Work Text:
Sebuah fenomena langka yang memiliki probabilitas nyaris mustahil pernah terjadi di SMA Mir. Tidak ada yang bisa memprediksi fenomena ini, baik itu Dan Gunwoo yang terkenal sangat cerdik, Kepala Sekolah yang selalu mengamati murid-muridnya, bahkan Oh Taegyeong yang terkenal sangat berkuasa di sekolah itu. Fenomena itu terjadi begitu saja, tanpa ada gejala-gejala yang menyertai sebelumnya. Semua orang dibuat heran, tak percaya. Akan tetapi, sebanyak apapun mata mereka melihat, fakta itu tidak berubah, tidak bisa disangkal. Ini adalah catatan penting mengenai fenomena yang sempat menggemparkan satu sekolah itu.
Siapapun pasti mengenal Kang Hwansung, suksesor Changho Construction, yang juga anggota 7 Star Family Oh Taegyeong. Selain terkenal karena ketampanan, kekuasaan, dan kemampuannya, Kang Hwansung juga terkenal karena keliaran sifatnya. Sejak dulu dia suka bermain wanita. Tuan muda Changho Construction itu bisa memenuhi keinginannya di manapun itu, berkat kekuasaannya. Menghabiskan malam panas dengan satu atau lebih wanita sudah menjadi rutinitasnya. Bahkan warga sekolah sudah paham dengan langganan ruang kesehatan itu beserta aktivitas yang dilakukannya bersama beberapa siswi di dalam. Belum lagi dengan sifat tak pandang bulunya dalam menyiksa orang. Siapapun yang berani menghalanginya, Kang Hwansung tidak segan untuk menghilangkan nyawa mereka dengan kejam—meskipun sisi ini tidak diketahui publik. Singkatnya, Kang Hwansung adalah perwujudan nyata dari hewan liar tanpa tali kekang dalam tubuh manusia.
Dari sekian banyak fakta itu, ada lagi satu sisi Kang Hwansung yang tidak diketahui siapapun, kecuali adik kembarnya.
Kang Hwansung yang terlihat kuat itu memiliki kebiasaan yang sudah berjalan entah seberapa lama. Dini hari atau pagi hari, ketika pulang ke rumah setelah menyelesaikan agenda malamnya, dirinya tanpa ragu melangkah ke kamar tidur adik kembarnya, menelusup masuk ke balik selimut dan mencari kehangatan di dalam rengkuhan kembarannya. Kang Jongho, adik kembarnya, sekalipun sedang tertidur, secara otomatis memberikan ruang bagi kakaknya dan mengelus puncak kepala yang datang tanpa pernah diundang itu.
Awalnya Jongho terkejut ketika pertama kali Hwansung secara tiba-tiba masuk ke kamarnya. Saat itu pagi hari, jam menunjukkan pukul 6 pagi. Jongho yang masih terlelap terbangun oleh suara pintu kamar yang dibuka dan ditutup dengan kasar, serta keberadaan seseorang yang tiba-tiba naik ke ranjangnya dan memeluknya. Butuh beberapa waktu bagi Jongho untuk benar-benar mengenali sosok yang tertidur pulas seakan dia sudah tidur di ranjang itu sejak malam, terutama di saat kesadaran Jongho masih samar. Ditambah informasi yang diberikan otaknya dari wajah yang dilihat dengan perlakuan yang dirasa, secara logika, sangat kontras.
“Kakak?” Kernyitan muncul di wajah Jongho ketika akhirnya dia berhasil menerjemahkan situasi di depannya. Yang diajak bicara tentu saja tidak menjawab. Dia masih lelap mendekap Jongho entah bagaimana caranya.
Aneh. Siapapun di dunia ini yang mengenal kakaknya pasti akan berpikir demikian. Tak ada angin tak ada hujan, kakak kembar yang biasanya tidak pernah dia lihat batang hidungnya ketika pagi ini tiba-tiba berada dalam satu selimut dengannya, dan sedang memeluknya. Yang Jongho tahu, kakaknya akan lebih memilih mati daripada terlihat melakukan kedekatan layaknya saudara kandung dengannya. Berbagai macam kemungkinan muncul di kepala Jongho. Dia berusaha memilah mana yang sekiranya cocok dengan situasi tersebut, akan tetapi nihil. Dia hanya bisa menunggu penjelasan Hwansung nanti, ketika dia bangun.
