Chapter Text
Jam istirahat kedua selalu terasa lebih pendek dari seharusnya. Bel berbunyi terlalu cepat, seolah sengaja memotong sesuatu yang belum selesai. Disusul oleh banyaknya hentakan kaki yang berbaur keluar mengejar jajanan terakhir sebelum habis. Buku dan alat tulis mereka masih berserakan di atas meja, tas yang terbuka menempati bangku kosong, meja dan kursi yang berantakan, dan papan tulis yang menyimpan sisa angka yang setengah terhapus menjadi saksi semburat angin pelan meniup mengisi ruang kelas yang panasnya sedikit menguap ketika anak-anak pergi beranjak meninggalkan kelas.
Utahime menunduk di atas buku tulisnya. Pensilnya bergerak cepat. Terlalu cepat untuk ukuran jam istirahat. Konsep gaya, tekanan, bunyi, dan listrik… ini semua membingungkan bagi Utahime yang lebih menyukai materi tentang sejarah dan tulisan fiksi daripada besaran massa di fisika.
“Ngapain sih? Serius amat.”
Suara itu datang dari samping. Terlalu dekat. Selalu terlalu dekat.
Utahime mendecak. “Minggir.”
Satoru, bocah laki-laki dengan celana biru navy yang mulai mengatung (sebab tinggi badannya yang semakin menjulang, bahkan untuk seumuran anak SMP kelas delapan), sudah menduduki bangku sebelah Utahime tanpa izin. Kakinya naik satu ke atas kursi, lengannya bersandar santai di meja Utahime, kepalanya miring untuk mengintip isi buku tulis Utahime. Terlalu miring hingga helaian rambut putih Satoru menjadi penghalang antara pandangan Utahime dengan rentetan soal tentang tegangan listrik di bukunya.
“Oh,” ucap Satoru. “Latihan soal.”
“Jelas.”
“Rajin amat.”
Utahime berhenti menulis. Menoleh perlahan. “Terus kenapa?”
“Heran aja,” Satoru menyengirkan senyumnya. Menunjukkan rentetan gigi putih yang tampaknya kebal terhadap kikisan makanan manis yang selalu bocah laki-laki itu konsumsi. “Orang jam istirahat kok malah nyiksa diri.”
“Gue nggak nyiksa diri.”
“Buktinya gitu.”
Utahime menarik bukunya mendekati dirinya, sembari membuang napas berat dan kesal. “Pergi deh.”
Satoru malah semakin mencondongkan badannya. “Jawaban lo salah.”
Bahu Utahime menegang. “Apanya?”
“Nomor lima.”
“Itu bener.”
“Enggak.”
“Bener.”
“Enggak.”
Bocah perempuan itu hampir menyerah. Hampir. Ia putar badannya sepenuhnya. Siap menerjang Satoru dengan kalimat usiran lagi dan lagi. “Lo bahkan nggak baca soalnya.”
Satoru mengangkat bahu. “Gue paham konsepnya.”
“Sok tau lo.”
“Lo sok rajin.”
Ouch. Utahime berdiri, kakinya memanas, seolah-olah memaksa dan memohon kepada Utahime untuk segera beranjak pergi meninggalkan neraka buatan Satoru ini.
Dari bangku belakang, Shoko menghela napas panjang. “Kalian tuh kaya radio rusak.”
Suguru mengangkat pandangannya dari bukunya, melirik Shoko dan juga dua manusia di bangku depannya. “Tapi lucu sih.”
Telinga Utahime meronta jijik mendengarnya. Lalu ia menunjuk Satoru. “Ambilin penghapus.”
Satoru menatap meja. Lalu tersenyum. “Yang merah?”
“Iya.”
“Oke.”
Satoru mengangkat penghapus merah itu dan melemparkannya ke meja Suguru.
Utahime hampir berteriak.
“SATORU!”
Suguru menangkap refleks. Menatap penghapus itu, lalu menatap Satoru. “Lo cari mati.”
Satoru terkekeh. “Santai.”
Utahime berjalan cepat, merebut kembali penghapusnya. Tangannya gemetar dan dadanya bergemuruh. “Lo tuh kapan sih bisa serius?”
Satoru menyandarkan dagunya di tangan. “Hmm, males. Seru soalnya bikin lo marah.”
Utahime refleks melempar penghapusnya.
Kena.
Tepat di dahi Satoru.
Kelas sepi itu menjadi semakin hening.
Lalu Satoru tertawa paling keras. Disusul dengan bel masuk yang berbunyi.
Tidak ada yang menang. Tidak ada yang kalah. Hanya panas yang belum turun ke tempat semula.
Panasnya melebur dengan familiarnya udara sore hari, menanggalkan rasa ramah sebab panas sudah mulai jinak. Jalanan kompleks dipenuhi suara kendaraan, salah satunya berasal dari bel sepeda yang saling bersahutan, seperti bahasa rahasia yang hanya dipahami anak-anak seusia mereka.
Utahime mengayuh sepedanya pelan. Gemuruh dirinya belum melebur sempurna dan kesalnya masih membukit.
“LO NGAMBIL JAWABAN NOMOR LIMA DARI MANA SIH?”
Suara itu lagi.
Kayuhan sepedanya mulai menambah kecepatan. “Dari otak gue lah!”
Satoru mengejarnya, mengayuh sepedanya berputar menyebalkan mengelilingi Utahime. Sengaja.
“Ah, nggak seru lo!”
Tatapan Utahime fokus lurus ke depan. “Pergi deh.”
Utahime mendengar dengusan ringan. “Kalo lo gini terus, lo nggak akan punya temen.”
Alisnya mengerut, mulut Utahime hampir melayangkan sumpah serapah (seperti biasa) namun ada sesuatu di kalimat Satoru yang menghimpit sempit rusuknya.
“Gue nggak butuh temen yang ribut dan berisik.”
Satoru berhenti. Menoleh. “Dih, sok dewasa.”
Dari belakang, suara bel sepeda berbunyi. Lebih pelan. Lebih teratur.
“Sat,” suara Shoko muncul, datar tapi tegas. “Udah. Jangan nyebelin mulu.”
Kemudian perempuan dengan rambut pendek berwarna coklat dengan mata yang warnanya senada tersebut mengalihkan pandangannya kepada Utahime, melayangkan senyuman kecil. “Hime, Sabtu besok kita main, yuk! Ke lapangan deket sungai.”
Satu kedip. Dua kedipan. Kedipan ketiga, Utahime masih gagal memproses. Ia terkejut. Sedikit. Tapi cukup.
“Oh… iya.”
Suara itu datang lagi disertai dengan dengusan mengejek. “Paling nggak dateng.”
“Gue dateng,” jawab Utahime cepat. Bahkan sebelum ia sempat berpikir.
Satoru dengan rambut putihnya itu menoleh dengan cepat. “Hah?”
Utahime menatap balik. “Iya. Ikut.”
Something shifted. No one said it out loud.
Suguru muncul dari belakang Shoko. Mengayuh pelan sepedanya. Diam. Lalu, tanpa kata, ia membunyikan bel sepeda Shoko.
Kring!
“Waktunya pulang,” kata Suguru singkat.
“Eh!” seru Shoko sedikit terkejut. “Berisik ah, Sugus.”
Tawa Satoru mengisi sejuknya sore hari itu. “Sok simbolis banget.”
Suguru mengangkat bahunya. “Besok juga ketemu.”
Mereka berhenti di persimpangan. Matahari tak lama akan pamit untuk tenggelam. Angin sore lewat, membawa debu, sisa keringat hari ini dan suara burung pulang.
“Sabtu, ya,” Shoko mengulang.
“Iya,” Utahime menjawab.
Suguru membunyikan bel sepeda sekali lagi.
Kring!
Dan entah sejak kapan, sore itu tidak lagi terasa milik masing-masing. Ia menjadi milik berempat.
Utahime mengayuh sepedanya pulang dengan dada yang masih hangat, masih kesal, tapi tak lagi sendiri.
For the first time, even the noise felt… right.
Kecil disadari bahwa waktu banyak tergurat dengan sentuhan dan lelucon, serta sore-sore yang dihabiskan untuk mengerjakan PR bersama, dan segalanya mereka lakukan dengan kemauan final untuk menghabiskan waktu bersama. Sebabnya gamblang, mudah dicerna. Karena mereka telah terbelenggu satu sama lain. Whether they like it or not. In this case, the latter seemed irrelevant. For Utahime, most of the time, at least.
Semburat sore meredup lebih cepat dari biasanya. Awan menggantung rendah, membuat halaman rumah Utahime terasa lebih sempit, lebih hangat. Sepatu-sepatu diletakkan berjajar rapi di teras. Ah, tidak semuanya rapi, tentu saja. Sepatu Satoru sedikit miring. Selalu.
Utahime berdiri di depan pintu, menoleh sebentar ke tiga orang di belakangnya. Shoko sudah menguap setengah mati. Suguru menatap Shoko dengan tatapan berarti, tasnya disampirkan satu bahu. Satoru melihat sekeliling rumah seperti tamu yang tidak tahu harus berdiri di mana. Seperti menginjakkan kakinya di tempat yang tak akan bisa dia lupakan.
“Masuk aja,” kata Utahime akhirnya. Bukan ajakan besar. Hanya kebiasaan. Sudah lama mereka merencanakan kegiatan belajar bersama ini, atau lebih tepatnya, sudah lama Shoko dan Satoru memaksa Utahime untuk mengajak mereka ke rumah Utahime.
Pintu dibuka. Suara dari dapur langsung menyusup keluar disusul dengan bunyi sendok mengenai tepi panci. Pelan. Teratur. Seperti tanda bahwa seseorang ada di rumah.
“Oh, temen-temennya Hime, ya?”
Ibunya muncul dengan celemek masih terpasang, rambutnya diikat seadanya. Senyumnya lebar, tanpa perlu alasan. Hanya kebiasaan.
“Iya, Bu,” jawab Utahime. “Mau ngerjain PR bareng.”
“Oh, bagus,” kata ibunya ringan. “Taruh tasnya dulu. Ibu bikin camilan, ya.”
“Bu, nggak usah-” Utahime refleks memotong.
Ibunya melambaikan tangan. “Udah. Masuk aja.”
Utahime menatap Satoru yang terdiam sejenak sebelum ragu-ragu dan mengangguk kecil. “Makasih, Tante.”
Suaranya terdengar sedikit lebih pelan dari biasanya. Tidak bercanda. Tidak nyengir. Utahime merasa aneh melihat Satoru seperti itu.
Ruang tamu rumah Utahime tidak besar. Sofa kain warna krem, meja rendah di tengah, rak buku di sudut. Ada foto keluarga di dinding, tidak mencolok, tapi ada. Utahime duduk di lantai, membuka tasnya. Suguru ikut duduk, rapi. Shoko menjatuhkan diri ke sofa dan langsung merebahkan kepala.
“Kalo gue ketiduran, bangunin,” gumamnya.
“Belum lima menit juga,” kata Utahime.
“Capek,” balas Shoko. “Hidup keras.”
Satoru seharusnya terkekeh mendengar itu, namun Utahime tak melihat reaksi apapun darinya. Ia hanya duduk bersila, punggungnya bersandar ke sofa, mencari posisi terbaik untuk duduk sebab kakinya yang panjang itu seringkali mengganggu. Ia melirik buku Utahime yang sudah terbuka, penuh catatan kecil dan garis-garis rapi.
“Lo nulis ulang semua?” tanya Satoru penasaran.
“Biar inget.”
“Ribet banget.”
Belajar dimulai tanpa seremoni. Pensil bergerak. Kertas dibalik. Suara lembaran halaman dibuka dan ditutup bercampur dengan bunyi dapur dari kejauhan, sendok, panci, langkah kaki yang sesekali berhenti lalu berjalan lagi.
Sesekali Utahime menunjuk satu soal, Suguru menjelaskan dengan singkat, Satoru menimpali, kadang benar, kadang sengaja nyebelin.
“Harusnya jawabannya ini,” kata Satoru.
“Kenapa?” Utahime menyipitkan mata.
“Logika.”
“Nggak jelas.”
Satoru nyengir. “Yaudah. Gini…”
Dan entah bagaimana, ia menjelaskan. Tidak panjang. Tidak rapi. Tapi masuk.
Utahime menulis ulang. Tidak berkomentar. Tidak mau memompa ego laki-laki bermata biru tersebut.
Shoko membuka satu mata. “Kalian berdua cocok jadi tutor yang nyebelin.”
“Dia doang yang nyebelin,” kata Utahime cepat.
Satoru terkekeh. Tidak menyangkal. Utahime bisa melihat pundak laki-laki itu mulai rileks. Seolah-olah Satoru menahan napasnya semenjak menapakkan kakinya di sini.
Tak lama, ibunya muncul lagi. Kali ini membawa piring besar berisi gorengan dan mangkuk kecil berisi saus.
“Makan dulu,” katanya. “Jangan belajar terus.”
“Bu-”
“Udah,” ibunya menaruh piring di meja. “Ibu bikinin yang banyak.”
Badan Shoko bergerak dan langsung bangun. Wajahnya telah mengusir kantuk ketika aroma sedap menyusuri indra penciumannya. “Waaaaah, enaknya! Makasih, Te!”
Suguru mengangguk sopan dan menelan ludahnya. “Makasih banyak, Tante.”
Pandangan Utahime melayang ke arah Satoru yang sedang menatap piring itu sebentar sebelum mengambil satu. Ia mengunyah pelan. Lebih pelan dari yang lain.
Mereka makan sambil duduk melingkar. Tidak ada aturan. Tidak ada yang buru-buru. Ibunya duduk sebentar di ujung sofa, menanyakan sekolah, tertawa kecil saat Satoru menjawab terlalu jujur.
“Sering ribut ya kalian?” tanya sang Ibu.
Utahime mendecak. “Ibuuuuu.”
Ibunya tersenyum. “Nggak apa-apa. Ribut tanda akrab.”
Satoru menunduk sedikit. Tidak menjawab. Utahime lagi-lagi terheran dengan gelagatnya.
Makan malam menyusul tanpa rencana. Nasi hangat. Sayur. Lauk sederhana. Mereka pindah ke meja makan. Kursi sedikit berderit. Shoko hampir ketiduran lagi. Suguru makan tenang. Utahime menambah nasi tanpa sadar.
“Tambah lagi?” tanya ibunya.
Utahime mengangguk. Satoru ikut mengangguk, ragu sesaat, lalu menghabiskan piringnya sampai bersih.
Sesi belajar mereka dilanjutkan sebentar. Tidak terlalu serius. Setengah dari sesi mereka dihabiskan dengan permainan-permainan yang kerap kali menjadi sumber jeritan kecil Utahime. Entah ketika Satoru mengejeknya ketika Utahime kalah, maupun ketika Suguru dan Shoko yang bersekongkol untuk mengalahkan Satoru. Tawa berlalu, tugas sekolah hampir selesai dan jam sudah mendekati malam. Ibunya muncul lagi, kali ini dengan nada lembut tapi pasti.
“Sudah-sudah. Besok sekolah, lho.”
Shoko berdiri paling cepat. Meregangkan punggungnya dan menguap kecil. “Terima kasih, Tante.”
Suguru menyusul. “Makasih banyak, Tante!”
Satoru berdiri terakhir. Menarik tasnya. Utahime mendapat Satoru menoleh sebentar ke meja makan yang masih hangat.
“Makasih,” katanya lagi. Lebih pelan. Utahime mengernyit kecil.
Di depan rumah, sepatu dipakai kembali.
“Suguru, Shoko, Satoru,” suara ibunya memanggil dari dalam, “jaketnya dipake. Malem-malem gini dingin.”
Shoko dan Suguru mengangguk menurut, disusul dengan gerakan jempol sebagai tanda bahwa mereka akan mengenakan jaket mereka. Sedangkan Satoru hanya diam dan memalingkan wajahnya. Namun kemudian Utahime mendapati laki-laki itu mengikut ucapan ibunya.
Langit sudah gelap. Lampu teras menyala.
“Besok ketemu lagi, ya!” kata Shoko.
“Iya,” Utahime menjawab dengan senang.
Mereka berpisah di ujung gang. Tidak ada yang berkata apa-apa lagi. Tidak perlu.
Utahime menutup pintu rumahnya dengan perasaan yang tenang. Bukan senang yang meledak. Bukan kesal yang mengendap. Hanya rasa akrab yang mulai tumbuh, perlahan, tanpa disadari.
Di luar, Satoru berjalan pulang dengan langkah yang terasa lebih ringan.
He didn’t name it then.
But years later, the sound of that kitchen would return to him. Quiet, sudden, and aching; like something he once had without knowing he was allowed to keep it.
Ujian terakhir selesai dengan suara bel yang tidak istimewa.
Tidak ada sorak. Tidak ada tepuk tangan. Hanya kursi yang digeser, kertas yang diselipkan ke dalam tas, dan napas panjang yang akhirnya dilepas tanpa perayaan. Seperti sesuatu yang berakhir begitu saja, padahal mereka semua tahu, ini bukan akhir yang kecil.
“Laper deh. Ujiannya bikin pusing!” kata Shoko tiba-tiba.
Suguru mengangguk. “Jajan dulu, kali.” Kemudian tangannya terangkat, “Janji, ya. Kita lupain aja ujiannya tadi.”
Satoru sudah berdiri lebih dulu. “Datang, kerjakan, lupakan.”
Utahime menghela napas pelan, tapi ikut berdiri. Setuju dengan mantra Satoru. Tasnya disampirkan satu bahu. Kakinya masih terasa ringan. Aneh, mengingat ujian barusan seharusnya menguras segalanya.
Mereka keluar gerbang sekolah bersama. Matahari sore menggantung rendah, cahayanya jatuh miring ke aspal. Deretan pedagang kaki lima sudah berjajar seperti biasa. Bau gorengan, saus pedas, plastik panas, dan gula cair bercampur jadi satu. Suara mereka ramai, tapi tidak menyesakkan.
Satoru membeli dua tahu isi. Tanpa ditanya, ia menyodorkan satu ke Utahime.
“Nih.”
Utahime menatapnya sebentar. Mengambil. “Makasih.”
“Biasanya lo nolak.”
“Laper.”
“Sama.”
Shoko membeli es lilin. Suguru membeli cilok. Mereka berdiri sebentar di pinggir jalan, makan sambil berdiri, seperti anak-anak yang belum tahu ke mana harus pergi setelah ini.
Lapangan itu masih ada.
Sedikit lebih sepi. Rumputnya lebih pendek dari yang Utahime ingat. Beberapa anak kecil bermain bola di ujung sana, teriakan mereka patah-patah tertiup angin.
Mereka berjalan ke tengah lapangan dan duduk begitu saja. Tidak rapi. Tidak simetris. Tas dijadikan alas. Sepatu dilepas sembarangan.
Utahime duduk dengan lutut ditekuk, dagunya bersandar di sana. Ia menggigit tahu isi pelan-pelan.
Angin sore menyapu wajahnya.
Dan tanpa diminta, ingatannya melompat.
Ia ingat rumput yang lebih tinggi.
Ia ingat kakinya yang lebih pendek.
Ia ingat napasnya yang tersengal ketika berlari tanpa arah, tertawa tanpa tahu kenapa.
Sore seperti ini.
Langit seperti ini.
Dan seorang anak laki-laki berambut putih yang berlari lebih cepat darinya, lalu berhenti hanya untuk menoleh dan tertawa, seolah dunia tidak pernah meminta apa-apa dari mereka.
Utahime menelan.
Ia melirik ke samping.
Satoru duduk dengan kaki diluruskan, tangan bertumpu ke belakang. Seragamnya kusut. Rambutnya diterpa angin, jatuh ke dahi dengan cara yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Ia tidak sedang bicara. Tidak sedang bercanda.
Hanya melihat langit. Langit yang mencerminkan warna matanya.
Utahime menyadari sesuatu yang kecil, hampir tak penting, tapi mengganggu pikirannya:
Satoru terlihat… tenang.
Tidak gelisah. Tidak ribut. Tidak mencoba mengisi ruang.
Seperti seseorang yang akhirnya menemukan ritme yang pas dan tidak ingin merusaknya.
“Abis ini… kalian lanjut SMA ke mana?” tanya Suguru.
Shoko menjawab duluan, setengah malas. “Nggak tau. Yang penting nggak ribet.” Kemudian seperti ada lampu imaji menyala di kepalanya, Shoko bersuara. “Ah, janjian yuk! Kita di sini lagi aja SMA-nya.”
Utahime mengangguk setuju pelan. Ia yakin ibunya tidak masalah jika Utahime mengusulkan tujuan sekolahnya selanjutnya.
Beda dengan Satoru. Shoko, Suguru, dan Utahime tau bahwa tak mudah bagi Satoru untuk menyetir kehidupannya sendiri. Bahu Satoru terlihat berat, bahkan setelah ujian akhir selesai.
Utahime diam menatap Satoru.
Utahime memikirkan ruang kelas baru. Seragam baru. Orang-orang baru. Ia memikirkan bagaimana semuanya akan berubah, meski belum tahu bentuknya seperti apa.
Namun duduk di lapangan itu, dengan jari-jarinya masih berminyak karena gorengan, dengan suara angin dan tawa kecil anak-anak di kejauhan, perubahan terasa… jauh.
Kayaknya semuanya bakal sama aja.
Pikiran itu datang begitu saja. Polos. Tanpa rasa takut.
Satoru merebahkan diri ke rumput. Tangan dilipat di belakang kepala. Ia menutup mata.
“Capek,” katanya pelan.
Utahime tidak menjawab. Ia hanya ikut menatap langit, biru yang mulai pudar perlahan.
But not his. Never his.
Mereka duduk di sana sampai matahari turun sedikit lagi. Sampai tahu isi habis. Sampai es lilin Shoko mencair dan menetes ke jarinya.
Tidak ada yang bilang ini momen penting. Tidak ada yang menandainya sebagai perpisahan.
Namun Utahime akan mengingat sore itu.
Karena di antara tawa yang lelah dan diam yang nyaman, ia tidak sadar bahwa kebiasaan ini, duduk bersama tanpa janji apa pun, akan menjadi hal yang paling sulit ia lepaskan ketika dunia bergerak maju nantinya.
Afternoon breeze… would it ever find its way back to them again?
