Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of bloodsports
Stats:
Published:
2023-12-10
Words:
2,652
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
35
Bookmarks:
6
Hits:
314

which of us will survive (which of us will survive the other)

Summary:

ketika ia menoleh ke sisinya, ia mendapati bahwa sang kekasih sudah terjaga—kendati masih dikuasai rasa kantuk yang membebani kelopak mata.

“ada apa? ini jam berapa?”

Yoichi melirik ke layar ponsel di genggaman. “baru mau jam enam—”

“kamu mau kemana?” tanya lelaki tersebut seraya membenamkan wajahnya ke lekukan pinggang Yoichi dengan manja, seperti tak rela berjauhan terlalu lama, dan Yoichi tak kuasa menahan senyum seraya mengelus rambutnya.

“semalam ada insiden lagi, jadi aku harus ke lokasi.”

pada jawaban tersebut, kekasihnya kontan menarik diri untuk mengambil jarak, menatap dirinya tepat di mata. “kan kamu lagi cuti?”

Yoichi hanya dapat terdiam, sorotnya bergulir menghindari wajah sang lawan bicara.

“…maaf, Reo.”

or alternatively, gambaran di suatu pagi hari yang biasa-biasa saja dalam hubungan Yoichi dan Reo (yang tidak biasa-biasa saja).

Notes:

jangan tertipu tagsnya, yah. ini isinya 75% reosagi ngebulol ria.

also cross-posted on my Twitter right here.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

hal pertama yang teregistrasi di dalam kesadaran Yoichi adalah suara dengungan keras yang membahana tepat didepan hidungnya.

dengan mata masih terpejam, ia menggapai telepon genggam miliknya yang bergetar, meraba-raba meja di samping ranjang hingga telapaknya mendarat pada sebuah objek berbentuk persegi panjang pipih yang dicari. jemari dengan cekatan menavigasi layar dari perangkat tersebut sebelum mendekatkannya ke arah telinga.

“halo?”

“Isagi, maaf ganggu kamu pagi-pagi buta, tapi kita butuh kamu di lapangan.” suara Yukimiya langsung menyapa indera pendengaran, tak luput urgensi yang menyertainya.

“Yukki, gue lagi cuti…” ia mengusap wajah, lalu dengan berat melirik ke jam digital di meja samping ranjang. pukul 05.45. “ngga ada orang lain?”

Chameleon berulah lagi, Sa.”

shit.

lantas kantuk di mata menghilang tanpa jejak, ranjang mengeluarkan decit protes sewaktu menahan berat tubuhnya yang spontan beranjak ke posisi duduk. terpaan udara dingin di pagi hari menusuk bagaikan ribuan jarum berukuran mikroskopik pada tengkuknya.

“kapan?”

“tadi malam. 50 korban jiwa, semua ghoul. geng Wanima bersaudara.”

Wanima… sepasang ghoul kembar di kategori A. meskipun tidak begitu kuat, kelompok mereka sangat handal dalam mendapatkan informasi seputar operasi-operasi rahasia milik CCG. Yoichi sendiri sempat dibuat kewalahan oleh mereka beberapa waktu lalu.

ia memijat keningnya. tipikal Chameleon, selalu efisien dan bersih. “terus? lo butuh gue buat apa?”

“kamu merasa ini aneh ga?”

“aneh?”

“kelompok Wanima itu salah satu pengikut setianya Chameleon, bahkan jadi pembuka jalan bagi mereka untuk ngebobol Cochlea tanpa terdeteksi waktu itu.” Yoichi dapat samar-samar mendengar hiruk-pikuk yang sebelumnya melatarbelakangi suara Yukimiya berangsur-angsur menjauh hingga yang tersisa hanyalah keheningan. “ini bener-bener pembantaian, Sa. ga cocok sama MO dia biasanya. yang tersisa dari Wanima cuma torso mereka yang udah gosong, sementara bawahan mereka habis dipenggal semua.”

alis Yoichi kontan berkerut pada penggambaran brutal tersebut. “dan ini kalian yakin seratus persen kalau pelakunya dia?”

