Work Text:
lee jihoon memandang lurus sosok dirinya yang masih remaja, yang tengah berdiri tak jauh di hadapan dengan tangan-tangan saling menggenggam di depan dada. keduanya ada di ruangan yang seluruhnya diselimuti putih. bukan hampa, bukan pula kosong. tetapi sebuah ruang hangat, ruang yang dicipta hatinya hanya untuk mereka berdua.
rambut mereka sama-sama diwarnai merah jambu. hanya saja, sosok yang lebih muda terdiam sesaat, mendongak, napasnya gemetar di bawah cahaya lampu yang lembut. ia terpesona. ia tahu mereka terlihat mirip, tetapi sosok dewasa di hadapannya punya ketampanan dan sinar mata yang lebih matang, dengan bentuk badan yang ditempa dan terlatih. dirinya yang lebih dewasa berdiri tegap dengan kepercayaan diri, ditemani sebuah senyum yang—masih sama manisnya, masih serupa hangatnya. seperti seseorang dengan aura tenang, yang dapat memeluk seluruh hati yang disentuh melalui musiknya.
sosok lebih tua yang mengenakan jaket kehijauan itu berjongkok, meraih tangannya.
jihoon muda lantas berkedip. masih tak percaya pada apa yang ia dapati. masa depan yang jauh, tak terbayang, yang belum ada di dalam memorinya.
“kamu… benar-benar aku?”
tangan besar itu membungkus tangan jihoon remaja yang lebih mungil darinya, menggenggamnya dalam kehangatan. si pria memandangnya, memindai sosok kecil yang mengenakan baju kodok dan kaus bergaris-garis itu, celananya pendek di atas lutut. betapa rindunya. setelan itu pernah ia kenakan di panggung pertamanya dulu. kakinya kurus kecil, lengannya juga ramping. jihoon tentu menyadarinya, meski perawakannya imut dan mungil, sang pria tahu betul bahwa di dalam kepala anak muda itu ada berbagai macam dunia, dan dia punya hati yang luas pula untuk mencintai setidaknya dua belas orang saudaranya, orang tuanya, juga menghormati rekan-rekan kerja sekaligus para senior yang membimbingnya. tak lupa pula—para penggemar yang selalu jihoon simpan dalam sudut hatinya sedari remaja.
“apa kita berhasil…?”
suara itu kembali memecah hening.
apa mereka sudah bisa tampil di panggung-panggung megah di luar negeri? apa jihoon masih menulis lagu sepuluh tahun lagi? apa dia masih bersama dua belas kawannya?
yang lebih dewasa mengusapkan jempolnya di atas punggung tangan yang lebih mungil. tangan yang sering ia gunakan untuk melahirkan nada-nada indah, jari jemari lentik yang bisa menari lincah di atas piano, juga memetik senar gitar dengan cantiknya. sepasang kaki kurus itu juga adalah kaki-kaki yang tak pernah mengeluh meski rasanya nyaris mati rasa dan hampir patah, tungkai yang tetap digunakannya untuk berputar mengikuti pola dansa dan ketukan lagu.
“mhm.” jihoon mengangguk tenang, bergerak membungkus badan sosok remajanya dengan dua lengan kokoh yang kini dimilikinya, bagai ingin melindungi diri si remaja dengan segala cara. “kamu bertahan dengan baik. terima kasih, ya. karena kamu nggak pernah berhenti, aku—kita bisa selalu hidup nyaman dan bahagia.”
pipi sang remaja memanas. pagi hari tadi, ia berbagi jatah roti dengan anak-anak lainnya. saat malam tiba, jika ingin menangis, ia tak punya pilihan selain menumpahkan air matanya dalam diam di bawah selimut.
tanpa sadar, pandangannya memburam dan suaranya tercekat. pelukan dari dirinya sendiri rupanya terasa sebegini hangat dan aman bahkan setelah sepuluh tahun, seolah jihoon tak perlu lagi menyembunyikan jiwanya yang kadang butuh tempat bersandar tatkala hampir jatuh. gumpalan emosinya naik dan menumpuk di tenggorokan, isakan lirihnya perlahan lolos.
si pria merengkuhnya lebih erat, diam-diam tersenyum sembari memejam mata. telapaknya menarik belakang kepala sosok remajanya untuk bersandar di bahu. “hm. menangislah. kamu hebat. kita berdua hebat.”
jihoon kecil menunduk, membiarkan bulir air merembes dan bercucuran dari kelopaknya. genggamannya bergelayut di lengan jaket kehijauan sang pria, cincin pertama di jari kelingkingnya mengilat cantik.
jihoon melepas pelukan mereka usai membiarkan sosok kecilnya puas menangis. telapak tangan yang lebih besar lantas terulur, “ayo melangkah bersama.”
untuk sesaat, si anak muda termangu. jemari mungilnya bergerak pelan, ragu-ragu meraih. namun begitu, kala ujung-ujung jari mereka bersentuhan, sang pria menyambutnya dengan erat.
mereka lalu bertukar pandang sejenak.
senyum cerah menghiasi wajah jihoon kecil yang kini bersemu merah.
“mm!”
malam itu, jihoon yang masih berusia dua puluh tahun tahu, kalau dia tak perlu takut melaju. ia boleh melangkah dengan hati yang ringan, bersenang-senang dalam perjalanannya, memeluk serta tiap luka yang tercipta, bersama secercah kecil cahaya yang menuntunnya. jika jihoon terus menelusuri tapak dalam terowongan yang gelap itu—meski ujung kakinya terantuk, terjatuh, dan terluka—jika ia bangkit kembali, maka jihoon akan menemukan ribuan hati yang menemaninya di sepanjang jalan.
jalannya akan selalu dilindungi oleh cinta.
***
