Work Text:
“... bagun atau aku siram pake kopi?”
Seokjin mengintip dari balik bulu matanya, terkekeh kala mendapati Yoongi yang berkacak pinggang di tepi ranjang. “Jam berapa?” tanyanya dengan suara serak, tanpa perlu repot-repot bergerak dari posisinya saat ini.
“Jam setengah tujuh.”
“Masih tengah malem?!”
“Tengah malem nenekmu salto! Udah pagi, ayo bangun! Kamu janji, lho, kita bakal berangkat jam delapan pagi.”
Mengerang keras, Seokjin menggeliat, merenggangkan otot paginya setelah tidur malam yang nyenyak. Selimut jatuh ke pangkuannya saat ia mendudukkan diri, memamerkan tubuh atasnya yang tak terbalut apapun.
Yoongi berjalan mendekat, mendudukkan diri di pangkuan Seokjin yang matanya masih setengah terpejam. “Aku udah bikin sarapan, udah siapin bekel juga. Kamu tinggal mandi, terus kita jalan.”
Tertawa pelan, Seokjin melesakkan wajahnya di perpotongan leher Yoongi, kedua tangannya memeluk pinggang yang lebih kecil dengan erat. “Kamu nyuruh aku mandi tapi malah dipangku, gimana.”
“Ya udah gini dulu bentar. Aku kangen kamu.” Ujar Yoongi, mengusap-usap rambut legam Seokjin yang selalu kusut setiap pagi.
“Lebay, deh. Kita ketemu terus, kok, dua empat per tujuh. Bisa-bisanya ngomong kangen.” Seokjin mendengus, suaranya teredam kulit Yoongi, sebab ia berbicara sambil mengecupi leher tunangannya itu.
Yoongi terkekeh, menggeliat geli karena kecupan Seokjin tiba di area sensitifnya. “Aku kangen kamu tiap hari, tau. Tiap jam, tiap menit, tiap detik, bahkan walaupun kita sebelahan, aku masih kangen kamu. Sekarang aja aku kangen kamu. Kaaangeeeen banget.”
“Duh, licin banget sih, mulutnya. Minta disetrika.”
“Kok disetrika, sih!?” Yoongi terpingkal, “Diciumin, dong, aturan. Gimana, sih, pacarnya punya bibir bukannya dicium malah disetrika.”
“Tunangan, Gi. Stop calling yourself pacar, duh. Udah setahun juga, masih aja.” Koreksi Seokjin. Dirinya tidak akan pernah bosan menegaskan fakta bahwa Yoongi adalah tunangannya, tidak akan pernah. Sebanyak apapun Yoongi salah berucap, sebanyak itu pula Seokjin akan membetulkan, sampai saat mereka mengucap sumpah sakral di altar, tidak lama lagi.
“Iya tau,” dari suaranya, Seokjin seratus persen yakin Yoongi memutar bola mata, “Tapi males, panjang. Enakan ngomong pacar.”
“Ngeyel,” Seokjin menggigit bahu Yoongi main-main, membuat empunya berjengit. “Terserah deh ya, yang penting aku sayang kamu.”
“Kan, ngalus, kan.”
“Gantian, lah, tadi kamu udah ngalusin aku.”
“Gak mau kalah banget Bapaknya.” Cibir Yoongi, tapi bisa dipastikan senyum tersungging di wajahnya.
Seokjin mengangkat wajahnya, tersenyum lebar mempertemukan dahinya dengan milik Yoongi. “Iya dong, Pak, jadi orang harus kompetitif.”
Ia mendekatkan wajahnya—yang sebenarnya sudah tidak berjarak—ke Yoongi dan mempertemukan bibir mereka. Sebuah ciuman selamat pagi yang lembut, cenderung malas, dengan mata yang terpejam dan tangan saling merengkuh. Seokjin meleleh dalam ciumannya, merasakan bibir tipis Yoongi di atas bibirnya, hidung mereka yang saling bergesekan, napas Yoongi setelah napasnya. Jikalau bisa, Seokjin ingin sekali menghentikan waktu, membiarkan ciuman ini bertahan selamanya, ketika mereka hanya berdua, ketika ada Yoongi dalam dekapannya.
Tetapi hidup tidak selalu berjalan seperti apa yang kau mau. Waktu terus melaju, dan mau tidak mau, Seokjin menarik diri. Ia membuka mata, mendapati Yoongi yang tersenyum manis dengan pipi meronanya.
“Cantik.”
Seokjin tidak pernah meniatkan kata itu keluar dari bibirnya. Ia hanya ingin memuji dalam hati, mengagumi sosok lelaki yang sudah menemaninya sejak enam tahun silam. Tapi bahkan sepertinya mulutnya pun tahu, jika Yoongi layak mendapat seluruh pujian di dunia ini (baca: atau singkatnya, Seokjin bucin).
Senyum Yoongi melebar, “I know, thank you.”
“Cacar bintik-bintik.”
Yoongi mendelik, “Tau ah, males. Bye!”
Seokjin terbahak, mengencangkan pelukannya pada pinggang Yoongi hingga mereka berdua kelihangan keseimbangan dan jatuh terbaring di kasur.
“Bercanda, sayang.” Seokjin memberi satu kecupan basah di pucuk hidung Yoongi, “Kamu cantik. Beautiful. Pretty. Gorgeous. Stunning. Magnificent. At—“
“Nyenyenye, dasar buaya.”
“Muji beneran lho, aku. Kok dibilang buaya?”
Yoongi mengerling, “Iya deh, kamu juga ganteng.”
Seokjin tersenyum lebar, “Hehe, makasih say—“
“Gajah tenggelem.”
Senyum Seokjin lenyap secepat itu datang. Kini, gantian Yoongi yang tergelak.
Setelah sekian puluh drama sebelum berangkat, akhirnya Mazda hitam berusia tiga tahun itu keluar dari pekarangan rumah pada pukul delapan lewat lima belas (“Kan, kamu sih bangun tidur gak langsung mandi.” Omel Yoongi, yang dibalas Seokjin dengan seruan, “Lho, kamu yang nahan aku di tempat tidur!”).
Dengan kaus putih, kemeja biru tidak dikancing, dan celana jins pudar, Seokjiin memegang kemudi. Sementara Yoongi duduk di sebelahnya, memerhatikan suasanya jalan yang ramai lancar.
Seokjin melirik ke kanannya, mendapati pemandangan berupa sisi samping wajah Yoongi. Rahang tajam serta pipi mulusnya tersapu lembut oleh sinar matahari, membuat Seokjin tanpa sadar menahan napas. “Gi sayang,” panggilnya.
“Hemmmm.”
“Kamu jangan madep jendela gitu, dong. Liatnya ke aku aja.”
“Siapa lo ngatur-ngatur?”
Tawa Yoongi pecah kala Seokjin mengerang kesal, “Kamu kalo madep jendela mukanya kena sinar matahari, jadi makin ganteng. Kalo kamu makin ganteng, nanti aku gak bisa fokus nyetir.”
“Bisa banget mulutnya minta disemen.”
Seokjin terkekeh, “Jodoh kan cerminan diri. Kamu ngalus ya aku bales ngalus, lah.”
Yoongi hanya memutar bola mata, seulas senyum timbul di wajahnya. “Udah, nyetir yang bener kamu. Mau sarapan gak?”
Anggukan Seokjin membuat Yoongi mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas piknik yang disimpannya di kursi tengah mobil, menyuapkan beberapa potong roti lapis pada Seokjin sembari ia mengunyah jatahnya sendiri.
Kira-kira setengah jam kemudian, mereka sampai di taman bunga di pinggir kota, destinasi piknik kali ini yang sudah direncanakan keduanya sejak bulan lalu. Merupakan sebuah kemewahan bagi keduanya untuk memiliki waktu luang dengan satu sama lain. Kedudukan Yoongi sebagai salah satu kepala divisi kantornya serta kesibukan Seokjin sebagai pemilik suatu restoran terkadang menyulitkan keduanya untuk memiliki waktu berkualitas berdua. Maka ketika mereka punya kesempatan, keduanya tidak akan berpikir dua kali untuk pergi sekadar mencari angin berdua.