rekannya menghela napas. “dia, Panther, dan Ghost. ceceran sel RC yang kita temukan di TKP cocok sama yang ada di database kita. Hiori sama Kurona masih nyusurin perimeter in case ada yang kelewat.”

memang, Chameleon yang ia ketahui selama ini selalu efisien dan tidak suka membuang-buang waktu maupun tenaga. berbeda dengan ghoul pada umumnya yang sengaja menggunakan metode sadis untuk membunuh korban mereka, ia cenderung menganggap tindakannya sebagai suatu cara untuk mencapai tujuan; tanpa bumbu-bumbu teatrikal ataupun sentimen pribadi, tercerminkan dari TKP yang seringkali bersih dan mayat yang masih lumayan utuh—setidaknya jika tidak memperhitungkan kakuhou yang hilang ataupun dikoyak-koyak habis.

…kecuali sewaktu Yoichi berhasil menjebak Ghost dalam perangkapnya dulu, dan kalau bukan karena Panther yang langsung menahan Chameleon agar tidak menerjang Yoichi, mungkin penghuni Cochlea saat itu bisa bertambah tiga sekaligus.

jadi pilihan yang tersisa tinggal satu.

“sebelum kejadian ini, apa intel terakhir yang berkaitan dengan kelompok Wanima?”

Yukimiya terdiam sesaat. “cuma soal aksi mereka sebulan yang lalu,” jawabnya. “banyak ghoul di ward kita yang nggak setuju, menurut mereka terlalu narik perhatian.”

ingatan Yoichi kembali terlempar ke malam beberapa minggu sebelumnya, pada luka menganga di lengan kirinya yang hingga sekarang pun masih belum sepenuhnya sembuh akibat menahan koukaku si kakak dari menikam wajahnya, ketika ia dan Kunigami disergap sewaktu berpatroli sampai mereka berdua nyaris tewas kalau bukan karena intervensi Itoshi bersaudara yang langsung memutarbalikkan keadaan.

kejadian itu cukup membuat ward mereka geger, terlebih lagi kala itu pembobolan besar-besaran di Cochlea masih menjadi luka baru yang belum berhenti berdarah bagi pemerintah Jepang. CCG sendiri langsung merencanakan operasi pembersihan besar-besaran dengan kelompok Chameleon sebagai salah satu target utama mereka.

mungkinkah bagi Chameleon, aksi Wanima kemarin membuktikan bahwa berafiliasi dengan mereka justru lebih merugikan daripada menguntungkan? dan alih-alih sekedar memutus hubungan mereka memilih untuk menghabisi sumber masalah tersebut hingga ke akar-akarnya?

tapi masih tidak menjelaskan kenapa Chameleon mengambil metode seekstrim ini, lebih lagi kelompok Wanima berperan penting dalam membantunya membebaskan Ghost dari Cochlea dulu. Yoichi tahu betul bahwa ia bukan tipe orang yang tidak tahu cara berbalas budi.

“lebih baik kamu turun kesini.” suara Yukimiya menariknya kembali ke bumi sebelum ia semakin tenggelam dalam pikirannya. “kasihan pesan dari pacar kamu kalo dicuekin.”

Yoichi kontan menghela nafas. “dibilangin, dia bukan pacar gue.”

yang diujung telepon tertawa kecil. “abisnya, yang bisa ngimbangin otak dia selama ini kan cuma kamu, Sa. biasanya kamu juga yang paling semangat mau ketemu dia. rela lembur buat siap-siap kalo besoknya mau ada operasi.”

“terus apa, gak sekalian bilang dia ngelakuin ini semua karena kemarin gue luka? tipe ‘gak boleh ada yang bunuh gue selain dia’ gitu?” Yoichi menimpali, berkelakar balik.

“hmm, kalau lihat gimana dia ngebobol Cochlea cuma untuk nyari Ghost, aku gak kaget sih kalo ternyata love languagenya dia act of service.”

sang lelaki berambut gelap merotasikan matanya. yah, memang tidak salah kalau mereka selalu saja menghalangi rencana satu sama lain. entah bagaimana Chameleon selalu tahu kapan harus muncul untuk membuyarkan seluruh operasi yang didalangi oleh Yoichi, sementara Yoichi sendiri dapat memahami jalan berpikir ghoul tersebut dan memperkirakan langkah yang akan diambil selanjutnya. bahkan ia yakin quinque miliknya sudah hafal dengan tiap sudut dan celah dari bikaku milik Chameleon dengan seberapa sering mereka beradu.

“jadi gimana, Sa?”

send location aja. be there in a few.”

got it. see you soon,” dan panggilan diakhiri.

pandangan Yoichi beralih ke arah jendela; matahari mulai membumbung tinggi di langit, hingga sinarnya merembes masuk melalui sela-sela tirai yang tidak sepenuhnya menutupi jendela ruangan tersebut. tanpa disadari, jemarinya sudah menelusuri rangkaian bekas luka berpola fraktal yang bermula di leher kirinya lalu menjalar hingga ke bahu, menelusup lebih dalam hingga ke punggung yang tertutup oleh kaos tidur kebesarannya.

“Yoichi?”

sepasang lengan kuat merengkuh pinggangnya kedalam sebuah pelukan, diikuti dengan kecupan pada bentangan kulit diantara keliman kaos dengan karet celana dalam—mengutus sinyal elektrik yang langsung melesat ke tengkuknya melalui ruas-ruas tulang punggung.

ketika ia menoleh ke sisinya, ia mendapati bahwa sang kekasih sudah terjaga – kendati masih dikuasai rasa kantuk yang membebani kelopak mata.
“ada apa? ini jam berapa?”

Yoichi melirik ke layar ponsel di genggaman. “baru mau jam enam—”

“kamu mau kemana?” tanya lelaki tersebut seraya membenamkan wajahnya ke lekukan pinggang Yoichi dengan manja, seperti tak rela berjauhan terlalu lama, dan Yoichi tak kuasa menahan senyum seraya mengelus rambutnya.

“semalam ada insiden lagi, jadi aku harus ke lokasi.”

pada jawaban tersebut, kekasihnya kontan menarik diri untuk mengambil jarak, menatap dirinya tepat di mata. “kan kamu lagi cuti?”

Yoichi hanya dapat terdiam, sorotnya bergulir menghindari wajah sang lawan bicara.

“…maaf, Reo.”

lelaki yang dipanggil Reo itu justru tertawa. “kok minta maaf? aku nggak marah.” tangannya pun meraih menggenggam tangan Yoichi yang lebih kecil, afeksi turut terpatri dari sinar matanya ketika menatap sang pemilik hati. “aku nanya karena khawatir. kamu udah cuti masih diganggu.”

“salahin ghoulnya tuh. gangguin aku pacaran sama kamu,” Yoichi balas menggenggam balik tangannya dengan bibir mengerucut sebal, sebelum menunjukkan ekspresi bersalah. “maaf ya, padahal kita udah ada rencana hari ini.”

Reo pun menguap lebar seraya menggeleng. “masih ada hari esok. aku juga mau tidur lagi abis ini.”

Yoichi merasa ujung-ujung bibirnya berkedut. “makanya, olahraga dong biar stamina kamu bisa keep up.” celetuknya.

“jangan samain stamina aku sama kamu,” gerutu Reo. “kuat sih kuat, tapi tadi malam kamu ganas banget ngeride aku, tau?”

“emangnya kamu nggak suka?”

“suka. banget. tapi lebih suka Yoichi yang begini—“

sebelum Yoichi bahkan dapat membuka mulut, tangannya (yang tidak terluka, tentu saja) sudah terlebih dahulu ditarik oleh Reo hingga ia kehilangan keseimbangan, terhempas berbaring di kasur mereka bersamaan dengan Reo yang beranjak bangun untuk memerangkap tubuh Yoichi dibawah tubuhnya sendiri.

untuk sesaat, Reo hanya menatapnya lekat-lekat dengan senyuman tersungging lebar di bibir. satu tangannya menangkup pipi Yoichi, jempol mengusap-usap tulang pipinya dengan lembut.

Yoichi sendiri juga tak kuasa melepaskan diri dari tatapan Reo, terbuai oleh jernihnya netra lembayung milik sang kekasih, pada pujaan yang terpancar dari kedua maniknya sehingga membuat sekujur tubuhnya seketika diselimuti sensasi hangat. seakan waktu terhenti dan hanya ada mereka di dunia saat itu.

barulah ketika Reo mulai membungkuk perlahan Yoichi memejamkan matanya, mendesah kala bibir mereka bertemu dalam sebuah pagutan yang lembut namun mendominasi dari pihak Reo. biarkan sang kekasih yang mengambil kontrol sepenuhnya sampai-sampai dirinya nyaris tak sadar kehabisan nafas, terkesiap begitu kehangatan diatas tubuhnya menarik diri, memaksa dirinya untuk mengerjapkan matanya terbuka.

there, beautiful,” bisik Reo. “and all mine.”

kendati pandangan yang masih memburam, Yoichi pun tak sempat menahan senyuman yang merekah di bibirnya, ataupun rasa panas yang merambat ke pipi.

“gombal.”

“gombalnya cuma ke kamu aja,” ucap Reo, mengecup kening Yoichi. “gimana kalo nanti sore aku jemput kamu di kantor, terus kita lanjut jalan-jalan dan dinner?”

Yoichi balas mengalungkan kedua lengannya pada leher Reo dengan manja. “jemput naik Jaguar kamu, ya.” jawabnya, menyengir iseng.

Reo menyeringai balik. “bener? no take backs ya? kemarin aku jemput naik Audi aja malah misuh-misuh malu pas di mobil.”

“siapa suruh kamu jemputnya depan lobby utama banget. bosku aja mobilnya gak ada yang selevel kamu, Re.” rengut yang lebih kecil.

“itu namanya memberi statement, sayang,” kali ini kedua lengan Reo turun untuk melingkari pinggang Yoichi erat-erat, menyandarkan dagunya di dada yang lebih kecil. kelopak mata memejam kala jemari Yoichi mulai menggaruk kulit kepalanya dengan lembut. “your partner has enough money to drive an Audi around, and yet here you are, masih loyal kerja untuk mereka. they should appreciate you more.”

sekarang giliran Yoichi untuk tertawa.

“aku bercanda, ih. jangan bawa mobil aneh-aneh,” ujarnya, menyentil kening Reo pelan.

“tadi siapa yang minta aku bawa Jaguar, coba?”

“abisnya kalo kamu lagi serius nyetir, gantengnya naik berkali-kali lipat.”

“ohhh, jadi kamu cuma suka aku karena aku ganteng?”

that, and your dick’s big enough to fuck me stupid.

tatapan Reo seketika berubah tajam, dan ia pun langsung berguling dari posisinya diatas Yoichi untuk merebahkan tubuh di sisi sang kekasih seraya mengerang dramatis. “bisa gak, kalau mau ngebinal pakai aba-aba dulu.” gerutunya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Yoichi menukar posisi mereka, bergantian mengambil posisi duduk di perut Reo dengan sebuah senyuman puas mengukir bibirnya. “kan binalnya cuma ke kamu aja.”

“iya, tapi—“ tangannya beralih untuk menepuk bokong sintal Yoichi. “udah ah, mandi sekarang sebelum aku bikin kamu telat beneran.”

sang lelaki berambut gelap tergelak, gilirannya untuk membungkuk dan mengecup bibir Reo lembut penuh kemenangan.

i love you.

Reo hanya berdehem setengah hati sebagai balasan, kontras dengan rona merah yang mulai menguasai telinganya dan pipinya. Yoichi mengambil kesempatan ini untuk membubuhkan ciuman-ciuman jahil di wajah sang pujaan hati hingga empunya tertawa geli, sebelum akhirnya beranjak dari tempat tidur mereka dan bergegas ke kamar mandi.

 


 

Reo menatap punggung Yoichi yang berangsur-angsur menjauh, pandangannya terpaku pada tiap inci fitur sang kekasih; mulai dari rambut gelapnya yang masih berantakan setelah bangun tidur, otot pahanya yang berkontraksi kala ia meregangkan tubuh, tanpa sengaja juga menyingkap kaos tidur kebesaran sehingga mengekspos pinggang rampingnya yang dipenuhi oleh lebam-lebam seukuran jari Reo serta bekas luka bakar sengatan listrik—

ia refleks mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan kebetulan mendarat pada telepon genggam miliknya di meja samping ranjang. layarnya menunjukkan angka 06.15 beserta tiga notifikasi panggilan tak terjawab dari sang ibu.

…dan itulah pertanda waktunya kembali ke realita.

dengan lincah ia pun melompat keluar dari ranjang, menyambar perangkat tersebut di meja disaat yang bersamaan sebelum mendarat dengan sigap di kakinya. tubuh hanya terbalut oleh celana sweatpants abu-abu saat berjalan ke area balkon, tak terusik oleh dinginnya pagi hari yang menusuk kulit. jemari dengan lihai menavigasi layar handphonenya hingga sampai di profil sang ibu.

“halo, mama?”

“pagi, sayang. lagi dimana? kok nggak langsung pulang kerumah?” suara ibunya langsung menyapa pendengaran.

ia berpura-pura menguap lebar. “Reo tadi ngantuk banget, ma. mau tidur dulu di apartemen, nanti siangan baru mampir kesana.”

“oh alah… ini udah tidur?”

“udah. baru abis dari toilet. kenapa, ma?”

“nggak. mama cuma mau nanyain soal operasi tadi malam.”

Reo melirik ke arah pakaian Yoichi yang berserakan di lantai sekitar tempat tidurnya. “lancar kok ma. Reo udah mastiin nggak ada hambatan sebelum gerak.”

“ah, pinternya anak mama.”

sebuah senyuman merambat ke bibirnya tanpa sadar. Reo pun menyandarkan tubuhnya pada dinding railing, biarkan matanya dimanja oleh pemandangan hamparan gedung-gedung pencakar langit di bawah sinar temaram matahari yang belum sepenuhnya terbit. “makasih, ma.”

“tapi yang mama mau tanya, kamu kemarin kenapa?”

entah kenapa, Reo merasa ia tidak akan menyukai arah pembicaraan ini. “maksudnya, ma?”

“mama dapat informasi kalau kelompok Wanima ditemukan CCG dalam keadaan… tercerai-berai.”

shit. lantaran harus meladeni Yoichi hingga kekasihnya itu tertidur kelelahan, Reo jadi kelepasan saat menginterogasi si kakak-beradik Wanima kemarin malam — terlebih lagi ia tidak sengaja teringat pada guratan panjang pada lengan kiri Yoichi dari koukaku si kakak, menambah satu lagi dari sekian koleksi bekas luka di tubuh kekasihnya.

…sial, perasaan jengkel yang asing dari kemarin malam kembali mengerumuni dadanya. seharusnya ia musnahkan saja mereka semua hingga jadi debu—

“ini kerjaan kamu?” tanya ibunya lagi.

Reo mengeluarkan erangan kecil, membenturkan keningnya perlahan pada pinggiran railing dan membiarkan kepalanya bersandar disana. ia “iya, ma.”

“bukan Hyouma atau Seishiro?”

“mereka nggak ikut-ikutan. itu semua pure kerjaan Reo.”

dari ujung telepon, ibunya mendecakkan lidah, yang Reo sudah khatam sebagai salah satu bentuk kekhawatirannya. “nggak biasanya kamu berantakan begini, Reo,” tegur beliau. “kamu kenapa? mama dan papa sudah tekankan berulang-ulang, kalau urusan keluarga jangan melibatkan—”

“—sentimen pribadi. iya ma, Reo udah hafal.”

lelaki tersebut menghela nafas, memindahkan telepon genggamnya ke telinga yang satu seraya menyisir poninya kebelakang asal-asalan dengan jemarinya. “gara-gara mereka gegabah, kita jadi target publik, ma. masa cuma mau dibunuh pakai cara biasa begitu aja?”

