Work Text:
Kantor polisi yang berada di pusat kota tersebut terlihat seperti kantor polisi pada umumnya. Namun saat kau menilik ke dalam, sedang terjadi kekacauan di dalam sana.
Bagaimana tak kacau jika seorang undomesticated wolf -wolf liar- sedang berada di dalam situ. Dengan penjagaan ketat, wolf liar itu dibiarkan berdiam diri dalam salah satu ruang interogasi di kantor itu.
Di balik kaca ruang interogasi itu sudah berdiri beberapa polisi, ada yang hanya menonton, menatap penasaran pada wolf liar yang berada di dalam situ, dan juga ada yang sedang berdiskusi seperti Seungmin dan Hyunjin.
“Jadi dia tak bisa mengerti bahasa kita?” Seungmin menatap berkas yang berada di tangannya.
“Ya, dan dia benar-benar liar, Min-ah. Aku mohon berhati-hatilah nanti, ku dengar saat dia ditangkap dia sudah berhasil melukai seorang penjaga. Bayangkan betapa kuatnya ia.”
“Alpha? Dia alpha?”
Hyunjin membuang muka setelahnya, malu menjalari pipinya. Bagaimana bisa ia mengirim Seungmin, yang merupakan seorang omega untuk masuk memeriksa wolf liar ini.
“Ya, dia seorang alpha.” Hyunjin mengamini pertanyaan Seungmin.
Jawaban Hyunjin membuat Seungmin mengalihkan pandangannya pada pemuda yang sedang berdiri menghadap ke arah kaca interogasi —ke arah mereka.
“Baiklah, aku hanya perlu mengulik beberapa informasi darinya, kan?”
Anggukan Hyunjin menjadi jawaban akhir bagi Seungmin sebelum dirinya keluar dari ruangan itu dan bersiap memasuki ruang interogasi yang sudah berisi wolf liar tersebut.
Saat ia berdiri di samping pintu masuk ruang interogasi, sudah berdiri dua polisi dengan badan kekar yang menjaga. Kedua polisi tadi mengangguk mengerti dan membuka gembok yang berada di pintu. Dan tak lupa melepaskan lilitan rantai yang menggantung di kenop pintu tersebut.
Seungmin menahan napas, kekuatan macam apa yang dimiliki Alpha ini.
Pintu ruang interogasi dibuka. Seungmin melangkahkan kakinya ke dalam, pintu di belakangnya tertutup. Suara debaman pintu mengejutkan Seungmin dan juga lelaki muda yang sedang berdiri di depan kaca interogasi itu.
Seungmin mengamati alpha itu, tubuhnya yang kekar dan kokoh hanya dibalut oleh celana pendek berwarna hitam dan juga baju tanpa lengan yang memiliki warna senada dengan celananya.
Seungmin berdiri dekat dengan pintu, menunggu hati-hati. Dirinya menahan napas, tak ingin mengundang perhatian berlebih dari alpha di hadapannya. Pemuda tersebut membalikkan tubuhnya menatap Seungmin yang berada di sudut ruangan. Kemudian aroma feromon pemuda di depannya tercium, Seungmin tak pernah mencium aroma ini sebelumnya namun aromanya dominan dengan bau basah setelah hujan, ah, petrikor. Menenangkan sekaligus kentara aroma bebas di dalamnya.
Seungmin tercekat, menahan napas saat pemuda di depannya bergerak menghampirinya. Tatapannya tajam, waspada akan keberadaan orang lain di hadapannya, ‘pun tak luput kilatan rasa penasaran dari matanya.
Belum pernah Seungmin panas dingin saat ditatap orang lain. Lalu ia merasakan sebuah tangan yang memegang bahunya, dan dalam sekejap mata dirinya tertarik ke arah kaca one-sided di dalam ruangan itu. Punggungnya menubruk kaca di belakangnya. This alpha basically shoving Seungmin.
Seungmin merasakan saat pemuda di depannya mendekatkan wajah, saat tersisa jarak barang sejengkal, mata keduanya bertemu.
Omega dalam dirinya gemetar. Perutnya serasa diaduk.
Tatapan Alpha ini tegas, aksinya kasar dan agresif.
Di balik kaca ruang interogasi tersebut, para polisi berbisik-bisik— apakah mereka sudah mengirim polisi omega ke kematian?
Seungmin membalas tatapan alpha di depannya. Dia tidak tahu apakah alpha di depannya merasa terancam dengan keberadaannya atau merasa tertarik dengannya namun setelah beberapa saat napas alpha di depannya perlahan menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
Insting dalam diri omeganya memerintahkannya untuk diam. Ia menatap balik pada mata yang memancarkan aura liar dan ketakutan. Begitu agresif. Begitu asing.
Semenit berlalu dalam keheningan.
Kemudian dengan kekuatan yang cukup mengejutkan Seungmin, alpha tersebut dengan hati-hati mengendus belakang telinga Seungmin. Ujung hidungnya bersentuhan langsung dengan kulit Seungmin.
Seungmin diam, tak bergerak. Alpha tersebut mengendus dirinya, penghidunya meraup banyak-banyak aroma Seungmin, menimbang-nimbang apakah ia akan menerima Seungmin untuk tetap tinggal di dalam ruangan ini.
Tenang Seungmin, tenang. Dirinya berulang kali mengingatkan dirinya untuk tetap tenang dengan apa yang dilakukan alpha ini padanya.
Lalu tiba-tiba terdengar bunyi debuman keras dari pintu ruang interogasi yang sudah menjeblak terbuka. Seungmin terkejut. Sekitar empat polisi sudah bersiap menyerbu ke dalam ruangan itu, pistol-pistol di tangan polisi itu sudah terangkat, terarah pada alpha yang mengurungnya di balik tubuh kokoh tersebut.
“Mundur!” seorang polisi berteriak
Para polisi ini seharusnya hanya menjadi backup saat sesuatu yang buruk terjadi. Dan sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Kemudian Seungmin merasakan alpha di depannya bergerak mendekat ke arah Seungmin. Otot-otot di tubuhnya bereaksi, menggertak para polisi tadi bahwa dirinya akan melakukan shift.
Alpha di depannya berbalik badan, dirinya menggeram ke arah polisi-polisi itu, mengancam dengan gigi taring yang tajam. Punggungnya menjadi penghalang antara Seungmin dan para polisi tersebut.
Geraman kedua terdengar yang membuat seluruh badan Seungmin merinding. Alpha ini memunggungi Seungmin hingga dirinya terjebak di pojok, salah satu tangannya berusaha menggapai lengan Seungmin.
Alpha ini melindunginya.
Seungmin melihat alpha ini membungkukkan tubuhnya. Seungmin bisa merasakan bahwa alpha ini sudah siap untuk menyerang.
“Berhenti! Keluar!” Seungmin memerintah
Alpha tersebut menoleh padanya.
“Tapi dia menyerangmu!” salah seorang polisi bersuara
“Tidak, keluar sekarang.” Tukas Seungmin
“Tapi—“
“Kalian membuat ini jadi semakin sulit. Keluar. Sekarang.” Perintah Seungmin final
Para polisi tadi akhirnya mundur dan pintu di ruang interogasi tertutup kembali.
Seungmin menatap pada tangan yang masih menggenggam lengannya. Kuat, dan kasar.
Lalu dengan perlahan, alpha tadi menegakkan tubuhnya kembali dan menatap Seungmin lamat.
Seungmin pikir ini merupakan pertanda baik.
Baru saat ia akan bersuara, ia merasakan alpha tadi membalikkan tubuhnya menjadi menghadap ke arah kaca interogasi.
Dengan keadaan yang canggung begini, Seungmin merasakan celananya sesak dan juga lembab.
Profesional, Seungmin, pikirnya.
Namun saat ia merasakan dua telapak tangan berada di sisi tubuh —pinggangnya, Seungmin bergetar.
