Chapter Text
“Suguruuu~”
Geto Suguru tidak siap menangkap tubuh setinggi tiang listrik sang Uke tercinta. Alhasil, keduanya jatuh ke lantai kayu, tepat di ruang tamu. Suguru sangat lelah setelah berkelana menyelesaikan tugas berburu kutukan di luar negeri. Belum lagi, dia ingin muntah, tak sanggup menahan puluhan kutukan yang belum lama ditelan.
“Suguruu~ Mengapa lama sekali? Tak tahukah kau? Suami cantikmu sangat merindukanmu!” Pria albino semakin menjerat Suguru dalam pelukan erat.
“Uhuk! Sa-to-ru ... tolong ... bangun ....”
Pria albino mengedipkan mata bingung. Beruntung, dia beranjak dari atas Suguru. Dia memilih berjongkok di samping kiri. “Kau kenapa, Suguru?”
Suguru mencengkeram erat mulutnya. Seluruh kulit wajah hampir berubah warna menjadi hijau. Dia menenangkan diri untuk tidak muntah di depan Yang Tercinta. Dia harus menjaga citranya sebagai seorang Kepala Rumah Tangga.
“Aku baik-baik saja, Satoru.”
Senyum teramat ceria itu tampak mencurigakan bagi Gojo Satoru. Yang Terkuat hapal betul ada yang tidak beres dengan Suguru.
”Jujur saja padaku, Suguru! Ingat! Kita sudah menjadi Suami-Suami! Tidak boleh ada rahasia lagi di antara kita!” sungut Satoru.
Suguru mendengkus, berganti mengulas senyum kecil. Tangan terulur membelai lembut pipi Satoru. “Kau ini selalu saja mengkhawatirkanku, Satoru. Aku ... hanya ... over kapasitas. Aku hampir muntah karena sambutanmu, tahu.”
Satoru langsung menundukkan kepala merasa bersalah. “Gomen ....”
Suguru menangkupkan wajah Satoru, kemudian mengecup bibir cantik itu. Dia masih tersenyum. “Tidak ada yang salah di sini. Aku sangat memaklumi tingkahmu. Yah ... jika tidak, mustahil aku ada di sini, menempel selamanya denganmu. Aku tahu kau merindukanku.”
Satoru menepis tangan Suguru. Dia mencibir, berdiri. “Tapi aku memang suami yang tidak peka! Harusnya ... aku menyapa dengan normal dan ... dan memberimu teh hangat atau jus atau sesuatu yang manis agar mualnya hilang!”
Suguru menjilat bibirnya sensual sambil menatap Satoru. “Tenang saja. Aku sudah mendapatkannya darimu.”
Satoru membuang muka, gagal menyembunyikan rona merah di pipi.
Sunyi, lalu kemudian Satoru bertanya serius.
“Suguru, kutukan apa saja yang kau telan? Berapa jumlahnya? Kelas apa?”
“Apa? Kau ingin melihat mereka?”
“Isshh! Tentu saja tidak! Mereka pasti menjijikan!”
Suguru mendengkur. Dia melangkah mendekati Satoru. Yang Terkuat terkesiap terkejut mendapati dirinya digendong ala pengantin oleh Suguru. Dia menyeringai menggoda, mencolek manja ujung lancip hidung Suguru.
“Baru pulang sudah bergairah, yaa~ Sugu-chan nakall~”
Suguru cemberut, tidak menjawab. Dia melangkah menuju sofa ruang tengah. Tubuh Satoru langsung dilempar ke atas sofa, tentu saja pria albino mengumpat murka. Suguru tak peduli, malah pergi ke dapur. Dia membuat secangkir teh madu, lalu kembali ke ruang tengah dan duduk di samping kiri Satoru yang menatap sinis.
Sambil menyesap tehnya, Suguru melirik Satoru. “Marah, nih, ceritanya?”
“Bodo amat!”
Reaksi Satoru yang memunggunginya membuat Suguru terkikik geli. “Kutukannya memang menjijikkan. Belum lagi, rata-rata adalah kelas satu. Nah, jumlahnya ada 74 kutukan. Memang tidak banyak, tetapi lumayan mengocok perutku.”
Satoru diam-diam mendengarkan, membalas dengan senandung.
“Oh, ya! Ada satu kutukan kelas khusus yang kutemukan di Amerika. Tepatnya, rumah seorang musisi. You know ....”
Satoru terpancing menjawabnya. Mata terbelalak tak percaya. “Plisdidick?! Sialan, Suguru! Itu kasus yang besar dan trending topik di Twitber!”
Suguru menyeringai. “Yeah. Aku bahkan hampir saja masuk Tv. Sayang, pihak FBI melarang para wartawan mengambil gambarku apalagi mewawancaraiku.”
“Kau mau, pasti!”
“Tidak. Aku benci berurusan dengan para--”
“Monyet lainnya? Sudah kuduga.”
Suguru hanya bisa terkekeh, sedang Satoru mengerang frustasi. Rasa benci Suguru terhadap non-penyihir masih ada meskipun tidak sampai ke taraf membunuh. Satoru tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menghilangkan itu dari Suguru.
“Apa kekuatannya?” tanya Satoru, merujuk pada kutukan yang sedang mereka bicarakan.
