Work Text:
Hoseok menggigit pensil di tangannya. Fokusnya sedang tidak pada lembar latihan soal UTBK di hadapannya. Pikirannya melayang pada percakapannya dengan sang ayah di telepon beberapa saat lalu.
“Pulang sekolah ke Panti dulu ya, Dek. Ada yang mau Papa omongin."
“Gak bisa diomongin sekarang aja?”
“Gak bisa. Tolong, ya? Gak lama, kok, Papa mau ngobrol aja.”
Apa sekiranya yang begitu penting hingga Papa mengajaknya berbicara langsung? Tidak biasanya beliau seperti itu. Hal sepenting pengalihan Panti menjadi atas nama Hoseok saja dibicarakan saat sarapan. Apa yang lebih penting dari yayasan dan perusahaan keluarga mereka? Apa ini bersangkutan dengan kuliahnya? Apa Papa menginginkan sesuatu darinya?
Hoseok benar-benar kehilangan konsentrasi, hingga saat Seokjin menepuk bahunya dan mendudukkan diri di sampingnya, ia nyaris melompat kaget.
“Itu latihan soal dikerjain bukan cuma dipelototin doang.”
“Ngagetin lo!” seru Hoseok.
Seokjin memutar bola mata, “Gue udah manggil lo dari pintu kelas, ya. Tapi lo gak nyaut-nyaut, bengoooong aja.”
Mendengus, Hoseok memijat pelipisnya. Seokjin menelengkan kepala heran, “Kenapa deh lo, Hose? Tumben banget ngerjain latihan soal sebegini stresnya.”
“Bukan latihan soal.”
“Terus? Kalau ngomong tuh jangan setengah-setengah, kenapa sih!”
“Bokap ngajak ngobrol.”
Seokjin mengerjap bingung, “Ya udah ngobrol tinggal ngobrol.”
“Masalahnya, Bokap gak pernah ngajak ngobrol secara terang-terangan begini.” Hoseok mengusak rambutnya yang memang sudah berantakan, “Biasanya kalau mau ngobrol ya tinggal ngobrol aja, gak pake direncain."
"Lo mau dijodohin kali."
"Sembarang banget kalau ngomong."
Mengangkat bahu, Seokjin menyengir, "Gue cuma bilang 'kali'. Semua kemungkinan bisa terjadi, 'kan?"
"You're not helping," gerutu Hoseok.
"Emang gue gak niat bantu."
Seokjin terbahak saat mendengar Hoseok mengumpat. Si Jung menggelengkan kepala pening, menaruh asal latihan soal UTBK ke dalam tas, sudah kehilangan minat.
“By the way, Hose, inget ya kalau ada apa-apa, I’m one call away.”
Hoseok mengangguk, “Thanks, bray.”
Bisa dibilang, Hoseok termasuk anak yang beruntung mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya. Di tengah padatnya jadwal mereka sebagai pendiri salah satu perusahaan dan yayasan amal terbesar di Indonesia, Papa dan Mama Jung selalu menyempatkan setidaknya satu minggu sekali untuk menghabiskan waktu bersama Hoseok sebagai keluarga. Papa dan Mama juga bukan tipe orang tua yang banyak menuntut anaknya, hanya dua kali mereka menyuruh Hoseok melakukan sesuatu, yaitu saat Mama memaksanya ke dokter gigi untuk mencabut giginya yang sakit, dan saat Papa memintanya untuk mengelola panti asuhan.
Dan Hoseok sangat bersyukur akan hal itu. Tapi, dilahirkan sebagai anak tunggal dari pasangan pengusaha sukses, berarti juga menjadi satu-satunya pewaris yang akan melanjutkan bisnis keluarga, yang mana tidak diinginkan Hoseok. Ia punya cita-citanya sendiri, dan itu menjadi dilemanya sejak dulu.
Akankah kedua orang tuanya menerima mimpinya? Atau justru mereka keberatan dan menyuruhnya untuk kuliah di universitas dan jurusan yang sudah mereka tentukan? Hoseok takut. Takut hubungannya dengan Papa dan Mama menjadi buruk hanya karena mimpi sederhananya. Takut ia jadi anak membangkang karena memilih mengejar mimpinya ketimbang memenuhi permintaan mereka. Dan takut-takut lainnya, yang hanya bisa Hoseok pendam sendiri.
Maka dari itu, tiap langkah yang membawanya mendekati pintu rumah utama Panti Asuhan Matahari terasa sangat berat. Hoseok takut apa yang akan Papa bicarakan bersangkutan dengan masa depannya.
Tapi, perasaan takutnya tergantikan oleh kebingungan luar biasa begitu Hoseok membuka pintu. Di ruang tengah, anak-anak Panti duduk bergerombol melingkari sesosok pemuda dengan seragam sekolah yang sama dengannya—memangku gitar, dengan rambutnya yang agak panjang terjuntai menutupi sebagian wajahnya selagi ia menunduk guna memetik senar.
Anak-anak bersorak saat nada pertama keluar. Hoseok terdiam, memutuskan untuk berdiri bersandar pada pintu, memerhatikan lagu apa yang hendak pemuda itu bawakan.
Petikan gitar kembali terdengar, diikuti suara berat lembut yang keluar dari bibir kecil pemuda itu. "Bintang kecil di langit yang biru.
Amat banyak menghias angkasa.
Aku ingin terbang dan menari,
jauh tinggi ke tempat kau berada."
Sorakan kembali dilontarkan anak-anak. Lalu kemudian mereka mulai bernyanyi bersama, dengan gitar pemuda itu sebagai musik pengiringnya. Hoseok terpana kala si pemuda menyibak rambutnya, tersenyum lebar hingga gusinya terlihat. Dia terlihat ... indah.
Masih dengan senyum di wajahnya, mata si pemuda menjelajah ruangan. Lalu ketika iris cokelat jernihnya bertemu dengan binar kelam Hoseok, dunia seolah berhenti untuk mereka berdua.
Selama delapan belas tahun hidupnya, Hoseok tidak pernah merasakan hal seperti ini. Perasaan seolah ada kupu-kupu yang berterbangan di perutmu. Rasa ketika dadamu penuh sesak oleh perasaan asing yang menyenangkan. Ketika segala yang otakmu dapat proses adalah bagaimana caranya untuk terus menatap keindahan yang disuguhkan di hadapanmu selama sisa hidupmu.
Hoseok benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kedua bola mata yang berkedip polos itu. Bak tersihir, ia seolah terpaku di tempatnya berdiri saat ini, tanpa menyadari pemuda yang ia tatap dengan intens perlahan merona.
"Umh, hai?" pemuda itu menyapa, membuat beberapa anak menoleh ke arahnya.
"Kak Hobi!"
Hoseok terkesiap saat tiga anak lelaki melompat ke arahnya, bergelendot bak anak koala pada induknya.
"Ah, hai, trio kwek-kwek." Hoseok terkekeh, berjongkok guna meraup ketiganya dalam satu pelukan besar.
"Kak Hobi ke mana ajaaa? Jahat banget baru main sekarang." Bocah dengan pipi paling berisi merengut, terlihat jelas dari matanya bahwa ia betulan merindukan Hoseok.
Hoseok mengusak rambut bocah itu, "Maafin Kakak, ya, Minie? Kakak lagi banyak urusan di sekolah."
"Taetae mau juga."
Hoseok menoleh ke bocah di samping kanan Minie, "Mau apa, Taetae?"
Dengan matanya yang membulat lucu, Taetae menjawab, "Dipatpat Kak Hobi."
Kembali mengembuskan tawa, Hoseok dengan senang hati memenuhi permintaan anak itu. Tangannya mendarat lembut di atas kepala Taetae, mengusaknya sayang.
Taetae menatap satu lagi bocah yang memegang botol susu di satu tangannya, "Kookie mau juga?"
"Mau apa?" bocah itu mengerjap polos.
"Dipatpat Kak Hobi."
"Gak! Rambut Kookie udah di sisir sama Mas Yoonie, udah genteng. Gak boleh dipegang-pegang." Tolak Kookie.
"Ganteng, Kookie, bukan genteng." Suara tawa mengalun lembut dari tengah ruangan.
Ah, pemuda itu. Hoseok mengamati bagaimana ia melangkah ke arahnya, lalu ikut berjongkok di belakang Minie, tepat di hadapan Hoseok.
"Hai, lo Jung Hoseok, ya?"
Demi rumah nanas Spongebob, Hoseok benci sekali jika ada orang asing yang menyebut nama depannya. Ia lebih suka jika orang-orang memanggilnya Jung, memberitahu secara jelas bahwa ada sekat tak terlihat di antara mereka. Tetapi pemuda ini—suara beratnya yang melantunkan nama Hoseok entah mengapa justru membuat jantungnya berdegup cepat.
Tapi untungnya Hoseok bisa mengontrol kalimat yang keluar dari mulutnya, "Iya. Lo siapa?"
Memamerkan senyum gusinya, pemuda itu mengulurkan tangan, "Gue Min Yoongi, salam kenal. Lo mungkin gak tau gue, tapi kita satu sekolah, lho."
"Mas Yoonie!" Minie berseru, bertepatan dengan tangan Hoseok yang menyambut uluran Yoongi.
"Iya, sayang?"
Apa-apaan?! Mengapa Hoseok merasa iri pada Minie yang mendapat ucapan sayang dengan mudah dari Yoongi? Tidak masuk akal.
"Ini Kak Hobi. Kak Hobi galak, tapi baik suka gendong Minie di punggung, hehe. Suka jajanin Minie, Taetae, sama Kookie sosis juga. Mas Yoonie kenalan sama Kak Hobi, ya, Minie mau ajak Kookie sama Taetae ke kamar. Ultraman Cosmos memanggil!"
"Woah," Kookie menganga takjub, "Minie keren bisa dipanggil Ultamen Komos!"
"Itukan Taetae yang ajalin." Dengan senyum jumawa, Taetae menarik lengan kedua temannya, "Ayo, ke kamal! Nanti Taetae sama Minie ajalin Kookie bial bisa dipanggil Ultamen Cosmos juga."
Hoseok tertawa lepas mendengar percakapan ajaib tiga bocah itu, tanpa menyadari jika ia dan Yoongi belum melepas jabatan tangan mereka.
"Umh, H-Hoseok, tangan lo ...."
"O-oh?"
Buru-buru Hoseok melepas tautan tangan mereka, yang sesaat kemudian langsung disesalinya karena ia seolah kehilangan kehangatan yang mengalir dari telapak tangan Yoongi. Yoongi berdeham canggung, satu tangannya berusaha menutupi pipinya yang memerah.
Keduanya berdiri, Hoseok memerhatikan Yoongi yang masih menolak menatapnya. Astaga, menggemaskan sekali. "Lo masih di sini sampe sore nanti?"
"Iya." Jawab Yoongi.
Hoseok mengusap tengkuknya, "Em, sekarang gue harus ketemu Bokap dulu. Tapi kalau lo mau nunggu, setelah itu kita bisa ngobrol."
Sebuah senyum kembali terukir di wajah Yoongi, "Oke. Gue harus nyembunyiin gitar dulu sebelum dimainin sama anak-anak." Ia terkekeh, "Selamat ngobrol sama Om Jung, Hoseok.."
Om Jung? Pikir Hoseok selagi berlalu menuju ruangan ayahnya di lantai dua. Sejak kapan Papa tidak menolak dipanggil Om?
Tapi pikirannya tentang Yoongi mendadak lenyap saat ia sudah berdiri di depan pintu ruangan Papa. Jantungnya kembali bertalu cemas. Hoseok mengetuk pintu, yang dijawab dengan persetujuan sepersekian detik kemudian.
"Duduk, Dek." Ujar Papa begitu Hoseok memasuki ruangan.
Hoseok menelan ludah, mendudukkan diri di kursi di hadapan sang ayah. Di meja yang memisahkan mereka, terdapat berlembar-lembar dokumen kerja yang tergeletak berantakan.
"Mau ngomong apa, Pa?"
Papa menghela napas, memijit pelipisnya. "Belakangan ini Papa sering bawa kerjaan ke Panti. Healing aja gitu kalau denger suara anak-anak. Tapi lama kelamaan udah gak ngaruh, malah jadi makin stres Papa soalnya berisik banget. Trus Papa ada baca artikel, kalau pelihara ikan hias itu bisa ngurangin stres.
"Dan di sini, kan, Adek yang punya Panti. Jadi Papa mau minta izin, boleh gak, Papa beli cupang terus ditaro di sini?"
Hoseok melongo. Ia mengerjap tidak percaya, "Udah? Gitu doang?"
Papa mengangkat alis, mengangguk pelan, "Iya. Emang mau apa lagi?"
"Tau gak sih, Pa?! Adek udah panik mikirin Papa mau ngobrol apa sama Adek. Bahkan Adek udah nyaris percaya kata Seokjin, kalau Adek mau dijodohin."
Bukannya jawaban, justru tawa yang Hoseok dapat dari pria yang lebih tua. "Ngada-ngada kamu tuh. Ngapain juga percaya sama Seokjin, Adek sendiri yang bilang dia anak aneh. Lagian, Papa gak akan jodoh-jodohin Adek. Kalau mau cari pacar, ya, usaha sendiri. Enak banget dong kalau Papa yang capek-capek cariin calon buat Adek, terus kamunya tinggal tunjuk doang mau yang mana."
Hoseok tidak peduli jika Papa mengejeknya, yang terpenting adalah prasangkanya tidak benar. Ia tidak akan dijodohkan, pun tidak—atau belum—akan membicarakan perkuliahan.
"Jadi gimana? Boleh, gak?"
"Adek mah ga masalah, mau Papa naro anakonda juga terserah.
"Ya udah, udah, kan? Hoseok turun, ya, Om."
"Enak aja manggil Om!" hardik Papa.
Tertawa, Hoseok menjulurkan lidah, "Yoongi boleh, masa Adek enggak?"
"Itu khusus Yoongi aja." Papa mengerling, "By the way, berarti kamu udah ketemu Yoongi, ya?"
"Iya udah." Hoseok bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu. "Dan kayaknya ...," ia berhenti sejenak, "Adek suka sama Yoongi, deh, Pa."
Papa mengangkat alis, "Terus apa hubungannya sama Papa?"
Hoseok berdecak, "Ya dukung, kek anaknya. Doain atau apa gitu."
Tawa Papa menguar, "Iya, iya. Sukses, deh, lanang Papa, PDKT-nya."
Sisa sore itu Hoseok habiskan dengan berbagi obrolan bersama Yoongi. Yang mana itu adalah hal baru karena seorang Jung Hoseok tidak pernah sekali pun mau meluangkan waktunya dengan orang asing sebelumnya. Tampaknya Hoseok benar-benar jatuh cinta pandangan pertama pada Yoongi.
Yoongi ternyata satu angkatan dengannya, bahkan kelas mereka bersebelahan. Yoongi bilang jika ia mengenal Hoseok karena pemuda itu sering dibicarakan oleh teman-teman sekelasnya. Mereka sering berpapasan juga di kantin. Tapi yang menjadi pertanyaan Hoseok adalah, bagaimana bisa ia tidak mengetahui eksistensi manusia seindah Min Yoongi?
“Uhh, mungkin karena lo emang cuek orangnya? Gak tau juga, sih, tapi sepenglihatan gue, lo itu gak akan ngeladenin hal yang gak ada kepentingannya sama lo. Dan gue kan …, cuma siswa biasa yang gak populer sama sekali, pun gak ada kepentingan sama lo.”
Uh-oh, sepertinya Hoseok sudah tanpa sengaja menyuarakan pemikirannya. Ia mengerjap, memandang Yoongi yang memerah malu—mungkin karena Hoseok memujinya indah.
Hoseok mengulum senyum, “Gue skeptis banget soal cinta. Gue cuma pernah pacaran satu kali, waktu SMP, itu pun karena kalah truth or dare. Tapi begitu gue liat lo tadi siang, gue rasa gue nemu jawaban kenapa orang-orang jatuh cinta.”
Sekali lagi, demi rumah nanas Spongebob, ini sangat bukan Jung Hoseok. Hoseok tidak pernah mengumbar gombalan manis seperti ini. Jangankan menggombal, sudah lama Hoseok tidak melirik hubungan romantis. Apa yang salah dengan dirinya? Sepertinya Hoseok harus meminta Seokjin untuk menemaninya ke orang pintar, mungkin saja dia kena pelet.
Yoongi mengembuskan napas, mendongak ke langit yang mulai menjingga. Omong-omong, sedari tadi mereka mengobrol di teras belakang rumah utama Panti. Duduk di lantai dengan kaki telanjang yang menginjak rumput yang terpotong rapi, ditemani gelas teh dan stoples biskuit, memerhatikan beberapa ekor burung pemakan nektar yang hinggap di bunga-bunga.
Keduanya terdiam, Hoseok jadi merasa bersalah karena sudah begitu frontal pada orang yang baru sehari dikenalnya. “Sori,” ucap Hoseok, “Lo pasti gak nyaman, ya, gue blak-blakan begini? Gue gak pernah berurusan sama perasaan—jadi gue gak tau gimana handle-nya. Gue selalu ungkapin apa yang ada di pikiran gue, tapi kalau itu malah bikin lo gak nyaman, maaf.”
“Enggak,” sergah Yoongi. “Maksud gue, gue gak keberatan sama cara bicara lo. Gue cuma, uhh, kaget aja. Sebelumnya … gak ada yang pernah secara terang-terangan bilang tertarik sama gue.”
“Are people blind or what. Lo secakep ini, gak mungkin orang-orang gak naksir sama lo.” Tukas Hoseok.
Yoongi—untuk kesekian kalinya hari ini—merona. Ia menggaruk pipinya salah tingkah.
"By the way," gumam Hoseok, "Lo emang sering ke Panti atau gimana? Gue hampir setiap minggu ke sini, tapi baru kali ini ketemu lo."
Yoongi melirik Hoseok, "Beberapa minggu lalu, gue ketemu Taetae di minimarket. Sendirian, gak tau juga gimana ceritanya. Akhirnya gue anter pulang. Sejak itu Taetae minta gue sering-sering main ke Panti. Gitu, deh. Kalau soal kenapa gak pernah ketemu, mungkin emang waktunya gak pernah pas aja."
Hoseok manggut-manggut. Mereka memutuskan untuk tidak memperpanjang konversasi, membiarkan keheningan menyelimuti mereka. Namun anehnya, tidak ada di antara keduanya yang merasa tidak nyaman. Padahal menurut salah satu sumber terpercaya berinisial Kim Seokjin, tidak ada seorang pun—termasuk Seokjin sendiri—yang tahan berdiam-diaman dengan Hoseok dalam waktu yang lama. Aura yang dikeluarkan pemuda itu memang terlalu mengintimidasi, sekali pun saat ia sedang tidak melakukan apa-apa.
Tapi sepertinya Yoongi tidak merasa begitu. Ia memejamkan mata, tampak menikmati angin sore yang cukup sejuk ini. Sementara Hoseok, tanpa merasa perlu menutup-nutupi, memandang Yoongi dengan tatapan memuja.
Nah, mengutip istilah dari film animasi Hotel Transylvania, tampaknya Hoseok sungguhan telah terkena zing.
"What the hell, Jung Hoseok! Demi hidung Squidward, sejak kapan lo sisiran!?"
Hoseok berdecak, memutar bola mata atas tanggapan Seokjin terhadap penampilannya pagi ini. Yah, si Kim itu tidak bisa disalahkan juga, sih. Pasalnya, sepagian ini Hoseok tiba di sekolah dengan rambut yang tersisir rapi menyampir memamerkan dahi, juga seragam yang terkancing rapi, yang mana sangat bukan Jung Hoseok. Hoseok tidak pernah dengan sengaja menyisir rambutnya menggunakan sisir rambut, pun dengan seragam, ia bahkan nyaris tidak pernah memakai dasi. Dan penampilannya saat ia memasuki kelas pagi ini, sangat berkebalikan dengan gaya berpakaian Hoseok biasanya. Tentu saja itu membuat Seokjin melongo keheranan.
“Gila, Jung Hoseok, semalem kejedot tembok mana, lo?” Seokjin menggelengkan kepala.
“Apa, sih, lebay lo.” Hoseok mendengus, “Kayak gak pernah liat gue rapi aja.” Ia mendudukkan diri di kursinya, di sebelah Seokjin.
Seokjin mengerling, “Ya emang gak pernah.” Tukasnya, “Selama ini lo gak pernah sekali pun, gue tekenin, pake bold, italic, dan underline, sekali pun, dateng di atas lima menit sebelum bel masuk. Gak pernah sekali pun mau sisiran—meskipun gue maksa, gak pernah sekali pun ngancingin lengan baju, bahkan lo gak pernah sekali pun pake dasi dan ikat pinggang. Terus hari ini lo dateng dengan penampilan yang berkebalikan dari gaya lo biasanya, dan lo berharap gue gak lebay?!”
Sebelum Hoseok sempat berkilah, Seokjin lebih dulu berseru, “Ayo ngaku, makan berapa beling, lo, semalem?”
“Hah?”
“Lo pasti abis debus, kan, jadinya otak lo keder gini.” Seokjin meraih bahu Hoseok, mengguncangnya, “Ngaku!”
Hoseok menepis tangan Seokjin jengkel, “Sinting, lo!”
“Lo yang sinting! Bokap lo udah kaya, Hose, ngapain lo main debus segala.”
“Gila, lo, Seokjin.”
“Heh, gue—”
“Permisi, ada Jung Hoseok?”
Dan lagi, belum pernah sekali pun Hoseok berdiri dari kursinya secepat ini. Ia nyaris berlari menghampiri pintu kelas, di mana Min Yoongi berdiri dengan canggung, tersenyum kepadanya.
“Hai?” sapa Hoseok begitu tiba di hadapan Yoongi.
“Hai,” balas Yoongi, senyumnya melebar. “Hari ini jadi pulang sekolah ke Panti bareng?”
Hoseok mengangguk, ikut tersenyum. “Yup yup. Kalau kelas lo selesai duluan, tunggu aja di deket mobil biru di parkiran. Satu-satunya mobil biru di sekolah.”
Yoongi menelengkan kepala, “Lho, lo bawa mobil? Bukannya murid gak boleh, ya, bawa mobil ke sekolah?”
“Gak ada yang larang,” Hoseok mengangkat bahu, membuat Yoongi mendengus terhibur.
Ia selangkah mundur dari pintu kelas Hoseok, mengedik singkat ke sisi kiri, “In case lo belum tau, tapi kelas gue sebelah sini.”
Hoseok ber-oh pelan, “Oke. Kalau kelas gue selesai duluan, gue samper lo?”
“Oke.” Yoongi mengangguk, kembali menggaris senyum, “Gue ke kelas dulu?”
“Yeah—oh, wait—” Hoseok menahan tangan Yoongi. Ia mencondongkan tubuhnya, meletakkan hidungnya di pucuk kepala Yoongi, membuat si Min itu berdiri mematung.
“Wangi sampo lo enak.” Gumam Hoseok di antara helai rambut Yoongi. Satu tangannya naik, memegang pipi Yoongi yang tanpa disadari sudah semerah kepiting rebus.
Yoongi mendorong dada Hoseok pelan, mundur dengan salah-tingkah. “Uh—thanks. Gue—gue ke kelas dulu, ya. Bye.” Ia berjalan cepat ke kelasnya, meninggalkan Hoseok yang tersenyum seperti orang gila di depan pintu kelas.
“Nevermind. Bukan debus ternyata, tapi bulol.” Gumam Seokjin di kursinya, memutar bola mata.
Gosip tentang Hoseok yang mencium kepala Yoongi tersebar secepat angin berembus. Banyak yang bertanya-tanya, siapakah gerangan Min Yoongi ini? Sespesial apakah ia sampai-sampai seorang Jung Hoseok yang notabene tidak pernah menunjukkan ekspresi apa pun di sekolah tersenyum lebar dan bersikap impulsif? Apa hubungan keduanya?
“Cuekin aja.” Ujar Hoseok saat melihat beberapa siswa berbisik heboh di sekeliling mereka. Yoongi mengangguk kaku, mengekori Hoseok yang sudah menungguinya sejak bel pulang berdering menuju parkiran.
Hoseok membuka kunci mobil, mengedik mempersilakan Yoongi masuk ke tempat di samping pengemudi. Yoongi membuka pintu mobil, merunduk hendak masuk ketika suara teriakan yang memanggil namanya sayup-sayup terdengar.
“Min Yoongi!”
Seorang pemuda setengah berlari menghampiri tempat Yoongi dan Hoseok berdiri. Satu tangannya menggenggam sebuah buku catatan yang terlihat kumal.
“Notes lo ketinggalan.” Ucapnya, mengulurkan buku catatan yang cepat-cepat disambut Yoongi.
“Uh, thanks, Joon.” Gumam Yoongi, tidak menunggu lama untuk memasukkannya ke dalam tas.
Pemuda itu—Kim Namjoon, mantan ketua OSIS—mengangguk ringan, “Lo hari ini mau ke Panti lagi?”
Yoongi mengiyakan, mengerling pada Hoseok yang sedari Namjoon muncul menunjukkan wajah sepatnya. “Bareng Hoseok. Lo tau, kan, anaknya pemilik Yayasan.”
“Oh?” Namjoon mengerjap, akhirnya menaruh atensi pada Hoseok yang menatapnya masam. “Jung Hoseok. Gue kenal dia. Kita pernah ikut olim bareng, kan, Jung?”
Hoseok tidak menanggapi pertanyaan—atau mungkin bisa disebut percobaan pengakraban diri—Namjoon. Ia hanya menatap pemuda tinggi itu datar, sama sekali tidak berniat membuka mulut.
“Eh,” Yoongi menggamit lengan Hoseok, memberinya isyarat untuk masuk ke mobil. “Oke, gue sama Hoseok jalan dulu, kalau gitu? Bye, Joon!”
Ia meninju bahu Namjoon pelan sebagai salam perpisahan, yang dibalasnya dengan tepukan pelan di pucuk kepalanya. “Dah, hati-hati.”
Setelah beberapa menit, akhirnya mobil yang dikendarai Hoseok keluar dari gerbang sekolah. Hoseok menggertakkan giginya, dadanya bergejolak tidak nyaman. Alarm di kepalanya seolah berteriak jika Kim Namjoon merupakan ancaman. Ia tidak peduli jika Yoongi merasa tertekan dengan aura suramnya, yang ia pikirkan sekarang hanya bagaimana cara menjauhkan Kim Namjoon dari pemuda yang ditaksirnya itu.
Tapi ketika telapak tangan dingin Yoongi membungkus punggung tangan Hoseok di persneling, dan berkata pelan, “Hoseok?” semua perasaan tidak nyaman yang bersarang di perutnya seolah luruh begitu saja. Dadanya seperti kembali lapang, dan pikirannya mendadak kembali rileks.
Astaga, ternyata efek seorang Min Yoongi kepada Jung Hoseok tidak main-main, ya.
“Ya, Yoongs?” Hoseok menghela napas, sedikit tidak percaya kalimat yang keluar dari bibirnya terdengar begitu lembut.
Yoongi tertawa kecil, “Aura lo nyeremin banget, tau. Gue mau ngomong jadi takut.”
“A-ah, iya, kah? Sori.” Ke mana Hoseok yang tadi bilang tidak akan peduli jika Yoongi ketakutan? Sekarang ia justru merasa bersalah karena tidak mengontrol emosinya.
“Gak papa.” Yoongi menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, “Sebenernya gak tau lo perlu tau ini atau enggak, tapi gue cuma mau bilang … kalau gue dan Namjoon itu temen aja. No hard feelings, gue tau kisah percintaan dia, dan gue gak termasuk di dalamnya.”
Tanpa disadari, Hoseok mengembuskan napas panjang. “Makasih udah kasih tau, ya?” ia tersenyum, menoleh sekilas ke arah Yoongi.
Yoongi mengangguk, mulutnya tergaris membentuk senyum. Tidak lama, mereka sudah bisa melihat gerbang utama Panti. Hoseok menghentikan mobil sesaat, menunggu satpam membukakan pintu sebelum kembali melaju ke area parkir Panti.
“Hoseok,” panggil Yoongi.
“Hm?” jawab Hoseok, berkonsentrasi untuk memarkirkan mobil di tempat yang terlindung dari sinar matahari.
“Lo ada pulpen, gak?” tanyanya, “Tempat pensil gue ditinggal di kelas.”
Hoseok memundurkan mobilnya perlahan, “Uh, coba cek di tas gue di jok belakang. Kobok-kobok aja, gue gak pernah pakai tempat pensil soalnya.”
Yoongi menoleh ke belakang, meraih tas punggung hitam kumal yang tampak seperti bertahun-tahun tidak dicuci. Membuka resletingnya, ia hanya menemukan dua buku tulis, beberapa lembar latihan soal UTBK, dan sebuah buku hukum dasar. Kembali memasukkan tangannya, Yoongi akhirnya mendapatkan sebatang pensil yang sudah nyaris sependek kelingking. Mengangkat bahu, tak masalah, itu pun lebih dari cukup.
Resleting tas menutup sempurna bersamaan dengan Hoseok yang menarik rem tangan. Yoongi menulis cepat di notes-nya, lalu kemudian memasukkan kembali pensil ke dalam tas Hoseok.
“Makasih, Hose.”
“Yep,” jawab Hoseok, “Turun, yuk.”
“Oh iya, Hose,” ujar Yoongi sembari melangkah keluar mobil. “Gue tadi gak sengaja liat buku di tas lo, sama soal-soal UTBK juga, lo mau masuk hukum, ya?”
Suara biip pelan menjadi pertanda jika mobil sudah terkunci sempurna. Lalu setelahnya tidak ada yang bersuara. Hoseok mematung di tempatnya, jantungnya bertalu-talu. Mereka berdiri dipisahkan jarak satu mobil, tapi seolah Hoseok bisa merasakan jika Yoongi dapat mendengar jantungnya yang berdebar panik.
“Yoongi, gue … mau cerita, boleh?” Hoseok berkata pelan, menelan ludah dengan susah payah. “Cita-cita gue itu jadi hakim. Sedari SD, dan gak pernah berubah sampai gue legal sekarang ini.”
Yoongi diam, mengerti jika Hoseok belum mau diinterupsi. “Tapi lo tau sendiri, gue anak tunggal. Pewaris satu-satunya perusahaan bokap. Dan tanpa perlu dipikir pun, masa depan gue udah keliatan—nerusin bisnis bokap.
“Yang mana gue gak mau. Gue gak rela ngorbanin cita-cita masa kecil gue cuma gara-gara bisnis keluarga. Jadi gue mohon dengan sangat—
“Tolong jangan cerita ke bokap gue soal ini. Tolong banget, karena gue gak mau bikin masalah cuma karena jurusan kuliah.”
Dari sini, Hoseok bisa melihat mata kucing Yoongi yang perlahan mengerjap. Ia menghela napas panjang, tampak berpikir keras sebelum berkata, “Kita obrolin di dalem aja, yuk?”
Kini, mereka terduduk bersisian di teras belakang rumah utama Panti. Ditemani gelas teh dan stoples biskuit, keduanya menikmati udara yang tidak terlalu gerah.
“Hoseok …,” mulai Yoongi, “Gue gak tau alasan lo gak mau Om Jung tau. Dan gue juga gak memaksa lo untuk ngasih tau gue, itu hak lo. Tapi … kalau gue boleh kasih saran, apa gak sebaiknya lo omongin ini sama orang tua lo? Karena ini bersangkutan sama masa depan lo, Hose.”
Hoseok menyesap tehnya, hangat yang menjalar di kerongkongan serta aroma melati membuatnya rileks. “Sebenernya juga gue gak mau nutup-nutupin gini, Yoongs. Tapi, kayak gue bilang di awal, gue satu-satunya anak mereka, yang jelas megang peluang paling besar buat nerusin bisnis keluarga. Sementara tujuan gue itu fakultas hukum, yang mana cukup bertolak belakang. Kecil kemungkinan gue diizinin kuliah di sana.”
“Kecil kemungkinan, bukan berarti gak ada, kan?” Yoongi mengangkat alis, “Hidup gak harus selalu kayak sinetron, Hose. Beberapa minggu kenal Om Jung, gue cukup yakin beliau orang yang suportif, kok. Apalagi tujuan lo gak salah sama sekali.”
Terdiam, Hoseok melihat ke samping, pada Yoongi yang berbicara tanpa sama sekali menatap ke arahnya. Tersenyum kecil, ia menemukan rasa nyaman pada perkataan Yoongi, suaranya yang menenangkan seolah bersenandung bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yoongi mendengarkan tanpa menghakimi, memberi saran tanpa terkesan menggurui. Dengan Yoongi, Hoseok merasa bahwa semua akan baik-baik saja.
“Yoongi, makasih banyak. Honestly ini pertama kalinya gue cerita soal ini. Bahkan Seokjin pun gak tau. Jadi makasih, udah mau dengerin.” Senyum Hoseok melebar kala Yoongi balik memandangnya, balas tersenyum.
“Sama-sama.” Yoongi mengangguk kecil, “Itu gunanya temen, kan?”
Senyum Hoseok lenyap, “Jadi gue cuma temen lo?”
Yoongi mengerjap salah tingkah, “Ya emang apa?”
“Gue jelas-jelas bilang kalau gue naksir lo.”
“Y-ya terus itu bikin lo bukan temen gue, gitu?”
Hoseok mendengus, “Gak gitu, tapi seenggaknya bisa, dong, gue naik tingkat? Gebetan, kek, atau calon pacar, gitu. Gembel banget temen.”
Ia terkekeh kala Yoongi membuang muka, menghindari Hoseok dari melihat wajah merah padamnya.
Sudah dua minggu ini Hoseok tidak main ke Panti Asuhan. Selain karena sekolah yang mulai mengadakan tryout dan simulasi UNBK, pikirannya juga dipenuhi saran Yoongi dua minggu lalu. Hoseok benar-benar memikirkannya baik-baik, sempat beberapa kali hendak membicarakannya dengan Papa, tapi sepertinya timing-nya kurang pas. Dua minggu disibukkan oleh banyak hal, Hoseok sama sekali belum bertemu Yoongi.
Beberapa kali ia melihat Yoongi di kantin dengan Kim Namjoon. Seringkali memergokinya terduduk di pinggir lapangan futsal, dengan buku tebal di tangannya. Dan jujur, Hoseok sangat-sangat merindukan Yoongi. Merindukan bagaimana suara beratnya menyebut namanya, merindukan tawa renyahnya, merindukan senyum gusinya, merindukan ekspresi salah tingkahnya, merindukan Min Yoongi seluruhnya.
Hoseok menatap langit-langit kamar, mengembuskan napas keras. Ini hari sabtu, kemarin malam akhirnya ia memberanikan diri berbicara dengan Papa. Dan ternyata—perkataan Yoongi benar. Papa justru mendukungnya, sama sekali berkebalikan dari apa yang selama ini Hoseok takutkan.
Bahkan ketika Hoseok menyuarakan isi pikirannya, Papa berkata, “Masa depan Adek itu pilihan Adek, tanggung jawab Adek. Papa cuma bisa dukung, dan mendoakan yang terbaik. Kalau Adek musingin siapa yang bakal lanjutin bisnis keluarga nanti, kalau Adek mau Adek bisa. Gak harus jadi sarjana manajemen, asalkan Adek mampu dan Adek mau. Kalaupun enggak, Papa yakin salah satu karyawan Papa akan jadi penerus yang bagus.”
Memang benar kata pepatah, you’ll never know if you never try. Ketakutan Hoseok sama sekali tidak bedasar.
Hati Hoseok sekarang menjadi jauh lebih ringan. Beban di pundaknya seolah berkurang, membuatnya jauh lebih rileks. Dan sekarang yang ia butuhkan adalah menghubungi Yoongi, mengajaknya bertemu. Namun sialnya, ia tidak punya kontak Yoongi. Memang dasar Jung bodoh Hoseok, ia sama sekali tidak kepikiran meminta kontak Yoongi kemarin-kemarin. Sekarang justru ia galau berat.
“Kim Seokjin.”
“Ini beneran Jung Hoseok?”
Akhirnya Hoseok putuskan menelepon Seokjin, satu-satunya orang yang berada di kontaknya selain Papa, Mama, dan kepala pelayan rumah.
“Ya iya, gue. Lo pikir siapa? Kuyang?”
“Kuyang mana bisa megang hape.”
“Ya makanya.”
Meskipun tidak dapat melihatnya, Hoseok yakin seratus persen Seokjin tengah memutar bola mata. “Lo itu nelepon gue cuma pas dua keadaan; minjem PS dan minta tolong. Jadi yang mana sekarang?”
“Minta tolong.”
“Soal Min Yoongi?”
“Hehe.”
“Jangan ketawa, plis. Serem.”
“Hehehehehehehe.”
“Yeeee, setan.”
Hoseok berdecak, “Lo niat gak, bantuin gue?”
“Apaan, ya ampun?! Lo bahkan belum bilang gue harus bantu apa?”
“Lo punya kontak Min Yoongi?”
Hening sesaat, “Lo satu setengah bulan ini main terus sama dia dan sama sekali gak punya kontaknya?”
“Gue lupa,” alibi Hoseok, “Lo tau gue kebiasaan gak pernah simpen kontak orang, kontak di hape gue cuma empat.”
“Hadeeeeh, ribet deh, lo.” Terdengar suara grasak-grusuk dari seberang sana. “Gue punya kontak Kim Namjoon, temennya Min Yoongi. Gue tanyain dulu, ya.”
“Cepet.” Desak Hoseok.
“Sabar, buset, belum sedetik.” Gerutu Seokjin. Tidak lama kemudian ia kembali berucap, “Nomornya lagi gak aktif, pesan gue belum dibales.”
Hoseok mengumpat, yang langsung diprotes oleh Seokjin. “Ngomelnya jangan ke gue, dong!”
“Sori, sori.” Hoseok menghela napas, “Lo telepon, deh, coba.”
“Gak mau.” Tolak Seokjin, “Sabar, sih, nanti juga dibales.”
“Lamaaaa,” rengek Hoseok, “Gue maunya sekarang, Seokjiiiiin.”
“Asli, deh, Hose. Semenjak kenal Yoongi lo jadi aneh.” Komentar Seokjin, “Gue lebih milih lo yang irit ngomong, berantakan, selalu masang muka jijik, daripada bucin ekspresif alay kayak gini.”
“Bilang aja lo iri, jomblo.”
“Yeee lo juga jomblo.”
“Gue bakal jadi pacar Yoongi.” Sahut Hoseok percaya diri, “Pegang omongan gue, nih, ya. Kalau bulan depan gue masih belum jadi pacar Yoongi, gue bakal roll depan di lapangan upacara.”
“GUE RECORD OMONGAN LO, YA.” Hoseok refleks menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar teriakan Seokjin. “Semoga bulan depan lo belum jadi pacar Yoongi. Kalau perlu Yoongi nolak lo, biar malu sampe buyut.”
“Sialan mulut lo.” Umpat Hoseok, “Amit-amit.”
Lalu akhirnya, setelah perjuangan darah, keringat, dan air mata (?) yang Hoseok kerahkan, ia berhasil mendapatkan kontak Yoongi. Dan di sini lah mereka akhir pekan ini, duduk berhadapan di McDonald’s terdekat, ditemani french fries, burger, dan beberapa menu lain, mengobrol ringan.
“Makasih udah bikin gue berani ngomong sama bokap. Lo bener, bokap gue justru mendukung banget gue milih hukum. Makasih banyak,” ujar Hoseok tulus.
Yoongi tersenyum lebar, “Sama-sama. Tapi makasih ke diri lo juga, karena lo akhirnya berani.”
Astaga, Hoseok tidak menyangka ia serindu itu dengan Min Yoongi. Mereka mengobrolkan banyak hal, mulai dari persiapan UNBK hingga seremeh siapa yang mencomot kentang lebih banyak. Musik yang diputar berganti, kali ini Tiba-tiba Cinta Datang oleh Maudy Ayunda menjadi yang terpilih.
“Tau, gak, sih?” kata Hoseok tiba-tiba. “Lagu ini gue banget.”
Yoongi berkedip, menyelipkan sepotong spicy bites ke dalam mulutnya. “Kenapa gitu?”
Hoseok mengangkat bahu, “Ya karena ini menggambarkan perasaan gue ke lo.”
Jika ia tidak mengontrol diri, bisa dipastikan Yoongi sudah tersedak. “M-maksudnya?”
“Yoongi …,” Hoseok menggelengkan kepala, “Gue udah bilang, kan, kalau gue naksir sama lo? Dan itu bukan bercandaan. Oke, mungkin kedengerannya begitu karena kita belum lama kenal, tapi gue serius. Gue beneran suka sama lo.”
Hening. Yoongi memalingkan wajah, “Apa … kenapa lo suka gue?” tanyanya pelan.
“Kenapa enggak?” Hoseok mengangkat bahu. “Lo ganteng, cantik, manis, baik, pinter, talented, mandiri, sayang anak-anak. Mungkin lo gak sempurna, tapi gue suka lo apa adanya.”
Tampaknya Yoongi menyesal telah bertanya, karena sekarang malah ia yang dibuat salah tingkah.
“Uhh, Taetae nanyain lo mulu, tuh. Katanya, ‘Kak Hobi kapan main ke sini lagi? Taetae kangen.’”
Hoseok tertawa, “Salah tingkah lo gemes banget, sih.”
“Diem,” cicit Yoongi.
“Tapi masalahnya,” tawa Hoseok terhenti, “Lo suka gue juga atau enggak?”
Yoongi terlihat ragu. Ia hendak membuka mulut, tetapi Hoseok lebih dulu menyela. “Gini, Yoongs. Dari awal gue selalu bilang gue naksir lo, bilang gue mau jadi pacar lo. Tapi gue gak pernah nanya, lo nyaman, gak, sama perlakuan gue yang blak-blakan gini? Lo punya rasa yang sama, gak, kayak yang gue rasain? Karena kalau lo risih dan gak suka, Yoongi, gue gak akan maksa.
“I used to get everything I wanted. And now I want you, but if you don’t let me to, I’ll stop here. Gue gak akan jadi berengsek cuma buat maksa lo untuk mau sama gue.”
Keduanya terdiam. Hoseok menatap Yoongi, jauh ke dalam matanya. Mata jernih yang memantulkan binar cantik. Sekali lagi, dunia seolah berhenti untuk mereka. Keduanya terhanyut pada pandang manik satu sama lain. Dan lagi-lagi, Hoseok selalu bisa menemukan hal yang dapat dipujanya dari paras seorang Min Yoongi.
“Gue … bakal coba.” Kata Yoongi tiba-tiba, “Buat—you know, suka sama lo.”
Ia menundukkan kepala, memainkan jemarinya. Hoseok harus menahan diri agar tidak menyalak kegemasan.
“Sejujurnya, gue tertarik sama lo. Dari lama—maksudnya, siapa, sih, yang gak tertarik sama The Jung Hoseok? Lo tuh atraktif banget, gak boong. Tapi kalau suka, gue … belum tau.” Yoongi mengangkat kepalanya, sedikit tersipu kala menyadari sedari tadi mata Hoseok hanya melihat ke arahnya. “Kalau lo mau, kita bisa coba bareng-bareng.”
Hoseok mengernyit, “Ya mau, lah, nanya lagi lo!” serunya, tak ayal membuat Yoongi terkekeh.
“Kita coba mendalami satu sama lain, ya. Lebih mengenal masing-masing,” ujar Hoseok yang diangguki Yoongi.
Keduanya bertukar senyum, dan Hoseok kembali merasakan puluhan kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.
“Zing itu beneran bahaya, ya.” Adalah kalimat pertama yang Kim Seokjin ucapkan padanya saat Hoseok memasuki kelas.
Ia mengangkat sebelah alisnya, dengan malas duduk di samping Seokjin.
“Bisa bikin kanebo kering kayak lo senyum-senyum kayak orang gila.” Serunya. “Dan lagi, gue menyayangkan Yoongi yang kejebak sama modelan lo. Harusnya dia nolak lo aja, biar lo roll depan.”
“Emang temen sialan lo—“ sebuah kepala yang nongol dari pintu kelas mengentikan umpatan Hoseok. Seperti deja vu, Min Yoongi berdiri di depan kelasnya, namun kali ini senyum gusinya terlihat manis.
Hoseok buru-buru berdiri, hendak menghampiri Yoongi, tetapi si Min lebih dulu memberi isyarat untuk tetap duduk di tempatnya.
“Best luck for today,” Hoseok membaca gerak bibir Yoongi, “See you at lunch break!”
Demi rumah nanas Spongebob, tidak ada lagi yang lebih baik selain mendapat ucapan semangat dari Min Yoongi setiap hari. But only Jung Hoseok can relate.