Dirinya membayangkan bagaimana tangan yang penuh otot itu menguleni pinggangnya bak sedang menguleni adonan untuk membuat kue. Dan ditambah dengan napas hangat alpha yang berada di tengkuknya membuat ia kelimpungan sendiri.
Deru napas Seungmin memendek. Sesuatu yang basah terasa memenuhi celana dalamnya.
Dirinya panik.
Wolf Omega milik Seungmin mulai muncul ke permukaan.
Seungmin menahan napasnya, pahanya ia biarkan bergesekan. Lubang kenikmatannya berkedut, mengeluarkan slick berulang kali, membuat celana kain yang ia gunakan basah. Rintihan lolos dari bibirnya.
Dia tidak pernah seperti ini. Tidak, setidaknya tidak segila ini.
Wolf dalam dirinya memerintahkan Seungmin untuk—
Submit.
Kemudian serangan nafsu seperti menyerang tubuhnya.
Alpha. Dia ingin alpha ini.
Ini sangat tidak pantas, sisi manusia dalam dirinya bereaksi. Ia tidak menyadari geraman dari alpha ini. Dirinya hanya fokus menahan agar slicknya tidak makin berceceran kemana-mana. Kemudian ia merasakan bibir dari alpha ini yang mendekat pada telinganya, mengecup pelan di sana.
Seungmin melihat ke arah kaca di depannya dan ia bisa melihat alpha tersebut tersenyum, menenangkannya. Seungmin bergetar. Wolfnya mengambil alih dirinya sepenuhnya selagi ia menyerahkan diri pada alpha di belakangnya ini. Lalu dalam sekejap mata, celana kainnya sudah dilucuti hingga lutut.
Detak jantungnya bertalu-talu menyenangkan. Pikirannya di awang-awang.
Dengan satu tarikan kuat, tubuh bagian bawah Seungmin terekspos. Saat Seungmin menunduk, ia bisa dengan jelas melihat pahanya yang seputih susu sudah mengkilat basah akibat slicknya sendiri.
Kakinya lemas, tubuhnya menubruk kaca di depannya.
Alpha tersebut menekan tubuh Seungmin, menempelkan dadanya dengan punggung Seungmin hingga bagian tubuh depan Seungmin menempel dengan kaca. Seungmin mendesah pelan, panas menjalari seluruh tubuhnya.
Di balik punggungnya, alpha tersebut mendesah dan mulai menggesekkan batang kemaluannya yang entah sejak kapan sudah ia keluarkan dari balik celana pendeknya. Lengan kokohnya melingkari tubuh Seungmin, menghangatkan. Posesif.
Tubuh Seungmin bergetar saat ia merasakan penis alpha tersebut berada di antara belah pantatnya, bersiap memasuki dirinya. Seungmin berusaha mencegah dirinya untuk melihat ke arah kaca di depannya, di satu sisi karena ia tak ingin melihat dirinya dalam keadaan seperti ini dan di satu sisi karena ia tahu apa yang berada di balik kaca sana.
Saat alpha tersebut mendorong dirinya masuk, lubang kenikmatan Seungmin langsung menerimanya, dengan rakus berusaha mencengkeram batang kemaluan tersebut.
Belah bibir Seungmin terbuka lebar, tubuhnya bergetar merasakan desakan tubuh alpha di belakangnya. Bohong jika dirinya berkata dia merasa tidak penuh.
Ia menutup mata. Keberadaan alpha di belakangnya menenangkannya.
Tangan alpha tersebut bergerak menuju pinggangnya. Seungmin masih berusaha mencari kesadarannya saat dengan perlahan alpha tadi bergerak mengeluar-masukkan batang kemaluannya. Lubangnya dengan tak tahu malu berusaha mencengkeram penis tersebut, menahannya untuk tetap berada di dalam.
Kemudian alpha tersebut bergerak lebih cepat, dan dengan satu tangannya ia berhasil melepaskan kemeja yang Seungmin kenakan.
