Actions

Work Header

Dek Juyeon dan Pak Guru

Summary:

dek juyeon makin gak bisa nahan birahi, akhirnya harus diem-diem main sama guru olahraganya di sekolah.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

saat itu siang hari, ketika juyeon asik bergumul di ruangan guru olahraganya, pak sangyeon. tubuhnya sudah didudukkan pada meja dengan kaki yang sudah mengalung pada tubuh yang lebih tua, tangannya asik meremat rambut si guru saat bibir keduanya semakin dalam merasa basah. juyeon dapat merasa geli akibat kumis tipis pak sangyeon, dimana gairahnya naik beberapa tingkat karenanya. 

kancing kemeja sekolah juyeon sudah terlepas, menampilkan payudaranya yang masih dibalut bra berwarna putih gading. tangan pak sangyeon tak hentinya membuat remasan di sana, sesekali ibu jarinya masuk lebih dalam untuk menggoda puting si gadis yang mencuat.

ketika juyeon sudah terbuai begitu jauh dengan permainan lidah dan gerak si guru olahraga pada dadanya, rasa-rasanya di bawah sana, juyeon sudah merasa basah. kakinya semakin erat mengalung pada tubuh pak sangyeon agar gundukan di antara selangkangan dapat dirasa lebih jelas becek juyeon yang masih dibalut celana dalam warna senada dengan bra.

"pak sangyeon," lena juyeon kala si guru olahraga memberi hisapan cukup kencang pada sisi payudaranya, menimbulkan bercak berwarna merah yang kontras sekali terlihat pada kulitnya yang putih.

pak sangyeon menghentikan aktifitasnya, menatap juyeon yang sudah setengah kacau. bibirnya digigiti dengan gerling nakal menggoda, jarinya tak henti bermain pada karet celana training pak sangyeon. pak sangyeon terlihat ragu untuk melangkah lebih jauh, ia hanya menatap ketika kaki juyeon bahkan sudah terbuka lebih lebar dengan rok yang dinaikkan sampai di atas paha. 

"bapak," panggil juyeon menggoda, menarik tubuh yang lebih besar agar lebih dekat dengannya, gundukan dari celana training sedikit menyundul vaginanya yang becek, bercak basah di bawah sana mungkin sudah terlihat menggoda si pak guru.

juyeon tahu, tak akan mungkin ada yang bisa kabur jika ia sudah menyuguhkan makanan lezat secara cuma-cuma.

"kalo bapak masih ragu kenapa tadi remesin tetek juyeon terus," juyeon menarik celana training pak sangyeon sampai celana dalam yang membungkus jantannya terlihat, pinggulnya sedikit digerakkan menggoda tegang si pria, "tanggung jawab dong pak, juyeonnya becek sekarang,"

juyeon mengambil tangan pak sangyeon, mengarahkannya untuk menyelinap ke balik celana dalamnya. jari-jari pak sangyeon yang gemuk menyapa beceknya, menimbulkan bunyi kecipak cabul yang selalu juyeon senangi suaranya.

juyeon terbuai, matanya terpejam perlahan dengan mulut yang terbuka tanpa suara. enak, kala ada jari lain yang menyapa kemaluannya, selain jari dua kang kuli, juyeon kesenangan karena terus diberi nikmat.

setidaknya ketika jauh dari dua kuli, juyeon sudah menemukan seseorang yang bisa memuaskan hasratnya.

"becek banget kan, pak," juyeon mendesah pelan berusaha mengarahkan jari-jari pak sangyeon ke liangnya yang selalu lapar. pak sangyeon membawa satu jarinya untuk masuk, merasa beceknya kian jauh ke dalam. lalu mata si pak guru tiba-tiba membola, terkejut akan apa yang baru saja ia temukan di bawah sana.

"juyeon ini-" pria itu terlihat kesulitan berucap, sedangkan juyeon malah menikmati gerak jari guru olahraga di dalam liangnya, "kok-" juyeon mengigit bibirnya kala menemukan bingung dari pak sangyeon.

"kenapa ngowoh banget?" pertanyaan pak sangyeon membuat juyeon mendesah.

juyeon merasa bangga. senang saat ada yang tahu kalau ini bukan pertama kali liangnya disumpal tegang pria, senang kala seseorang berpikir dirinya nakal atau bahkan murahan karena selalu menyajikan liang ngowoh yang tak lagi rapat miliknya itu.

juyeon mengangguk dengan bibir yang digigiti menggoda si guru olahraga, tangannya ikut mendorong tangan pak sangyeon untuk semakin masuk ke dalam.

"suka kan pak kalo ngowoh gini? bisa dimasukin banyak jari," juyeon membawa tangan pak sangyeon untuk maju mundur, mata sayunya tak pernah alih dari manik pak sangyeon yang terlihat kesulitan menahan hasratnya untuk tidak menyetubuhi si gadis detik itu juga.

