Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-11-18
Words:
447
Chapters:
1/1
Kudos:
5
Bookmarks:
1
Hits:
163

Menari

Summary:

Sepenggal cerita ketika Juyeon menari saat emosi di malam hari.

Work Text:

Juyeon sangat suka menari. Menurutnya, banyak hal bisa disampaikan dengan gerakan tubuhnya saat dia menari. Dia bisa menyampaikan emosi dan pesannya kepada banyak orang lewat gerakan-gerakan yang tercipta.

Sangyeon tidak suka menari. Dia bisa menari, tapi reflek tubuhnya tidak sebagus itu untuk mengikuti banyak gerakan sulit, terutama jika alunannya lembut atau ketika ketukannya cepat.

Tinggal bersama sejak dua tahun lalu membuat Sangyeon paham kalau Juyeon sedikit banyak sering melampiaskan segala emosi terpendamnya dengan menari di ruang tengah apartemen mereka.

Jadi ketika tengah malam dia selesai mengerjakan project-nya dan mendengar sayup suara musik, dia langsung turun dan berhenti di tangga paling bawah, menghadap ke ruang tengah. Disana, ada Juyeon yang sedang menari.

Gerakannya clean, badan lenturnya meliuk-liuk indah, dan seperti biasa, Sangyeon terpesona. Tidak pernah sekalipun tarian pacarnya membuat hatinya tidak bergetar.

Juyeon mulai kehilangan temponya ketika dia akhirnya jatuh terduduk di ruang tengah, kemudian dia diam. Sayup suara tangisan terdengar; pelan, lirih, mengalir begitu saja. Sangyeon masih memperhatikan kekasihnya yang sedang menikmati waktunya sendiri, tidak ingin menginterupsi tembok yang dibangun di sekeliling kekasihnya saat ini.

Setelah beberapa saat tangisan lirih itu mereda, Sangyeon menghampiri ponsel Juyeon yang terletak tidak jauh dari tempatnya sekarang. Tangannya mengotak-atik sebentar, hingga akhirnya satu lagu lembut mengalun memenuhi ruangan.

Juyeon mendongak ketika melihat kekasihnya berdiri tepat di depannya, sedang mengulurkan tangan.

“Ayo.” Ajaknya lembut. Ajakan bersambut, mereka berputar-putar di ruangan itu dengan tempo lambat.

Juyeon mengistirahatkan kepalanya di bahu Sangyeon. Tinggi mereka tidak berbeda jauh, Juyeon sedikit lebih tinggi dari Sangyeon, tapi posisi begini entah kenapa terasa nyaman.

“Kakak kan gak suka nari.” Cicit Juyeon.

“Kalo nari sama aku bisa buat kamu sedikit merasa lebih baik, aku bakalan nari terus sama kamu.” Bisik Sangyeon, menyematkan satu kecupan di telinga Juyeon.

Satu senyuman terbit di wajah Juyeon, agaknya merasa lega karena diperlakukan sebegini manisnya. Tangan mereka yang bertaut seperti mengalirkan kekuatan kedalam diri Juyeon.

“Kakak......makasih.” Bisik Juyeon, sepenuhnya mengatakan dengan tulus dan bersungguh-sungguh.

“Terima kasih kembali, sayang.” Ucapan lembut yang selalu membuat Juyeon berdesir. Juyeon masih enggan mengangkat kepalanya, tapi dia merasa semakin letih sekarang.

“Kalo aku mau cerita sama kakak, kakak masih sibuk nggak sekarang?” Satu pertanyaan yang membuat sudut bibir Sangyeon naik.

I'm all yours, baby. Kerjaanku udah selesai.” Jawaban dari Sangyeon membuahkan satu anggukan pelan di bahunya. “Mau cerita disini? Atau di kasur?”

“Mau cerita.....” diucapkan perlahan, “.....di kasur....” dengan sedikit rasa malu yang menjalar di wajahnya, “.....sambil di peluk kakak.....” karena Juyeon jarang meminta.

Satu senyuman terbit di wajah Sangyeon. “Mau jalan sendiri atau mau digendong, kitten?”

Panggilan itu manis, dan Juyeon menyukainya. Tapi dia terlalu malu untuk mengatakan keinginannya untuk bisa digendong oleh sang kekasih. Jadi mereka bergandengan tangan, berjalan bersisian ke arah kamar mereka berdua.