Work Text:
Atsushi berhasil mengambil buku dari tangan Fyodor. Dia pun bertemu dengan Dazai yang tiba-tiba muncul di depan pelabuhan dekat jembatan. Dia segera menyerahkan buku tersebut untuk dimusnahkan pada Dazai.
Sebelum Dazai mengambilnya, Dazai bertanya pada Atsushi.
“Atsushi-kun, apa kau tahu siapa yang menciptakan buku itu?”
Atsushi menggeleng. Dia kini juga penasaran. “Siapa, Dazai-san? Kau tahu?”
Dazai tersenyum mendongak menatap langit senja. “Aku ingin menjawabnya, tapi aku lupa siapa namanya. Tapi ... percayakah kau? Aku ini bukan manusia, seperti nama ability-ku.”
Atsushi menolak percaya. “Mustahil kau bukan manusia! Aku melihatmu berdarah, terluka, dan sekarat, Dazai-san!”
Dazai melirik Atsushi tajam. “Lalu, pernahkah kau melihatku menangis?”
Atsushi tidak pernah, semua anggota ADA bahkan Port Mafia juga demikian.
“Jadi, ada satu lagi rahasiaku selain apa pekerjaanku di masa lalu. Itu adalah identitas asliku.” Dazai mendesah menutup mata menikmati angin sore yang berembus lembut. “Atsushi, semua tragedi dan kehancuran dunia ini adalah ulahku. Karena ... aku sama seperti Sigma.”
Atsushi tercekat. “B-bagaimana mungkin--”
“Eh? Tapi statusku lebih tinggi darinya, tahu! Aku adalah ciptaan pertama yang diwujudkan oleh Pencipta buku. Sayangnya, Pencipta itu tidak pernah menginginkanku. Baginya, aku ini ... produk gagal.”
“Tidak! Dazai-san itu manusia! Dia bukan sebuah produk gagal!” isak Atsushi.
Dazai tersenyum mengacak-acak surai sang weretiger. “Kau harus menerima kenyataan yang ada, Atsushi-kun. Omong-omong, Penciptaku tidak tahu bahwa aku memiliki kekuatan yang sekarang dikenal sebagai Ability. Pada hari menyebalkan itu, aku tidak sengaja menghilangkan Penciptaku hingga menjadi ketiadaan.”
Atsushi tercengang.
“Aku takut. Aku langsung melarikan diri dari tempat itu meninggalkan begitu saja buku ajaib ciptaannya. Lalu, orang acak datang memungutnya. Dialah ... Sensei Natsume. Saat itu, dia iseng menulis cerita tentang dirinya sebagai kucing yang bisa berubah wujud menjadi manusia. Dan semua itu terwujud, membuatnya panik. Aku yang dalam pelarian pun menemukan wujudnya dalam bentuk kucing. Saat kusentuh, kekuatanku langsung aktif. Sensei kembali ke wujud manusia. Dia bercerita banyak soal buku ajaib yang dia isi dengan ribuan cerita pendek.”
“Apakah ... cerita-cerita pendek itu ... menyebabkan banyak manusia mendapatkan Ability?” duga Atsushi
“Ya. Sebenarnya, semua orang yang kau kenal adalah karakter yang dibuat Sensei dalam ceritanya.”
“Termasuk aku?” Atsushi menunjuk diri sendiri.
Dazai melengos tak menatap dan menjawab Atsushi.
“Dazai-san?”
“Atsushi-kun, kau adalah kunci dari semuanya. Itulah mengapa kau bisa lepas dari pengaruh Fyodor dan mengalahkannya.”
“Jadi ..., aku ini manusia atau bukan, Dazai-san?”
Dazai terkekeh, langsung mengulurkan tangan ke arah Atsushi. “Berikan bukunya padaku, Atsushi-kun.”
Atsushi cemberut, menolak keras. “Tidak sebelum kau jawab pertanyaanku!”
Dazai mengumpat, lalu sebuah ide terlintas. “Atsushi-kun, kau bisa mencari tahu setelah tugasmu berakhir. Biar kuberi petunjuk! Ability-ku adalah menghilangkan sementara ability seseorang. Namun, nyatanya ability itu tersimpan di tempat lain. Ability yang telah kubatalkan akan tetap ada meski sekarang semua orang yang pernah berinteraksi denganku sudah meninggal.”
“Aku tidak paham, Dazai-san! Aku terlalu bodoh!” rengek Atsushi.
Dazai tertawa terbahak. “Sungguh kasihan~”
Atsushi siap memencak, tetapi disela Dazai.
“Intinya, hanya kaulah satu-satunya manusia yang dilahirkan dan diberkahi kekuatan dari Dewa, Atsushi-kun. Di sini dan ... di tempatku. Kau akan selalu menjadi orang penting dan pahlawan dunia.”
Atsushi merasa tersanjung. Dia kini berpikir, Dazai ada benarnya. Karena selama ini, Atsushi tak tahu siapa kedua orang tuanya. Namun, ada sebuah pertanyaan yang sangat ingin Atsushi tahu jawabannya.
“Buku ini ... jika ada bersamamu dan kau sentuh, apakah ... kekuatannya akan hilang selamanya atau berpindah ke tempat yang kau maksud?” tanyanya.
Dazai menjentikkan jari. “Pertanyaanmu kali ini cerdas! Jawabannya sama-sama ‘ya’.”
“Bisakah itu ... menghilang selamanya? Aku tidak ingin buku ini disalahgunakan lagi dan membunuh banyak orang,” bisik Atsushi.
Dazai menatap sungai tanpa ekspresi. “Bisa saja, tapi nanti ada yang sedih. Menghancurkan buku itu sampai tak tersisa berarti ... kau siap untuk kehilangan.”
“Kehilangan siapa?”
Dazai tersenyum.
Atsushi masih menunggu jawaban, sampai akhirnya dia menyerah. Dia pun menyerahkan bukunya pada Dazai.
“Terima kasih, Atsushi-kun. Aku sangat senang kau sama sekali tidak berubah di mana pun kau berada. Aku akan menceritakan petualanganku yang luar biasa ini pada semua anggota ADA dan Port Mafia.”
“Hah? Apa kau gila, Dazai-san? Mereka semua sudah mati--”
Atsushi terhenyak kala ditarik ke dalam pelukan erat Dazai. Kala itu, Dazai menutup matanya dan ... Atsushi ditinggal seorang diri. Dia hanya mendapati aroma parfum seseorang yang menempel di pakaiannya. Atsushi bingung.
Mengapa dia ada di sungai dekat pelabuhan?
Untuk apa dia di sini?
Siapa pemilik aroma parfum ini?
Meski ingatan Atsushi kabur, tetapi dia masih mengingat tentang ADA dan Port Mafia. Hidup Atsushi sangat bahagia karena ADA dan Port Mafia kini menyatu bekerjasama melindungi kota serta masyarakat dari orang jahat.
***
Atsushi menatap semua rekan kerja yang sibuk bekerja di kantor. Dia merasa ada yang kurang, tetapi tidak tahu apa itu. Tanpa sadar, dia menggeram menyerupai harimau membuat Kyouka di samping kirinya terkejut.
“Atsushi-kun, aku tahu kau suka harimau, tapi ini bukan saatnya untuk cosplay.”
“Cosplay?”
“Ya. Aku juga suka karakter Demon Snow, Kunikida-san suka berkhayal bisa membuat senjata dari buku pedoman warisan keluarganya, Tanizaki-san ingin Naomi memberikan kekuatan salju matrixnya, Kenji-kun suka bermimpi punya kekuatan layaknya Dewa Bencana, dan jangan lupakan Akutagawa--”
Buku jurnal dibanting di meja Kyouka dan Atsushi. Itu adalah Yosano dalam seragam kantor. “Kyouka! Nakajima! Apa-apaan yang kalian buat ini?! Kasus kriminal dan pembunuhan ini sudah kita selesaikan setahun lalu! Kenapa masih ada di tumpukkan buku jurnal kasus tahun ini?!”
Kyouka membungkuk meminta maaf. “Sumimasen, Yosano Senpai! A-ku salah taruh!”
Yosano memelototi Atsushi.
Atsushi terkekeh polos. “Anu ... Senpai ... pikiranku hari ini ... sangat tidak jelas ... jadi ....”
“Apa kau mabuk? Di siang hari? Demi Tuhan, Nakajima! Aku akan mengadukan ini pada Presdir Fukuzawa untuk memberimu SP1!” ancam Yosano.
“Aku tidak mabuk, Senpai! Lagipula, aku ini ... aku ... umm ... masih 17 tahun? Dan ini sudah petang--”
Kyouka berdecak mengomel. “Astaga, Atsushi-kun. Kau sudah legal untuk minum. Kau dua puluh dua.”
Yosano bersedekap memelototi Atsushi. “Dan sepertinya bukan hanya pikiranmu yang tidak jelas, tapi matamu juga buta, Nakajima. Apa kau tidak lihat jam berapa sekarang? Dan ... dari mana saja kau! Makan siang hanya sampai jam setengah satu!”
Atsushi dengan panik mengamati sekeliling demi menemukan jam dinding. Jam dinding kantor menunjukkan pukul dua lebih lima menit. Atsushi tahu, dia tadi datang lima menit yang lalu. Itu artinya, Yosano benar. Dia terlambat masuk kerja usai istirahat.
“Senpai ... tidak sedang mempekerjakanku menemui client di waktu makan siang tadi, kan?”
Yosano berdecak, “Tidak ada kasus hari ini untukmu, Nakajima Atsushi!”
Atsushi tetap ngotot. “Tapi aku yakin bertemu seseorang di tepi sungai dekat pelabuhan! Wangi parfumnya masih melekat di pakaianku!”
Kyouka marah, menginjak kaki Atsushi. “Dasar playboy!”
Atsushi meringis sambil menatap kebingungan Kyouka.
Yosano mengusap wajah frustasi. “Aduh! Sekarang aku tahu penyebab kau menjadi karyawan nakal, Nakajima. Ini pasti pengaruh dari Akutagawa! Seharusnya, dulu kalian tidak dipertemukan dan diberi tugas bersama. Kelakuan playboy Akutagawa jadi menularimu. Lalu, apa lagi besok? Chuuya memengaruhimu memalak dan membully setiap orang di jalan? Sialan! Port Mafia tetap saja Port Mafia!”
Informasi yang diperoleh Atsushi hari ini tidak pernah menyambung dengan secuil ingatannya. Dia masih ingat ada banyak orang yang mati di kedua organisasi, tetapi dia tidak ingat siapa mereka. Yosano dan Kyouka tidak pernah menyinggung tentang kematian seseorang.
Lalu, keesokan harinya, Atsushi berlari kembali ke tepi sungai. Mencari orang beraroma salty musk. Nihil, Atsushi tidak menemukan siapa pun di sana.
Saat ingin pulang, ada sekelebat bayangan yang melintas. Angin pagi berembus menerbangkan sehelai perban, lalu Atsushi tanpa sadar menggapainya. Ada sesuatu yang familiar dengan perban tersebut di ingatannya.
Tiba-tiba, Atsushi menangis tanpa sebab. Hatinya begitu hancur seolah dia telah kehilangan seseorang yang sangat berharga untuknya.
Sebuah nama terucap begitu saja.
“Dazai-san ....”
•End•