"bahkan- tangan pak sangyeon juga kayaknya muat,"

pak sangyeon menggeram tertahan, ia menampar payudara juyeon keras, "gila ya kamu," lalu juyeon malah kesenangan menerimanya.

tak lagi bisa membendung nikmat, juyeon bersiap untuk melepas celana dalamnya ketika pak sangyeon malah menahan geraknya, "jangan dilepas," larang si guru olahraga dibalas juyeon yang mengernyit bingung.

"seksi kayak gitu, nanti saya selipin aja,"

entah karena juyeon yang terlalu mudah birahi atau karena pak sangyeon yang tiap kata diucapnya terdengar seksi bagi juyeon, yang lebih muda malah mendesah, liangnya semakin tak tahan untuk segera menempeli tegang besar milik si pak guru.

"yauda selipin sekarang," ucap juyeon tak sabaran.

tegang pak sangyeon diusap juyeon masih dari balik celana dalam si pria. juyeon buru-buru membebaskannya sebelum menggeseknya pada kemaluannya yang tertutup celana dalam. juyeon tak pernah alih dari menatap si guru olahraga, seakan ingin terus memperlihatkan bagaimana wajah mengundangnya kala mendapat nikmat di bawah sana.

keduanya masih senang menggesek becek, melupakan fakta bahwa tempat keduanya bercumbu adalah masih di daerah sekolah. terlalu banyak siswa dan guru yang berlalu lalang, siapa saja bisa mendengar dan memergoki keduanya.

"kamu gak takut kita ketauan?" tanya pak sangyeon yang pinggulnya sudah mengikuti ritme gerak tubuh juyeon saat menggesek, "banyak kemungkinan siapa aja bisa masuk ke ruangan saya,"

juyeon lalu menggeleng, ia mendekat dan menjilat bibir pak sangyeon cepat, "kalau ada yang masuk-" juyeon menggigit bibir bawah pak sangyeon, menariknya menggoda dengan pinggul yang masih asik menggesek.

 

"suruh ikutan aja- suruh ikut ngewein juyeon," 

 

juyeon tak pernah tahu sejak kapan keberanian menggodanya datang, namun terang-terangan mengatakan kalau ingin dipakai oleh beberapa orang secara bersamaan, juyeon rasa memang ada yang salah dengan otaknya.

"ah- gila ya kamu,"

pak sangyeon ikut terangsang dengan bagaimana juyeon berucap. lalu tak lagi sanggup menunggu, pak sangyeon menarik celana dalam juyeon ke samping dan segera melesakkan keseluruhan penisnya dengan mudah ke dalam liang merekah. si gadis membuka mulutnya tanpa suara, berusaha keras agar tak menimbulkan sedikitpun suara.

"bapak nghhh- enak banget,"

gemuk, tebal, penuh, juyeon masih bisa merasakan penuh bahkan dengan liang yang sudah kesulitan dirapatkan. selain kang kuli, ternyata pak sangyeon juga bisa membuat liangnya puas, tersumpal kemaluan sebesar botol hampir membuat mata si gadis putih keseluruhan. lidahnya terjulur dengan liur yang menetes dari sudur bibir.

juyeon teler padahal baru disumpal jantan si guru, dengan bayang disetubuhi oleh banyak orang karena lokasi keduanya bercumbu sekarang membuatnya semakin bergairah tak peduli jika ada yang mendengar bahkan memergoki.

pak sangyeon lalu bergerak maju dan mundur, juyeon mengalungkan tangannya pada leher si guru untuk menumpu tubuhnya agar tak semakin jatuh ke belakang, pinggulnya ikut digerakkan mengejar nikmat dunia bagi keduanya.

"nghh pak iya gitu," pinggul pak sangyeon mulai menghentak keras, "terus," juyeon seakan memberi semangat kepada pak sangyeon untuk semakin gencar mengerjai lubangnya, pinggul si guru olahraga beberapa kali menjauh menyisakan setengah tegangnya di dalam, lalu kembali melesak lebih dalam.

di rumah juyeon sudah diberi nikmat bahkan oleh dua pria berotot besar sekaligus, namun di sekolah liangnya masih ingin diberi puas, dan pak sangyeon memiliki tegang yang sama besarnya dengan dua kang kuli, mengisi penuh liangnya yang terus mengucur lendir. begitu banyak memberinya puas sampai juyeon ingin berlama-lama berada pada nikmat.

juyeon memutar pinggulnya gila saat pak sangyeon menghentak keras, menambah sensasi lain untuk keduanya menuju pada puncak kenikmatan. juyeon sesekali membuat otot liangnya mengetat, memancing geram pak sangyeon yang warasnya sudah hampir cerai karena liang becek juyeon.

kecipak cabul menandakan bahwa keduanya sudah terlalu banyak menghasilkan lendir, satu tangan pak sangyeon mencengkeram meja agar lebih memperkuat geraknya dalam liang si gadis, sedangkan tangannya yang lain mulai meremas payudara padat.