Satu hal yang dia tahu. Ikatannya dengan saudara kembarnya itu membuat Jongho bisa mengerti sedikit apa yang sedang dirasakan Hwansung kala itu. Dia mengerti kalau Hwansung membutuhkan kehangatan yang menenangkan. Karena itu, tangannya tanpa sadar merengkuh balik kakaknya, mengelus puncak kepala yang sedang membenamkan wajah di dadanya.
Jongho tidak bisa tidur lagi, sehingga ketika Hwansung bangun dari tidurnya, Jongho masih terjaga. Hwansung tampak terkejut melihat wajah Jongho ada di depannya ketika dia bangun. Jongho sudah sedikit menebak reaksi ini. Hwansung mengangkat tubuhnya, matanya menyapu semua sudut untuk memberi informasi lebih pada otaknya yang sedang bekerja.
“Kakak baik-baik saja? Kenapa kakak tiba-tiba ke sini?” Jongho mencoba bertanya. Lawan bicaranya hanya menatapnya balik, kebingungan terpancar di manik matanya. Pandangannya segera beralih ke arah pintu, lalu secara tiba-tiba, dia bergerak ke arah tersebut.
Jongho meraih pergelangan tangan Hwansung sebelum kakaknya berhasil melangkah terlalu jauh. “Kakak tidak mau menjawab?”
Masih tidak ada jawaban, akhirnya Jongho melepaskan pegangannya. Tetapi Hwansung malah bergeming di tempatnya.
“… Apa kamu membenci itu?” Akhirnya kakak kembar itu mengeluarkan suara.
Hening sebentar, karena Jongho tidak menyangka akan mendengar kalimat itu.
“Tidak, aku tidak keberatan. Datanglah jika ingin.” Setelah diam sejenak, Hwansung meninggalkan ruangan.
Setelah itu terjadi beberapa lama, Jongho bertanya lagi pada kakaknya tentang kebiasaannya itu. Tidak seperti sebelumnya, kali ini dia mendapat jawaban. Dengan acuh-tak acuh, Hwansung menjawab,
“Aku tidak tahu. Rasanya masih ada yang kurang walaupun aku sudah menghabiskan malam dengan wanita-wanita itu. Tidak peduli seberapa banyak yang bermain denganku, rasanya mereka tidak bisa memenuhi rasa kurang ini”
Jongho mulai mengerti situasi kakaknya.
“Kakak pasti tahu kalau hubungan fisik sebatas pemuas nafsu itu bukan segalanya, ‘kan?” Jongho menanggapi. Kakaknya hanya diam, tidak berniat menjawab respon dari adiknya. “Bukannya kakak pernah punya pacar? Biasanya kebersamaan dengan orang yang kita cintai bisa memenuhi kebutuhan afeksi kita. Memangnya saat itu kakak juga merasa kekurangan?”
Setelah diam sejenak, Hwansung menjawab, “Entahlah,”
Jongho tidak terlalu menangkap maksudnya, apakah kakaknya memang tidak pernah mencintai orang lain atau dia tidak pernah mendapatkan itu dari orang yang pernah dicintainya. Yah, apapun itu tidak masalah, karena sekarang ada Jongho yang siap sedia untuk kakaknya. Sejujurnya Jongho tidak menyangka, kakak kembarnya bisa menunjukkan sisi tanpa pertahanan seperti itu. Sekeras apapun kelihatannya, ternyata Hwansung masih memiliki sisi manusiawi yang tadinya seperti sudah tercerabut dari dirinya. Jongho juga senang akan fakta hanya dirinya yang mengetahui bagian Hwansung yang seperti itu.
Semakin lama, kebiasaan itu makin menjadi. Kekosongan yang Hwansung rasakan merajai dirinya. Aktivitas seksual itu kini terasa seperti kegiatan rutin biasa, tidak memberikan efek apa-apa pada Hwansung. Ibarat dia berjalan ke ruang keluarga untuk menonton TV dan pergi lagi, goyangan dan desahan wanita-wanita itu terasa sangat hambar. Bahkan dia tidak pernah berburu seperti dulu, hanya memenuhi wanita-wanita yang menghubunginya lebih dulu. Hwansung jadi lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Belakangan, tidak hanya saat dini hari atau pagi hari saja Jongho diperlukan. Kapanpun itu, semau Hwansung, dia akan menghubungi Jongho untuk datang ke kamarnya.
Jongho juga sudah paham setiap Hwansung membutuhkannya. Biasanya, ruang obrolan mereka jarang sekali terisi. Apabila tidak ada hal penting, mereka tidak akan mengabari satu sama lain. Dulu ketika mereka masih SMP, Jongho pernah mengirimkan Hwansung pesan basa-basi biasa karena bosan. Akan tetapi kakaknya tidak memiliki pikiran untuk repot-repot membalas pesan tersebut. Hal itu membuat Jongho tidak pernah menyentuh ruang obrolan yang selalu dia sematkan di bagian teratas beranda aplikasi messenger-nya.
Akan tetapi, sekarang Hwansung sering mengisi ruang obrolan tersebut untuk memanggil Jongho. Di hari-hari biasa, Hwansung tidak pernah memanggil namanya, hanya sebatas “hey” atau langsung mengatakan keinginannya. Tetapi jika dia sedang tidak biasanya, dia akan memanggil Jongho dengan namanya. Jika sudah begitu, Jongho akan langsung bergegas ke kamar Hwansung, tanpa perlu repot-repot membuka atau membalas pesan itu terlebih dahulu.
Apakah Jongho terganggu dengan kegiatan barunya ini? Jawabannya adalah tidak. Kang Jongho, adik kembar dari suksesor Changho Construction, yang selalu menjadi cadangan apabila terjadi sesuatu pada kakak kembarnya, sudah sejak lama mengagumi kakaknya. Melihat kakaknya yang bisa melakukan apapun yang tidak bisa dilakukannya menjadikan Jongho sebagai makhluk inferior yang mendambakan superioritas. Sosok Hwansung yang dilihatnya sehari-hari menjadi entitas yang ingin Jongho gapai.
Lama kelamaan, rasa kagum itu berevolusi menjadi rasa suka. Di umur 14 tahun, Jongho menyadari perasaannya terhadap kakaknya. Akan tetapi dia hanya bisa merasakan perasaan itu diam-diam sambil memandangi kakaknya yang tidak pernah absen dengan perempuan lain. Memang itu resikonya jika dia membiarkan tunas yang dulu muncul, bukannya buru-buru memangkasnya. Setidaknya Jongho sudah terbiasa untuk jauh dari sesuatu yang dia inginkan. Setiap becermin, Jongho berharap bisa melihat sosok kakaknya dari dekat. Tetapi mereka tidak sama. Kakaknya memiliki aura yang berbeda dengan dirinya. Lalu lagi-lagi dia hanya bisa mencuri kebersamaan di sedikitnya waktu Hwansung di rumah, mengobrol ringan biasa.
Kini rasanya seperti mendapat durian runtuh. Waktu-waktu bersama yang Jongho dambakan muncul begitu saja di depan matanya. Di sore atau malam hari ketika Hwansung membutuhkan eksistensinya, mereka akan berbaring bersama, merengkuh satu sama lain untuk merasakan kehangatan masing-masing. Berkat ini, intensitas percakapan mereka bertambah. Hwansung jadi lebih mengerti tentang hari-hari Jongho yang sangat membosankan dan mereka jadi lebih sering bertukar pikiran. Jongho sudah tidak peduli tentang jantungnya yang berdetak lebih cepat setiap Hwansung bersandar di dadanya. Yang dia pikirkan adalah cara untuk merekam semua kebersamaan ini tanpa luput sedetikpun, barangkali anomali ini hanya berlangsung sebentar. Dia akan mengingat lembutnya rambut Hwansung yang agak kaku karena terlalu sering diberi gel itu setiap kali Jongho membelainya, juga setiap milidetik yang dia habiskan untuk mengecup wajah Hwansung ketika dia sudah tertidur karena buaian limpahan rasa nyaman, serta pemandangan Hwansung tak ingin jauh dari dirinya ketika lelap yang membuat Jongho merasa sebagai orang paling beruntung sedunia.
Malam itu, akhirnya Hwansung keluar rumah setelah beberapa hari hanya diam di kamarnya. Jongho sedikit sedih, tapi menghibur diri karena dia hanya perlu menunggu fajar tiba. Yang tidak Jongho tahu, saat itu Hwansung tidak keluar menuju hotel, melainkan menuju klub langganannya. Jangan tanya mengapa dia bisa menjadi pelanggan tetap di klub tersebut. Uang yang dia punya bisa menerobos apapun, seperti batas minimal usia untuk masuk klub malam. Dia duduk di tempat VIP dengan berteman sebotol Whisky. Dia sudah berpesan pada pegawai di sana agar melarang perempuan siapapun itu yang biasanya menghampirinya jika dia berada di sana. Hal ini membuat teguk demi teguk dari gelas yang menjadi satu-satunya penyapa bibir Hwansung malam itu tak terganggu.
Hwansung menghembuskan napas panjang. Bagaimana bisa hidupnya jadi seperti ini? Ini sangat berbeda dari dirinya yang dulu. Padahal dulu dia merasa bisa menggenggam segalanya. Sampai tiba-tiba, ketika dia merasa berada di puncak kesenangan, lubang kehampaan seakan menabrak jiwanya. Tak peduli sebanyak apapun Hwansung mengguyuri dirinya dengan kesenangan dan kenikmatan, lubang itu malah makin membesar, sampai ke titik alam bawah sadarnya mengambil alih dirinya untuk menemukan jalan keluar dari masalah ini. Dan Jongho lah yang dia percayakan sebagai penyembuh kehampaan hatinya.
Kini dia benar-benar terasing dari kebiasaannya dulu dan malah menjalani rutinitas pecundang—mengambil sebutan dari dirinya yang dulu. Bagaimanapun, sekeras apapun otaknya menolak kebiasaannya kini, dia sangat menikmati apa yang dilakukannya. Dia jadi banyak melihat perspektif baru dari Jongho yang biasanya tidak pernah dia perhatikan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia bisa mengendurkan seluruh otot di tubuhnya karena jauh dari hal-hal luar yang berbahaya. Dia bisa merasakan sisi-sisi lembut kehidupan mendekat ke arahnya dan merengkuhnya. Bahkan ayahnya yang tidak pernah peduli dengan kedua putranya pun kadang-kadang ikut bergabung di ruang keluarga jika melihat Hwansung dan Jongho sedang bersama. Belum lagi ditambah dengan kehangatan yang dia rasakan setiap malam bersama Jongho, jauh berbeda dengan malam-malam panas yang biasa dia lalui dengan banyak wanita, sangat menenangkan. Semuanya mengalir membanjiri kehampaan dalam jiwa Hwansung.
Helaan napas panjang kembali terdengar di ruang VIP yang hanya berisikan satu orang itu. Hwansung sudah tidak bisa membedakan lagi, mana yang sedang membuat pikirannya ruwet dan butuh diuraikan, dan mana yang bisa menjadi penyelesaian. Whisky yang menemaninya malam itu sudah semakin surut, membuat yang meminumnya semakin jauh dari bumi. Dia mulai merutuki hal-hal yang tak jelas. Mengapa akal sehatnya begitu keras menolak untuk menerima kebiasaan baru Hwansung? Mengapa dia tidak bisa dengan mudah menurunkan pertahanannya terhadap hal-hal yang sebelumnya dia sebut pecundang itu? Mengapa dirinya tidak mau menyerah saja pada semua yang—effortlessly—membuatnya nyaman?
Sampai Whisky di botolnya habis, kesadarannya semakin tipis. Hwansung segera beranjak dari tempatnya, berjalan tidak stabil sampai bodyguard-nya membantu membawanya ke mobil yang langsung melaju pulang, seperti perintah sang tuan muda.
Malam itu pukul sebelas. Di saat klub baru mulai dipadati pengunjung, kesadaran tuan muda Changho Construction itu sudah terenggut sepenuhnya oleh alkohol. Sepertinya Hwansung sudah memutuskan untuk menyerahkan semuanya pada dirinya, tanpa ada siapapun menghalangi, sekalipun itu dirinya sendiri.
Ternyata ini lebih berat dari yang Jongho kira. Setelah melewati banyak malam berdua dengan kakaknya, kesendiriannya kali ini terasa menyiksa. Rupanya dia sudah tak tahu diri menganggap masa indah itu menjadi bagian dari kesehariannya. Kini kenyataan menamparnya. Kakaknya itu memang bukan miliknya. Dia akan kembali ke rengkuhan wanita-wanita itu jika waktunya tiba.
Banyak kegiatan sudah Jongho lakukan untuk mendistraksi pikirannya. Tetapi semua itu tidak berdampak apa-apa. Lalu pandangannya jatuh pada tempat penyimpanan benda-benda rahasianya. Dia tampak berpikir sejenak, lalu beranjak untuk mengambil benda dari dalam situ.
Jongho memandangi kotak penuh mainan dewasa di depannya. Sudah lama sejak terakhir dia menggunakan benda-benda ini. Mungkin inilah saatnya bagi mereka untuk menghibur pemiliknya lagi.
Dengan sempoyongan, Hwansung menaiki tangga rumahnya. Kakinya melangkah ke arah yang ditunjukkan alam bawah sadarnya, kamar Jongho. Hwansung membuka pintu kamar Jongho, yang kemudian menyuguhkan pemandangan yang tak pernah Hwansung lihat seumur hidupnya. Kang Jongho, adik kembarnya, tengah terkulai di ranjang dengan dildo yang menancap di lubang anusnya sembari memeluk pigura foto mereka berdua.
Jongho terperanjat karena kedatangan kakaknya yang tiba-tiba. Sebelum Jongho sempat mengeluarkan suara untuk menjelaskan keadaannya, Hwansung sudah mengunci pintu kamar dan merangsek ke ranjang Jongho, melepas celananya.
Berkat Jongho, diri Hwansung sadar kalau selama Hwansung menjalani kebiasaan barunya, hasrat seksual yang biasanya rutin dilepaskan menjadi tertahan. Kini hasrat itu meluap karena pemandangan erotis yang tidak pernah Hwansung bayangkan bisa merangsang dirinya. Hwansung yang biasanya memang selalu dirajai oleh nafsu itu tidak bisa berpikir secara rasional, ditambah dengan alkohol yang sedang menguasainya. Malam itu, tepat setelah dirinya menyerah untuk berpikir sesuai dirinya untuk melanjutkan hidup, Kang Hwansung—tidak dalam kesadaran yang bagus—memutuskan untuk menggauli adik kembarnya.
Hwansung melepas dildo yang menghalangi lubang kenikmatan adiknya. Satu tangan memegang paha Jongho untuk menjaganya tetap terbuka dan satu tangan memegang batang kemaluannya, menstimulasi agar miliknya cukup keras untuk menerobos lubang yang sepertinya baru pernah dijebol oleh mainan itu.
Di sisi lain, Jongho memerah malu, tidak percaya dengan yang matanya lihat. Sebelah tangannya menutupi wajah, yang langsung berpindah ke mulutnya untuk menutupi suara-suara yang keluar ketika satu sentakan keras yang datang karena sesuatu yang keras masuk ke lubang anusnya. Air mata merembes keluar karena rasa bahagia yang membuncah sebab adegan yang selama ini hanya bertengger di khayalan terliar Jongho menjadi kenyataan. Kejantanan Hwansung yang sangat besar—melebihi dildo dan mainan lain yang biasa Jongho pakai—juga tidak membantu. Sengatan rasa sakit di bawah sana disusul dengan badai kenikmatan setelahnya membuat air mata Jongho semakin deras.
Hwansung, yang ternyata tidak sepenuhnya tak sadar akan perbuatannya, menghentikan aksinya. Wajahnya berubah khawatir.
“Hey, kenapa? Apa aku terlalu kasar?” tanya Hwansung sambil mengusap air mata Jongho. Yang ditanya menggeleng dan malah mengeluarkan air mata lebih banyak. Hwansung semakin panik. “Hey, tunggu— ada apa? Kalau sakit bilang saja. Aku akan pelan-pelan”
“Tidak, jangan berhenti. Aku hanya terlalu senang. Tidak ada masalah”
Hwansung mengerjap beberapa kali karena jawaban itu. Dia mendekatkan wajahnya dan mengecup kedua kelopak mata Jongho, kemudian melanjutkan kegiatannya.
Jongho tidak menyangka Hwansung akan berubah sedrastis ini. Perlakuannya barusan sangat lembut, membuat air mata Jongho tidak bisa berhenti keluar. Apa mungkin itu karena dia sudah terbiasa bermanis-manis dengan para wanita? Jongho menggelengkan kepalanya. Lebih baik dia tidak memikirkan hal-hal seperti itu. Dia harus fokus menikmati hentakan-hentakan yang mengguncang tubuhnya dengan penuh nafsu ini.
Tak lama, Hwansung sudah terbiasa dengan tubuh laki-laki yang berbeda dengan partner senggamanya dulu. Dia mengerti ada sebuah titik spesial di sana yang membuat Jongho menggeliat lebih kuat. Hwansung memfokuskan gempurannya pada titik itu, menikmati pemandangan Jongho yang menjadi lebih berisik dan beberapa kali meneriakkan namanya.
“Lepaskan saja. Jangan ditahan. Tidak akan ada yang dengar” Hwansung menarik tangan yang menutupi mulut Jongho dan menggenggamnya di samping tubuh Jongho. Hwansung mendekatkan wajahnya untuk membisikkan sesuatu. “Terus sebut namaku. Teriakkan siapa yang membuatmu keenakan seperti ini”
Suara berat Hwansung yang berada dekat di telinganya membuat Jongho menggila. Genggaman tangannya makin erat, desahan di mulutnya makin keras. Ditambah dengan tumbukan terus menerus terhadap prostatnya, Jongho melentingkan tubuhnya, mengumandangkan nama Hwansung bersamaan dengan pelepasan keduanya malam itu.
Napasnya tersengal-sengal. Jongho sangat yakin, pelepasannya yang barusan adalah yang terbaik selama ini. Gerakan Hwansung terhenti sejenak, membiarkan adiknya menikmati orgasme barusan. Si maniak seks ini, dengan sangat tidak disangka-sangka, bermain sangat lembut. Hal ini membuat Jongho tidak bisa mengendalikan dirinya, menarik leher Hwansung agar mendekat ke arahnya dan melumat bibir yang tadi berbisik dengan seksinya. Bibir yang sudah menjamah banyak bagian tubuh dari banyak wanita, kali ini akan Jongho bersihkan.
“Kakak itu milikku. Hanya milikku” ucap Jongho di sela-sela ciumannya. Hwansung yang tadinya terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu mulai membalas. Tak butuh waktu lama hingga lumatan yang tadinya penuh kasih sayang berubah menjadi ciuman panas menggelora. Decapan-decapan mulai terdengar dan lidah-lidah beradu diselingi dengan pertukaran air liur antara dua kakak beradik itu.
“Ciumanmu benar-benar buruk” ujar Hwansung sambil menyeringai.
“Oh ya? Mungkin karena itu adalah ciuman pertamaku” Jongho menjawab sambil terkekeh yang langsung disambut dengan pagutan lain dari Hwansung. Malam panas ini belum selesai.
“Never thought in my life that I am actually into guy” kata Hwansung ketika mengusap kepala Jongho yang merangsek ke ceruk leher Hwansung. Posisi ini sedikit berbeda dengan posisi yang biasanya. Kali ini Hwansung yang merengkuh Jongho, sebagian besar karena adiknya itu tidak bisa berhenti menangis bahagia pasca sesi bercinta pertama mereka.
“Have you found what you’ve been missing all this time?” tanya Jongho dengan mulut masih menempel di tulang selangka Hwansung—sejak tadi dia tak berhenti mencuri kecup di bagian tubuh yang paling dekat dengan mulutnya itu.
“Most likely”
Pikiran Hwansung kembali mengembara. Ternyata, di pilihan yang ini, Hwansung bisa mendapatkan semua yang dia inginkan. Walaupun dia akan menjadi agak jarang bersosialisasi dan salah satu metodenya untuk mencari koneksi jadi berkurang, akan tetapi itu bisa dipikirkan nanti. Kali ini dia akan menyerah pada insting alami tubuhnya. Seberapa lamanya, Hwansung serahkan pada waktu yang menentukan.
Kemudian, Hwansung terpikirkan kalimat yang tadi dia ucapkan. Apakah dia benar-benar menyukai laki-laki? Apakah nantinya jika Jongho sudah tidak menemaninya lagi, dia bisa bersama dengan laki-laki lain? Bayangan itu membuat Hwansung merinding.
Lalu dia memandangi puncak kepala seseorang yang sedang memeluknya erat itu. Ingatan tentang kehangatan dan rasa nyaman yang akhir-akhir ini dia rasakan berkelebat. Muncul kesadaran akan rasa yang selama ini selalu ada tetapi tidak pernah tersorot oleh perhatiannya, rasa sayang yang amat besar pada sosok yang sudah bersamanya sejak mereka berdua masih dalam kandungan. Mungkin ini semua karena Jongho. Mungkin saja semuanya tidak akan jadi seindah ini jika itu bukan Jongho. Hwansung mempererat rengkuhannya.
“You know, maybe it’s not that I am into guy. If you were a girl, I will also love you the way I do now. All of this won’t work if it’s not you. It is that I am into you.” Hwansung berbisik syahdu. Kemudian dia memberikan kecupan dalam pada puncak kepala Jongho. Malam ini mereka berdua akan bermimpi indah, paling indah yang pernah mereka dapatkan.
Konon, setelah hari itu, Kang Hwansung sudah tidak pernah terlihat mengunjungi ruang kesehatan lagi. Para siswi yang biasanya menemaninya dibuat bingung karena tidak pernah mendapat ajakan apapun dari sang tuan muda. Bahkan siswi yang tempat duduknya berada di depan Kang Hwansung merasa heran karena sexual harassment yang biasanya dia dapatkan setiap hari dari penghuni bangku di belakangnya kini sudah tak ada.
Semua tanda tanya berputar pada satu oknum bernama Kang Hwansung. Sedangkan yang menjadi pusatnya tidak pernah berkata apa-apa. Ambisinya yang selalu menggagahi siapapun yang berada di sekitarnya pun menjadi tak terlihat. Yang dibicarakan tiba-tiba menjadi diam, dan intensitasnya melihat layar ponsel dalam sehari meningkat drastis.
Siapakah selalu Hwansung hubungi lewat ponselnya? Apakah dia memang sudah lelah bermain-main? Apakah dia akhirnya menemukan cinta hidupnya? Atau mungkin dia kerasukan sesuatu?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu tidak ada yang tahu. Bahkan orang urusan Oh Taegyeong yang dikirim khusus untuk mengetahui kebenaran di balik tingkah Kang Hwansung hanya bisa menemukan fakta bahwa Kang Hwansung menjadi lebih sering di rumah.
Begitulah catatan penting yang berisi rahasia besar kakak beradik kembar keluarga Kang yang tidak pernah terekspos pada publik. Jika anda membaca tulisan ini, anda menjadi salah satu dari segelintir orang yang dipercaya untuk menyimpan rahasia besar milik konglomerat generasi kedua di Seoul, Korea Selatan.

LycorisRadiata02 Tue 04 Jul 2023 12:18PM UTC
Comment Actions