“biasanya juga kan pakai koneksi papamu, gak sampai seminggu publik pasti udah nemu hal baru lagi untuk dibahas,” dan sebelum Reo dapat memikirkan sebuah sanggahan, ibunya kembali menambahkan: “sekarang coba jujur sama mama, bener nggak ini semua karena manusia itu?“

rahangnya kontan menegang. “manusia apa?”

“mama lupa namanya… pokoknya si dove itu. mama dapat info kalau dia salah satu yang cedera karena di serang Wanima kemarin.”

di saat seperti ini, Reo berharap andaikan saja ibunya tidak pernah mau ikut campur urusan bisnis keluarga mereka.

“kalian masih berhubungan? janji kamu deketin dia cuma untuk cari intel sampai kamu berhasil keluarin Seishiro dari Cochlea.”

“ma…“

“jangan bilang kamu beneran jatuh cinta sama dia?”

Reo merasakan darahnya berubah sedingin es didalam nadinya.

“aduh, mama overthinkingnya lagi kambuh ya?” ia berkilah, berusaha mempertahankan nada netral pada suaranya. satu hal lain yang Reo khatam betul, ibunya bisa mencium kebohongan dari jauh layaknya seekor hiu mencium darah. “mana mungkin Reo bisa jatuh cinta sama manusia.”

seakan diberi sinyal, benaknya—si pengkhianat ulung, seperti biasa—memutar ulang ingatan akan Yoichi di pagi ini; menatapnya penuh afeksi dan pujaan dengan senyuman cerah yang mampu membuat dada Reo terasa dihimpit, degup jantungnya dan denyut nadinya yang memompa darah begitu kentara di telinga, namun tidak sekeras kalimat pernyataan cinta yang diutarakannya: ‘i love y—

Reo memaksa dirinya untuk melanjutkan. “mama, Reo melakukan apa yang Reo lakukan ke Wanima karena harus ada contoh buat kelompok-kelompok yang ngelakuin sesuatu gak mikir dulu efeknya apa buat orang sekitar dia. mereka ngelanggar aturan, harus ada konsekuensinya.”

ibunya terdiam. “bener, bukan karena dove itu?”

“ma, satu-satunya perasaan yang bisa dirasakan predator ke mangsanya adalah rasa lapar. bukannya mama yang ngajarin Reo dulu?”

tiba-tiba ia penasaran akan bagaimana rasa jantung Yoichi; apakah akan berbau harum seperti kulitnya kala Reo menciumi luas dadanya? apakah akan terasa tebal seperti otot-otot pahanya dalam cengkraman Reo kala mereka sama-sama mengejar kenikmatan dengan satu sama lain? apakah ketika digigit, rasa manis dari darah yang selama ini terhalang kulit kala ia meninggalkan bekas pada sela-sela paha Yoichi akan menyeruak di dalam mulutnya, meletup-letup bagaikan nektar yang konon dikonsumsi para Dewa-Dewi?

“ya sudah kalau kamu bilang begitu,” ibunya akhirnya menghela nafas. “tapi begitu kamu sudah selesai sama dia, mama mau dove itu dibunuh, ya. atau mama suruh orang lain aja?”

kalau ia memakan jantung Yoichi, apakah Reo akan juga dapat mengecap rasa cinta sang kekasih yang hanya diperuntukkan padanya? apakah artinya perasaan tersebut beserta seluruh jejak keberadaan Yoichi bisa menjadi milik Reo dan untuk Reo sendiri? apakah tidak akan ada lagi ghoul lain yang dapat menorehkan tanda mereka di tubuh Yoichi selain dirinya?

apakah ini benar-benar rasa lapar, atau sesuatu yang lain?

“ga perlu, ma,” ia memejamkan matanya, hitam perlahan menyelimuti sklera yang mengitari iris berwarna merah darah. “biar Reo yang bunuh dia sendiri.”

Notes:

thank you for reading! untuk sekarang bentuknya masih oneshot, tapi aku sudah ada bayangan mau dibawa kemana kalau dilanjut 👍🏻 tinggal eksekusinya aja hwhwhwhw

twitter | retrospring

Series this work belongs to: