Work Text:
-ONCE UPON A TIME-
Ruangan yang bahkan berkali lipat lebih luas dari rumahnya di desa tampak ramai dengan riuh yang dibuat oleh para penghuninya. Beberapa sibuk memasak, menata wadah untuk hidangan, mencuci peralatan dapur yang kotor, serta membawa nampan dengan isian makanan yang tidak pernah masuk ke dalam perut Taehyung selama tujuh tahun hidupnya. Katanya, itu hanya untuk orang-orang besar yang duduk di meja makan memanjang, memakai tenun mewah yang harganya di atas seluruh harta yang ia punya.
Terkadang, perutnya berteriak lapar hanya dengan melihat keributan yang tercipta, ia berdiri mengamati dengan godaan harum menyengat dari bahan masakan yang tengah dicampur rata oleh sebuah spatula berminyak. Tidakkah itu tampak begitu menggugah di matanya? Tentu saja. Namun, yang Taehyung mau hanya sebuah apel di atas nampan berwarna emas yang tertumpuk bersama buah-buahan lainnya, sangat merah seperti kelopak mawar yang tumbuh indah di taman kerajaan. Ia membayangkan betapa lezatnya itu jika jatuh di atas lidahnya. Bagaimanapun, Taehyung belum sarapan sejak pagi tadi, mengingat kalau ibunya juga turut ambil bagian sebagai pelayan.
Taehyung membiarkan kaki kecilnya membimbing jalan menuju benda yang memenuhi pikirannya. Ia berhenti di ujung meja untuk mengamati sekitar, sebagai antisipasi jika seseorang memergokinya mencuri. Ia tersenyum puas ketika tahu bahwa orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing di samping fakta bahwa tinggi Taehyung tak lebih dari sepinggang mereka, membuat eksistensinya di sana terabaikan. Kemudian, ia mengulurkan tangan kecilnya.
Tangannya mencapai apel dalam baki mahal, lantas segera menariknya dalam gerakan cepat, menyembunyikan buah itu di balik pakaian lusuh yang dipakainya. Matanya masih mencari siapa pun yang sekiranya berhasil memergoki tindakannya. Nyatanya, nihil. Dengan senyum merekah pria kecil itu berlari keluar dari dapur kerajaan dengan sebuah apel berkualitas tinggi, bersembunyi di balik bonsai berukuran dua kali lipat tubuhnya. Netranya berbinar laksana cahaya bintang yang seolah turut berpendar di dalamnya, mulutnya yang hampir berair terbuka lebar untuk mengambil satu gigitan. Bunyi renyah potongan apel mulai terdengar.
Apel itu lepas dari bibirnya, Taehyung membiarkan mulut gigi susunya mengunyah dalam damai. Sebelum sesuatu tiba-tiba terjadi.
Taehyung menaikkan arah pandangan matanya hanya untuk mendapati sosok bocah lelaki sebaya menatap dirinya dengan ekspresi yang tidak dapat Taehyung definisikan. Bocah itu memakai pakaian yang begitu cantik di mata Taehyung, terdapat ornamen-ornamen rumit khas kerajaan di beberapa sudut bajunya. Terlalu terpesona membuat Taehyung bahkan baru menyadari bahwa kegiatan mengunyahnya mendadak terhenti, mulutnya terbuka dengan lucu. Taehyung tenggelam dalam ingatannya untuk mencocokkan siapa kiranya bocah itu. Pada akhirnya Taehyung ingat apa yang ibunya katakan tentang anggota kerajaan, seketika netranya membola, ia menelan dengan gugup.
Taehyung berpikir mengapa orang sekelas bocah itu mau repot-repot mendatangi seorang anak pelayan bernama Kim Taehyung?
Dan itu membuat Taehyung sangat takut. Hanya ingin segera pergi dari hadapannya. Ketika itu belum benar-benar terjadi, Taehyung dibuat kebingungan saat sosok itu secara tiba-tiba menyelipkan bunga semerah darah beraroma harum di atas telinganya, "Ibu bilang, bunga yang indah cocok untuk orang yang cantik."
Taehyung menatap polos dengan alis terangkat dipenuhi kebingungan, jarinya menggenggam erat apelnya di depan dada.
"Mawar itu indah, dan sekarang menjadi semakin indah," bocah itu berujar kembali dengan senyum kecil, kali ini dengan memberikan sebuah apel berukuran besar kepada Taehyung. "Kau mau apel lagi?" imbuhnya.
"Um, terima kasih," Taehyung menanggapi dengan ragu, matanya menangkap siluet bocah berpipi gembul tak jauh dari tempat ia berdiri. Terhalangi oleh beberapa tanaman. Mengamati interaksi mereka.
Itu adalah awal ia mengenal Jeon Jeongguk, bocah yang digadang-gadang akan mewarisi seluruh harta serta takhta yang kini dipegang ayahnya. Ia tidak pernah mengira bahwa sepotong apel itu akan membawanya pada kisah yang lebih kompleks.
-1-
Kim Taehyung masih remaja ketika membawa dirinya beranjak keluar dari kamar pelayan yang disediakan khusus sebagai salah satu bagian dari istana. Ibunya berseru ketika mendapati anak semata wayangnya pergi dengan tergesa, ada nampan berisi sarapan sederhana yang masih belum tersentuh seujung jari pun oleh Taehyung, "Taehyung, kau mau ke mana?"
Teriakan nyaring itu membuat langkah Taehyung mati untuk beberapa sekon, hanya untuk mengeluarkan kalimat singkat yang ia rasa sanggup untuk membungkam pertanyaan yang hendak dilemparkan secara bertubi ke arahnya, "Ke taman, membantu Bibi Mikyung berkebun,” serunya.
"Tapi kau belum sarapan!" lagi-lagi ibunya berseru.
Taehyung sedikit abai, sudah berlari ke ujung lorong setelah berkata, "Tidak perlu, Bu. Aku tidak lapar!" Ia meninggalkan ibunya yang berakhir dengan menghela napas kesal akan tingkahnya.
Ketika sampai di taman kerajaan Taehyung lantas tersenyum cerah saat mata indahnya melihat wanita sebaya dengan ibunya itu tengah sibuk merawat beraneka jenis bunga yang tumbuh subur di sana. Kesukaannya adalah bunga mawar, ada alasan khusus mengapa ia begitu menyukainya. Tentunya karena itu berhubungan dengan seseorang yang amat spesial. Di sana bukan hanya ada Taehyung dan Bibi Mikyung, ada beberapa lainnya yang sibuk mengerjakan bagiannya masing-masing, "Bibi Mikyung!" Taehyung berseru.
Wanita itu menoleh, dahinya bercucuran peluh dengan tangan yang bernoda tanah. Mengukir senyum saat Taehyung bergerak mendekat, "Aku kira kau tidak akan datang."
"Tentu saja aku datang," Taehyung mengambil posisi di samping Bibi Mikyung, “Aku sudah meminta izin pada kepala pelayan, dan untungnya penyihir itu memberi izin saat aku berkata bahwa Paman Lee sedang sakit.”
"Kau masih terlalu muda untuk menjadi bagian dari kami, Taehyungie," Bibi Mikyung berdiri kemudian melepas topi berkebun yang barusan ia pakai, menggunakannya sebagai kipas alternatif untuk menghilangkan panas tubuhnya.
Taehyung cemberut, tangannya bersedekap, "Huh, aku bahkan hampir berumur sembilan belas tahun!"
Suara kekehan nyaring terdengar oleh Taehyung, "Benarkah?" alisnya terangkat seolah sengaja memancing kekesalan Taehyung. "Ya ampun ternyata Taehyungie kecilku sudah besar ya," ia tertawa.
Bukan terik mentari membuat mata Taehyung menyipit. Ia hanya kesal selalu dianggap seperti anak kecil oleh satu-satunya sosok yang ia percaya selain ibunya. Namun, di sisi lain ia tahu bahwa itu adalah tanda kalau Bibi Mikyung menyayanginya. Kemudian, ia mulai membantu untuk merawat tanaman, mencabut rumput maupun menyiapkan pupuk tambahan. Semua ia lakukan dengan penuh semangat.
Pada saat yang bersamaan, Jeon Jeongguk memulai harinya dengan mendengarkan ceramah yang berulang kali gurunya sampaikan. Sebagian besar mengenai sejarah kerajaan serta bagaimana cara untuk bertingkah laku seperti bangsawan yang pada dasarnya sudah ia hafal di luar kepala, itu juga karena ia sudah terlalu sering mendengarnya. Sebenarnya ia tidak sendiri di sana, ada Kim Seokjin yang duduk tenang penuh dengan konsentrasi, kakak omeganya memang selalu begitu.
Ia mengalihkan pandangan ke arah jendela besar yang menampilkan panorama lahan penuh tanaman indah. Bukan keindahan itu yang dirinya amati. Seseorang dengan rambut coklat lembut yang memiliki senyum paling manis lah yang Jeongguk beri atensi. Omega beraroma layaknya susu segar serta stroberi liar yang dulu sering kali ia jumpai di hutan. Tanpa sadar ia tersenyum ketika Omega di luar sana tampak panik saat melakukan kesalahan, dan kejanggalan yang terjadi padanya pun tak luput dari pandangan gurunya.
Pria Beta tua yang sedari tadi sibuk mengoceh mendadak berhenti, malah memanggil namanya dengan nada yang cukup mengintimidasi, terdengar tidak suka saat salah satu muridnya mengabaikan penjelasan yang repot-repot ia berikan, "Pangeran Mahkota Jeon Jeongguk, bisakah Anda jelaskan kembali apa yang baru saja saya sampaikan tadi?"
Sialan, Jeongguk mati kutu. Matanya berpendar menatap Seokjin di sampingnya yang terkekeh kecil, tidak mau repot-repot menatapnya balik. Seolah menikmati masalah yang mengepung adiknya. "Jadi, bagaimana?" gurunya kembali berujar, dua kata yang membuat Jeongguk mengumpat kesal. Pasti pria itu akan mengadukan kecerobohannya kepada ayahnya, dasar pengadu, batin Jeongguk.
"Mungkin Jeongguk lebih suka belajar berkebun," Seokjin akhirnya bersuara. Kalimat singkat yang mampu membuat dahi Jeongguk berkedut kesal. Inilah alasan mengapa ia benci sesi belajar bersama Guru Park, dan juga kakak Omeganya.
Ketika malam tiba, Jeongguk keluar dari area kerajaan dengan sebuah jubah hitam, sedikit merepotkan karena ia benar-benar perlu waspada dengan keadaan sekitar.
Apa yang membuat Jeongguk mau repot-repot keluar dari kamar hangatnya di malam hari jika bukan untuk menemui Omega manis yang telah lama ini memiliki hampir seluruh hatinya. Sosok dengan pipi bulat yang akan merona apabila Jeongguk lontarkan beberapa kalimat rayuan ringan. Pria Omega baik hati yang selalu mampu memikirkan orang lain jauh di atas kepentingannya sendiri. Yang kini siluetnya dapat ia lihat tengah berdiri di tepian sebuah sungai tenang dengan sorot lentera jingga di samping tempat Omega beraroma lembut itu berdiri. Terdengar kekehan lucu bersama aliran air yang mengiringi.
Jeongguk berjalan dengan langkah kecil. Senyum terukir secara sadar di wajahnya. Ketika jaraknya tidak lebih dari setengah meter ia menyempatkan diri untuk berhenti sejenak seolah tengah memikirkan sesuatu yang mungkin hendak ia lakukan pada detik itu. Jeongguk kembali mengambil langkah bayi, ia rentangkan di belakang tubuh si Omega untuk memberi sebuah pelukan hangat. Sepasang tangannya berototnya bertaut di depan perut rata Kim Taehyung, ingin merasakan kehangatan yang muncul. Pada awalnya ia tahu kalau Omega tersebut sempat terlonjak kaget.
"Pangeran?!" Taehyung memekik kecil, menekan kepalanya ke belakang beberapa derajat, hanya untuk membuat kulit wajahnya saling bersentuhan. Karena bagaimanapun wajah Jeongguk ada tepat di perpotongan lehernya, menghirup aroma manis yang keluar dari kelenjar feromonnya, "Pangeran membuatku terkejut."
"Benarkah?" Jeongguk terkekeh kecil, mengeratkan pelukannya, hal yang membuat tubuh mereka semakin menempel satu sama lain. Bahkan dari keremangan lentera, ia dapat melihat rona merah yang mulai muncul di pipi Omega kesukaannya, "Aku suka sekali dengan aromamu, itu membuatku merasa tenang. Membuatku, merasa seperti di rumah," hidungnya kembali mengendus di perpotongan leher Taehyung. Sedangkan Omega itu hanya terkikik geli.
"Pangeran sudah mengatakan itu berkali-kali," Taehyung tersenyum kecil sebelum memejamkan matanya untuk sekejap, "dan sekarang kakiku mulai sakit karena terlalu lama berdiri. Tidakkah Pangeran Mahkota Jeon Jeongguk yang tampan ini mau mengajakku untuk duduk sejenak?" Kepalanya kembali menoleh ke samping, menatap hidung Jeongguk yang menjulang dengan titik hitam kecil di pertengahan batang hidungnya. Sangat lucu.
"Apa pun untuk Omegaku," Jeongguk masih belum berniat melepaskan pelukannya.
Taehyung memekik, "Ya ampun, hentikan itu!"
