Work Text:
Tomioka Giyuu, lelaki dengan paras teduh dan rambut hitam legam seperti malam tanpa cahaya rembulan. Lelaki yang tidak sekali pun pernah mengeluh, tidak juga pernah menerima begitu saja. Selalu ada saja hal yang bisa dikomentari oleh Giyuu, walau seringnya lelaki itu hanya diam. Tidak ada yang tau kapan Giyuu akan bereaksi, tidak juga dengan mereka mengetahui reaksi apa yang akan dikeluarkan oleh Giyuu. Lelaki itu sepenuhnya berupa misteri.
Tomioka Giyuu yang mereka kenal hanya seorang Giyuu si Junior Manajer bagi sebagian rekan kerjanya. Ada pun Giyuu si regular yang tidak pernah memesan apapun selain chamomile tea untuk beberapa barista di Coffee Shop. Selain itu, Giyuu si kakak mentor baik hati bagi mereka yang meminta Giyuu untuk mengajar beberapa waktu.
But to Douma, Tomioka Giyuu was everything—his entire existence. Every fragment of his being longed to be filled with Giyuu, leaving no space untouched, no breath unclaimed. There was nothing in him that did not yearn to belong to Giyuu.
Douma yang menemukan Giyuu, dia merasa berhak atas hidup dan matinya lelaki itu. Douma tidak sekali pun pernah mengizinkan selain dirinya boleh mencintai Giyuu. Tidak peduli sedingin dan sejahat apapun tindakan Giyuu terhadapnya, Douma hanya ingin lelaki itu bersamanya. Apapun akan Douma lakukan.
Dalam daftar obsesinya, nama Sabito pun tergores sebagai korban. Semua hanya demi satu hal: memaksa Giyuu tetap berada di sisinya.
Douma tidak ingin berkata takdir tidak berada di sisinya, karena sekali pun memang tidak pernah. Tapi malam ini, semua kebaikan yang Douma paksakan demi menjadi manusia berakal seperti sedang sedang mencemoohnya. Hujan yang tidak kunjung reda sejak pagi tadi hingga sore ini, sangat membuat Douma frustasi. Douma ingin mengajak lelakinya, Giyuu, makan malam bersama sebelum ia melakukan tindakan kriminal yang sudah dia pikir matang-matang itu. Douma ingin melihat Giyuu makan di hadapannya, berbicara dengannya, melihatnya, duduk bersamanya, menghabiskan sisa malam terakhir bersamanya sebelum Douma berada di balik jeruji. Douma ingin, setidaknya, melihat paras pujaan hatinya itu sebelum tersiram duka.
Karena malam ini Douma akan membunuh Sabito.
Douma mengerti sampai kapan pun Tomioka Giyuu, si lelaki penuh misteri itu, tidak sudi mencintai lelaki picik sepertinya.
Maka tidak seorang pun bisa dicintai oleh Giyuu.
Membunuh Sabito jelas bukan hanya tindakan anarkis, tapi juga kriminal. Pembunuhan berencana dengan motif yang hanya Douma dan para dewa saja yang boleh mengetahuinya.
Membunuh Sabito jelas akan membuat Giyuu semakin tidak sudi menapakkan kaki di hadapannya. Walau sebelumnya sama tidak sudinya. Tapi memikirkannya saja mampu membuat jantungnya terasa berhenti berdetak.
Membunuh Sabito jelas akan membunuh Giyuu juga.
Maka Douma akan menggantungkan dirinya atau menyayat lengannya jika dengan menabrakan diri nanti tidak membuatnya mati.
Membunuh Sabito, membunuh Sabito. Tidak akan ada yang selamat dari lingkar setan yang dibuat oleh Douma itu. Semuanya sengsara.
Rasa frustasi yang tergambar jelas di wajahnya, membuat siapapun yang melihatnya mengerti dan turut merasa frustasi untuk Douma. Mengerti kalau lelaki jangkung ini sedang menginginkan sesuatu yang mustahil. Menginginkan sesuatu yang bahkan seisi dunia menentangnya.
Hujan menghalangi Douma untuk merenggut jiwa yang raganya dikasihi oleh Giyuu.
Hujan membuat semua rencananya berantakan. Tidak ada satu pun to do list yang dia buat sejak berbulan-bulan lalu itu terlaksana. Semuanya karena hujan.
Bukan.
Belum berantakan.
Tomioka Giyuu dengan mata terbelalak dan napas tersenggal, seperti udara tidak sanggup lagi menerobos masuk paru-parunya, kini berdiri di hadapannya. Bibir seputih awan di musim panas itu seakan memberitahu berapa lama durasi dia berdiri di bawah hujan. Jari-jemari cantik yang selalu Douma idamkan untuk bisa mengenggamnya dengan erat, kini bergetar hebat, membuat payung yang sama sekali tidak menghalaunya dari deraan air hujan, turut bergetar. Melihat Giyuu tidak berdaya sama sekali tidak masuk ke dalam agenda Douma hari ini. Douma ingin melihat Tomioka Giyuu dengan tatapan tipis nan tajam yang mampu menghunus sampai ke bagian terdalam Douma. Douma ingin Tomioka Giyuu yang tidak berkata apapun tapi mampu membuat jantungnya berdegup kencang. Douma ingin Tomioka Giyuu dengan segala rupanya yang rupawan itu.
Bukan Tomioka Giyuu yang menangis meraung seperti ini.
Bukan Tomioka Giyuu yang abai dengan sekelilingnya seperti ini. Giyuu di kepala Douma adalah lelaki dengan rupa elok bagai permaisuri. Tidak sekali pun Douma pernah membayangkan akan melihat Giyuu menggila seperti ini. Karena dia tidak akan dengan lancang membayangkan sosok Giyuu berantakan, seperti saat ini. Jejak rupa yang rupawan itu tidak hilang, tapi juga tidak terlihat.
Douma hanya melihat duka.
Di bawah hujan, Giyuu menangis di hadapannya. Berduka seperti sedang menangisi semesta yang sudah pilih kasih terhadapnya.
“Would you cry for me as you are now crying for him?” adalah respon yang diberikan oleh Douma.
Giyuu mati-matian mengembalikan dirinya ke keadaan sebelum dia meraung seperti orang gila. Menjelaskan kenapa dia berlari di bawah hujan, bergegas menuju ke tempat di mana Douma berada. Mengabaikan segala jenis tatapan yang mengarah kepadanya. Giyuu ingin cepat sampai di hadapan Douma dan bertemu dengannya. Bertemu dengan lelaki yang selama ini selalu dia hindari keberadaannya.
Kematian Sabito yang mendadak terasa seperti mimpi saat demam. Giyuu sedang melakukan pekerjaannya, melakukan presentasi terbaiknya, tidak berharap apapun selain yang terbaik untuk dirinya dan rekan kerjanya yang sudah setengah mati bekerja siang malam. Derasnya hujan di luar tidak terdengar di ruangan yang kedap suara itu, tetapi tidak dengan dering ponselnya. Sebelumnya Giyuu tidak pernah ceroboh untuk lupa mengaktifkan do not disturb selama dia bekerja. Deringnya mampu membuat Giyuu kehilangan fokus.
Seseorang menghubunginya dari kepolisian. Mengabarinya secara singkat, hanya satu baris dengan beberapa kata yang terdengar seperti sambaran petir. Membacanya lewat notifikasi *pop up* saja sudah mampu melemaskan kedua lututnya seketika, tanpa bisa dicegah air matanya menetes. Giyuu tidak bisa lagi berdiri tegak.
“….kepolisian XXX menemukan Sabito meninggal dunia…”
Tomioka Giyuu adalah pribadi yang sangat professional. Atasan yang berada di satu ruangan bersama Giyuu tidak sanggup bertanya mengapa setelah melihat keadaan Giyuu. Wajah pucat pasi, kedua lengan yang menumpu semua bobot tubuhnya di atas podium, juga air mata yang tidak berhenti menetes. Siapapun yang melihatnya mengerti. Tidak ada penghakiman yang menuntut penjelasan, Giyuu diizinkan untuk meninggalkan tempatnya saat itu juga.
Dan berlari untuk menemui Douma adalah pilihan yang muncul pertama kali di kepalanya.
Karena Douma tidak hanya sekali mengatakan kalau dia akan merenggut kekasih hatinya. Douma, walau tidak terlihat serius, selalu mengatakan Giyuu tidak akan bersama siapapun selama sisa hidupnya kalau dia tidak bersama lelaki jangkung itu.
Douma lah yang membunuh Sabito.
Giyuu ingin memercayai halusinasinya. Dia ingin Douma yang membunuh Sabito. Dia ingin sebuah alasan untuk membenci Douma. Giyuu ingin dia bisa mengutuk Douma karena lelaki itu memang layak. Bukan seperti selama ini yang selalu tanpa alasan. Bukan seperti selama ini, yang selalu menghalau rasionalitasnya untuk tidak melakukan apapun selain berbuat keji terhadap Douma.
Giyuu tidak ingin apapun selain Douma menjadi alasan di balik rasa frustasi dan amarah yang dia rasakan sekarang.
“I know I’m the bad guy here, but isn’t it a bit much to accuse me of murdering someone?” Douma melepas coat-nya, memakaikannya ke Giyuu. Lelaki dengan fisik yang jauh lebih mungil itu menerima tanpa bereaksi, mungkin dingin sudah melumpuhkan sebagian badannya. Entah lah, Douma tidak merasakan apapun selain senang. Senyum semringah rasanya siap mengudara kapan saja kalau tidak mengingat keadaan mereka saat ini.
“I don’t know who is this Sabito guy, Giyuu. Aku kerja, semua orang di lantai 22 bisa jadi saksi aku ada di sana sepanjang hari. Alibiku kuat, I didn’t kill Sabito,”
Tidak, Douma bukan tidak membunuh Sabito. Dia hanya kalah cepat dengan orang sialan yang mabuk sambil berkendara di bawah hujan. Douma sangat ingin Sabito mati, bahkan merencanakan pembunuhannya saja terasa seperti sedang menulis surat cinta untuk sang pujangga, tapi saat mendengar kalau bakal korbannya sudah mati di kecelakaan konyol, entah lah. Bersyukur pun Douma tidak ingin.
Douma ingin Giyuu melemparkan amarahnya karena dia memang membunuh Sabito.
Bukan karena Giyuu berharap Douma yang membunuh Sabito.
Untuk pertama kalinya Douma merasakan perasaan aneh ini. Rasanya tidak nyaman. Dia tidak marah, tidak juga kesal, dia tidak kenal perasaan ini. Giyuu selalu bisa membuatnya merasakan hal asing yang belum pernah dia rasa sebelumnya, tapi perasaan ini Douma sama sekali tidak ingin merasakan untuk yang kedua kalinya.
“Giyuu, would you cry for me as you are now crying for him?” lagi, dengan pertanyaan yang sama.
Giyuu mengangkat kepalanya. Wajahnya tidak menggambarkan ekspresi apapun, namun jejak air mata yang tidak sepenuhnya tersapu hujan terlihat jelas di sana. Douma sangat ingin menarik lelaki itu ke dekapannya. Sangat ingin. Kalau saja perasaan asing yang mengganjal itu tidak ada, Douma pasti sudah merelakan badannya dihujani tinju seandainya dia nekat mendekap Giyuu.
“I’d like crying for you, for another reason.”
“Cintai aku, wont you?”
“Never will I allow my heart to love someone as unbearably arrogant as you, Douma.”
But I love you genuinely.
Menit berganti jam, suhu tubuh Giyuu sudah kembali hangat terlihat dari rona wajahnya yang perlahan kembali. Deru napas yang terasa berat kini sudah sepenuhnya membuat jejak embun di kaca jendela Douma. Memilih memarkir di bawa pohon awalnya terdengar tidak aman, namun melihat Giyuu yang keadaannya sudah seperti akan menyusul Sabito ke alam baka, tidak ada opsi lain untuk Douma. Karena tidak mungkin dia membawa Giyuu ke tempatnya. Tidak dengan keadaan seperti ini.
“Aku antar pulang,” Douma bersuara, berusaha memancing Giyuu berbicara.
Tuduhan tajam yang terus menerus dilontarkan Giyuu tadi terasa seperti hujan meteor. Perasaannya yang tidak berbalas terasa seperti cemoohan untuknya. Douma tidak hanya mencintai sepihak, tapi dia dijadikan kriminal oleh cintanya itu. Dewa pun mungkin akan menertawakan kisahnya. Tidak ada lagu cinta yang bisa menggambarkan keadaannya sekarang. Sangat ironi.
“Don’t, the police, they’re still there. Perhaps,”
Giyuu dan Sabito tinggal di satu tower yang sama, lantai yang sama, dan unit mereka bersebelahan. Adalah salah satu alasan kuat untuk Douma membunuh Sabito, awalnya. Mendengar Giyuu yang enggan kembali ke kediamannya hanya karena Sabito, membuat Douma kesal. Lelaki itu bahkan masih sanggup menguasai Giyuu setelah dia mati konyol.
Sebenarnya sedalam apa, sih, perasaan Giyuu untuk Sabito itu? Douma tidak tahan. Dia ingin juga dicintai Giyuu seperti itu. Dia ingin Giyuu melihatnya seperti bagaimana Douma melihat Giyuu setiap hari.
“Kita makan, aman? I’m not taking you to my house, not when you’re in this… you know, you’re unstable,”
“Aku ga mau kita makan, Douma.”
Please God, at least grant one thing from my list. Don’t let everything fail. I want us to have dinner together.
“Giyuu, you know, I made a list of a few activity for us to do today. Three actually,” Douma melirik Giyuu lewat ujung matanya. Giyuu duduk terdiam, kedua lengannya ia silangkan di depan dadanya. Sepenuhnya menatap lurus ke dapan. Douma menarik satu garis tipis di bibirnya, Giyuu tetap lah Giyuu. “the first one’s already done, though I wasn’t the one who did it. The second was grabbing dinner together, but, yeah, you weren’t down for it. So, that leaves the last one,”
Satu helaan napas berat menjadi penutup kalimat panjang Douma. Sekaligus memancing reaksi dari Giyuu. Tapi, yah, lelaki itu masih bergeming.
“I want you to leave, Giyuu. Aku telfon taksi, ya?”
Douma butuh Giyuu keluar dari mobilnya sekarang juga. Jika mau sisa rencananya berjalan sempurna, tidak boleh ada Giyuu bersamanya. Walaupun sebagian rencananya berantakan, ditambah makan malam bersama yang sepertinya juga akan batal, Douma tidak mau membiarkan rencananya yang terakhir juga gagal.
Takdir sudah terlalu sering bermain-main dengan nasibnya, kali ini Douma tidak mau ada yang mengasihani pilihan hidupnya. Tidak Tuhan, tidak juga dewa.
Kematian Sabito yang memantik amarah Giyuu terhadapnya, sejauh ini sudah sesuai dengan isi di dalam rencananya. Kemudian makan malam bersama, yah, di kehidupan selanjutnya pun Douma tau Giyuu tidak akan mau makan bersamanya apalagi di hari kematian kekasihnya. Kemudian baris terakhir di dalam list yang sudah Douma tulis itu,
3. Crash the car along with my soul. Don’t seek help, Giyuu doesn’t deserve someone who’s disabled. Let yourself die.
Tomioka Giyuu tidak menolak saat Douma menawarkan taksi untuknya. Rasanya lelah sekali. Dia tidak sanggup lagi berduka, Sabito sudah dibawa ke rumah duka oleh keluarganya. Kakanya yang memberitahu sekaligus menanyakan keberadaannya. Giyuu tidak mengerti kenapa amarah menuntunnya ke Douma. Tadi dia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah, menumpahkan semua yang selama ini mau dia muntahkan untuk Douma. Menyalahkan Douma.
Giyuu dan pikiran gilanya yang menginginkan Douma bersalah.
Tomioka Giyuu tidak pernah mengindahkan eksistensi Douma, tapi kenapa dia merasa terganggu.
“Giyuu, 5 menit lagi taksinya sampai. Pakai payung, sebentar,” Douma turun dari mobil untuk mengambil payung dari bagasi. Hujan yang masih cukup deras membuat tubuh Douma kembali kuyup. “Ini, payung. Nanti kamu jalan agak ke depan, ya?” ucapnya begitu kembali memasuki mobil. Tetesan air hujan terlihat membasahi jok mobil, Giyuu tidak tahan melihatnya.
Dia bisa jalan sendiri, dia bisa mengurus dirinya sendiri. Douma tidak perlu melakukan apapun.
5 menit yang dikatakan Douma tadi sudah hampir berlalu. Lelaki itu sibuk mengeringkan wajahnya dengan tisu, sepenuhnya membiarkan joknya basah begitu saja. Giyuu melempar coat milik Douma, bermaksud untuk lelaki itu pakai dan melepas kemeja basah yang menempel di badannya itu.
Tidak tahan dengan entah jenis tatapan apa yang dilemparkan Douma untuknya, Giyuu memilih keluar dari mobil. Giyuu berjanji pada dirinya sendiri akan menemui Douma besok atau lusa, karena walau bagaimana pun dia bukan seseorang tanpa etika. Giyuu akan berterima kasih untuk coat yang dipinjamkan Douma untuknya tadi.
Dan, mungkin, dia akan meminta maaf atas segala sikap buruknya selama ini. Entah lah.
Di sisi lain adalah Douma dengan segala perasaan dalam benaknya yang siap meluap kapan saja. Dua jam berharga dalam hidupnya baru saja berakhir. Berada di satu ruang sempit bersama Giyuu terasa sesak juga menyenangkan. Di luar alasan mereka harus terperangkap di dalam mobilnya, Giyuu terlihat seperti yang selama ini selalu Douma bayangkan. Duduk dengan nyaman di sampingnya, sementara Douma menyetir ke entah destinasi mana yang akan mereka sambangi. Rasanya seperti, astaga, andai saja Giyuu bersedia untuk makan malam terakhir dengannya. Mungkin Douma akan menjadi bakal mayat yang paling bahagia.
Sosok Giyuu terlihat semakin menipis di ujung sana. Tubuh ramping yang tertutup payung itu terlihat rapuh di bawah hujan. Douma kembali mengingat alasan kenapa sang Tomioka Giyuu sampai berlari menemuinya.
Konyol sekali, Douma memaksakan sebuah tawa.
Semakin konyol karena sesuatu membasahi pipi kanannya. Douma… menangis, untuk pertama kalinya.
Entah karena kematian yang akan dia jemput paksa atau karena mengetahui Tomioka Giyuu tidak pernah sekali pun membalas perasaannya. Perasaan mengganjal yang tadi sempat sirna, kini menyeruak kembali ke permukaan. Rasanya masih tidak nyaman seperti pertama kali dia rasakan tadi. Kali ini sensasinya bertambah, ada perasaan sesak juga panas di tenggorokannya. Douma menolak tetesan lain melewati pipinya, yang justru membuat kedua bola matanya terasa seperti membengkak. Sakit luar biasa.
Perasaan apa ini, Douma tidak mengerti.
Douma tidak tahan, rasanya dia ingin berteriak sekuat tenaga. Tapi ia juga mengerti kalau apapun yang dia lakukan untuk menghalau perasaan ini tidak akan memberikan dampak apapun. Kecuali dia membuat dirinya mati rasa.
Mati rasa.
Mati.
Mati juga segala jenis perasaannya untuk Giyuu, yang dia tidak pahami sepenuhnya selain rasa ingin memiliki.
Douma seperti menemukan jawaban untuk dirinya sendiri, di tengah deraan perasaan yang terasa berat di dadanya, Douma tertawa tertahan. Mungkin ini yang dirasakan Giyuu selama ini. Jelas Giyuu tidak mau membalas perasaannya, jelas Giyuu tidak sudi membuka hatinya, karena rasanya sangat tidak nyaman.
Membalas cintanya yang menurutnya sangat tulus itu mungkin terasa menjijikan untuk Giyuu.