Dada Seungmin tertekan ke arah kaca di depannya, dinginnya kaca bersentuhan langsung dengan dada -putingnya yang panas.
Otot penis alpha tersebut terasa menggelitik sekitar lubangnya. Perut Seungmin terasa geli setiap kali hentakan alpha tersebut memasukinya.
Alpha di belakangnya mengeluarkan geraman rendah setiap kali ia masuk ke dalam tubuh Seungmin, dan Seungmin hanya bisa membalas dengan lenguhan tertahan.
Seungmin berteriak tanpa suara dan kedua matanya terbuka lebar. Ia tak bisa mencegah dirinya untuk melihat ke arah kaca di depannya.
Hal pertama yang ia sadari dari bayangannya adalah pipinya yang mengkilat, matanya yang menatap nyalang, and his fucked face. Ah, so that’s what his sex face looks like.
Lalu ia mengedarkan pandangannya untuk menatap bayangan alpha— wajahnya terlihat fokus, bibirnya terbuka, dan alisnya terlihat mengerut. Kulitnya yang berwarna lebih gelap dari dirinya juga terlihat mengkilat akibat keringat.
Seungmin bisa melihat dengan jelas lengan dan dadanya yang berotot dan juga matanya. Seungmin tak bisa mengalihkan pandangannya walaupun orgasmenya terasa makin dekat.
Dorongan alpha tersebut makin dalam dan Seungmin menyerah, dirinya terperangkap di antara kaca dan alpha tersebut. Tubuhnya membusur ke arah kaca saat ia merasakan batang kemaluan alpha itu menyentuh sesuatu di dalam sana. Menyetubuhinya dengan sangat dalam, serasa dirinya berada di dalam tubuhnya.
Seungmin menggigit bibir bawahnya, menahan desahan cabul yang ingin lolos dari mulutnya.
Lubangnya mengeluarkan slick dengan tiap dorongan yang dilakukan oleh alpha tersebut.
Pada sisi lain dari kaca tersebut, terlihat beberapa wajah polisi yang bersemu merah. Di dalam ruang interogasi sana terlihat salah satu anggota polisi kepercayaan mereka yang sedah disetubuhi oleh seorang alpha.
Selagi Seungmin menatap kaca agar tak kehilangan bayangan wajah dari sang alpha, ‘pun ia menatap para polisi itu tepat di mata. Hyunjin mengalihkan pandangannya dari kaca tersebut.
Lubang Seungmin mengetat di sekitar penis alpha itu. Tiap hentakan yang diberikan alpha itu membuat ia menabrak kaca berulang kali, dan akhirnya kakinya menyerah, ia menyerahkan diri sepenuhnya pada pelukan alpha itu sekali lagi.
Lalu dengan tangan alpha yang masih bertengger di pinggangnya, Seungmin dibawa menjauh dari kaca, dengan tubuhnya yang masih menjepit penis alpha itu. Didekapnya ia. Dirinya dibawa ke arah meja interogasi yang berada di tengah ruangan.
Tubuh Seungmin ditekuk sehingga hanya tubuh bagian atasnya yang berada di atas meja interogasi, sedangkan kedua kakinya masih kokoh menapak di lantai.
Gerakan alpha ini makin gila. Posisi mereka yang seperti ini membuat alpha itu makin mudah menyetubuhinya.
Hentakannya menggila. He fucks him so good.
Tangannya yang berada di pinggang Seungmin menyeimbangkan dirinya. Seungmin mencengkeram meja interogasi tersebut dengan telapak tangannya. Berusaha mencari pegangan untuk mengalihkan nikmat yang menjalar di seluruh tubuh.
Lalu ia tak bisa menahan diri lagi. Desahan paling cabul selama hidupnya akhirnya lolos dari bibirnya. Tangisan tersendat dan serentetan,
“Fuck, fuckfuckfuckfuck—“ dan juga
“Alpha, please, alpha—“ suaranya kencang mengisi seisi ruang interogasi.
Kemudian ia merasakan tubuh alpha di belakangnya mendekat ke arah punggungnya, tangannya menguleni pinggang Seungmin pelan, dan suara rendahnya,
“Minho,”
Seungmin menoleh ke samping, bingung.
“Minho” katanya lagi.
Kemudian saat alpha tadi kembali mengulang dengan bahasa asing yang belum pernah ia dengar, Seungmin berusaha memahaminya.
“Panggil aku, Minho.”
“Minho,” kata Seungmin
Alpha di belakangnya kemudian melepaskan sejumlah feromon, tersanjung akan panggilan Seungmin.
Hentakan tubuh Seungmin pada tubuhnya kembali mengisinya menyebabkan Seungmin harus menggenggam pinggiran meja, kenikmatan datang dengan begitu cepat, tangisnya lolos.
“Minho!” Seungmin berteriak seraya dirinya merasakan kenikmatan yang amat sangat. Kenikmatan yang mengalir dari ujung kepala hingga jari kakinya.
Dia datang, Seungmin memuncratkan cairannya. Matanya tertutup, kenikmatan.
Dia masih merinding akibat orgasmenya saat Minho mengangkatnya ke atas meja dan Minho menempatkan diri di belakangnya. Seungmin menghadap kaca interogasi dengan dirinya berpose seperti anjing.
Minho kembali memasukkan penisnya.
Seungmin mendesah dan matanya terbuka, dan di depan sana ia bisa melihat bayangannya yang sedang disetubuhi oleh Minho.
Seungmin tak pernah berpikir bahwa melihat dirinya sendiri disetubuhi begini bisa begitu membuatnya terangsang. Dan ia juga bisa melihat kulit tan Minho yang kontras dengan tubuhnya yang putih pucat.
Tangan Minho bergerak di sepanjang punggungnya dan berakhir di pinggangnya, dibarengi dengan tusukan penisnya pada tubuh Seungmin.
Seungmin menunduk, kepalanya jatuh ke meja sembari dirinya mendesah.
Fuck.
Biarkan para polisi itu melihat. Biarkan mereka melihat Seungmin. Biarkan mereka melihat Seungmin yang sedang mendesah kesedapan karena penis seorang alpha yang keluar masuk tubuhnya.
Bagaikan ada bel yang berbunyi di kepalanya, Seungmin mendongak, mulutnya terbuka ketika kepala penis Minho yang lagi-lagi menyentuh sesuatu di dalam sana. Gelombang orgasme menghampirinya dengan cepat, tangannya bergerak menggenggam pinggiran meja. Berusaha mencari pengalihan atas rasa nikmat ini.
“Ahn—“ Seungmin membusur, dirinya datang, lagi. Cairannya mengotori meja interogasi. Minho memeluknya, menekan tubuhnya ke arah meja, punggungnya bersentuhan langsung dengan dada Minho. Kulit dengan kulit.
Minho kembali menyetubuhinya nikmat, keluar masuk dari lubangnya.
Minho membisikkan sesuatu di telinganya, Seungmin tak paham. Yang ia paham hanyalah suara Minho yang terdengar begitu seksi dengan bahasa asing yang tak pernah ia mengerti.
Minho kemudian memeluknya dengan erat, dan dorongannya begitu keras dan presisi serasa itu merupakan kali pertama dan terakhir ia akan bertemu lagi dengan Seungmin. Makin dalam. Dalam.
Seungmin terkesiap, dirinya merasakan sesuatu melebar dari penis Minho. Minho menarik penisnya untuk yang terakhir kali lalu mendorongnya masuk dengan begitu dalam hingga membuat Seungmin orgasme untuk yang ke sekian kali.
Minho masih membisikkan sesuatu ke telinganya saat ia merasakan tonjolan membesar di sekitar penis Minho. Dirinya sesak. Seungmin terkejut. Knot. Itu adalah alpha knot.
Minho mengelus rambutnya, menenangkan Seungmin.
Dan di sela-sela kesadarannya, ia melihat Minho tersenyum padanya.
Minho, you will be the death of me.