Menggelar tikar di rerumputan antara petak bunga-bunga, Seokjin dan Yoongi mendudukkan diri. Ditemani angin semilir serta dengung percakapan wisatawan lain, keduanya mengobrol santai. Membahas banyak hal, mulai dari token listrik, barang-barang yang harus dibeli saat belanja bulanan nanti, hingga topik se-random apakah semut bisa tersenyum dan mengapa ular tidak punya sayap.
Yoongi memerhatikan Seokjin yang tengah menyibak rambutnya yang sudah menutupi tengkuk. “Rambutmu udah mulai gondrong, ya. Besok ke salon bareng, yuk.”
“Gak mau, ah.” Tolak Seokjin, “Aku mau panjangin rambut.”
“Ya udah terserah,” Yoongi mengangkat bahu, “Tapi temenin besok aku mau potong rambut.”
“Okeee siap.”
Yoongi menidurkan kepalanya di paha Seokjin, membiarkan tunangannya itu bermain-main dengan rambutnya. Sesekali mengecupi pipinya, lebih banyak memuji aroma sampo Yoongi—padahal itu sampo yang sama yang selama ini selalu dipakainya.
“Seokjin,” panggil Yoongi. Seokjin berdeham. Dari atas sini, ia tidak akan pernah bosan memandangi Yoongi yang berbaring di pangkuannya. Matanya yang menerawang memandangi warna-warni bunga, hidung kecilnya yang mengkerut geli tiap kali Seokjin mengusap belakang telinganya, bibir merah muda tipisnya yang tanpa sadar ternganga kecil, juga alisnya yang menekuk tipis saat ia entah tengah memikirkan apa.
“Seokjin,” ulang Yoongi.
“Apa, Gi sayang?” sahut Seokjin. Yoongi menggeser kepalanya, mencari posisi yang pas untuk bisa menatap Seokjin tepat di matanya.
“I love you.” Ungkapnya.
Seokjin tersenyum, membungkuk guna mengecup lembut bibir Yoongi, “I love you too. You know I always do.” Masa bodoh dengan pasang mata lain yang bisa memerhatikan kapan saja, yang Seokjin mau hanya waktu berhenti untuk sementara. “Hari ini kamu banyak banget confess-nya. Tadi bilang kangen, sekarang love you.”
Yoongi menyentuh pucuk hidung Seokjin dengan ujung jarinya, “Pengen kamu tau aja kalo Min Yoongi sayaaaang banget sama Kim Seokjin.”
Enam tahun bersama, Kim Seokjin selalu berhasil dibuat jatuh cinta pada setiap hal yang dilakukan Min Yoongi. Enam tahun bersama, Kim Seokjin tidak pernah bosan mengingatkan pada dunia betapa berharganya Min Yoongi baginya. Enam tahun bersama, Kim Seokjin menyadari jika Min Yoongi adalah bahagianya. Enam tahun, dan Seokjin harap hitungannya tidak akan berhenti sampai di situ.
Seokjin kembali mempertemukan bibir mereka, menyecap manis dari apel yang belum lama habis dimakan Yoongi.
“I love you. Sama-sama aku terus, ya, Gi?”
“I will.” Yoongi mengulum senyum.
“Janji gak akan pergi?”
“Janji.”
Pagi ini Seokjin dikejutkan oleh suara alarmnya yang bergema di seluruh kamar. Membuatnya terbangun dengan jantung bertalu-talu, setengah linglung mencari-cari letak ponselnya guna mematikan suara yang memekakkan telinga itu.
Mengusap wajah kasar, Seokjin meraba sisi kiri tempat tidurnya. Tempat yang awalnya ia dan Yoongi perebutkan (karena paling dekat dengan kamar mandi, dan mereka adalah tipe orang yang harus ke kamar mandi setiap pagi), yang kini menjadi sisi di mana Yoongi tidur. Kosong. Seokjin menengok, memfokuskan matanya, ia mendapati tidak ada siapa pun yang menempati sisi kirinya.