"enak banget pak, penuh," juyeon membukan mulutnya tanpa suara, tiap menit yang berlalu seakan membuat gerak si pria paruh baya kian kuat menghujam liangnya.

juyeon terus memanggil nama pak sangyeon dalam tiap desah yang dilantunnya, diiring suara tubrukan kulit dan kulit yang kian nyaring, juga suara becek yang timbul dari bagaimana liang juyeon cepat membawa nikmat.

"pak sangyeon udah mau keluar?" tanya si gadis kala tegang pak sangyeon dirasanya kian membesar, "sedikit lagi," jawab yang jauh lebih tua dengan alis yang kian menukik tajam, seperti menahan nyeri karena sudah diujung bebas.

juyeon tak sabar ingin segera diberi kental mani yang menyebar dalam liangnya, maka kaki juyeon mengalungi tubuh pak sangyeon, menariknya semakin dekat agar ujung tegang menyentuh telak titik terdalam. pinggulnya memberi gerak memutar dengan pak sangyeon yang menyundul kian dalam, memastikan keseluruhan tegangnya ditelan habis liang lapar muridnya itu.

"ah! juyeon," juyeon mengetatkan liangnya seperti memeras tegang pak sangyeon agar segera mengelurkan mani.

"stop juyeon," pak sangyeon berusaha mencabut tegangnya dari liang kala wajahnya kian memerah, namun geraknya ditahan kaki juyeon yang masih mengalung, "nanti saya keluar di dalem,"

"gapapa di dalem aja," si gadis menjilati wajah pak sangyeon, memberi rangsang lain agar si guru olahraga tak lagi kuasa menahan bebas, "mana boleh ngh! juyeon," pak sangyeon menggigit bibirnya ketika juyeon kian mengetatkan liangnya.

"gapapa," juyeon membawa wajah si guru agar menatapnya, "pak sangyeon boleh bikin juyeon hamil,"

lalu sumpah juyeon melihat mata pak sangyeon menghitam, kakinya kian menancap pada lantai, juga tangannya yang kian menancap pada meja. geraknya melebihi gila sebelumnya, pak sangyeon seperti kesetanan, juyeon terpantul dan hanya bisa melihat hitam.

"nyahh!" lalu pak sangyeon menghentak kian kuat, bergerak kian cepat, dengan payudara juyeon yang semakin memantul karena gerakan gila yang dilakukan si guru olahraga.

pak sangyeon sedikit mengangkat tubuh juyeon, membuat tegang gemuk milik yang lebih tua tertelan keseluruhan menekan titik terdalam dengan nikmat bertubi. mata juyeon semakin bergulir kebelakang, seragamnya tak tahu lagi kacaunya seperti apa, juyeon tak peduli, yang ia pedulikan sekarang adalah nikmat yang dirasanya terus-terusan selama beberapa jam terakhir, merasa si guru olahraga yang tegangnya hampir menembus keluar liang saking dalamnya menekan.

"keluar di dalem, bikin juyeon hamil pak sangyeon,"

"kamu gila, juyeon,"

lalu kala pak sangyeon kian membawa tubuh juyeon naik dan turun, juga rangsang diperut keduanya yang kian melilit, juyeon nyaris menjerit kalau mulutnya tak langsung dibungkam oleh ciuman panas pak sangyeon, basah mulutnya kian turun dan menarik putingnya gemas. hingga juyeon mengetat begitu kuat, pak sangyeon menekan telak yang terdalam.

"ngh! pak sangyeon,"

pak sangyeon, guru olahraga juyeon yang terlihat berwibawa dan seksi dengan tubuhnya yang tegap dan berotot, akhirnya membebaskan maninya di dalam liang juyeon. hangatnya membuat si gadis ikut mengeluarkan seninya sedikit demi sedikit yang basahnya tertampung oleh celana dalamnya yang sedari tadi belum ditanggalkan.

perlahan pak sangyeon menarik miliknya untuk keluar, "bapak," juyeon mendesah manja tak ingin liangnya ditinggalkan berat si guru olahraga.