Douma melihat taksi yang membawa Giyuu sudah pergi. Ia segera menyalakan mobilnya, sudah saatnya dia melakukan list-nya yang nomor tiga itu. Douma tidak meninggalkan apapun di dalam mobilnya. Selain ponsel dan tubuhnya yang mengendarai mobil itu, tidak ada benda lain yang bisa mengidentifikasi mayatnya nanti.
Douma akan menenggelamkan mobilnya di sungai kalau pilihan menabrakan diri terdengar sulit di tengah lalu lintas yang lumayan padat ini. Berarti masih ada beberapa jam lagi sampai dia bisa benar-benar mati dan meninggalkan Giyuu. Douma yang tidak ingin Giyuu berlama-lama menyimpan amarah untuk sosoknya yang busuk itu, mengambil beberapa butir obat vertigo dari dashboard dan menenggaknya tanpa air. Sebelum akhirnya Douma benar-benar menekan start di mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan yang hanya Tuhan saja mampu menyelematkan jiwa yang melayang itu. Tapi Tuhan tidak berada di sana untuk menyelamatkan Douma.
Seketika bunyi klakson melengking dari segala penjuru arah. Membuat siapa saja yang mendengarnya paham, nyawa seseorang mungkin sudah terlepas dari raganya.
Giyuu menatap ke keramaian di ujung jalan. Lalu lintas yang tadinya sudah padat merayap justru terasa seperti berhenti total. Hujan saja tidak cukup, kini ditambah dengan kendaraan yang berjalan ugal-ugalan. Jalan yang dilewati beberapa mobil tadi siang mungkin terasa seperti sekarang, karena kecelakan yang menewaskan Sabito dikatakan membuat lalu lintas lumpuh beberapa saat.
Awalnya Giyuu sama sekali tidak tertarik dengan entah nyawa siapa yang terenggut di kecelakaan ini, karena dia merasa sudah cukup dengan kabar kematian. Tapi, begitu supir taksinya menyebut jenis mobil yang menjadi korban lengkap dengan jenis dan plat nomornya, jantung Giyuu terasa jatuh ke dasar perutnya.
Tomioka Giyuu, di tengah hujan deras dan kemacetan jalan raya, belum sempat ia mencerna atas apa yang baru saja kedua matanya lihat, melompat dari taksi yang dia naiki dan berlari ke arah mobil yang sudah terbalik di ujung jalan. Suara gesekan benda metal dan aspal yang melengking tidak menghentikan langkahnya. Asap yang entah datangnya dari mana, mengepung mobil yang menjadi satu-satunya korban dalam kejadian itu. Menghalangi jarak pandang Giyuu untuk bisa melihat sosok Douma.
“Douma!” jerit Giyuu. Darah yang mengalir dari pelipisnya melawan gravitasi dan turun melewati tiap helaian pirang lelaki itu. Tubuh Douma terkaku di tempatnya, seakan seseorang sengaja menahannya untuk bisa menyelamatkan diri dari maut. Giyuu mendengar rintihan Douma yang terasa menyayat nuraninya, benaknya kacau. Bukan seperti ini yang Giyuu harapkan. Bukan dengan kematian. Giyuu membenci Douma namun tidak sampai menginginkan lelaki itu meregang nyawa. "Douma bangun! Douma, please! Buka mata! Douma, hey!"
Please, Ya Tuhan, izinkan aku minta maaf. Izinkan Douma mendengar aku minta maaf.
“Douma! Anyone please call ambulance!”
Samar suara lelaki yang dicintainya terdengar sangat jauh, memanggilnya untuk kembali. Kembali ke mana? Douma pun tidak mengerti. Tidak ada yang boleh menghalangi rencana Douma, tidak Tuhan, tidak juga Dewa. Douma memilih mati hari itu, maka terjadilah. Jeritan Giyuu yang terdengar sangat memekikan itu tidak lagi terdengar oleh Douma. Panggilan memohon kepada Douma agar lelaki itu terbangun tidak diindahkan sama sekali oleh sang pencipta.
Giyuu tidak diizinkan untuk mengatakan permintaan maafnya.
Begitu juga Douma, dia terlalu licik untuk mau membiarkan Giyuu meminta maaf padanya.
Biarlah, semuanya sengsara.