Suguru bersenandung. “Hmm ... kekuatannya sedikit vulgar dan tidak logis.”
Satoru berpikir, menebak-tebak. “Seperti ... Kutukan yang suka beciuman itu? Yang pernah kau keluarkan untuk menangkap anggota Q?”
Suguru meringis. “Tidak sevulgar itu. Ini ... tentang ... kehamilan, Satoru.”
Seketika, Satoru mendapatkan pencerahan. Dia merangkak mendekati Suguru. Seringai mesum tercetak di bibir. Suguru meneguk ludah, dia punya firasat buruk melihat gerak-gerik Satoru.
“Jelaskan lebih lengkap padaku, Suguru~”
“Umm ... bisakah ... besok saja?”
“Ayolah Su-gu-ru~”
Suguru tidak pernah bisa menolak apabila sudah dibujuk dengan dengkuran lucu Satoru. Belum lagi, jemari lentik itu mengusap-usap pahanya dengan nakal.
“Persetan!” Suguru menepis tangan nakal sang suami. “Oke! Kutukan ini bentuknya serupa vagina raksasa yang berbulu. Dia tidak punya mulut, mata, telinga, kaki, dan tangan. Dia bergerak menggunakan sensor bunyi dan gerak. Hebatnya, dia bisa menghilang dan muncul di langit-langit ruangan secara acak. Jika bibir vagina terbuka lebar tepat di atas kepala seorang manusia, maka keluarlah benda aneh berbentuk lonjong kecil bergerigi. Tidak tajam, hanya lembut. Benda itu tidak bisa ditangkap, dia bergerak mencari lubang terdekat yang muat dimasuki. Itu adalah--”
“Mulut atau kemaluan?” Satoru memotong seraya bertanya penasaran.
“Hanya mulut. Benda itu mengirimkan cubitan lumayan sakit di sekitar bibir manusia hingga mulut mereka terbuka. Saat itulah benda itu akan melesat masuk. Jika sudah tertelan, benda itu akan menghuni bagian reproduksi manusia, rahim,” terang Suguru.
Satoru bersedekap mengejek. “Kutukan seperti itu kau bilang kelas khusus?! Cih! Bagiku hanya kutukan kelas tiga, tuh!”
Suguru mendesah lelah. “Penjelasanku belum selesai, loh, Satoru. Bukan hanya itu kekuatan kutukan tersebut. Kau pasti mengira teknik kehamilannya hanya berlaku pada wanita. Tidak, kau salah.”
Bola mata aquamarine milik Satoru tampak berbinar penuh harapan. “Jadi, pria juga bisa hamil karena kutukan ini?! Kalau begitu, aku ingin kau menelan benda itu, Suguru! Aku ingin kau hamil!”
Suguru berdecak, alis bertaut tanda jengkel. Inilah tanggapan yang dia duga akan dilakukan Satoru. “Mengapa harus aku? Bukankah kau Uke di sini?”
Satoru melemparinya bantal sofa. “Aku sudah cukup menderita selama dua tahun karena penis jumbo milikmu! Aku tidak ingin menderita menampung seekor makhluk berliur berisik!”
“Ini bayi, Sayang. Bayi manusia.”
“Intinya sama saja! Mereka menyusahkan! Aku lebih memilih mengurus anak SD daripada menampung bayi!”
Suguru terdiam merenung beberapa menit. Sampai akhirnya, dia menyerah. Kutukan kelas khusus yang dimaksud dikeluarkan. Satoru melongo syok kala kutukan itu sudah bertengger di atas langit-langit rumahnya. Kini, rumah mewahnya sudah tidak suci lagi akibat lendir perekat yang keluar dari sekujur tubuh sang kutukan.
“Satoru, tutup mulutmu jika kau tidak ingin hamil.”
Satoru tersentak kaget, buru-buru menutup mulutnya.
Suguru mendongak ke atas sambil membuka mulut cukup lebar. Tanpa aba-aba, sesuatu berwarna kuning keemasan bergerigi berbentuk lonjong nan mungil keluar dari vagina, lalu jatuh menempel di pipi kanan Suguru.
“Suguru? Benda itu mirip kroket.”
“Begitukah? Kurasa kau benar.”
Six Eyes mencoba memproses pergerakan ‘Kroket’ tersebut. Dari mulai menggelinding masuk ke mulut Suguru hingga jatuh ke perut bagian bawah Suguru. ‘Kroket’ pun menempel dan menetap di atas kandung kemih.
Suguru ingin muntah kala merasakan sesuatu membesar di bagian bawah perut. Detik berikutnya, perut Suguru sudah menjadi bulat mirip wanita hamil empat bulan.
Satoru berkedip terpesona, tangan kanan terulur demi mengelus perut bulat Suguru yang tertutup kimono. “Wow ... luar biasa! Kupikir perutnya masih akan rata dan menunggu berkembang seperti wanita hamil normal!”
“Aduh! Ini sakit!—Begitulah. Aku tidak tahu pasti perkembangan benda ‘Kroket’ ini. Satu-satunya korban yang kutemui perutnya bahkan lebih besar dari perutku. Aku punya hipotesis, ‘Kroket’ ini akan berkembang menyesuaikan kondisi seseorang yang dia hamili. Namun, masih menjadi misteri bagiku tentang kondisi apa itu. Kau tahu sesuatu, Satoru?”