Tidak ada sesuatu yang spesial. Mereka hanya menghabiskan sisa malamnya dengan obrolan hangat disertai candaan ringan. Sesekali saling mencipratkan air sungai main-main, kemudian tertawa bersama seperti sepasang burung kecil di atas dahan pohon. Mereka menyukai kesederhanaan, sesuatu yang tulus, tanpa kepalsuan.
Fated Mate, sesuatu yang tidak banyak orang percaya. Hanya dianggap sebagai legenda yang mustahil untuk terjadi, hanya muncul dalam dongeng orang-orang zaman dulu yang kini dilisankan secara turun temurun. Sangat klasik tetapi bagi Taehyung terdengar seperti kosa kata ajaib. Ia percaya itu, walau ibunya bersikeras mengatakan bahwa semua yang ia dengar hanya sebuah omong kosong belaka, dan pemikirannya itu bukan tanpa alasan. Sedikit yang Taehyung tahu bahwa kemungkinan ibunya pernah berhubungan langsung dengan itu. Yang terkadang membuat Taehyung bertanya-tanya tentang siapakah ayahnya, di mana beliau saat ini, dan seperti apa wajahnya.
Semua itu, hanya segelintir pertanyaan yang selalu muncul dalam kepala cantiknya. Di samping itu, ia bertanya-tanya tentang hubungannya dengan Jeon Jeongguk; orang yang dalam tanda kutip tidak sebanding dengannya, perbedaan kasta yang mereka bawa menunjukkan semua itu. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa jika calon raja menikahi seseorang yang bukan berasal dari garis bangsawan, sesuatu yang buruk akan terjadi. Apa Mungkin?
"Hei, kenapa bayi beruangku melamun?" Jeongguk berujar, menyadarkan Taehyung dari buncahan pikiran yang memenuhi otaknya.
Taehyung menatap mata bulat Jeongguk hanya untuk kembali menunduk sebelum ia mengucapkan pertanyaan kecilnya, "Pangeran, kau tidak akan meninggalkanku, bukan?" kepalanya kembali tegak, menatap lurus pada netra segelap malam yang dimiliki oleh pria Alpha di hadapannya. Ada binar kesedihan, Jeongguk mengerti itu.
"Kau ini bicara apa?" nadanya berubah sedikit tinggi, membuat Taehyung terlonjak. Jeongguk agak menyesali itu tetapi ia tetap melanjutkan kalimatnya sembari menatap Taehyung tepat di mata coklatnya, "Tentu saja aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Dewi Bulan sudah menakdirkan kita untuk bertemu, itu artinya kita ada untuk satu sama lain. Bahkan jika aku harus menjadi seorang pengkhianat demi bisa bersamamu, akan aku lakukan itu," Jeongguk menggenggam tangannya.
Kalimat itu, mungkin jika orang lain yang mengatakannya akan terdengar seperti omong kosong di telinga Taehyung. Tapi, ini Jeon Jeongguk, orang yang dikenal tidak akan pernah mengkhianati ucapannya. Alpha sejati yang diidam-idamkan setiap Omega. Taehyung tersenyum kecil, matanya membentuk garis lengkung dengan bulir air di ujungnya, ia mungkin sedikit dramatis.
Namun, kehangatan itu harus terusik oleh gemerisik dedaunan yang saling bergesekan beserta langkah kaki yang agaknya mengarah ke tempat mereka. Kepanikan melanda, Jeongguk tidak bisa memikirkan apapun lagi selain mematikan lentera kemudian bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang dikelilingi semak belukar dengan tinggi hampir sepinggang bersama Taehyung. Tidak berniat menceburkan diri ke sungai karena tahu akan lebih menimbulkan suara serta mereka mungkin tidak bisa menahan suhu dingin yang akan merayapi tubuh. Matanya memindai dalam gelap, hendak mencari tahu siapa gerangan yang berani mengacaukan malam romantis yang selalu ia nanti.
Dari tempatnya bersembunyi, Jeongguk dan Taehyung dapat melihat pria Beta dan Alpha yang mengenakan pakaian prajurit kerajaan, agaknya mereka tengah mencari Jeongguk. Dua orang itu memulai percakapan kecil, si Beta terdengar kesal, "Aku bersumpah melihat Pangeran Jeongguk berjalan ke arah sungai!"
"Mungkin kau salah lihat,” si prajurit Alpha menanggapi.
"Aku tidak mungkin salah lihat!" pria Beta itu kukuh dalam argumennya, tetapi agaknya tidak cukup untuk membuat teman Alphanya tinggal untuk sejenak.
"Sudahlah, ayo kembali ke istana saja," tidak lama setelahnya, terdengar langkah kaki menjauhi sungai. Dan saat itulah mereka dapat menghela napas lega, keluar dari semak dengan tubuh kotor dan gatal, terutama Taehyung yang juga kedinginan (mungkin) karena terlalu lama berada di luar. Dan itu benar-benar membuat Jeongguk merasa bersalah. Hingga sesampainya di istana, Jeongguk diam-diam memberikan selimut kepada Taehyung bersama dengan satu gelas teh untuk menghangatkan tubuh.
Keesokan harinya di akhir jamuan pagi keluarga kerajaan, raja di ujung meja makan memberikan Jeongguk sebuah pertanyaan kecil. Seolah hendak menginterogasi putra Alphanya yang akhir-akhir ini hobi sekali menyelinap keluar dari area istana terutama pada malam hari. Jeongguk sudah tahu, pasti akan berakhir seperti ini, "Aku hanya bosan terus-terusan di istana, lagipula aku seorang pria Alpha. Aku bisa menjaga diriku sendiri, Ayah tidak perlu khawatir," ia membela diri, menampilkan wajah bosan dan juga kesal karena pertanyaan ayahnya yang cenderung terdengar terlalu kekanakan baginya.
Raja menatap Jeongguk dengan ekspresi datar, alis tebalnya membuat beliau tampak begitu berwibawa, "Kerajaan seberang, mereka bisa saja mengirim mata-mata untuk mencelakaimu mengingat bahwa kau adalah satu-satunya calon penerus kekuasaan yang Ayah pegang saat ini. Kau harus memikirkan itu juga, Jeon Jeongguk!"
"Itu sama saja dengan Ayah meremehkan kemampuanku!" Jeongguk meninggikan suaranya, mengabaikan eksistensi orang lain di sana. Ibunya menampilkan raut terkejut yang tidak begitu kentara, begitu juga dengan Seokjin maupun adik perempuannya, Jeon Yeseo. Wajah ayahnya mengeras, sebelum pria itu mampu berkata lebih jauh, Jeongguk bangkit dari kursinya, "Aku selesai." Kemudian ia pergi.
-2-
"Kim Taehyung," Taehyung tengah membersihkan debu yang menempel pada patung-patung bercat putih dengan kemocengnya saat sebuah suara yang ia kenal dengan baik menginterupsi, hingga pada akhirnya ia memilih untuk berhenti dalam melakukan pekerjaannya itu. Ia mendapati sosok pria Alpha yang beberapa senti lebih pendek darinya berdiri dengan pakaian yang hampir mirip seperti milik Jeongguk, hanya saja lebih sederhana walau tidak meninggalkan kharisma yang dibawanya.
Taehyung menoleh ke sekitar, takut bahwa pelayan lain memberikan atensi padanya. Nyatanya, tidak, kecuali sosok pria Omega berambut hitam kecoklatan yang mungkin akan menguping, bocah itu memang selalu ingin tahu semua urusannya. Taehyung memberi senyum kecil pada Alpha yang memanggil namanya, “Anda butuh sesuatu, Tuan Jimin?” ujarnya masih dengan memegang gagang kayu kemoceng.
Pria Alpha itu tidak menjawab pertanyaannya, hanya mengulurkan sebuah surat yang dililit pita merah serta sekuntum mawar di bagian atasnya. Taehyung mengerutkan dahinya, "Dia tidak bisa memberikannya secara langsung karena Yang Mulia Raja tengah memberinya tugas tambahan. Kuharap kau mengerti itu," Jimin kembali berujar seolah menjawab semua kebingungan Omega di hadapannya. Taehyung hanya mengangguk kecil.
Jimin pada dasarnya adalah satu-satunya orang yang mengetahui hubungannya dengan Pangeran Jeongguk secara resmi. Bukan dalam arti hanya menebak; namun, diberi tahu secara eksklusif. Yang juga merupakan sahabat Jeongguk sejak Alpha itu masih balita, sosok yang mengintip dari balik sebuah bonsai saat Jeongguk kecil memberinya bunga dan beberapa buah apel di pertemuan pertama mereka. Jimin akhir-akhir ini memang sedikit kaku.
"Baiklah, aku harus pergi," pria itu berujar sebelum benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Ah, iya," Taehyung mengangguk kecil. Ia masih mematung di lorong sembari menatap benda yang baru didapatkannya. Memikirkan apa yang mungkin Jeon Jeongguk goreskan di atas lembaran kertas itu, mungkin kalimat singkat yang mampu membuatnya mengulas senyum seperti orang tidak waras.
“Wah, sepertinya ada yang baru saja mendapatkan surat cinta,” Jung Hoseok bersiul menggoda saat berada tepat di sampingnya. Bocah sok tahu itu memang sedikit menyebalkan, “Aku tidak tahu kalau kau dan anak Panglima Park itu berkencan.”
“Apa-apaan?!” Taehyung memasang ekspresi kesal, “Kau jangan sok tahu dulu!” sambungnya. Dalam hatinya, Taehyung ingin berteriak bahwa itu adalah surat dari Jeon Jeongguk, ingin memberi tahu pada dunia mengenai hubungan spesialnya dengan pangeran muda itu. Hanya jika ia cukup berani menghadapi penilaian orang terhadapnya.
“Baiklah, Kim Taehyung yang pemarah,” Hoseok terkikik, segera melesat dari sisi Taehyung sebelum mendapat pukulan main-main dari kemoceng yang kawannya itu pegang.
Taehyung sudah mengenal Jeongguk cukup lama, sangat lama malahan. Masa-masa itu membuat ia memahami Jeongguk lebih baik dari orang asing manapun, secara harfiah. Mereka kebanyakan menilai Jeongguk sebagai sosok Alpha yang otoriter, terlalu dominan dengan wajah tampan yang dimilikinya. Tetapi, faktanya tidak begitu. Ada satu fase di mana Jeongguk mendadak menjadi seperti bayi kecil dalam buaian ibunya. Bukannya risi, Taehyung malah tidak bisa menahan rasa gemasnya pada sifat Jeongguk yang satu itu.
Suatu malam ketika Taehyung menghabiskan waktunya untuk membaca buku yang Yeojin pinjami. Tubuhnya sedikit pegal setelah seharian membersihkan seluruh penjuru kerajaan bersama teman satu profesinya, dan ia benar-benar butuh distraksi. Awalnya suasana begitu tenang, hampir tengah malam sehingga ia yakin bahwa semua orang sudah tertidur. Namun, sesuatu membuat jantungnya hampir lepas dari tempatnya saat jendela yang bersebelahan dengan meja yang ia tempati terbuka dengan derit mengerikan, memunculkan gambaran kepala manusia berambut hitam legam yang berusaha masuk dari keremangan.
“Pergi kau, dasar hantu mesum!” ia berteriak dan langsung melempar buku yang dibacanya ke arah makhluk itu kemudian bersiap untuk angkat kaki sebelum telinganya mendengar suara benda jatuh dan erangan kesakitan yang familiar, “Pangeran?” Taehyung dengan ragu melangkahkan kaki ke arah jendela.
Jeon Jeongguk, sosok yang jatuh terduduk di seberang jendela mengangkat wajahnya nelangsa, “Kenapa kau melempari aku?” kalimatnya dipenuhi kesedihan.
“Itu karena Pangeran membuatku terkejut. Lagi pula, kenapa Pangeran tiba-tiba muncul lewat jendela seperti hantu?” Taehyung berkata dengan penuh penyesalan, jarinya memilin ujung pakaian yang ia pakai. Ia bingung mau melakukan apa, masih berusaha menormalkan debaran jantungnya ketika mengingat kejadian yang sebelumnya terjadi.
“Sudahlah lupakan saja, sekarang biarkan aku masuk,” Jeongguk akhirnya menyerah untuk melanjutkan obrolan itu, memilih untuk berdiri melupakan rasa sakit di bokongnya dan kembali melangkah ke arah jendela yang membatasi mereka.
Taehyung tampak ragu, “Tapi, itu melanggar peraturan, bukan?”
“Tenanglah, tidak ada yang tahu.”
Hingga adegan selanjutnya diteruskan dengan Jeongguk yang sudah berada di dalam kamarnya, menempatkan kepalanya di pangkuan Taehyung yang masih berniat melanjutkan novel horor yang dirinya baca. Jeongguk memutar bola matanya kemudian berkata, “Membosankan, apa kita hanya akan diam seperti ini?” kalimatnya terdengar sedikit kesal. Taehyung mengalihkan pandangannya pada Jeongguk. Pria Alpha itu mungkin tidak tahu bagaimana dirinya mati-matian mengabaikan debaran jantung yang menggila saat Jeongguk berada begitu dekat di sampingnya.
“Memang Pangeran ingin kita melakukan apa?” Taehyung memiringkan kepalanya, benar-benar bingung.
Jeongguk memberi seringai aneh, menarik tengkuk Taehyung sehingga wajah mereka semakin mendekat. Ia dapat merasakan kepanikan yang hadir dalam diri Taehyung, “Kau benar-benar ingin tahu, hm?” Jeongguk membuat netranya tampak sayu selama ia menatap milik Taehyung yang berpendar gelisah walau tetap mengangguk, “Aku ingin kita melakukan—"
Jeongguk belum selesai dengan kalimatnya, ketika lagi-lagi wajahnya dihantam buku dengan begitu kejam oleh Kim Taehyung, “Ouch, hidungku!” Jeongguk bangkit dari posisi berbaringnya untuk memegangi hidungnya yang malang, “Kenapa kau suka sekali memukulku dengan buku?” rengek Jeongguk.
Taehyung menjawab dengan raut dipenuhi rasa bersalah, “Tadi, aku cuma panik,” Taehyung meletakkan buku yang sedang ia baca ke atas bantal, “Ya ampun, maafkan aku. Apa itu sangat sakit?” ia merangkak untuk meraih bahu Jeongguk yang membelakanginya.
“Jangan dekat-dekat, aku masih kesal!” Jeongguk mendengus, mulai berhenti mengusap hidungnya, beralih menyilangkan tangan dengan ekspresi (pura-pura) sangat kesakitan. Sejujurnya buku itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan semua latihan yang telah Jeongguk lalui.
“Aku benar-benar minta maaf. Tadi cuma refleks karena aku panik,” Taehyung berujar dengan nada memelas, “Maafkan aku ya?” matanya membesar dengan lucu seperti anak kucing. “Aku mohon,” sambungnya dengan nada yang lebih menyedihkan seolah hendak menangis.
Jeongguk merasakan konflik dalam batinnya kian bergejolak, antara tetap berpura-pura marah atau memaafkan Taehyung. Ketika ia mengalihkan pandang pada wajah Taehyung di sampingnya, ia benar-benar kalah telak. Jeongguk akhirnya menghela napas panjang, “Baiklah, aku memaafkanmu. Tapi, dengan syarat.”
Mata Taehyung kembali berbinar cerah, dengan mudahnya mengganti ekspresi, “Cepat katakan apa itu?” ujarnya dengan menggebu-gebu.
“Singkirkan dulu buku sialan itu dari hadapanku,” Jeongguk memerintahkan tanpa berniat menoleh ke arah Taehyung. Tanpa banyak protes Taehyung melakukan apa yang Alpha itu inginkan, meletakkan buku itu ke dalam nakas kemudian kembali duduk di atas ranjang seperti semula. Jeongguk kembali membaringkan kepalanya di pangkuan Taehyung, “Sekarang, bernyanyilah sambil mengusap kepalaku,” ia mengarahkan mata bulatnya ke atas, bibirnya mengerucut dengan ekspresi memohon.
Taehyung terkikik kecil, “Pangeran seperti anak kecil saja.” Ia mulai mengusap puncak kepala Jeongguk sembari bersenandung kecil, menikmati wajah damai Jeongguk dalam pangkuannya. Seperti yang ia bilang. Terkadang Jeongguk memang bertingkah seperti anak manja.
Setelah cukup lama bernyanyi dan mengobrol kecil, ia menyarankan Jeongguk untuk segera kembali ke kamarnya, dan pria Alpha itu kembali mengerucut walau tetap pergi dengan sedikit kecewa. Taehyung menyadarinya tetapi ia tidak bisa menyarankan hal lain lagi atau mereka akan dalam posisi yang sangat tidak aman.
Namun, kebersamaan mereka tidak berlangsung lama saat Raja Seongho memerintahkan Jeongguk untuk mengambil alih kepemimpinan di wilayah utara kerajaan untuk beberapa waktu.
Wilayah kekuasaan kerajaan mereka memang tersebar begitu luas, sehingga Raja Seongho membaginya dalam lima kepemimpinan yang ia limpahkan pada kerabat terdekat atau orang kepercayaannya, tentu saja semua itu selalu ada dalam pengawasannya. Semua itu semata-mata sebagai pelatihan sebelum ia benar-benar menjadi raja sekaligus agar putra Alphanya belajar lebih bertanggung jawab dan hal-hal lain yang tidak pernah dipedulikan oleh Jeongguk sendiri. Ia menjanjikan masa percobaan itu sekitar empat tahun, mungkin terlalu lama tetapi ia tidak peduli. Karena, Jeon Seongho agaknya masih ingin menikmati kursinya saat ini.
Pada malam sebelum kepergiannya, Jeongguk meminta agar Taehyung menemuinya di taman belakang untuk membicarakan hal itu. Mereka duduk di pinggiran bangku kayu merasakan embusan angin sekaligus mengobrol kecil dan berakhir dengan kesedihan. Taehyung menangis, wajahnya memerah. Jeongguk tak sanggup melihatnya, dengan itu ia membawa Taehyung lebih dekat ke dadanya sembari berikan kalimat penenang, “Aku akan mengirimimu surat selama berada di sana. Aku pasti akan kembali, karena kau adalah rumah bagiku.”
“Tapi, empat tahun, apa bisa?” ujar Taehyung di sela isaknya. Kepalan kecil tangannya berusaha menghapus jejak air mata di pipinya saat ia menatap kekasihnya, “Aku hanya takut Pangeran akan melupakanku.”
“Jangan berpikiran begitu, aku tidak akan mungkin melupakan Omega kesayanganku ini,” Jeongguk mengukir senyum kecil, mengusapkan sepasang ibu jarinya untuk menghapus air mata Taehyung, “Kim Taehyung tolong ingat, selama apa pun aku pergi dan sejauh apa pun aku berjalan, perasaanku terhadapmu tidak akan pernah berubah.”
Taehyung tak bisa menahan senyum di wajahnya, tidak bisa menahan semua perasaan yang membubung di hatinya. Ketakutan itu masih ada, tetapi ia berusaha yakin bahwa Jeongguk akan selalu kembali padanya.
“Sudah larut, kau harus kembali ke kamar,” kata Jeongguk sambil berusaha menghapus air mata yang masih keluar dari mata Taehyung. Namun, Taehyung dengan sigap menahan pergelangan tangannya membuat Jeongguk tersenyum kecil, mempersilakan Taehyung untuk menyuarakan kalimat yang mungkin tersangkut di tenggorokannya.
Nyatanya, Taehyung hanya diam sembari berusaha melepas gelang berwarna merah yang selalu dipakainya, benda pemberian mendiang ayahnya dulu yang katanya bisa menjauhkan Taehyung dari nasib buruk. Walau mungkin tidak lebih dari sebuah mitos. Sebagai gantinya, ia memasangkan gelang itu pada Jeongguk sebagai sebuah pengingat bahwa Taehyung akan selalu ada bersamanya sejauh apa pun jarak yang membentang di antara mereka, “Jaga dirimu dan kembalilah dengan selamat, Pangeran,” Taehyung mencicit, matanya ragu-ragu menatap ke arah Jeongguk.
Jeongguk terkekeh kecil, mengusap rambut tebal Taehyung dengan gemas, “Aku hanya pergi untuk belajar, bukannya berperang. Tetapi, aku tetap berjanji padamu bahwa aku akan kembali dengan selamat.”
Kemudian mereka berpisah, mengambil jalan berlawanan dengan membawa kepercayaan masing-masing. Di setiap langkah yang diambilnya, Taehyung meninggalkan jejak air mata saat menggenggam erat mawar tanpa duri yang Jeongguk beri.
Jeongguk tidak pernah mengingkari janji yang dibuatnya, Alpha itu sungguhan mengiriminya kabar lewat Park Jimin selama mereka berpisah. Ia bisa tersenyum bahagia hanya dengan sepucuk kertas bertinta goresan tangan Jeon Jeongguk. Kadang kala kawannya menggoda Taehyung ketika mendapati Omega itu memasang wajah konyol saat sibuk membaca surat-suratnya. “Sedang membaca surat dari kekasihmu ya?” Hoseok menggodanya sembari melirik ke arah Yeojin yang berdiri di sebelahnya. Sementara, Taehyung hanya tersipu, terkekeh kecil sebagai jawaban.
“Itu bukan urusanmu, Hoseok,” gadis Alpha bertubuh tinggi itu memutar matanya, kesal akan tingkah Hoseok di sana, “Lebih baik kau kembali bersih-bersih.”
“Yeojin, kau ini kaku sekali!” Hoseok mendengus kesal. Kembali memberikan atensinya pada Taehyung, “Omong-omong, siapa namanya?” nadanya terdengar begitu penasaran, “Apakah dia adalah anak Panglima Park seperti beberapa bulan lalu?”
“Ish, bukan,” Taehyung memutar bola matanya. Tetapi, ia segera mengganti ekspresinya agar semakin membuat Hoseok tersiksa, “Namanya,” Taehyung menjeda kalimatnya, ingin menikmati wajah penuh rasa ingin tahu yang Hoseok tampilkan. “Rahasia,” Taehyung segera menjulurkan lidahnya seolah mengejek sementara Hoseok mengerang kesal.
Sedangkan Yeojin di sana hanya mendengus kesal akan betapa berisiknya dua orang itu.
Bukan hanya Taehyung, Jeongguk di sana pun bisa merasakan apa yang Taehyung rasa. Saat ia membaca setiap kata yang ditulis dengan begitu indah oleh Taehyung di sela pekerjaan yang tengah ia lakukan akan membuat senyum terukir di wajahnya. Bukannya berlebihan, salahkan rasa rindu yang menggerogoti hampir setengah dari kewarasannya. Terkadang Min Yoongi, pria Beta dengan wajah mengantuk yang sebelumnya dipilih ayahnya untuk memegang wilayah yang kini ia ambil alih mencibir tentang betapa menggelikan tingkahnya, “Cinta sepertinya mampu membuat seseorang menjadi tidak waras, sangat mengerikan,” ia meletakkan sebuah buku laporan ke atas meja Jeongguk.
Jeongguk mengangkat sebelah alisnya, tidak terlalu peduli terhadap benda yang Yoongi ajukan padanya, ia malah terpaku pada pemikirannya tentang cinta, “Kau bisa bilang begitu karena kau belum pernah merasakannya. Kau akan mengerti cepat atau lambat.”
“Aku sama sekali tidak tertarik pada hal bodoh semacam itu,” pria Beta berkulit pucat itu kukuh dalam pendiriannya, “Omong-omong, aku menemukan beberapa masalah kecil, kau bisa membacanya sendiri dari buku laporan itu. Juga, kau harus lebih fokus pada pekerjaanmu, Jeon.”
“Baik, Kapten Yoongi!” Jeongguk berkelakar.
-3-
Seperti yang Seongho perkirakan, wilayah utara berkembang pesat dalam genggaman Jeongguk, bahkan jauh melebihi wilayah pusat yang ia emban tanggung jawabnya. Ia begitu puas dengan pencapaian putranya, sehingga ia memanggil Jeongguk kembali ke istana lebih cepat dari apa yang ditentukannya, hanya tiga tahun dan mungkin tak lama lagi ia akan memberikan takhtanya dengan sedikit syarat.
Saat itu musim semi, kuncup sakura bermekaran seolah menyambut kepulangannya dengan begitu antusias andai bisa digambarkan. Tetapi, Taehyung jauh lebih bersemangat, ia bangun pagi sekali sampai membuat ibunya geleng-geleng kepala akan tingkahnya. Maklum saja, setelah lama tak bersua akhirnya mereka bisa kembali bertemu seperti dahulu. Walau, mereka tidak bisa menebar kemesraan dengan mudah. Kasta yang berbeda membatasi semua hal yang ingin mereka lakukan dengan bebas.
Gerbang tinggi berukir ornamen indah terbuka lebar. Ada beberapa orang berbaju zirah yang memegang senjata, diikuti oleh sosok yang menjadi sorotan di tengah kerumunan. Jeon Jeongguk duduk di atas kudanya dengan begitu gagah, gelang merah yang dulu Taehyung lingkarkan masih ada dan tidak berubah sedikit pun, melilit pergelangan tangannya yang tampak kokoh sebagaimana mestinya. Taehyung bahkan tersipu saat lagi-lagi Jeongguk menjatuhkan tatapannya pada Taehyung.
Jeon Jeongguk tampak sedikit berbeda secara fisik, Alpha itu telah menumbuhkan otot hampir di setiap sisi tubuhnya, dadanya menjadi lebih bidang, serta rahangnya yang kian tajam. Pandangan mata rusa Jeongguk tampaknya tidak selugu dulu, walau ia masih bisa melihatnya. Namun, di samping semua itu, Jeongguk masihlah sosok yang dulu ia kenal begitu baik.
“Taehyung, sepertinya aku akan pingsan jika terus memandangi wajah Pangeran Jeongguk. Ya ampun, perutku terasa hangat!”
“Hoseok tutup mulutmu, kau membuatku malu!”
Bahkan, kebisingan yang Hoseok dan Yeojin buat tidak sampai ke telinganya saat semua atensi yang ia punya hanya tertuju pada Jeon Jeongguk seorang. Taehyung tahu, kehidupan mereka akan berjalan seperti dulu lagi tanpa jarak nyata yang memisahkan. Mereka kembali memulai acara menyelinap untuk menghabiskan waktu bersama.
Pesta penyambutan tidak dilaksanakan langsung saat Jeongguk datang, tetapi dijeda beberapa hari sekaligus digabungkan dengan hari pernikahan kakak Omeganya. Jeon Seokjin melepas masa lajang di usia yang ke dua puluh lima tahun kepada Kim Namjoon, seorang Alpha yang tak lama lagi akan diangkat menjadi raja di Kerajaan Neoryn, negeri yang dikenal karena kualitas pendidikannya. Mereka menikah karena persoalan lama yang sejujurnya sangat Jeongguk benci, dijodohkan demi memperkuat kedudukan kedua kerajaan. Ia hanya berharap bahwa dirinya tidak akan mengalami fase yang sama. Tapi, ia tidak pernah tahu rintangan apa yang menunggu di depan.
Jeon Jeongguk melihat dengan jelas bagaimana dua orang itu menaiki altar, mengikat janji suci pada pasangannya di depan semua orang yang menghadiri acara itu. Kemudian, setelah sesi bertukar cincin, mereka dipersilakan untuk mencium pasangannya. Sesuatu yang bahkan membuat Jeongguk ikut berdebar membayangkan bagaimana jika ia dan Taehyung yang ada dalam posisi itu. Ia yakin bahwa Omega kesayangannya akan memerah seperti tomat rebus dan berakhir memukul dada bidangnya main-main. Mereka akan jadi pasangan paling bahagia dalam sejarah.
Setelah semua sesi sakral itu, sampailah mereka pada pesta dansa di mana Namjoon dan Seokjin yang menjadi pasangan utama. Jeongguk tidak berniat turut serta di dalamnya, terlebih saat ia belum juga mendapati tanda-tanda kehadiran Taehyung, satu-satunya sosok yang akan ia pegang tangannya untuk menari bersama. Namun, ketika pada akhirnya ia melihat Taehyung, otaknya malah memintanya untuk membawa Omega itu pergi dari semua keramaian ini.
“Kakak mau ke mana?” Jeon Yeseo, adiknya yang berumur dua belas tahun berseru ketika melihat Jeongguk beranjak dari kursinya. Gadis kecil itu mungkin akan mengacaukan niatnya secara tidak langsung.
“Aku ingin keluar sebentar,” Jeongguk beralibi, “Jangan bilang pada ayah atau ibu, oke?”
Yeseo menyeringai, agaknya terlalu suka menggoda kakak Alphanya itu, “Tapi aku tidak bisa janji.”
Jeongguk mengerang kesal, tetapi tetap mempertahankan wibawanya, “Oke, oke, kau mau apa?” matanya memindai bagaimana adiknya terkikik. Ia tahu bahwa ini akan menjadi sebuah bencana untuknya.
Selanjutnya, yang terjadi adalah Yeseo membiarkan Jeongguk pergi dengan damai setelah mengungkapkan apa yang ia mau untuk tutup mulut dan melakukan sedikit hal kecil untuk membantunya. Pada akhirnya ia berhasil menarik Taehyung ke hadapannya untuk melakukan sebuah hal konyol yang bahkan tidak pernah Jeongguk sadari ada di pikirannya.
Taehyung sendiri tidak pernah berpikir bahwa dirinya akan merasakan duduk di atas seekor kuda pacu bersama pria Alpha paling dicari di seluruh negeri. Mengendap keluar seperti seorang tawanan yang melarikan diri dari penjara bawah tanah (mungkin bisa dibilang begitu). Jeongguk membawanya untuk mengambil posisi di depan, sedangkan sang pangeran berjaga di belakang tubuhnya sembari membimbing tangannya untuk menarik tali. Ia menyandarkan punggungnya ke dada Jeongguk, hingga dapat merasakan otot yang terbentuk seperti batuan masif yang tertata begitu indahnya, tersembunyi di balik helai kain yang membatasi kulit mereka berdua. Begitu tipis.
Beberapa menit lalu ia baru saja memainkan perannya sebagai pelayan tetapi dengan cepat berubah saat gadis kecil yang merupakan adik dari Jeon Jeongguk menarik tangannya, berkata bahwa ia membutuhkan bantuan yang nyatanya hanya sebuah alibi. Jeon Yeseo membawanya menuju sang pangeran yang sudah bersiap dengan kudanya.
Rasanya, masih seperti khayalan yang mati-matian ia anggap nyata ketika mulai mengedipkan matanya. Dan jika ini benar-benar mimpi, Taehyung tidak akan pernah minta untuk dibangunkan.
"Pegang talinya lebih kuat," Jeongguk hampir menempelkan bibirnya di telinga Taehyung, mengeluarkan bisikan yang mampu membuat tubuhnya bergidik karena sensasi menyenangkan yang muncul secara spontan.
Taehyung berusaha melakukannya dengan baik, sedikit menolehkan wajahnya ke arah kanan, "Seperti ini?" ujarnya ragu.
"Ya, lakukan seperti itu," lagi-lagi Jeongguk berbisik di telinganya.
Udara di luar begitu sejuk, jauh berbeda dengan suasana di istana yang cenderung hangat walau dengan sedikit kecanggungan yang selalu muncul dalam benaknya. Ia benar-benar melampaui batasnya sebagai seorang pelayan biasa, berani-beraninya meninggalkan tanggung jawab serta kewajibannya untuk melayani setiap tamu di pesta pernikahan kakak Jeongguk, seorang Omega laki-laki yang ramah dan murah senyum. Hatinya merasa berkhianat. Namun, ia seharusnya sadar diri, bahwasanya pengkhianatan yang ia lakukan bahkan lebih besar dari yang pernah ia kira. Ia nekat menjalin hubungan romantis dengan Jeon Jeongguk yang pada dasarnya tidak akan pernah setara dengannya.
Terkadang, ia juga berpikir bahwa cinta itu adalah suatu hal yang lucu. Orang lain bisa mendadak menjadi pakar ketika mendapati sesuatu yang tidak biasa dari hubungan seseorang. Taehyung tahu, ia sungguh mengerti. Kehidupan nyata tidak pernah seperti novel romansa yang ditulis dengan ribuan kosakata indah penuh makna. Mungkin bisa lebih baik, atau bahkan jauh lebih buruk dan Taehyung belum tahu ke mana Dewi Bulan akan membawa kisahnya.
Jeongguk konsisten menggenggam tangannya sembari menyeimbangkan tenaga untuk menarik tali yang sama-sama Taehyung pegang. Tidak terlihat kesulitan dengan beban yang ditimpakan tepat di hadapannya, ia masih bisa membimbing Golden; kuda dengan warna cokelat keemasan berasal dari jenis Clydesdale yang masuk ke dalam kategori kuda terbesar di dunia, hadiah kecil yang Jeongguk dapatkan dari sang raja di ulang tahunnya yang kelima belas tahun. Ia dapat mendengar bunyi interaksi antara ladam dengan permukaan jalan menuju hutan, retakan daun kering serta deru angin yang membelai wajahnya. Semua terdengar begitu alami.
Golden terus memacu kakinya menuju tempat yang akan Jeongguk tuju. Tempat yang dulu sempat Jeongguk kunjungi ketika pangeran tampan itu tidak ingin menghadiri latihan yang telah ayahandanya atur sedemikian rupa. Taehyung sungguh ingin melihat bagaimana tempat itu sebenarnya.
Tidak membutuhkan waktu lama hingga mereka sampai di sebuah tanah datar yang luas, dipenuhi rerumputan hijau yang tampak segar seperti tidak pernah terjamah oleh tangan manusia, masih begitu asri. Jeongguk tak lantas menghentikan kudanya begitu saja, ia kembali merecoki Taehyung dengan sebuah pertanyaan kecil, "Mau mencoba beberapa putaran?" matanya melirik dari arah belakang Taehyung.
"Tapi, aku tidak bisa berkuda," Taehyung mencicit, terdengar sedih dan Jeongguk tidak bisa menahan senyumnya untuk tingkah menggemaskan itu, ia bisa membayangkan wajah Taehyung dengan bibirnya yang mengerucut.
"Ada aku bersamamu, lakukan saja seperti tadi. Kau tahu, Golden adalah kuda yang baik," Jeongguk berujar.
Berikutnya, Taehyung menghela napas untuk kemudian mengangguk mantap. Berusaha mengulas senyum di bibirnya. Terkadang ia berpikir kalau dirinya terlalu merepotkan Jeongguk dengan tidak bisa berkuda seorang diri. Memang faktanya begitu, mereka ditakdirkan dengan dua kasta yang berbeda, terlihat begitu jelas. Taehyung berpikir, kenapa orang seperti Jeongguk mau dengan Omega sepertinya?
Apa kelebihan yang Taehyung miliki?
Ia tidak begitu pintar, tidak secantik putri atau pangeran Omega dari kerajaan besar, ia hanya anak seorang pelayan yang juga ditakdirkan untuk melayani. Namun, sekali lagi, kenapa Jeongguk memilihnya dari sekian banyak Omega di negeri ini?
Pikiran Taehyung buyar ketika Jeongguk mulai kembali membimbing dirinya, kali ini Jeongguk membiarkan cekalannnya sedikit lebih kendur, membiarkan Taehyung yang memimpin ke mana Golden akan berlari, ia hanya berjaga jika sewaktu-waktu Taehyung salah mengarahkan kudanya.
Di satu kondisi, Taehyung berteriak ketakutan saat ia menyadari bahwa Golden tidak sejinak kelihatannya, terlebih kepada orang asing sepertinya. Kuda itu kebanyakan enggan mengikuti kemauan Taehyung. Di sisi lain Taehyung berseru bahagia akhirnya ia bisa belajar berkuda bersama sosok yang amat dicintai sekaligus dikagumi olehnya, kemudian merasa bahwa hanya ada mereka berdua di dunia membosankan yang mereka tempati ini. Setidaknya, untuk sekarang ia bisa melupakan bagaimana hierarki sosial menggolongkan mereka.
Jeongguk turun lebih dulu dari atas kudanya untuk mengikatnya di sebuah pohon tua kala Taehyung masih setia pada posisinya selepas mereka menghabiskan beberapa putaran. Jeongguk berdiam untuk menatap Taehyung, "Ayo turun," sang pangeran berujar seraya membuat ekspresi mengejek dengan alisnya.
"Ini susah, terlalu tinggi," Taehyung berseru, menatap ngeri pada jarak yang tercipta antara kakinya dengan pijakan di tanah berumput. Mengalihkan pandangannya kembali pada Jeongguk hanya untuk dihadiahi kekehan jenaka dari Alpha kesayangannya.
Jeongguk mengarahkan tangannya membentuk posisi seolah hendak menangkap sesuatu, "Kalau begitu lompat saja, aku akan menangkapmu," ia memberi Taehyung senyum yakin yang sungguh menawan di matanya.
"Tidak," Taehyung dengan cepat menolak, masih setia berpegangan pada sisi leher kuda, "Itu bukan ide yang bagus. Pangeran tidak akan kuat menahan tubuhku!" nadanya terdengar lebih tinggi dan dipenuhi kekhawatiran. Ia berpikir bahwa Jeongguk mungkin tidak dapat menangkapnya, bagaimanapun walau Taehyung seorang Omega, ia mempunyai ukuran tubuh yang bisa dibilang di atas rata-rata. Beberapa senti di bawah Kim Seokjin, kakak Omega Jeongguk yang hari ini tengah melangsungkan pesta pernikahan. Yang bodohnya Jeongguk malah langsung melengos setelah mereka dinyatakan resmi menjadi pasangan oleh pendeta. Walau, tetap saja Jeongguk masih lebih kokoh darinya.
"Jangan remehkan otot-ototku ini, Tae," Jeongguk menanggapi. Menunjukkan bisepsnya yang tertutup pakaian resmi ke arah Taehyung dengan bangga, "Sekarang, berhenti bertindak seperti bocah cengeng dan lompatlah ke bawah."
Taehyung dengan ragu menarik satu kakinya, berpegangan erat pada tubuh kuda kesayangan Jeongguk untuk mempersiapkan dirinya masuk ke dalam uluran lengan Jeongguk, "Ayo cepatlah, kau ini seperti Yeseo saja." Jeongguk terkekeh kecil mengingat adiknya yang cenderung manja itu.
"Bersabarlah sedikit, kudamu ini tinggi sekali tahu. Aku kesusahan!" Taehyung berseru, "Juga, aku sama sekali belum pernah naik kuda."
Taehyung dan kuda bukan perpaduan yang pas, atau mungkin belum. Sebab, bocah itu memang tidak pernah berinteraksi dengan kuda mana pun. Jeongguk menghela napasnya, "Tinggimu hampir sama denganku. Dan aku melakukannya lebih baik darimu."
"Itu karena Pangeran sudah biasa berkuda!" Taehyung masih berniat membela diri.
Pada akhirnya ia bisa turun dari atas kuda milik Jeongguk dengan usaha yang tidak bisa dibilang mudah. Pangeran muda itu bahkan tidak pernah menghilangkan senyumnya ketika Taehyung turun dengan tergesa, terkesan mendadak dan membuat Jeongguk sulit menangkap. Hingga, pada akhirnya ia jatuh dalam dekapan Jeongguk, sedikit bisa merasakan detak jantungnya yang berubah tidak stabil, lebih cepat dari biasanya. Pria itu kemudian mencubit hidungnya dengan gemas.
Jeongguk menarik tangannya, menuju ke sebuah batu besar yang tertancap seperti tugu peninggalan kerajaan bertahun-tahun yang lalu. Bukannya mengerikan, batu berlumut itu dihiasi dengan sulur-sulur yang tampak seperti daun anggur tetapi ditumbuhi bunga yang mirip dengan melati. Itu terlihat sangat cantik, terlebih di sisi bawah batu dipagari sekumpulan tanaman hibiscus yang tampaknya baru saja kembang. Posisi batu itu membelakangi tebing dengan jarak beberapa langkah kaki yang menampilkan panorama sungai alami dipenuhi pepohonan lebat di bawahnya. Dan matanya tak bisa beralih dari ilalang yang bergoyang seolah menyambut kehadirannya. Jeongguk tersenyum.
"Tunggu di sini," Jeongguk meninggalkannya di depan batu indah itu dengan masih dalam kondisi kebingungan.
Mata Taehyung mengamati Jeongguk yang pergi ke sisi lain batu, tampak seperti sengaja bersembunyi dari dirinya. Ia menunggu beberapa saat dalam keheningan, setengah berlutut untuk memetik sebuah hibiscus berwarna semerah darah di tangannya. Bunga itu juga ada di taman kerajaan yang terkadang dirawat olehnya ketika Bibi Mikyung sedang berhalangan untuk melakukan tugasnya. Ia mulai tersenyum tanpa alasan ketika telinganya mendengar derap langkah seseorang yang sudah pasti adalah Jeongguk. Mereka adalah satu-satunya orang di bukit itu.
Ketika ia berbalik, ia tidak pernah menyangka bahwa sang pangeran akan memahkotai dirinya dengan rangkaian bunga yang begitu indah. Menarik tangannya untuk lebih dekat kepada Jeongguk, mereka berada di tengah tugu batu, dengan Jeongguk yang tak melepaskan sentuhannya pada Taehyung. Pria tampan itu tersenyum begitu indah, membuat darah mengalir ke wajah Taehyung, ia tak kuasa untuk memalingkan wajahnya ketika Jeongguk menatapnya dengan begitu intens.
Jeongguk mengambil salah satu tangannya, menyelipkan ilalang kering berbentuk cincin di jari manisnya. Sejenak terdiam untuk menatap wajah Taehyung yang memerah, “Kim Taehyung, kau telah membuatku menjadi Alpha paling bahagia di dunia; kau yang menunjukkanku apa itu cinta dan kau juga yang membuatku merasakan cinta. Dengan ini aku Jeon Jeongguk, mengambil engkau, Kim Taehyung, menjadi pasanganku untuk aku pertahankan mulai hari ini dan seterusnya, dalam suka, duka, kaya atau miskin, dan sakit atau sehat, untuk saling mencintai dan menyayangi sampai maut memisahkan kita, dan dengan itu aku berjanji kepadamu,” ia mengatakan semua itu dengan mata yang tak pernah lepas dari milik Taehyung. Jeon jeongguk bahkan tidak percaya bahwa ia sanggup mengatakan semua itu.
Di sisi lain, Taehyung benar-benar mematung, kalimat Jeongguk bahkan terdengar jauh lebih indah dari lantunan musik apa pun. Taehyung menarik napasnya, “Jeon Jeongguk, aku berterima kasih untuk momen-momen yang pernah kita lalui bersama, untuk semua cinta dan kebahagiaan yang telah kau bagi denganku. Dengan nama Dewi Bulan, aku, Kim Taehyung, mengambilmu, Jeon Jeongguk, untuk menjadi pasanganku untuk hari ini dan seterusnya. Aku berjanji bahwa aku akan selalu jujur dan setia terhadapmu, berbagi setiap tawa dan tangis. Aku berjanji untuk terus berada di sampingmu, menyayangi dan mencintaimu dalam berbagai keadaan sampai maut memisahkan kita,” matanya terpejam menahan sebelum kembali terbuka untuk menatap pahatan wajah Jeongguk
Mereka terdiam, membiarkan semilir angin menjadi satu-satunya melodi selain debaran jantung yang hadir di antara mereka. Memandangi wajah satu sama lain dalam keheningan seolah menjadi kegiatan yang jauh lebih menyenangkan dari apa pun. Beberapa saat setelahnya, wajah Jeongguk kian mendekat, menimbulkan prediksi-prediksi liar muncul dalam pemikiran Taehyung sehingga Omega itu segera menutup kelopak matanya, mempersilakan Jeongguk untuk melakukan apa yang ia mau. Namun, apa yang dipikirkannya tidak kunjung terjadi, yang ada malah suara tawa Jeongguk.
“Kau memikirkan apa, huh?” Jeongguk berujar di sela tawanya, membuat Taehyung langsung memerah menanggung rasa malunya.
“Aku tidak memikirkan apa-apa, kok!” Taehyung segera mengoreksi, tidak ingin dianggap cabul oleh Jeongguk. Walau, pikirannya berteriak mengiyakan, bahwa ia ingin adegan itu terjadi di antara mereka. Jeongguk mungkin menyadari semuanya, bagaimana kekecewaan itu hadir dalam manik indah Taehyung.
Ia menundukkan wajah, sebelum Jeongguk menarik dagunya, membuat pandangan mereka berserobok. Tidak ada kata yang terucap, Taehyung terlalu terkejut saat bibir mereka bersentuhan dengan begitu lembut, ciuman yang bukan sekadar nafsu. Sebuah fantasi yang akhirnya menjadi sesuatu yang lebih realistis. Hanya beberapa saat sampai itu berakhir, kemudian mereka saling memandang dengan wajah panas dan mata berkabut.
“Itu ciuman pertamaku,” Jeongguk berbisik padanya. Sedikit membuatnya merasa lucu bagaimana mereka bahkan tidak pernah sekali pun berciuman selama menjalani hubungan diam-diam ini.
“Aku juga,” Taehyung tersipu, berusaha menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jeongguk.
-4-
Ketika Jeon Jeongguk berulang tahun yang kedua puluh tiga di awal musim gugur, hanya beberapa bulan berselang setelah kepulangannya dahulu. Seperti biasa, diadakan pesta kecil bagi para bangsawan tetapi amatlah megah untuk hampir sebagian besar warga biasa. Jeon Jeongguk berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang tampak memesona, ia tersenyum kecil untuk membangun wibawanya. Kemudian, sosok wanita cantik berferomon manis dengan gaun yang membuatnya tampak begitu tidak nyata menyapa penglihatannya, berdiri di samping Jeongguk sembari menilai penampilannya. Ibu dan anak itu sama-sama menawan, “Putraku memang sangat tampan, tidak heran banyak Omega yang mengidamkan dirimu.”
Jeongguk terkekeh, “Ibu hanya melebih-lebihkan. Lagi pula aku yakin bahwa mereka tidak tulus menyukaiku, mereka hanya mencintai gelar yang aku sandang. Tidak ada yang benar-benar tulus di dunia ini, Bu.”
“Kau, memang benar,” Jaehwa tersenyum kecil, “Namun, kau harus tahu bahwa salah satu dari mereka ada yang benar-benar tulus mencintaimu. Mereka yang kelak akan menjadi jodohmu.”
Jeongguk kembali tersenyum, “Aku sudah menemukannya, Bu,” kalimat itu tidak ia suarakan, hanya didengar oleh dirinya sendiri.
Di lantai bawah di bagian dapur, ada Taehyung ikut sibuk bersama dengan para pelayan, menyiapkan sajian khas kerajaan untuk menjamu para tamu semenjak ia mengikuti jejak ibunya sebagai pelayan kerajaan. Hidungnya sedari tadi mengembang dan mengempis, menghirup betapa harumnya masakan yang mereka buat. Hatinya berbunga-bunga, sebab ia telah menyiapkan sesuatu untuk Jeongguk. Terkadang, pikirannya berkelana pada adegan di mana Jeon Jeongguk menariknya dari begitu banyak orang hanya untuk melakukan sebuah hal gila yang tidak pernah Taehyung pikirkan. Sehingga ia mendapat amukan dari kepala pelayan karena meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Taehyung terkekeh kecil saat mengingatnya.
Taehyung masih bisa mengulas senyum, beberapa waktu lalu Jeongguk meletakkan bunga mawar di atas nakas tempat tidurnya seperti sebuah kebiasaan. Tanpa ada satu pun orang yang tahu, pastinya, kecuali mungkin Park Jimin yang pada dasarnya adalah kawan dekat mereka. Sebelum memenuhi tanggung jawabnya sebagai pelayan, Taehyung menyempatkan diri untuk mengagumi betapa indah serta harum bunga yang Jeongguk beri. Matanya menyipit dengan lucu ketika bibirnya mengulas senyum kotak karena sepucuk surat yang Jeongguk tinggalkan beserta bunganya. Sebab, Jeongguk tidak punya waktu sebanyak itu.
"Kim Taehyung, wajahmu akan segera menghantam lantai jika kau terus-terusan tersenyum seperti orang bodoh," sebuah suara dari seorang wanita Omega paruh baya berwajah kurang ramah lantas menginterupsinya, membuat dirinya sedikit terlonjak kaget, ia membungkuk dengan senyum kikuk ketika kepala pelayan kembali mencerca, "Perhatikan langkah dan lakukan pekerjaanmu dengan benar!" kali ini benar-benar membuat jantungnya seolah akan lepas dari tempatnya.
"Maafkan aku, akan aku lakukan dengan benar," Taehyung mencicit lirih, membawa nampan berisi banyak potongan makanan manis menuju aula, tempat di mana para bangsawan berkumpul karena undangan yang Raja Jeon sebarkan.
Banyak orang berlalu lalang, dari berbagai kasta serta gender; kebanyakan adalah bangsawan, segelintir pelayan sepertinya, pengawal maupun penjaga, serta beberapa lainnya yang tidak Taehyung ketahui. Ia sedikit kesulitan, tetapi dengan cekatan langsung menguasainya. Meluncur dari sudut ke sudut menuju meja panjang tempat di mana sajian diletakkan. Matanya beredar, mencari seseorang yang selalu mengisi pikirannya. Sosok yang akan menjadi pusat perhatian pada malam itu. Belum ia jumpai, sampai ketika ia mendengar bisikan dari gadis-gadis bangsawan, menuju ke arah tangga kembar yang menghubungkan aula dengan lantai kedua.
Jeon Jeongguk berdiri dengan setelan indahnya, dua lapis pakaian; menurut perkiraan Taehyung. Kemeja dengan kerah berliuk sebagai alas pertama, kemudian jas berwarna hitam tanpa kancing dengan dihiasi ukiran emas bermotif khas kerajaan di tepian kerah sampai ujung sudut bawah, begitu juga yang terjadi pada lingkar pergelangan tangannya. Ada kain emas tidak terlalu lebar menyembul di bawah sambungan antara kemeja putih dan celana hitam yang Jeongguk pakai, digunakan seperti ikat pinggang. Sepatu mahalnya mengetuk lantai marmer setiap kali ia menuruni anak tangga. Jeongguk memiliki rambut hitam agak pendek bersemu kecokelatan, selalu disisir rapi, terbagi menjadi dua di atas pertengahan alis kanannya.
Jika Taehyung boleh berbicara, ia akan mengatakan kepada dunia bahwa Jeon Jeongguk adalah pria paling tampan yang pernah ia temui. Satu-satunya yang ia akui. Detik berikutnya, Taehyung memerah saat Jeongguk menatap ke arahnya, memberinya senyum manis. Hal kecil yang Jeongguk lakukan lantas membuat napas para Omega serta gadis-gadis tercekat, begitu juga dengannya.
Di sisi lain, Taehyung sedikit banyak menyesali kondisinya. Ia dan Jeon Jeongguk adalah dua orang dengan kasta berbeda, bahkan dengan melihat perbandingan pakaian mereka pun orang-orang sudah tahu. Walau begitu, Taehyung tidak pernah ingin menyesali takdir yang telah Dewi Bulan tentukan untuknya.
Di sela lamunannya, seseorang datang membisikkan kalimat kecil di telinganya, begitu dekat hingga membuatnya menggigil karena geli, "Aku tahu kawanku itu sangat tampan, sampai-sampai membuatmu lupa berkedip seperti itu," diakhiri dengan kekehan kecil.
Jeon Jeongguk menghilang dari pandangannya, dengan itu ia baru memberi atensi pada seseorang yang menginterupsinya. Masih ada nampan dalam dekapannya ketika ia menghadapi Park Jimin, orang yang berbisik di telinganya. Jimin juga memakai setelan formal, gayanya tidak terlalu berbeda dengan Jeongguk hanya saja lebih sederhana. Taehyung menatapnya dengan kikuk, "Kau berlebihan, Tuan Jimin," ujarnya dengan memberi penekanan pada caranya memanggil Jimin.
"Itu terlihat jelas," Jimin kembali berbisik sembari mengukir seringai, "Sebaiknya kau cepat kembali, Bibi Jung akan memarahimu jika kau terlalu lama menatap kekasihmu itu," matanya menatap Taehyung seolah mengejek betapa bocah itu sangat tergantung pada kehadiran Jeongguk, bagi Jimin tingkah Taehyung itu sangat lucu.
Tidak ada balasan, Taehyung berlalu tanpa kata, menunduk kecil untuk menyembunyikan ekspresi konyolnya.
Di dapur kerajaan, Kim Taehyung mulai sibuk menata camilan manis ke atas baki emas yang dulu memiliki andil dalam pertemuannya dengan Jeon Jeongguk, sebuah papan datar dengan dua pegangan yang pernah ia curi isinya karena sebuah alasan polos khas seorang anak kecil, yang membuatnya berakhir mendapat sesuatu yang lebih mengejutkan, lebih tidak masuk akal. Namun, itulah yang terjadi. Nyatanya, pangeran mahkota telah memilih untuk menitipkan hampir seluruh hatinya terhadap dirinya.
Ketika netranya berpendar ke sekeliling ruangan, ia tahu bahwa bukan hanya dirinya yang direpotkan oleh acara mewah ini. Semua orang yang hampir kebanyakan adalah Omega sibuk berlalu lalang, mencuci piring kotor, memasak, maupun hal lain yang biasa dilakukan oleh orang-orang dalam kastanya. Yang katanya sudah menjadi peran bagi seorang Omega. Sehingga, Taehyung selalu menganggapnya sebagai hal kecil yang terkadang bisa menjadi sesuatu yang merepotkan jika dilakukan dalam skala besar.
Beberapa detik setelah itu, Jung Hoseok mendekatinya. Sosok yang selalu haus akan sesuatu tiba-tiba menanyai dirinya sebagai salah satu pelayan yang ditugaskan mengantar makanan ke aula, “Tadi, kau ada di sana melihatnya, bukan?” ia bertanya dengan kalimat yang sedikit membingungkan. Membuat Taehyung mengernyit.
"Melihat siapa?" Taehyung bertanya kembali sambil sesekali melirik ke arah sajian yang akan ia bawa, "Ada banyak orang di aula," senyumnya terukir kecil.
Hoseok memutar matanya, tampak sedikit kesal karena jawaban polos yang Taehyung keluarkan, "Ya ampun, Kim Taehyung. Yang aku maksud itu Pangeran Mahkota Jeon Jeongguk!" jawaban itu membuat Taehyung terkekeh kecil.
"Kau bertanya dengan kalimat tidak jelas, tentu saja aku bingung," Taehyung mendengus, berjalan kecil menuju ke arah ibunya untuk mengambil beberapa barang lagi, "Ya, aku melihat pangeran. Semua orang yang ada di sana pun melihatnya."
"Aku juga melihatnya!" Hoseok memekik, hingga beberapa senior mereka memerintahkan gadis itu agar menutup mulut. Hoseok tersenyum tanpa dosa, "Demi Dewi Bulan, bagaimana seseorang bisa tampak begitu sempurna sepertinya?" netranya menatap ke atas seolah-olah membayangkan sesuatu.
“Omega yang kelak menjadi pasangannya pasti akan menjadi orang paling beruntung di dunia,” Yeojin secara mengejutkan memasuki obrolan mereka. Mendengarkan mereka mengoceh tentang pangeran tanpa sengaja.
Untuk sedetik, otaknya membawa Taehyung pada pemikiran bahwa ia adalah Omega beruntung itu. Omega yang secara kebetulan telah menarik atensi pangeran yang menjadi mimpi setiap Omega. Namun, mendadak senyum di wajahnya luntur seiring dengan obrolan mereka yang kian realistis. Kim Taehyung kembali pada posisinya.
“Apa mungkin pangeran menikahi salah satu dari kita?” Hoseok memasang wajah seolah tengah berpikir.
Yeojin mendengus, berujar singkat sebelum kembali ke tempatnya mencuci piring, "Jangan bercanda, nyatanya kita hanya pelayan. Pangeran tidak akan mungkin menikahi seseorang dari kasta kita. Kalian tahu bahwa calon raja tidak boleh menikah dengan orang yang bukan bangsawan. Jika pun bisa, dia hanya akan menjadi selirnya."
“Benar juga,” Hoseok berujar pada kawannya yang baru saja meninggalkan tempat tanpa peduli tanggapannya.
Tentang itu. Taehyung ingat bahwa seorang Alpha calon penerus kerajaan tidak boleh menikah dengan Omega dari kasta rendah sepertinya demi menjaga garis keturunan bangsawan yang benar-benar murni. Seketika, realitas menamparnya begitu keras. Hampir saja membuat air di sudut matanya meluncur seperti air terjun sebelum ia kembali pada kewarasannya. Cepat-cepat membawa nampan itu keluar dari dapur, "Aku harus kembali ke aula," Taehyung berujar.
Alis Hoseok terangkat, "Ah, benar juga. Cepatlah, jangan sampai nenek sihir itu mulai mengomel seperti orang gila,” tangannya bergerak seolah mengusirnya.
Kim Taehyung terus melangkahkan kakinya di antara orang-orang berpakaian mahal di sana. Hendak kembali menuju ke sebuah meja yang belum ia datangi. Sampai di pertengahan jalan, langkahnya terhenti saat tiba-tiba Raja Seongho menaiki podium yang lantas menarik atensi semua orang begitu juga dengan dirinya. Mendadak semua bising yang tercipta berubah sunyi, mempersilakan raja yang disegani untuk menyumbangkan suaranya dengan damai tanpa interupsi.
Pria berwajah keras itu mengedarkan pandangan, kemudian tersenyum kecil saat sosok yang ia cari akhirnya mampir dalam pandangannya. Di sampingnya ada Jeon Jeongguk, tidak banyak berekspresi tetapi entah mengapa Taehyung dapat merasakan kegelisahannya. Seolah, ada suatu hal yang akan terjadi dalam tempo dekat. Sehingga, ketimbang kembali ke dapur kerajaan ia memilih untuk menetap, berdiri di bagian terpojok yang tetap mampu membuat telinganya mendengar seruan sang raja.
Kemudian pria paling dihormati itu bersuara, menyuarakan sapaan umum yang biasa hadir di setiap sambutan dengan karisma serta wibawa yang tak pernah luntur. Setelah beberapa kalimat basa-basi, Raja Seongho akhirnya mengutarakan sesuatu yang mampu membuat jantungnya berhenti berdetak, yang seakan mampu merenggut separuh nyawanya keluar, "Pesta Perjodohan Pangeran Mahkota Jeon Jeongguk dari Kerajaan Chrystone dan Putri Hwang Aerin dari Kerajaan Luthen akan diadakan minggu depan."
Nampan yang ia pegang seketika jatuh bebas. Menarik atensi seluruh orang yang ada di ruangan, Taehyung buru-buru mengambilnya kemudian membungkuk untuk meminta maaf dan pergi dengan tergesa. Matanya memanas, terlebih ketika ia beradu tatap dengan Jeon Jeongguk, pria Alpha itu menampilkan ekspresi yang tampak seperti penyesalan mendalam, hendak mengejarnya tetapi seakan terhalang sesuatu. Seseorang memanggil ketika kakinya mencapai dapur kerajaan untuk meletakkan nampan kosong yang ia bawa ke atas meja, "Kim Taehyung, wajahmu tampak pucat, kau kenapa?" ibunya bertanya.
"Aku, aku sedikit tidak enak badan, Bu. Bolehkah aku kembali ke kamarku?" Taehyung menjawab dengan nada tergagap, mengabaikan bagaimana tangannya gemetar dalam memegang ujung pakaiannya.
Ibunya memberi raut iba, mengusap kepalanya dengan lembut sebelum benar-benar mengizinkannya untuk pergi, "Tentu, kau bisa beristirahat."
"Terima kasih, Bu," ia mengukir senyum kecil. Bergegas pergi dari sana bahkan tanpa menjawab seruan dua kawannya.
Di lain tempat, Jeongguk tidak bisa mendeskripsikan perasaan apa yang hadir dalam dirinya, itu adalah campuran dari kemarahan, dan ketakutan. Ia marah pada keputusan yang dipilih seenaknya oleh sang ayah bahkan tanpa mendiskusikan hal itu dengannya terlebih dahulu seolah suaranya dalam hal ini bukanlah sesuatu yang penting, dan ia takut bahwa Taehyung akan membencinya, menjauhinya karena berpikir bahwa ternyata Jeongguk tidak bisa memegang kata-katanya beberapa tahun yang lalu. Walau nyatanya semua itu tidaklah benar, semua yang terjadi ada di luar kendalinya.
Perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang kian menyakitkan ketika matanya melihat sosok terkasihnya di bagian belakang orang-orang berpakaian mewah seperti ia dan keluarganya, menunduk seperti rusa kecil yang putus asa, tampak begitu ketakutan hingga memutuskan untuk berlari menjauhi kerumunan. Ia tahu betapa banyak kekecewaan yang tergambar dari sorot matanya yang hampa. Ketika ia berusaha untuk mengejar, ayahnya memegang pergelangan tangannya, memintanya untuk tetap diam di tempat seperti patung pajangan istana.
Namun, ia tidak bisa menahannya lebih lama, "Ayah, aku harus pergi," ia berujar dengan volume kecil pada ayahnya, suaranya sedikit teredam oleh alunan musik klasik orkestra tetapi ia yakin bahwa pria itu masih sanggup mendengarnya.
Seongho mengernyit, "Pergi untuk apa?" ia bertanya dengan sedikit keingintahuan, "Bahkan acara intinya belum selesai."
Jeongguk mati-matian menahan rasa kesal dalam dirinya. Pandangannya berpendar ke seluruh ruangan saat ia berusaha memikirkan kata apa yang sekiranya bisa membuat pria haus kekuasaan itu bungkam, "Ada sesuatu yang perlu aku selesaikan bersama Park Jimin, ini urusan yang cukup penting." Pada akhirnya, ia menggunakan nama sahabatnya untuk menyelamatkan diri.
"Tidak, kau harus tetap di sini. Biarkan Jimin menyelesaikan urusan itu sendiri. Jika kau bosan, ajaklah Putri Aerin untuk berdansa, mengobrol atau apa pun itu. Kau perlu mengenalnya sebelum menikah nanti, bukan?" Seongho menjawab dengan tenang, abai dengan alasan yang Jeongguk ujarkan padanya.
Mengenalnya sebelum menikah nanti? Persetan, bahkan Jeongguk tidak pernah tertarik untuk bertemu dengan gadis itu.
Semua ini membuat rasa benci terhadap ayahnya kian membara. Sosok yang selalu menghalangi setiap langkah kecil yang akan Jeongguk ambil. Dan Jeongguk harus bertahan sedikit lebih lama di sampingnya, sebagai permata yang selalu dibanggakan. Segala yang Jeongguk inginkan hanyalah hidup bersama Taehyung dalam sebuah hunian kecil tanpa perlu memikirkan tentang apa pun. Hanya dirinya, Taehyung, serta anak-anak lucu yang menjadi pelengkap kebahagiaan mereka.
-5-
Kim Taehyung bertanya-tanya, mengapa Dewi Bulan begitu senang mempermainkan garis takdirnya?
Taehyung seharusnya ikut bahagia untuk Jeongguk, jika bukan karena fakta mengejutkan yang membolongi gendang telinganya, bahwa dalam waktu dekat ia akan kehilangan Jeongguk untuk selamanya. Apakah ia sanggup melihat orang yang dicintainya berdiri di atas altar bersama orang yang jelas-jelas bukan dirinya?
Pemikiran-pemikiran buruk memenuhi kepalanya dengan cepat. Ia bahkan belum sempat memberikan hadiah maupun mengucapkan selamat ulang tahun pada Jeongguk, tangannya masih memegang kotak kecil berisi sesuatu yang sangat jauh jika dibandingkan dengan hadiah yang orang lain beri, tetapi usaha dalam mendapatkannya melampaui apa pun yang ada, luka di beberapa sisi tangan Taehyung menjelaskan betapa besar itu. Namun, nyatanya berakhir menjadi kesia-siaan. Ia membuat hadiah spesial dan Jeongguk memberinya kejutan yang lebih spesial, betapa ironisnya.
Ia segera menghapus jejak air matanya saat pintu ruangan sempit yang ia huni terbuka dengan derit mengerikan, tampilan dari sesosok wanita yang begitu berjasa dalam hidupnya membuat ia semakin panik. Ibunya membawakan sepotong roti yang mungkin ia dapatkan dari sisa pesta yang nyatanya belum berakhir. Wanita itu mengambil tempat tepat di sampingnya, memberikan roti yang dibawanya pada Taehyung sesaat setelah sempurna di posisi duduknya, “Ayo makan ini.”
Taehyung menerima potongan roti itu dengan ragu-ragu, “Terima kasih, Bu,” jawabnya dengan nada lirih.
Kim Taera setia menunggu Taehyung menghabiskan setiap partikel yang ada, menatap pipi putranya yang menggembung seperti ikan buntal. Ia menyodorkan segelas air di atas nakas setelah roti di tangan Taehyung habis tak tersisa, “Pelan-pelan,” ia memperingati.
Hanya tersisa keheningan sebelum sosok yang Taehyung panggil ibu itu berinisiatif untuk mengambil topik obrolan yang mungkin sedikit sensitif untuknya saat ini, “Tidak mau memberikan hadiahnya?” Taera bertanya, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menempel di dahi putranya, membiarkan dahinya terpampang.
Taehyung berkerut bingung, “Um, maksud Ibu?”
Taera terkekeh kecil, mengusap pipi anak semata wayangnya dengan wajah teduh, “Hadiah yang kau buat dengan susah payah hingga tanganmu terluka, hadiah yang kau buat khusus untuk Pangeran Mahkota Jeon Jeongguk atau bisa ibu bilang sebagai kekasihmu,” senyumannya terukir.
“Ibu, kau ini bicara apa?” Taehyung berujar, memasang wajah penuh kebingungan yang nyatanya hanya topeng dari kegelisahan hatinya.
Ibunya menghela napas, “Jangan pura-pura tidak mengerti, selama ini kau dan pangeran berkencan, bukan?”
Taehyung membisu, lidahnya kelu untuk sekadar menjawab. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya saat kalimat ibunya terdengar. Ketika ia mulai mencoba bertanya, Taera kembali berujar seolah menjawab pertanyaannya, “Kau itu seperti buku yang terbuka, begitu mudah untuk dibaca. Caramu menatapnya dari kejauhan, caramu menyebutkan namanya, serta segala tingkah aneh yang selama ini kau lakukan telah menjelaskan semua itu,” ada jeda, “jadi, masih mau berjuang?”
Kegelisahan itu sirna, ia awalnya berpikir mungkin ibunya akan memerintahkannya untuk berhenti berharap pada seseorang yang tidak mungkin selevel dengannya. Karena, semua yang ia lalui bersama pangeran pun terasa seperti khayalan indah yang tidak masuk akal baginya. Taehyung memasang wajah sedih, mengambil kotak yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya, “Aku tidak tahu. Semua terasa begitu sulit, seakan-akan Dewi Bulan tidak lagi memberiku kesempatan untuk bersama dengan pangeran. Lagi pula, Putri Aerin memang cantik, sangat serasi dengan Pangeran Jeongguk yang tampan. Sedangkan aku mungkin tidak lebih dari sekadar debu yang menempel di sepatu mereka.”
“Kau mencintainya dan Jeongguk pun mencintaimu, itu adalah kekuatan utama yang kalian miliki. Kesempatan selalu ada dalam situasi sesulit apa pun, kalian hanya perlu berjuang sedikit lebih keras. Sesungguhnya, Dewi Bulan hanya ingin menguji sejauh mana cinta kalian mampu bertahan. Percaya bahwa kau dan Jeongguk bisa menghadapinya,” Taera menarik sepasang tangan Taehyung untuk digenggamnya, “Ingatlah ini, kau itu luar biasa, kau sempurna dengan caramu sendiri. Kau punya keistimewaan yang membuat Jeon Jeongguk mencintaimu.”
“Semua yang Ibu katakan terdengar seperti mimpi bagiku,” suaranya terdengar kian putus asa, “Bagaimana Ibu bisa begitu yakin?” ia mengarahkan pandangannya pada ibunya.
“Karena Dewi Bulan yang memberitahukannya,” ibunya menjawab dengan yakin, sesuatu yang membuat Taehyung bungkam. Terlalu sulit memahami kalimat tidak masuk akal yang ibunya katakan, “Omong-omong, Mikyung sedang sakit. Besok Ibu akan menjenguknya, apa kau mau ikut?” ia kembali bertanya.
“Loh, Bibi Mikyung sakit apa?” Taehyung memasang raut terkejut, menatap ibunya dengan alis berkerut, sedangkan Taera hanya menggeleng kecil tanda tidak tahu. “Bukankah, selama ini beliau sehat-sehat saja?”
“Ibu pikir juga begitu. Kita doakan yang terbaik untuknya, oke?”
Taehyung mengangguk kecil, ada sedikit rasa takut dalam dirinya, bagaimanapun ia sudah menganggap wanita itu sebagai ibunya sendiri.
Malam itu terlewati dengan asing, musik pesta masih mengalun di telinganya bahkan saat ia berusaha untuk memejamkan mata. Sedangkan, Jeongguk masih terkurung dalam ego milik ayahnya yang terus kukuh dalam pendiriannya.
Di hari berikutnya, Jeongguk diliputi oleh rasa bersalah ketika matanya mendapati siluet Taehyung yang entah mengapa tampak begitu kecil di hadapannya. Ia tahu, tatapan apa yang Taehyung beri sebelum netra indah itu mengalihkan pandang, memilih untuk menatap ke sisi lain setelah menyapanya dengan sopan seperti pelayan-pelayan lainnya. Ia menghela napas, memilih untuk melanjutkan langkahnya bersama Park Jimin menuju tempat di mana ia akan menyuarakan pendapatnya.
Namun, hanya berakhir dengan kekecewaan lain. Ayahnya yang katanya selalu sibuk itu terlalu tidak peduli terhadapnya maupun segala suara kecilnya. Ia masih berdiri di depan pintu setelah diusir keluar oleh pemilik ruangannya, “Jika aku jadi kau, aku mungkin akan pergi membawa kekasihku ke tempat di mana tidak ada yang mengenali aku. Kemudian membuat identitas baru dan hidup dengan bahagia dalam kesederhanaan, bagaimana menurutmu?” Jimin berujar dengan nada sedikit main-main.
“Entahlah,” Jeongguk menjawab, “Tidakkah itu lebih terdengar seperti pengecut?” ia menatap Jimin, “Maksudku, memilih untuk lari dari masalah dan bukannya datang untuk menghadapinya?”
“Tidakkah itu sama seperti apa yang ayahmu lakukan?” Jimin malah balik bertanya, membuat dahi Jeongguk berkerut, “Menjodohkanmu dengan seseorang yang bahkan tidak kau kenal tanpa meminta pendapatmu terlebih dahulu?”
“Bukankah itu, tidaklah sama?” Jeongguk termenung, “Lagi pula, dia seorang raja.”
“Raja atau bukan, ayahmu tetap tidak berhak mengaturmu. Kau adalah pria Alpha dewasa, kau berhak untuk memilih jalan hidupmu. Jangan biarkan orang lain memperlakukanmu seperti alat pengeruk emas,” Jimin mengatakan semua itu dengan begitu tenang. Kemudian hendak beranjak pergi sebelum mengatakan kalimat terakhirnya, “Bahkan tanpa bantuan dari kerajaan lain, aku yakin kau bisa membangun dinastimu sendiri.”
Jimin benar-benar pergi darinya tanpa sepatah kata pun lagi. Kepribadian kawannya itu entah mengapa berubah begitu drastis akhir-akhir ini. Sejenak, Jeongguk berpikir bahwa perkataan Jimin ada benarnya, walau itu membuatnya terkesan menjadi seorang pemberontak. Tetapi, Jeongguk tidak peduli dengan semua itu.
Ia menatap ke arah pakaian yang dikenakan olehnya, sesuatu yang menghalangi kebersamaannya dengan Kim Taehyung. Andaikan ia terlahir sebagai warga biasa, bukan pangeran yang harus mengemban tanggung jawab besar, semua akan baik-baik saja. Namun, di sisi lain, jika ia bukanlah dirinya saat ini, mungkin Jeongguk tidak akan pernah bertemu dengan Kim Taehyung. Semua benar-benar membuat kepalanya seperti hendak pecah.
Jeongguk menghela napas dengan raut lelah, kembali ke kamarnya untuk mengambil gelang pemberian Taehyung yang lupa untuk ia pakai lagi selepas mandi. Tetapi, pandangannya malah terpaku pada sebuah buku tua yang tiba-tiba ada di tempat tidurnya.
-6-
Sudah satu minggu, ketika takdir yang mengecewakan akhirnya hadir, menampakkan diri secara suka rela saat hatinya mulai menyerah. Tatkala dirinya tak sanggup lagi untuk menerima kenyataan yang menusuknya seperti pisau berkarat, jauh lebih melukai. Jika bukan karena bentuk penghormatannya pada keluarga kerajaan, ia tidak akan mungkin berada di sana. Menjadi saksi bersama dengan sosok lainnya yang mungkin mengulaskan sebuah bentuk kebahagiaan untuk pangeran tercinta mereka. Tidak dengan Kim Taehyung.
Ia menggenggam erat ujung kain lusuhnya, terus menunduk bahkan ketika Jeongguk berusaha meminta sebuah tatapan balasan. Ia hanya tidak sanggup melihatnya, tidak sanggup menghadapi ketakutannya sendiri. Kondisi itu diperparah dengan hadirnya aroma manis yang begitu menenangkan dari seseorang yang begitu Taehyung kenal dalam jangka tujuh hari saja, gadis Omega yang langsung menjadi alasan kenapa hatinya begitu hancur, bahkan tanpa sosok itu sadari. Seharusnya Taehyung tahu, seharusnya Taehyung sadar akan posisinya, ia hanya seorang pelayan rendahan tanpa latar belakang bangsawan.
Hwang Aerin, putri bungsu dari Kerajaan Luthen yang hari ini tampak begitu cantik, gaun merah muda dengan sulaman emas serta renda yang tampak pas di tubuh rampingnya, begitu menawan. Taehyung tersenyum kecil, mereka memang cocok; Jeon Jeongguk yang gagah dan Aerin yang cantik, perpaduan yang selalu didambakan oleh semua orang. Kemudian, dua orang itu saling berhadapan; dengan ekspresi yang saling bertentangan. Namun, Taehyung terlalu rapuh untuk menyadarinya. Sehingga, ia hanya menarik jemari ibunya, memegangnya dalam getaran menyedihkan, “Jeongguk tidak akan tinggal diam, Tae,” Taera berbisik.
Taehyung membisu, membiarkan ibunya terus mengatakan hal-hal yang tidak mampu membuat dirinya tersenyum lagi. Matanya masih menatap ke arah yang sama di mana Jeongguk berdiri, menghadap Omega paling cantik yang mungkin akan dicintai oleh semua orang. Kenapa Jeongguk membiarkan ini semua terjadi?
Senyum mewarnai wajah semua bangsawan dari dua negeri berbeda itu sebelum semua berubah dari naskah awal yang mereka pikirkan ketika mata Jeongguk yang biasanya sehitam jelaga berubah menjadi merah pekat seperti nyala bara api. Putri cantik yang berdiri anggun di hadapannya pun merasakan sedikit kepanikan, terlebih ketika Jeongguk tiba-tiba berujar, “Aku tidak bisa menerima perjodohan ini,” kalimatnya terjeda, “aku sudah memilih seseorang yang akan aku jadikan pasangan.” Matanya menatap Taehyung yang berdiri di ujung ruangan dengan netra membola.
Tanpa pikir panjang, Jeongguk pergi dari hadapan Aerin yang menatapnya dengan raut tidak percaya, sedangkan ayahnya sendiri tampak begitu murka seolah hanya dengan tatapan matanya sudah mampu untuk menghancurkan putranya. Tapi Jeongguk abai, ia tidak peduli pada semua hal-hal merepotkan sebagai bangsawan maupun hukuman apa yang sekiranya akan menanti Jeongguk setelah semua ini.
Sementara itu, Park Jimin tersenyum kecil melihat betapa konyol jalan yang dipilih oleh Jeongguk untuk menghadapi ayahnya, sampai pandangannya bertemu dengan pria pucat yang menatap dirinya dengan ekspresi aneh.
Semua berakhir begitu saja, Kerajaan Luthen yang merasa dipermainkan memilih untuk pergi, membatalkan setiap kerja sama yang mulanya hendak dibangun dengan dinasti milik Klan Jeon. Jeongguk merasakan obat dari perbuatannya saat ayahnya tanpa segan menghajarnya dengan membabi buta, tetapi Jeongguk hanya tersenyum dalam rasa sakitnya seperti seorang psikopat. Ia berpikir, kenapa ayahnya mau repot-repot mengotori tangannya hanya untuk memukul seseorang sepertinya. Padahal, Jeongguk sudah membayangkan hukuman yang lebih besar dari itu.
Bagaimanapun Taehyung merasa bersalah, karena ia adalah alasan utama mengapa Jeongguk mendapatkan semua itu.
Mereka bertemu beberapa hari setelahnya, tetapi Taehyung meminta agar mereka datang mengunjungi makam Bibi Mikyung terlebih dahulu, Taehyung tidak berhenti menangis saat menatap gundukan tanah di hadapannya. Jeongguk mungkin tahu betapa berarti wanita itu bagi Taehyung, tetapi ia hanya bisa memberi kalimat penenang dan usapan halus di punggung. Kemudian mereka benar-benar pergi dari sana.
“Ini mungkin terlalu terlambat,” Taehyung menyodorkan sebuah kotak kecil yang ia bawa di dalam tas selempangnya, menatap sayu penuh penyesalan kepada sosok Alpha di hadapannya.
Jeongguk tersenyum kecil, “Itu bukan masalah besar, aku percaya bahwa sesuatu yang spesial akan selalu berada di bagian akhir,” kemudian giliran Jeongguk mengulurkan sesuatu yang indah kepada Taehyung.
“Hibiscus?” Taehyung bertanya dengan netranya yang menatap lucu, sebelah alisnya terangkat saat menyadari keanehan yang terjadi. Biasanya, Jeongguk selalu memberinya setangkai mawar seperti hal rutin. Tetapi, kali ini Alpha berwajah tampan dengan feromon seperti musim panas itu membawakannya bunga dengan lima kelopak yang tampak begitu cantik di tangannya.
Ada jeda sejenak sebelum Jeongguk menjawab kalimatnya dengan senyum teduh, “Aku baru membaca mitos tentang bunga sewarna darah ini. Dikatakan bahwa hibiscus sebenarnya adalah Adonis yang dikutuk oleh Zeus karena menyebabkan perang antara Aphrodite dan Persephone,” ia mendekat ke arah Taehyung, mengusap pipinya yang memerah kedinginan dengan begitu lembut, “Namun, legenda lain mengatakan bahwa Adonis dibunuh oleh hewan buas, dan Aphrodite yang malang menangis di atas jasad kekasihnya yang masih bersimbah darah. Hingga, tanpa sadar menciptakan bunga yang kini ada di tanganmu,” Jeongguk masih mempertahankan senyumnya.
Hening, Taehyung masih berusaha fokus pada kalimat serta perubahan ekspresi yang mendadak Jeongguk tampilkan. Angin membelai wajahnya ketika Jeongguk berkata, “Lewat bunga ini aku berjanji padamu, bahwa apa pun yang akan terjadi nantinya, aku tidak akan membuatmu bersaing dengan Persephone atau pun berurai air mata karena kehilanganku,” ia terdiam sejenak, mengamati Taehyung yang tidak mampu berkata-kata, “Biarlah semesta berusaha menjauhkan kita hingga sejauh matahari dan bumi, tetapi aku akan berpijak di tanah yang sama tepat di sampingmu. Selalu dan selamanya.”
Perkataan itu membuat Taehyung kembali yakin bahwa Jeongguk tidak akan mungkin meninggalkan dirinya. Bahwa, setelah apa yang sudah terjadi, Jeongguk tetap memilihnya tanpa peduli gelar atau latar belakangnya. Tanpa sadar, setitik air mata jatuh dari pelupuk mata Taehyung yang mana membuat Jeongguk tersenyum kecil dan lantas mengusapkan ibu jarinya ke tulang pipi Taehyung.
Mereka terdiam cukup lama, hanya duduk menatap air sungai yang bergerak dengan tenang, sampai Taehyung menguap dengan wajah lelah.
“Mengantuk?” Jeongguk bertanya dengan nada lembut, menatap wajah Taehyung yang tersorot sinar rembulan yang terbias dalam genangan air jernih. Omega itu mengangguk kecil dengan bibir yang mengerucut, matanya yang biasa memancar indah laksana permata yang ada dalam perhiasan ibunya mulai sayu, kelopak serta kantong matanya sedikit bengkak karena tangis yang terus disuarakan olehnya, “Sini mendekatlah kepadaku,” pangeran mahkota itu kembali berujar dengan nada yang jauh lebih lembut.
Kim Taehyung menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh Jeongguk, mempersempit jarak yang membentang di antara mereka. Sedangkan Jeongguk sendiri hanya tersenyum kecil, mengulurkan tangannya ke belakang punggung Taehyung untuk dirangkul olehnya dalam kehangatan. Jeongguk menatap ke seberang sungai, di mana pepohonan rindang tersedia. Ia mulai merapalkan kalimatnya, “Sekarang, pejamkan matamu, hilangkan semua beban pikiran yang memenuhi kepalamu. Lupakan semua kesedihan serta penderitaan yang pernah kau rasakan, lupakan semuanya,” ia menyandarkan kepalanya pada milik Taehyung, “Kemudian, bayangkan sebuah masa depan cerah di mana hanya ada kita, seperti dalam akhir setiap dongeng.”
Kalimat yang Jeongguk ucapkan entah mengapa membuat Taehyung merasa begitu nyaman, seolah Dewi Bulan ikut mengucapkan kalimat itu di telinganya. Beban dalam dirinya mulai meringan, tidak ada sesak di dalam dada. Ia benar-benar merasa lega bahkan hingga ia jatuh tertidur dalam rangkulan Jeongguk. Namun, Taehyung masih bisa merasakan kecupan manis yang ia dapat di dahi.
“Aku mencintaimu,” itu adalah kalimat terakhir yang Jeongguk ujarkan sebelum menyusul Taehyung ke dalam alam mimpi. Meninggalkan sebuah hibiscus yang mendadak lebur dalam genggaman Taehyung, mungkin membawa mereka ke dalam takdir baru.
-7-
"Lalu apa yang terjadi pada mereka?" seorang gadis berumur lima tahun bertanya dengan riang dalam pangkuan sosok menawan yang sedang sibuk menyisir rambut panjangnya. Gadis itu menoleh, sedikit membuat papa Omeganya kesusahan walau tetap memberi senyum manis di bibirnya yang semerah ceri, "Apa mereka hidup bersama selamanya seperti Daddy dan Papa?" matanya melebar, tidak kehilangan antusiasmenya pada cerita klasik yang baru saja Taehyung sampaikan.
Taehyung tersenyum kecil, memasangkan jepit rambut bermotif kelinci pada putri kecilnya, "Tentu, mereka hidup bersama selamanya."
"Yippie!" Miya berseru, hampir melompat turun dari pangkuan Taehyung jika saja ia tidak sigap memegang pinggangnya. Putrinya itu memang sedikit hiperaktif, sangat menggemaskan, "Miya sangat senang," ujarnya lagi.
Beberapa saat Taehyung habiskan untuk setia mendengar celoteh lucu putri kecilnya, beberapa kali mengusap rambutnya penuh sayang. Sampai terdengar suara pintu depan yang terbuka diiringi seruan nyaring dari seseorang yang amat mereka kenal. Seketika wajah Miya berubah cerah, kali ini gadis kecil itu berhasil turun dari pangkuan Taehyung. Dengan cekatan Miya berlari menuju sosok tinggi yang masih berdiri di ambang pintu, sedang melepas sepatu pantofel yang dipakainya seperti bagian dari seragam resmi, "Daddy!" Miya berseru, tanpa pikir panjang menubrukkan tubuh mungilnya ke pria itu.
Jeongguk tertawa lepas, mengabaikan tas kerjanya yang tergeletak di atas rak sepatu. Menggendong Miya dalam satu sentakan kecil sembari berpura-pura mengeluh mengenai putrinya yang sudah semakin besar dan dirinya yang juga semakin berumur. Miya hanya terkikik kecil dalam gendongannya.
Di sisi lain Taehyung mengamati pemandangan itu dengan senyum haru, menghampiri dua orang tercintanya dengan langkah kecil. Mengambil alih tas kerja Jeongguk kemudian beralih untuk menutup pintu. Lantas berjalan beriringan menuju ruang keluarga di mana mereka biasa menghabiskan waktu bersama.
"Daddy, tadi papa bercerita tentang Omega cantik dan pangeran Alpha tampan. Miya suka sekali. Miya membayangkan mereka sebagai Papa dan Daddy," Miya berceloteh dengan riang mengenai dongeng yang baru saja Taehyung ceritakan padanya, "Daddy harus dengar ceritanya juga, sangat bagus!" serunya lagi. Tubuhnya bergerak dengan sangat aktif dalam buaian Jeongguk dan lantas membuat ayah Alphanya itu terkekeh.
"Wah, benarkah?" Jeongguk bertanya, mengimbuhi rasa antusiasme yang tinggi pada kalimatnya semata-mata agar membuat putri cantiknya bahagia, "Apa Miya mau menceritakannya untuk Daddy?" ia mencium pipi tembam Miya, wangi bedak bayi lantas masuk ke indra penciumannya. Ketika Miya tersenyum lebar, langsung mengingatkannya pada bagaimana cara Taehyung mengulas senyum yang serupa.
Mereka sampai di sofa yang sebelumnya Taehyung duduki bersama Miya, menjatuhkan tubuhnya pada fabrik halus itu dengan Miya yang masih berada dalam rengkuhannya. Taehyung pergi ke dapur beberapa saat lalu, mungkin mengambil minuman atau camilan untuknya.
"Tentu saja, tapi nanti setelah Miya menunjukkan sesuatu kepada Daddy. Miya baru saja selesai menggambar," Miya berkata pada Jeongguk dengan begitu gembira, gadis itu begitu mudah mengekspresikan kebahagiaannya. Berikutnya, Miya turun dengan tergesa dari pangkuan Jeongguk sembari berkata, "Sebentar, Miya ambil dulu di kamar,” ia segera menyingkir dari hadapannya setelah menyelesaikan kalimatnya. Jeongguk terkekeh kecil melihat bagaimana anaknya berlari dengan begitu lucu.
Setelah Miya pergi, secara bersamaan Taehyung datang membawa nampan berisi air minum dan sepiring brownies legit buatannya, akhir-akhir ini Taehyung memang hobi sekali membuat kue atau camilan lainnya dengan skill yang bisa dibilang bagus setelah mengikuti les memasak beberapa bulan lalu. Omega itu bersikeras untuk mendaftar karena terlalu pesimis dengan keahliannya. Padahal, mau bagaimana pun kondisi Taehyung, Jeongguk akan tetap mencintainya seperti apa yang selalu ia janjikan.
"Di mana Bora dan Jaehyuk?" Jeongguk tiba-tiba bertanya, sesaat setelah Taehyung menempati ruang kosong di sampingnya.
"Bora sedang tidur di atas," Taehyung menjawab sembari memberi senyum kecil pada Jeongguk, “Mungkin lelah setelah seharian merangkak hampir ke seluruh penjuru rumah. Kalau Jaehyuk sedang pergi untuk tugas kelompok, mungkin sebentar lagi pulang,” ia tersenyum begitu juga dengan Jeongguk. Tidak berlangsung lama saat tiba-tiba terdengar tangisan keras dari lantai atas, tanpa pikir panjang Taehyung berlari menghampiri asal kegaduhan itu.
Taehyung kembali bersama dengan Bora kecil dalam gendongannya, ada Miya berjalan mendahului sembari membawa selembar kertas yang ia ambil dari kamarnya. Putrinya berjalan dengan cepat agar sampai lebih dahulu di hadapan Jeongguk. Taehyung menghampiri mereka, lantas mengambil sepotong biskuit untuk bayi di dalam stoples di samping nampan yang ia letakkan, memberikan kepingan itu pada Bora yang sudah mengulurkan tangan gemuknya. “Miya mau biskuit juga?” ia bertanya pada putri kecilnya. Bocah itu menjawab dengan gelengan kecil.
“Lihat, Daddy!” Miya berseru sambil menunjukkan hasil karyanya pada Jeongguk. Di sana, tergambar lima orang dengan proporsi tubuh berbeda yang digambar dengan cukup abstrak khas anak kecil, sangat lucu menurut Jeongguk. “Lukisan Miya bagus tidak?” tanya gadis itu dengan mata berbinar.
“Sangat bagus,” Jeongguk menjawab, menarik Miya yang tertawa ke pangkuannya.
“Miya kan sangat pandai menggambar,” Taehyung ikut menjawab, “Sana beri tahu pada Daddy siapa saja yang Miya gambar,” sambungnya dibalas dengan anggukan Jeongguk.
Kemudian putrinya kembali berceloteh sebagai tanggapan setelah puas disanjung oleh kedua orang tuanya, “Ini Bora,” ia menunjuk pada sosok yang terkecil di sebelah paling kiri. Kemudian, beralih menunjuk ke sosok lebih tinggi dengan rambut panjang dan gaun lucu di sisi kanannya, “Kalo ini Miya,” ujarnya sambil terkekeh lucu. Miya menggeser telunjuknya ke kanan, “Ini Kak Jaehyuk.”
Jeongguk mengangguk paham, mengalihkan pandangannya sejenak pada Taehyung yang juga tersenyum saat mendengarkan semua ocehan putrinya sembari memangku Bora yang sibuk mengisap ujung biskuitnya. Jeongguk mengulas senyum, mengarahkan jarinya pada gambar dua orang dengan tinggi sama, “Kalau yang ini pasti Papa dan Daddy,” ujarnya seraya bergantian menunjuk antara pria bertubuh lebih ramping dan lebih besar.
“Daddy benar!” Miya berseru.
Kebahagiaan Jeongguk dan Taehyung lengkap sudah saat putra sulung mereka pulang, walau dengan wajah lesu. Bocah itu langsung menempel pada Taehyung seperti anak kucing kecil sembari mengeluh tentang harinya yang begitu melelahkan. Jaehyuk memang manja sekali pada papanya, bahkan terkadang berseteru dengan Jeongguk terkait segala hal yang berhubungan dengan Taehyung, suaminya itu terkadang juga bisa menjadi seperti anak kecil. Taehyung mengusap kepala Jaehyuk, mengatakan kalimat kecil yang bisa kembali menyemangatinya.
Miya dengan stetoskop mainan berlagak bak dokter profesional seperti di film-film sementara Bora menjadi pasiennya, meskipun bayi kecil itu tidak mengerti akan apa yang kakaknya sedang lakukan. Tiga lain yang lebih tua dari mereka mengobrol kecil di tengah-tengah tayangan film keluarga yang sedang diputar, “Katanya sudah besar, tapi masih suka manja-manja sama papanya,” Jeongguk mencibir, hanya untuk main-main. Mungkin, membangun suasana.
“Biar saja,” Jaehyuk menjawab. Kemudian kembali bermanja pada Taehyung yang tertawa di antara dirinya dan Jeongguk.
“Oh, iya,” Taehyung seolah baru saja ingat sesuatu, “Karena besok libur, bagaimana kalau kita pergi piknik ke taman?” Taehyung menyarankan.
“Tidak bisa,” Jeongguk menjawab spontan, membiarkan Taehyung memasang ekspresi sedih, begitu juga dengan Jaehyuk yang langsung bangkit dari posisi bersandarnya, sedangkan dua buah hati mereka yang lain tidak mengerti apa pun.
“Apa Daddy sesibuk itu sampai tidak bisa meluangkan waktu untuk piknik keluarga besok?” kalimat Jaehyuk dipenuhi kekecewaan.
“Kita tidak bisa piknik di taman karena Daddy sudah membeli tiket liburan ke Pulau Jeju untuk tiga hari ke depan,” kalimatnya diakhiri dengan seringai. Seketika, rasa kecewa itu mengilang dari wajah Taehyung dan Jaehyuk. Miya langsung bangkit dari duduknya kemudian berteriak heboh saat mendengar bahwa mereka akan liburan ke Pulau Jeju, sementara Bora yang lugu hanya ikut mengoceh gembira.
Jeon Jeongguk dan Kim Taehyung, mereka telah mendapatkan apa yang mereka mau. Sebuah keluarga kecil yang bahagia dengan anak-anak menggemaskan. Tanpa tekanan, tanpa halangan, dan tanpa perlu peduli pandangan orang lain lagi mengenai perbedaan kasta atau apa pun segala yang berhubungan dengan itu. Mereka benar-benar bebas.
Walau, penyatuan cinta mereka ada dalam dimensi yang berbeda. Karena Jeon Jeongguk dan Kim Taehyung, hanya ditakdirkan untuk satu sama lain.
Selamat datang di rumah.
-THE END-