“Yoongi?” panggilnya dengan suara serak, mengerjap pelan.
Tidak ada sahutan. Seokjin menyibak selimut, tubuh tanpa atasannya menggigil kecil akibat pendingin ruangan yang belum dimatikan. Ia melangkah menuju kamar mandi, membuka pintunya namun tidak menemukan sosok yang dicari.
“Yoongi sayang?” Seokjin kembali berseru.
Ia mengambil ponselnya yang tergeletak sembarangan di atas kasur, menemukan jika hari ini adalah hari Senin, pukul setengah sembilan pagi.
Seokjin mendesah pelan, “Dia pasti udah ke kantor. Kenapa gak bangunin, coba.”
Begitu mengetahui jika hari ini tidak ada yang mengharuskannya untuk ke restoran, Seokjin mengerang keras, merenggangkan otot-ototnya sebelum meraih handuk, memutuskan untuk mandi. Ia menduga jika Yoongi meninggalkan secarik notes di dapur sebelum berangkat, yang berisi omelan singkat tentang Seokjin yang sulit dibangunkan pagi-pagi serta pengingat untuk tidak melewatkan sarapan.
Lima belas menit kemudian Seokjin keluar kamar mandi, mengambil kaus serta celana dari lemari lalu memakainya dengan cepat—perutnya mulai meronta kelaparan. Ia sudah memikirkan alasan apa yang akan ia kirimkan pada Yoongi ketika mendapati suara berisik dari dapur.
“Yoongi? Kamu gak ke kan—lho, Namjoon?”
Di dapur rumah Seokjin, dengan apron hitam terikat berantakan di pinggang, Kim Namjoon tengah berusaha memotong bawang dengan pisau terbalik. Penggorengan entah bagaimana tergeletak di lantai, minyak berceceran di sekitar kompor, dan ada potongan tempe di dalam kotak teh.
Seokjin mengerang, “Kim Namjoon, lo apain dapur gue!?” ia bergegas merebut pisau dari tangan adiknya itu, mengacungkannya tepat di depan hidungnya hingga si Kim yang lebih muda mundur selangkah.
“S-sori, Mas, gue pengen bikin sarapan. Niatnya mau bikin nasi goreng tempe tapi malah jadi gini.” Namjoon menjilat bibirnya bersalah, menatap sang kakak takut-takut.
Menghela napas, Seokjin mengisyaratkan Namjoon agar duduk di meja makan. “Untung gue yang mergok lo. Kalo Yoongi tau, abis lo digantung sama dia.” Seokjin meraih penggorengan di lantai, meletakkannya di atas kompor lalu menyalakan apinya. Menuang sedikit minyak ke atasnya kemudian mulai memotong-motong bawang serta sisa tempe yang berhasil selamat dari tangan Namjoon.
“Dari kapan lo di rumah?” tanya Seokjin, memasukkan bawangnya ke penggorengan.
Namjoon terdiam sesaat, “Gue nginep dari semalem.”
Seokjin mengerutkan alis, “Oh ya? Gue gak inget. Lo tidur di kamar tamu, kan?”
“Iya,” angguk Namjoon, mengeluarkan potongan tempe dari dalam kotak teh—ia sendiri bertanya-tanya kok bisa. “Wajar lo lupa, Mas. Umur.”
“Sialan,” Namjoon terkekeh mendengar umpatan Seokjin, “Kita cuma beda dua tahun, ya, curut.”
Seokjin fokus pada masakannya, membiarkan Namjoon asyik dengan pikirannya sendiri. Tidak sampai lima belas menit mengaduk-aduk penggorengan, dua piring nasi goreng tempe ala kadarnya berhasil Seokjin hidangkan ke tengah meja makan.
“Taehyung gak ke sini?” Seokjin menyuap sesendok penuh nasi goreng, menanyakan bungsu mereka.
Namjoon menggeleng, “Dia, kan, lagi ke Singapura. Balik besok Sabtu.”
Mengangguk pelan, Seokjin meringis, “Kepala gue pusing, Nam. Gara-gara kaget dibangunin alarm kali, ya.”
“Mungkin.”
Seokjin memicingkan mata, memerhatikan sang adik yang mengunyah makanannya dalam diam, “Lo kok diem, sih? Aneh.”
Namjoon menggeleng, menatap Seokjin tepat di matanya. “Mas,” panggilnya.
“Apa?”
“Lo lu—“
“Oh iya,” sela Seokjin, “Yoongi nitip pesen atau apa gitu, gak, ke lo? Dia belum nge-chat gue dari tadi.”
Namjoon berjengit, wajahnya jelas terlihat gugup.
“Dari tadi gue perhatiin juga gak ada notes di mana-mana.” Ia mengangkat alis, “Apa dia lupa, ya? Tapi masa, sih?”
Menghela napas bergetar, Namjoon meraih telapak tangan Seokjin di atas meja. “Mas,” ucapnya pelan.
Jantung Seokjin berdegup cepat, merasakan kegugupan Namjoon tersalur dari tangan dinginnya. “Iya, Nam?”
“Mas ... lupa, Mas Yoongi udah gak ada?”
Seokjin merasa makanan yang baru saja masuk ke perutnya memberontak minta dikeluarkan, “Apa ... maksud lo?” katanya pahit, “Yoongi pergi ke mana? Ikut Tae ke Singapura, kah? Atau dinas?”
Namjoon menggeleng, “Mas,” bisiknya dengan suara pecah, “Mas Yoongi udah gak ada. Mas Yoongi udah pamit, buat tidur panjang.”
Seokjin merasa mual, “Lo nge-prank-nya gak lucu, Nam. Gue jejelin bakso tikus, ya.”
“Mas—“
“Gak, Nam.”
“Mas Seokjin,”
“Nam, please.”
“Mas ....”
Air mata Seokjin tumpah. Ia menutup mulutnya dengan tangan gemetar, “Nam ....”
Namjoon bergegas ke samping sang kakak, merengkuh Kim yang lebih tua ke dalam pelukan.
“Nam, gue kemaren piknik sama Yoongi.” Seokjin terbatuk, setiap embusan napasnya terasa seolah ada paku berkarat yang digoreskan ke jantungnya. “Kita ke taman bunga, Yoongi tiduran di paha gue. Kita makan apel, makan stroberi, makan roti selai kacang. Dia bawa infuse water lemon, Nam.”
Pelukan Namjoon mengerat, “Maaf, Mas, gue minta maaf.”
“Kemaren dia bilang kangen gue, Nam. Dia bilang ‘I love you’ ke gue.” Napas Seokjin terasa sangat berat, tangannya meremas kencang tepi kaus yang dikenakan Namjoon, air matanya merembes ke bahu sang adik.
“Mas ...,” suara Namjoon tercekat, mungkin ia juga menangis. “Kalian ... kalian pergi piknik enam bulan lalu, beberapa minggu sebelum Mas Yoongi pergi.”
Seokjin menggeleng kuat-kuat, “K-kemaren, Nam. Yoongi gak pergi, dia udah janji buat gak pergi. Kemaren dia cium gue, gue masih bisa rasain bibir dia di bibir gue, Nam, Yoongi gak mungkin—“
Napas Seokjin tersendat, “Yoongi janji buat gak pergi, Nam.”
“Maaf, Mas.” Namjoon menarik napas dalam, “Lo masih terlalu kaget, ya, sama semua ini? Gue minta maaf, ya? Kehilangan Mas Yoongi pasti berarti banget buat lo sampe-sampe otak lo selalu nolak fakta itu.”
Tangisan Seokjin terdengar sangat pedih, mengiris hati Namjoon yang sekuat tenaga mengontrol dirinya agar tak ikut histeris.
“Dia janji sama gue, Nam.”
“Iya, Mas, gue tau.”
“Tapi—tapi dia juga yang ingkarin janji itu.” Kepala Seokjin pening, sekelebat memori tentang rumah sakit yang ramai, brankar berisikan Yoongi yang terbaring lemah didorong beberapa perawat menuju IGD muncul, membuat air matanya semakin tak mau berhenti.
“Seokjin, aku takut.” Bisik Yoongi kala itu, dengan wajah pucat dan napas yang terputus-putus.
Seokjin mengecup keningnya, berusaha tersenyum meski tak ayal ia pun dilingkupi ketakutan. “Semuanya bakal baik-baik aja, ya? Percaya sama aku, kamu pasti bisa. Aku bakal selalu di sini sama kamu, aku gak akan pergi.”
Dan ketika pintu IGD terbuka di hadapannya, memunculkan dokter yang membungkuk dalam-dalam padanya, saat itu pula dunia Seokjin seolah runtuh.
“Pasien Min Yoongi, 9 Maret pukul sepuluh tiga belas malam. Kami turut berduka cita atas kehilangan yang Anda rasakan.”
“Mas ...,” Namjoon mengusap punggung Seokjin, berusaha menenangkan.
“Jantung pasien berhenti berdetak pada menit kesepuluh. Kami sudah mengusahakan yang terbaik namun sepertinya Tuhan lebih sayang padanya.”
“’Mengusahakan yang terbaik’ Anda bilang? Kalau Anda sudah mengusahakan yang terbaik, seharusnya Yoongi selamat! Seharusnya dia hidup, seharusnya ...” Seokjin tergugu, berdiri lemah dengan tangan bertumpu pada dinding rumah sakit.
“Pihak Rumah Sakit meminta maaf atas duka yang Anda rasakan.”
Seokjin mengais napas, “Ini gak bener, kan? Iya, kan? Gue abis nonton film sad ending jadinya kebayang-bayang, iya gitu. Gue jadi emo terus halu, maaf, Nam.” Ia tertawa sumbang, melepas pelukannya.
Namjoon menatapnya iba, “Mas ... this is reality. Mas Yoongi udah gak ada. Akhir-akhir ini lo selalu lupa, setiap pagi nangis histeris. Ikhlasin ya, Mas? Gue gak tega liat lo begini.”
Wajah Seokjin memerah, matanya sembap, dan ia merasa pusing luar biasa. Ia menggeleng, “Dia janji, Nam ....” Ujarnya lemas.
“Mas Yoongi mungkin udah pergi, tapi dia selalu ada di sini, kan?” Namjoon menyentuh dada Seokjin, merasakan detak cepat jantungnya. “Dia selalu sama lo. Di setiap napas lo, di setiap kenangan yang lo buat sama dia, lo hanya perlu pelan-pelan ikhlasin, ya? Katanya, kalo kita doain orang yang udah pergi, doa itu bakal dikirim ke atas sana. Lo nangisin Mas Yoongi mulu, mau kirim dia apa? Banjir bah?”
Seokjin mendengus, sedikit terhibur dengan candaan tidak bermutu adiknya. “Gue juga capek, Nam, nangisin dia terus. Tapi Yoongi itu cinta gue, napas gue, jantung gue. Gak ada Yoongi sama aja gue mati.”
Ia memejamkan mata, suara Yoongi serasa menggema di pikirannya.
“Seokjin ....”
“Seokjin.”
“Seokjin.”
“Seokjin!”
Seokjin tersentak bangun. Jantungnya mencelos. Di hadapannya, Yoongi mencondongkan diri dari balik kemudi, menatapnya dengan cemas.
“Seokjin, sayang, hei, kamu gak papa?” Yoongi meraih satu pipinya, mengusap setitik air mata yang jatuh. “Kamu selama tidur nangis, mimpi buruk?”
Jantung Seokjin mencelos, ingatannya akan mimpi barusan kembali ke permukaan. Yoongi pergi .... Yoongi pergi meninggalkannya ....
“Yoongi,” jari tangannya dengan gemetar mengejar jemari Yoongi, membungkusnya dalam genggaman. “Yoongi.”
Yoongi menangguk kuat-kuat, “Iya, Seokjin, aku di sini. Aku di sini, gak akan ke mana-mana.”
“Yoongi,” Seokjin menariknya ke dalam pelukan, mendekapnya kuat-kuat seolah esok mereka tak akan bertemu lagi. “Yoongi, YoongiYoongiYoongiYoongi.”
“Hei, sayang, kalem, ya? Gak papa, aku di sini.” Yoongi pindah duduk di pangkuan Seokjin, balas memeluknya tak kalah erat.
Seokjin menenggelamkan wajahnya di dada Yoongi, tubuhnya bergetar karena tangis. Yoongi mengusap punggungnya, membuat pola acak guna menenangkannya. Mobil mereka berhenti di depan rumah. Mereka pulang dari taman bunga ketika langit sudah menguning, Yoongi yang berkendara, membiarkan Seokjin tertidur di kursi penumpang. Tetapi bukannya lelap yang didapat, ia justru dihadiahi mimpi terburuk yang tidak akan pernah mau diingatnya lagi.
“Yoongi, Yoongi.” Panggil Seokjin, “Ini kamu, kan, Gi? Kamu gak pergi, kan?” ia mendongak, menangkup pipi Yoongi.
Si Min tersenyum kecil, “Ini aku. Aku udah janji, kan, buat gak pergi. I’ve promised you, and I will keep that promise for the rest of my life.”
Seokjin menggigil. Mimpi itu terasa sangat nyata. Bagaimana sisi kasurnya yang dingin saat diraba, aroma bawang di dapur, kehadiran Namjoon, detak jantungnya, suasana rumah sakit, semuanya terasa seperti sungguhan. Tetapi syukurnya itu bukan sungguhan. Karena Yoongi tidak pergi. Yoongi ada di hadapannya, duduk di pangkuannya, dengan tangan yang mengelus lembut lengan atasnya. Yoongi ada di sini, dia tidak pergi.
“Sssttt, udahan nangisnya.” Yoongi menangkup pipi Seokjin, mencium kelopak matanya yang refleks terpejam. “Mimpi apa pun kamu tadi, itu gak nyata. Aku ada sama kamu, gak ke mana-mana.”
“Itu gak nyata,” ulang Seokjin, “Kamu ada sama aku.”
“Iya. Aku gak akan ke mana-mana.”
“Cubit pipiku, coba. Masih takut ini cuma boongan.”
Plak!
“Ow!” Seokjin meringis, menyentuh pipi kirinya yang berdenyut nyeri, “Aku minta cubit, kok malah digeplak!?”
Yoongi tertawa, mengecup pipi Seokjin yang tadi ditamparnya, “Maaf. Biar gak nanggung nyerinya.”
Seokjin memutar bola mata, “Nanggung, nanggung. Dipikir tempat buat konser?”
“Itu panggung, ya, Udin.”
Keduanya tertawa. Yoongi menyatukan dahi mereka, tangannya terkalung di leher Seokjin, “Sekarang percaya, kan? Ini nyata.”
“Ya, ini nyata.” Seokjin mendesah lega, rasa takut masih merayapi pundaknya, namun setidaknya ia tahu bahwa semua ketakutannya hanya mimpi.
Yoongi mengusap sisa air mata di wajah Seokjin, mencondongkan bibirnya yang diterima Seokjin dengan satu ciuman manis memabukkan. Ciuman itu bak air segar di tengah hari yang terik, mengguyurnya dengan perasaan lega, membuatnya hilang dahaga. Yoongi berdeguk, merapatkan tubuh mereka yang sebenarnya sudah tidak berjarak.
Ciuman itu terputus, menyisakan benang liur saat keduanya menjauhkan diri.
“Kamu nyata.” Kalimat itu bagaikan mantra, tak akan pernah bosan bergulir dari mulut Seokjin
Yoongi mengangguk, “Aku nyata.”
“Pantesan berat.”
“Dahlah,” Yoongi melengos turun dari pangkuan Seokjin, kembali duduk di belakang kemudi sementara sang tunangan tertawa puas.
“Gi,” panggil Seokjin saat Yoongi perlahan memasukkan mobil ke garasi.
Yoongi berdeham menyahut. “I love you. Please keep your promise, ya?”
“I love you too,” Yoongi melepaskan genggamannya pada persneling, beralih menggenggam tangan Seokjin. “And I will, Seokjin. I will.”
-finish-
