Work Text:
“Kalau suatu saat nanti aku berubah menjadi kecoak, apa kamu masih cinta?”
“Heh, bicara apa kamu?”
“Tidak ada. Cuma bertanya saja.”
“Sungguh? Pertanyaanmu itu aneh sekali, tahu. Lagi pula, mana bisa manusia berubah menjadi kecoak. Kamu ini ada-ada saja.”
“Siapa tahu?”
“Tetap saja itu mustahil. Tidak masuk akal.”
“Ya, ya memang, tapi jawab saja pertanyaanku tadi. Kamu akan masih mencintaiku atau tidak? Hanya itu yang ingin aku dengar darimu.”
Kedua mata Seungcheol yang sayu menatap lurus ke balik jendela. Banyaknya langkah kaki berlalu-lalang di trotoar tak kunjung berkurang meskipun hari sudah semakin di penghujung. Begitu pula mobil-mobil yang tiada habisnya memadati jalan yang sedari tadi sudah diterangi banyak cahaya kekuningan dari lampu-lampu bertiang tinggi yang berdiri kokoh membentuk deretan tak terputus di sepanjang sisinya. Pemandangan yang sama juga terlihat pada gedung-gedung bertingkat yang tampak masih ada tanda-tanda kehidupan menghuni di dalamnya yang bahkan jauh lebih sibuk dari kehidupan jalanan di luar sana.
Begitulah kehidupan kota metropolitan.
Hiruk-pikuk kota besar yang mungkin takkan pernah sirna bahkan hingga akhir zaman tiba. Dan pada malam ini, seperti apa yang terjadi di balik jendela itu, isi kepala Seungcheol lagi-lagi dibuat riuh sebab terus-menerus memutar ulang obrolan tak biasa yang dulu pernah ia lakukan dengan kekasihnya, Jeonghan.
“Kamu tahu kalau kecoak itu dibenci banyak orang, ‘kan? Mereka dianggap sebagai makhluk menjijikan.”
“Ya, aku tahu itu.”
“Lalu, kenapa kecoak?”
“Entahlah. Jawab saja cepat. Kamu akan tetap cinta padaku atau tidak?”
“Kamu sedang mengetes kadar cintaku, ya?”
“Mungkin ya, mungkin juga tidak. Hanya ingin tahu saja.”
“Oke, baiklah. Jujur saja aku tak tahu apa yang romantis dari yang kita bicarakan sekarang ini, tapi tentu. Aku akan tetap mencintaimu, bahkan jika kamu menjadi kecoak, seperti katamu tadi. Atau bahkan jika kamu berubah menjadi tikus, atau cecak, atau cacing sekalipun. Apa pun itu wujudmu. Aku akan tetap terus mencintaimu."
Lonceng kecil yang terpasang di atas pintu kafe tiba-tiba berdenting nyaring. Seungcheol yang sedang sibuk melamun lantas tersadar. Karena mendengar suara itu pula, ia pun terpaksa harus mengalihkan pandangannya untuk mencari tahu siapa yang baru saja datang.
“Maaf, Tuan. Anda sudah ditunggu di mobil.”
Sopir pribadinya yang sudah berumur hadir di hadapannya. Pria tua itu tersenyum. Seungcheol hanya membalas dengan mengangguk singkat dan langsung mengikutinya pergi. Ditinggalkan pula olehnya secangkir kopi hitam yang hampir tak tersentuh yang ia pesan sebelumnya di atas meja.
Di luar kafe, angin kencang berembus menusuk kulit. Sekarang telah memasuki musim dingin. Meskipun salju belum juga turun hingga detik ini, suhu udara terasa seakan memaksamu untuk selalu memakai mantel tebal ke mana pun kamu pergi. Sama seperti yang dilakukan Seungcheol, ia merekatkan mantel yang ia kenakan sembari berharap kehangatan enggan meninggalkannya. Di luar kafe pula, ia pun akhirnya melihat mobil yang dimaksud sopir pribadinya tadi. Mobil itu terparkir di pinggir jalan, di dekat sebuah kotak pos.
“Lewat sini, Tuan.”
Untuk kali ini, Seungcheol tidak menanggapi. Ia memilih mengabaikan sopir pribadinya yang seperti biasa telah membukakan pintu mobil untuknya dengan senyum yang sama masih terpasang di wajahnya yang keriput itu. Ia tidak langsung memasuki mobil seperti yang sudah diarahkan, melainkan justru berdiri menghadap bangunan kafe yang baru saja dikunjunginya. Terdiam dengan pandangan mata berkaca-kaca. Dan lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya, ia mengingat peristiwa malam itu. Takkan pernah terlupakan sampai kapan pun apa yang terjadi pada malam itu dari ingatannya saat Jeonghan dengan begitu lepas mengeluarkan suara candu tepat setelah pertanyaannya yang tak terduga itu berhasil terjawab. Gelak tawa riang yang akan selalu ia rindukan.
“Tuan? Anda baik-baik saja?”
Seungcheol dapat merasakan adanya kegusaran dalam nada bicara sopir pribadinya itu. "Ya, ya. Saya tak apa.” Ia menjawab seadanya. Lesung pipit samar-samar muncul menghiasi wajahnya yang kian memerah akibat cuaca yang kurang bersahabat.
“Baiklah kalau begitu. Saya tadi juga sempat dengar bahwa akan ada badai besar malam ini. Jadi kalau boleh saya beri saran, sebaiknya kita segera pulang sekarang. Takut nanti bisa-bisa kita terjebak di jalan. Ayo mari, Tuan.”
Bagai seekor anak kambing di peternakan yang patuh pada perintah sang gembala, Seungcheol akhirnya membiarkan dirinya digiring masuk.
Ia pun tersenyum setibanya di dalam mobil.
“Kamu seharusnya istirahat di rumah, sayang. Tidak perlu repot-repot menjemputku.” Kalimat yang terucap dari bilah bibir tebal Seungcheol terdengar begitu lembut dan terasa amat hangat. Ia bersusah payah mencoba membetulkan posisi duduknya di kursi penumpang yang bertempat di bagian belakang mobil sebelum akhirnya ia lanjut berkata, “Maaf karena sudah membuatmu menunggu lama.”
Sepasang antena panjang yang agak merunduk bergerak-gerak menggelitik leher Seungcheol.
Tak apa. Aku hanya khawatir padamu saja.
Seungcheol memang tak mampu mendengarnya secara langsung dengan kedua telinganya, tetapi semua kata-kata itu terasa seakan-akan bergema di dalam kepalanya. Ia pun menoleh ke kursi di sampingnya.
Tubuhnya yang besar berbentuk oval dan pipih memiliki warna kecokelat-cokelatan layaknya buah kurma itu terduduk menyamping dengan kepalanya yang seukuran bola sepak namun berbentuk segitiga diletakkan pada sandaran kursi mobil. Dua pasang sayap tipis tampak berkilau di punggungnya meski tengah berada di pencahayaan yang redup. Dan sementara itu, kaki-kakinya yang dipenuhi duri-duri lancip terus bergerak-gerak kecil.
“Ayo kita pulang!” Seungcheol berseru lantang kepada siapa pun yang bisa mendengarnya di dalam mobil.
Lagi-lagi, sepasang antena panjang yang agak merunduk bergerak-gerak menggelitik lehernya. Ia membalas gestur itu dengan mengelus kepala segitiga di sampingnya penuh kasih sayang.
“Ya, sayangku. Kamu tahu aku akan selamanya mencintaimu. Jawabanku akan tetap sama, tak peduli berapa kali kamu bertanya.”
Lantas setelahnya Seungcheol ditarik kembali untuk berkelana menyusuri angan-angan yang bersemayam jauh di dalam kepalanya. Ia dibuat berandai-andai dengan membayangkan dirinya masih bisa mendengar suara candu dari tawa riang yang sama seperti yang ia dengar malam itu. Satu-satunya tawa lepas yang khas milik kekasihnya, Jeonghan.
Jeonghan.
Oh, Jeonghan, sayangku.
Kekasih Seungcheol itu sungguh telah berubah menjadi seekor kecoak raksasa. Serangga yang begitu menjijikan di mata orang banyak, namun pernyataan itu tidak berlaku bagi dirinya. Sebab Jeonghan tetaplah Jeonghan yang ia kenal. Di matanya, Jeonghan adalah kekasihnya, pujaan hatinya yang selamanya akan dicintai olehnya.
