniat bikin kamu keenakan sampai ingin pipis, kok.” Dengan entengnya Phainon merespons, entah masih tidak percaya atau tidak peduli. Satu-satunya yang ia inginkan adalah membuyarkan akal sehat kekasihnya hingga Anaxa hanya dapat meracau dan memohon untuk dihamili.

 

“Jangan disempitin, sayang.”

 

Kedua jari Phainon membuka labia Anaxa, lalu ia memandangi bagaimana kekasihnya bersusah-payah menahan otot-otot demi menutup akses ke liang sempitnya. Bohong kalau Anaxa mengaku tidak terjangkit nafsu yang Phainon hantarkan. Hanya saja, itulah satu-satunya cara yang dapat Anaxa lakukan untuk menunda aliran hangat memancur bebas.

 

“Phainon… Ah!”

 

Phainon tidak tanggung-tanggung dalam meluncurkan aksi nakalnya. Ia mendorong wajahnya sembari menjulurkan lidah, lantas diseret melintasi kelopak lembab kekasihnya. Jelas-jelas tubuh Anaxa sudah tidak sabar untuk digerayangi—lihat saja bagaimana selangkangannya terus-menerus membasahi diri. Namun empunya masih saja enggan menyongsong segala sentuhan yang Phainon beri.

 

Tentunya Phainon belum kehabisan ide. Kuasanya diangkat, lalu jari-jemarinya bergabung dengan permainan mulutnya. Di saat lidah Phainon memaksa entri dan bersemayam di dalam lubang ketat milik Anaxa, ibu jarinya menambuh stimulasi dengan gesekan usil pada klitoris kekasihnya. Punggung Anaxa meliuk ke atas dibuatnya. Vaginanya kian menyempit, menjepit lidah Phainon lebih erat tatkala ia mati-matian memasung semburan bening; ia sudah berada di ujung!

 

“Ugh—nnh… Phainon, please,” racau Anaxa, kedua pahanya gemetar selagi tubuh rampingnya menggeliat tak nyaman. “Aku mau… Hngh…”

 

Phainon mencabut lidahnya, kemudian mendongak untuk memandang paras manis kekasihnya. Seringai puas merenggang lebar ketika mendapati sosok Anaxa dibanjiri peluh. Tidak tersisa sedikit pun fokus pada tatapannya—seutuhnya luruh. Anaxa tampak jatuh di ambang ekstasi penuh.

 

Ibu jari Phainon masih belum bosan bermain dengan puncak kesensitifan Anaxa, menekan-nekan titik nikmat tersebut sambil sesekali menjilati kelopak becek sang kekasih. “Pipis aja di mukaku.” ujarnya.

 

Phainon paham tidak, sih, apa yang baru saja ia katakan?!

 

“Gila—aahh!” Anaxa mengerang lantaran Phainon lagi-lagi menyerang letak sensitifnya. Menggantikan jemari panjangnya, Phainon menjerat klitoris Anaxa di dalam mulutnya, dengan piawai mengibas ujung lidahnya berulang kali. Anaxa merenggut sejumput surai putih untuk menyalurkan eksitasi. Sayangnya, ia baru saja mengambil langkah yang salah sebab Phainon justru semakin gencar dalam aksi liciknya—bertindak sesuka hati.

 

Anaxa tidak tahan lagi. Sekujur tubuhnya mendadak tegang; jari-jari kaki meliuk, punggung pun melekuk. Ia menggenggam rambut kekasihnya erat, buru-buru menarik kepalanya untuk menjauh. Dengan isakan, Anaxa mencuratkan cairan yang sejak tadi terbelenggu di dalam vesika. Aliran bening nan suam memercik dari lubangnya; Anaxa baru saja kencing.

 

Baru kali ini Anaxa sempat-sempatnya berniat untuk mengubur diri di tengah aktivitas intim.

 

“Aku udah bilang dari awal.” gerutu Anaxa. Parasnya ia sembunyikan di balik telapak tangan, tidak mampu memandang Phainon sebab dikuasai malu yang berlebihan.

 

“Seksi, kok.” Phainon terkekeh mendapati hasil dari ulahnya. Kekasihnya paling menggemaskan ketika sedang tersipu. Toh, apapun yang tererupsi, Anaxa tetap yang paling seksi. Baginya Anaxa adalah sumber atas segala adiksi, deretan sinonim dari kata cantik yang pada akhirnya termanifestasi.

 

Sambil membiarkan netra birunya dimanja oleh rupa erotis Anaxa, satu kuasa Phainon merayap ke bawah. Ia memijat kepemilikannya sebelum dengan tergesa membebaskannya dari sangkar menyesakkan. Phainon menganggap dirinya cukup sabar; ia mampu menjalani hari-hari sukar tanpa gusar. Akan tetapi, kebajikan dirinya itu tidak berlaku kalau sudah menyangkut kekasih cantiknya—khususnya pada detik ini. Phainon ingin segera tenggelam dalam kehangatan tubuh Anaxa, saling memantik percikan gelora hingga memuai menjadi kobaran hebat di mana hanya percampuran esens mereka yang dapat memadamkannya.

 

Phainon menyelipkan batang kejantanannya di antara kelopak rapat Anaxa. Sekadar menggoda—dengan jahil menumbuk klitoris si cantik dengan ujung penisnya. “Pipis lagi sambil aku kontolin, ya?”

 

“Diam.” sungut Anaxa, masih kesulitan mengusir malu akibat perbuatan vulgarnya beberapa saat lalu. Ia membentangkan kedua lengannya untuk mengalungi leher Phainon lalu menariknya ke dalam cumbuan intens—berusaha untuk membungkam mulut kurang ajar kekasihnya.

 

Dengan senang hati dan riang gembira Phainon menerima ajakan seronok itu. Lidahnya bergulir sembarang, mengecap saliva yang tergenang di dalam rongga mulut Anaxa selagi memposisikan ujung kejantanannya pada undangan liang hangat nan becek.

 

“Mmhh!” Anaxa terkesiap karena intrusi mendadak. Pagutan mereka terlepas, tetapi Phainon tidak menghentikan jajahan bibirnya. Ia menyeret ranumnya turun, meninggalkan untaian saliva serta gigitan-gigitan kecil pada permukaan kulit Anaxa; dari rahang, leher, sampai bahu. Bak kanvas yang semulanya polos lalu diwarnai dengan bercak-bercak merah—sebuah markah penanda bahwa Anaxa hanya milik Phainon.

 

“Phai—ahh, Phainon…” desahan Anaxa melantun tanpa jeda. Kentara sekali bahwa Phainon sengaja menggodanya. Anaxa bisa dengan jelas merasakan urat-urat menonjol itu bergesekan dengan dinding beceknya tatkala kejantanan Phainon menembus area paling intimnya. Tetapi … Phainon bergerak terlalu lambat! Anaxa mengerang sambil mengetatkan lubangnya, mendorong sang kekasih untuk segera bersemayam.

 

Anaxa kehilangan akal ketika Phainon, pada akhirnya, menuruti keinginannya. Hanya dengan satu hentakan, batang kokoh itu bersarang seutuhnya di dalam liang ekstasi milik si cantik. Katup bibir Anaxa terbuka, memperlihatkan liur yang mengalir dari kedua sudutnya.

 

“P-penuh…” rintih Anaxa. Ia mendekap leher Phainon lebih erat, jari-jemarinya menyusuri rambut lembab sang kekasih, lalu mencengkeram segemal helaian putih itu. Kedua tungkai Anaxa ikut merengkuh tubuh Phainon, melingkari pinggulnya tak kalah erat. Pergerakan Anaxa berhasil mendesak kejantanan Phainon lebih dalam; ia yakin ujung penis Phainon baru saja mengetuk pintu rahimnya. Terlalu besar, terlalu nikmat … Anaxa tak kuasa menahan pelepasan. Hanya karena diisi sampai mentok, ia langsung muncrat tak karuan? Ah … Sungguh memalukan!

 

“Aaahh!”

 

“Wow, aku bahkan belum gerak.” Phainon tertawa, namun terkias rasa puas di balik kelakarnya. Sepasang manik biru yang biasanya berbinar cerah kini digelapi nafsu. “Langsung keenakan ya aku mentokin?” Phainon memberi penekanan pada tuturnya dengan satu tumbukan jitu.

 

Kepala Anaxa berayun, memberi isyarat ambigu di antara anggukan dan gelengan. Ia sudah kepalang mabuk, rupanya. Yang melintasi benaknya hanyalah jejalan penis di selangkangannya. “Soalnya besar….”