Yang Terkuat bergeming. Dia masih asyik menganalisis. Sepersekian detik, Satoru tersenyum simpul. Suguru mengangkat sebelah alis heran.
“Aku sudah memahami cara kerja Pussy-mu, Suguru.”
“Bisakah kau memberikan nama yang tidak vulgar, Satoru? Lagipula ... AKU TIDAK PUNYA PUSSY!”
“Apa? Kau sedang hamil, Suguru! Tentu saja kau punya Pussy!”
“Terserah. Menyingkir! Aku akan melahirkan benda ini!”
“Tu-tunggu dulu! Melahirkan?! Kandunganmu baru berusia empat bulan, Suguru! K-kau ingin menggugurkan bayi kita?!”
Suguru memijit pelipis pusing melihat tingkah lebay sang suami. “Siapa yang menggugurkan? Ini bahkan bukan bayi sungguhan, Satoru. Itu masih berbentuk ‘Kroket’. Lihatlah baik-baik!”
Mata Satoru menyipit demi mencari kebenaran. “Eh? Kau benar, Suguru. Itu artinya ... kita ... tidak bisa ....”
Ada sedikit rasa bersalah di hati Suguru begitu melihat Satoru layu. Dia sadar telah menghancurkan harapan Satoru yang sangat ingin memiliki bayi. Meskipun pria albino terus menyangkal dan membenci gagasan tentang itu.
Suguru muntah hebat membuat Satoru panik. Cairan bening mirip ketuban tercecer jatuh di atas karpet permadani diikuti ‘Kroket’ yang berkedut.
“Iyuh! Menjijikan!”
“Satoru, musnahkan itu.”
“Hah? Kau menyuruhku? Bukankah kau bisa memusnahkannya sendiri?”
Suguru bergerak gelisah. “Satoru, sebenarnya ... aku--”
“Oke! Tapi sebelum itu, aku ingin melihat lebih dekat ‘Kroket’ ini.” Satoru menjepit ‘Kroket’ muntahan Suguru dengan jari tengah dan telunjuk.
“Satoru, dengarkan aku dulu. Ini penting. ‘Kroket’ itu ... aku tidak bisa memusnahkannya,” aku Suguru, tampak terhina.
Satoru membuka mulut tak percaya. “Hah?!”
“Ya. Aku pikir kau bisa-- SATORU! TUTUP MULUT!”
“Ap--UHUK! WTF!”
Baik Suguru maupun Satoru menjerit panik. Suguru berusaha menepuk-tepuk punggung Satoru guna mengeluarkan si Kroket. Namun, sudah terlambat. Satoru tahu itu karena saat ini Six Eyes melihat jelas Kroket menempel di atas kandung kemihnya.
“Suguru! Ke-kenapa Kroket-nya jadi dua?!”
“Huh? A-pa maksudmu, Satoru?! Bukankah itu hanya satu?! Sama seperti saat berada di perutku?!”
Satoru merengek, jatuh telentang di karpet permadani. Dia terus memegangi perut bagian bawah yang perlahan menggembung. “Iya, hanya satu! Satu di dalam satu! Tidak sepertimu! Kroket ini bukan balon, tapi memang Kroket, Suguru! Ada isi di dalamnya!”
Suguru masih loading.
“Suguru! Mengapa sakit sekali~ Perutku rasanya ... ingin meledak!”
Suguru langsung berlutut di depan Satoru. Dengan panik, dia menggendong sang suami dan berlari ke kamar mereka di lantai dua. Dia merebahkan Satoru di atas ranjang. Suguru terbelalak melihat perubahan perut Satoru yang bahkan lebih besar dari punyanya tadi. Dia berulang kali menampar diri sendiri begitu melihat sesuatu yang tidak senonoh.
Suguru baru sadar Satoru-nya hanya memakai T-shirt hitam kebesaran miliknya tanpa celana dalam.
“F*ck! Satoru! Di mana celana dalammu!”
“Aahhh! Di tengah kesakitanku ... kau ... MALAH MEMENTINGKAN CELANA DALAMKU?! Kau jahat, Suguru!”
Suguru meremas wajahnya frustasi. Panik, emosi, dan ereksi, semuanya campur aduk akibat Gojo Satoru.
“Sakit, Suguru! Hnn!”
“Tolong, Satoru ... jangan mendesah ....”
Satoru mengomel, menampar gundukan mesum di selangkangan Suguru. “Aku sedang kesakitan, tahu! Mengapa kau keras! Apa ini fetish barumu, Suguru?! Kau tidak berperasaan! Aku mau cerai saja!”
Suguru buru-buru mendekat memeluk sang suami tercinta. “Gomen, Satoru! Tolong jangan bicara seperti itu! A-ku akan menelepon Shoko! Sial! Sudah kubilang, bukan? Harusnya kau langsung memusnahkan Kroket Sialan itu! Jangan dijadikan mainan!”
Dalam pelukan, Satoru meremas kedua pundak Suguru. Mata menyipit tajam tidak setuju. “Ini Kroket Kita, Suguru! A-ku ... melihatnya! I-tu ... Kroket ... isi ... bayi!”
Suguru meneleng polos. “Hah?”
Satoru mengerang lagi sambil merogoh kantung celana Suguru. Dia meraba mencari ponsel mantan pemimpin sekte. Suguru mati-matian mencegah intuisi agar tidak menyerang Satoru. Begitu ponsel sudah dalam genggaman Satoru, pria albino langsung menelepon sang dokter Jujutsu.
[ Satoru, demi Tuhan! Aku tidak tahu kapan Geto pulang-- ]
“Shokoooo~ pleaseee~” rengek Satoru.
[ Satoru? Kau ... baik-baik saja, ‘kan? Eh? Ini nomor Geto? ]
“Tidak! Aku ... aku hamil, Shoko!”
Terdengar dengkusan dari seberang. [ Kau tahu? April Mop sudah lewat, Satoru. ]
“Tunggu, Shoko! Jangan tutup teleponnya! Ughhh! Sial! Kau bisa bicara langsung pada Suguru!” Satoru memberikan ponsel pada Suguru.
“Uhh ... sial ... Shoko! Satoru serius! Dia ... dia ... hamil!” teriak Suguru di tengah ringisan akibat cakaran Satoru pada lengannya.
[ Oh, hai, Suguru. Selamat. Apa kau sedang pamer? Tega sekali kalian membohongiku. Melakukan panggilan sambil bercinta. Dengar, Suguru. Aku sedang sibuk-- ]
“Kami tidak sedang bercinta!” pekik Suguru dan Satoru bersamaan.
Shoko terdengar mengerang frustasi.[Baiklah. Aku akan datang ke sana. ]
“Cepat! Suruh Ijichi mengantarmu kemari!” jerit Satoru.
[ Iya, iya, Ojou-sama. ]
Usai panggilan diputus Suguru. Satoru kembali merengek, kini dia menggigit bahu Suguru untuk melampiaskan kesakitan. Suguru pasrah saja. Lagipun, semua ini salahnya karena menyimpan kutukan aneh nan vulgar dan menunjukkannya pada Satoru.
***
Shoko berulang kali melihat antara Satoru yang terbaring di atas ranjang dan sebungkus rokoknya. Dia masih mengira sedang berhalusinasi. Dia pikir rokok favoritnya dipalsukan menjadi rokok daun ganja.
Perut Gojo Satoru benar-benar sebesar wanita hamil tujuh bulan.
“Shoko! Cepatlah!” gonggong Satoru.
Shoko melesat mendekat. Kedua tangan meraba perut Satoru yang mirip semangka. Teknik ronsen diaktifkan ke dalam perut bagian bawah Satoru. Dia melihat sesuatu yang asing di dalam sana. Shoko sampai ternganga tidak percaya.
“Apa. Sialan. Ini. Rahim. Bayi.”
Suguru bertanya mendesak. “Shoko, apakah ... Satoru akan melahirkan?”
Shoko menoleh ke Suguru. Tatapan menuding dilontarkan. “Kau! Aku yakin ini ulahmu, Geto! Kutukan macam apa yang kau masukkan ke dalam perut Satoru!”
Suguru menangis histeris. “Aku salah! Aku minta maaf, Shoko! Aku hanya ingin menunjukkan apa yang diminta Satoru! Aku tidak tahu akan jadi seperti ini! Kroket Sialan!”
Satoru menggeram murka menjambak rambut Suguru. “Kroket Kita!”
Suguru tersenyum kecil. “Iya, Sayang. Kroket Kita. Maaf.”
Shoko mengerutkan alis bingung. “Kroket? Makanan?”
“Bukan! Kroket adalah bayiku!” bantah Satoru.
Shoko loading sebentar, sampai akhirnya menjadi gila. Dia kini memilih memberi suntikan obat pereda sakit untuk Satoru. Setelah Satoru tenang, Shoko meminta penjelasan yang detail dan masuk akal.
“Hah?” Itulah reaksi Shoko.
Suguru mendengkus.
“Jika ... aku mati karena melahirkan bayi kita, aku ingin kau merawatnya dengan cinta, Suguru. Jangan pernah membunuhnya jika anak ini terlahir sebagai manusia biasa.” Satoru sudah berwasiat.
Suguru memandangnya penuh kesedihan dan kecemasan.
“Tunggu! Tunggu! Apa-apaan kalian, sih!” bentak Shoko emosi. Dia melirik tajam Satoru. “Kau tidak akan mati, Idiot! Aku sudah memastikan makanan di dalam rahim sialan--”
“Kroket!”
“Iya, Satoru! Kroket-mu akan baik-baik saja bersama dirimu! Walaupun Geto tidak mengizinkanku melihat seperti apa kutukan itu, tapi aku tahu tekniknya tidaklah berbahaya bagi manusia.”
Suguru mengelus dada penuh rasa syukur. “Aku senang mendengarnya. Lalu? Tentang bayinya? Satoru bilang, di dalam Kroketnya ada bayi?”
Satoru menggeleng mengoreksi. “Bukan, Suguru. Tapi di dalam Kroketnya ada Kroket, yang ternyata berubah menjadi bayi.”
“Bukankah sama saja?”
“Beda!”
“Bolehkah aku merokok sebentar?”
Suguru dan Satoru membentak serentak. “Tidak!”
Shoko mendesah lelah. “Begini, Pasutri Dramatis. Aku akui, Gojo Satoru positif hamil tujuh bulan. Benar apa yang Satoru bilang, Kroketnya berubah menjadi bayi, ya ... bayi manusia untungnya, bukan daging babi cincang.”
Sebelum Satoru memprotes, Shoko memelototinya.
”Kroket-mu akan terus berkembang serupa wanita hamil normal. Jadi, dalam dua bulan, kau akan melahirkan,” pungkas Shoko.
“Lewat mana?” Suguru bertanya penasaran.
Satoru mencibir kebodohan sang Seme. “Bodoh! Tentu saja lewat mulu-- eh?! EH?!”
Yang Terkuat akhirnya menyadari sesuatu. Mulutnya pasti akan robek kalau dia memuntahkan seorang bayi manusia. Satoru tidak yakin bisa menyembuhkan luka sobek tersebut dengan RCT. Belum lagi, ada kemungkinan lehernya bisa putus karena tubuh bayinya pasti lebih besar dari tenggorokannya.
Shoko menatap skeptis keduanya. “Kalian gila? Tentu saja bayinya akan lahir lewat sesar.”
“Umm ... tiba-tiba aku ingin merasakan pengalaman melahirkan secara normal. Bisakah?” celetuk Satoru seraya terkekeh.
Suguru menyeringai mengejek. “Heh~ Tapi kau tidak punya Pussy, Satoru~”
“Urusei! Kau pikir, aku ini apa, Suguru! Akulah Yang Terkuat! Penismu yang setara lobak jumbo saja bisa muat di lubangku, apalagi Kroket-ku! Aku yakin sangat bisa mengeluarkannya tanpa masalah!” seru Satoru berapi-api.
“Sudah selesai, bukan? Bolehkah aku pergi?”
Suguru dan Satoru saking berpeluk mesra. Mereka tersenyum simpul ke arah Shoko. “Arigatou, Shoko. Sampai bertemu lagi di sesi melahirkan~”
***
“Persetan.”
Hawa kehadiran entitas serupa dirinya muncul di belakang. Dia, Sang Penjaga Penghalang, bersenandung. Meski tubuhnya sudah berubah menyerupai kutukan, dia masih tetap seorang Penyihir Tua berpengaruh setelah Kenjaku mati.
“Ada apa, Ryomen Sukuna?”
Ryomen Sukuna, Raja Kutukan yang mengubur cita-cita tertingginya, menoleh ke belakang. Di sana, berdiri Sang Penjaga Penghalang. Tak lain adalah pencipta dirinya, Ayah Kandungnya, Tengen.
“Jangan pura-pura tidak tahu, Tengen. Aku tahu kau juga merasakannya. Kehadiran baru yang asing dan kuat. Tidakkah kau penasaran ... apa atau siapa itu?”
Tengen tertawa. Dia kini duduk di atas batu kapur di samping sang putra yang duduk bersila bersemedi. “Ya. Aku juga merasakan kekuatan mentah tersebut. Tidak seperti waktu cucuku--”
“Bocah itu bukan cucumu!” potong Sukuna.
“Ah ..., baiklah. Tidak seperti waktu Itadori Yuuji mengeluarkan teknik tiruanmu dan domainnya sendiri, yang ini sangat ... membuatku merinding. Hampir seperti--”
Lagi-lagi Sukuna memotong dengan lancang. “Kelahiran Six Eyes.”
Tengen mendesah lelah. “Bisakah kau tidak memotong ucapanku? Itu sangat tidak sopan, Nak.”
Sukuna mendelik ke arah Tengen. “Siapa yang kau panggil ‘Nak’? Panggil lah aku dengan hormat, Tengen.”
Mereka terdiam saling tatap. Lalu, Sukuna mengerang frustasi turun dari batu kapur. Bunyi hentakkan sandal genta menggema ke seluruh sudut goa batu kapur putih. Goa ini adalah tempat tinggal Tengen. Sukuna terpaksa tinggal di sini juga karena terikat Sumpah Pengikat dengan Tengen.
Sukuna tak lebih dari ajudan Tengen. Dia bukan lagi Raja Kutukan yang menyebarkan teror kematian. Meski begitu, dia cukup diuntungkan. Tengen mengizinkan Sukuna membunuh Kutukan atau Manusia yang melewati penghalang tanpa izin dan mempunyai niat jahat.
Nada dering lagu SPECIALZ terdengar dari ponsel di saku kimono. Sukuna berdecak sebal kala melihat nama yang tertera di layar. Ada panggilan telepon dari keponakannya.
“Tidak diangkat?”
“Aku benci Bocah ini. Dia selalu menelepon membicarakan hal yang tidak berguna seperti film Manusia Cacing Reborn.”
“Apa salahnya? Film itu bagus, kok.”
Sukuna meringis jijik memandangi Tengen. “Jadi benar, ya? Kalian berdua menonton film sampah itu. Selera kalian membuatku muntah.”
Tengen tersenyum malu.
Kesal karena Yuuji terus menelepon, Sukuna menyerah menjawabnya.
“Apa, Bocah!”
[ Paman Kuna! Kau tahu? Gojo Sensei hamil! ]
Sukuna menjauhkan ponsel dari telinga. Dia mengorek sebentar telinganya, lalu kembali menempelkan ponsel ke telinga. “Apa kau bilang?”
[ Ihh! Paman Kuna bolot, nih! ]
“Kau ingin mati, Bocah?” geram Sukuna murka.
[ Biar kuulangi, ya. Gojo Sensei hamil, Paman Kuna. ]
Terdengar suara umpatan tak bermartabat dari mulut Sukuna. Dia akhirnya memutus panggilan dan menonaktifkan ponsel.
“Nak? Ada apa? Apa yang dikatakan Yuuji?” tanya Tengen penasaran.
Sukuna melirik sinis. “Hanya lelucon bodoh.”
***
“Halo! Halo?! Jahat banget Paman Kuna! Teleponnya dimatiin!” Yuuji membanting ponsel ke atas meja makan. Bibir mengerut menggerutu.
Nobara yang duduk di samping kanan Yuuji bersikap tak acuh. Memilih menyantap kari daging masakan Maki.
Megumi, di samping kiri Yuuji, merangkul pundaknya lembut. “Sabar, Sayang. Kakak Ipar memang seperti itu orangnya.”
Yuuji akhirnya terisak memeluk erat sang kekasih bulu babi.
“Aku penasaran apa jenis kelaminnya,” ujar Panda tiba-tiba.
“Shake.” Inumaki mengangguk setuju.
Maki duduk sebaris dengan Inumaki dan Panda, menghadap tiga adik kelasnya. Dia menyendok sepotong daging bercampur nasi, lalu mengunyahnya lamat. “Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah bagaimana nasib kita semua.”
Megumi tersentak menyadari sesuatu. “Maki-san benar. Nanami-san sedang cuti berlibur ke Malaysia. Geto-san tidak mungkin mengambil dua pekerjaan sekaligus. Jadi, siapa yang akan mengajar kita semua?”
Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Satoru hadir begitu saja di ruang makan asrama Tokyo Jujutsu. Dia muncul bersama sang suami, Suguru.
“Konniciwa! Aku kembali, Minna! Kalian pasti merindukan guru favorit kalian!” sorak Satoru heboh.
Suguru menepuk pundaknya. “Pelan-pelan, Satoru. Jangan teriak-teriak. Bagaimana kalau bayi kita terkejut?”
Satoru merengut. “Kroket-ku tidak akan terkejut mendengar teriakan gembira ibunya, Suguru! Ya, kan, Kroket?” Dia mengelus lembut perutnya yang semakin besar.
Suguru tersenyum lemah. Kantung mata hitam muncul dan bertambah besar seiring waktu. Penyebabnya tak lain adalah Gojo Satoru. Suguru terlalu protektif dan siap siaga hingga lupa tidur demi menjaga keselamatan suami dan si jabang bayi.
Nobara menusuk kasar daging karinya dengan sumpit. Dia melirik sinis Satoru. “Kroket. Kroket. Kroket. Tidak bisakah kau menyebutnya bayi saja, Sensei?”
Biasanya, Satoru akan menanggapi main-main ucapan Nobara. Namun, kali ini dia benar-benar marah. Sebelum Satoru menembakkan Purple pada Nobara, Suguru bergerak cepat mengalihkan perhatian. Dia melakukan video call ke nomor Yuuta.
“Satoru! Yuuta ada di sini! Kau bilang ingin memberi kabar bahagia ini pada sepupumu?”
Satoru tersentak. Wajah suram seram berganti cerah gembira. Dia langsung merebut ponsel dari Suguru, mulai mengoceh dan duduk di kursi kosong samping kanan Megumi.
“Tebak, Yuuta-kun~ Kau akan punya Keponakan! Yeay!”
[ Huh? ]
Satoru merengek kesal. “Yuuta-kun! Mengapa hanya itu tanggapanmu! Di mana ucapan selamat untukku?!”
Yuuta tampak menggaruk kepala, sorot mata linglung. [ Anu ... Sensei ... bercanda, ‘kan? ]
Satoru mendengkus bersedekap. “Aku serius! Lihatlah! Ini buktinya! Aku juga punya foto USG-nya!”
Yuuta tampak kuwalahan setelah melihat foto USG dan perut buncit Satoru. [ A-ku ... i-tu ... etto .... ]
Satoru tertawa terbahak-bahak hingga urat perutnya tertarik. Dia meringis mengelus perut buncitnya yang sedikit nyeri. “Yuuta-kun, aku akan menyeretmu pulang sebelum jatuh tempo melahirkan! Pokoknya, aku ingin kau dan semua orang favoritku menyaksikan betapa kuatnya diriku dapat mengeluarkan Kroket--”
Suguru menegur pelan. “Bayi, Satoru.”
“Sama saja, Suguru!—Kau harus melihat keimutan dan ketampanan keponakan kecilmu nanti, Yuuta-kun! Itu saja! Jaa~”
Panggilan video diakhiri.
Sambil memakan onigiri terakhir milik Inumaki tanpa permisi, Satoru berbicara pada Yuuji.
“Yuuji, bagaimana perkembangan teknik manipulasi darah milikmu?”
Yuuji menghapus air mata, menjawab, “Sudah tahap akhir, Sensei. Aku sudah bisa menguasainya.”
Satoru beralih ke Megumi. Jemari lentik bergerak cepat menyambar sekaleng soda milik Maki. Suguru gagal menghentikannya. Yang Terkuat menenggaknya tanpa rasa takut. “Megumi, kau sudah bisa menguasai Mahoraga?”
Megumi mengangguk. Kedua tangan menyembunyikan sesuatu di belakang punggung. Hal itu membuat Satoru curiga.
“Apa yang ada di belakang punggungmu, Megumi?”
“Bukan urusanmu.”
Satoru menoleh ke sang suami. Mata berbinar penuh permohonan. Suguru melirik sebentar ke belakang punggung Megumi, lalu tatapannya bertemu dengan sang anak angkat. Mereka menyepakati sesuatu.
Satoru tidak boleh tahu bahwa Megumi punya sebatang cokelat di belakang punggungnya.
“Kau ingin memakan kondom, Satoru?”
Pertanyaan tak senonoh Suguru membuat semua orang di meja makan tersipu. Wajah Megumi bahkan semerah tomat.
“Suguru Hentai!” Satoru beralih menatap lekat susu kotak stroberi punya Yuuji.
Yuuji, sebagai anak yang tidak peka hanya balas menatap mata Sensei-nya. Dia lanjut menyedot susu kotak sampai habis. Dia terkejut kala melihat Satoru terisak.
“Sudahlah, Satoru. Kau sudah makan terlalu banyak makanan dan minuman. Dari yang termanis sampai yang terlarang. Jika Shoko tahu, aku pasti akan disalahkan,” bujuk Suguru.
“Tapi ... tapi ... aku ingin susunya Yuuji!”
Yuuji mengernyit, menunduk menatap dadanya. “Sensei, dadaku tidak ada susunya.”
Satoru makin merengek sedih. Suguru menepuk jidat bersama yang lainnya.
“Aku muak berada di sekitar orang-orang t*l*l!” Nobara pergi dengan sejuta emosi.
Maki ikut pergi. Membanting piring serta sendok di atas meja makan tanpa berkata-kata. Kaleng soda miliknya yang kosong diremukkan, lalu dilempar ke tempat sampah.
Panda merangkul menghibur Inumaki yang sedih karena onigirinya dimakan Satoru. Mereka pun ikut pergi dari ruang makan.
Megumi hendak pergi setelah menyembunyikan cokelatnya di dalam teknik bayangan. Namun, Yuuji menghalangi.
“Nanti dulu, Gumi! Aku ingin mengabarkan sesuatu pada Gojo Sensei.”
Satoru merajuk, duduk memunggungi Yuuji.
Suguru turun tangan. “Kau bisa mengatakannya, Yuuji-kun.”
“Aku sudah mengabarkan tentang kehamilan Gojo Sensei pada Paman Kuna. Tapi ... dia sepertinya menganggap itu lelucon,” ujar Yuuji menunduk murung.
Satoru menggebrak meja tiba-tiba mengejutkan Megumi, Yuuji, dan Suguru. Tatapan matanya mengeras penuh amarah. “Tidak bisa dibiarkan! Sukuna harus tahu bahwa dia bukan lagi sesuatu yang ditakuti! Dia tidak boleh menghinaku!”
“Kau tahu? Rata-rata reaksi orang yang mendengar ini pasti begitu, Satoru. Kau sedang hamil. Jangan bertengkar,” nasihat Suguru.
“Ikut aku, Suguru.”
“Sat--”
Terlambat. Satoru sudah menggenggam erat pergelangan tangan Suguru. Mereka ... sekali lagi berteleportasi. Satu tujuan, yakni goa tempat Tengen dan Sukuna berada.
Akibat penggunaan teknik teleportasi yang terus menerus, Satoru mengalami migrain. Dia hampir jatuh tersungkur ke tanah kalau tidak ditangkap Suguru.
“Dasar keras kepala! Aku sudah bilang padamu! Jangan pakai teknik teleportasi berkali-kali! Kondisimu sangat rentan, Satoru!”
“A-ku baik-baik saja! Aku hanya ... sedikit berlebihan!”
“Terserahmu.”
Ketukan mantap sandal genta terdengar mendekati pasutri tersebut. Ada juga sosok wangi kasturi yang mendampingi pria berlengan empat berkimono putih bersyal hitam.
“Apa yang kalian lakukan di sini, Penyusup?”
Satoru melambai menyapa. Tak ada ketakutan untuk menatap balik bola mata merah darah tersebut. “Sukuna! Tengen! Sudah lama kita tidak bertemu! Apa kalian sudah akur?”
Mata Sukuna tak ubahnya ikan mati.
Tengen menatap waspada sekaligus terpesona ke arah perut buncit Satoru.
“Apa aku sedang bermimpi?”
Satoru menjawab Sukuna lewat tamparan di wajah. Sukuna merespon mengangkat tangan ke depan dada, jemari membentuk domain. Sayang, Tengen menepis tangannya. Sukuna gagal membunuh pria albino ini.
“Ehehe~ Apa Mantan Raja Kutukan takut pada Kroket-ku?” goda Satoru.
Sukuna meneleng bingung bersama Tengen.
Suguru terkekeh malu mengusap tengkuk. “Maksudnya Satoru ... itu adalah ... bayi. Bayi kami, Sukuna, Tengen.”
Satoru menghentakkan kaki, bibir maju lima senti. “Kroket, Suguru! Kroket!”
Suguru menghela napas lelah, tersenyum memeluk sang suami. “Iya, iya. Kroket-mu, Kroket kita.”
“Nama yang sangat jelek! Kuyakin anak itu juga akan sangat jelek wajahnya dan sifatnya!” Sukuna menghujat.
“Kau buta, Sukuna? Kroket Kita pasti akan sangat cantik atau tampan~ Karena kita adalah pasangan goals~” Satoru mengedipkan bulu mata.
Sukuna menggeram, lalu terdiam. Mata merah darah terlalu fokus menatap perut buncit Satoru. Si Pria Hamil tersenyum lembut.
“Kau ingin mengelus perutku, Sukuna-chan?”
“Cih! Tidak!”
“Masaaaa~”
Sukuna beralih memandang lekat Suguru. “Geto Suguru, tawaranku masih berlaku. Meski saat ini aku terikat sumpah dengan Tengen, tetapi aku masih bisa mewujudkan cita-citaku. Jika tidak bisa membunuh umat manusia, setidaknya aku ingin membuat mereka bertekuk lutut di hadapanku.”
Suguru balas menatap tajam. “Maaf saja, Ryomen Sukuna. Aku sudah sibuk menjadi Kepala Rumah Tangga dan Seorang Ayah.”
Sukuna mengangkat bahu. “Jika itu keputusanmu, maka jangan salahkan aku kalau nanti anakmu berpindah asuhan ke tanganku.”
Satoru menggonggong emosi. Six Eyes menyala terang penuh aura pembunuhan. “Selama ada aku, kau tidak akan pernah bisa menculik Kroket-ku, Sukuna.”
Sukuna menyeringai, sedang Satoru memberinya jari tengah.
Tengen terkekeh melihat interaksi ketiganya. Dia memperingati Sukuna dengan menggeplak kepala belakangnya.
“Aduh! Sialan kau, Tenge--”
“Nak, bisakah kau bersikap sopan pada tamu kita?”
Sukuna mencibir, “Ya.”
Senyum Tengen semakin tajam. “Ya, apa?”
“Ya ..., Otou-sama,” jawab Sukuna sambil membungkuk di depan Tengen.
Satoru bertepuk tangan sambil menangis haru melihat interaksi Sukuna dan Tengen. “Akhirnya kalian resmi menjadi Ayah-Anak! Senangnya hatiku! Kalau begitu, tugasku untuk memberi kabar kehamilanku di sini sudah selesai! Ayo kita pulang, Suguru! Aku ingin makan tomyum buatanmu!”
“Satoru, kau sudah banyak makan dari pagi tadi. Nanti perutmu sakit.”
“Tidak! Kali ini yang meminta adalah Kroket!”
“Oke, oke, Sayang. Mari kita pulang.”
Satoru berteleportasi lagi, pulang ke rumah mewah mereka. Rumah yang terletak di pulau kosong tempat dahulu Suguru menculik dan bercinta dengannya. Satoru bilang, bekas rumah reot yang dipugar serta dibeli oleh Satoru adalah tempat suci mereka. Di mana Satoru mengingat kembali bahwa dia mencintai Suguru. Satoru juga tak segan membeli pulau kecil tersebut. Membuat dermaga, membeli sebuah speedboat untuk transportasi Nanako dan Mimiko pergi ke sekolah Jujutsu China.
Suguru sengaja mendaftarkan putri kembarnya ke Jujutsu China. Dia tidak ingin mereka bersekolah di Jujutsu Tokyo ataupun Kyoto. Semua karena terlalu banyak kutukan ganas di Jepang. Selain itu, di Jepang ada Sukuna meski mantan Raja Kutukan sekarang terperangkap bersama Tengen. Suguru tidak ingin hal buruk menimpa putri-putrinya.
Di antara lelah dan kantuk, akhirnya Suguru berhasil menyelesaikan tomyum yang diminta Satoru. Ketika dia pergi ke sofa ruang tengah, Suguru terpukau. Sang suami yang sedang hamil besar tengah tertidur sambil duduk di sofa. Bukan Satoru yang menonton Digimon, melainkan sebaliknya.
Suguru mendekat, membelai surai putih yang menutupi dahi. Dia tersenyum hangat mendengar Satoru mendengkur dan mengingau. Rasanya, Suguru tidak tega membangunkan Satoru. Oleh sebab itu, dia memutuskan menggendong Satoru dengan hati-hati menuju kamar mereka. Yang Terkuat tertidur bagai orang mati, tidak pernah bangun saat Suguru membaringkannya di ranjang serta menyelimutinya.
“Sepertinya, perjuanganku masih panjang, ya? Aku perlu mempersiapkan jasmani dan rohani untuk mengurusmu juga bayi kita jika dia sudah lahir nanti. Jujur saja, aku sangat lelah. Aku ingin mencampakanmu dan berhenti mengurusmu. Namun ..., aku terlalu terikat padamu, Satoru. Aku tidak bisa melakukan semua itu.”
Suguru mencondongkan tubuh ke depan wajah Satoru. Bibir mendekat mengecup pelan bibir Yang Terkuat. Kini, dia ikut berbaring di samping kanan Satoru. Memeluk perut buncitnya dari belakang dengan sangat lembut juga protektif.
“Aku sangat mencintaimu. Aku juga mencintai Kroket Kita, bayi kita. Aku beruntung memilih jalan penebusan ini.”
•End•
