Work Text:
Angin sore berhembus pelan, membawa aroma asin dari laut yang berkilauan keemasan di bawah sinar mentari senja. Di sebuah rumah besar bergaya kolonial di pinggiran Batavia, Dirga duduk di beranda, tangannya yang bergetar mengelus perutnya yang mulai membesar. Tatapannya tajam, penuh kebencian yang hanya bisa dipupuk oleh luka yang tak kunjung sembuh.
Di belakangnya, suara langkah berat terdengar mendekat. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" suara itu, rendah dan tenang, mengalun seperti bisikan lembut yang berusaha menenangkan badai.
Dirga menggertakkan giginya. "Jangan bersikap seolah kau peduli, Abel."
Abel, pria tinggi berambut pirang dengan mata olive yang sulit dibaca, terdiam sejenak. Ia memandangi Dirga, yang duduk dengan punggung tegak, wajahnya menolak menunjukkan kelemahan.
"Aku selalu peduli," jawab Abel akhirnya.
Dirga menertawakan itu—sebuah tawa yang lebih mirip dengusan pahit. "Kau peduli? Kau menyakitiku. Kau merenggut kebebasanku, negeriku, rakyatku! Aku benci kau, Abel. Aku benci segala yang kau lakukan padaku!"
Abel mendekat, berlutut di sampingnya. Ia ingin menyentuh tangan Dirga, tapi pria itu menepisnya dengan kasar. Mata keemasan Dirga menyala marah, tapi di balik kobaran api itu, ada sesuatu yang lebih dalam—rasa sakit yang tak terucapkan.
"Aku tidak akan menyangkal semua yang telah kulakukan," kata Abel, suaranya serak. "Tapi aku ingin menebusnya. Aku ingin kau tahu bahwa aku..." Ia berhenti, meremas tangannya sendiri, seolah tak yakin akan apa yang ingin ia katakan.
Dirga menatapnya, matanya yang penuh kemarahan kini berkilat dengan air mata yang tertahan. "Apa? Kau mencintaiku?"
Abel mengangguk pelan. "Ya, aku mencintaimu, Dirga."
"Cinta macam apa itu, Abel? Jika kau mencintaiku, mengapa kau menahanku? Mengapa kau merampas kebebasanku?"
Abel tak punya jawaban. Ia hanya menatap Dirga, berharap pria itu bisa melihat sesuatu di matanya—sebuah ketulusan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Dirga mengusap perutnya perlahan, merasakan kehidupan kecil yang tumbuh di dalamnya. Anak mereka. Seorang personifikasi baru yang akan lahir dari hubungan penuh kebencian dan cinta ini.
"Batavia," gumamnya, hampir seperti bisikan. "Dia akan menjadi Batavia, bukan?"
Abel menundukkan kepala. "Ya."
Dirga menghela napas panjang, menutup matanya sejenak. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tidak tahu apakah ia bisa membiarkan rasa benci ini mencair. Tapi satu hal yang pasti—anak ini akan lahir. Dan suatu hari nanti, mungkin, ia akan menjadi simbol dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kebenc
ian dan cinta yang menyiksa mereka berdua.
Untuk sekarang, Dirga hanya bisa bertahan.
Dan Abel hanya bisa menunggu.
Tamat (untuk sekarang).