 

“Ah, iya. Kamu memang suka yang besar-besar.” goda Phainon. “Berarti bisa pipis sekali lagi?”

 

Anaxa menggeleng mentah. Mana mungkin ia bisa pipis lagi ketika ia sudah membuat—hampir—seluruh permukaan meja basah?! Naas, tubuhnya menampilkan reaksi yang kontradiksi. Kedutan intens yang menyelimuti kejantanan Phainon cukup dijadikan afirmasi.

 

“Bisa, kan?” ulang Phainon. Pinggulnya perlahan menyorong ke atas, memastikan Anaxa merasa betapa dalam penisnya bersarang.

 

“Aahh—nggak!” pekikan Anaxa diiringi oleh desahan manis nan seksi (Phainon tak bisa memilih salah satu yang paling mendeskripsikan melodi erotis itu). Phainon melahap seluruh lenguhan dan racauan yang lepas dari celah bibir si cantik dengan cumbuan panas, sementara pinggulnya mendongsok lebih keras. Lagi pula, Phainon tau bahwa Anaxa suka saat kontrolnya lepas dan mereka bersenggama tanpa mempedulikan batas.

 

Phainon mengalihkan permainan mulutnya pada puting Anaxa yang sayangnya sedari tadi ia abaikan. Bagaimana bisa?! Rutuknya dalam hati. Padahal sudah menjadi tujuannya untuk melimpahkan segenap afeksi (dan birahi) pada kekasih cantiknya; Phainon telah berdedikasi untuk mengantar Anaxa ke puncak ekstasi sampai pipis berulang kali. Maka ia mulai menggilas cuat cokelat muda itu dengan ujung lidahnya, kemudian ia perangkap di dalam mulutnya.

 

“Anhh… Phai, terus—” lenguh Anaxa, sebelah tangannya menahan tengkuk Phainon supaya tetap menyantap. Geli, tapi enak. Sensasi aneh kian menghantar, tapi enak. Phainon acap ingat hal-hal yang memicu kenikmatan tertinggi.

 

Tempo gerakan Phainon dipercepat, rangsangan yang dirasa pun meningkat pesat. Phainon menghantam bagian dalam Anaxa tanpa ampun, menggemakan bunyi kecipak dari jalinan mereka. Semakin gesit Phainon menumbuk, semakin melimpah cairan licin yang meleleh dari liang Anaxa—bak sekuntum bunga yang bermekaran lalu menghidangkan nektarnya.

 

“Naxy…” erang Phainon, menatap sayu Anaxa di bawah kurungannya, takjub sekaligus bangga menjadi penyebab kekasih manisnya—seorang jenius—tidak sanggup berpikir lurus. Pinggul Anaxa terangkat, bertemu dengan milik si surai putih, mendambakan stimulasi lebih walau penis Phainon sudah menembus serviks. Spontan Phainon menggigit bibir bagian bawah, pandangannya lantas jatuh pada kelopak yang mulanya sempit kini terbelangah lantaran mengikuti ukuran kejantanannya yang gagah. “Nnh… Enak banget, sayang…”

 

“Phainon… Hngghh…” Anaxa mengulurkan tangan, bermaksud menarik kekasihnya ke dalam rengkuhan untuk melampiaskan nikmat. Tetapi Phainon lebih dulu menangkap pergelangan ramping itu dan membawa ranumnya mendekat. Ia mencium, menelusuri garis-garis tangan menggunakan lidah, kian diseret naik hingga mulutnya singgah pada ketiak si manis.

 

“Phainon! Jorok, ih.” Anaxa membelalak. Bibirnya memang mengutarakan protes, namun kedutan bagian dalamnya bertambah intens.

 

Phainon tertawa ringan sembari meninggalkan kecupan usil pada lipatan di bawah bahu Anaxa. Bibirnya kembali merambat ke atas, membubuhi gigitan sensual pada daun telinga kekasihnya lalu berbisik, “Tapi suka, kan?”

 

Tanpa menunggu jawaban, Phainon memposisikan engkel Anaxa pada pundaknya, menarik empunya supaya penisnya melesak lebih dalam kala tubuh mereka saling melekat. Ia terdiam untuk sesaat, semata untuk membelai pipi Anaxa yang bersemu pekat. Pada sekon berikutnya Phainon sudah menghentak kesat, mengoyak lubang becek Anaxa sembarang nan tak akurat. Toh batang kokohnya sudah menjangkau area yang semestinya mustahil dicapai—stimulasi yang timbul tetap akan membuat Anaxa terbuai sampai-sampai semburan bening berderai.

 

“Tuh? Sampai pipis lagi.” ejek Phainon. Ia menarik kejantanannya dari himpitan nikmat Anaxa, menyaksikan pertunjukan basah nan vulgar kekasih cantiknya seraya telapak tangannya melapisi batang penisnya. Lekas Phainon memompa kepemilikannya tepat di atas selangkangan Anaxa yang masih muncrat, ingin segera menyusul pelepasannya.

 

“Phainon, di dalam aja,” rengek Anaxa sambil meraih lengan Phainon, menempatkan ujung penis besar itu di tengah-tengah labianya, tidak sabar ditanami benih. Malu-malu, ia melirih, “Mau … mau dikencingin.”

 

Katup bibir Phainon samar-samar terbuka, pupilnya melebar tak percaya atas permintaan saru kekasihnya itu (tentu saja dalam hati ia kegirangan). Seteguk saliva membasahi kerongkongan yang seketika terasa kering. Astaga … apakah ia benar-benar sedang birahi bagaikan seekor anjing? Setiap godaan yang ia limpahkan pada Anaxa akhirnya berbalik kepadanya; cukup menuturkan beberapa kata dan Phainon hampir menjadi sinting. Pendengerannya tidak mengelabui—Anaxa sungguh-sungguh memintanya kencing.

 

Kejantanannya berdenyut dalam genggaman, tergiur oleh undangan kotor yang diucap Anaxa. Kekehan berhembus dari celah bibir Phainon, terdengar agak berderu. “Jorok.” celanya, seakan dadanya tidak sedang berdebar dan menari mengikuti melodi erotis buatan sepasang kekasih yang nafsunya menggebu itu. Setelahnya, Phainon kembali mengintrusi liang senggama si cantik. Tak perlu hujaman sebab sensasi becek nan hangat yang membungkus seluruh batangnya sukses melayarkan klimaks.

 

“Ugh...”

 

Phainon menyisir rambutnya ke belakang, menyingkirkan helaian yang menghalangi netra supaya ia dapat lebih lekat memandang tubuh indah kekasihnya yang tengah ia isi. Lelehan berwarna putih berlinang dari tautan intim mereka; Phainon telah membanjiri bagian dalam Anaxa sampai tidak ada ruang sisa.

 

“Phainon…” Anaxa melenguh seraya menyempitkan liangnya, menahan sosok yang lebih tinggi untuk tidak memutus persenggamaan mereka.

 

“Iya, iya. Mau aku pipisin, kan?” sahut Phainon, “Lihat, sayang.”

 

Anaxa sontak menunduk, rona merah menyebar hingga bahu. Penglihatannya sedikit buyar, namun ia menangkap jelas rembesan suam yang mengaliri selangkangannya. “Hngh…” rintihnya sembari mengusap perutnya yang kembung oleh mani juga seni. Penuh…

 

“Anaxa, sayang,” Phainon memanggil lembut, ibu jarinya membelai halus pinggang ramping sang kekasih. Sebongkah afeksi membasuh sisa gemuruh nafsu, menggelitik sekujur tubuh Anaxa dengan renjana. “Sayangku gapapa? Aman? Ada yang sakit atau nggak nyaman?”

 

Anaxa tertawa renyah. Pergi ke mana binatang buas yang baru saja menggagahinya satu menit lalu?

 

“Aman,” ujar Anaxa. “Tapi kita harus mandi.”

 

“Bareng?” timpal Phainon, manik biru kembarnya kembali berbinar. Tampak lugu, memang, namun Anaxa tau ada segelintir hasrat tersirat.

 

“Nggak.” tolak Anaxa mentah-mentah. Ia mendorong kekasihnya sekuat tenaga (Phainon mengalah dan sengaja menjauh), lalu susah payah melangkah sambil tersandung-sandung menuju kamar mandi. Kepalanya menyembul di balik pintu, “Kalau nggak masuk dalam 1 menit, pintunya aku kunci.”

 

Wah … Apakah ini tantangan baru darinya?

Notes:

wow... anaxa pipis...