"ngowoh banget," pak sangyeon menatap ke bawah, ke liang juyeon yang menganga terlampau sulit untuk kembali mengatup. jarinya dibawa masuk sengaja untuk merasa hangatnya di sana, "peju saya ternyata gak bisa bikin lubang kamu penuh," 

"pak sangyeon," panggil juyeon centil, tangannya menarik kaos yang dikenakan si guru untuk mendekat. milik pak guru yang masih terbebas dari sarangnya kembali diurut pelan oleh si gadis.

juyeon menatap pak sangyeon, kembali mengigiti bibirnya menggoda. lalu yang lebih tua paham, kalau kalimat selanjutnya yang mungkin diucap juyeon adalah melebihi gila dari sebelumnya.

"mau pipis di lubang juyeon gak?"

"j-juyeon-" pak sangyeon masih tak bisa paham dengan jalan pikir anak zaman sekarang, begitu jorok namun juga menggairahkan menurutnya.

masih, juyeon masih mengurut milik pak sangyeon, berharap pria paruh baya itu setuju dengan permintaanya, "biar makin penuh lubang juyeonnya,"

lalu bagai kembali disengat listrik kala juyeon terus mengurut tegangnya, juga beberapa kali gerak yang dilakukan si gadis dengan vaginanya dalam menggesek tegang. kantung kemih milik si pria seperti siap untuk tumpah ruah.

"gila," ucapnya menurunkan tubuh juyeon dari meja, membalik tubuhnya dalam sekali hentak, lalu menampar bokongnya kencang, "nungging kamu," perintahnya telak.

lalu juyeon menurut, membawa tubuhnya untuk menempel dengan meja membuat pinggulnya menungging dengan sempurna. pak sangyeon menepukkan kejantanannya pada liang merekah, sebelum kembali membawa tegangnya masuk.

juyeon kembali mendesah keenakan. sebelum dirasa tegang di dalamnya mulai membesar dan siap kembali mengisi liangnya dengan cairan lain.

"pak sangyeon keluarin, ayo kencingin lubang juyeon,"

pak sangyeon menggeram di belakang sana, ia menghentak beberapa kali sebelum cairan ringan tumpah ruah detik berikutnya mengisi liang hangat yang selalu lapar. juyeon mendesah lega, ia merasa penuh juga puas, hingga matanya putih keseluruhan, lidahnya menjulur karena telampau jauh terbang dilimpah kenikmatan.

"penuh banget lubang juyeon, dipejuin sama dikencingin," si gadis meracau tak jelas, pahanya tak pernah berhenti bergetar diiukuti cairan ringan yang mengalir pelan membasahi pahanya. entah air seni juyeon yang perlahan keluar atau seni pak sangyeon yang seluruhnya tak sanggup ditampung liang si gadis.

pak sangyeon tak hentinya menggeram dan menampar bokong juyeon, pak guru sepertinya puas dengan apa yang baru saja dilakukannya kepada muridnya itu.

"celana dalem juyeon jadi basah banget karena kencing," ucap si gadis masih tetap menungging. pak sangyeon mundur perlahan, menarik tegangnya untuk keluar dari liang.

lalu keseluruhan air seni pak sangyeon yang ringan tiba-tiba menyembur keluar dari dalam liang juyeon, tak sengaja didorong oleh otot vagina juyeon yang berusaha untuk merapatkannya. 

"nghhh nyembur,"

"sinting,"

pemandangan gila yang tak pernah keduanya rasa dan lihat sebelumnya, juyeon bergetar beberapa kali kala liangnya mencoba mengosongkan air seni di dalamnya. seluruhnya merembas ke celana dalam yang masih juyeon kenakan, bahkan juyeon terlihat seperti tak memakai celana dalam karena basahnya begitu mencetak jelas vaginanya yang penuh cairan.

pak sangyeon membawa juyeon untuk kembali menghadapnya, membawa muridnya kembali dalam ciuman panas, tangannya terus mengusap pinggul si gadis yang masih dibalut celana dalam. sesekali pria itu berdesis seperti tak kuasa melihat pemandangan menggiurkan di depannya.

"celana dalem kamu yang basah, boleh buat saya?"

"yang ini? buat apa pak?"

"buat bahan coli saya di rumah,"

nghh. juyeon malah mendesah kala mendengarnya. lupa kalau ia harus menjawab setuju atas permintaan si guru olahraga, pak sangyeon lalu mendekat dan berbisik di telinganya.

"toh saya yakin, kamu pasti senengkan keliaran di sekolah gak pake celana dalem. biar siapa aja yang liat bisa langsung ngewein kamu gak berenti,"

siang itu sampai jam sekolah berakhir, juyeon tak kunjung kembali ke kelasnya karena liangnya terus-terusan digempur pak sangyeon tanpa ampun. karena sialnya juyeon dan pak sangyeon tak pernah merasa puas berapa kalipun keduanya sudah keluar begitu banyak.

Notes:

Thank you for reading. Find me on X

Series this work belongs to: